Farel Bintang POV1199Please respect copyright.PENANAdNnvEOdKmR
1199Please respect copyright.PENANAFDN5mO5oyC
Pernahkah kalian punya masa lalu yang ingin kalian lupakan? Atau kalian sering terlena dengan masa lalu tatkala teringat ketika kalian menatap hujan. Jika kalian bertanya padaku, aku akan menjawab bahwa aku akan melupakan masa laluku. Masa laluku tidak seperti orang pada umumnya. Banyak lika-liku dan tampak abu-abu. Terlalu banyak kesalahan yang telah kuperbuat.
1199Please respect copyright.PENANAWMaX6VlbLn
Aku dulu pernah punya kekuasaan. Semua orang tunduk dan menghormatiku. Tetapi kenapa hal seperti itu yang ingin kulupakan? Bukannya enak apabila kita bisa mendapatkan semuanya. Selalu ada Rahasia di balik cerita. Tidak kubiarkan seseorangpun yang dapat mengentahuinya. Biarlah ia terpendam oleh kenangan baruku yang lebih baik.
1199Please respect copyright.PENANAM7LYQZyMwf
Kembali ingatan itu terputar olehku. Seseorang mengejarku dengan ganasnya. Bisa kuhitung berapa orang yang berusaha mengejarku. Teman-temanku juga mengikutiku di belakang, mengikuti di mana tempat terbaik untuk lari dari mereka.
1199Please respect copyright.PENANAcZAfJCRN7d
"Woi, jangan lari kau!" teriak mereka di belakang.
1199Please respect copyright.PENANAoSZ3wkIwjJ
"Cepat, jangan sampai kita dapat." Kata temanku sambil melihat ke belakang. Tampak jelas olehku wajah pemberani tak kenal takut itu dipenuhi oleh peluh berlari.
1199Please respect copyright.PENANAQqCYEhvoDe
"Ayo!" kataku memberikan semangat pada kedua teman yang mengikuti di belakangku.
1199Please respect copyright.PENANAAQLMgL7jKY
Akhirnya tempat yang kami tuju telah terlihat. Gedung tak jadi itu akan jadi tempat akhir dari pelarian kami ini.
1199Please respect copyright.PENANABJoWLFrvWM
Kedua temanku berteriak, "Woi, kami sampai." Aku tersenyum saat teman-temanku yang lain membalas senyumku di sana. Belasan murid itu siap tuk memberikan perlindung kepada kami yang sedang dikejar.
1199Please respect copyright.PENANAjvg4ri7FkH
Aku menunduk penat. Bajuku basah oleh peluh yang keluar. Nafasku sungguh tidak beraturan lagi, seakan ingin pingsan dan terbaring di tanah berumput ini.
1199Please respect copyright.PENANAxQhaOBn662
"Ga apa-apa, kau udah sampai di sini. Sekarang biar kami yang mengatasinya." Salah satu temanku menepuk pundakku.
1199Please respect copyright.PENANA0IzzpsVJn5
Aku mengangguk mengerti lalu berputar balik menatap kelima orang yang mengejar kami tadi. Tampak wajah takut mereka menatap kami yang berjumlah belasan orang.
1199Please respect copyright.PENANAbmJe5UQsui
"Awas kau, ya, kita belum selesai!" teriak salah satu dari mereka.
1199Please respect copyright.PENANARU9Yv18TKG
Aku tidak memerdulikannya. Mereka tidak tahu siapa aku. Perlahan tapi pasti, mereka meninggalkan kami.
1199Please respect copyright.PENANAcLpIDOUoLc
Sebuah handphone yang kupegang menjadi alasan kami dikejar oleh mereka. Di ujung mataku, tegak seorang anak berkacamata menyandang tas ranselnya. Baju SMP yang ia pakai tampak rapi seperti anak-anak baik pada umumnya. Badannya cukup tinggi, namun nyalinya tidak menyamai dengan postur tubuhnya.
1199Please respect copyright.PENANAvb12KBWLtg
"Hei, ini punya kau. Kami hampir mati hanya karena mengambil ini dari tangan mereka. Sebaiknya jaga biar nggak dicuri mereka lagi." Aku menyerahkan handphone yang ada di tanganku.
1199Please respect copyright.PENANAuBSks2dIMq
"Baiklah,terima kasih," ucapnya. Nadanya sedikit bergetar. Wajahnya seperti takut kepadaku.
1199Please respect copyright.PENANA2Bg5JjpfnC
"Hahahaha, iya sama-sama. Kau juga teman sekolah kita. Wajib dibantu. Yaudah, pulang sana. Kalian juga," kataku pada belasan temanku yang lainnya.
1199Please respect copyright.PENANAqWo0NiXfju
"Baik Boss!" jawab mereka. Aku hanya tertawa mendengar panggilan mereka padaku. Sebenarnya aku tidak terlalu suka dipanggil seperti itu. Bagiku kami semua sama, tak ada yang menjadi pemimpin di sini.
1199Please respect copyright.PENANAAQp7ACBWOg
Mereka semua meninggalkanku. Aku tetap di situ memandang langit mendung yang bergerak perlahan. Angin terasa begitu kuat menerpa wajahku. Titik demi titik gerimis mulai membasahi tanah. Aku menunggu momen ini.
1199Please respect copyright.PENANA8y3wvhOWLS
"Anu, Siapa nama kau?" tanya anak yang tadi kutolong. Aku menoleh padanya. Wajahnya cukup tampan, namun pembawaannya terlihat sedikit culun.
1199Please respect copyright.PENANANgizrGiEsT
"Apakah itu penting bagi kau?" kataku sambil menadah tangan berusaha menampung hujan gerimis yang turun.
1199Please respect copyright.PENANAj2UX4unPNu
"Tidak, aku hanya bertanya. Aku sangat berterima kasih. Sedang apa kau?" tanya anak itu lagi.
1199Please respect copyright.PENANAflQqVrqIjB
Aku menarik nafas lalu menghembuskannya kembali. Aku senang ketika di tanya apa yang sedang aku lakukan.
1199Please respect copyright.PENANAwHQAAqmbFR
"Menunggu rinai hujan," jawabku. Mataku semakin berbinar menatap awan yang semakin gelap ingin menumpahkan tangisannya.
1199Please respect copyright.PENANAoMv0W0zJV3
"Namaku Azka. Aku hanya ingin berteman dengan kau. Aku pulang dulu," pamitnya lalu pergi. Aku menatap pundaknya yang lebar.
1199Please respect copyright.PENANAx47lbtnRGP
"Hai anak baru, namaku Farel. Kalau ada yang masih berani mengganggu kau, bilang saja padaku karena kau sekarang temanku," kataku sambil tersenyum.
1199Please respect copyright.PENANASsaxFjt51O
"Oh iya, badan kau cukup tinggi. Aku sarankan kau untuk aktif di basket SMP kita," kataku lagi. Ia tampak membalas senyumku. Ia berlari menghindari hujan, sementara aku di situ menatap ke atas memeluk hujan. Baru kali itu seseorang memintaku menjadi temannya.
1199Please respect copyright.PENANA8Vj0qZzZQf
1199Please respect copyright.PENANAV7k4gOpjH8
1199Please respect copyright.PENANAxQcjUjtt1D
1199Please respect copyright.PENANAH9imLB5wHd
1199Please respect copyright.PENANApk8EAEBmyj
1199Please respect copyright.PENANAQzazye1N5g
1199Please respect copyright.PENANAFji9giddJq
1199Please respect copyright.PENANAuS2xLlA68a
1199Please respect copyright.PENANAqLHkr2JJYF
1199Please respect copyright.PENANAfXNZcNWtq2
1199Please respect copyright.PENANA0RwLiBDmQm
1199Please respect copyright.PENANAes3GvyUJti
1199Please respect copyright.PENANARN7257Xfla
1199Please respect copyright.PENANAbNY2wrF6sA
1199Please respect copyright.PENANAX2JMO3qL6g
1199Please respect copyright.PENANAV0OvWtakY9
1199Please respect copyright.PENANAKEcP0WZdyO
1199Please respect copyright.PENANA7D6ZWrx5eC
1199Please respect copyright.PENANAZ3c9184yG0
1199Please respect copyright.PENANAWPXu645zHR
1199Please respect copyright.PENANAEF2il4O4na
1199Please respect copyright.PENANANj5lbrmnwI
1199Please respect copyright.PENANAvM1lE2vyhZ
1199Please respect copyright.PENANAQRfg2ykPXf
1199Please respect copyright.PENANAgsZgNBsArt
1199Please respect copyright.PENANAX9u8qQeULB
1199Please respect copyright.PENANAtqc4grg1n9
Aku kembali lagi ke masa sekarang yang lebih datar bagiku. Terdengar olehku riuh suara murid laki-laki tanpa henti. Sayup-sayup mataku menatap ke depan. Wali kelasku sudah datang, namun berani-beraninya mereka ribut seperti ini, kecuali laki-laki yang hanya berjarak satu bangku kosong di sebelah kananku. Ia hanya memasang tampang cool.
1199Please respect copyright.PENANAVjp14XTpjS
Aku segera membenarkan pandanganku. Di samping Wali Kelasku berdiri seorang wanita. Aku menatap mata bulatnya yang menggemaskan. Bulu matanya lentik lengkap dengan alis tebalnya. Kedua sudut bibirnya melebar membentuk senyum. Pancara manis dari wanita di depan itu tidak bisa kuelakkan. Ia menatapku dan tersenyum dengan ringannya. Aku mengenal wanita itu. Itu wanita bergitar tadi pagi.
1199Please respect copyright.PENANA5Qhpyf42yR
"Hai semua, namaku Alvia," katanya memperkenalkan diri. Tatapannya masih tertuju kepadaku.
1199Please respect copyright.PENANAuE4sDHpA5E
"Alvia, nanti kamu bisa berkenalan dengan mereka semua. Sekarang silahkan duduk," kata Wali Kelas.
1199Please respect copyright.PENANAoJbc6Gvy7f
Langkahnya yang lambat menuju ke meja. Ia tersenyum padaku sekali lagi, namun itu membuatku salah tingkah.
1199Please respect copyright.PENANAu5Vg2GEOx8
"Kau, kan?" tanyaku.
1199Please respect copyright.PENANACAz7j9quwc
"Iya, benar." Ia seketika menjulurkan tangannya padaku. "Namaku Alvia. Namamu siapa?"
1199Please respect copyright.PENANAd1Rev5L76e
Tak ada ekspresi berarti dariku. Aku tak menggapai tangannya. kubiarkan sampai ia menarik tangannya sendiri.
1199Please respect copyright.PENANACWKyQW3IvY
"Oh, kamu belum mau memberitahukan namamu, ya? Semoga kita berteman." Ia mengulum senyum.
1199Please respect copyright.PENANARyNQpQ4qYT
Dibalik senyumnya, kulihat tatapan datar dari orang di sampingnya. Itu lelaki yang sama ketika tatapan itu terlihat saat ia sedang bermain basket tadi pagi. Tatapan yang mengandung kebencian. Seakan ingin menghantamku dengan keras.
1199Please respect copyright.PENANAyFb0Xjluse
Ia benar-benar membenciku.
1199Please respect copyright.PENANAYjIKbUsJJt
***
1199Please respect copyright.PENANAVM40oGB5Dx
ns216.73.216.250da2 

