Aku masih ingat betapa sempurna hidup kami saat itu. Rumah besar di kawasan elite Jakarta
Selatan, dengan halaman luas yang selalu hijau, kolam renang di belakang, dan mobil-mobil
mewah terparkir rapi di garasi. Aku, Farhan, berusia empat puluh dua tahun, sukses menjalankan
bisnis properti yang aku bangun dari nol. Uang bukan lagi masalah. Yang lebih berharga bagiku
adalah istri ku, Siska. Siska... wanita itu adalah alasan aku bangun setiap pagi dengan senyum. Usianya tiga puluh enam, tapi tubuhnya masih seolah milik gadis berusia dua puluh lima. Rambutnya panjang, hitam legam, selalu diikat longgar ke belakang saat di rumah, membiarkan beberapa helai jatuh di pipinya yang
lembut. Matanya besar, berwarna coklat tua, selalu tampak basah seolah baru saja menangis
karena bahagia. Bibirnya penuh, merah alami, dan senyumnya bisa membuat siapa pun terdiam. Tapi yang paling membuatku gila adalah tubuhnya. Payudaranya besar, berat, berbentuk bulat
sempurna, selalu tampak ingin meluap dari bra mana pun yang ia pakai. Putingnya berwarna
coklat muda, sensitif sekali—hanya dengan digosok pelan saja sudah mengeras dan membuatnya
menggigit bibir. Pinggangnya ramping, kontras dengan bokongnya yang montok, kenyal, dan
bergoyang setiap kali ia berjalan. Paha-pahanya tebal, putih, mulus, dan di antara keduanya... vagina yang selalu basah cepat, bibir luarnya plump, berwarna merah muda pucat, dan klitorisnya
menonjol sedikit saat ia terangsang. Aku sudah menghabiskan bertahun-tahun menikmati setiap
inci tubuh itu, dan masih belum pernah merasa kenyang. Kami menikah sudah sebelas tahun. Tidak punya anak, bukan karena tidak bisa, tapi karena kami
lebih memilih kebebasan. Siska bekerja part-time sebagai konsultan interior, tapi sebagian besar
waktunya dihabiskan di rumah. Aku yang selalu sibuk meeting, site visit, dan perjalanan bisnis.
Itulah sebabnya dua tahun lalu aku memutuskan mempekerjakan sopir pribadi. Namanya Rudi. Empat puluh tahun, tinggi seratus delapan puluh lima, tubuhnya kekar karena
dulu pernah jadi satpam dan sedikit berolahraga tinju amatir. Kulitnya gelap, wajahnya tegas
dengan garis rahang yang kuat, dan matanya tajam. Ia datang dari rekomendasi teman, dengan
surat keterangan bersih dan pengalaman mengemudi yang panjang. Aku mewawancarainya di
ruang tamu, sementara Siska duduk di sofa sebelahku, mengenakan gaun rumah berwarna krem
yang longgar tapi tetap menonjolkan lekuk tubuhnya. “Bisa mengemudi manual dan matic, Pak. Sudah terbiasa dengan mobil mewah,” kata Rudi saat
itu, suaranya dalam, tenang. Aku mengangguk, puas. Tapi yang kuingat sampai sekarang adalah cara Siska menatapnya. Bukan
tatapan biasa. Matanya turun sebentar ke dada Rudi yang terlihat kokoh di balik kemeja putih,
lalu kembali ke wajahnya. Hanya sedetik. Tapi cukup membuat sesuatu di dalam diriku bergetar. “Baiklah, Rudi. Mulai Senin depan,” kataku. Sejak hari itu, Rudi datang setiap pagi jam tujuh. Ia mencuci mobil, menyiapkan AC, dan
menunggu di depan. Siska sering keluar rumah untuk menemani aku ke kantor atau pergi sendiri
ke mall, spa, atau meeting klien. Aku tidak pernah curiga. Mengapa harus? Rudi selalu sopan, memanggil Siska dengan “Bu Siska”, membuka pintu mobil dengan hormat, dan jarang berbicara
kecuali ditanya. Tapi perlahan, sesuatu berubah. Aku mulai memperhatikan bagaimana Siska memilih baju saat Rudi yang mengantar. Dulu ia suka
gaun longgar atau celana panjang. Sekarang lebih sering rok pendek, blus tipis, atau legging yang
memeluk bokongnya rapat. Suatu pagi, saat aku masih di kamar mandi, aku mendengar suara
mereka dari dapur. “Kopinya sudah, Bu,” suara Rudi. “Terima kasih. Kau sudah sarapan?” tanya Siska, suaranya lebih lembut dari biasanya. “Sudah, Bu.” Ada jeda. Lalu tawa kecil Siska. “Kau ini terlalu formal. Panggil saja Siska kalau di rumah. Tidak
apa-apa.” Aku keluar dari kamar mandi dengan handuk di pinggang, berdiri di balik pintu dapur yang
terbuka sedikit. Siska berdiri di depan meja, memakai tank top putih tipis dan celana pendek
abu-abu. Payudaranya bergoyang pelan setiap kali ia mengaduk kopi. Rudi berdiri dua meter
darinya, tubuhnya tegap, tapi matanya... matanya sempat turun ke dada Siska sebelum kembali
ke wajahnya. “Baik, Bu... Siska,” katanya, ada sedikit keraguan di suaranya. Siska tersenyum, dan senyum itu berbeda. Lebih hangat. Lebih dalam. Aku masuk ke dapur seolah tidak melihat apa-apa. “Pagi.” Keduanya menoleh. Rudi langsung menunduk sedikit. “Pagi, Pak.” Siska mendekatiku, mencium pipiku. “Pagi, Sayang. Mau kopi?” Aku mengangguk, tapi pikiranku sudah kemana-mana. Sejak hari itu, aku mulai lebih sering
mengamati. Minggu-minggu berlalu. Aku sibuk dengan proyek di luar kota. Kadang tiga hari, kadang seminggu. Setiap kali pulang, Siska menyambutku dengan pelukan hangat dan ciuman yang dalam. Tubuhnya selalu harum, kulitnya lembut, dan di malam hari ia masih sama rewelnya di tempat
tidur. Tapi ada sesuatu yang berbeda di matanya. Seperti ada rahasia kecil yang ia simpan.
Suatu malam, setelah aku pulang dari Bandung, kami duduk di teras belakang. Malam itu sejuk,
lampu taman menyala lembut. Siska memakai kimono sutra hitam yang terbuka di dada, memperlihatkan belahan payudaranya yang dalam. Ia menyandarkan kepala di bahuku. “Farhan,” bisiknya, “Rudi itu orang baik, ya.” Aku tersenyum tipis. “Kenapa tiba-tiba?”
“Hanya... ia selalu tepat waktu. Dan sopan. Kemarin aku lupa bawa dompet ke mall, ia yang
bayarkan dulu. Tidak mau diganti bahkan.” Aku mengusap rambutnya. “Bagang, ia bisa diandalkan.” Siska terdiam sebentar. Jari-jarinya bermain di dadaku. “Tubuhnya juga... kuat sekali. Kemarin aku
minta tolong angkat sofa di ruang tamu, ia angkat sendiri dengan mudah.” Aku menoleh. “Sofa itu berat, Siska.”
“Iya. Tangan dan lengannya... besar.” Ia tertawa kecil, seolah malu. “Aku cuma bilang saja.” Ada getaran aneh di dada ku. Bukan marah. Lebih seperti rasa penasaran yang gelap. Aku
menariknya lebih dekat, mencium keningnya. “Kau memperhatikan itu, ya?” Siska mengangkat wajah, matanya berkilat di bawah cahaya lampu. “Hanya sedikit. Jangan
cemburu.” Aku tertawa, tapi tawa itu terdengar hampa di telingaku sendiri. “Aku tidak cemburu.” Malam itu kami bercinta. Aku mengambilnya perlahan di sofa teras, membuka kimono itu, mengisap payudaranya yang berat sambil jari-jariku masuk ke dalam vagina yang sudah basah. Siska mendesah pelan, memeluk kepalaku, tapi saat ia mencapai orgasme, matanya
semi-tertutup dan namaku yang ia bisikkan terdengar sedikit... jauh. Aku mulai lebih sering bekerja dari rumah. Alasan resmi: ingin lebih dekat dengan istri. Alasan
sebenarnya: ingin melihat. Rudi datang setiap pagi. Siska sering menemaninya di dapur, menyiapkan kopi atau sekadar
mengobrol. Aku duduk di ruang kerja yang menghadap dapur, pintu terbuka. Aku mendengar
suara mereka. “Siska, mobil sudah siap.”
“Sebentar, Rudi. Aku masih pakai lipstick.”
Suatu pagi, Siska keluar dari kamar memakai rok mini denim dan kemeja putih yang dua kancing
atasnya terbuka. Payudaranya hampir tumpah. Ia lewat di depanku, mencium bibirku sebentar. “Aku ke salon, ya. Rudi yang antar.”
“Hati-hati,” kataku. Aku berdiri di jendela lantai dua, mengamati. Rudi membuka pintu mobil belakang. Siska masuk, roknya naik sedikit saat ia duduk, memperlihatkan paha putihnya. Rudi menutup pintu, lalu
berjalan ke sisi pengemudi. Sebelum masuk, ia menoleh ke arah jendela kamarku. Matanya
bertemu denganku. Hanya sedetik. Lalu ia masuk dan menyalakan mesin. Aku tidak tahu apa yang terjadi di dalam mobil itu selama perjalanan ke salon. Tapi saat Siska
pulang empat jam kemudian, wajahnya sedikit memerah, dan ada keringat tipis di lehernya. “Panas sekali hari ini,” katanya sambil melepas sepatu. Aku mendekatinya, memeluk dari belakang, tangan ku naik ke payudaranya yang masih
terbungkus kemeja. “Memang. Atau kau yang kepanasan?” Siska tertawa, menoleh, mencium rahangku. “Jangan nakal. Rudi masih di luar.”
“Biarkan saja.” Aku memutar tubuhnya, mencium bibirnya dalam-dalam. Lidahku masuk, mencari. Siska
membalas, tapi ada sesuatu yang berbeda di caranya merespons. Lebih agresif. Lebih lapar. Malam itu, setelah Rudi pulang, kami makan malam berdua. Siska minum wine lebih banyak dari
biasanya. Pipinya merah. Ia duduk di pangkuanku di sofa, roknya sudah naik ke pinggang. “Farhan,” bisiknya di telingaku, “kau pernah membayangkan aku dengan pria lain?” Aku kaku. Jantungku berdetak kencang. “Kenapa tanya begitu?”
Ia menggigit cuping telingaku pelan. “Hanya penasaran. Kadang aku berpikir... bagaimana rasanya. Tubuh yang berbeda. Tangan yang lebih kasar. Suara yang lebih dalam.” Aku menelan ludah. “Dan kau membayangkan siapa?” Siska diam. Jari-jarinya bermain di kancing celanaku. “Tidak ada. Hanya... umum saja.” Tapi aku tahu. Aku bisa merasakan getaran di tubuhnya saat ia mengucapkan kata-kata itu.
Malam itu aku mengajaknya ke kamar. Aku merebahkannya di ranjang, membuka semua
pakaiannya perlahan. Aku mengagumi tubuh telanjangnya di bawah cahaya lampu tidur yang
redup. Payudara besar itu jatuh ke samping, putingnya sudah mengeras. Perutnya rata, pusarnya
dangkal. Dan di bawah, vagina yang sudah mengkilap, bibir luarnya sedikit terbuka. Aku mencium setiap inci. Dari leher, turun ke dada, mengisap puting kiri lalu kanan sambil tangan
ku mengucek klitorisnya. Siska mengerang, kaki-kakinya terbuka lebar. Aku masukkan dua jari, mencari titik yang biasa membuatnya gila. Ia basah sekali. Lebih basah dari biasanya. “Farhan... lebih dalam,” desahnya. Aku menuruti. Jari-jariku bergerak cepat, ibu jari ku menekan klitoris. Mulutku tetap di
payudaranya, menggigit pelan. Siska mencapai orgasme pertama dengan tubuh yang gemetar, cairan membasahi tanganku. Aku tidak berhenti. Aku turun, lidahku menggantikan jari, menjilat
dari bawah ke atas, masuk ke dalam, menghisap klitorisnya. Siska memegang rambutku, mendorong kepalaku lebih dalam. “Ya... begitu... jangan berhenti...”
Ia orgasme kedua kali, kali ini lebih keras, paha-pahanya menjepit kepalaku. Aku naik, membuka
celana, memasukkan penis ku yang sudah sangat keras. Aku menyerang perlahan dulu, lalu
semakin cepat. Siska memelukku, kukunya mencakar punggungku. Tapi di tengah-tengah, saat aku sedang dalam, matanya terbuka. Ia menatap langit-langit, dan
bibirnya bergerak membentuk kata yang tidak bersuara. Aku tidak bisa membaca, tapi aku bisa
menebak. Setelah kami selesai, Siska berbaring di dadaku, napasnya masih terengah. Aku mengusap
punggungnya yang basah oleh keringat. “Siska,” kataku pelan, “kalau suatu hari kau ingin mencoba sesuatu yang berbeda... kau bisa
bilang padaku.”
Ia mengangkat kepala. Matanya mencari mataku. “Maksudmu?”
“Aku tidak tahu. Hanya... aku melihat caramu memandang Rudi kadang-kadang.” Siska kaku. “Farhan—”
“Aku tidak marah,” potongku cepat. “Justru... ada bagian diriku yang... penasaran.” Keheningan mengisi kamar. Hanya suara AC dan detak jantung kami yang bersatu. Siska mengusap dadaku. “Kau serius?”
Aku mengangguk pelan. “Aku tidak tahu sampai mana. Tapi aku tidak bisa berpura-pura tidak
melihat.”
Ia tersenyum kecil, tapi senyum itu penuh arti. “Rudi... ia pernah bilang sesuatu padaku minggu
lalu.”
Jantungku berhenti sejenak. “Apa?”
“Saat mengantar aku dari spa. Ia bilang... aku cantik sekali hari itu. Dan... ia minta maaf karena
bilang begitu. Tapi matanya... Farhan, matanya lapar.” Aku menarik napas dalam. “Dan kau?” Siska menelan. “Aku... basah. Di dalam mobil. Hanya karena kata-kata itu.” Kami saling menatap lama. Tidak ada yang berbicara. Tapi sesuatu telah berubah di antara kami. Sebuah pintu yang semi-terbuka, dan angin gelap yang mulai masuk. Keesokan harinya, Rudi datang seperti biasa. Aku sengaja duduk di ruang tamu saat Siska
menyiapkan kopinya. Siska memakai daster tipis berwarna biru muda yang hampir transparan di
bawah sinar matahari pagi. Bentuk payudaranya jelas, putingnya sedikit terlihat. Bokongnya
bergoyang saat ia berjalan ke dapur. Rudi berdiri di pintu dapur, menunggu. Aku melihat dari sudut mata. Mata Rudi tidak bisa lepas
dari tubuh Siska. Ia menelan ludah, tangan kanannya mengepal di samping tubuh. Siska menyerahkan kopi. Jari-jari mereka sempat bersentuhan. Siska tidak menarik tangan. Ia
membiarkan kontak itu bertahan satu detik lebih lama. “Terima kasih, Rudi,” katanya, suaranya rendah. “Sama-sama... Siska.” Aku berdiri, berjalan mendekat. “Rudi, hari ini aku kerja dari rumah. Kau bisa antar Siska ke mana
pun ia mau.” Rudi menoleh, wajahnya tenang tapi ada ketegangan di bahunya. “Baik, Pak.” Siska menatapku, matanya bertanya. Aku hanya tersenyum tipis. Siang itu, Siska pergi dengan Rudi. Katanya mau ke supermarket dan mampir ke toko kain. Aku
tidak ikut. Aku duduk di rumah, mencoba bekerja, tapi pikiranku hanya pada mereka berdua di
dalam mobil.
Tiga jam kemudian mereka pulang. Siska masuk lebih dulu, wajahnya sedikit berkilau. Rudi
membawa belanjaan ke dapur. Aku mendengar suara mereka lagi. “Kau yakin tidak apa-apa, Siska?” suara Rudi, lebih pelan dari biasanya. “Apa?”
“Tadi... di mobil. Aku tidak bermaksud—”
“Tidak apa-apa,” potong Siska cepat. “Aku yang mulai.” Aku berdiri diam di balik dinding. Jantungku berdegup kencang. “Aku hanya bilang kau terlihat... sangat cantik hari ini,” kata Rudi. “Dan... bau parfummu.” Siska tertawa pelan, tapi tawa itu bergetar. “Rudi... kau membuatku malu.”
“Maaf.”
“Jangan minta maaf. Aku... suka.” Keheningan. Lalu suara langkah kaki. Aku peep sedikit. Siska berdiri sangat dekat dengan Rudi. Jarak mereka kurang dari setengah meter. Payudara Siska hampir menyentuh dada Rudi. Rudi
menunduk sedikit, seolah ingin mencium, tapi menahan diri. “Pak Farhan di rumah,” bisik Rudi. “Aku tahu.” Mereka berpisah saat aku masuk seolah tidak mendengar apa-apa. Siska tersenyum padaku, terlalu cerah. Rudi menunduk, keluar ke garasi. Malam itu, Siska lebih diam dari biasanya. Kami duduk di sofa, film diputar tapi tidak ada yang
benar-benar menonton. Tanganku di pahanya, naik pelan ke bawah rok. “Farhan,” katanya tiba-tiba, “tadi di mobil... Rudi memegang pahaku.” Aku menoleh. “Bagaimana?”
“Saat lampu merah. Tangannya di gear, lalu pindah ke pahaku. Ia usap pelan. Aku tidak menolak. Aku bahkan... membuka kaki sedikit.” Aku merasakan penis ku mengeras di dalam celana. “Dan kemudian?”
“Ia naikkan tangannya ke dalam rok. Hanya sampai tengah paha. Lalu lampu hijau, ia tarik tangan. Tapi basahku... sudah terasa di celana dalam.” Aku menarik napas. “Kau ingin ia lanjut?” Siska menatapku lama. Lalu mengangguk pelan. “Ya. Aku ingin.” Aku menciumnya, dalam, lapar. “Besok... biarkan saja. Aku akan di rumah. Tapi aku tidak akan
mengganggu.” Siska memelukku erat. “Kau yakin?”
“Aku ingin melihat bagaimana kau menikmatinya.” Malam itu kami tidak bercinta. Kami hanya berbaring berpelukan, tubuh Siska menempel erat di
tubuhku, napasnya hangat di leherku. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang cepat. Aku tahu
ia membayangkan tangan Rudi, tubuh Rudi, suara Rudi. Pagi berikutnya, Rudi datang. Siska sudah siap lebih awal. Ia memakai gaun musim panas
berwarna putih yang tipis, tanpa bra. Payudaranya bergoyang bebas setiap langkah. Roknya
pendek, hanya sampai pertengahan paha. Aku duduk di ruang tamu, pura-pura membaca koran. Siska pergi ke dapur. Aku mendengar: “Pagi, Rudi.”
“Pagi, Siska. Gaunmu... bagus sekali.”
“Terima kasih. Kau suka?”
Jeda. Lalu suara Rudi yang serak, “Sangat.” Siska tertawa pelan. “Hari ini aku tidak ke mana-mana. Hanya di rumah. Tapi kau tetap di sini, ya. Farhan bilang boleh.”
“Baik.” Aku menunggu. Satu jam. Dua jam. Siska dan Rudi ada di dapur, berbicara pelan. Aku mendengar
tawa Siska lebih sering. Lalu keheningan yang lebih panjang. Aku berdiri, berjalan pelan ke arah dapur. Pintu setengah terbuka. Aku melihat. Siska duduk di meja dapur. Rudi berdiri di depannya, sangat dekat. Tangan Rudi ada di pinggang
Siska. Siska menatap ke atas, ke wajah Rudi, bibirnya sedikit terbuka. “Siska...” suara Rudi rendah sekali. “Cium saja,” bisik Siska. Rudi menunduk. Bibir mereka bertemu. Pelan dulu, lalu semakin dalam. Tangan Rudi naik ke
payudara Siska, meremas di atas kain tipis. Siska mengerang ke dalam mulut Rudi, tangannya
memegang lengan kekar Rudi. Aku berdiri diam, penis ku sudah sangat keras, menekan celana. Aku tidak masuk. Aku hanya
menonton. Ciuman mereka semakin panas. Lidah saling berkelit. Rudi mendorong tubuh Siska ke meja, berdiri di antara kakinya yang terbuka. Tangan kanannya masuk ke bawah rok, dan dari cara Siska
mendongak dan menutup mata, aku tahu jari-jari itu sudah menyentuh celana dalamnya. “Basah sekali,” gumam Rudi. “Karena kau,” jawab Siska, suaranya putus-putus. Rudi menarik celana dalam Siska ke samping. Aku melihat jari tebalnya menggosok celah basah
itu, lalu masuk satu, dua. Siska memegang tepi meja, kepala terlempar ke belakang. “Rudi... pelan...” Tapi Rudi tidak pelan. Jari-jarinya bergerak cepat, dalam, mencari. Ibu jarinya menekan klitoris. Siska mulai menggeliat, desahannya semakin keras. “Aku... aku hampir...” Rudi mencium lehernya, menggigit pelan. “Keluar saja. Di tanganku.” Siska orgasme dengan tubuh yang kejang, cairan membasahi tangan Rudi dan meja. Ia gemetar
lama, napasnya tak teratur. Rudi menarik jari-jarinya, mengangkatnya ke mulut, menjilat. Siska menonton dengan mata sayu. “Enak,” kata Rudi sederhana. Siska tersenyum, masih terengah. “Sekarang... giliranmu.”
Ia turun dari meja, berlutut di depan Rudi. Tangannya membuka resleting celana Rudi dengan
tergesa. Penis Rudi keluar, besar, gelap, urat-uratnya menonjol, sudah menetes di ujung. Siska
menatapnya sejenak, lalu membuka mulut, memasukkan kepala penis itu. Aku menelan ludah. Siska menghisap, kepala bergerak maju-mundur, tangan memegang pangkal
yang tidak masuk. Rudi memegang rambut Siska, tidak memaksa, hanya menuntun. “Dalam sedikit...” gumam Rudi. Siska menurut, menelan lebih dalam sampai terbatuk sedikit, air mata di sudut matanya, tapi ia
tidak berhenti. Ia menghisap dengan lapar, ludahnya membasahi batang, bunyi basah memenuhi
dapur. Aku tidak tahan lagi. Aku membuka celana ku sendiri, memegang penis ku, mengocok pelan
sambil terus menonton. Siska melepaskan mulutnya, lidahnya menjilat dari bawah ke atas, lalu menghisap telur Rudi
sambil tangan terus bergerak di batang. Rudi mengerang, kepala terlempar ke belakang. “Siska... mulutmu...” Siska tersenyum, memasukkan lagi, kali ini lebih dalam, lebih cepat. Air liurnya menetes ke dagu. Rudi mulai mendorong pinggul, menyetubuhi mulutnya pelan. Aku melihat Siska memasukkan tangan ke bawah gaunnya sendiri, mengucek klitoris sambil terus
menghisap. Ia ingin orgasme lagi. Tiba-tiba Rudi menarik kepala Siska, penisnya keluar dari mulut dengan bunyi “plop”. “Cukup. Aku ingin di dalam.” Siska berdiri, membalik tubuh, menempelkan tangan di meja, mendorong bokongnya ke belakang. Rudi menyingkap gaun putih itu ke pinggang, menarik celana dalam ke bawah sampai lutut. Bokong Siska yang montok terekspos sepenuhnya, vagina basahnya mengkilap, sedikit terbuka. Rudi memegang penisnya, menggosokkan kepala di celah basah itu, naik-turun, membasahi. Siska
menggigit bibir, menunggui. “Masukkan...” desahnya. Rudi mendorong. Kepala masuk, lalu batang. Perlahan, sampai seluruhnya tertelan. Siska
mengerang panjang, kepala tertunduk. “Besar... Rudi... penuh sekali...” Rudi mulai bergerak. Pelan dulu, menarik hampir keluar, lalu menusuk dalam. Setiap hentakan
membuat payudara Siska bergoyang di bawah gaun. Bunyi kulit bertemu kulit memenuhi dapur. Aku mengocok lebih cepat, mata tidak berkedip. Rudi memegang pinggang Siska, semakin cepat. “Siska... rapat sekali...”
“Lebih keras,” pinta Siska. “Aku suka kasar...” Rudi menurut. Ia memukul bokong Siska sekali, dua kali, membuatnya merah. Lalu memegang
rambutnya, menarik kepala ke belakang sambil terus menghentak. Siska menjerit pelan, tapi
bukan sakit. Kenikmatan. “Iya... begitu... hancurkan aku...
7261Please respect copyright.PENANA3E9OBEy3kK
Kelanjutannya ada link di bawah ini


