TENG540Please respect copyright.PENANAH7bS3w32Zv
540Please respect copyright.PENANAIUKyJi4poU
TENG540Please respect copyright.PENANAzVMfePEAww
540Please respect copyright.PENANA3APZS2xpR7
TENG
Dentang lonceng tua nan berdebu kala jarum jam menunjuk angka 12.540Please respect copyright.PENANATvthGj4eka
540Please respect copyright.PENANAWzqUJRewU3
Tahun baru tiba. Meja emas di antara dua orang yang satu berambut putih dan yang lain kisaran umur kepala 4 menjadi saksi bisu dibacakannya pronostica, petuah Sir Zein yang setiap tahunnya diberikan kepada pemimpin pulau kecil, Na’s Adras.
Sebuah pulau bahkan tidak ada yang tahu bentuknya kenampakan dari atas. Tanah subur yang menjadi kehidupan orang orang menyapa menyebut tempat tinggal mereka adalah Na's Island.
Empat mutiara mengelilinginya.
Mata air sukma di sebelah utara menjadi cermin masa emas.
Hutan rimba dengan pohon berbaris nan menari di selatan kunci kesuburan dan menjadi arti sejuk.
Pegunungan praja di timur menjulang tinggi nan gagah menantang mentari pagi ufuk.
Bukit hijau dandelion impian ber permadani rumput karana menjadi pintu terbenam surya.
Elemen elemen terlukiskan di pigura perak yang dipajang berjejer di tembok ruangan ini.
“Ariane. Jangan biarkan dia menikah. Keturunannya, akan membunuhmu” setelah diam cukup lama, kalimat itulah yang diucapkan Sir Zein.
Adras berfikir dalam diamnya. Jika Ariane putri semata wayangnya tidak punya buah kasih, siapa yang akan mewarisi Na’s Island ini waktu dirinya sudah tua nanti?
Akan tetapi, ego Adras merasukinya karena takut mati. Hatinya berkata tak tega apabila tidak bisa melihat masa keemasan Na’s Island di generasinya.
Na's Adras bukanlah raja. Para penduduk di Pulau memilihnya menjadi orang yang dianggap paling. Kepiawaiannya memecahkan masalah hingga kepandaiannya yang mencetuskan sistem demokrasi pulau menghasilkan otonomi yang menjadi peraturan bagi daerah otonom.
Selama kurang lebih 20 tahun, Na's Island selalu dalam kebahagiaan sampai sampai banyak orang yang mengkhawatirkan akan datang bagai besar atau langit mendung yang iri pada kedamaian pulau cantik ini.
***
Di depan cermin bersudut kanan mutiara bintang berbentuk bulan, seorang gadis cantik berkuku jari manis merah muda tengah menyisir rambut panjang gelapnya. Kulit putih bersihnya dan wajah merona merah muda kontras dengan warna kulit ayahnya yang sawo matang. Mungkin anak perempuan ini lebih memiliki kemiripan dengan ibundanya yang kini tenang di atas sana.
“Na’s Ariane, Na’s Adras ingin menemuimu” suara lembut pelayan terdengar dari balik pintu. Gadis yang dipanggil Ariane itu menghentikan kegiatannya di meja rias dan beranjak untuk membukakan pintu kamarnya.
“Ada apa, Ayah?” tanya Ariane selepas membuka pintu berwarna putih itu.
“Kemasi barang barang mu. Mulai nanti malam, kau tidur dekat dengan bintang di langit” jawab Adras tak meninggalkan kesan wibawanya.
“Dimanakah itu, Ayah?” cicit Ariane takut merasa ada yang tidak beres.
“Menara” singkat Adras memberi kode tersirat pada Ariane untuk bergegas.
***
Ariane yang kini genap berusia 17 Tahun tak berani melawan hanya sekedar bertanya mengapa. Disinilah dirinya sekarang. Berdiri memandang langit malam yang enggan menghadirkan bintang.
“Na’s Ariane, saya membawa bunga terompet jingga yang engkau minta” suara bariton membuyarkan lamunan Ariane.
“Masuklah, Alex,” si empu yang dipanggil namanya langsung membuka pintu kamar menara Ariane.
“Ini Na’s Ariane” Alex memberikan bunga yang dibawanya ke Ariane dengan berjongkok.
“Kau tahu kenapa aku selalu meminta dibawakan bunga terompet jingga?”terima Ariane memandang layu bunga ditangannya.
“Tidak Na’s Ariane” jawab Alex sekenanya masih dalam posisi berjongkok dihadapan Ariane.
“Jangan formal padaku, Alex. Kau adalah temanku” bibir Ariane berdecak sebal dengan tingkah pengawal menara yang seumuran dengannya ini.
“Maafkan aku...A..ria..ne” Alex ragu terpatah ucapannya seraya berdiri dan memposisikan tubuhnya disamping Ariane.
“Jangan sering mengucap maaf. Dunia ini kejam” Ariane berbalik arah menghadap laki laki disebelahnya ini.
“Kau cantik malam ini, Ariane” Alex balas memandang Ariane lekat.540Please respect copyright.PENANAOEkdxoznCn
540Please respect copyright.PENANAAH5Yv3U3r2
Jarak mereka semakin dekat. Raut muka Ariane merona merah seperti apel. Deru nafas Alex menerpa wajah Ariane.
Keduanya menutup mata, seperti bulan yang kini tertutup awan. Malam itu adalah saksi yang mengundang petir untuk menyambar memberitakan bahwa ini buruk.
***
“Kenapa sudah 2 minggu ini perutku membuncit? Padahal aku tidak napsu makan” Ariane bertanya pada pantulan dirinya di cermin besar kamarnya.
“Apa benar kata Alex kalau ayah mengurungku di menara agar aku terus melajang? Tapi yang telah aku lakukan..” lirih Ariane berfikir keras meratapi nasibnya terpotong oleh pintu kamarnya yang terketuk.
“Na’s Ariane, Na’s Adras ingin menemuimu” mendengarnya, Ariane panik dan berjalan kesana kemari.
“Masuklah, pintu tidak aku kunci” teriak Ariane seraya memposisikan tubuhnya di ranjang dengan berbalut selimut.
“Ariane, apa kau sakit?” sesaat setelah Adras masuk, dirinya langsung menghampiri Ariane yang terbaring dan mengarahkan tangannya di dahi putrinya ini untuk memeriksa suhu badannya.
“Aku tidak apa apa, Ayah” sangkal lembuh Ariane manatap ayahnya sambil tersenyum.
“Aku khawatir padamu. Aku akan pergi ke utara selama 7 bulan di otonom Bradia” raut mimik cemas terarah dari Adras ke anak satu satunya ini.
“Aku akan baik baik saja, Ayah” kembali Ariane mengukir senyum manisnya meyakinkan.
“Bila kau butuh apa apa, katakan pada Sir Aura” dengan menggenggam tangan mungil Ariane, Adras sebenarnya tidak tega meninggalkan putrinya.
Hanya anggukan yang dibalas Ariane bahwa dirinya nanti akan mengomukasikan segalanya pada Sir Aura perawat pribadinya sekaligus ibu dari Alex.
***
7 BULAN KEMUDIAN
“Sir Aura, aku mohon rahasiakan hal ini..” ucap pasrah Ariane yang wajahnya pucat pasi seraya terbaring lemah menahan rasa sakit.
“Saya sangat bodoh Na’s Ariane, tidak mengetahuinya dari awal. Harusnya nona tidak berjuang sendirian. Saya siap jika setelah ini penggal adalah hukuman pantas untuk saya.”
Ariane memang menyembunyikan bahwa dirinya berbadan dua. Hanya Alex yang sesekali datang untuk memberikan bunga terompet jingga. Rahasia menjadi milik mereka berdua sampai masa kelahiran tiba.
Malam ini.
Dengan terbaring lemah dalam menara yang tak terlihat indah, Ariane pasrah akan keadaan.540Please respect copyright.PENANAORQaapslpi
540Please respect copyright.PENANAjd7atNQqJd
Dia merasa hal ini takdir. Walau ia tidak tahu ditujukan pada siapa.
“Selamatkan luke dan lucas” selepasnya, Ariane tidak sadarkan diri. Terpaksa Sir Aura menyayat rahim Ariane dan mengangkat bayi mungil yang kembar.
Tangisan dua bayi itu bersahutan. Untunglah mereka di menara, dengan cepat Sir Aura memotong tali pusar dua bayi laki laki itu dan memandikannya.
Diukir nama Luke di bahu kanan bayi yang keluar pertama dan Lucas di bahu kiri bayi satunya. Seraya menitikan air mata, Sir Aura membasuh wajah cantik Ariane tiga kali untuk menghormatinya yang sudah menyelesaikan urusannya di dunia yang fana ini.
“Na’s Ariane, Na’s Adras baru saja memasuki gerbang” suara yang dikenal Sir Aura menuntunnya untuk membuka pintu.
“Ibu kenapa menangis? Dimana Ariane?” Alex panik dan bergegas menerobos masuk hingga sampai di samping tempat tidur Ariane.
“Kau sebut nona siapa!? Tanpa Na’s? Bisa bisa nya kau menerobos masuk kamar gadis, anak durhaka!” Sir Aura marah terhadap sikap lancang putranya.
“Ariane...hanya tidur, kan?! Dia..dia..tidak mungkin..” Alex terduduk lesu dilantai.540Please respect copyright.PENANAZMck5cLA98
540Please respect copyright.PENANA9SL8tq7nDY
Si bayi kembar kembali menangis.
“Luke... Lucas...” panggil Alex kepada si mungil yang menangis. Alex pun tak kuasa menahan tangis.
“Dari mana kau tahu nama mereka?!” ibu Alex semakin kacau benar benar tidak tahu apa yang sedang terjadi di sini.
“Aku yang memberi nama mereka ketika Ariane bilang laki laki kembar” lirih Alex menjelaskan.
“Apa katamu?!” Sir Aura mendaratkan tamparannya di pipi anaknya.
“Jadi kau... Luke dan Lucas...?” suara tergagap akibat tangis Sir Aura yang semakin menjadi. Dirinya benar benar hancur.
“Maaf ibu, saya pasti bertanggung jawab” Alex berlutut dan meyakinkan ucapannya barusan.
Terdengar langkah kaki menaiki tangga menara.
“Cepat bawa mereka” ibu Alex menunjuk dua bayi yang dibedong kain sutera.
Tak pikir panjang Alex menggendong bayi bertudung kuning terlebih dahulu dan keluar menara lewat jendela. Sir Aura tak tinggal diam menyembunyikan bayi dengan tudung hijau di balik peti duduk berselimutkan selendang.
“Na’s Ariane, Na’s Adras ingin menemuimu” dari balik pintu terdengar suara. Hal itu tak diindahkan Sir Aura.
Di sisi lain, Adras curiga. Dirinya memerintahkan untuk mendobrak pintu di depannya ini.
BRAK!
“Apa yang terjadi di sini?!” murka Adras selepas pintu berhasil terbuka dan menampakan Sir Aura tengah menata selimut tempat Ariane tertidur untuk selama lamanya. Adras langsung menghampiri putri yang dirindukannya.
“Hukum saya, Na’s Adras” seketika itu, Sir Aura berlutut.
“Jelaskan! Sejelas jelasnya!!” tegas Adras memerintah.
“Hukum saya, Na’s Adras” Sir Aura menunduk dan bercakap lirih.
“Kau!...” kalimat Adras terpotong oleh suara tangisan bayi. Dicarinya asal suara itu dan menemukan hal tidak terduga di sana.
“Hukum saya, Na’s Adras” berkali kali berucap, hanya kalimat yang sama dari mulut Sir Aura.
Pandangan Adras hanya fokus pada satu hal. Digendongnya bayi bertudung hijau itu dan di bawanya keluar dari menara tanpa mengucap sepatah kata pun.
Langkah demi langkah serasa berat bagi Adras. Kini matanya menatap lurus ke depan mengarah pada jurang bukit belakang rumahnya. Kakinya terhenti di ujung tanah. Dilihatnya lagi bayi kecil di dekapan. Sudut bibir Adras terangkat membuat lengkungan indah yang sama dengan si bayi yang kini tengah tersenyum.
540Please respect copyright.PENANAPoPumjccVE
540Please respect copyright.PENANAO8R6r4DWbi
540Please respect copyright.PENANAMGJ4RJIuid
540Please respect copyright.PENANA01d1Gb8Ku0
540Please respect copyright.PENANAxckUE0RTk3
540Please respect copyright.PENANAWtz6vUh0z1
540Please respect copyright.PENANAi4QW4lg1nj
540Please respect copyright.PENANAfkaVmWGAUB
540Please respect copyright.PENANA6m2wtb3qBl
540Please respect copyright.PENANAolnoF3vYOE
540Please respect copyright.PENANAiGfiZmoHNZ
540Please respect copyright.PENANAi2rflCeyDY
540Please respect copyright.PENANAyAyFid1Tw5
540Please respect copyright.PENANAo1FwHTaTDe
540Please respect copyright.PENANALKUlABbWXx
540Please respect copyright.PENANAW7YZjApl1X
540Please respect copyright.PENANAWWABK7CNQy
540Please respect copyright.PENANAmhxmWIZPT7
540Please respect copyright.PENANApMDd3jMFRt
540Please respect copyright.PENANAhIEBHc7dfW
540Please respect copyright.PENANAiOPTz0lQYk
540Please respect copyright.PENANAnhkkfyK8YK
540Please respect copyright.PENANAxhL0e26T2E
540Please respect copyright.PENANAz3nXgzecQQ
540Please respect copyright.PENANA1NOgy4cNPV
540Please respect copyright.PENANAWwLgvlfnIU
540Please respect copyright.PENANA7NdkQt9p1v
540Please respect copyright.PENANAXn4Zp0li41
540Please respect copyright.PENANA8YieA9FDej
540Please respect copyright.PENANArYGItHhfPR
540Please respect copyright.PENANAb0stDksljS
540Please respect copyright.PENANAuaBfKMDnL3
540Please respect copyright.PENANAIoSUB49Nu6
540Please respect copyright.PENANAvG4vAprxMI
540Please respect copyright.PENANAjDy9GrcRry
540Please respect copyright.PENANAnAwV4ErAPx
540Please respect copyright.PENANAOzXW8OPv5C
540Please respect copyright.PENANAYfSGVsbKl8
540Please respect copyright.PENANAudWwui1riM
540Please respect copyright.PENANAic3naalDif
540Please respect copyright.PENANAdpxVUt7YR1
540Please respect copyright.PENANAxX0jtGghUB
540Please respect copyright.PENANAqjQy94FTZB
540Please respect copyright.PENANA6yS0tffyDv
540Please respect copyright.PENANAerW8ncX1PZ
540Please respect copyright.PENANAfpJPOFAui8
540Please respect copyright.PENANAHG9xo5yQxe
540Please respect copyright.PENANAstGsfNeZkO
540Please respect copyright.PENANA4FLhZYx3rE
540Please respect copyright.PENANAjJ5AZLAsji
540Please respect copyright.PENANARkTDuvdaJO
540Please respect copyright.PENANAhKMlBwHAjz
540Please respect copyright.PENANASiiE1Q3cd4
540Please respect copyright.PENANA5G50g1O0mE
540Please respect copyright.PENANA6Xaqv0ezyR
540Please respect copyright.PENANAMp4IQjrpf6
540Please respect copyright.PENANA0Z4otkLrbG
540Please respect copyright.PENANAZ2KdhnVPlK
540Please respect copyright.PENANAdJs82E3HhB
540Please respect copyright.PENANA8Io5OkLPKk
540Please respect copyright.PENANAlIzjYdMP31
540Please respect copyright.PENANAZ57z0Gjgu3
540Please respect copyright.PENANASDih2VMYca
540Please respect copyright.PENANAvHGSWRf9xC
540Please respect copyright.PENANAXP7McOQYse
540Please respect copyright.PENANAmtn0SaYCiF
540Please respect copyright.PENANAvX0MvPJV5b
540Please respect copyright.PENANAC33APOYsQC
540Please respect copyright.PENANAfrsLVvVm6E
540Please respect copyright.PENANAUXOueFU8K5
540Please respect copyright.PENANAByfseDe75B
540Please respect copyright.PENANAeEkNHFtUMm
540Please respect copyright.PENANAMMF7wnfNIY
540Please respect copyright.PENANApbyRFxtQRu
540Please respect copyright.PENANAdfkK25Fuk9
540Please respect copyright.PENANAdFTmvNNiON
540Please respect copyright.PENANACHJI66ptdT
540Please respect copyright.PENANAkmv1RTn7Iw
“Jika kau nanti membunuhku, itu sudah takdirku.”
ns216.73.216.38da2

