Boy tahu Ummu Aisyah orang yang pandai. Jelaslah, kalo bodoh ya mana mungkin jadi guru. Boy geli sendiri dengan pikirannya. Jadi pastinya Ummu Aisyah juga sadar yang merekam videonya diam-diam tak mungkin orang jauh. Pasti dia menyadari bisa jadi dirinya kenal dengan orang tersebut. Selama ini Ummu Aisyah memang tak lagi mencoba mencari tahu siapa Boy sebenarnya, mungkin karena khawatir soal videonya. Tapi Boy yakin diam-diam Ummu Aisyah pasti mencari tahu. Mungkin salah satunya dengan cara mengamati orang-orang di sekitarnya. Mengamati perilakunya, perubahan sikapnya, atau caranya melirik, tersenyum. Boy bergidik tapi juga merasa senang. Keisengan ini ternyata lebih seru dari yang dia kira. Bagaikan bermain kucing dan tikus. Seperti perseteruan antara L dan Kira di manga Deathnote. Jadi sekarang yang dia perlu lakukan hanya bermuka dua. Di sekolah dia cukup menjadi diri sendiri. Badung seperti biasanya. Di saat malam dia berubah menjadi penggoda wali kelasnya.
Hari ini seperti biasa dia kesiangan. Di hari hari biasa dia pasti tak peduli dan memilih nongkrong di warung emak daripada memaksakan diri masuk kelas. Ternyata kegiatan malamnya punya sisi positif juga, dia jadi semangat sekolah. Walau niatnya bukan untuk belajar tapi menikmati wajah tegas Ummu Aisyah saat mengajar. Hal itu menambah sensasi tersendiri baginya di saat malamnya dia membuat wanita bersuami itu merintih dan mendesah.
"Ini peringatan terakhir, Boy. Sekali lagi kamu terlambat saya panggil ibumu." Walau tidak mengomel namun nada Ummu Aisyah tetap tegas.
Boy menjadi dirinya sendiri, dia ngeloyor ke bangkunya seakan tak peduli ancaman Ummu Aisyah. Wali kelasnya itu geleng-geleng kepala. Dia kehabisan akal bagaimana mendisiplinkan anak tetangganya itu.
Saat jam istirahat dia menyempatkan diri menelpon ibu muridnya itu yang sekaligus tetangga dan teman pengajiannya. "Nggak ada berubahnya itu anak bu Lis. Pusing aku."
"Tidurnya malem terus. Kalo dibilangin malah galakkan dia." Bu Lis malah curhat. "Sulit Ummu, kalo nggak punya sosok ayah buat teladan."
Ummu Aisyah langsung merasa bersalah. Menjadi orangtua tunggal memang berat. "Ngapain sih doyan banget begadang dia bu?"
"Itu loh, game apa itu namanya. Mobile Legends apa ya?"
"Hmm, sudah saya duga. Susah kalo anak sudah kenal game online, bu." ucap Ummu Aisyah.
Setelah menutup panggilan Ummu Aisyah termenung. Tiga tahun lalu dialah yang menjadi tempat curhat Bu Lis soal kisruh rumah tangganya. Dia geleng-geleng kepala. Apa mungkin semua laki-laki itu kufur nikmat? Bu lis cukup cantik untuk perempuan di usianya. Tubuhnya tinggi semampai, kulitnya kuning langsat, alim, dan gajinya juga cukup untuk membantu keuangan keluarga, tapi masih saja suaminya selingkuh. Ketika perceraian benar-benar terjadi suaminya tak pernah lagi menengok ke belakang. Kabarnya dia sudah menikah dengan selingkuhannya, meninggalkan Bu lis dan Boy sendiri. Ummu Aisyah menghela napas panjang teringat Boy. Mungkin kenakalannya adalah bentuk pemberontakannya terhadap keadaan. Dia jelas tak bisa menyalahkan.
TRING! Sebuah notifikasi pesan masuk ke ponselnya. Ummu Aisyah mengernyitkan dahi, tumben orang itu whatsapp siang siang begini. "Assalamualaikum. Siang Ummu cantik.. " bunyi pesan orang tersebut.
Ummu Aisyah langsung mengetikkan balasan. "Wa alaikumsalam. Siang juga orang mesum." Dia tersenyum setelah mengirimkan pesan balik. Tak lupa juga dia menambahkan emoticon tertawa.
Orang itu ikut-ikutan mengirimkan emoticon yang sama. "Lagi ngajar ya Ummu cantik?" Tulis orang itu lagi.
"Udah dibilang aku nggak cantik. Jangan panggil begitu lagi." Ummu Aisyah membalas cepat.
"Cantik kok. Tapi kalo Ummu nggak mau dipanggil begitu nggak apa-apa." Orang itu membalas. Lalu dia juga menambahkan di bawahnya. "Mulai sekarang saya manggilnya Ummu montok."
Ummu Aisyah tersenyum, bahkan suaminya sendiri tak pernah memujinya. "Terserah kamu deh. Lagi nggak ada pelajaran. Lagi di ruang guru."
Ada jeda panjang. Ummu Aisyah sedikit kecewa. Apakah orang itu tidak whatsapp lagi? Namun tak lama balasannya muncul. "Ummu montok.. "
"Iya.. " Ketiknya.
"Saya sekarang lagi belai-belai kontol saya Ummu.. Mmmhhh.. " ketik orang itu kurang ajar. Ummu Aisyah menelan ludahnya. Ini bagian yang dia suka dari orang itu. Dia bisa seringan itu mengetik hal yang bagi orang umum tabu.
Dengan jari sedikit gemetar dia menuliskan balasan. "Pasti sambil bayangin yang nggak nggak.. "
"Hehe.. Iya dong. Saya lagi bayangin Ummu.. Mmmhh.. " Balas orang itu.
"Bayangin apa?" Napas Ummu Aisyah mulai berat.
"Bayangin Ummu telentang di meja guru. Telanjang bulat sisa jilbab doang. Saya jilatin belahan memek Ummu.. Slurpppp... Saya buka memeknya pake jari. Lidah saya masuk dan jilatin dalemnya.. Slurpppp.. Ahhhh.. " Ketik orang itu.
Liang kewanitaan Ummu Aisyah kedut-kedut. Diam diam dia mengusap selangkangannya setelah memastikan tak ada orang lain di ruang guru. "Uhhhh... Mmmhhh.. Terus?" Dia juga membayangkan hal yang sama dengan orang itu. Dilecehkan dan dinodai di ruangan ini, di meja ini.
"Terus saya isi memek Ummu pake air liur saya sampe luber." Balas orang itu lagi. "Sambil saya kenyot tete montok Ummu, jari saya ngobok obok memek gatel Ummu.. Ahhhh.. Ahhh.. "
Ummu Aisyah menggigit bibirnya. Sekarang tangannya sudah menyusup di balik rok, dan jarinya mencolok memeknya sendiri. "Ahhhh.. Ahhhh.. Iyah... Teruss.. Ahhh.. " Dia ingin sekali memejamkan mata agar lebih bisa menikmati permainan gila ini, tapi dia tak berani. Jika ada yang kebetulan masuk bisa hancur nama baiknya selama ini.
"Sekarang tubuh Ummu saya kangkangin, terus saya gesekkin batang kontol saya di belahan memek Ummu.. Uhhh.. Kepala kontol saya main main di belahan memek Ummu.. Ahhh.. Ahh.. Mau saya masukkin, Ummu?" goda orang itu.
Celana dalam dan beha Ummu sudah basah kuyup oleh keringat. Birahinya sudah di ubun-ubun. "Mau sayang! Masukkin cepet... "
*bilang dulu Ummu pelacur, hehehe.. " Goda orang itu lagi.
Ummu Aisyah sudah kehilangan akal sehatnya. Dengan cepat dia mengirimkan balasan. "Iyah, aku pelacur! Aku ustadzah pelacur! Perkosa aku sayang! Entotin memek ustadzah ini!"
"Nikmatin kontol gua Ustadzah! Ahhhhhh! Masukkk! Ahhhhh!!" orang itu membalas tak kalah cepat.
Bola mata Ummu Aisyah naik ke atas seiring jarinya yang menusuk hingga mentok. Dengan brutal dia mengocok memeknya sendiri, tak ingin berlama-lama untuk menjemput kenikmatan. "Aku ustadzah lonte! Memek gatel! Memek basah! Ahhhhh!! Ahhhhhh!! Aku keluarrrrr!! Ahhhhhggg!!"
CROTTTTTR!!
Tak disangka Ummu Aisyah squirt dengan hebat. Dadanya turun naik dengan cepat, napasnya tak karuan. Cairan cinta membasahi pahanya dan mengalir ke betisnya. Orang itu selalu pandai berfantasi gila-gilaan, dan Ummu Aisyah suka. Sensasinya bahkan lebih daripada berhubungan badan rutin dengan suaminya.
"Makasih ya Ummu lonte. Saya juga udah keluar. Hahaha, istri orang emang nikmat. Dadah Ummu montok. Assalamu'alaikum." Tulis orang itu. Ummu Aisyah memaksakan diri membalas. "Wa alaikumsalam."
Sementara di warung depan sekolah, sambil bersandar di kursi plastik, Boy tertawa senang. Daripada capek ikut pelajaran olahraga nggak penting mendingan bolos sambil ngentotin Ummu Aisyah, ucapnya girang di dalam hati.
Boy benar-benar tak menyangka Ummu Aisyah yang alim itu ternyata sangat liar. Dan hal ini membuatnya berpikir. Jika lewat telepon saja sudah sebinal ini bagaimana aslinya? Pikiran itu membuatnya bersemangat. Dia harus mencari cara supaya dapat menikmati tubuh wali kelasnya itu. Baru sekedar berpikir begitu saja kontolnya sudah menggeliat. Tapi dia harus sabar, jangan sampai salah langkah. Dia tak ingin memperkosa Ummu Aisyah. Dia ingin ustadzah itu menyerahkan dirinya bulat-bulat.
Dan dia langsung mendapatkan ide cemerlang.
Bu Lis baru saja selesai mengerjakan sholat isya. Duduk di ruang tamu sambil membolak balik kitab suci coba mengingat sampai mana dia kemarin ketika tanpa angin tanpa hujan Boy duduk di sampingnya. "Bu.. Anu.. " Boy tergagap.
Bu Lis keheranan. Tak biasanya putranya bersikap begini. Jika dia ingin sesuatu biasanya dia meminta dengan cara membentak. Ada apa ini? "Kenapa Boy?" tanya Bu Lis lembut.
Mendadak Boy bersimpuh. "Bu, Boy minta maaf sama sikap Boy selama ini. Boy mau berubah, Bu."
Bu Lis menutup mulut dengan tangannya, nyaris tak percaya yang dia dengar. Akhirnya keajaiban itu datang juga di saat dia sudah hampir menyerah.
"Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. " Bu Lis memeluk putra semata wayangnya itu. Tak kuasa menahan rasa haru.
"Boy bakal nurut sama ibu, bakal sholat lima waktu, Boy mau belajar baca Qur'an.. "
Bu Lis makin erat memeluk Boy, bahagia. Boy menatap wajah ibunya takzim. "Bu.. "
"Iya Boy.. "
"Tolong cariin guru ngaji. Boy malu belum bisa bacaan sholat.. "
"Besok ibu tanya Ummu Aisyah, ya. Semoga beliau mau ngajar ngaji privat. Biar kamu cepet bisa ya Boy.. "
"Iya bu. Makasih." Boy memeluk balik ibunya. Senyum iblis tersungging di wajahnya.
Bukan hanya ibunya, Ummu Aisyah juga ternganga kaget campur senang. "Alhamdulillah ya bu. Hidayah memang bisa dateng dari mana aja. Iya, Insya Allah saya sempetin waktu buat privat Boy." ucap Ummu Aisyah saat Bu lis minta tolong mengajar anaknya. "Pantes akhir akhir ini dia lebih banyak diem di kelas, nggak kayak biasanya."
"Alhamdulillah. Semoga bisa istiqomah si Boy ya Ummu. Makasih udah nyempetin waktu." timpal Bu lis senang.
"Saya kan tau kecilannya Boy. Anak itu sebenarnya baik.. " ucap Ummu Aisyah lagi.
Disepakati Ummu Aisyah akan mengajar privat di rumah Bu Lis ba'da ashar. Tapi Bu lis juga minta maaf kalo tidak bisa menjamu karena dia baru pulang kerja sebelum magrib.
"Bagaimana Ummu? Nggak masalah abis ashar?" tanya Bu lis.
"Positif Bu lis. Justru setelah Magrib nggak bisa. Nggak tega ninggalin si Abi sendiri di rumah." Yang dimaksud Ummu Aisyah adalah suaminya.
Dan jadilah sore itu Ummu Aisyah mengajar Boy. Dengan sopan anak itu mempersilakan Ummu Aisyah masuk. Perempuan itu nyaris tak mengenali Boy dengan baju koko dan sarung hitam yang melilit pinggangnya. "Assalamu'alaikum wak haji." Ummu Aisyah mengucap salam sambil bercanda agar anak itu merasa nyaman.
"Ah Ummu mah bikin saya malu aja hee. Wa alaikumsalam." Boy garuk garuk kepala, malu.
Ummu Aisyah akrab dengan ruang tamu Bu lis. Pengajian bulanan kerap diadakan di sini karena ruangannya yang luas. Dia duduk di sofa empuk bermotif kembang melati sambil menunggu Boy siap. Anak itu muncul dari dapur sambil membawa nampan berisi gelas yang terisi penuh dan sebotol minuman air dingin. "Minum dulu Ummu.. "
Minuman digelas itu langsung habis setengah. Siang ini udara tak hanya panas, tapi juga gerah. Pas sekali Boy membawakan air putih dingin. Rasa dahaganya langsung sirna. Namun yang tak Ummu Aisyah tahu diam-diam Boy sudah menaburkan obat perangsang di minumannya. Sekarang dia tinggal menunggu obat itu bereaksi.
Ummu Aisyah mengeluarkan buku tipis yang berisi tuntunan sholat. Dia menyerahkannya pada Boy. Keduanya langsung memulai pelajaran.
Di sekolah, Ummu mengajar Bahasa Indonesia sekaligus bertugas sebagai wali. Pelajaran agama sudah ada gurunya sendiri. Jadi untuk hal ini Ummu Aisyah tak pernah tahu sampai sejauh mana pengetahuan muridnya. Hari ini dia kaget karena sedikit sekali pengetahuan Boy soal agama. Bahkan sholat yang wajib dia sama sekali tak tahu setiap bacaannya. Tapi dia punya prinsip, tak pernah ada kata terlambat untuk berbuat baik.
Ummu Aisyah dan Boy duduk berseberangan di batasi meja tamu. Anak itu bersandar sambil menghapal niat sholat subuh, sementara Ummu Aisyah menunggu dengan sabar.
Lalu obat itu pun bereaksi. Duduk perempuan itu mulai gelisah. Sebentar sebentar dia menggeser letak duduknya. Butiran keringat mulai muncul di wajahnya. Ummu Aisyah tak mengerti mengapa mendadak dia merasa horny. Lalu matanya dengan tak sengaja melihat apa yang seharusnya tak dia lihat. Wajah Boy tertutup buku yang sedang dipegangnya jadi dia tak melihat Ummu Aisyah yang matanya sedang terpaku pada selangkangannya. Lipatan kain sarung Boy mencetak dengan jelas sesuatu di baliknya. Rupanya di balik itu Boy tak mengenakan apa pun.
Gede banget astaga, pikir Ummu Aisyah dalam hati. Memang aslinya besar atau hanya efek lipatan sarung Ummu Aisyah tak tahu, tapi yang jelas pasti lebih besar dari milik suaminya.
Dia membuang muka coba mengenyahkan bayangan itu dari benaknya, tapi sesuatu itu seakan terus menarik pandangan ke arahnya.
Pelajaran hari itu pun berlalu. Anak itu terbukti pintar jika mau belajar. Dalam satu hari itu saja dia sudah menghapal semua bacaan sholat. Berarti besok sudah bisa mulai belajar praktek.
Boy sengaja tak melakukan apa apa, dia ingin mengambil kepercayaan Ummu Aisyah dulu walaupun dia sebenarnya sudah tak tahan ingin menerkam dan memperkosa perempuan suci itu. Apalagi tadi Ummu Aisyah jelas terpengaruh oleh obat perangsang yang sudah diminumnya. Tapi Boy mengingatkan diri untuk sabar. Belum saatnya.
Sesampai di rumah Ummu Aisyah langsung membuka whatsapp "assalamu'alaikum.. " sambil mengirim pesan dia merebahkan diri di ranjang.
Balasannya datang dengan cepat. "Wa alaikumsalam, Ummu montok. Tumben nih wa duluan, kangen ya heee.. "
"Apa sih. Nggak cuma iseng aja." jawab Ummu Aisyah. Selangkangannya makin terasa gatel ingin segera dipuaskan. "Kamu lagi apa?"
"Lagi bayangin Ummu.. " balas orang itu.
"Lagi bayangin apa?" tanya Ummu walau dia sudah tahu jawabannya. Inilah yang membuatnya selalu kangen dengan orang misterius itu.
"Lagi bayangin Ummu sholat." jawab orang itu.
Heh? Ummu Aisyah tak menyangka dengan jawaban itu. Biasanya orang itu akan membalas dengan ketikan ketikan mesum yang membuat Ummu Aisyah tak berhenti squirt. "Bayangin aku lagi sholat?" tanya Ummu Aisyah mengulangi, seakan dia salah baca.
"Iya. Bayangin Ummu lagi sholat. Sedang duduk tahiyat akhir. Tapi saya berdiri depan Ummu sambil gesekkin kontol saya di muka Ummu.. Heheee.. "
DEG! Gairah Ummu Aisyah langsung bangkit dengan gilanya fantasi orang itu. Buah dadanya langsung keras dan putingnya berdiri tegak. "Terus.. " Ummu Aisyah membalas dengan jari gemetar.
"Terus saya tamparin pipi Ummu pake kontol saya. Udah puas, saya pegang kepala Ummu lalu saya entot mulut suci Ummu.. Uhhh.. Nikmat..."
Bayangan yang sama bermain di kepala Ummu Aisyah. Reflek dia selipkan jari ke celana dalamnya, mencari kenikmatan. "Ahhh.. Gila kamu.. Uhh.. Terus... "
"Terus saya kencingin muka Ummu. Wajahnya, mulutnya, badannya. Ahhhh.. Mukenah Ummu basah air kencing saya ahhh.. "
Ummu Aisyah seharusnya marah dengan makin gilanya ocehan orang itu, tapi nyatanya tidak. Dia justru semakin ketagihan dilecehkan seperti itu. "Trusss... Ahh.. Terus.. " Ummu Aisyah makin brutal mengorek liang kenikmatannya. Jari kanan di memek dan tangan kiri meremas buah dadanya sendiri.
"Terus saya perkosa memek suci lu Ummu... Rasain nikmatnya kontol gua! Ahhhhhhh!!"
Ummu Aisyah kelojotan di ranjangnya sendiri. "Perkosa aku! Pejuin aku! Buntingin akuuuuuu!!! Ahhhhhh!! Aku keluarrrrr!" CROTT! CROTTT!
Lagi dan lagi dia squirt gila gilaan membuat sprei kasurnya basah. Ummu Aisyah sudah ketagihan.
BERSAMBUNG
Whatsapp penulis: 088225843387
Donate please, biar penulis makin rajin upload cerita ini.
13302Please respect copyright.PENANA4bW3y3dFt4
13302Please respect copyright.PENANAkO6W5vgs7A
13302Please respect copyright.PENANAYPrMflLnul
13302Please respect copyright.PENANAiSo2T69Wsa
13302Please respect copyright.PENANAYlSo38exYN


