Ciuman kami di sofa semakin dalam. Lidah Rizki pelan menyentuh lidahku, tangannya memeluk pinggangku erat seolah takut aku hilang.
Aku sudah naik ke pangkuannya, payudaraku menekan keras ke dadanya. Putingku yang sudah mengeras terasa bergesek kain bra dan kausnya setiap kali aku bergoyang pelan. Napas kami saling bertabrakan, panas, lembab, penuh nafsu.
Rizki melepas ciumannya sebentar, matanya gelap penuh rasa sayang dan hasrat. “Lin… aku mau bawa kamu ke kamar. Boleh?”
Aku mengangguk malu-malu, tapi senyumku lebar. “Bawa aku, Riz… puaskan aku, lakukan sepuasmu hari ini.”
Dia langsung angkat tubuhku dengan mudah. Aku peluk lehernya erat, kepalaku menyandar di bahunya. Langkahnya pelan menuju kamarnya di lantai dua, kamar luas yang memiliki kamar mandi di dalam. Pintu ditutup pelan dengan kakinya. Lampu tidur kuning kecil menyala redup.
Rizki taruh aku pelan di kasur besarnya yang rapi. Dia naik ke atas, cium keningku, pipiku, lalu bibirku lagi. “Kamu manja banget hari ini… aku suka,” bisiknya sambil ketawa kecil.
Aku senyum genit, tanganku turun ke pinggangnya. “Sekarang giliran aku manjain kamu dulu ya, sayang.”
Aku lepas semua pakaianku, hingga telanjang bulat.
Aku dorong Rizki pelan supaya dia berbaring, lalu aku naik ke atasnya. Aku cium lehernya, turun ke dada, lalu semakin bawah. Aku buka resleting celananya pelan-pelan, tanganku gemetar sedikit karena deg-degan. Penis Rizki sudah keras dan menegang, panas di tanganku. Aku lirik dia, matanya penuh harap.
Aku turunkan kepalaku, bibirku menyentuh ujungnya penisnya pelan. Rizki langsung mendesah panjang, tangannya masuk menyisir rambutku. Aku mulai gerakkan mulutku pelan, lidahku menari di sekelilingnya, naik-turun dengan lembut tapi semakin dalam. Rasanya hangat, berdenyut di lidahku.
“Lin… ahh… enak banget…” Gumamnya serak, pinggulnya naik pelan mengikuti iramaku.
Aku semakin cepat, tanganku bantu di pangkalnya, mulutku menghisap lebih dalam. Rizki mulai gemetar, napasnya memburu. “Lin… aku mau… ahh…”
Aku nggak berhenti. Beberapa detik kemudian tubuh Rizki menegang, dia mendesah keras sambil memegang rambutku. Cairan hangatnya memenuhi mulutku. Aku telan pelan, lalu naik lagi ke atas, cium bibirnya.
Rizki napasnya masih ngos-ngosan, matanya berkaca-kaca karena nikmat. “Kamu… luar biasa, Lin.”
Aku senyum malu, pipiku panas. “Sekarang giliran kamu belajar ya, sayang. Aku ajarin.”
Aku berbaring, buka kaki pelan. Aku tarik tangan Rizki ke antara pahaku. “Sentuh dulu pelan-pelan… di sini.” Tunjuk bibir vaginaku.
Rizki turun, wajahnya tepat di depan vaginaku yang sudah basah. Dia ragu sebentar.
“Jijik ya, sayang?” Tanyaku pelan, suaraku gemetar.
Rizki langsung geleng kepala kuat-kuat, matanya lembut. “Nggak jijik. Aku mau bikin kamu seneng kayak kamu bikin aku tadi.”
Dia cium paha dalamku dulu, lalu lidahnya menyentuh klitorisku pelan. Aku langsung mendesah, tanganku pegang rambutnya. Rizki semakin berani, lidahnya menjilat naik-turun, masuk sedikit ke dalam, menghisap pelan. Aku menggeliat, pinggulku naik sendiri.
“Riz… iya… di situ… ahh… enak banget sayang…”
Rizki terus bermain, dua jarinya masuk pelan sambil lidahnya bekerja. Aku klimaks pertama kali dalam hitungan menit. Tubuhku gemetar hebat, desahanku tertahan di bantal. Rizki nggak berhenti, malah semakin semangat.
Klimaks kedua datang lebih cepat. Aku mengerang hebat, tanganku pegang sprei erat, “Riz… lagi… aku mau lagi…”
Ketiga kalinya aku sudah menangis karena nikmat, tubuhku bergetar lama. Rizki naik lagi, cium bibirku yang basah air mata.
“Lin… boleh aku masuk sekarang?” bisiknya lembut.
Aku mengangguk, peluk lehernya. “Pelan-pelan ya sayang… jangan buru-buru, buat aku lebih nikmat.”
Rizki masuk pelan sekali, wajahnya penuh perhatian. Rasanya penuh, sedikit sakit, tapi nikmat yang nggak bisa dijelaskan. Dia bergerak pelan, dalam, sambil cium aku terus. Aku klimaks keempat kalinya saat dia semakin cepat. Tubuhku melengkung, desahanku pecah di telinganya, kuku sedikit menggores di punggungnya.
Rizki juga sampai di puncaknya bersamaan, mendesah namaku di telingaku sambil memelukku erat.
Kami berdua ambruk, napas memburu. Rizki nggak langsung keluarkan penisnya, dia peluk aku erat, lalu bergeser sedikit supaya kepalanya bisa sandar di payudaraku yang naik-turun. Aku usap rambutnya pelan, dada aku jadi bantalnya yang hangat.
“Lin… aku sayang kamu banget,” bisiknya pelan, suaranya sudah ngantuk.
Aku cium puncak kepalanya. “Aku lebih sayang kamu, Riz. Tidur ya… di sini, di dada aku.”
Rizki tersenyum kecil, mata sudah tertutup. Napasnya pelan di kulit dadaku. Aku peluk kepalanya erat, tanganku usap punggungnya.
Malam itu, di kamar rumah Nogososro, dunia hanya milik kami berdua. Hangat, basah keringat, penuh cinta yang baru saja mekar sepenuhnya.
ns216.73.217.128da2


