/story/73453/dear-my-friend/toc
Dear my friend | Penana
arrow_back
Dear my friend
more_vert share bookmark_border file_download
info_outline
format_color_text
toc
exposure_plus_1
Search stories, writers or societies
Continue ReadingClear All
What Others Are ReadingRefresh
X
Never miss what's happening on Penana!
G
Dear my friend
Jflow
Intro Table of Contents Comments (0)

Duka dan perpisahan. Bukankah semua itu hal yang wajar dalam kehidupan. Marah. Kecewa. Sedih. Bukankah semua emosi itu layak dirasakan. Sendiri dan merasa berbeda? Adakah manusia yang diciptakan sama? Tidak, bukan? Semua pasti memiliki perbedaan. Setiap orang itu berbeda. Tergantung bagaimana mereka mendefinisikan perbedaan itu. 

Aku teringat akan seorang teman. Yang selalu menganggap kekurangan pada dirinya itu sebagai perbedaan. Dan tak pernah mengakui dirinya. Aneh. Padahal dia bukan satu-satunya. Hm, apakah menjadi berbeda itu salah? Apakah seberat itu untukmu, Hani? Hingga kau memilih mengakhiri hidupmu. Apa sekarang kau bahagia? Kuharap tidak. Kenapa hanya aku yang menderita? Kenapa hanya aku yang mengalaminya? Itukah yang kau pikirkan? Aku adalah temanmu. Dan kau adalah temanku. Kita sama-sama memiliki keluarga. Keluarga terpandang. Mereka menerimamu dan aku menerimamu. Apa masih kurang? Kenapa kau lebih mendengarkan mereka daripada kami keluargamu. Kecewa? Kenapa? Karena berbeda? Sekalipun kau memiliki kekurangan tapi aku tetap merasa iri padamu. Kau cerdas dan cantik. Badanmu tinggi. Rambutmu indah. Sangat sempurna. Hanya karena kau tidak bisa berbicara, kau merasa hidupmu tak berarti. Aku selalu mengatakan padamu untuk "Percaya Diri". Love yourself. Karena hidup mu dimulai dengan dirimu dan berakhir denganmu pula. Aku juga tidak bisa menyalahkanmu. Aku juga tidak bisa memaksamu. Aku hanya mampu memberikan dukungan berupa kata. Aku tahu, berbicara itu mudah. Tidak dengan praktikmu di kehidupan. Tapi kita tidak akan pernah tahu jika tidak dicoba.

Hani....sudah sejak lama aku ingin menceritakan ini padamu. Berharap kau pun mampu sepertinya. Dulu, aku memiliki teman yang sama kurangnya sepertimu. Dia seorang anak laki-laki yang tidak dapat berbicara. Namun memiliki senyum indah yang menawan. Hari-harinya di sekolah selalu menjadi bahan ejekan teman-temannya. Tapi tak mengapa, kesedihannya selalu ia tutupi dengan tersenyum. Senyuman manis itu membuatku mendekatinya. Dan kami berteman. Ternyata dia anak laki-laki yang menyenangkan. Dia mengajariku untuk berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Menuliskan setiap bait kata untuk menghiburku. Hari demi hari yang terlewati membuatku dengannya menjadi semakin dekat. Sampai saat SMP. Dia harus ikut orangtuanya pindah ke luar kota. Huft, berat sekali rasanya untuk melepas kepergiannya. Perpisahan itu membuat hari-hariku terasa monoton. Sama seperti saat aku kehilanganmu. Teman dekatku. 

Hani...sejujurnya aku bertemu kembali dengan anak laki-laki itu. Dia sekarang sudah tumbuh dewasa. Tampan. Dan senyumnya tak pernah berubah. Jika ada kesempatan aku ingin kau berkenalan dengannya. Kita bisa mengukir cerita bersama. Memahat sebuah ikatan pertemanan dan membuat kenangan indah bersama. Tapi sayang, kau pergi lebih dulu. Ck...tapi aku tetap merasa ada yang hilang dalam hidupku. Aku mulai mendengus sekarang. Berharap kau ada di sini. Di depanku. Mendengarkan ceritaku. Dan pengakuanku. Aku rasa aku menyukainya, Han. Anak laki-laki itu, aku menyukainya. Lebih dari apapun. Tak peduli jika dia berbeda. Karena hatinya selalu tulus dan yang pasti dia tahu dirinya. Dia mengakui dirinya sendiri dan mengakui keberadaan orang lain. 

Show Comments
BOOKMARK
Total Reading Time: 2 minutes
toc Table of Contents
No tags yet.
bookmark_border Bookmark Start Reading >
X


Reset to default

X
X
×

Install this webapp for easier offline reading: tap and then Add to home screen.