BAB 2
8631Please respect copyright.PENANANj4PFY9bh6
8631Please respect copyright.PENANAzX9MPPkuGv
8631Please respect copyright.PENANA5texxCS5dx
Esoknya di Siang hari panas terik menyengat di area parkir kantor. Aku baru saja menyelesaikan ronde patroli ringan di lantai bawah ketika melihat Bang Jajang (35 tahun, badannya tegap dan selalu rapi dengan seragam keamanan) berjalan cepat menuju arah kamar mandi karyawan. Wajahnya agak merah, seperti orang yang buru-buru tapi berusaha terlihat biasa saja. Aku mengangguk sopan padanya, tapi pikiranku langsung melayang ke kejadian kemarin—saat Winda masuk ke pos security dan bercanda dengan mereka berdua.
8631Please respect copyright.PENANAiN45gNZ2As
8631Please respect copyright.PENANAHv2R8DbeU7
8631Please respect copyright.PENANAWk3wp6ikht
Aku memutuskan untuk berjalan ke area lobby depan, tempat pos security kecil itu berada. Hati ini ingin memastikan, atau mungkin hanya ingin melihat sekilas. Begitu mendekat, aku melihat pos security sepi dari luar. Tidak ada siapa-siapa di meja luar atau di depan pintu. Tapi dari celah kecil jendela samping pos—yang biasanya ditutup gorden tipis tapi hari ini sedikit terbuka—aku bisa melihat ke dalam.
8631Please respect copyright.PENANAaNdyvAevYj
8631Please respect copyright.PENANA4yyJQQzD1n
8631Please respect copyright.PENANAeJPmiW9mN7
Dan di sana… aku tahu betul itu Winda.
8631Please respect copyright.PENANAIFRQkiQ0HA
8631Please respect copyright.PENANAkU3eSUiRWB
8631Please respect copyright.PENANA6Ii7yI18nh
Dari postur tubuhnya yang tegak tapi sedikit membungkuk ke depan, dari rok span hitam yang memeluk pinggul dan bokongnya dengan ketat, dari blus putih tipis yang menempel di punggungnya saat dia bergerak—semuanya terlalu familiar. Rambut panjangnya tergerai ke satu sisi, dan gerakan tangannya… entah kenapa terlihat seperti sedang memompa sesuatu di bawah meja. Badannya bergerak maju mundur pelan, ritmis, seperti sedang menekan atau menggerakkan sesuatu dengan tangan. Mang Ujang (45 tahun, yang lebih pendiam tapi matanya selalu tajam) duduk di kursi, wajahnya tampak tegang tapi senyum tipis. Bang Jajang tadi mungkin baru saja keluar dari situ.
8631Please respect copyright.PENANAr9rDwXsKDp
8631Please respect copyright.PENANALqXHrYT0cN
8631Please respect copyright.PENANAEFUD8V620A
Jantungku berdegup kencang. Apa yang sedang dia lakukan di dalam sana? Apa ada titipan berkas penting dari humas yang harus diambil secara langsung? Atau mungkin dia hanya minta tanda tangan log masuk tamu yang terlewat? Pikiranku berputar cepat mencari alasan logis. Tapi gerakan tubuhnya itu… seperti memompa, seperti ada ritme yang tak biasa untuk sekadar mengambil kertas.
8631Please respect copyright.PENANAferJYinTwZ
8631Please respect copyright.PENANAQFbkzz1s6U
8631Please respect copyright.PENANARQLj5YqA9F
Aku mundur pelan, tak ingin ketahuan. Napasku agak tersengal. Tapi aku memaksa diri untuk berpikir positif. Mungkin dia memang sedang mencari berkas yang tertinggal, atau membantu mereka mengatur sesuatu di laci bawah meja yang susah dijangkau. Winda kan orangnya perfeksionis, suka membantu orang lain. Pasti tidak ada apa-apa.
8631Please respect copyright.PENANAca0QH1Ygp9
8631Please respect copyright.PENANApSvoJKARPl
8631Please respect copyright.PENANAGJ0zLkuiPA
Aku berbalik, berjalan kembali ke ruang keamanan dengan langkah yang berat. Di dalam ruangan ber-AC itu, aku duduk di depan monitor, tapi mataku tak benar-benar fokus. Bayangan Winda di celah kecil pos security tadi terus berputar di kepala. Aku harus percaya padanya. Kami suami istri, kan? Tapi siang ini, ada sesuatu yang mulai menggerogoti pikiranku, pelan tapi pasti.
8631Please respect copyright.PENANA12vBJvuptj
8631Please respect copyright.PENANADJzWiiAGCB
8631Please respect copyright.PENANAqqMwEGckaT
###
8631Please respect copyright.PENANAXYUrXLJECQ
8631Please respect copyright.PENANA5xdEmmDjOf
8631Please respect copyright.PENANAIu6h1Wu3XR
Jam sudah menunjukkan pukul 18:45 ketika aku memarkir mobil di depan lobi utama, seperti biasa menunggu Winda selesai dari divisi humas. Langit Jakarta mulai jingga, lampu-lampu gedung mulai menyala satu per satu. Aku duduk di kursi pengemudi, AC mobil dingin menyentuh kulit, tapi pikiranku justru panas.
8631Please respect copyright.PENANAlh4NHotUpo
8631Please respect copyright.PENANAcikNWikdnq
8631Please respect copyright.PENANAfZftTD4Q5p
Akhirnya pintu lobi terbuka. Winda keluar, langkahnya ringan tapi penuh percaya diri seperti biasa. Dia masih mengenakan pakaian yang sama seharian: blus sutra putih tipis yang menempel lembut di tubuhnya, sedikit transparan di bawah sinar lampu lobby sehingga garis bra renda hitam samar-samar terlihat, dan rok span hitam ketat yang memeluk pinggul serta bokongnya dengan sempurna.
8631Please respect copyright.PENANAIMXyUnNTlS
8631Please respect copyright.PENANAyL2bymLAJt
8631Please respect copyright.PENANArvdBqLyrxl
Rambut panjangnya tergerai bebas, sedikit acak-acakan karena angin sore, tapi justru membuatnya terlihat lebih liar, lebih menggoda. Kaki panjangnya yang mulus terpampang jelas setiap kali roknya bergoyang mengikuti langkah. Dari sini saja, dari jarak sepuluh meter, aku sudah bisa merasakan darahku berdesir.
8631Please respect copyright.PENANAKsK8GN0J2N
8631Please respect copyright.PENANA4l4sKc9E3S
8631Please respect copyright.PENANAPOd5b9EeBW
Dia berjalan mendekat ke mobil, tapi tiba-tiba berhenti sejenak di depan pos satpam kecil di samping lobi. Aku mengikuti arah pandangannya.
8631Please respect copyright.PENANAIMFy1j4Hhu
8631Please respect copyright.PENANAcBMU2isVy2
8631Please respect copyright.PENANAMCF5IpUO4q
Mang Ujang berdiri di sana, seragam keamanannya rapi, tapi tangan kanannya terlihat bergerak pelan—satu jari manisnya menggerak-gerak seperti memberi isyarat halus, atau mungkin sekadar menggaruk-garuk sesuatu di udara, tapi gerakannya terlalu… terarah. Winda menoleh ke arahnya, senyum tipis muncul di bibirnya, lalu dia mengangguk kecil seolah mengerti sesuatu. Matanya berbinar sebentar, sebelum akhirnya berbalik dan melanjutkan langkah ke mobil.
8631Please respect copyright.PENANAQru9z4o5ix
8631Please respect copyright.PENANAWTALVg8wlD
8631Please respect copyright.PENANAakATKjAdic
Jantungku langsung berdegup tak karuan.
8631Please respect copyright.PENANA1LzXYsXBWT
8631Please respect copyright.PENANAhHkHPtCw6H
8631Please respect copyright.PENANAt6GbR0cdVF
Apa itu tadi? Isyarat? Kode? Atau cuma kebetulan? Pikiranku langsung melayang ke siang tadi—gerakan tubuh Winda di dalam pos security, seperti memompa sesuatu, dan sekarang ini… jari manis Mang Ujang yang bergerak pelan. Overthinking? Pasti. Tapi kenapa rasanya begitu nyata? Kenapa Winda harus berhenti di situ, kenapa matanya harus menatap ke arah sana dengan ekspresi yang… seperti mengiyakan?
8631Please respect copyright.PENANA7X5gj37VCM
8631Please respect copyright.PENANA9Wv1VaYO3g
8631Please respect copyright.PENANA8ABrrN3HsO
Winda membuka pintu penumpang dan masuk, aroma parfum manisnya langsung memenuhi kabin mobil. “Mas, lama nunggu ya?” katanya sambil tersenyum manja, tangannya langsung menyentuh pahaku sebentar sebelum memasang sabuk pengaman. Tubuhnya yang masih terbungkus pakaian seksi itu terasa begitu dekat, begitu panas.
8631Please respect copyright.PENANALCYSNq7Lkl
8631Please respect copyright.PENANAocroa6Nzko
8631Please respect copyright.PENANAruqR9mEvsR
Aku tersenyum paksa, menyalakan mesin. “Nggak kok, Sayang. Cuma… ngeliatin kamu dari tadi. Kamu cantik banget hari ini.”
8631Please respect copyright.PENANAuaWVZVaXQg
8631Please respect copyright.PENANA28vrkwbNWz
8631Please respect copyright.PENANAMB7fMlO4AM
Dia tertawa kecil, tapi mataku sesekali melirik ke kaca spion—ke arah pos satpam yang kini sudah kosong. Mang Ujang sudah masuk ke dalam lagi. Aku menghela napas pelan, mencoba menepis pikiran buruk itu.
8631Please respect copyright.PENANAdkbsbe1GS6
8631Please respect copyright.PENANAsgCiyutVQk
8631Please respect copyright.PENANAE9PvaGSSU8
Tapi di dalam kepala, pertanyaan itu terus berputar:
8631Please respect copyright.PENANAnuIQ66aTFj
Apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka?
8631Please respect copyright.PENANAv64CDGfkyk
Dan kenapa aku merasa… semakin penasaran sekaligus takut untuk tahu?
8631Please respect copyright.PENANADQC5PPuSos
8631Please respect copyright.PENANAxGg8pyBKN8
8631Please respect copyright.PENANAxmvyUJR7aZ
###
8631Please respect copyright.PENANAGhUWafLbjw
8631Please respect copyright.PENANAlk8kTi484g
8631Please respect copyright.PENANArV2EZMX9uL
Kami tiba di rumah sekitar pukul 19:30. Lampu teras sudah menyala otomatis, rumah dua lantai kami terasa hangat dan sepi seperti biasa. Winda langsung melepas sepatu haknya di pintu masuk, lalu berjalan ke kamar sambil berkata, “Aku mandi dulu ya, Mas. Capek banget hari ini.” Suaranya ringan, tapi aku hanya mengangguk sambil memandang punggungnya yang bergoyang lembut di balik rok span hitam itu.
8631Please respect copyright.PENANAiuT3GuOjJ1
8631Please respect copyright.PENANAhAjtVfyM60
8631Please respect copyright.PENANAiCkjQe0HAS
Aku masuk ke kamar setelah dia menghilang ke kamar mandi. Pintu kamar mandi tertutup, tapi suara air shower sudah terdengar samar-samar. Di atas tempat tidur, Winda sudah meletakkan tas kerjanya dan blus sutra putih yang dia lepas tadi. Rok span hitamnya tergeletak begitu saja di samping, masih melengkung membentuk lekuk pinggul yang tadi aku lihat seharian.
8631Please respect copyright.PENANAsk6GTJuhB7
8631Please respect copyright.PENANAg9ViM3JaMC
8631Please respect copyright.PENANAuxDWQC1hJ0
Aku mendekat, entah kenapa tanganku ingin menyentuhnya. Saat aku mengangkat rok itu, jari-jariku langsung merasakan sesuatu yang aneh. Bagian bawah rok, tepat di area paha dalam hingga pinggul, terasa lembab. Bukan keringat biasa—lebih seperti… basah yang menempel lama, agak lengket. Aku mendekatkan ke hidung, baunya samar-samar manis, campur parfum Winda dan sesuatu yang lain yang sulit kujelaskan. Jantungku langsung berdegup kencang.
8631Please respect copyright.PENANAMUqSXYyy7u
8631Please respect copyright.PENANA7v4t4egshn
8631Please respect copyright.PENANAK9iciqAnPo
Tapi yang lebih membuatku heran: celana dalamnya tidak ada. Tidak ada di atas rok, tidak di lantai, tidak di keranjang cucian kotor di sudut kamar. Kemana?
8631Please respect copyright.PENANA6dMenX6v7N
8631Please respect copyright.PENANAi21OkqStWJ
8631Please respect copyright.PENANA6XNd27PIoO
Aku mendengar suara air shower masih mengalir deras. Aku berjalan pelan ke pintu kamar mandi yang sedikit terbuka—kebiasaan Winda yang kadang lupa menutup rapat. Dari celah, aku melihatnya berdiri di bawah pancuran, tubuh telanjangnya basah mengkilap, sabun meluncur di lekuk dada dan pinggangnya. Tapi mataku tertarik ke rak kecil di dinding kamar mandi.
8631Please respect copyright.PENANAeHvk7O1jdC
8631Please respect copyright.PENANAjAvAXWrjTv
8631Please respect copyright.PENANAyZaeVNr2TL
Di sana, tergantung celana dalam renda hitam yang dia pakai pagi tadi. Basah kuyup, air masih menetes dari kain tipis itu. Tapi yang membuat kepalaku pusing: kainnya terlihat sudah dibilas. Bukan basah keringat atau cairan biasa—ada bekas sabun yang masih menempel tipis, seperti seseorang buru-buru membersihkannya sebelum mandi. Atau… setelah sesuatu terjadi?
8631Please respect copyright.PENANATVF6hKT8yb
8631Please respect copyright.PENANAqDM8f9OZiy
8631Please respect copyright.PENANAykB36JEmqj
Pikiranku langsung liar. Lembab di rok tadi. Celana dalam yang basah dan sudah dibilas. Isyarat jari manis Mang Ujang di pos satpam sore tadi. Gerakan “memompa” siang hari di pos security. Semuanya terhubung dalam kepalaku seperti potongan puzzle yang tak ingin kususun, tapi tak bisa kuhindari.
8631Please respect copyright.PENANATY0QYne9Ze
8631Please respect copyright.PENANArmsLcE6QGg
8631Please respect copyright.PENANAeYU4wlPluu
Aku mundur pelan, meletakkan rok kembali di tempatnya. Napasku terasa berat. Overthinking, pasti. Mungkin dia memang keringatan banyak hari ini, atau tumpah minum di mobil, atau… apa saja yang masuk akal. Winda kan orangnya rapi, suka langsung membersihkan kalau ada yang kotor.
8631Please respect copyright.PENANAs5YXM0UHCM
8631Please respect copyright.PENANAEiVycaUAp5
8631Please respect copyright.PENANAi3apYaDf9A
Tapi kenapa rasanya ada yang salah?
8631Please respect copyright.PENANAOOomXRTegL
8631Please respect copyright.PENANAisNOD4fL3m
8631Please respect copyright.PENANAZo4nrAlLPZ
Aku duduk di tepi ranjang, menunggu dia selesai mandi. Suara air berhenti. Tak lama, Winda keluar dengan handuk pendek melilit tubuh, rambut basah menetes air ke bahunya. Dia tersenyum manja ke arahku.
8631Please respect copyright.PENANArrBV6CS605
8631Please respect copyright.PENANAocujxIVRVP
8631Please respect copyright.PENANAgQsen5ljuN
“Mas kok diem aja? Mandi yuk bareng?”
8631Please respect copyright.PENANAeJqpP2sage
8631Please respect copyright.PENANAR6tVCnGRHx
8631Please respect copyright.PENANAF2WZ4lJGjL
Aku tersenyum paksa, berdiri. Tapi di dalam dada, pertanyaan itu terus berputar, semakin dalam, semakin gelap. Malam ini, hasratku bercampur dengan sesuatu yang lain: rasa penasaran yang menyakitkan.
8631Please respect copyright.PENANA25h2AyxK77
8631Please respect copyright.PENANAezu55UWbTa


