Pagi di Serpentina tidak pernah benar-benar terang. Langit selalu tampak seperti abu tipis yang memeluk gedung-gedung tua. Ara memandangi kota dari balkon kantor bawah tanah La Notte, sambil memegangi cangkir teh hangat yang tak pernah ia minum. Malam tadi masih menempel di tulangnya—ledakan, debu, plakat itu, dan satu kalimat yang menghantam pikiran sejak ia membacanya:
65Please respect copyright.PENANAW9i2BdnGX6
“Kau lambat, Ara.”
65Please respect copyright.PENANAiKNzhyoUkk
Seakan seseorang mengenalnya lebih dekat dari yang ia sadari.
65Please respect copyright.PENANAdTEotm2bcK
Suara pintu terbuka membuatnya berubah. Riven masuk dengan langkah tenang, meski di bawah matanya menunjukkan bahwa ia juga belum tidur.
65Please respect copyright.PENANApfHwsNE47C
“Kau belum istirahat,” ujar Riven.
65Please respect copyright.PENANAPbBqea4hNH
“Aku tidak bisa tidur.” Ara menunggun wajah ke kota. “Tidak ketika Leon entah di mana.”
65Please respect copyright.PENANAHlgke6gdzG
Riven berdiri di sana, memandang ke arah yang sama. “Kami mengirim tim ke dua wilayah lain. Tidak ada hasil.”
65Please respect copyright.PENANABkcYqsrAZu
Ara mengeratkan pegangan pada cangkir. “Jadi kita kembali ke titik nol.”
65Please respect copyright.PENANAgoR9BGrA9H
“Tidak sepenuhnya.” Riven mengeluarkan sebuah amplop kecil dari jasnya. "Timku menemukan ini di lingkungan gudang. Mungkin kau ingin melihatnya."
65Please respect copyright.PENANAPXxmTEbixI
Ara mengambil amplop itu. Di dalamnya ada dua benda: serpihan logam kecil yang tampak seperti potongan emblem, dan selembar kertas luluh dengan tulisan angka: 0471.
65Please respect copyright.PENANA9lXjPvV8BL
Ara memecing. “Kode?”
65Please respect copyright.PENANAFvOeq9f53V
“Bisa jadi.” Riven menyandarkan tangan pada pagar balkon. “Atau, bisa juga hanya pola acak untuk menjangkau fokus kita.”
65Please respect copyright.PENANAOhhRwwILmB
Ara memutar serpihan logam itu. Bentuknya seperti bagian kecil dari lambang keluarga… tapi bukan dari La Notte atau Salvatore.
65Please respect copyright.PENANAZrxEHB4XWh
“Tunggu…” Ara mendekatkan serpihan itu ke cahaya matahari samar. “Ini… seperti bentuk kepala burung kecil.”
65Please respect copyright.PENANA5OEoBKG0mQ
“Burung?” Riven meraih serpihan itu. Pandangannya mengambil. “Keluarga Liarelli menggunakan lambang gagak.”
65Please respect copyright.PENANA7EcLDinDW5
“Tapi ini bukan gagak.” Ara menggeleng. “Bentuknya lebih kecil.Lebih runcing.”
65Please respect copyright.PENANA9eZS0pH1Kv
“Mungkin bagian dari simbol baru.” Riven berpikir keras. “Jika mereka membentuk faksi baru… mereka saja bisa mengganti lambang.”
65Please respect copyright.PENANAZbrt7R0Rqo
Ara menatap langit kelabu, hatinya terasa semakin berat. “Mereka benar-benar kembali…”
65Please respect copyright.PENANA6FvoXYKQFo
“Belum tentu semua dari mereka,” sahut Riven dengan nada tenang. “Tapi seseorang dari garis itu ingin mengirim pesan. Atau balas dendam.”
65Please respect copyright.PENANAccHN2DFky7
Ara menatap Riven. “Kau yakin ini bukan perang yang kau mulai?”
65Please respect copyright.PENANAlxKT0pC1Uz
“Kau percaya aku mau mencari masalah baru saat masalah lama belum selesai?” Riven balik menatap.
65Please respect copyright.PENANAgQqv2iVMfb
Ara tidak menjawab. Pertanyaan itu menggantung seperti asap tipis.
65Please respect copyright.PENANA4v8pZJxGud
65Please respect copyright.PENANAuj2oAE2rZm
Beberapa jam kemudian, Ara dan Riven memasuki ruang arsip bawah tanah La Notte. Tempat itu seperti labirin tua—rak kayu tinggi, lampu kuning redup, dan tumpukan dokumen keluarga mafia yang hilang dari sejarah publik.
65Please respect copyright.PENANAgaG67mrdsJ
“Apa yang kita cari di sini?” tanya Ara.
65Please respect copyright.PENANANq23NRHjS1
“Informasi yang tidak ada dalam catatan umum.” Riven menyalakan lampu tambahan. “Ayahmu menyimpan banyak dokumen rahasia sebelum dia… sebelum kejadian itu.”
65Please respect copyright.PENANAndSqQZxIyS
Ara diam sejenak sebelum menjawab, “Ayah menyembunyikan banyak hal dariku.”
65Please respect copyright.PENANAGkgUNem5UZ
“Orang tuamu berusaha melindungimu.” Riven melewati rak-rak. “Tetapi perlindungan seringkali justru menyisakan lebih banyak rahasia.”
65Please respect copyright.PENANAwgo6S3EYKg
Ara menelusuri rak bertanda Konflik Internal 20 Tahun Lalu. “Keluarga Liarelli… bagaimana mereka bisa kembali setelah semua ini?”
65Please respect copyright.PENANALCxFibqX4j
Riven mengeluarkan sebuah peta cokelat besar dan meletakkannya di meja. “Keluarga mereka memang musnah. Tapi bukan berarti semua pendukungnya mati.”
65Please respect copyright.PENANAM96QqaqOOd
“Apa kau yakin ini bukan jebakan lain?” Ara membuka peta. Di dalamnya terdapat rekaman lama, catatan transaksi, gambar wajah dua puluh anggota Liarelli.
65Please respect copyright.PENANACmSyqUu4IV
Mata Ara berhenti pada satu wajah: pria muda dengan garis rahang kuat, mata gelap, dan senyum tipis.
65Please respect copyright.PENANA0oHWAhRfEz
“Ini…” suara Ara melemah.
65Please respect copyright.PENANAXqRe2zG4mP
Riven memperhatikan foto itu. “Lorenzo Liarelli.”
65Please respect copyright.PENANAOgdP2vityb
Ara menelan ludah. “Dia yang… menjemputku dari sekolah malam itu.”
65Please respect copyright.PENANAi52nTxrJUV
Riven menginginkannya. “Saat ayahmu dibunuh?”
65Please respect copyright.PENANAYadQb0j1La
Ara mengangguk pelan, matanya mendidih dengan ingatan lama yang ia tekan selama bertahun-tahun.
65Please respect copyright.PENANAi1j8amRamv
65Please respect copyright.PENANAoniuO9QtRK
Flashback — 15 tahun lalu
65Please respect copyright.PENANA7YswzGlCtf
Ara kecil berlari di koridor sekolah. Hujan turun lebat, dan penjaga sekolah memanggil semua murid agar menunggu orang tua mereka.
65Please respect copyright.PENANA07e6Sfzs0N
Seorang pria mendekatinya. Jas hitam basah oleh air hujan. “Ara Salvatore?”
65Please respect copyright.PENANAjJFFsmZM7Y
Ara kecil mengangguk ragu.
65Please respect copyright.PENANA9TCd7jfp9y
“Ayahmu mengirimku,” ujarnya dengan senyum halus. “Aku di sini untuk menjemputmu.”
65Please respect copyright.PENANAt3vGMCoUQv
Ara, naif dan ketakutan, mengikutinya tanpa bertanya.
65Please respect copyright.PENANAJRtgr9verg
Dalam mobil hitam yang gelap, Ara melihat wajah pria itu sedikit lebih jelas. Di matanya ada sesuatu… dingin, tapi bukan tanpa alasan. “Ayahku di mana?”
65Please respect copyright.PENANAvv0HTiNZdy
“Dia aman,” jawab pria itu. “Kau akan bertemu dengannya setelah kita tiba.”
65Please respect copyright.PENANAxKsWUDMkWO
Namun Ara tidak pernah bertemu ayahnya lagi.
65Please respect copyright.PENANADTOfR3WGzp
65Please respect copyright.PENANAeVC90iaN9c
Ara kembali ke masa kini, menarik napas cepat.
65Please respect copyright.PENANAlsZ3zhvX6L
“Jika dia yang menculik Leon…” Ara memegang tepi meja agar tidak jatuh. "Lorenzo tidak mungkin masih hidup. Dia ditembak mati malam itu."
65Please respect copyright.PENANAozXQJTVVzV
“Itulah yang kita pikirkan.” Riven menghela napas. “Tapi tidak ada tubuh yang ditemukan.”
65Please respect copyright.PENANAow9YLrRqOU
Degup jantung melonjak. “Jadi dia bisa saja—”
65Please respect copyright.PENANAz3uuiT2fPS
“Hidup,” potong Riven. “Dan jika benar dia kembali… Leon dalam bahaya besar.”
65Please respect copyright.PENANAToJhyz7fgE
Ara menutup wajahnya. "Kenapa dia mengincar Leon? Kenapa aku tidak saja?"
65Please respect copyright.PENANAN7LejGbPOb
“Karena menghancurkanmu pelan-pelan lebih memuaskan,” kata Riven datar. “Dan karena Leon tidak punya perlindungan.”
65Please respect copyright.PENANAeFcYjAU0Fl
Ara menggenggam tangan. “Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi.”
65Please respect copyright.PENANAPfdrwoTMMp
Riven menaruh peta itu, lalu berdiri di depan Ara. “Kita tidak akan membiarkan hal itu terjadi.”
65Please respect copyright.PENANANcZzXCjEuB
Ara mendongak, menatap mata Riven. Ada kesungguhan di sana—bukan hanya ambisi mafia, tapi sesuatu yang lebih… manusia.
65Please respect copyright.PENANATydXZPNr4o
65Please respect copyright.PENANAIxVSOJGkCQ
Mereka kembali ke meja utama. Ara menatap catatan lain: sebuah dokumen tua dengan tanda tangan ayahnya.
65Please respect copyright.PENANAXRBYL5MGpz
“Ayah pernah bekerja sama dengan Liarelli?” bisik Ara.
65Please respect copyright.PENANA8cBPBtKQ4f
“Tidak.” Riven menunjuk tulisan kecil di bawahnya. "Ayahmu memecahkan kode rahasia mereka. Dia menemukan bahwa ada faksi yang bermaksud menjatuhkan La Notte dari dalam."
65Please respect copyright.PENANAcqieCsdvkG
Ara membacakan tulisan itu: “Proyek 0471.”
65Please respect copyright.PENANA24QnWlKgpi
Ara membeku. “0471… sama seperti angka di kertas dari gudang.”
65Please respect copyright.PENANA5KW4V9HfmY
“Itu artinya mereka menggali masa lalu,” kata Riven. “Dan mereka ingin kau membaca pesan itu.”
65Please respect copyright.PENANAlJTyYAiaIg
Ara merasakan hawa dingin membasahi tengkuknya. “Jika mereka berani membuat permainan sebesar ini… apa tujuan akhirnya?”
65Please respect copyright.PENANAAV73jBNKb7
“Menjatuhkan seluruh struktur Serpentina.” Riven menutup peta itu. “Dan membangun kembali dengan nama mereka.”
65Please respect copyright.PENANAmFEEUaYa5I
Ara menggeleng, tidak percaya. “Mereka tidak punya kekuatan sebanyak itu.”
65Please respect copyright.PENANAHYc2ZQyVzo
“Mereka punya satu kekuatan,” Riven menatap tajam. “Kebencian.”
65Please respect copyright.PENANAaSOOa6SzrI
Ara merasakan sesuatu berubah di dalam dirinya. Bukan hanya ketakutan, tapi dorongan untuk memahami seluruh teka-teki ini.
65Please respect copyright.PENANA211P1DNgHx
“Kita harus menemukan apa itu Proyek 0471,” tegas Ara.
65Please respect copyright.PENANADsotdqfHGl
“Kita akan memulai dari satu tempat,” kata Riven. “Rumah lamamu.”
65Please respect copyright.PENANAV6sCqodb7p
Ara menatap tajam. “Tidak.”
65Please respect copyright.PENANA6HCipjDGaI
“Kita tidak punya pilihan,” Riven menegaskan. “Jika ayahmu menyembunyikan sesuatu… itu ada di sana.”
65Please respect copyright.PENANAcMjypVho8G
Ara menggigit bibir. “Aku tidak ingin kembali ke tempat itu.”
65Please respect copyright.PENANAGDFeYAU0nf
“Aku tahu.” Riven mendekat sedikit tanpa menyentuhnya. “Tapi kalau kita ingin Leon hidup… kita harus menghadapi masa lalu.”
65Please respect copyright.PENANAuWHbSWXVbU
Ara memandang, dan untuk pertama kalinya sejak mereka bekerja sama, ia melihat bukan hanya pemimpin mafia… tapi seseorang yang juga menyimpan bayangan masa lalu yang sulit dihapus.
65Please respect copyright.PENANAWfGeUiGzz7
“Baik,” Ara akhirnya berkata. “Kita ke rumah itu.”
65Please respect copyright.PENANA2wil4S46uQ
Riven mengangguk. “Setengah jam lagi kita berangkat.”
65Please respect copyright.PENANAh5qYNg6MNV
Ara hendak melangkah pergi ketika Riven memegang lengannya sebentar.
65Please respect copyright.PENANAKT9Uafz3SV
“Ara.”
65Please respect copyright.PENANA52C2l5u62s
“Hm?”
65Please respect copyright.PENANA2EfcBYvuLM
“Kau tidak harus menghadapi ini sendirian.”
65Please respect copyright.PENANAAIJIYVZ87K
Ara menatap tangan Riven di lengannya. “Aku sudah sendirian sejak malam itu.”
65Please respect copyright.PENANA8IOQxPVcmW
Riven melepas pegangannya, tapi suaranya pelan. “Tidak lagi.”
65Please respect copyright.PENANAMGJ0hWELNA
Ara tidak menjawab, namun untuk pertama kalinya… kata-kata itu tidak terasa seperti manipulasi.
65Please respect copyright.PENANA4kkdTY5nxR
Ia melangkah keluar ruangan.
65Please respect copyright.PENANADIzc3stHGs
Dan di belakangnya, Riven menatap peta kuno itu dengan wajah gelap yang menyimpan sesuatu yang belum ia katakan.
65Please respect copyright.PENANArh2tOo1YVz
Sesuatu yang tidak hanya berhubungan dengan keluarga Liarelli…
65Please respect copyright.PENANAQVUzGppibR
Tapi juga tentang ayah Ara.
ns216.73.216.32da2


