Laras tak pernah bisa melupakan malam jahanam itu. Semakin keras dia mencoba semakin nyata bayangan kelabu itu. Sikap dingin dan antipatinya memang cukup bagi Anto dan Markus untuk tak mendekatinya lagi. Walau Markus beberapa kali mencoba namun Laras sudah muak. Betul dia tak mungkin mengadukan hal itu pada siapa pun, tapi jika Markus coba coba kurang ajar dia tak segan untuk berteriak. Biarlah hancur sekalian, pikir Laras.
Itu memang berhasil baginya, namun ada satu yang mengusik pikiran: bagaimana dengan Salwa?
Gadis itu senasib dengannya. Melihat gelagat busuk Anto dan Markus tak mungkin mereka melepaskan Salwa jika gadis itu tak mengambil sikap yang sama dengannya. Ini memang sedikit awkward namun Laras bertekad menolong Salwa. Lagipula sudah berhari-hari Laras tak melihatnya di kost atau lingkungan kampus. Dia yakin anak itu pasti sedang tertekan. Hal seperti ini jelas tak bisa dibicarakan pada sembarang orang.
Memikirkan Salwa mau tak mau dia juga memikirkan dirinya sendiri. Akhir-akhir ini hidup bagaikan naik rollercoaster, naik dan turun dengan cepat, sama sekali tak memberinya kesempatan bernapas. Mungkin akan bijak jika dia memberi dirinya sendiri sedikit reward karena berhasil tetap waras dalam situasi seperti ini.
Spontan tanpa berpikir dua kali dia menelepon tantenya. "Assalamu'alaikum. Halo tante."
"Wa alaikumsalam. Ya ampun ponakan tante yang paling cantik tumben nelpon." jawab tantenya di seberang sana. "Ada apa sayang?"
"Anu Tan. Laras boleh nggak mampir ke villa tante. Lagi butuh refresing banget ini tan." Laras langsung ke pokok pembicaraan. Dia tahu tantenya orang sibuk jadi tak ingin menyiakan waktu untuk berbasa-basi.
"Kayak sama siapa aja kamu Ras. Pake aja." jawab tantenya enteng "Mau ke sana kapan? Sama siapa?"
"Pinginnya malem minggu ini tan, pulang kuliah langsung. Palingan sendiri sih. Lagi pingin menyendiri sambil menikmati udara dingin." ucap Laras.
"Iya, pake aja. Kuncinya kamu ambil aja di rumah ya. Tante taroh di tempat biasa." balas tantenya. "Udah dulu ya Ras, tante masih ada meeting. Assalamu'alaikum."
"Wa alaikumsalam."
Jumat perkuliahan hanya sampai jam tiga sore. Saat yang lain berebutan keluar kelas Laras masih santai di kursinya. Dia perlu cek ricek bawaannya agar tak ada yang tertinggal. Dompet, handphone, alat make up, dan mukenah semua sudah masuk di tas kecilnya.
Perjalanan ke Megamendung paling lama dua jam, tapi semakin sore arah puncak pasti semakin macet, dia harus bergegas. Tak sengaja dia melihat Salwa dari jendela kelasnya, Laras langsung berlari menghampirinya. "Salwa!"
Salwa mencari cari sumber suara yang memanggilnya sebelum akhirnya melihat Laras yang sedang melambai-lambaikan tangan. Dengan langkah gontai dia berjalan mendekat. Laras langsung merasa iba melihat temannya itu. Matanya sayu, wajahnya pucat, dan tatapannya terlihat kosong.
Laras tahu soal Salwa tapi Salwa tak tahu Laras juga mengalami hal yang sama. Jadi Laras tahu benar apa yang temannya itu rasakan saat ini.
"Kamu kemana aja Wa, kok sekarang jarang keliatan?" ucap Laras sambil memegang tangan Salwa yang terasa dingin.
"Lagi lebih sering di kamar aja Ras. Lagi nggak enak aja badan rasanya," jawab Salwa. Laras memperhatikan dia menghindari menatap matanya. Fix anak ini sudah hancur mentalnya, pikir Laras. Kebenciannya pada Anto dan Markus makin memuncak.
"Ikut aku yuk!" Ucap Laras tiba-tiba. Mendadak saja dia terpikir mungkin Salwa akan merasa lebih baik jika diajak ke villa tantenya. Udara dingin mungkin bisa membuat jiwanya fresh kembali.
"Ikut kemana?" Salwa bertanya tanpa semangat.
"Staycation tipis tipis di villa tanteku di puncak," jawab Laras antusias, berusaha mengimbangi mendung gelap di wajah Salwa. "Mau ya? Kamu duduk santai aja. Aku yang bawa mobil."
Sebelum Salwa menolak Laras menggandeng tangannya menuju parkiran mobil. Seperti tubuh tanpa jiwa, Salwa hanya menurut. Laras semakin khawatir. Dalam keadaan seperti ini dia bisa saja dimanfaatkan bukan hanya Anto dan Markus, tapi juga laki-laki lain yang melihat ini sebagai kesempatan.
Tak lama mobil yang membawa dua akhwat itu sudah melaju membelah kemacetan ibukota. Beruntung Tol Jagorawi belum padat jadi mereka bisa sampai sesuai waktu yang diperkirakan Laras.
Villa itu sendiri hanya masuk 500 meter dari jalan raya puncak. Pagar dan bangunannya dicat putih bersih. Saat membuka pintu mobil udara dingin langsung membekap tubuh keduanya. Tapi itu bukan dingin yang menggigit melainkan dingin yang membuat nyaman. Salwa menghirup udara bersih itu dalam dalam, mengisi paru-parunya yang kering. Itulah pertama kali Laras melihat Salwa tersenyum. Dan dia mengakui, senyum anak itu memang manis.
Villa mungil itu terbagi menjadi lantai dasar dan lantai kedua yang dilengkapi tempat terbuka di bagian depannya. Dari tempat itu mereka bisa melihat jalanan puncak yang berliku-liku dan hamparan perbukitan kebun teh Gunung Mas. "Masya Allah cantiknya Ras." Salwa terpaku menatap lanskap di depannya.
Laras berdiri di sebelahnya, merasa bahagia melihat Salwa yang seakan kembali seperti semula. "Nggak nyesel kan aku culik ke sini.. " ucapnya dengan nada bercanda.
Salwa menggenggam tangan Laras sambil tersenyum. "Andai kamu tahu betapa aku butuh ini Ras. Makasih banget ya."
Laras hanya tersenyum dan menggenggam balik tangan Salwa. Di momen itu sesuatu menggelitik benaknya. Pantas Anto dan Markus menargetkan anak ini, tangannya aja begini lembut. Pikir Laras. Bagaimana yang lain..
Bagaimana yang lain? Laras bingung sendiri dengan pikirannya. Bisa bisanya dia teringat video Salwa yang ditunjukkan Markus. Dia teringat ekstase kenikmatan di wajah Salwa saat kontol Markus ambles dalam memeknya. Dia teringat desahannya..
"Kamu kenapa Ras?" Teguran Salwa menyadarkannya kembali. Refleks dia beristighfar. Astagfirullah.. Astagfirullah..
"Kamu sakit? Wajahnya jadi pucet begitu?" tambah Salwa lagi dengan ekspresi khawatir. Punggung tangannya dia sentuhkan di dahi Laras.
"Nggak apa apa Wa, cuma keingetan sesuatu aja. " balas Laras.
"Yakin? Aku bikinin teh ya?" timpal Salwa. Laras bukannya menjawab justru membeku. Harum tubuh Salwa memantik sesuatu dalam dirinya. Pandangannya terpaku pada dada Salwa. Walau tertutup gamis lebar dan hijab panjang, Laras tahu betul bentuk buah dada temannya itu. Ukurannya yang jumbo, putingnya yang mengacung, kulit payudaranya yang mengkilat karena ludah Markus..
"Laras.. " Tegur Salwa lagi.
"Astaghfirullah.. Astaghfirullah.. " Laras menyebut berkali-kali. Detak jantungnya tak beraturan. "Teh hangat boleh juga kayaknya ya. Masuk aja yuk, udah mulai dingin." Laras coba bersikap biasa.
Banyak yang bilang malam di puncak akan sangat dingin di saat musim panas atau jika siangnya kelewat terik. Statemen itu nyata adanya. Baru jam 8 malam namun villa terasa beku. Kedua gadis itu sama sekali tak berani mandi. Setelah berganti pakaian keduanya langsung naik tempat tidur dan selimutan sampai sebatas leher. Rencana ngopi sambil menikmati suasana di warpat dibatalkan karena nyatanya kehangatan selimut jelas lebih nyaman.
Di kesempatan itu Laras bercerita soal hal hal lucu di kampus, tentang masa kecilnya, hubungannya dengan tantenya si pemilik villa, dan banyak hal. Salwa yang memang pendiam hanya mendengarkan sambil sesekali tersenyum jika ada yang lucu.
"Kamu nggak punya pacar?" Salwa bertanya. Karena dari sekian banyak cerita tak sekali pun Laras bercerita soal cowok. Laras menggeleng. "Nggak punya cowo dan nggak pernah pacaran seumur hidup." Laras menjawab.
"Padahal kamu cantik banget. Pasti yang ngejar banyak ya?" tanya Salwa lagi. "Emang kamu yang nggak mau pacaran?"
"Pacaran itu haram." Laras menjawab.
Ekspresi Salwa berubah mendengar kata haram. Bayangan perkosaan Markus berkelebat. Dia kembali merasa kotor. Laras menangkap perubahan ekspresi itu. Dia paham penyebabnya tapi tetap bertanya. "Kamu kenapa Wa.. "
Bukannya menjawab Salwa justru menangis sesenggukan. Laras langsung panik. Dia geser tubuhnya mendekat. "Salwa kenapa nangis? Sini cerita.. "
Tangis Salwa justru makin kencang. Laras makin kebingungan dan merasa serba salah.
"Ras.. " Salwa berbisik masih sambil sesenggukan.
"Iya, Wa?" jawab Laras lembut.
"Aku boleh meluk?" sambung Salwa.
Laras tak perlu memberi jawaban, dia langsung memeluk leher temannya itu. Dengan lembut dia membelai kepala Salwa yang tertutup jilbab, coba memberinya ketenangan. Sementara tangan Salwa melingkar di pinggang Laras dengan wajah tertangkup di dada. Tangisnya makin menjadi.
"Laras.. Huhu.. Aku kotor Ras, huhuuu.. " Suara Salwa bergetar.
Laras bingung harus menjawab bagaimana, jadi dia memeluknya lebih erat.
Kehangatan merayap di tubuh keduanya. Udara yang dingin tak lagi terasa. Dan hanya sebatas itu kata kata yang mampu terucap dari bibir Salwa, selebihnya dia hanya menangis menumpahkan airmata yang selama ini dia tahan sendirian. Dada Laras basah. Sesekali Salwa juga menggesekkan wajahnya, mungkin untuk mengusap airmata. Napas panas Salwa ditambah wajahnya yang terpendam diantara payudaranya menimbulkan efek yang ganjil. Laras menggigit bibirnya. Sebisa mungkin dia menahan gejolak aneh yang perlahan merangkak naik. Dia tak ingin Salwa tahu jika putingnya sudah tegak. Laras tak mengerti dengan dirinya sendiri. Mengapa tubuhnya jadi sesensitif ini. Terlebih mereka berdua sama sama wanita.
Tangisan Salwa perlahan berhenti namun pelukannya justru semakin erat. Laras merasakan buah dada Salwa menggesek gesek perutnya. Gejolak dalam tubuhnya makin menjadi jadi. Napas keduanya juga semakin berat. Laras memberanikan diri mengusap airmata di pipi temannya itu. Salwa menatapnya dengan sendu. "Makasih ya Ras.. "Laras tak menjawab, dia terlalu fokus pada bibir Salwa yang merekah. Ingin rasanya dia memagut bibir itu saat ini juga, tapi dia tak berani.
Laras kembali memeluk Salwa erat, membenamkan wajahnya ke payudaranya. Salwa juga menurut.
Laras memejamkan mata coba melawan gairah tak biasa ini. Dia sadar, sepenuhnya sadar. Itu adalah gairah yang salah. Dan itu perbuatan yang dikutuk. Dosa besar! Namun semakin lama mereka berpelukan, kewanitaannya justru semakin gatal.
Laras akhirnya menyerah untuk melawan. Seiring napas yang kian memburu dia membulatkan tekad untuk mencari cara.
Awalnya dia memberanikan diri membelai punggung Salwa dengan tangan kirinya. Coba mencari sedikit sinyal bahwa Salwa juga menginginkannya. Wajah Salwa bergerak pelan di payudaranya, tubuhnya menegang. Belum cukup, belum cukup. Pikir Laras.
Dia lalu mensejajarkan wajahnya dengan wajah Salwa. Salwa hanya memandangnya sedetik lalu membenamkan wajah di lehernya. Belaian tangannya di punggung Salwa semakin intens. Salwa makin merapatkan tubuhnya di tubuh Laras. Kamar itu mulai kental beraura mesum.
Perlahan belaian tangannya bergerak turun. Dengan lembut dia membelai gundukan bulat pantat Salwa.
Mmmhhhh..
Apakah barusan Salwa mendesah? Laras masih tak yakin dengan yang dia dengar. Namun tubuh Salwa semakin rapat. Dengan dada bergemuruh dia coba lagi meraba pantat Salwa, kali ini dengan lebih lembut. Ujung jari telunjuknya bahkan menyusuri tempat di mana belahan pantat Salwa berada. Tubuh Salwa makin menegang. Lalu desahan kecil itu terdengar lagi.
Mmmmhhhh...
Derap jantung Laras sudah tak terkendali. Wajahnya dibanjiri keringat. Dia mengangkat telapak tangan dari pantat Salwa. Sekarang atau tak akan sama sekali, pikirnya.
Dia gemetar saat akhirnya memberanikan diri menurunkan telapak tangannya kembali dan mulai meremas bongkahan pantat Salwa. Tubuh Salwa melonjak kaget, dengan ekspresi tak terkatakan dia menatap wajah Laras. Matanya sayu. Tubuh Laras menegang. "Salwa.. " bisiknya.
"Iyah.. " Suara Salwa setengah mendesah.
"Maafin saya.. " Dengan cepat dia langsung melumat bibir Salwa.
"Laras.. " Salwa terkejut namun juga tak menghindar. Tak seperti Markus, Laras mengecup bibir Salwa penuh kelembutan. Dia bahkan memejamkan mata menikmati sapuan lidah Laras di bibirnya, membuka mulutnya lebih lebar agar lidah Laras leluasa membelit lidahnya.
"Salwa.. Mmhhhh.. Mmhhh.. Slurppp.." Laras mendesah sambil lidahnya menyusuri dinding mulut Salwa. Ludah keduanya bercampur. Tangan Laras perlahan melepaskan satu persatu kancing gamis Salwa.
Mata Laras nanar saat bra Salwa terlepas. Buah dadanya kencang dengan puting coklat. Garis garis urat biru menghiasi payudaranya yang putih. Salwa langsung mencaploknya. "Nyammm... Mmpphhhh.. Mpphhhh.. "
Salwa menggeliat menikmati setiap sapuan lidah dan kenyotan bibir Laras di putingnya. Dengan ritme halus selangkangannya beradu dengan selangkangan Laras. Dia terpejam sambil menggigit jarinya dan mendesah. "Ahhh.. laras.. Ahhh.. Nikmat banget sayang.. Ahhh.. "
Jilatan Laras turun ke perutnya sambil meloloskan celana dalam satin. Kini Salwa benar benar bugil menyisakan jilbab lebar dan kaos kaki panjang di kakinya. Bukannya malu Salwa justru mengangkat tinggi pinggulnya. Laras mengerti, dia langsung membenamkan wajahnya di memek ukhti suci itu. Dengan tangan dia merenggangkan paha Salwa, lalu menjilati dengan buas itil dan belahan memek Salwa. "Slurpppp.. Slurpppp.. Slurpppp.. "
Salwa menggelinjang tak karuan. "Uhhh.. Laras.. Ahhhh.. Jangan nakal.. Ahhh.. " Bukannya berhenti Laras justru semakin intens menjilat dan menggigit itil dan memek Salwa. Lima menit sendiri dia bermain di sana.
Entah kapan Laras melepas pakaian yang dia kenakan. Tapi sekarang keduanya sama, hanya memakai jilbab dan kaos kaki putih panjang. Dia kembali naik dan menindih tubuh Salwa. Buah dada keduanya saling bergesekan. Kaki keduanya saling melilit dengan vagina saling beradu.
"Salwa suka ya dinakalin begini.. " ucap Laras sambil kembali melumat bibir seksi Salwa yang terbuka.
"Suka Laras.. Mmmhhh.. Ahhh.. " Ucapannya terputus karena Laras menggesek memeknya dengan gerakan berputar. Salwa megap megap merasakan jembut Laras di selangkangannya.
"Laras nakall. Ahhh... Ahhhh.. Ahhh.. " Salwa mendesah sambil melakukan hal yang sama. Saling menggesek, saling menekan. Dia bahkan memaksakan diri menekuk tubuhnya untuk mengenyot buah dada Laras. "Mmmhhhh.. Slurppppp... Mmmhhh.. "
Gerakan keduanya semakin intens. Tubuh keduanya mandi keringat walau udara dingin menggigit. Lalu klimaks dari segalanya itu akhirnya datang.
"Ahhhhh. Larassss.. Aku keluarrrr... Ahhhhh... " jerit Salwa sambil mencengkram pinggang Laras. Tubuh Laras juga menegang. "Salwaaa!!!! Ahhhhhh.. Ahhhhh... Ahhhhhh.... "
CROTT! CROTTT!!
Keduanya langsung ambruk sambil berpelukan.
13426Please respect copyright.PENANAfKzyLbcdKd
BERSAMBUNG
Phoneseks/chatseks buat ibu ibu, binor,jilbab, yang mau dipuasin sampe lemes. 088225843387
13426Please respect copyright.PENANAa6wTrmyVty
13426Please respect copyright.PENANAxMvVLnjB7g
13426Please respect copyright.PENANAygu1TStFzc
13426Please respect copyright.PENANAVTN7zOO5HE
13426Please respect copyright.PENANA22xlJ3moDP
13426Please respect copyright.PENANAKWrTiQmfTu
13426Please respect copyright.PENANA0BAUYnZcj3
13426Please respect copyright.PENANAYoi6mBHDEI


