Sehabis bermain layang - layang disekitar lapangan bersama anak kampung N ditempat kelahiran. Dia segera pulang melewati jalan setapak dipinggir sawah, tubuh penuh peluh dan bau apek sehabis bermain. Tidak lupa bibir mungil tengah bersenandung lagu yang lagi viral ditiktok Mama Muda.
Tapi memang dasarnya Tari itu gadis Ajaib dengan tingkah petakilan seenak udel, dia lebih suka lirik lagu nya dari pada lirik lagu yang sudah dibuat oleh pencipta lagu itu sendiri. Sedangkan lirik lagu yang dia ubah sendiri menjadi Papa Muda.
"Aku lagi cari Papa Papa Muda buat nerima uang sejuta,_ nananana. (Body Papa Muda _, Papa Muda _ enak-enak terus). Aku suka body goyang Papa Muda,_ Papa Muda,_ (terereret ) Body Papa Muda,(terereret) _, Papa Muda, enak - enak terus.." Kepala geleng - geleng, angguk - angguk menikmati musik dj aku lagi cari mama muda.
Warga yang sedang bertani ditanah lahan mereka ketika melihat Tari hanya bisa geleng-geleng kepala. Sudah paham akan tingkah dari Anak dari mantan Almarhum Pak kadesnya itu. Selama masa kepemimpinan Almarhum Pak Akbar semasa hidupnya, Pak Akbar adalah orang yang jujur, sabar, dermawan, pemimpin yang bijak sana dan tidak memilih-milih pihak manapun. Namun, ketika kepemimpinan masih saja ada orang yang tidak menyukainya dan naas. Pak Akbar dibunuh ditempat dan orang yang membunuh mendekam dipenjara. Sedangkan Tari kecil yang tidak tahu apa-apa hanya bisa menangis melihat Ayahnya sudah terbaring kaku terlelap tidur tersenyum. Syukur alhamdulillah, berkat Bundanya dan kedua anak Bu Halimah, Dika dan Sari. Sekarang Tari sudah ceria dan tidak bersedih lagi. Yang bikin heran tingkah petakilan seenak udel membuat orang yang melihat geleng-geleng kepala.
Jalan besar terlihat. Ponsel dan handset segera ia matikan, memasukan kedalam ransel kecil. Mencari kendaraan yang lewat.
"Sepi amat nih kampung." Ditengok kanan - kiri mencari tukang ojek yang lewat.
Menunggu, setengah jam menunggu. Dari kejauhan ada kendaraan yang lewat ya walau bukan motor tukang ojek, lebih baik dimaanfaatkan yang ada.
Breeem breeem breeeeeem
Suara motor terdengar. Tari tengah melambai - lambai dipinggir jalan meminta supaya motor itu untuk berhenti. Motor itu seketika menghampiri Tari, tapi tidak melepaskan hlem nya.
"Bang - Bang bisa antarin Tari ke jalan jeruk madu sebelah pos ronda dan rumah KPM, nanti Tari bayar. Mau apa gak? Mau ya please.. Soalnya dari tadi Tari nunggu tukang ojek gak lewat - lewat nih. Mana hari sudah mau sore lagi. Abang mau ya?" Rayu Tari dengan lagak wajah yang mau nangis, apa lagi baju dan penampilan terlihat kucel berantakan dimana - mana. Padahal itu semua hanya acting semata. Dan jalan yang disebutkan itu sebenarnya jalan dan rumah dimana kantor polisi lagi bertugas dan sementara tinggal disitu.
Pengendara motor tanpa banyak pikir mengangguk, meng-iyakan tawaran dari gadis didepan yang meminta diantarkan pulang.
Tari segera ancang - ancang naik ke atas jok belakang. Pasalnya jok belakang terlihat lumayan sempit. Soalnya itu motor sport. Setelah Tari sudah menyusaikan duduknya ia berpegangan pada jaket belakang yang dikenakan pengendara itu,
Breeem breeeeeeeeeem
Motor melaju cepat, Tari sedikit takut. Langsung memeluk pengendara didepan tanpa rasa malu. 'Maaf Bang Tari peluk ini demi keselamatan Tari sendiri.' Senyum jahil.
Motor melaju melewati jalan raya dengan pohon - pohon beringin yang kata orang angker banyak penunggunya suka jahil, membuat kecelakaan. Laju membawa harum dari arah depan, bau badan orang yang tengah Tari peluk demi keselamatan. Dari kejauhan terlihat dua tugus bertuliskan selamat datang, motor langsung melaju pelan. Lurus, memasuki jalan jeruk madu. Motor berhenti tepat disamping pos ronda. Di pos ronda ada beberapa polisi yang berjaga yang sedang bertugas.
Tari melihat sudah sampai jalan yang sudah disebutkan tadi segera turun, polisi yang bertugas melihat kearah mereka dan salah satunya menghampiri. Karena dia kenal gadis yang dibonceng itu.
"Selamat siang." Ucap salam petugas.
"Selamat siang, Pak." Jawabnya.
"Mohon maaf, ini ada apa ya?." Melihat keadaan Tari yang badan nya kucel dimana - mana. Takutnya kenapa - kenapa sebab itu dia bertanya. Siapa tahu bisa diusut.
"Oh tidak terjadi apa - apa Pak. Ini saya hanya mengantarkan Adik ini yang katanya minta diantarkan ke jalan jeruk madu ini. Tadi saya nemu dijalan Pak seperti anak hilang, hampir menangis gitu Pak." Jelasnya, menjelaskan yang sebenarnya dan menambah beberapa kata sedikit.
Tari yang mendengar kok gak senang ya? Apa itu anak hilang. Dia kira Tari gak tau apa maksud babang satu ini.
"Gak kok Bang Polisi. Tadi tuh Tari cuman minta antar sama Abang2 ini, Tari kira tukang ojek, kan biasa Abang tukang ojek bajunya lengkap tuh item2. Ya udah Tari ajuin gitu ke jalan jeruk madu, eh sama abang nya dianterin." Sewot Tari segera meraih tas ransel dan mengambil uang tunai 10 ribu. "Nih bang uang ojek nya. 10rbu, biasa juga gitu bang. Makasih ya bang." Tari langsung berlari pergi tanpa rasa bersalah.
Pria berjaket hitam lengkap helm belum dilepas hanya bisa menggeleng - geleng kepala, memikirkan apa yang dipikirkan dengan senyum tersembunyi.
Mana ada tukang ojek cakep terus ngojeknya pakai motor sport balap gitu. Mikir dong Tari. Ya Allah. Elus - elus dada bidang.
"Masya Allah. Tari - tari, gak sopan bener sama orang yang lebih tua." Ucap Pak Polisi, mengelus dada bidang nya. "Maaf ya mas, atas kelakuan Adik keponakan saya itu." Lanjutnya kepada pria berjas hitam.
"Tidak apa-apa Pak polisi. Kalau begitu saya tinggal dulu." Berjabat tangan dengan Pak polisi. Dan bergegas naik motor sport nya, melaju lurus melewati jalan jeruk madu.
Belokan kedua Tari sampai rumah. Perkarangan yang luas tertata rapi bunga - bunga yang Bunda dan Abang nya tanam, tapi sejak Abang nya lanjut Kuliah dia dan Bundanyalah yang merawat.
Tari Syahputri Akbalimah. Yang artinya Tari anak sah dari Akbar dan Halimah. Usia 18 tahun, 3 SMA. Yang sebentar lagi akan lulus. Horeee..1919Please respect copyright.PENANAoLeJcfUnl7
1919Please respect copyright.PENANAPfgTh5LzFJ
Anak ke tiga dari tiga bersaudara. Abang Dika yang pertama dan Mbak Sari yang kedua. Ayah Tari sudah lama meninggal dunia (Innalillahi wa innalillahi rojiun), dibunuh oleh teman Ayahnya sendiri dan di penjara. Bunda (Alhamdulillah) masih sehat walafiat dan masih cantik seperti usia 35 tahun.
Sari yang sedang menyiram bunga melihat Adiknya Tari. "Masya Allah, dek itu kamu habis ngapain? Kok kucel banget, kek gak mandi setahun gitu. Ish ish - ishh_ jorok." Semprot Sari menutup hidung pura - pura bau.
Tari yang melihat tingkah Mbak nya hanya bisa menghela nafas. "Mbak Sar tuh, kebiasaan. Kan udah tau Tari kemana kalau sudah begini?" Katanya membenarkan diri.
Melangkah ingin masuk ke rumah tapi,
"Eitss, siapa suruh masuk lewat depan?" Kata Sari menarik baju Tari.
"Ya ampyuuun mbak Sari, memang kenapa toh mbak? Biasa juga gitu Kan." Katanya menghadap ke arah Sari.
"Iya mbak Sari tau. Tapi coba lihat dulu itu kaki nya. Ayo dicek dulu." Jelasnya. Menunjuk kaki Tari yang kotor oleh debu dan lumpur kering.
Tari segera melihat ke arah kaki nya. Dan benar saja, disitu kaki nya terlihat kotor. "Heeheheheee,," Tari hanya bisa tertawa, senyum.
"Nah, sekarang cuci dulu itu kaki baru masuk ke dalam rumah. Ade nya mbak Sari udah paham?" Mengingatkan Tari.
Tari hanya mengangguk - angguk.
Tari segera mencuci kedua kaki ditempat yang memang sudah disiapkan untuk cuci tangan dan kaki, berada disamping rumah. Setelah bersih Tari segera melangkah masuk kedalam rumah. Tapi ketika Tari masuk kok rumah nya terasa berbeda ya?
"Mbak Sar!" Teriak Tari.
Mendengar teriakan Tari, Sari hanya bisa geleng-geleng kepala. Punya adek kok mulut nya kek toa berjalan ya. "Iya Dek, kenapa?" Jawabnya. Menaruh selang dan menutup keran air. Berjalan menuju rumah.
"Memang dirumah mau ada acara apaan? Kok hawanya beda gini ya, biasa juga gak tuh." Katanya bertanya.
Sari hanya bisa geleng-geleng. "Hawa? Memang nya nih rumah berhantu apa?"
"Ya gak sih. Tapi beda gitu. Memang mo ada acara apa nih? Mana bau masakan harum pula." Hidung nya mengendus-endus bau masakan dari arah dapur.
Melihat tingkah dan sifat adek nya yang membuat Sari merasa gemes sendiri, rasanya mau nyubit. "Makanya toh dek dirumah kalau habis pulang sekolah, jangan kelayapan mulu. Apa lagi main sama anak kecil, udah besar juga. Syukur - syukur main sama anak seusia mu, lah ini mainnya sama bocil mulu gitu terus mainan layang - layang pula." Omel Sari.
Mendengar omelan Mbak nya, Tari segera nutup kedua telinga pakai telapak tangan dimasing-masing telinga. "Iih, mbak Sar jangan ngomel mulu dong. Entar cepet tua." Adu Tari mendumel.
Sari menghela nafas. "Di nasehatin ini kok malah ngeyel.".
"Habis nya kan mbak Sar ngomel mulu."
Sari beristigfar dalam hati. 'Astagfirullah, punya ade kok kek gini. '
Tari melet.
Sari melihat Tari geleng kepala.1919Please respect copyright.PENANA5le2zrfBJC
1919Please respect copyright.PENANA58jFsLtUGE
"Lah memang masakan Bunda gak harum dan enak gitu?" Mengalihkan pembicaraan.
"Yee, ya gak gitu dong Mbak. Ini tuh beda." Wajah cemberut.
"Bedanya?" Tanya Sari, penasaran.
Wajah cemberut Tari semakin ditekuk. "Ini mbak Tari mau ngalihin pembicaraan yang tadi ya?" Katanya. Menaruh kedua tangan disisi kanan kiri pinggang.
Sari melihat itu tertawa. "Hahahahha, tau aja nih Adek nya Mbak."
"Tau lah. Kan Tari dah tau mbak Sar itu gimana. Ayo dong mbak jawab, dirumah mau ada apa? Acara apa?." Katanya memegangi lengan tangan kiri Sari, dengan mata poppy eyes nya.
Sari diam. Merapatkan ke sisi kanan bahu Tari, berbisik pelan. "Bunda bilang akan ada yang datang untuk melamar." Menyudahi. Tersenyum.
Tari yang denger syok. "Eh, mbak Sar mau dilamar?" Tari tersenyum. "Selamat ya mbak Sar, ya ampun bentar lagi mbak Sar bakalan nikah dong. Iihh, Tari gak sabar Mbak." Senyum Tari memeluk Sari, dan melepaskan pelukan tersenyum.
"Gak sabar apa dek?" Tanya Sari, penasaran dengan senyum tersembunyi.
"Heehehee_ penasaran sama calon Abang Ipar dong." Tawanya. Muwehehehehe..
"Kok serem ya dek." Melihat Adek nya yang senyum aneh gitu.
Tari langsung berlari kedalam rumah manggil -manggil sang Bunda yang berada didapur.
Sari hanya bisa geleng-geleng kepala. Ya Allah, itu adek ku gemesin banget. Sari melangkah masuk kedalam rumah menyusul Tari yang sudah otw didapur.
***1919Please respect copyright.PENANAI2jgVnfimk
1919Please respect copyright.PENANAEAczMqOzs5
1919Please respect copyright.PENANAMmFW4LGiK2
1919Please respect copyright.PENANAKTAo2qrkbQ
1919Please respect copyright.PENANA8dkVdpfVq7
Sore berganti malam.
Setelah sholat magrib Tari bergegas menuju dapur tapi dihentikan oleh mbak Sari. "Dek."
"Ada apa mbak Sar?" Berhenti tepat disamping Sari yang membawa teh hangat, kopi hangat dan cemilan.
"Ini kamu bawa ke ruang tamu, Ibu suruh Ade yang antar." Menyerahkan nampan kepada Tari.
Tari tanpa tanya langsung mengambil dan membawa nampan ke ruang tamu. Disitu sudah banyak orang, Ibu, abang, pasangan suami istri, anak lelakinya dan anak kecil dalam gendongan pria paru baya. Mungkin mau melamar mbak Sari nih.
Tari segera menaruh nampan diatas meja, ketika Tari akan beranjak kebelakang lagi Abang menyuruh untuk duduk disampingnya.
"Jadi ini yang namanya Nak Tari ya?" Kata Pria paruh baya yang usia nya mungkin lebih dari Ibunya, menurut Tari keturunan Arab.
"Benar Pak. Ini Adik saya yang paling terakhir." Jelas Dika kepada Pria keturunan Arab itu.
"Jadi keputusan Nak Tari bagaimana?" Tanya Pria paruh baya itu.
Tapi cengok, bingung mau tanggapi apa?1919Please respect copyright.PENANAlnDBx9BbiK
1919Please respect copyright.PENANAUfQBJrofgk
"Maksudnya Bapak apa ya? Kok saya kurang paham. Memang keputusan apa ya Bang?" Kata Tari melihat kearah Abang dan Ibunya.
Mendengar itu seluruh orang yang diruang keluarga diam. Ibu tersenyum ngangguk mengkode Anak pertamanya.
"Jadi, Adek sekarang tengah dilamar sama keluarga Pak Abdullah Hasyim." Terang Dika, menjelaskan maksud tertentu.
Mendengar kata DILAMAR, membuat Tari syok. "Loh, Tari kira yang mau dilamar itu mbak Sari?" Ceplos Tari.
Sari yang mendengar sedikit tertawa. "Yey, yang disuka tuh Ade kok malah mbak." Sahut Sari. Supaya tidak ada salah paham.
"Tapikan."
"Adek denger Bunda ya." Kata Halimah, Bunda ketiga anaknya Dika, Sari dan Tari.1919Please respect copyright.PENANAZrjmQb32sh
1919Please respect copyright.PENANAMpfqRieNCZ
Tari mengangguk. "Mbak Sari sudah ada calon dan bulan 9 sudah mau nikah. Jadi, sekarang giliran Adek yang akan dilamar. Alhamdulillah, Bunda bersyukur kedua anak Bunda mau menikah. Apa lagi perempuan semua." Senyum cerah Bunda.
"Terus Abang?" Tunjuk Tari.
"Kalau itu tenang saja." Kata Dika tersenyum. "Nah, sekarang Gimana Dek?" Tanya Dika kepada Tari.
"Tapi Tarikan gak kenal dia bang." Melihat kearah pria dewasa yang berpakaian kemeja hitam. 'Mana terlihat seperti Om-om lagi. Kalau perkiraan ku sih setidaknya usianya diatas Abangnya sekitar 33 tahun mungkin.'
"Maaf sebelumnya, saya belum memperkenalkan diri kepada Dek Tari. Nama saya Ahmad Syahwal Hasyim panggil saja Abang Ash, anak kedua dari Abi Abdullah Hasyim dan Ummi Fatimah Carlifah Hasyim. Saya kesini bersama kedua orang Tua ingin melamar Dek Tari untuk menjadi Istri saya dan menjadi Bunda untuk anak saya. Dan maaf mungkin ini terdengar tidak biasa. Status saya adalah Duda anak satu." Menengok melihat kearah anak kecil yang digendong dengan arah wajah kepala kebelakang. "Dia anak saya. Namanya Marsel As Hasyim, Bunda nya sudah lama meninggal Dunia sejak Marsel kecil berusia 2 tahun." Ucapnya menjelaskan.
Tari masih terdiam menanti sebuah kata lebih.
"Alhamdulillah, untuk hidup bersama saya jika soal dana tidak usah dipikirkan. Reseki dan semua milik Allah. Jika kita berusaha mendapatkan dijalan yang benar pasti Allah akan melibatkannya. Untuk Dek Tari. Saya bersungguh-sungguh ingin melamar Dek Tari, membawa Dek Tari kedalam ikatan yang suci dan Sah. Menjadikan wanita teristimewa dihati saya dan Bunda buat Anak saya, Marsel. Apakah Dek Tari bersedia menerima lamaran dan pinangan dari saya?" Kata tulus yang terucap dari bibir tegas Ash. Mengokohkan kalimat yang diungkapkan untuk melamar Tari, perempuan disamping Dika. Perempuan yang mampu membuat dia terpikat.
Mendengar kalimat panjang lebar Tari hanya ngamgguk - ngangguk berfikir yang gak - gak.
"Alhamdulillah." Ucap serempak semuanya.
Sari yang mengetahui bahwa sebenarnya Tari masih melamun ngekode si Abang.
"Syuut, Bang." Ucapnya pelan ke arah Dika. Tapi karena Dika tidak dengar, sibuk berucap hamdalah Sari teracuhkan.
"Masya Allah, Dek. Makasih ya, Bunda seneng banget." Peluk Halimah.
Tari yang baru kembali dari pemikiran gak-enggak nya kaget.
"Emang ada apa Bun?" Katanya. Melihat sekeliling. Orang - orang pada tersenyum bahagia ke arahnya.
"Bukan apa - apa dek. Bunda hanya bahagia." Senyum diwajah Halimah, menghipnotis Tari ikut memeluk. "Iya Bund, Tari ikut bahagia."
"Jadi, mau langsung menentukan tanggal pernikahan atau mau perkenalan dulu sebelum pernikahan?" Kata Abdullah Hasyim bertanya kepada Ash.
"Lebih bagus melewati mass," jawab Ash terpotong oleh perkataan Tari.
"Loh Bund, memang siapa yang mau Nikah?" Katanya. Menengahi pembicaraan. Semua orang yang berada diruang keluarga terdiam.
Halimah melihat Tari dengan alis ditekuk. "Ya jelas, kamu lah Nak, terus siapa lagi kalau bukan kamu." Jelas Halimah masih bingung dengan anak terakhirnya.
"Tapikan Tari belum berkata 'Iya'. Kok langsung - langsung iya - Iya aja tanpa kepastian Tari." Jelas nya gak terima. Ya jelas lah, kan dia belum ngejawab.
Seluruh orang diruangan terdiam. Terutama Abang Dika.
"Tapi dek." Kata Dika.
"Apaan Bang." Jawab nya malas. Mengabaikan perkataan Dika. Cuek bebek.
"Bukannya tadi sewaktu Nak Ash menjelaskan maksud dan tujuan, Tari ngangguk. Kalau ngangguk berarti 'IYA' dong." Jelas Halimah.
Tari melihat ke arah Bunda nya. Berfikir sejenak. "Ooh, yang itu. Tari masih mikir Bund. Tari ngangguk -angguk karna Tari masih mikir. Bulan nge-Iyain." Membetulkan perkataan sang Bunda.
Mendengar itu Halimah kecewa, Dika syok mendengar kata Adek nya, Sari biasa saja karena tau sifat ade nya selalu bulet dalam kata - kata tinggal jawab 'IYA' saja apa susahnya. Sedangkan Fatimah mengelus punggung tangan suaminya, Ash terdiam, dan Abdullah menghela nafas.
"Jadi, Nak Tari menolak lamaran anak Bapak?" Katanya tegas.
Tari segera mengalihkan tatapan kearah Pak Abdullah. "Ya bukan gitu Om." Ungkap nya. "Nih kan Tari belum kenal sama Anak Om yang entu." Tunjuk Tari. "Jadi, Tari maunya perkenalan dulu. Eh, apa tuh namanya Ta,? Taauf? Paan Bang namanya?" Tanya Tari ke Dika.
"Ta'aruf dek."
"Nah, itu bener. Gitu Om." Katanya..1919Please respect copyright.PENANAFEpCuPaHHo
1919Please respect copyright.PENANAqUUscfbDQI
Mendengar kejelasan Tari membuat gelak tawa pecah.
"Iih, kok Bunda ikut ketawa sih." Tuduhnya. Cemberut.
"Ya ampun Dek, itu tadi Nak Ash mau menjelaskan loh."
"Memang mau njelasin apa?"
"Tapi sebelum dijawab. Lamaran dari Ash diterima gak nih Dek?" Aju Dika.
"Uhm,"
"Yang pastinya diterima tuh." Sahut Sari.
Semua orang melihat ke arah Tari, meminta jawaban. Tari yang mendapatkan tatapan dari semua hanya bisa ngangguk.
"Alhamdulillah," Ucap semuanya.
"Jadi nih, beneran diterima kan dek?" Kata Dika. "Jangan sampai seperti tadi." Lanjutnya.
"Ya iyalah Bang. Memang Tari harus gimana lagi."
Senyum terbit disetiap wajah. Malam ini seluruh keluarga Abi Abdullah dan Keluarga Almarhum Pak Akbar berbahagia, melepaskan penat menikmati hidangan jamuan yang sudah dimasak dan disediakan oleh Bunda Halimah sebagai juru masak, Sari menyediakan minuman, Dika menyiapkan ruang, dan Tari hanya bisa nyicipin ini itu. Aduh, kebiasaan anak bungsu yang belum bisa apa - apa. Bisanya keluyuran main layang - layang, mancing atau bermain sama Bocil.
Perjalanan yang masih panjang. Masa - masa pengenalan/ Ta'aruf.
Ash dan Tari1919Please respect copyright.PENANATGuKMw5r4c
1919Please respect copyright.PENANA4cT93V5Bk2
ASTARI1919Please respect copyright.PENANApqNBr9cI3Z
1919Please respect copyright.PENANAh4xlRR2tvg
1919Please respect copyright.PENANA4moobavldH
1919Please respect copyright.PENANAG4Abre5COX
1919Please respect copyright.PENANAYydHOQWE65
***1919Please respect copyright.PENANAOWEdx4jbVH
1919Please respect copyright.PENANA43LAxZCdbj
1919Please respect copyright.PENANAIeXhILFr1I
1919Please respect copyright.PENANAGtVrPQQVKM
1919Please respect copyright.PENANAKZ8c2MIhoU
DIBACA DARI AWAL, SEBELUM TAMAT DAN DI HAPUS.
Perjalanan yang masih panjang buat Abang Ash dan Tari. Perjalanan yang seperti apa nantinya? Jangan bosan - bosan sama ASTARI.
1919Please respect copyright.PENANA8NPUXgtLyO
1919Please respect copyright.PENANAMtd6mNYzlo
1919Please respect copyright.PENANAw9OweMrSL7
1919Please respect copyright.PENANAavxemdd3zX
1919Please respect copyright.PENANAaUdP7HjHN8
1919Please respect copyright.PENANA9ndsRWcyZw
1919Please respect copyright.PENANAhRaaj96aZK
1919Please respect copyright.PENANAhYD7Bce8TA
1919Please respect copyright.PENANAboMZg36yzd
1919Please respect copyright.PENANAHXFMe8kUrM
1919Please respect copyright.PENANABYpZWu4YLw
1919Please respect copyright.PENANA5Zn2UJcZGy
1919Please respect copyright.PENANA0GgZ0syHrw
1919Please respect copyright.PENANAsK5nUMBUec
1919Please respect copyright.PENANADQ2hfsJ9nn
1919Please respect copyright.PENANAaUNgKeUjX0
1919Please respect copyright.PENANArrCmIADtFr
1919Please respect copyright.PENANAUU0r3SsejJ
1919Please respect copyright.PENANAkkoGrQarz0
1919Please respect copyright.PENANAiF2hiuSrhG
1919Please respect copyright.PENANAwWTSj0hhr9
1919Please respect copyright.PENANAnmzcsglrHb
1919Please respect copyright.PENANAwtQtgkd4ow
1919Please respect copyright.PENANAqluMftZ57S
1919Please respect copyright.PENANAv26tNPMeOo
1919Please respect copyright.PENANAzghvMaLQ35
1919Please respect copyright.PENANAmEOu64CJrm
1919Please respect copyright.PENANA8vjcmctC6J
1919Please respect copyright.PENANAa80FVQQEmZ
1919Please respect copyright.PENANAPgCBjfP0Zq
1919Please respect copyright.PENANAe8etSXC6Aa
1919Please respect copyright.PENANAKupBxplr68
1919Please respect copyright.PENANAHA10VhVFHE
1919Please respect copyright.PENANAwraRFMUTFf
1919Please respect copyright.PENANAMZIzIWRkSy
1919Please respect copyright.PENANAKjWNHvvYLY
1919Please respect copyright.PENANA5U28behGTf
1919Please respect copyright.PENANAgS4E1v7zz0
1919Please respect copyright.PENANAaU7AVdIEhr
1919Please respect copyright.PENANAMrCTrJA5E0
1919Please respect copyright.PENANAxD8nMbNVJs
1919Please respect copyright.PENANAT9OPRXYRjE
1919Please respect copyright.PENANATBYZbW4wpK
1919Please respect copyright.PENANAbNa5D2X5qe
1919Please respect copyright.PENANAZp0nxdPaMb
1919Please respect copyright.PENANAT4q0htWgKU
1919Please respect copyright.PENANA92VwVtMNzf
1919Please respect copyright.PENANAGnwzbPRhfM
1919Please respect copyright.PENANAbVWQDz6SHU
1919Please respect copyright.PENANA1AEBdgT59B
1919Please respect copyright.PENANAvM22Yy39Db
1919Please respect copyright.PENANAKuu9U5XkQM
1919Please respect copyright.PENANATKmvt7bNPr
1919Please respect copyright.PENANAuKBu5UTEtt
1919Please respect copyright.PENANAQUHbgQIyVn
1919Please respect copyright.PENANAQ8nAdfHEHF
1919Please respect copyright.PENANAantpl2oWK5
1919Please respect copyright.PENANAe1fmUmbTM8
1919Please respect copyright.PENANAWbWyPu30Ie
1919Please respect copyright.PENANA5QzFFzcf6i
1919Please respect copyright.PENANAskRootyvfB
1919Please respect copyright.PENANA9FXvIuVxHk
1919Please respect copyright.PENANAEXZm59gVjN
1919Please respect copyright.PENANA5QzOpC5Tyr
1919Please respect copyright.PENANAQLOIt5H2C5
1919Please respect copyright.PENANAPsl60Jty7V
1919Please respect copyright.PENANAO1P7UIwrGS
1919Please respect copyright.PENANAvd58J08atM
1919Please respect copyright.PENANAQngzPzkPvJ
1919Please respect copyright.PENANA03Pe6a0BC9
1919Please respect copyright.PENANAp2ZY7Kg4kU
1919Please respect copyright.PENANA7SzL180aWG
1919Please respect copyright.PENANAfLlsGJG9v3
1919Please respect copyright.PENANAxogDObXgRF
1919Please respect copyright.PENANAP9Kjy07MOs
1919Please respect copyright.PENANASfnDwr2N6u
1919Please respect copyright.PENANAGtQa7ya6rZ
1919Please respect copyright.PENANA5VjXyOXNpg
1919Please respect copyright.PENANAQ4UXijUHtE
1919Please respect copyright.PENANAmevLEiZiEB
1919Please respect copyright.PENANAsN3BINJjdy
1919Please respect copyright.PENANARsiq6sQc7c
1919Please respect copyright.PENANAV9Cn9fsWgO
1919Please respect copyright.PENANA2Ow1oBGsq1
1919Please respect copyright.PENANAilNSCa2Fcl
1919Please respect copyright.PENANAOIvI6TNA41
1919Please respect copyright.PENANAOvLLBFPdFr
1919Please respect copyright.PENANAtqyvJkQ4zs
1919Please respect copyright.PENANARMHiDOtvxH
1919Please respect copyright.PENANAhw5QjB2UA5
1919Please respect copyright.PENANABn02jzVXT2
1919Please respect copyright.PENANAAJSIg3ORcl
1919Please respect copyright.PENANAlKBWPvHyNG
1919Please respect copyright.PENANAXiiYgveGgh
1919Please respect copyright.PENANAZSRcYZOpQN
1919Please respect copyright.PENANAKfevVrGMKG
1919Please respect copyright.PENANAWR8zjH0ZrK
1919Please respect copyright.PENANA95E9xAUaCW
1919Please respect copyright.PENANA7ToW5IeKrG
1919Please respect copyright.PENANAcccXhnMcXQ
1919Please respect copyright.PENANAJDq7Q2Krtw
1919Please respect copyright.PENANAqYFZgtuuRw
1919Please respect copyright.PENANABeey95i3uv
1919Please respect copyright.PENANAvkqy91ysap
1919Please respect copyright.PENANAVbt0tfKBQZ
1919Please respect copyright.PENANAdVwE8ymaZd
1919Please respect copyright.PENANAxHb2YIEILY
1919Please respect copyright.PENANAYtJmTAGrH6
1919Please respect copyright.PENANAtTnLcwypWu
1919Please respect copyright.PENANAsjf6t3ikJc
1919Please respect copyright.PENANAc99fS2aIdx
1919Please respect copyright.PENANAVSBvZ6Zeji
1919Please respect copyright.PENANAYjQ8yhnris
1919Please respect copyright.PENANAc5ltxVFWe7
1919Please respect copyright.PENANAs2VRbNy95s
1919Please respect copyright.PENANAArxFe7uCZF
1919Please respect copyright.PENANAm56g8rrCGO
1919Please respect copyright.PENANAZhVTRLMOmp
1919Please respect copyright.PENANAsWie0DzBQE
1919Please respect copyright.PENANASXBhUMRjkO
1919Please respect copyright.PENANAA8VBrvDHAJ
1919Please respect copyright.PENANAhAjeNvr1UQ
CERITA up:1919Please respect copyright.PENANAG4kZiglnSZ
1919Please respect copyright.PENANA35xuNIDzcO
Wattpad, KBM, dan Webnovel1919Please respect copyright.PENANAEdhYxCTtDD
1919Please respect copyright.PENANAJry6Xd7zHS
Wp: Ulliiyy_ponwpomw1919Please respect copyright.PENANAWrY2gHgoe1
1919Please respect copyright.PENANA9gTwLfO0Lz
KBM: Ulliiyyarianiycravo 1919Please respect copyright.PENANAu9c60J4Qhk
1919Please respect copyright.PENANAKmKhpEFRTU
Webnovel: Ulliiyy_ponwpomw24


