“Skuad B, harap laporkan kondisi terkini.”560Please respect copyright.PENANABiXLyMd4mD
“Seratus lima puluh meter dari target. Ganti.”
“Skuad C, segera laporkan kondisi terkini.”
“Seratus meter dari target. Ganti.”
“Berhenti pada jarak lima puluh meter. Tunggu aba-abaku.”
“Dimengerti, Pak.”
Sekelompok tentara melangkah pelan di antara pepohonan rimbun. Sepatu bot mereka sebisa mungkin menghindari ranting atau sesuatu yang berpotensi menimbulkan suara di tanah berlumpur.
Komandan mereka—berdiri paling depan—memberikan isyarat untuk berhenti. Ia menatap arloji pemindai panas di tangannya sejenak, lalu kembali menyiagakan senapan bius.
Ada sedikitnya tujuh orang dalam kelompok itu. Empat dibekali senapan bius, sisanya memegang senapan serbu tipe AN-94. Mereka tampaknya cukup terlatih untuk sebuah perburuan. Namun, katanya ini bukan sekadar perburuan biasa.
“Skuad B segera ambil jalur memutar ke timur. Kita kepung target dari samping.”
“Oke, Culvix.”
Selepas memberi perintah, sang Komandan memberi isyarat skuad-nya untuk bergerak maju. Begitu cermat, mata tajamnya mengawasi lingkungan seraya berjalan pelan.
Ia tahu kapan pun dan di mana pun, target yang mereka buru bisa muncul dan menyerang. Selain itu, hutan tropis yang lembap ini bukan medan yang cocok untuk aksi kejar-kejaran dengan seekor monster.
“Skuad C, laporkan kondisi terkini.”
“Delapan puluh meter dari target. Ganti.”
“Skuad A akan memantau kondisi target secara langsung. Laksanakan prosedur kode merah jika terdengar suara tembakan sebelum waktunya.”
“Dimengerti.”
Skuad A hanya berjarak lebih-kurang tiga puluh meter dari target. Mereka harusnya dapat melihat sesuatu andai saja pepohonan beringin berserta sulurnya yang tebal tidak menghalangi pandangan. Maka dari itu, skuad tersebut terpaksa mengambil jarak lebih dekat, sekitar sepuluh meter dari posisi sebelumnya.
Sang Komandan bisa mendengar bunyi gedebuk dari depan. Ia langsung menyiagakan senapan bius, disusul bawahannya di belakang. Penuh waspada, diayunkanya telunjuk sebagai isyarat untuk bersembunyi di balik batang-batang besar beringin sembari menunggu kabar terbaru dari skuad lain.
Mereka melangkah amat pelan, sampai tak menyisakan suara sedikit pun. Sang Komandan bisa melihat targetnya. Seekor gorila merah seukuran gajah dewasa. Rambut tubuhnya sangat lebat sampai-sampai menjuntai ke tanah. Untuk sekarang, makhluk itu tampak belum menyadari kehadiran mereka.
“Batutut telah teridentifikasi. Segera menuju radius yang telah ditentukan.”
“Dimengerti, Pak.”
Makhluk yang besar. Diameter jarinya nyaris menyamai tongkat baseball, bergerak lamban, menarik-narik buah sawo dari pohon. Juga, kakinya meninggalkan jejak yang lebar di lumpur. Seekor babi hutan mungkin muat berkubang di sana.
“Skuad C tiba di posisi. Ganti.”
“Teruskan. Kita giring target menuju zona peryergapan”
“Siap, Pak.”
“Skuad B, segera laporkan kondisi terkini.”
“Enam puluh meter dari target. Ganti.”
“Bersiaga. Terus bergerak ke depan.”
“Dimengerti.”
Perburuan berlanjut. Skuad A bergerak lebih dekat, menyelinap dari pohon ke pohon. Mereka butuh jarak yang ideal untuk membidik. Entah berapa mili anastesi yang diperlukan guna menidurkan monster seberat enam ton itu.
Skuad C tiba tepat waktu. Berjarak sekitar tiga meter dari skuad A, kelompok yang terdiri atas delapan tentara itu bergerak ke sisi sebelah kiri sang monster. Skuad B masih jauh dari areal perburuan, sementara durasi kian menipis. Itu artinya mereka harus memulai eksekusi hanya dengan dua tim. Tak masalah, pikir sang Komandan.
Pemegang senapan bius beralih ke sebelah kanan dan kiri, sedangkan sisanya berkumpul di belakang. Mereka yang memegang senapan harus memastikan rekan-rekannya selamat ketika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Biasanya antisipasi tersebut berupa tindakan melumpuhkan target, atau bahkan membunuhnya.
Pasukan bersiap, senapan pun telah diisi. Kini, mereka mulai membidik. Leher merupakan area penuh pembuluh darah, bagian tubuh yang cocok untuk peluru-peluru bius. Satu hal yang menjadi kendala, mereka tidak pernah tahu berapa persisnya dosis yang tepat.
Kelebihan dosis dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan pada target ketika sadar. Maka dari itu—sesuai rencana yang disepakati sebelumnya—skuad A akan melakukan dua tembakan pertama.
“Tahan,” desisnya selama beberapa detik. “Tembak.”
Peluru bius meluncur dari ujung senapan, tepat bersarang di leher target. Sang monster seketika bereaksi. Ia mendengking, melibas pepohonan sawo di depan, lalu menghentak tanah sebelum tumbang sedikit demi sedikit. Betapa beruntungnya misi kali ini. Cukup dua peluru, dan mereka bisa pulang ke markas dengan bayaran besar.
Skuad A keluar dari persembunyian, coba memeriksa kondisi target, sementara skuad C masih menyiagakan senjata mereka. Sang komandan menyenggol-nyenggol tubuh gorila besar itu dengan kakinya. Tiada reaksi. Selain itu, pernapasannya juga teratur.
“Periksa matanya.”
Seorang tentara bergegas menghampiri wajah sang monster. Sial baginya, sebab rupa sang monster tertutup rambut kemerahan. Jemarinya terseok-seok, coba menyibak rambut itu. Tatkala tangannya nyaris mencapai lapisan paling dasar, si tentara terperanjat. Ia mendapati mata makhluk itu masih mencalang. Mata buas yang sarat akan murka.
BRUAKK!
Sang monster bangkit, melibas orang-orang di sekitarnya. Seorang tentara coba membidik dengan tangan gemetar, tetapi targetnya lebih dulu menyerang. Ia mencengkeram si tentara, lalu melemparnya berpuluh-puluh kaki di udara.
Skuad C kesulitan menembak karena target yang bergerak liar. Ia kadang berguling, menerkam, atau melompat. Nyaris semua anggota skuad A menjadi korban. Mereka tercerai-berai, termasuk sang Komandan yang berhasil menyelamatkan diri.
"Tahan!" Ia meneriaki tentara pemegang AN-94. "Giring dia ke zona penyergapan. Cepat! "
Semua skuad berlari menjauh sambil memastikan sang monster berada di jarak yang aman. Makhluk itu lantas mengejar, meraung-raung, dan menyeruduk pepohonan yang menghalangi jalannya.
"Skuad B! Perubahan rencana. Kami membawa target ke arah kalian. Bersiap menyergap!"
"Siap!"
Para tentara rela menerjang semak berduri demi menyelamatkan diri dari kejaran kera raksasa. Mereka pikir ini akan berlalu cepat. Kenyataannya, itu cuma pengharapan belaka.
Sang monster memungut batang palem di tanah, lalu melemparnya ke depan. Sang Komandan dapat dengan jelas melihat benda itu melintasi kepalanya, dan menimpa beberapa tentara di depan. Derak rusuk mereka terdengar seram.
"To-tolong!" Seorang tentara lagi jatuh akibat terpeleset.
"Bangun! Ayo!" seru sang Komandan, berhenti sejenak.
"Ti-tidak." Ia menunjukkan kaki kirinya yang terkilir parah.
"Astaga!" sang Komandan langsung kabur setelah menengadah.
Gorila raksasa meraung, tak sengaja menginjak tentara yang terkilir hingga penyek. Pelarian kembali berlanjut. Hanya tersisa tujuh orang, sementara zona penyergapan masih sepuluh meter lagi.
"Pak! Kita harus menembaknya!"
"Jangan! Terus berlari!"
Tanah berdebam keras manakala kaki sang monster beradu dengan langkah kecil mangsanya. Napas sang Komandan memburu, begitu pun yang lain. Mereka berada di ambang kematian.
Gerung nyaring bergema, bersambut jeritan seorang tentara di ujung belakang. Monster itu berhasil menjangkau tubuhnya. Lagi dan lagi, suara gemertak tulang manusia pecah saat tangan hitam nan besar itu mencengkeram mangsanya.
"Sial! Sial! Sial!" Sang Komandan tak bisa berhenti meracau seiring kian dekatnya ia dengan mesin pembunuh. "Tembak! Tembak kakinya!"
Satu-satunya pemegang senapan yang tersisa sontak berbalik dan menembaki kaki sang monster. Lima kali, pelurunya menembus rambut tebal sebelum berhasil membuat targetnya menggilas tanah. Lumpur bercipratan ke mana-mana. Sang Komandan sempat melompat ke depan sesaat kera besar itu hendak menimpa dirinya. Ia selamat.
"Tembak! Tembak!" komando pimpinan skuad B yang sudah bersiap di kanan-kiri.
Peluru bius ditembakkan. Jumlahnya lebih dari enam, berguguran di punggung dan tengkuk sang monster. Seharusnya mereka sudah berhasil melumpuhkan target dengan bius sebanyak itu. Namun, sang Komandan masih ragu.
"Cepat periksa! Siagakan senjata kalian!" serunya.
Beberapa tentara segera melaksanakan perintah. Mereka memeriksa tubuh, pernapasan, hingga pupil sang monster dalam penjagaan ketat. Untunglah, kali ini monster tersebut enggan melawan. Ia terkapar, mati rasa.
"Target dalam pengaruh anastesi, Pak."
"Panggil helikopter. Semuanya."
"Siap."
Hari yang buruk. Sang Komandan mencuci rambut pirang ikalnya dengan air mineral. Pelipisnya berdarah, begitu pun pipi dan lengannya. Akan tetapi, rasa sakitnya tak sebanding dengan para prajurit yang mati hari ini.
"Mereka akan menurunkan harganya, Culvix." Seorang pria botak berkulit gelap menghampirinya, ikut membasuh wajah dengan air.
"Aku tahu. Lebih baik mendapatkan setengah harga daripada mati di tangan monster sialan." Culvix—si Komandan—menyahut agak jengkel.
"Jadi, apa yang harus kita katakan nanti? Dia seorang kapitalis yang tak pernah peduli nyawa manusia."
"Mau bilang apa lagi? Kita tinggal katakan yang sebenarnya. Lagi pula, sebentar lagi kita akan berhenti." Culvix menjawab sehabis menyeka wajah keriputnya. Wajah yang telah melihat banyak kematian.560Please respect copyright.PENANAZLGYoba4Hy
"Ya. Andai saja alat itu tidak dipasangi peretas, kita pasti bisa langsung membawanya kabur. Jujur saja, aku sudah tidak sabar melihat pria tua itu menangisi pulaunya." Lawan bicaranya tebahak.560Please respect copyright.PENANAtcPLeUxWTd
“Jaga omonganmu. Untuk sekarang, dia masih bos kita.”560Please respect copyright.PENANA4DLBt3A9L1
Desing helikopter terdengar. Culvix bangkit bersama rekan botaknya, Hank Brown. Mereka menyaksikan dua helikopter menurunkan alat pengangkut untuk membawa sang monster pergi. Selanjutnya, tiga helikopter lain menyusul. Para tentara yang terluka parah diungsikan lebih dulu.560Please respect copyright.PENANAuUJ1lNVhkW
"Bantu aku mengevakuasi jasad rekan-rekan kita, " pinta Culvix.
"Ayo."
"Siap, Pak!"
~~o0o~~560Please respect copyright.PENANA4dA38usCkK
"Selasa?! Anda bilang Selasa? Itu besok, 'kan?"
"Tentu. Akhirnya, tiket VIP untuk instansi kita sendiri. Dua orang, dan aku tahu siapa yang pantas menemanimu, Riza."
"Anda serius, 'kan? Ini terdengar sangat-sangat mustahil. Empat tahun kita habiskan untuk sebuah ekspedisi kosong, dan kabar ini muncul seperti keajaiban."
"Datanglah ke kantor. Aku akan menjelaskan detailnya saat rapat nanti."
"Baik, tentu saja."
Riza Harahap, tiga puluh dua tahun, segera menutup telponnya. Wajah lelaki bermata sipit itu tampak semringah. Barusan adalah kabar paling menggembirakan seumur hidupnya. Entah harus percaya atau tidak, tetapi bagi Riza inilah kesempatan terbaik untuk menggebrak rasa penasaran yang menggelayut di kepalanya.
Ia baru saja selesai mandi ketika menjawab telpon tadi. Jadi, badannya cuma dililit sehelai handuk. Beberapa bekas luka tampak kentara di dada kiri dan bahu manakala Riza asyik menyemprotkan pengharum badan. Selain itu, kulitnya juga cukup bersih untuk seorang pekerja lapangan yang kerap menghabiskan akhir tahunnya dalam ekspedisi hutan belantara.
"Hari yang indah," gumamnya seraya mengenakan kemeja biru. "Akhirnya perjuanganmu berbuah manis, Pak Truyan!" Ia memberi hormat pada poster pria penjelajah di dinding.
Cuma butuh lima menit baginya untuk mengenakan pakaian, tetapi butuh lebih dari sepuluh menit untuk menata rambut hitamnya agar tampil rapi. Jangan salah sangka dulu. Riza bukan tipe orang yang modis atau perfeksionis. Selama di hutan, rambutnya selalu menjadi bulan-bulanan. Serangan kutu, tersangkut sarang laba-laba, kotoran burung yang tiba-tiba saja menetes. Maka dari itu, ia merasa rambutnya layak diistimewakan sesekali.
Jam berdentang sembilan kali, tatkala Riza mengunci pintu rumah. Untuk sebuah pekerjaan yang berat, ia tentunya mendapat bayaran yang tidak sedikit. Tiga bulan gajinya sudah mampu melunasi rumah minimalis bercorak merah-putih itu. Juga, ia diamanahi mobil dinas untuk pulang-pergi kantor.
"Selamat pagi, Pak Riza."
"Selamat pagi." Lelaki berhidung mancung itu tersenyum sembari membuka pintu mobil.
Meski berada di komplek perumahan elit, nyatanya masih ada tetangga yang tidak diperbudak pekerjaan. Saling bertegur sapa di kala arus globalisasi kian menjerumuskan adalah salah satu bentuk syukur kepada Tuhan, menurut Riza.
Namun, terkadang ia jadi terlalu sibuk untuk menyadari ada seseorang di sampingnya, atau suara bel ketika asyik berbincang di telepon. Tak pernah ada pribadi yang sempurna. Setidaknya, prinsip itulah yang membuatnya mampu mencapai jabatan tinggi di kantor.
"Oke. Ayo kita pergi," ujarnya kegirangan.
Sedan hitam tancap gas dari halaman, beralih ke jalan kompleks. Sayangnya, kondisi lalu lintas kelewat padat. Tentu karena ini Jakarta, dan Riza mengemudi mobil di jam padat aktivitas. Sekitar dua sampai tiga jam waktunya terbuang di jalan, sebelum akhirnya parkir di depan gedung berlantai tiga.
"Akhirnya kau datang juga," tukas pria paruh baya berkumis tebal. Lehernya agak bungkuk, dengan keriput di mana-mana. "Satu menit lagi."
"Maaf, Pak. Jalanan sangat macet. Seharusnya aku berangkat pagi-pagi buta."
"Sudahlah. Kita punya agenda penting hari ini." Pria itu berjalan ke dalam gedung, disusul oleh Riza.
"Jadi dia benar-benar mengumpulkan mereka dalam satu tempat?"
"Satu pulau, tepatnya. Dia bilang pulau itu adalah pusat konservasi raksasa. Setiap makhluk ditempatkan dalam kandang khusus."
"Beritahu aku, Pak Irwan. Bagaimana cara orang itu melakukannya? Kita habiskan tiga tahun penuh untuk menjelajahi hutan Sumatra, padang rumput Nias, bahkan belantara Kalimantan. Akan tetapi yang kita dapat cuma jejak dan cerita penduduk."
"Sebenarnya, Riza, itulah alasanku memilihmu dalam tugas ini. Selain mengumpulkan data, kita juga harus mengetahui metode yang mereka terapkan."
"Oh, baiklah. Jadi, siapa orang yang kau pilih untuk menemaniku?"
"Sayangnya, dia belum datang sampai sekarang."
Irwan membuka pintu kaca, di mana para staff telah duduk mengelilingi meja rapat. Riza duduk di kursi putar, menyaksikan layar proyektor. Matanya terpikat oleh sebuah skema pulau besar bertajuk Mega Jingga.
"Semuanya sudah di sini?" bisik Irwan pada sekretaris di sampingnya.
"Sudah, Pak, kecuali wakil kepala kantor baru kita."
"Oh, tak apa. Dia cuma belum terbiasa."
Pria itu sedikit merapikan rambut tipisnya yang beruban, sebelum berdiri untuk memulai rapat. Irwan mendekati layar proyektor di depan, lalu menatap anggota rapat yang memandang penasaran.
Memang, ini adalah rapat dadakan. Namun, justru rapat inilah yang paling berkesan sepanjang kiprahnya di Badan Cryptozoologi Indonesia. Lembaga khusus yang menangani makhluk hidup non-ilmiah, atau tidak teridentifikasi sains.
"Selamat pagi."
"Selamat pagi."
"Tadi malam aku mendapatkan telpon dari seseorang yang sangat penting bagi pencarian kita selama ini. Assam Bramasta, orang terkaya nomor dua di Indonesia, mengatakan bahwa dirinya telah menciptakan sebuah pusat konservasi untuk makhluk-makhluk cryptid."
Baru beberapa baris kalimat, dan perkataan Irwan sukses memancing pertanyaan di benak setiap anggota rapat. Ruang seketika gaduh. Sejumlah orang meragukan pernyataan barusan.
"Harap tenang." Irwan mengetuk-ngetuk meja. "Untuk membuktikan bahwa ucapannya bukan omong kosong, Assam Bramasta memberi dua tiket bagi kita untuk melakukan studi dan pengambilan data."
"Maaf, Pak. Bagaimana cara kita memastikan pusat konservasi tersebut, jika memang benar, memiliki tingkat keamanan standar untuk makhluk yang bahkan tidak pernah menampakkan diri?"
"Tahan pertanyaanmu, Tirto. Aku ingin menjelaskan mengenai pulau yang ada di depan kita terlebih dahulu. Namanya Mega Jingga, terletak ratusan kilometer sebelah barat laut pulau Jawa. Pulau ini merupakan aset Pemerintah yang didedikasikan untuk kegiatan pelestarian dan pemberdayaan. Dari data yang dikirimkannya, Assam merekrut pekerja profesional terkemuka untuk mengurus keamanan, perawatan pulau, dan teknisi bangunan. Jadi, aku yakin betul pusat konservasi ini aman. Ada pertanyaan lain?"
"Berapa spesies yang ditangkarkan di tempat tersebut?"
"Pertanyaan bagus, Indri. Sayangnya, Assam sengaja merahasiakan hal tersebut. Dia cuma bilang ada lebih dari sepuluh spesies yang didapat dari berbagai negara."
Riza terperangah. Ia yakin cryptozoolog manapun pasti akan terkagum-kagum mengetahui hal ini. Kepalanya mulai membayangkan nama demi nama subjek ekspedisi yang mereka lakukan beberapa tahun belakangan. Veo, Uhung Pandak, Ahool, Batutut, masih banyak lagi. Mungkinkah semua nama tersebut bersarang di Mega Jingga sekarang? Riza jadi super penasaran.
"Maaf, Pak Irwan. Ini mengenai tiket yang kau Anda singgung sebelumnya. Jadi, sudah menentukan siapa yang akan pergi ke sana?" Ridwan, staff bagian pendataan dan pembukuan makhluk cryptid, mengajukan pertanyaan baru.
"Ya. Aku tahu persis orang yang cocok untuk ini. Pertama, kepala bagian ekspedisi dan praktik lapangan kita, Riza Harahap." Telunjuk Irwan bersarang ke arah Riza, bersambut tatapan optimis orang-orang padanya.
Mereka pikir itu keputusan yang tepat. Riza punya reputasi bagus di kantor. Setiap ekspedisi yang dipimpinnya selalu membawa kemajuan, selangkah demi selangkah. Dan, tiket menuju Mega Jingga merupakan puncak dari langkah yang telah dirangkainya selama lima tahun menjabat.
"Selanjutnya, wakil kepala kantor baru kita, Kirana Gissela." Irwan tersenyum, menatap ke luar ruangan. Manakala peserta rapat bertanya-tanya di mana wanita itu, ia langsung menunjuk ke depan. "Dia datang."
Alih-alih wanita, Kirana lebih cocok dipanggil gadis bertalenta. Usianya baru menginjak dua puluh tujuh tahun, tetapi prestasinya mampu mengantarkan gadis itu menjadi orang terpenting nomor dua di kantor. Sesuatu yang mampu membuat Riza takjub.560Please respect copyright.PENANA0Uv7lyZjxG
Namun, tiada pribadi yang sempurna, persis seperti kata Riza. Kirana lemah dalam manajemen waktu. Ia agak ceroboh ketika menyikapi jadwal padat. Barangkali karena usianya yang terlalu muda untuk pekerjaan yang menjadi rebutan banyak orang.
"Duduklah, Kirana." Irwan mempersilakan gadis tinggi semampai itu duduk di samping Riza. Tinggi Riza 168 senti, dan Kirana masih unggul tiga senti darinya.560Please respect copyright.PENANAVoVoiqA0Zr
"Te-terima kasih, Pak," ujarnya canggung.
"Aku akan mengirim semua file terkait pulau ini ke e-mail kalian berdua," tukas Irwan. "Tak ada yang perlu khawatir ketinggalan informasi penting."
~~o0o~~560Please respect copyright.PENANA6MsrwaG75c
Rapat telah berakhir dua menit yang lalu. Riza keluar dari ruangan bersama Irwan dan wakil kepala kantor barunya, Kirana. Mereka asyik membahas rencana keberangkatan ke Mega Jingga.
"Jadwal penerbangannya pukul tujuh. Untuk menghindari keterlambatan, aku akan meminta sopir kantor untuk menjemput kalian lebih awal."
"Pukul tujuh?" ulang Kirana.
"Tepat sekali. Ada masalah?"
"Ti-tidak. Jadwalnya padat sekali, ya?"
"Sebenarnya, bukan jadwalnya yang kita permasalahkan." Irwan mendehem sambil membenarkan posisi dasi hitamnya. "Kita ada di pertengahan Oktober. Jadi...,"
"Kita berlomba dengan badai. Berdasarkan letak geologisnya, pulau tersebut berada dalam jalur badai ganas. Benar, 'kan, Pak Irwan?" Riza memotong.
"Betul. Assam mengatur jadwal penerbangan beberapa jam sebelum badainya tiba. Jangan singgung aku soal penundaan, Kirana." Irwan bisa membaca gelagat Kirana yang hendak protes. "Orang itu memaksa. Dia akan menarik pesawatnya kalau bukan hari Selasa."
"Oh, baiklah. Semoga besok Tuhan memberkatiku." Kirana mendengus pasrah.
Mereka berpisah di depan meja resepsionis. Irwan mengantarkan Kirana naik ke lantai tiga untuk menunjukkan kantor wakil kepala. Sementara itu, Riza bergegas masuk ke mobil. Ia punya daftar panjang sesuatu yang musti dipersiapkan sebelum bertemu impian terbesarnya.
Sebuah jurnal jatuh ketika Riza hendak membongkar isi loker di samping kursi kemudi. Ia tahu persis benda itu. Jurnal cryptozoologi yang harus dibuatnya untuk presentasi kuliah dulu. Sudah lama sekali, dan Riza tergiur membuka kenangan itu lagi.
Tangannya mulai membuka sampul batik buku tersebut. Halaman pertama, ia mendapati klasifikasi tentang Ebu Gogo. Makhluk cryptid yang dipercaya para ilmuwan sebagai "The Missing Link", rantai penghubung evolusi antara manusia dan kera yang menghilang.560Please respect copyright.PENANAX6mQw3SE1Y
"Bukan kera, bukan juga manusia." Riza tersenyum. "Tapi memiliki kecerdasan setingkat di bawah manusia, dan tenaga seperti kera. Keren."
Riza mengembalikan bukunya ke dalam loker, lalu bergegas pulang. Besok adalah hari yang penting, pikirnya.560Please respect copyright.PENANASFn9Kyw2GY
(Bersambung)560Please respect copyright.PENANAemAR08kFPy