Perjalanan kereta kuda Alice harus terhenti di tengah hutan sebelum tiba di rumah ketika keretanya disergap sekumpulan bandit yang terhitung berjumlah enam orang. Wajah cemas Alice mengintip dari jendela dan bertanya pada seorang pelayan wanita yang menunggangi kuda di dekatnya. "Jesse, bagaimana ini?" Bagaimana ia tidak khawatir jika mereka tidak dikawal satu dua pengawal pun kecuali kusir dan Jesse.
"Nona, tunggu lah di dalam. Aku akan segera kembali," kata Jesse kemudian kudanya berderap pelan ke depan. "Sebenarnya, apa yang kalian inginkan dari kami?! Kalian tidak lihat? Kami tidak membawa barang apapun!" tegas Jesse yang ketika itu Alice berharap pada keajaiban.
Tetapi tampaknya mereka tidak bisa diajak bicara begitu mereka menunjukan gelagat menyerang, membuat Jesse menarik belati dari sarungnya. Biar pun Jesse pandai beladiri sekaligus anak ksatria bangsawan, tetap saja kegundahan terus menggerogoti benak Alice terhadap wanita itu yang harus melawan mereka sendirian. Dilihat dari sisi mana pun, mereka telah terkepung dan tidak ada jalan untuk kabur. Alice tidak mengerti, apa yang mereka incar?
"Gadis bangsawan di dalam kereta itu, kami akan menculiknya untuk meminta tebusan!" ungkap salah satunya. Jesse menggeram kesal. "Sialan.... langkahi dulu mayatku jika kalian ingin menculiknya!" Ancaman tajam Jesse dibalas dengusan seringai dari pria bertubuh kekar di antara kelompoknya. "Heh! Sok jadi pahlawan? Ayo serang!" Ucapannya membuat rekan-rekannya seketika maju. Namun belum dua langkah, gerakan mereka terhenti mendadak ketika tanah tak berumput di tengah dua kubu itu tertancap sebuah anak panah. Anak panah yang entah datangnya darimana ini mampu membuat para bandit waspada, tapi sedikit memberi harapan bagi pihak kereta kuda, Alice.
Siapa pun orang itu, akan dia beri imbalan atas perbuatannya.
Lalu suara langkah seekor kuda di tengah keheningan hutan ini membuat mereka seketika mengarahkan pandangan ke sumber suara. Seseorang muncul di atas kuda yang bergerak maju perlahan-lahan keluar dari pepohonan gelap. Lalu ketika awan hitam berarak dan sinar pucat sang candra mulai menyinari permukaan, sosok penunggang kuda itu semakin terlihat jelas.
"Beraninya kalian para pecundang bermain keroyokan!" hardik pria itu. "Apa?!" pekik salah satu bandit tak terima. Lantas tanpa belas kasihan, pria itu kembali meluncurkan anak panahnya yang sedetik langsung bersarang di tubuh mereka.
Karena tahu keadaan tidak mendukung, dengan tergesa-gesa mereka bangkit dan berlari menjauhi tiga orang tersebut. "Di daerah ini rawan bandit. Sebaiknya kalian berhati-hati. Saya permisi," ujar pria itu.
"Tunggu!" tahan Alice tiba-tiba membuat pria itu berhenti.
460Please respect copyright.PENANAylGBdhroEB
***
460Please respect copyright.PENANA1BNJWh9Dyp
Ada hal aneh yang begitu menyesakkan dada Alice. Gelisah. Ia sendiri tidak mengerti mengapa ini terjadi setelah pria bernama Charlie itu pergi dan berpikir jika mereka tidak akan pernah bertemu lagi. Ya, pria yang menolongnya beberapa jam lalu itu memiliki nama Charlie.
Alice telah membawanya ke rumah lalu bertemu ayah. Atas jasanya yang berharga, ayah memberinya imbalan berupa 400 keping emas. Jumlah itu sungguh tidak sedikit, siapa yang menolaknya? Semua orang membutuhkan uang. Tetapi sikap yang ditunjukan Charlie di luar dugaan. Pria itu menolak buntalan berisi kepingan emas dengan tidak mengurangi rasa hormat terhadap pria yang lebih tua. Baik Alice mau pun ayahnya cukup terpana. Pemuda yang luar biasa.
Alice merasa tidak mau kehilangan pandang akan pria itu. Alice ingin selalu melihat pria itu. Dan kasur yang seharusnya memberikan kenyaman bagi tubuh Alice untuk beristirahat, sekarang ia malah tidak dapat tidur nyenyak sepanjang malam ini. Berharap sekali malam berlalu cepat, karena ia tidak sabar menunggu esok pagi.
460Please respect copyright.PENANAkrPFAaXlUK
***
460Please respect copyright.PENANAY13PYQu3AL
Tirai berat dibuka dan cahaya menyilaukan langsung menerangi ruangan bernuansa tegas. Dahi Alice berkedut karena sinarnya seakan menusuk-nusuk mata.
"Nona Alice..."
"Nona Alice..."
Lembut suara pria ini bagai seringan bulu angsa membelai lubuk hati Alice. Diam-diam Alice menikmati suara maskulin ini. Suara yang selalu ia dengar di awal pagi hingga terlelap kembali semenjak kedatangannya ke rumah ini enam bulan lalu. Dan entah bagaimana pertemuannya dengan pria ini muncul di mimpi.
"Nona Alice..."
Alice membuka matanya perlahan. Kemudian bangkit duduk dengan mata yang masih lengket. "Aku sudah bangun, Charlie," kata gadis itu yang membuat segaris senyuman tenang terbentuk di bibir Charlie. "Airnya sudah kusiapkan, perlu kah kubantu membukakan pakaian anda?" guraunya yang seketika mendapat lemparan bantal dari Alice.
"Aku bukan bayi!" Alice membela diri disertai wajah merona samar. Ia kemudian beranjak turun ranjang dan berjalan ke arah pintu lain, kamar mandi.
Selagi nonanya membersihkan diri di dalam sana, Charlie segera merapikan tempat tidur lalu berpindah memilihkan pakaian dari lemari di sudut lain ruang kamar. Ia terkadang menggeleng sambil mengamati gaun sebelum di kembalikan lagi ke tempatnya. Mencari pakaian yang cocok adalah bagian dari tugas Charlie sejak menjadi pelayan pribadi gadis itu enam bulan lalu.
Suara pintu terbuka menunjukan keberadaan Alice yang sudah berbalut bathrobe putih. "Ini kah pakaianku hari ini?" tanyanya memperhatikan gaun di tepi kasur. "Ya, nona," jawab Charlie rendah dan sopan. "Apa anda tidak suka?"
"Aku tidak meragukan pilihanmu," balas Alice meraih pakaiannya. Kemudian Charlie memutar tubuh dan memunggungi Alice sampai nonanya selesai mengenakan gaun. Ia memang tidak diperkenankan keluar dari kamar ini. Alice pun tidak masalah dengan adanya keberadaan seorang pria di kamar saat berganti pakaian. Karena intuisinya sudah sangat mempercayai Charlie sebagai pria yang tahu sopan santun meskipun mereka belum lama kenal.
Pria itu tampak mematung tenang dengan kelopak mata yang tertunduk. Detik demi detik berlalu sepi saat bathrobe putih terlepas dan jatuh di bawah kaki mulus Alice. Satu per satu Alice memakai perlengkapan pakaiannya mulai dari pakaian dalam hingga paling akhir: menutup resleting gaun di punggungnya. Tapi ia mendadak berhenti.
"Hey, bisa kau bantu aku? Resleting ini sulit sekali kutarik," ujar Alice membuat Charlie bergerak dari tempatnya. Tepat saat berbalik, punggung mulus Alice terpampang di depannya karena resleting gaun yang terbuka sementara rambut panjang gadis itu telah disampirkan ke pundak.
Namun Charlie bukan pria brengsek yang akan menikmati melihat punggung itu. Sebab ia sudah mengayunkan tangan dan menarik resleting itu ke atas hingga benar-benar tertutup sempurna. Setelah itu Alice berbalik untuk duduk di depan meja rias.
"Apa jadwalku hari ini?" Alice bertanya ketika rambutnya sedang disisir pelan oleh Charlie.
"Bertemu dengan calon tunangan anda, nona."
460Please respect copyright.PENANA90sjvnL3PD
***
460Please respect copyright.PENANAKe0KOiOwcY
Suasana sarapan pagi di meja makan terasa dingin. Tampak Charlie berdiri tepat di belakang kursi nonanya bersama sejumlah pelayan wanita lain. Keheningan tercipta selain suara denting alat makan.
Tidak ada percakapan yang keluar dari mulut mereka berdua. Ayah dan anak. Tiada lagi kehangatan yang pernah terjadi di meja makan setiap kali mereka makan bersama. Dinginnya lantai pualam sama dengan dinginnya perasaan Alice yang telah kehilangan sinar mentari.
"Alice, siang nanti tuan Albert akan datang. Tunjukan sikap terbaikmu dan buat ia terkesan," kata ayah setelah mengelap mulut menggunakan kain khusus dengan sikap elegan. Jika ia bicara itu artinya acara makan telah usai.
"Baik, ayah," jawab Alice rendah. Ia juga meletakan pisau dan garpu. "Lanjutkan sarapanmu," ujar ayah sebelum beranjak pergi meninggalkan meja makan berukuran panjang ini, dan pintu besar itu menelan sosok tegasnya.
Alice tidak memiliki selera makan yang baik hari ini. Jadi ia tidak melanjutkan sarapannya dan memilih bangkit. "Ayo kita pergi Charlie," ujar Alice. Charlie pun mengekorinya tanpa banyak bicara.
460Please respect copyright.PENANAa1tsMlty3X
***
460Please respect copyright.PENANA1QTrZUGAHU
Langit biru terasa dekat di atas kepala ketika Alice berjalan menaiki tanah perbukitan diikuti Charlie selangkah di belakang.
Kali pertama bagi Charlie menapaki jejak di tanah ini setelah mereka keluar rumah dan melewati hutan kecil. Jaraknya sedikit jauh tapi Alice memilih untuk berjalan kaki. Di sejauh mata memandang hanya ada tanah berumput luas yang sepi.
Kemudian langkah Alice berhenti di depan batu. Batu itu berdiri tertanam di dalam tanah. Alice memandangnya dengan sorot teduh. "Ini adalah tempat peristirahatan terakhir ibuku."
Charlie tertegun. Dadanya seakan terasa sesak melihat makam itu. Lebih sesak dibanding saat mendengar fakta bahwa ibu Alice meninggal dunia dari obrolan pelayan lain.
Alice mengucurkan air dari botol kecil yang sedari tadi tersimpan di dalam keranjang rotan. Disusul menaburkan bunga. "Hari ini adalah tanggal kepergiannya. Aku dan ayah selalu mengunjunginya. Tetapi itu hanya berlangsung dua tahun saja. Setelah itu kami tak pernah pergi bersama lagi untuk menyapanya. Karena bagi ayah, pekerjaan jauh lebih penting." Alice berkata dengan nada pelan, namun tersirat kesedihan bagi Charlie sebagai pendengar di sini.
"Sesungguhnya, aku ingin menolak perjodohan itu. Karena aku tahu dia bukan orang yang cocok untukku."
Charlie masih diam. "Kau tahu apa yang harus kau lakukan, bukan?" ucap Alice sarat makna seraya berbalik untuk kembali ke rumah. "Ya, nona," sahut Charlie meletakan sebelah tangan di dada kiri dengan merendahkan sedikit punggungnya.
460Please respect copyright.PENANAIiYRwcpI4q
***
460Please respect copyright.PENANA8vAhV8qiga
Alice adalah gadis muda yang belum pernah merasakan cinta. Walau demikian ia tidak akan menerima begitu saja perjodohan konyol yang dibuat sang ayah demi kepentingan bisnis. Mungkin akan jadi pertimbangan jika calonnya adalah pria muda yang tulus seperti impian Alice. Sayang sekali, hal tersebut tidak berlaku seperti apapun rupa pria itu. Karena Alice punya jalannya sendiri untuk melangkah. Dan semua persiapan telah terpenuhi sebelum tepat pukul sebelas lebih lima belas menit kereta kuda itu memasuki gerbang rumah keluarga bangsawan McFarland.
"Selamat datang tuan Albert!" sambut ayah bersemringah. Lain hal dengan raut wajah Alice yang datar.
Tuan Albert ini lah yang akan menjadi calon suaminya. Dia bukan pria muda perkasa nan atletis. Melainkan seorang pria tua kisaran usia empat puluhan yang memiliki wajah berbingkai kumis dan jenggot. Sangat jauh dari kata atletis melihat perut buncitnya yang lebih gemuk dari ayah Alice. Jika ayah Alice adalah pria tua bertubuh tinggi, maka tuan Albert sedikit pendek sepundaknya. Nyaris menyamai tinggi Alice. Dia bahkan lebih cocok berstatus sebagai paman ketimbang calon suami! Geram. Ingin rasanya Alice meninju wajah Albert dengan sekuat tenaga saat teringat kejadian tempo waktu.
Flashback
Pesta ulang tahun ayah diadakan cukup mewah di rumah. Orang-orang terpandang berdatangan. Termasuk rekan karibnya, Albert. Sepanjang pesta berlangsung, Alice lebih senang mengasingkan diri dengan berada di taman belakang rumah yang sepi. Daripada ikut bergabung dengan orang-orang bermuka dua itu.
"Hai, nona manis."
Alice tersentak kaget mendengar suara yang berasal dari arah belakang. Ia berbalik dan mendapati seorang pria tua bertubuh gempal memegang dua gelas anggur. "Siapa namamu, nona manis?" tanyanya dengan tatapan mata lain. Bulu roma Alice seketika meremang saat merasa ilfil. Apa pria tua itu sedang mabuk?
460Please respect copyright.PENANAehiYcifJ9Y
"Ini untuk nona paling cantik," ucapnya menyodorkan gelas anggur. Tapi dengan berat hati diterima Alice.
"Kalau tidak salah, kau anak tiri Jeddy McFarland ya?"
Kenapa pria tua ini banyak bertanya sekali?! kesal benak Alice. "Ya benar."
"Tak kusangka kau tumbuh sangat cantik persis seperti ibumu. Aku seolah melihat bidadari di depanku."
"Apa anda sedang merayu?" sambung Alice tak bersahabat, langsung menunjukkan ketidaksukaannya.
"Namaku Albert Brostelo. Seorang pria lajang yang pernah bercerai sepuluh tahun lalu. Aku menginginkanmu untuk menjadi istriku, nona Alice. Oh ya, kau tenang saja, aku tidak punya anak."
"Cih! Takan sudi aku menikah denganmu pak tua! Kau bukan tipeku."
Albert membasahi bibir dengan lidahnya.
"Aku tahu nona manis. Aku menikahimu untuk memiliki keturunan yang akan mewarisi kekayaanku nanti. Tunggu hari itu tiba, sayang. Dan kita akan bersenang-senang," kata Albert kemudian berbalik pergi. Rasa-rasanya Alice ingin melemparkan gelas ini ke kepala pak tua mesum itu.
460Please respect copyright.PENANAXuXHCF8oIr
***
460Please respect copyright.PENANAI8wiIqJxq9
460Please respect copyright.PENANAfyOnvdSHvJ