Rumah itu berdiri di ujung gang kecil yang sunyi, dindingnya dicat krem kusam dengan beberapa bagian yang sudah mengelupas karena hujan musim kemarin. Aku sudah tinggal di sini sejak kecil, bersama Ibu. Ayah meninggal ketika aku masih duduk di bangku SD, dan sejak itu hanya kami berdua yang menghuni rumah berlantai satu dengan tiga kamar, dapur kecil, dan ruang tamu yang selalu terasa lebih lega dari seharusnya. Aku sudah dua puluh tiga tahun, bekerja di sebuah toko spare part motor tidak jauh dari sini, pulang setiap sore dengan bau oli yang menempel di baju. Tapi setiap kali melangkah masuk ke rumah, yang pertama kali aku cari adalah sosok Ibu.
3525Please respect copyright.PENANAGULdAgNrnh
Ibu bernama Laras. Usianya empat puluh dua, tapi tubuhnya tidak pernah menunjukkan angka itu. Rambutnya hitam panjang, selalu diikat longgar di tengkuk, beberapa helai yang lepas jatuh di sisi wajah yang masih mulus. Matanya hitam dalam, sering menatapku dengan lembut yang membuat dada ku sesak. Dan tubuhnya… Tuhan, tubuhnya. Bahu yang ramping, pinggang yang masih ramping meski pernah melahirkan, dan payudara yang besar, padat, selalu terdorong ke depan setiap kali ia memakai kaos rumah yang agak ketat. Aku tahu bentuknya. Aku sudah melihatnya berkali-kali dari balik celah pintu kamar mandi, dari cermin yang memantulkan siluetnya ketika ia berganti baju di kamar, dari cara kaos putihnya basah oleh keringat ketika ia menyapu halaman di siang hari. Putingnya menonjol jelas di balik kain tipis, bulat, gelap, seolah selalu menantang untuk disentuh. Bokongnya montok, bergoyang pelan setiap langkah, dan kakinya panjang, pantatnya naik turun ketika ia membungkuk membersihkan lantai.
3525Please respect copyright.PENANAefe7FAj16V
Aku mencintainya. Bukan sekadar cinta anak kepada ibu. Lebih dari itu. Setiap malam aku berbaring di kamarku, tangan bergerak sendiri di bawah selimut, membayangkan tubuhnya, membayangkan suara desahannya, membayangkan betapa basahnya di antara kedua kakinya. Aku tahu itu salah. Aku tahu. Tapi tidak pernah sekali pun aku berhasil menghentikan perasaan itu.
3525Please respect copyright.PENANA8WaVhjI65N
Pagi itu, seperti biasa, aku bangun lebih awal. Bau kopi sudah memenuhi rumah. Ibu berdiri di dapur, memakai daster biru muda yang longgar di atas, tapi ketat di bagian dada. Payudaranya bergerak pelan setiap kali ia mengaduk gula di gelas. Aku berdiri di ambang pintu dapur, menatap punggungnya, menatap lekuk pinggangnya yang terlihat jelas karena daster itu menempel di kulit.
3525Please respect copyright.PENANAksq09zvHNw
“Sudah bangun, Nak?” suaranya lembut, tanpa menoleh.
3525Please respect copyright.PENANAQo6ysKyehe
“Iya, Bu.” Aku berjalan mendekat, mengambil gelas yang sudah disiapkan. Jari-jariku hampir menyentuh jari-jarinya ketika ia menyerahkan gelas itu. Hangat. “Malam tadi Ibu tidur nyenyak?”
3525Please respect copyright.PENANAj3U4MP784a
Ia tersenyum kecil. “Lumayan. Kamu sendiri? Kerja lagi sampai malam?”
3525Please respect copyright.PENANA2NocYjX8mk
“Iya. Ada orderan banyak.” Aku duduk di kursi kayu di dekat meja makan, meminum kopi sambil terus memperhatikan gerakan tangannya. Ia memotong pisang untuk sarapan, jari-jarinya panjang, kuku dipotong pendek, kulitnya lembut. Aku membayangkan jari-jari itu menyentuh tubuhku, atau lebih buruk, menyentuh tubuh orang lain.
3525Please respect copyright.PENANA5RMUkUSrt6
“Hari ini tetangga sebelah mau mampir,” kata Ibu tiba-tiba, masih memotong pisang. “Pak Aryo. Katanya mau bantu memperbaiki pagar belakang yang sudah miring.”
3525Please respect copyright.PENANACtL1OzWD0A
Aku menelan ludah. Pak Aryo. Laki-laki berumur empat puluh lima yang tinggal di rumah di seberang gang. Janda, atau mungkin belum menikah lagi, aku tidak pernah bertanya. Tubuhnya tinggi, bahu lebar, kulit sawo matang, rambut agak pendek dengan sedikit uban di pelipis. Ia sering lewat di depan rumah, menyapa Ibu dengan senyum yang terlalu lama. Aku sudah melihat cara matanya turun ke dada Ibu, ke pinggang, ke kaki. Aku membencinya. Tapi sekaligus… ada sesuatu yang aneh di dadaku setiap kali aku membayangkan mereka berdua.
3525Please respect copyright.PENANAw5eAAgaj71
“Kenapa harus dia?” tanyaku, mencoba terdengar biasa saja. “Bisa aku saja yang perbaiki.”
3525Please respect copyright.PENANAwvtT4YwTdE
Ibu menoleh, senyumnya lembut. “Kamu kerja, Nak. Pak Aryo sudah tawarkan sendiri kemarin sore. Katanya dia punya peralatan lengkap. Lagipula, pagar itu sudah miring sejak hujan besar minggu lalu. Takutnya jatuh.”
3525Please respect copyright.PENANAL7MErk6QwR
Aku mengangguk, tapi di dalam kepala, pikiran-pikiran kotor sudah mulai berputar. Aku membayangkan Ibu berdiri di samping pagar, dasternya digulung sedikit karena panas, payudaranya berayun ketika ia berbicara, dan Pak Aryo yang berdiri terlalu dekat, matanya tidak pernah lepas dari tubuh Ibu.
3525Please respect copyright.PENANAoU9moOz7fx
Setelah sarapan, aku berangkat kerja. Tapi sepanjang hari pikiranku tidak pernah lepas dari rumah. Setiap kali ada waktu luang, aku membayangkan Ibu di rumah sendirian, menunggu kedatangan tetangga itu. Aku membayangkan cara Ibu tersenyum, cara ia menawarkan minuman, cara tubuhnya bergerak ketika ia membungkuk mengambil sesuatu dari lemari bawah.
3525Please respect copyright.PENANAmVUF3QWZgO
Sore hari, aku pulang lebih cepat dari biasanya. Jalan kaki dari toko hanya butuh dua puluh menit, tapi rasanya seperti satu jam. Ketika aku masuk gang, aku melihat motor bebek hitam milik Pak Aryo terparkir di depan rumah. Pintu rumah terbuka. Aku melangkah pelan, hati berdebar kencang.
3525Please respect copyright.PENANATRrxMUW8nh
Dari ruang tamu, aku mendengar suara tawa Ibu. Lembut, sedikit lebih tinggi dari biasanya. Lalu suara laki-laki yang dalam, rendah.
3525Please respect copyright.PENANAvM1IbkArJ1
“Sudah, Bu Laras. Pagarnya sudah kokoh sekarang. Tinggal dicat saja nanti.”
3525Please respect copyright.PENANA7e5x5G91wI
“Terima kasih banyak, Pak Aryo. Sudah susah-susah datang.”
3525Please respect copyright.PENANAAw3edgkBQ0
Aku berdiri di belakang pintu yang setengah terbuka, mengintip. Ibu berdiri di dekat sofa, masih memakai daster biru itu. Tapi sekarang dasternya agak basah di bagian dada, mungkin karena keringat. Putingnya menonjol jelas, dua titik gelap yang menekan kain. Pak Aryo berdiri di hadapannya, tinggi, badan tegap, kaos hitamnya menempel di dada yang bidang. Matanya… matanya menatap langsung ke dada Ibu, tidak malu-malu.
3525Please respect copyright.PENANArluNISsF3C
“Tidak apa-apa,” kata Pak Aryo. “Kalau ada yang lain yang perlu dibantu, bilang saja. Aku sering di rumah.”
3525Please respect copyright.PENANAisEBkoQwfA
Ibu tersenyum, jari-jarinya memegang ujung lengan daster, seolah tidak tahu harus ditaruh di mana. “Nanti kalau pagar sudah dicat, mungkin bisa bantu lagi. Aku tidak terlalu kuat mengangkat kaleng cat.”
3525Please respect copyright.PENANADitAvlvrza
“Tentu.” Pak Aryo mengangguk, lalu melangkah sedikit lebih dekat. “Bu Laras sendirian di rumah terus ya? Anaknya kerja?”
3525Please respect copyright.PENANA4wZLvVam5o
“Iya. Dia pulang sore.”
3525Please respect copyright.PENANALiHq6DbQfM
Aku menahan napas. Ada sesuatu di nada suara Ibu. Sedikit lebih pelan, sedikit lebih… hangat.
3525Please respect copyright.PENANALYWkUxVDXG
Pak Aryo mengangguk lagi. “Kalau begitu, aku permisi dulu. Terima kasih sudah dijamu kopi.”
3525Please respect copyright.PENANAEHPil1JwFL
Ia berjalan ke pintu. Aku cepat-cepat mundur ke samping, bersembunyi di balik dinding. Pak Aryo keluar, melihatku, lalu tersenyum tipis.
3525Please respect copyright.PENANAcijHYKlaOO
“Oh, anaknya sudah pulang. Halo.”
3525Please respect copyright.PENANATjU1g1D3AY
Aku hanya mengangguk kaku. Ia naik motor dan pergi. Aku masuk rumah. Ibu sedang membersihkan meja.
3525Please respect copyright.PENANAn5Kc3I7aT0
“Sudah pulang, Nak?” tanyanya tanpa menoleh.
3525Please respect copyright.PENANAFNV1iVCLRr
“Iya. Pagarnya sudah beres?”
3525Please respect copyright.PENANAKDUz18s9MW
“Sudah. Pak Aryo cepat sekali kerjanya.” Ibu berdiri tegak, menyeka tangan di kain. Dada bergerak. Aku menatap, tidak bisa lepas. “Kamu lapar? Nasi sudah siap.”
3525Please respect copyright.PENANAItTecg2xmy
Malam itu kami makan bersama seperti biasa. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Ibu lebih sering tertawa ketika aku bercerita tentang kerjaan. Matanya lebih sering bertemu denganku. Dan setiap kali ia membungkuk mengambil something dari lantai, dasternya terbuka sedikit di bagian dada, memperlihatkan lekukan payudara yang dalam.
3525Please respect copyright.PENANAhw3ha5to8z
Setelah makan, Ibu duduk di sofa, menyetrika baju. Aku duduk di kursi di seberangnya, pura-pura membaca koran, tapi mataku tidak pernah lepas dari gerakan tangannya. Setiap kali ia mengangkat tangan, payudaranya naik. Setiap kali ia menghela napas, dada mengembang.
3525Please respect copyright.PENANAu4P6050qUT
“Kenapa terus melihat Ibu?” tanyanya tiba-tiba, tanpa mengangkat kepala dari setrika.
3525Please respect copyright.PENANADz2e8gCMEn
Aku kaget. “Tidak… hanya… Ibu kelihatan lelah.”
3525Please respect copyright.PENANA1VkznZ7vPr
Ia tersenyum. “Tidak lelah. Hanya panas sedikit.” Ia meletakkan setrika, lalu menarik kerah daster sedikit ke bawah, mengipasi dada. Aku melihat jelas kulit putih di atas payudara, lekukan yang dalam, dan bayangan puting yang gelap di balik kain.
3525Please respect copyright.PENANAVFWRNjTibt
Aku menelan ludah. “Ibu… kenapa tidak ganti baju yang lebih longgar?”
3525Please respect copyright.PENANAC72SQdZ2vn
“Ini sudah longgar,” jawabnya pelan. Lalu ia menatapku. Lama. “Atau kamu yang merasa tidak nyaman melihat Ibu seperti ini?”
3525Please respect copyright.PENANAaMueetnyLw
Jantungku berdegup kencang. “Tidak. Tidak sama sekali.”
3525Please respect copyright.PENANAnElztPJ0e9
Ia tersenyum lagi, lebih dalam. “Bagus. Ibu juga tidak merasa tidak nyaman.”
3525Please respect copyright.PENANAWei8c0TFsM
Malam itu, setelah Ibu masuk kamar, aku berdiri di depan pintu kamarnya yang terbuka sedikit. Cahaya lampu kamar menyinari tubuhnya. Ia sedang membuka daster. Aku melihat punggungnya yang mulus, garis tulang belakang, lalu ketika daster jatuh, bokongnya yang montok, padat, kulitnya putih. Ia memakai bra hitam dan celana dalam yang sama. Payudara besar tertahan di dalam bra, hampir tumpah. Ia melepas bra. Payudara jatuh bebas, berat, putingnya gelap, menegang karena udara dingin. Aku menggigit bibir, tangan sudah di celana, memegang kejantananku yang sudah keras.
3525Please respect copyright.PENANAhoHGc3tk7r
Ia berbalik, seolah merasakan ada yang melihat. Matanya bertemu denganku dari celah pintu. Ia tidak berteriak. Tidak menutup pintu. Hanya berdiri di sana, payudara telanjang, menatapku beberapa detik yang terasa seperti selamanya. Lalu ia pelan-pelan menutup pintu.
3525Please respect copyright.PENANAsHW26o4H8P
Aku kembali ke kamarku, napas tersengal. Malam itu aku tidak bisa tidur. Setiap kali memejamkan mata, yang muncul adalah puting Ibu yang gelap, bokongnya yang montok, dan cara ia menatapku tanpa marah.
3525Please respect copyright.PENANASUWf0guOyZ
Keesokan harinya, Pak Aryo datang lagi. Katanya mau mengecat pagar. Aku berangkat kerja dengan hati yang berat. Sepanjang hari aku membayangkan mereka berdua di rumah. Membayangkan Ibu menawarkan minuman, membungkuk, payudara bergoyang. Membayangkan tangan Pak Aryo “tidak sengaja” menyentuh pinggang Ibu.
3525Please respect copyright.PENANAasRZjmuccx
Sore hari, aku pulang lebih cepat lagi. Motor Pak Aryo masih di depan. Pintu rumah tertutup. Aku masuk pelan, sepatu dilepas diam-diam. Dari ruang tamu kosong. Suara mereka datang dari dapur.
3525Please respect copyright.PENANAotIK1O0x8R
“…jadi kalau buang air, tinggal di sini saja,” kata Ibu.
3525Please respect copyright.PENANAO8NBHWjTHD
“Terima kasih, Bu Laras. Tangan saya kotor sekali.”
3525Please respect copyright.PENANAelJgF2PHX9
Aku mengintip dari balik dinding. Ibu berdiri di dekat wastafel, memegang handuk. Pak Aryo mencuci tangan. Ketika ia mengeringkan tangan, handuk itu jatuh. Ibu membungkuk mengambilnya. Dasternya terbuka di depan, payudara hampir keluar. Pak Aryo menatap, tidak bergerak.
3525Please respect copyright.PENANAxxpOOGP5Pr
“Maaf,” kata Ibu, berdiri lagi, wajah sedikit merah.
3525Please respect copyright.PENANA1CELX4zEvA
“Tidak apa-apa,” jawab Pak Aryo, suaranya lebih dalam. “Bu Laras… tubuhnya masih bagus sekali untuk umur segini.”
3525Please respect copyright.PENANApczsV6sZnr
Ibu terdiam. Jari-jarinya memegang ujung handuk. “Pak Aryo… jangan bilang seperti itu.”
3525Please respect copyright.PENANA3upAYcmudv
“Kenapa? Ini pujian. Aku jujur.” Ia melangkah satu langkah lebih dekat. “Setiap kali lewat depan rumah, aku selalu melihat Bu Laras. Cantik. Montok. Aku tidak bisa tidak memikirkan.”
3525Please respect copyright.PENANAxH9i9IaU41
Ibu menggigit bibir bawah. “Pak… anak saya bisa pulang kapan saja.”
3525Please respect copyright.PENANAe8WanB6MrS
“Dia kerja sampai sore, kan?” Pak Aryo mengulurkan tangan, jari-jarinya menyentuh lengan Ibu, naik pelan ke bahu. “Aku hanya ingin… dekat sedikit.”
3525Please respect copyright.PENANAdY85FCwX13
Ibu tidak menolak. Tubuhnya kaku, tapi tidak mundur. Pak Aryo semakin dekat. Tangan yang lain naik ke pinggang Ibu, menekan pelan. Ibu menghela napas. Dada naik turun cepat.
3525Please respect copyright.PENANAYixhng6wf5
Aku berdiri di belakang dinding, kejantananku sudah keras di dalam celana. Aku ingin masuk, ingin menghentikan. Tapi kaki tidak bergerak. Aku ingin melihat.
3525Please respect copyright.PENANAREsOIxnu2O
Tangan Pak Aryo naik lebih tinggi, menyentuh sisi payudara Ibu di luar daster. Ibu menggigit bibir, mata terpejam. “Pak… jangan…”
3525Please respect copyright.PENANAPuePfouqMa
“Tubuhnya hangat,” bisik Pak Aryo. “Aku sudah lama ingin menyentuh ini.”
3525Please respect copyright.PENANAygH9Y9jM3S
Jari-jarinya memijat pelan, merasakan berat payudara di balik kain. Puting Ibu sudah menegang, terlihat jelas. Pak Aryo menggesek puting itu dengan ibu jari. Ibu mengerang pelan, suara yang membuat darahku mendidih.
3525Please respect copyright.PENANAHUcaZWNEkc
“Lihat, sudah mengeras,” kata Pak Aryo. “Bu Laras juga menginginkannya, kan?”
3525Please respect copyright.PENANAEAos6flToa
Ibu membuka mata, menatapnya. Ada rasa bersalah di sana, tapi juga keinginan. “Ini salah…”
3525Please respect copyright.PENANAaAlWV0mmab
“Tidak ada yang tahu.” Pak Aryo membungkuk, bibirnya mendekati telinga Ibu. “Aku bisa membuat Bu Laras basah hanya dengan tangan.”
3525Please respect copyright.PENANAOWkzlcttDS
Tangan yang di pinggang turun, meraba bokong Ibu di luar daster, memijat, menarik tubuh Ibu lebih dekat. Pinggul mereka saling menempel. Aku melihat jelas tonjolan di celana Pak Aryo menekan perut Ibu.
3525Please respect copyright.PENANAsvkcBvUW5e
Ibu meletakkan tangan di dada Pak Aryo, seolah ingin mendorong, tapi jari-jarinya malah mencengkeram kaos. “Pak Aryo… tolong… jangan di sini…”
3525Please respect copyright.PENANAXrShD2LU0r
“Di kamar saja?” bisik Pak Aryo.
3525Please respect copyright.PENANAnOwKPQsPQt
Ibu terdiam lama. Napasnya cepat. Lalu, pelan, ia mengangguk.
3525Please respect copyright.PENANAjpTFqOCOEZ
Mereka berjalan ke kamar Ibu. Pintu tidak ditutup rapat. Aku mengikuti diam-diam, berdiri di lorong, mengintip dari celah.
3525Please respect copyright.PENANAgxnFvg0iCt
Di dalam, Pak Aryo sudah menarik Ibu ke pelukannya. Bibir mereka bertemu. Ciuman yang dalam, lidah saling membelit. Tangan Pak Aryo sudah di bawah daster, meraba paha Ibu, naik ke bokong, memijat daging montok itu. Ibu mengerang ke dalam mulutnya.
3525Please respect copyright.PENANACvLGI0dIiU
Mereka jatuh ke tempat tidur. Pak Aryo menaikkan daster Ibu sampai ke pinggang. Celana dalam hitam basah di bagian tengah. Ia menarik celana itu turun. Vagina Ibu sudah mengkilap, bibirnya merah, sedikit terbuka. Pak Aryo menggesek jari di celah itu.
3525Please respect copyright.PENANA7YCbrKlNsa
“Sudah basah sekali,” gumamnya.
3525Please respect copyright.PENANAKlfp036wlz
Ibu memalingkan wajah, malu, tapi pinggulnya naik menyambut jari itu. Satu jari masuk. Ibu mengerang. Dua jari. Lebih dalam. Pak Aryo menggerakkan jari di dalam, ibu jari menggosok klitoris.
3525Please respect copyright.PENANA1FDmyQA1OK
Aku berdiri di luar, tangan sudah di dalam celana, memompa kejantananku yang sudah menetes. Aku melihat Ibu menggeliat, payudara bergoyang di dalam daster, puting menekan kain.
3525Please respect copyright.PENANAZxgSkMzkUn
Pak Aryo menarik daster sampai ke atas kepala. Payudara Ibu jatuh bebas, besar, puting gelap menegang. Ia menghisap satu puting, lidah memutar, gigi menggigit pelan. Ibu memegang kepala Pak Aryo, mendorong lebih dalam.
3525Please respect copyright.PENANAkssK5NjG3b
“Ah… pelan…” desah Ibu.
3525Please respect copyright.PENANAC4Qj1KeOAQ
Tapi Pak Aryo tidak pelan. Ia menghisap lebih kuat, tangan masih bermain di vagina, jari masuk keluar, basah. Suara kecipak memenuhi kamar.
3525Please respect copyright.PENANADKITEuu5Y4
Aku tidak tahan. Aku ingin masuk. Tapi aku hanya berdiri di sana, menonton Ibu yang kucintai digarap oleh tetangga.
3525Please respect copyright.PENANA0MxhVGHwaP
Pak Aryo berdiri di tepi tempat tidur Ibu, kedua kaki terbuka agak lebar, bayangan tubuhnya yang tinggi dan tegap menutupi sebagian cahaya lampu kamar yang redup. Jari-jarinya yang kasar karena sering bekerja di luar rumah sudah di ikat pinggang celananya. Ia menarik resleting pelan, bunyi gesekan logam itu terdengar jelas di tengah napas Ibu yang mulai memburu. Celana panjangnya turun, disusul celana dalam hitam yang sudah menggembung di depan. Kejantanannya keluar dengan berat, jatuh ke bawah dulu sebelum bangkit tegak. Panjang. Tebal. Urat-uratnya menonjol jelas di sepanjang batang berwarna sawo matang yang lebih gelap di bagian kepala. Ujungnya sudah basah, sedikit mengkilap oleh cairan pra-ejakulasi yang menetes pelan.
3525Please respect copyright.PENANAZOBlTSw0NF
Ibu masih setengah berbaring di kasur, dasternya sudah terangkat sampai ke dada, payudara kiri dan kanannya terpapar sepenuhnya. Besar. Berat. Kulitnya putih dengan sedikit urat biru halus di bawah permukaan. Putingnya gelap, sudah mengeras seperti dua biji kecil yang menuntut untuk dihisap. Ia menatap kejantanannya Pak Aryo dengan mata melebar, bibir bawah digigit, napas keluar pendek-pendek dari hidung. Ada rasa takut yang samar di wajahnya, tapi lebih banyak rasa lapar yang sudah lama ditekan.
3525Please respect copyright.PENANApz3VHpBLIP
“Lihat baik-baik,” suara Pak Aryo rendah, hampir serak. “Ini yang selalu kulihat di bayangan setiap kali aku lewat depan rumahmu. Sekarang kau bisa menyentuhnya.”
3525Please respect copyright.PENANAiFmjxhJw24
Ibu tidak menjawab dengan kata. Ia hanya bergeser pelan, lututnya menyentuh lantai kayu di samping tempat tidur. Posisi berlutut membuat bokongnya menonjol ke belakang, celana dalam hitam yang sudah digeser ke paha masih menggantung longgar. Vaginanya sudah terlihat dari belakang, bibirnya merah muda, basah, sedikit terbuka, cairan bening menetes di sepanjang paha dalam. Ia mengulurkan kedua tangan, jari-jari gemetar sedikit ketika memegang batang itu. Hangat. Berdenyut. Ia merasakan denyutan urat di bawah jemarinya.
3525Please respect copyright.PENANAx6SvtIVE14
Lidahnya keluar duluan. Merah muda, basah, menyentuh bagian bawah batang dari pangkal, lalu naik pelan sekali, menjilat sepanjang urat yang menonjol sampai ke bawah kepala. Ia berhenti di sana, lidah berputar mengelilingi kulit tipis di bawah kepala, mengecap rasa asin dan sedikit manis dari cairan yang sudah keluar. Pak Aryo mengerang pelan, jari-jari kasarnya masuk ke rambut Ibu, mencengkeram akar rambut tanpa menarik terlalu keras.
3525Please respect copyright.PENANA8t3C214arr
“Ya… begitu,” gumamnya. “Jilat lebih lambat. Rasakan setiap uratnya.”
3525Please respect copyright.PENANAEmTmCJo9bN
Ibu menurut. Lidahnya bergerak lagi dari bawah ke atas, kali ini lebih lambat, lebih basah, meninggalkan jejak saliva yang mengkilap di sepanjang batang. Ia mengulangi gerakan itu berkali-kali, seolah mempelajari bentuknya. Setiap kali lidahnya mencapai kepala, ia membuka mulut sedikit lebih lebar dan menghisap hanya bagian ujung, bibirnya membentuk cincin basah yang ketat. Bunyi hisapan basah terdengar jelas. Pipinya cekung. Matanya terpejam, fokus sepenuhnya pada rasa di mulutnya.
3525Please respect copyright.PENANAGXlmyYIXQZ
Pak Aryo menghela napas panjang. “Dalam. Masukkan lebih dalam.”
3525Please respect copyright.PENANA3eJszmje7r
Ibu membuka mulut lebih lebar. Kepala kejantanannya masuk, lalu batang mulai mengikuti. Ia menelan pelan, tenggorokannya menyesuaikan, air mata sedikit keluar di sudut mata karena ukuran itu memenuhi mulutnya hampir sepenuhnya. Ia berhenti di pertengahan, bernapas lewat hidung, lalu mendorong lagi sampai hidungnya hampir menyentuh perut Pak Aryo. Rambut kemaluan laki-laki itu menyentuh bibir atasnya. Ia menahan di sana beberapa detik, tenggorokan berdenyut di sekitar batang, lalu menarik keluar pelan sambil tetap menghisap, lidah terus bergerak di bagian bawah.
3525Please respect copyright.PENANAssV9K9BWYV
“Sialan… mulutmu hangat sekali,” erang Pak Aryo. Tangannya di rambut Ibu mulai mengarahkan gerakan, mendorong pelan ke depan, menarik ke belakang, mengatur ritme. “Pakai lidah lebih banyak. Ya… seperti itu. Jilat lubang di ujungnya.”
3525Please respect copyright.PENANAcysALKPEq9
Ibu mengeluarkan kejantanannya sampai hanya kepala yang tertinggal di bibir, lalu lidahnya menekan lubang kecil di ujung, berputar, mendorong pelan seolah ingin masuk ke dalamnya. Cairan pra-ejakulasi keluar lebih banyak, ia telan tanpa ragu. Ia menghisap lagi, kali ini lebih cepat, kepala bergerak maju-mundur, bunyi basah “glok-glok” memenuhi kamar setiap kali batang menyentuh tenggorokan. Payudaranya bergoyang mengikuti gerakan tubuhnya. Besar. Berat. Putingnya menggesek udara dingin, semakin mengeras.
3525Please respect copyright.PENANAYCzXN12VhF
Pak Aryo menarik rambut Ibu sedikit lebih kuat, memaksa wajahnya menengadah. “Lihat aku. Jangan tutup mata.”
3525Please respect copyright.PENANA39uGqN3FiL
Ibu membuka mata. Matanya basah, pipinya merah, saliva menetes dari sudut bibirnya turun ke dagu, lalu ke dada, membasahi lekukan di antara payudara. Ia terus menghisap sambil menatap, bibir membengkak, basah. Pak Aryo menggerakkan pinggulnya pelan, mendorong masuk lebih dalam lagi, merasakan tenggorokan Ibu berkontraksi di sekitarnya.
3525Please respect copyright.PENANAjuz9Wed5Mt
“Kau suka ini, kan?” bisiknya kotor. “Suka menghisap kontol tetangga.
3525Please respect copyright.PENANAvcMC9pnANU
Ibu mengerang di sekitar batang, getaran suaranya membuat Pak Aryo mengerang lebih keras. Ia mempercepat gerakan kepala, tangan kirinya memegang pangkal batang yang tidak masuk, memutar pelan, sementara tangan kanannya turun ke bawah, meraba kantung buah zakar yang sudah tegang. Ia memijat pelan, menggulung di telapak tangan, lalu kembali menghisap dalam-dalam.
3525Please respect copyright.PENANAZCM1xj579G
Pak Aryo tidak tahan terlalu lama di posisi itu. Ia menarik kejantanannya keluar dari mulut Ibu dengan bunyi “plop” basah. Batangnya mengkilap oleh saliva, berdenyut, kepala sudah membengkak gelap. Ibu masih berlutut, napas tersengal, bibir mengkilap, menatap kejantanan itu seolah ingin memasukkannya kembali.
3525Please respect copyright.PENANACWw2gDH6z8
“Ke kasur,” perintah Pak Aryo. “Tidur telentang. Buka kaki lebar-lebar.”
3525Please respect copyright.PENANAUQLyhgnr6O
Ibu naik ke tempat tidur, tubuhnya gemetar sedikit. Ia berbaring, kaki terbuka. Celana dalam yang masih di paha ditarik sepenuhnya oleh Pak Aryo dan dilempar ke lantai. Vaginanya sudah terbuka, bibir luar bengkak, berwarna merah muda gelap, cairan kental menetes dari lubang, membasahi lubang pantat di bawahnya. Klitorisnya menonjol, kecil, mengkilap. Pak Aryo berlutut di antara kaki Ibu, kedua tangan membuka paha lebih lebar, ibu jari menekan bibir vagina, membuka celahnya.
3525Please respect copyright.PENANAsRFE5ouBjA
“Basah sekali,” gumamnya. “Ini karena menghisap kontolku, ya? Atau karena kau sudah lama ingin digenjot?”
3525Please respect copyright.PENANAQwV71Wn41M
Ibu memalingkan wajah, malu, tapi pinggulnya naik sedikit, seolah menawarkan. “Jangan… jangan bilang begitu…”
3525Please respect copyright.PENANA7emZW3ZRYZ
“Aku akan bilang apa saja yang kupikirkan.” Pak Aryo menunduk, lidahnya keluar, menjilat dari bawah ke atas sepanjang celah basah itu. Lambat. Dalam. Lidahnya masuk sedikit ke lubang, berputar, lalu naik ke klitoris, menghisap pelan. Ibu melengkungkan punggung, tangan mencengkeram seprai. Desahan panjang keluar dari mulutnya.
3525Please respect copyright.PENANAeIf11X2tFT
Pak Aryo tidak buru-buru. Ia menjilat berulang-ulang, lidah lebar menutupi seluruh vagina, lalu menyempit hanya di klitoris, menghisap, melepaskan, menghisap lagi. Jari tengahnya masuk pelan ke dalam lubang yang sudah licin, mencari titik di dinding depan, menekan, menggosok. Ibu menggeliat, paha gemetar, payudara bergoyang hebat setiap kali tubuhnya naik.
3525Please respect copyright.PENANA4h2WOiJlwY
“Ah… di situ… terus…” desah Ibu. Suaranya sudah pecah.
3525Please respect copyright.PENANA4Zlg1bc1d6
Pak Aryo menambah jari kedua. Dua jari masuk keluar dengan ritme stabil, bunyi basah “schlick-schlick” memenuhi kamar, sementara lidahnya tidak pernah lepas dari klitoris. Ia menghisap lebih kuat, gigi menggigit pelan di sekitarnya, lalu lidah berputar cepat. Ibu mulai gemetar hebat. Orgasme pertama datang tanpa peringatan. Tubuhnya kejang, vagina meremas jari-jari di dalam, cairan menyembur sedikit, membasahi dagu dan mulut Pak Aryo. Ia terus menghisap sampai Ibu memohon pelan, “Cukup… cukup dulu…”
3525Please respect copyright.PENANAYixChgXxb3
Tapi Pak Aryo belum selesai. Ia bangkit, kejantanannya masih tegang, mengkilap. Ia menggosok kepala di celah vagina yang masih berdenyut, naik turun, membasahi seluruh batang dengan cairan Ibu. Lalu, tanpa kata, ia mendorong masuk. Pelan di awal. Kepala masuk dulu, meregangkan lubang, lalu batang mengikuti sentimeter demi sentimeter sampai seluruhnya terkubur. Ibu mengerang panjang, kuku mencakar punggung Pak Aryo.
3525Please respect copyright.PENANAxn3olFMcJt
Mereka mulai bergerak. Pak Aryo menarik keluar sampai hampir lepas, lalu mendorong masuk dalam sekali hentakan. Tempat tidur berderit. Payudara Ibu bergoyang ke atas dan ke bawah, putingnya menggesek dada bidang laki-laki itu. Ia mempercepat, hentakan semakin dalam, semakin kasar. Bunyi kulit bertemu kulit, bunyi basah, desahan Ibu yang semakin keras.
3525Please respect copyright.PENANA1tHyDiRgHI
“Rasakan,” erang Pak Aryo di telinga Ibu. “Kontol tetangga sedang menggenjot memekmu. Lihat bagaimana memekmu menelan semuanya. Kencang. Hangat. Basah.”
3525Please respect copyright.PENANAFSjBPDW4H3
Ibu hanya bisa mengerang, kaki melilit pinggangnya, menarik lebih dalam. Orgasme kedua datang lebih cepat. Tubuhnya kejang lagi, vagina berdenyut kencang di sekitar batang, cairan semakin banyak. Pak Aryo tidak berhenti. Ia terus mendorong, mengejar orgasmenya sendiri, tapi masih menahan.
Mereka berganti posisi tanpa keluar sama sekali. Batang tebal Pak Aryo masih tertanam dalam-dalam di dalam vagina Ibu ketika ia memegang pinggang ramping itu dengan kedua tangan besarnya, lalu memutar tubuh Ibu pelan-pelan. Ibu menurut, tubuhnya yang sudah lemas karena orgasme sebelumnya digulingkan ke samping dulu, lalu ditengkurapkan. Payudaranya yang besar dan berat tertindih di kasur, pipi menempel ke bantal, rambut hitamnya berantakan menutupi sebagian wajah. Bokongnya diangkat tinggi oleh tangan Pak Aryo, pinggang dilengkungkan, lutut terbuka agak lebar di atas seprai yang sudah basah. Dari belakang, vagina yang merah dan bengkak itu terlihat jelas, bibir luarnya mengkilap, meregang di sekeliling batang yang masih tertanam, cairan putih kental dari ejakulasi sebelumnya sudah mulai menetes turun sepanjang paha dalam, membasahi kasur di bawahnya.
3525Please respect copyright.PENANAZsCvvC6Adf
Pak Aryo menarik sedikit ke luar, hanya sampai kepala yang masih di dalam, lalu mendorong masuk lagi dengan satu hentakan dalam. Ibu mengerang panjang, wajah semakin tertanam di bantal. Tangan laki-laki itu memegang erat pinggang ramping Ibu, jari-jari menekan daging lunak di situ, menarik tubuhnya ke belakang setiap kali ia mendorong maju. Dari posisi ini ia bisa melihat segalanya dengan jelas: bagaimana batang tebalnya yang berurat masuk dan keluar dari lubang yang merah, bagaimana bibir vagina Ibu tertarik keluar sedikit setiap kali batang ditarik, lalu masuk kembali menelan semuanya sampai pangkal. Cairan mereka berdua—campuran saliva, cairan pra-ejakulasi, dan mani sebelumnya—membasahi pangkal batang, mengkilap di bawah cahaya lampu, menetes pelan ke kasur setiap kali gerakan menarik keluar.
3525Please respect copyright.PENANAkPZnHgZVnh
Ia menampar bokong Ibu sekali. Bunyi “plak” keras menggema di kamar. Kulit putih itu langsung memerah di bekas telapak tangan. Ibu mengerang lebih keras, suaranya teredam bantal. Tamparan kedua datang di sisi yang lain, lebih keras, meninggalkan jejak merah berbentuk tangan. Bokong Ibu bergoyang karena hentakan itu, daging montoknya bergetar. Pak Aryo mengusap bekas merah itu dengan jari, lalu memegang lagi pinggang, menarik tubuh Ibu lebih kuat ke belakang sementara pinggulnya mendorong maju lebih dalam.
3525Please respect copyright.PENANAgIqPLYGcby
“Lebih dalam… tolong lebih dalam…” desah Ibu, suaranya pecah, hampir menangis karena kenikmatan.
3525Please respect copyright.PENANAfxlbkqxiQw
Pak Aryo menurut. Ia membungkuk sedikit, mengubah sudut, mendorong naik ke depan sehingga kepala kejantanannya menekan titik yang lebih dalam di dinding depan vagina. Setiap hentakan sekarang membuat Ibu gemetar. Payudaranya yang tertindih di kasur bergesek ke seprai setiap gerakan, puting yang sudah sangat keras menggesek kain kasar, menambah rangsangan. Kaki Ibu gemetar di lutut, paha dalam sudah basah total, cairan terus menetes setiap kali batang keluar masuk.
3525Please respect copyright.PENANAfODoilOiFV
“Lihat bagaimana memekmu menelan kontolku,” suara Pak Aryo rendah, kotor, napasnya berat di punggung Ibu. “Dari belakang kelihatan jelas. Merah. Bengkak. Basah kuyup. Setiap kali aku tarik, dia nggak mau lepas. Kau dengar bunyinya? Schlick… schlick… basah sekali.”
3525Please respect copyright.PENANAyydzsQB9bs
Ibu hanya bisa mengerang, jari-jari kaki mengerat di seprai. “Ah… ya… di situ… jangan berhenti…”
3525Please respect copyright.PENANAfxcHT4bPct
KELANJUTANNYA DI LINK 🔗 DIBAWAK INI https://lynk.id/time47


