Di ruang pertemuan tertutup itu, aroma kayu tua bercampur dengan wangi halus rokok impor yang masih mengepul. Riven duduk di kursi utama, punggung tegak, sementara Ara berdiri tanpa ingin memberi kesan tunduk.
72Please respect copyright.PENANAW5c7mNDUeK
Di sekeliling ruangan, empat anak buah Riven berjaga. Semuanya bersenjata. Ara tahu betul—satu kesalahan kecil, napasnya bisa berhenti di tempat.
72Please respect copyright.PENANAMjsrKgOA4M
“Duduklah,” ujar Riven.
72Please respect copyright.PENANAqXNJJA7sW3
“Aku lebih suka berdiri.” Ara melipat tangan.
72Please respect copyright.PENANAoVzqlrctyq
Alis Riven sedikit terangkat. “Keras kepala seperti biasa.”
72Please respect copyright.PENANASEPT06KLRA
“Kau bukan orang yang bisa memberitahuku bagaimana caranya.” Ara menatap tajam.
72Please respect copyright.PENANAlcUAcKtxmE
Riven tidak membalas. Ia hanya memberikan isyarat kecil kepada salah satu orangnya. Pria itu menuju meja samping, mengambil sebuah peta hitam, lalu meletakkannya di depan Ara.
72Please respect copyright.PENANAgq5FTu3L4a
“Buka,” perintah Riven.
72Please respect copyright.PENANADzfefUflw0
Ara menatap peta itu sesaat sebelum menyentuhnya. Tangannya sedikit gemetar, bukan karena takut—tapi karena dia tahu apa pun yang ada di dalamnya akan mengubah hidupnya untuk kedua kali.
72Please respect copyright.PENANAMGLtvaqv4x
Ia membuka map tersebut.
72Please respect copyright.PENANAuVlsE2NJq5
Beberapa foto jatuhan ke meja. Foto Leon—terikat, mata tertutup kain, mulut diplester. Cahaya lampu redup dalam foto itu menyingkapkan luka di pelipisnya.
72Please respect copyright.PENANAOHqZp057hl
Ara merasakan dada seperti diremas.
72Please respect copyright.PENANAKq5YERqCwy
“Diambil sekitar tiga jam lalu,” jelas Riven pelan. “Lokasinya kami belum bisa memastikan.”
72Please respect copyright.PENANASA1uxwmbXF
Ara menahan napas. "Kenapa mereka menyiksanya? Leon tak pernah terlibat dalam urusan ini."
72Please respect copyright.PENANAoBI2cCRxzX
"Itulah alasan mereka memilihnya. Ia bukan target yang siap bertarung. Lebih mudah digunakan sebagai pesan."
72Please respect copyright.PENANABSLuNcVPYf
“Pesan untuk siapa? Aku?”
72Please respect copyright.PENANA5XOfrDY2ry
“Untuk kita berdua,” jawab Riven.
72Please respect copyright.PENANAHArtwNxA97
Ara mendongak. "Aku tidak terlibat. Dunia ini bukan milikku lagi."
72Please respect copyright.PENANA98lP9xrvfK
Riven menyandarkan punggung, merujuk jari-jari tangan. "Kau mungkin keluar dari dunia ini. Tapi darahmu tidak. Dan mereka tahu itu."
72Please respect copyright.PENANA28hvKN1uc7
“Kau bicara seperti orang yang tidak pernah menciptakan perang keluarga,” balas Ara, dingin.
72Please respect copyright.PENANAJQkU9i56bA
Riven tersenyum tipis. “Ayahku yang memulainya. Bukan aku.”
72Please respect copyright.PENANAbu8qzjiZW8
“Dan kau lanjutkan.”
72Please respect copyright.PENANAsiZ2j2fwlf
“Terkadang orang mewarisi sesuatu yang tidak mereka pilih, Ara.”
72Please respect copyright.PENANAsjqzHjMJ3m
Kalimat itu membuat hening sejenak.
72Please respect copyright.PENANARKhrBT3Ib0
Riven lalu berdiri, mendekati papan digital di dinding dan menyalakannya. Tampillah peta kota Serpentina, ditandai dengan puluhan titik.
72Please respect copyright.PENANAlBZT914eZP
“Kita mulai dari asumsi dasar,” katanya sambil menunjuk. "Faksi Luna Spezzata tidak punya markas besar. Mereka berpindah-pindah. Tapi mereka selalu membutuhkan tempat sementara untuk menampung seseorang. Biasanya di wilayah timur atau utara."
72Please respect copyright.PENANAji4UiFvgkb
Ara menatap layar. “Itu adalah kawasan pelabuhan gelap dan kawasan gudang.”
72Please respect copyright.PENANAam61hNtdLg
“Tepat.” Riven memperbesar dua lokasi. “Gudang tua di distrik utara dan sebuah bangunan tak terpakai bekas pabrik roti di timur.”
72Please respect copyright.PENANAjtKYW3UPDd
Ara merasakan instingnya seperti menggeram. "Mereka suka tempat yang sempit, sulit dideteksi. Pabrik roti itu terlalu besar. Mereka akan mengambil risiko."
72Please respect copyright.PENANAHX4IvMRHbg
Riven melihatnya, agak terkejut. “Kau masih ingat pola permainan mereka.”
72Please respect copyright.PENANAglKlsellZB
“Aku belajar dari masa lalu,” balas Ara. “Dengan cara paling buruk.”
72Please respect copyright.PENANAVAW2kiDJPl
Riven tampak berpikir sejenak. “Baik.Gudang distrik utara kita jadikan target awal.”
72Please respect copyright.PENANAlrGs2kraLI
Ara memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan diri agar tidak terhanyut emosi setiap melihat wajah Leon dalam bayangannya.
72Please respect copyright.PENANAcBeivhy9ns
“Lalu kapan kita bergerak?” tanya Ara.
72Please respect copyright.PENANAuNE1gP4CKo
“Bukan kita,” ralat Riven. “Hanya orang-orangku. Kau tetap di sini.”
72Please respect copyright.PENANAP5JwKremTv
Ara langsung menggenggam tangan. “Tidak.Leon adikku.”
72Please respect copyright.PENANA18KqU5Tx7L
“Dan itu alasan kamu tidak boleh ikut,” tegas Riven. “Orang yang emosional akan membuat misi hancur.”
72Please respect copyright.PENANAKM8KkJiXu2
“Aku tidak emosional.”
72Please respect copyright.PENANAF7JfVuNnXV
Riven melihatnya seperti menilai kebenaran kata itu. “Ara… aku tidak punya waktu untuk menjinakkan ego.”
72Please respect copyright.PENANAYHL8q8sVOu
“Bagus,” Ara mendekat. “Karena kau tak perlu membesarkan egoku. Aku ikut. Titik.”
72Please respect copyright.PENANAbqmatOVoNt
Para penjaga saling melirik, menunggu reaksi Riven.
72Please respect copyright.PENANA57fN85IU7a
Pemimpin La Notte itu tersenyum samar, sebuah senyum yang tidak bisa ditebak. "Baik. Tapi kau akan mengikuti aturanku. Sekali saja kau membuat keputusan bodoh, aku menarikmu keluar paksa.”
72Please respect copyright.PENANAorv6G9oH0l
Ara mengangguk, meski hatinya bergemuruh.
72Please respect copyright.PENANAKSImZ3KYNl
72Please respect copyright.PENANAv9M3AZTvE5
Beberapa belas menit kemudian, Ara dan Riven berjalan garasi menuju bawah tanah. Tempat itu luas, berisi deretan mobil hitam tanpa plat resmi. Anak buah Riven memeriksa senjata dan komunikasi.
72Please respect copyright.PENANAbSPWVmRNUm
“Hanya membawa pistol kecil,” kata Riven sambil mengacungkan senjata pendek. “Kau tidak akan menembak kecuali situasi memaksa.”
72Please respect copyright.PENANAOg6CbZMsrW
Ara meraihnya tanpa komentar. “Aku tahu cara memegang senjata.”
72Please respect copyright.PENANAjAR9b8G9qG
“Ya.Tapi sudah lama kau tidak memakainya.”
72Please respect copyright.PENANAKaUMMkyP46
Ara tidak menanggapi. Ia memeriksa magasin, mengunci senjata, lalu memasukkannya ke balik perapian.
72Please respect copyright.PENANAY2ZGPWPR1w
Riven memperhatikannya dengan tajam. “Kau terlihat lebih siap daripada yang kuingat.”
72Please respect copyright.PENANALneBUelu8p
“Aku bukan gadis 17 tahun yang dulu kau tahu.”
72Please respect copyright.PENANABYP877YDkQ
Riven sedikit terdiam, matanya meredup. “Tidak.Kau bukan.”
72Please respect copyright.PENANA1WIri0muPu
Sebelum Ara sempat membalas, salah satu anak buah Riven muncul. “Bos, mobil siap.”
72Please respect copyright.PENANAjyhRoAKSUW
Mereka masuk ke SUV hitam. Riven duduk di depan sebagai navigator, Ara di belakang bersama satu pengawal.
72Please respect copyright.PENANAJYRYqN4xjq
Mobil melaju menembus jalanan malam. Lampu neon memantul di kaca mobil, membentuk garis-garis cahaya berlari cepat.
72Please respect copyright.PENANAPhRNPszrxI
Ara menatap keluar jendela. "Terbelah."
72Please respect copyright.PENANA6AbK3Vdabr
“Hm?”
72Please respect copyright.PENANAJ91M286NTu
"Apa ini benar-benar perang antar faksi? Atau ada sesuatu yang kau sembunyikan?"
72Please respect copyright.PENANAdVwDZ46nmH
Riven tidak langsung menjawab. “Semua perang punya akar. Tapi ini lebih dari sekadar perebutan wilayah.”
72Please respect copyright.PENANAkg55nhSXXi
Ara mengernyit. “Maksudmu?”
72Please respect copyright.PENANAHk3sW5539s
Riven menatap cermin tengah, menatap mata Ara dari pantulan. “Seseorang memberi tanda beberapa bulan yang lalu. Kau ingat?”
72Please respect copyright.PENANAWCP9hMsADf
Ara menahan napas. Tanda? Ia teringat sebuah amplop tak bernama yang datang ke apartemennya tiga bulan lalu—berisi selembar kertas kosong.
72Please respect copyright.PENANAhIjddCk6pY
“Tanda itu bukan kosong,” lanjut Riven. "Itu pesan. Pesan bahwa mereka mengintaimu jauh sebelum malam ini."
72Please respect copyright.PENANAoQiLPKRUH8
“Kenapa kamu baru memberitahuku sekarang?” Ara menahan amarah.
72Please respect copyright.PENANAgW1QNDpNl9
“Karena aku baru mendapat kepastian siapa pengirimnya.” Riven menatap lurus ke depan. “Dan orang itu ingin menghancurkan kita berdua.”
72Please respect copyright.PENANAwpBtYuXPQm
Ara membeku. “Siapa?”
72Please respect copyright.PENANAZgmhUtIUQY
“Liarelli.”
72Please respect copyright.PENANAOn6e6339OA
Nama itu menghantam pikiran Ara seperti palu.
72Please respect copyright.PENANAhoqXCSsmZR
Keluarga Liarelli—keluarga yang menghilang bertahun-tahun yang lalu setelah perang internal. Keluarga yang memulai pemberontakan yang membunuh ayah Ara. Keluarga yang seharusnya sudah musnah.
72Please respect copyright.PENANA53hGSM6aLu
“Tidak mungkin…” Ara menggeleng kecil. “Mereka tidak punya orang lagi.”
72Please respect copyright.PENANA1eG4qRs4iT
“Yang kita kira musnah, belum tentu mati,” jawab Riven pelan.
72Please respect copyright.PENANA1mVF0dtICQ
Mobil berhenti tiba-tiba.
72Please respect copyright.PENANAiGbQSqPQcb
“Sudah sampai,” ujar pengemudi.
72Please respect copyright.PENANAvJIbFOKkhS
Mereka turun. Di depan mata mereka berdiri sebuah gudang tua, lampu jalan redup, angin malam yang menusuk tulang, dan kenyamanan aneh seperti menyimpan sesuatu.
72Please respect copyright.PENANA4M4vkEbla6
Riven memberi isyarat dengan dua jari. Anak buahnya menyebar.
72Please respect copyright.PENANA2KRv3TSJdX
Ara merasakan nadi berdebar keras. Ia menatap gudang itu dengan ketakutan dan keberanian yang saling bertarung.
72Please respect copyright.PENANAMpM1ii49BL
“Kalau Leon ada di dalam…” suaranya hampir hilang.
72Please respect copyright.PENANAlvtSTqZ7PT
“Kita bawa pulang dia hidup-hidup,” kata Riven. “Fokus.Ikuti langkahku.”
72Please respect copyright.PENANA0GYUtfySmW
Mereka mendekat perlahan.
72Please respect copyright.PENANAlOvjNow4JT
Pintu gudang sedikit terbuka.
72Please respect copyright.PENANAfo5gG53IHN
Riven menandakan diam. Ia mendorong pintu pelan-pelan.
72Please respect copyright.PENANAZhHfAOIvi0
Aroma besi dan debu menyeruak. Ruangan gelap, hanya diterangi lampu kuning redup di sudut.
72Please respect copyright.PENANAxjgtfpKNaQ
Ara menelan ludah. “Leon…?”
72Please respect copyright.PENANASipkNH0gOQ
Tidak ada jawaban.
72Please respect copyright.PENANA2ojrE5eFVW
Pengawal Riven maju duluan. Ia melangkah dua langkah, lalu— klik.
72Please respect copyright.PENANA2hvRHqaqbW
Suara kecil itu menghentikan semua napas di ruangan.
72Please respect copyright.PENANABfHs0AwQgy
Riven berteriak, “Mundur!”
72Please respect copyright.PENANAXYrwrIIrKT
Terlambat.
72Please respect copyright.PENANAqm5HJBaoRi
Menampar kecil menghantam sisi kiri gudang, membuyarkan debu dan serpihan logam.
72Please respect copyright.PENANAclT81D4oP3
Ara terlempar mundur beberapa langkah hingga punggungnya menghantam rak besi. Sakit menjalar, tapi ia bangkit.
72Please respect copyright.PENANAkD9nvPTiXA
“Ara!” Riven berlari mendekatinya, menariknya ke posisi aman di belakang tembok beton.
72Please respect copyright.PENANANpEO46ZuL4
“Aku baik-baik saja,” Ara mendesis meski jelas dia tidak begitu baik. “Itu jebakan…”
72Please respect copyright.PENANAhjWoUZ0zEg
Riven mengamati ruangan. “Mereka tahu kita datang.”
72Please respect copyright.PENANA20XqFV3HVB
“Ada kamera?” tanya Ara cepat.
72Please respect copyright.PENANALhHcJCwpBE
"Tidak. Ini bukan jebakan pengawasan biasa." terbelah. “Ini pesannya.”
72Please respect copyright.PENANAeCQnD7901m
Ara memeriksa ruangan yang dipenuhi asap tipis… lalu matanya menangkap sesuatu di tiang tengah. Sebuah plakat kecil tergantung.
72Please respect copyright.PENANA6Xv4ykuqgm
Ia mendekat perlahan. Plakat itu menyebutkan:
72Please respect copyright.PENANAYagvajGWs3
“Kau lambat, Ara.”
72Please respect copyright.PENANAYjK2xk3kTM
Darah Ara terasa dingin.
72Please respect copyright.PENANAXLs7eRhyYb
Riven muncul di belakangnya. “Mereka ingin Anda tahu bahwa ini adalah permulaan baru.”
72Please respect copyright.PENANA6StGcRb9jO
Ara mengibaskan plakat itu hingga bergetar. “Leon masih hidup.”
72Please respect copyright.PENANAlNBqSmisBS
“Ya,” Riven mengangguk. “Dan mereka memastikan kita mengejar.”
72Please respect copyright.PENANA0VeEJHIkCg
Riven memandang Ara dalam-dalam. "Kita masuk ke permainan yang tidak seperti sebelumnya. Dan kali ini… mereka menyerangmu secara pribadi."
72Please respect copyright.PENANAJqBPAqgTpX
Ara menatap ke belakang. “Kalau begitu, kita hadapi.”
72Please respect copyright.PENANAAVZCxaeg48
Riven tersenyum pahit. “Langkah selanjutnya akan lebih berbahaya.”
72Please respect copyright.PENANAuJTppta4vy
Ara membuang plakat itu ke lantai. “Biarkan mereka menunggu.”
72Please respect copyright.PENANA2VZLVxBO9y
Ia menatap gelapnya gudang itu.
72Please respect copyright.PENANAUF9bdBMtuy
“Sampai aku menemukan Leon… aku takkan mundur.”
72Please respect copyright.PENANAYZdISICHcc
Dan malam itu, di antara debu dan bau mesiu, peperangan baru pun resmi dimulai.
ns216.73.216.67da2


