/story/75418/melody-night-the-beginning/toc
Melody Night: The Beginning | Penana
arrow_back
Melody Night: The Beginning
more_vert share bookmark_border file_download
info_outline
format_color_text
toc
exposure_plus_1
Search stories, writers or societies
Continue ReadingClear All
What Others Are ReadingRefresh
X
Never miss what's happening on Penana!
PG
Melody Night: The Beginning
Ratu Dafina Shafa
Intro Table of Contents Comments (0)

Prolog:

 Mahardika Ezra atau akrab dipanggil Ezra, sedang tergesah-gesah berlarian menuju kampusnya. Ezra adalah mahasiswa semester pertama jurusan arsitektur dan lingkungan, yang memiliki sifat pantang menyerah dan berkemauan keras tapi juga yang suka bercanda. Ezra adalah anak yatim piantu, orang tuanya sudah meninggal sejak ia masih bayi. Ezra tinggal dan diasuh oleh kakek dan nenek nya sejak masih bayi. Tapi walaupun tidak memiliki orang tua, Ezra tidak pernah merasa berkecil hati. Bahkan sejak kecil, Ezra sudah memiliki cita-cita yang begitu tinggi, yaitu untuk menjadi seorang pemain musik yang terkenal. Ezra memang sudah suka mamainkan alat musik dari sejak SD. Ia juga sudah sering ikut kompetisi bakat dan tidak sedikit penghargaan yang ia dapat. 

  Hari pertama masuk kuliahnya sejak libur panjang, Ezra sudah hampir terlambat. Jam mata kuliah pertamanya dimulai pukul 08:30. Dilihatnya jam tanganya dan bertapa terkejudnya saat ia tahu, jam sudah menunjukan pukul 8:22. Ezra segera menambah kecepatannya supaya ia tidak terlambat. Ezra memang bukan tipe orang yang menyukai pelajaran olahraga. Tapi jika sudah begini, ia terpaksa untuk mengeluarkan seluruh kemampuannya supaya ia tidak terlampat. Tapi untuknya Ezra tidak terlambat, ia sampai dikelas tepat waktu. 

"Ehhh Ezr, tumben lu gak terlambat?" tanya Nandito Rizkiya atau biasa dipanggil Rizki dengan nada mengejek. 

Rizki adalah teman sejurusan Ezra dan teman pulang pergi Ezra ke kampus. Karena rumah Rizki dan kos-kosan Ezra berdekata. 

"Alah lu, kaga nunggin gua sih. Gua jadi terlambat kan." keluh Ezra kesal.

"Nungguin lu? Yang ada gua juga telat." ketus Rizki.

Tak lama kemudia, dosen yang mengajar mata kuliah tersebut masuk dan memulai pelajarannya. Saat Ezra dan Rizki selesai pelajaran. 

“Ehh Ezr, kekantin yuk!” ajak Rizki sambil mencoba berdiri dari bangkunya dan tidak sengaja ia menyenggol lengan Ezra.

“Ehhh, hati-hati napa! Kecoretkan catetan gua.” sengit Ezra, sambil mencoba menghapus coretan di bukunya karena tersenggol oleh Rizki tadi. 

“Lah, tumben lo nyatet?” tanyat Rizki dengan nada mengejek.“Udah lah nanti aja lanjutinnya. Sekarang kita makan dulu. Gua udah laper nih.” katanya, sambil memegangi perutnya.

“Yaudah, tungguin. Gua rapihin barang-barang dulu.” pinta Ezra sambil membereskan barang-barangnya.

“Ah, lu lama,” keluh Rizki. “Gua duluan aja yah.” kata Rizki sambil pergi meninggal Ezra.

“Ehh, tunggu napa!” kata Ezra yang tergesah-gesah merapihkan barang-barangnya. Karena tidak ingin di tinggal temannya makan. Ezra pun segera berlari mengejar Rizka yang dari tadi sudah berjalan duluan menuju kantin kampus. Sesampainya Ezra di kantin, ternyata Rizki sudah duduk rapih sambil memakan ayam katsu kesukaannya.

“Ehh, dasar lo. Enggak nungguin gua. Udah makan duluan lagi.” protes Ezra sambil duduk dikursi kosong didepan Rizki dan meletakkan tasnya disampingnya.

“Bodo amat. Kan udah gua bilang, gua lapar.” kata Rizki yang tidak perduli dengan perasaan Ezra.

“Makanan doang yang ada diotak lu,” ejek Ezra. “Yaudah gua mau beli makanan dulu. Awas jangan tinggalin gua lagi lo!”ancam Ezra sambil mencoba untuk berdiri dari bangkunya. Tapi sebelum ia berhasil melakukannya. Tiba-tiba saja Al, sahabat Ezra sejak SMA atau yang dikenal dengan nama panjang Muhammad Al Andra datang dan malah menggangu Ezra. "Ehh Ezra, hebat banget lu gak terlambat hari ini. Biasanya telat.”  ejeknya.

“Ya gak mungkin lah. Masa baru hari pertama, udah telat.” kata Satria Prilando atau dipanggil Satria. Sahabat lain Ezra dengan nada mengejek.

“Berisik lu berdua.” batin Ezra sambil berdiri, mencoba untuk meninggal mereka bertiga.

“Aduhhh, jangan marah dong,” kata Al, mencoba untuk membujuk Ezra. “Aku bawa kabar besar loh. Mau denger gak?” tanyaAl. 

“Kabar besar? Kabar besar apa?” tanya Rizki penasaran.

“Iniiii,” Al memperlihatkan sebuah poster kepada Ezra dan Rizki.

“Festivals musik?” tanya mereka berdua.

“Iyah. Bulan depan, kampus kita akan mengadakan festival musik. Semua siswa boleh ikut serta.” jelas Al.

“Wahhh, keren banget tuh. Lu ada rencana apa Ezr?” tanya Rizki lalu memegangi pundak Ezra.

“Festival Musik yahhh? Ehmmm, apa yah,” tanya Ezra pada dirinya sendir. “Ahhhh,  gua tahu! Ayo kita buat sebuah band.” usul Ezra.

“Band? Terus siapa anggota nya?“ tanya Satria. “Kitakan kagak ada yang bisa memainkan alat musik atau punya suara yang merdu.” 

“Kalau cuma megang mah gua bisa.” Kata Al bercanda.

“Gua juga bisa PINTER!” batin Satria kesal.

“Emang siapa yang ngajak kalian?“ tanya Ezra dengan nada mengejek. “Gua juga tahu kali, lu pada kaga bisa main musik.”

“Terus siapa yang akan menjadi anggotanya?” tanya Satria penasaran.

“Ohhhh, gua tahu!“ seru Rizki, membuat semua pandangan mengarah ke padanya. “Lu pada kenal Kak Zidan?” tanyanya.

“Ohhhh gua tahu,“ jawab Al. “Kak Radhitya Zidan yah? Mahasiswa tahun kedua jurusan sosiologi.” tebak Al.

“Yang bapaknya chef itu yah?“ tebak Ezra. “Iyah gua juga kenal, emang kenapa?” tanya Ezra penasaran.

“Gua denger kalau Kak Zidan itu jago main gitar.” 

“Ohhh yah?“ tanya Ezra tidak percaya.  Tapi seketika raut wajahnya yang senang menjadi masam. “Tapiii, Kak Zidan itu bukannya orangnya galak yah? Apa lagi sama kita, adek kelasnya. Terus gimana gua bisa ngajak dia untuk bergabung?”

“Coba aja dulu. Siapa tahu, ia mau.” saran Al. 

“Tapi, ngomong-ngomomg, kalau lu misalnya udah berhasil kumpulin semua anggotanya. Emang lu punya tempat untuk latihannya?“ tanya Satria, merusak suasana. “Jangan bilang lu mau latihan di kamar asrama lu? Yang ada Pak Karim marah loh.” kata Satri dengan nada mengancam. 

Pak Karim adalah dosen killer di kampus Ezra.

“Gak ada sihh, tapi itu mah gampang,” kata Ezra, percaya diri. “Pertanyaannya kan, siapa yang mau jadi anggota nya? Kalau gua udah ada tempatnya tapi belum ada anggotanya kan, juga gak bisa. Jadi mending kita cari dulu anggotanya,” tambahnya.

“Kita? Lu aja sendiri kali.” sengit Satria, yang tidak suka jika di minta tolong oleh siapa pun.

“Pleaseee lahhh. Tolongin napa temennya.” pinta Ezra sambil memohon-mohon kepada ketiga temannya.

“Emang kita bisa apa?” tanya Rizki yang tidak tega melihat Ezra memohon-mohon seperti itu.

“Lu ama Al bantuin gua nyari anggota bandnya. Nanti Satria bantuin buatin brosurnya,” jelas Ezra. “Tolong yahhh Satria, Al, Rizki.” 

“Iyah-iyah ah” kata Satria terpaksa. 

Saat Ezra dan yang lain sedang membahasan soal grup band terbarunya. Tidak sengaja Zidan, yang sedang lewat mendengarnya. Setelah hampir 10 menit membahas cara mereka untuk mencari anggota baru, Ezra dan Satria memutuskan untuk membuat brosurnya di kamar kos-asrama Satria.

Show Comments
BOOKMARK
Total Reading Time: 2 hours 48 minutes
toc Table of Contents
bookmark_border Bookmark Start Reading >
X


Reset to default

X
X
×

Install this webapp for easier offline reading: tap and then Add to home screen.