Siang itu, rumahku mendadak berubah fungsi jadi pasar malam versi mini. Anak-anak kecil mulai dari adikku yang paling bungsu, keponakanku, sampai bocah-bocah tetangga berlarian ke sana kemari, memenuhi setiap sudut rumah dengan teriakan melengking yang bikin telinga berdenging.
Rumahku ini memang luas, tapi modelnya sudah jauh ketinggalan jaman. Bangunannya model lawas, peninggalan masa Mbak Sumarni masih kecil dulu, sekitar tiga puluh tahun yang lalu.
Dibandingkan rumah tetangga yang sudah pakai tembok dan cat minimalis kekinian, rumahku masih setia dengan genteng tanah liat dan tembok setengah bata setengah kayu yang catnya sudah mengelupas di sana-sini.
"Klasik," kata Bapakku, Pak Tomo, selalu membela diri kalau ada tetangga yang iseng menyarankan renovasi.
"Kuno," kataku dalam hati, kalau lagi kesal disuruh nyapu.
"Lin! Tolong angkatin karung singkong itu ke sini!"
Suara Mbak Har menggelegar membelah keributan dari arah teras, tangannya menunjuk ke arah karung goni berukuran jumbo yang teronggok di sudut.
"Iya, iya, Mbak! Bawel amat sih perasaan." Sungutku pelan.
Tanpa banyak protes lagi, aku melangkah ke teras. Aku menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya lewat mulut, lalu memasang kuda-kuda layaknya atlet angkat besi Olimpiade.
Kuraih ujung karung itu, dan dengan satu hentakan napas, aku mengangkat karung goni tersebut seolah-olah sedang mengangkat dumbbell 50 kg di tempat gym.
Berat? Oh, jelas.
Lanjutin bacanya di sini ya geng: https://victie.com/novels/my-first-experience-putih-abu-abu3011Please respect copyright.PENANAKdI3P8YwVh
3011Please respect copyright.PENANA3Bwx6HonbR


