"Woi, bocah! Jangan menghalangi jalan!" teriak kencang seorang pengawal.
"Ma-maaf, Pak. Saya habis mengumpulkan kayu bakar," jawab bocah tersebut ketakutan.
"Jangan badan saja yang besar, tapi otakmu kecil," ucap pengawal sombong.
Kisah ini bertempat di sebuah negeri nan jauh di sana. Sebuah dunia di mana segala sesuatu ditentukan dengan sebuah unsur bernama Inzir. Di dunia ini hidup berbagai macam ras dan suku seperti dalam kisah dongeng. Orc, Ogre, Elf, dan masih banyak ras lain hidup secara berdampingan dengan damai. Tidak luput ras paling mendominasi, yaitu Manusia.
Jauh ke arah timur, terdapat sebuah negeri besar yang memiliki populasi ras manusia paling besar di dunia ini. Mereka hidup damai berdampingan dengan berbagai ras lain. Dengan saling hidup berdampingan, mereka dapat melakukan aktivitas secara normal dan aman. Negeri itu bernama Injansia. Sebuah negeri di bagian timur yang merupakan pusat peradaban manusia serta berbagai macam ilmu pengetahuan terkait Inzir berada.
Inzir, suatu unsur yang sudah ada dalam diri setiap makhluk hidup di dunia ini, merupakan suatu perwujudan dari kekuatan suatu individu. Konon beratus ribu tahun lalu, dunia ini hanya terdiri atas satu entitas yang ditinggalkan oleh Sang Pencipta. Namun, di tengah kesendirian itu, entitas tersebut merasa hampa dan suram. Lalu, dengan kehendaknya sendiri, Ia melebur diri-Nya dan terciptalah berbagai macam makhluk hidup yang ada di dunia ini.
"Loren, apa kamu sudah memindahkan kayu bakar di depan?"
"Iya, Kak. Akan aku pindahkan."
Tahun 329 kalender. Di penjuru negeri Injansia, hiduplah sebuah keluarga sederhana. Keluarga tersebut terdiri atas seorang peternak sekaligus kepala keluarga, yaitu Bardlo berumur 40 tahun, serta ibu rumah tangga bernama Ive berumur 32 tahun. Kedua anak mereka, yaitu sang kakak laki-laki bernama Khamsa berumur 13 tahun, dan sang adik laki-laki bernama Loren berumur 11 tahun.
Mereka hidup di pinggir perbatasan negeri, sebuah desa bernama Ohrion, tempat para petani dan peternak berada. Bardlo yang berprofesi sebagai peternak sehari-hari mengurus hewan ternak di ladang. Ive membantu keperluan rumah tangga dan terkadang pergi ke pasar untuk berbelanja kebutuhan dapur. Lalu, Khamsa dan Loren sehari-hari membantu keperluan rumah, seperti mencuci maupun menjaga rumah saat Bardlo dan Ive sedang keluar.
Dikarenakan mereka merupakan bagian dari penduduk yang tinggal di perbatasan, akses untuk pendidikan maupun ilmu pengetahuan terbilang cukup rumit. Baca tulis selalu dilakukan secara pribadi bersama orang tua mereka. Dari generasi ke generasi, setiap penduduk di desa selalu berprofesi sebagai peternak, petani, maupun tukang suruh di pusat kota. Namun, pemerintah tetap memperhatikan kesejahteraan mereka yang tidak terjangkau, dengan memberikan bantuan berupa bahan mentah maupun orang-orang dari pusat ilmu untuk terjun langsung ke desa mengajari anak-anak ilmu baru.
'Wusss! Wusss!'
"Kakak lagi apa?" tanya Loren menghampiri Khamsa.
"Aku sedang berlatih mengayunkan pedang. Karena tahun depan kakak berumur 14 tahun, kakak ingin pergi ke ibu kota dan menjadi seorang Rekisi," jawab Khamsa, terus mengayunkan kayu yang dipegangnya.
"Wahh... kakak keren. Apa nanti kakak akan memakai pakaian lengkap seperti Pak Rowen?" tanya Loren berbinar semangat.
"Pak Rowen itu seorang pengembara, yang kakak tuju lebih dari itu, yaitu Rekisi. Puncak dari segala ilmu, dan kakak akan menjadi seorang jenius dalam ilmu pedang," ucap Khamsa semangat.
"Kerenn..." jawab Loren terkagum.
Rekisi merupakan suatu gelar atau sebutan bagi para pendekar maupun orang berbakat yang ada di negeri ini. Mereka yang disebut jenius di bidang ilmu dan memberikan hasil serta pengaruh besar bagi negara akan mendapat gelar kehormatan bernama Rekisi dan bekerja di samping Raja Injansia secara langsung. Dalam sejarah negeri Injansia, baru ada enam orang yang menerima gelar tersebut. Terhitung sejak pertama berdirinya negeri Injansia pada tahun 100 kalender, keenam orang tersebut berhasil menorehkan namanya sebagai Rekisi.
Dan di antara keenam orang tersebut, ada satu orang yang menjadi pusat dari semua sejarah negeri Injansia maupun Rekisi itu sendiri, yaitu seorang pria bernama Tsamani. Dialah orang yang membuat segala sesuatu di Injansia ada seperti saat ini. Tercatat, Ia adalah Rekisi keenam, dan orang yang telah menyempurnakan hasil dari kelima Rekisi sebelumnya.
Tetapi, Tsamani hanya muncul ke publik sekitar satu tahun saja. Selama 50 tahun terakhir, tidak ada tanda-tanda kemunculan sang Rekisi tersebut. Raja Injansia saat ini terus mewarisi tekad dari pendahulunya untuk mencari sang Rekisi tersebut dan tidak pernah membuka kesempatan bagi siapa pun untuk mengisi posisi Rekisi yang kini telah kosong.
"Khamsa, Loren, ayo masuk! Kita makan siang dulu," sahut Ive dari dalam rumah.
"Baik, Bu," jawab Loren masuk ke dalam rumah.
Khamsa pun meletakkan tongkat yang dipegangnya, dan bergegas masuk ke rumah. Di sana sudah ada Bardlo, Ive, dan Loren yang berkumpul untuk makan bersama. Mereka sekeluarga pun makan dengan nikmat sambil berbagi cerita.
"Di ladang tadi sepertinya akan ada orang penting datang ke desa," ucap Bardlo kepada Ive.
"Oh, mungkin para pelajar dari ibu kota, mereka ingin mengajari anak-anak lagi mungkin," ucap Ive menanggapi.
"Entahlah, biasanya kalau pelajar dari pusat kota tidak seketat itu pengawalannya," jawab Bardlo.
Di sela pembicaraan mereka berdua, Loren yang mendengar kata "ibu kota" langsung bersemangat dan memberi tahu Bardlo dan Ive mengenai niat Khamsa.
"Ayah, Ibu, kakak katanya ingin menjadi Rekisi di ibu kota," ucap Loren semangat.
"Bodoh, Loren," sahut Khamsa jengkel.
"Oh, benarkah itu? Besar juga cita-citamu, Nak. Hahahaha," ucap Bardlo.
"Eh, apa Ayah tidak menentangnya?" tanya Khamsa bingung.
"Kenapa harus menentangnya? Itu merupakan cita-cita yang bagus. Ibu juga mendukungmu, Nak," jawab Ive.
"Tapi kan, ada berbagai macam kendala, seperti uang untuk pergi ke ibu kota dan biaya lainnya. Kita mana mungkin punya uang sebanyak itu," ucap Khamsa pesimis.
"Tenang saja, Nak. Karena sudah memperkirakan hal semacam itu terjadi, ayah dan ibu sudah mempersiapkannya untukmu nanti. Jadi, tidak perlu khawatir. Hehe," jawab Bardlo sedikit sombong. "Terima kasih, Ayah, Ibu."
Khamsa pun memeluk kedua orang tuanya dengan terharu, sebab cita-citanya mendapat dukungan penuh dari kedua orang tuanya. Mengetahui cita-citanya sudah mendapat restu dari kedua orang tuanya, Khamsa semakin semangat dan bertekad untuk pergi ke pusat kota, lalu menjadi seorang pendekar pedang yang dapat menorehkan prestasi besar, dan kelak suatu hari dia akan dipromosikan menjadi seorang Rekisi.
'Tik tok! Tik tok! Krek! Kress!'
'Di gua bagian utara, ada sebuah pedang legendaris yang dapat membuat hasratmu menjadi kenyataan.'
'Pergilah ke gua itu dan ambil pedang yang ada di sana!'
Namun, saat itu Khamsa masih belum mengetahui bahwasanya cita-cita untuk pergi ke pusat kota dan menjadi seorang Rekisi ahli pedang tidak akan pernah tercapai. Sebab, di mana ada cahaya, pasti di situ akan ada kegelapan. Mereka yang mengintai di balik kegelapan tidak akan pernah membiarkan secercah cahaya harapan muncul ke permukaan.
"Akhh..." gumam Khamsa bangun dari tidur.
Pagi hari pun tiba. Khamsa yang baru saja mendapat mimpi aneh langsung bangun dari tidurnya dengan keadaan penuh keringat. Layaknya habis berolahraga berat, keringat bercucuran dari badannya.
"Mimpi apa itu? Apa benar ada pedang legendaris di dalam gua sana?" ucap Khamsa melantur.
"Pagi, Kak. Ibu sudah menyiapkan sarapan. Ayo makan dulu," ucap Loren masuk ke kamar Khamsa. "Baiklah, kakak akan menyusul," jawab Khamsa.
Dengan rasa setengah percaya, Khamsa merasa bahwa mimpi tersebut bukanlah mimpi biasa, melainkan pesan dari seseorang. Namun, Ia tidak tahu siapa dan kenapa orang tersebut memberikan informasi seperti itu kepada Khamsa.
"Nanti akan kuperiksa gua tersebut."
Khamsa pun bangun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju ruang makan. Di sana, Bardlo memberitahukan informasi menarik lagi.
"Tadi malam saat ayah keluar, ayah berpapasan dengan kepala desa. Ternyata orang penting dari ibu kota kemarin adalah penguasa dari distrik selatan. Ia akan menetap sementara di desa ini, sambil menunggu salah satu ajudannya menyusul," jelas Bardlo. "Oh, begitu," jawab Ive.
Khamsa yang merasa tidak ada sangkut pautnya langsung menghabiskan sarapannya dan bergegas pergi ke arah gua yang ada di selatan. Namun, ada masalah yang dihadapinya. Gua di selatan terkenal karena banyak Majoz (hewan liar yang terkontaminasi Inzir) berkeliaran. Jadi, anak-anak tidak diperbolehkan mendekat ke sana.
Dengan memutar otak, Khamsa memikirkan cara agar dapat pergi ke sana tanpa ketahuan. Tidak lama kemudian, terbesit ide untuk menggantikan Ive pergi ke pasar membeli keperluan dapur. Dengan begitu, Ia dapat pergi dengan bebas tanpa dicurigai oleh Ive.
"Bu, hari ini aku saja yang ke pasar. Ibu di rumah saja," ucap Khamsa.
"Benarkah?" tanya Ive tidak percaya.
"Iya, sesekali aku yang pergi ke pasar. Ibu istirahat saja," jawab Khamsa manis.
"Baiklah, ini catatannya, ya. Jangan sampai lupa, ya!" ucap Ive memberikan catatannya.
Tidak lama kemudian, sambil membawa keranjang, Khamsa pergi ke arah pasar yang kebetulan searah dengan gua, yaitu di selatan. Namun, sesuai apa yang diniatkan olehnya, Khamsa tidak berbelok ke arah pasar, melainkan masuk lebih dalam ke arah hutan lebat.
Sambil berlari, takut diketahui orang lain, Khamsa terus menelusuri hutan ke arah selatan. Entah apa yang membuatnya yakin, namun seperti pernah mengunjungi gua tersebut, Ia terus berlari mengikuti firasatnya. Setelah cukup lama, akhirnya Ia pun melihat sebuah gua. Gua tersebut sangat mirip dengan gua yang dilihat Khamsa dalam mimpinya.
"Itu dia guanya," ucap Khamsa semangat.
'Rawrrr!'
"Eh, Majoz?" ucap Khamsa takut.
Walaupun sudah menemukan pintu masuk gua tersebut, Khamsa tidak dapat masuk sebab dari dalam gua tersebut keluar Majoz berbentuk serigala besar yang terlihat sangat ganas.
'Rawrrr! Hrrhh! Wuf! Wuf!'
"Sial, dia melihat ke arah sini. Lebih baik aku kabur," ucap Khamsa panik.
'Wuff! Wuff!'
"Sial... dia mengejarku," ucap Khamsa takut.
Majoz itu pun berlari ke arah Khamsa dan mengejarnya. Dengan perbedaan ukuran dan stamina yang ada, tidak perlu waktu lama, Majoz tersebut langsung menyergap Khamsa dari depan dan langsung menerkamnya. Dihadapkan dengan kondisi hidup dan mati tersebut, Khamsa sangat ketakutan dan meringkuk sambil berpikir bahwa ini merupakan akhir dari hidupnya.
'Slash!'
Namun, ketika Majoz tersebut melompat ke arah Khamsa, tiba-tiba terdengar suara pedang membelah sesuatu. Mendengar suara tersebut, Khamsa membuka matanya. Di hadapannya kini terdapat mayat Majoz yang sudah terbelah rapi menjadi dua bagian, penuh dengan cairan hitam.
"Eh? Apa yang terjadi?" ucap Khamsa bingung.
"Apa kau baik-baik saja, Pemuda?" tanya orang asing.
"Iya," jawab Khamsa masih bingung.
Ternyata suara tebasan barusan berasal dari orang tersebut. Seorang pria gagah berpakaian layaknya ksatria dalam kisah dongeng, beserta pedang mengkilap yang ada di pinggangnya. Sejenak, Khamsa merasa kagum dengan penampilan orang tersebut.
"Anu, Paman siapa?" tanya Khamsa bingung.
"Aku? Sebut saja aku San," jawab paman tersebut.
"San? Paman San datang dari mana? Daerah ini berbahaya, lho," ucap Khamsa.
"Kamu sendiri? Kenapa anak-anak sepertimu bisa ada di hutan ini?" ucap Paman San kembali bertanya kepada Khamsa.
"Aku hanya tersesat. Dan kenapa Paman tahu aku masih belum dewasa? Padahal orang desa melihatku sudah seperti orang dewasa dengan tubuh besar seperti ini," tanya Khamsa kembali. 50Please respect copyright.PENANAQX7QuzrInv
"Entah mengapa, paman merasa kalau kamu masih anak-anak," jawab Paman San ragu.
"Apa coba. Lupakan hal tersebut, terima kasih telah menolongku, Paman," ucap Khamsa jengkel.
Tidak perlu waktu lama, mereka berdua pun akhirnya menjadi akrab. Entah siapa Paman San dan bagaimana bisa muncul di waktu yang pas ketika Ia diserang, semua pikiran tersebut disingkirkan Khamsa terlebih dahulu. Yang pasti, Paman San telah menolongnya, dan Ia berhasil selamat.
"Sama-sama. Tapi, kok bisa-bisanya Majoz seganas ini muncul di permukiman warga, ya? Harusnya tidak ada pergeseran Inzir di sekitar sini," ucap Paman San penasaran.
Melihat kemampuan dan pengetahuan mengenai Inzir yang luas, Khamsa langsung memiliki ide cemerlang, yaitu meminta orang ini untuk mengajarinya ilmu pedang dan ilmu mengenai Inzir.
"Paman San!" sahut Khamsa kencang.
"Ya?" jawab Paman San santai.
"Aku mohon, jadikan aku murid Paman! Tolong sekali, Paman," pinta Khamsa memohon kepada Paman San.
"Eh? Kenapa tiba-tiba?" tanya Paman San jengkel.
"Aku mempunyai cita-cita untuk menjadi ahli ilmu pedang dan ahli ilmu Inzir. Dan kelak akan ke ibu kota, untuk menorehkan prestasi yang suatu hari nanti akan menjadi salah satu dari Rekisi negeri ini," ucap Khamsa menjelaskan kepada Paman San.
"Hufft... ahahahah... Rekisi, kamu bilang?" tanya Paman San sambil tertawa lepas.
"Aku tidak peduli orang mau bilang apa. Tapi, tekadku sudah bulat. Aku akan pergi ke ibu kota dan menjadi ahli pedang yang kelak menyandang gelar Rekisi," jawab Khamsa tegas.
"Ahaha... hadeh, apa benar kamu ingin jadi Rekisi?" tanya kembali Paman San berhenti tertawa.
"Aku serius," jawab Khamsa tegas.
Saat itu, Khamsa hanya dapat berharap bahwa permintaannya dikabulkan. Entah mengapa, Ia memiliki firasat bahwa orang yang berdiri di depannya ini bukanlah sembarang orang. Dengan kemampuan menumbangkan Majoz ganas dengan sekali tebasan pedang, sudah cukup membuktikan bahwa ilmu yang dimilikinya dapat membawa Khamsa lebih dekat dengan tujuannya.
Setelah menunggu kurang lebih satu menit, Paman San akhirnya memberikan jawabannya.
"Baiklah, aku dapat mengajarimu beberapa ilmu mengenai berpedang maupun Inzir untuk beberapa hari ke depan," jawab Paman San.
"Ah, terima kasih banyak, Paman. Tidak, Guru!" ucap Khamsa senang.
"Lagi pula, si ajudan masih lama juga, sih. Sekalian mengisi waktu luang di desa," ucap Paman San kurang puas.
"Ajudan? Apa Paman orang penting yang datang dari distrik selatan?" tanya Khamsa curiga.
"Iya, itu aku," jawab Paman San sedikit sombong.
Mengetahui kebenaran yang tidak disangka olehnya, Khamsa langsung berlutut dan meminta maaf sejadi-jadinya karena telah berlaku tidak sopan dan secara egois meminta orang penting dari pusat kota menjadi gurunya. Namun, Paman San tidak mempermasalahkannya dan memaafkan Khamsa, terlebih setelah melihat ekspresinya yang sangat takut. Paman San tidak mempermasalahkan etika Khamsa kepadanya.
Waktu pun berlalu. Hari demi hari selanjutnya, Khamsa habiskan dengan berlatih bersama Paman San di dekat balai desa. Paman San mengajarkan berbagai macam ilmu bela diri, ilmu pedang, dan pengetahuan mengenai Inzir. Khamsa yang memang dari awal tidak terlalu pintar hanya dapat mengikuti pembelajaran terkait ilmu bela diri dan ilmu pedang; untuk pengetahuan terkait Inzir, hanya sedikit yang ia pahami.
'Whoosh! Clang! Cring!'
"Yap, benar seperti itu, Khamsa, agak lebih lebar sedikit," ajar Paman San beradu pedang dengan Khamsa.
"Baik, Guru," jawab Khamsa semangat.
'Swussh! Ting! Trang!'
Tidak terasa, hari pun sudah mulai gelap. Paman San pun mengakhiri sesi latihan hari itu.
"Bagaimana? Apa kau merasa lebih kuat?" tanya Paman San beristirahat di samping Khamsa.
"Iya, Guru. Selain pemahaman mengenai Inzir, aku merasa lebih percaya diri," ucap Khamsa optimis. 50Please respect copyright.PENANAXyCM64Z3AU
"Ingat, Khamsa, semua yang dicapai umat manusia tidaklah instan. Semua butuh proses. Aku sekuat ini juga sebab sudah berlatih siang dan malam," ucap Paman San serius.
"Baik," jawab Khamsa tegas.
"Walaupun di luar sana ada cara menjadi kuat secara instan, ingatlah itu bukanlah jalan yang baik. Segala sesuatu di dunia memiliki timbal balik. Jika kau menginginkan kekuatan secara instan, pasti ada bayaran yang harus dibayar sebagai gantinya. Dan bayaran itu bisa berkali-kali lipat lebih mahal daripada apa yang didapatkan," ucap Paman San kembali.
"Baik, Guru. Akan kuingat baik-baik," jawab Khamsa tegas.
"Bagus kalau begitu. Pedang itu untukmu saja," ucap Paman San menunjuk pedang yang dipegang Khamsa.
"Benarkah? Terima kasih banyak, Guru," ucap Khamsa senang.
"Sama-sama," jawab Paman San.
Malam pun tiba. Hari itu, Khamsa yang merasa senang memiliki pedang sendiri terus memandanginya dari kejauhan di dalam kamar, sambil membayangkan masa depan di mana Ia akan menjadi ahli pedang dan kelak menjadi Rekisi.
'Tik tok! Tik tok! Krek! Kress!'
'Di gua bagian utara, ada sebuah pedang legendaris yang dapat membuat hasratmu menjadi kenyataan.'
'Pergilah ke gua itu dan ambil pedang yang ada di sana!'
Tetapi, hal tersebut tidak akan pernah dicapai olehnya, sebab sang penguasa kegelapan tidak akan pernah melepaskan cahaya sekecil apa pun di hadapannya.
"Hah? Apa aku baru saja ketiduran?" gumam Khamsa.
Ia kembali mendengar suara misterius itu, yang memberitahukan keberadaan pedang legendaris di dalam gua.
"Mungkin dengan kemampuanku saat ini, aku dapat mencari tahu mengenai pedang legendaris tersebut."
Sambil memandang ke arah rembulan, Khamsa turun dari tempat tidurnya, membawa pedangnya, dan menyelinap keluar rumah pada malam hari. Ia langsung berlari menuju arah selatan dan memasuki hutan, dengan bermodalkan sebuah obor. Ia berjalan perlahan masuk ke dalam gua.
"Pemantik api? Apa ada orang yang tinggal di dalam?" ucap Khamsa bingung.
Dengan perasaan bingung, Khamsa menyalakan pemantik api yang ada di dalam gua, dan dengan cepat berbagai titik gelap dalam gua seketika menyala. Layaknya sudah dirancang sedemikian rupa, ternyata pemantik api tersebut dapat membuat seluruh ruangan dalam gua seketika menjadi terang.
Karena sudah merasa aman dan tidak memerlukan penerangan, Khamsa meletakkan obornya di depan pintu gua. Dengan bermodalkan tekad serta sebilah pedang, Ia menelusuri gua tersebut. Sedikit demi sedikit, Ia mulai masuk semakin dalam. Dari kejauhan, Ia dapat melihat sosok siluet seseorang berbadan besar tengah berdiri.
"Anu, Bapak siapa?" tanya Khamsa bingung.
Sosok siluet tersebut sedikit demi sedikit mulai terlihat jelas. Ketika jarak antara mereka berdua hanya berkisar empat meter, Khamsa dapat dengan jelas melihat bahwa sosok tersebut merupakan seorang pria dewasa dengan tubuh besar lebih dari dua meter, mengenakan pakaian aneh, serta terus menunduk ke arah bawah. Tampak dengan jelas sebuah pedang berwarna merah menancap di belakangnya.
"Bukankah kau sudah diperingatkan bahwa bayaran dari kekuatan instan itu mahal? Kenapa masih berani ke sini?" ucap pria besar itu.
"Hah? Apa maksudnya? Lagi pula, Bapak siapa, ya? Kenapa malam-malam ada di dalam gua?" tanya Khamsa kembali.
Dari balik sosok besar tersebut, terdengar suara orang dewasa yang dalam. Khamsa yang tidak mengerti maksud perkataan pria besar tersebut bingung kenapa pria besar itu sendirian di sini.
"Siapa aku? Kamu pasti paling tahu siapa aku, Khamsa," jawab pria besar tersebut perlahan menunjukkan wajahnya.
"HAH? SIAPA KAMU INI? KENAPA? KENAPA WAJAHMU MIRIP DENGANKU?" ucap Khamsa takut dan bingung.
"Kenapa? Karena aku adalah kamu, dan kamu adalah aku," jawab pria besar itu tegas.
"Omong kosong apa yang kau maksud... ha..." ucap Khamsa kesal dan menyerang pria besar tersebut.
Dengan berbagai perasaan yang bercampur aduk, Khamsa langsung menyerang pria besar tersebut. Pria besar tersebut juga ikut melawan dengan menggunakan pedang yang ada di tangannya.
'Srat! Srak! Cring! Clang!'
Pertarungan hebat pun tidak terelakkan. Khamsa dengan penuh amarah melancarkan serangan serius yang berhasil melukai pria besar tersebut. Dengan luka yang fatal, pria besar itu pun jatuh ke tanah dan Khamsa pun merasa sangat lelah.
"Ingat, bayaran yang harus dibayar akan lebih besar," ucap pria besar itu sekarat.
Tidak lama kemudian, sosok pria besar tersebut meleleh dan mencair menjadi gumpalan hitam, layaknya mayat Majoz waktu itu.
"Apa tadi itu? Aneh sekali," gerutu Khamsa.
"Akhirnya, ini dia pedang legendaris itu. Bahkan aku bisa merasakan bahwa pedang ini sangat hebat. Dengan ini, aku pasti dapat menjadi ahli pedang nomor satu seantero Injansia," ucap Khamsa termakan nafsunya.
'Sreeettt!' 'DUARRR!'
"Apa itu?" ucap Khamsa terkejut.
'DUARRR! DUARRR!'
Khamsa yang dikendalikan oleh hasratnya mencabut pedang tersebut. Namun, sesaat setelah Ia menggenggam pedang tersebut, terdengar suara gemuruh petir sangat besar dari arah pintu keluar. Khamsa yang penasaran langsung membawa pedang tersebut keluar dan bergegas keluar dari gua.
'Rawrrr! Hrrhh! Wuf! Wuf!'
"Sial."
Namun, di depan pintu gua, banyak Majoz ganas sudah menunggunya. Dengan bermodalkan dua pedang miliknya, Khamsa langsung menghabisi para Majoz tersebut. Satu demi satu berhasil Ia kalahkan, namun seperti lingkaran tidak berujung, berapa kali pun Ia berhasil membunuh Majoz, langsung datang kembali Majoz lain entah dari mana. Sampai sekitar empat jam berlalu, Khamsa yang sudah bertarung tanpa henti akhirnya berhasil mengalahkan semua Majoz.
"Asap apa itu? Datang dari arah desa? Aku harus bergegas kembali," ucap Khamsa panik.
Setelah berhasil menghabisi seluruh Majoz, dengan sisa tenaga yang sedikit, Khamsa langsung bergegas kembali ke desa. Ia memiliki firasat buruk mengenai hal tersebut. Sesampainya di desa, pemandangan pertama yang Ia lihat adalah neraka.
"Ada apa ini?" ucap Khamsa lemas.
Di depannya terpampang jelas pemandangan Desa Ohrion yang dikerumuni para Majoz yang berkeliaran ke sana kemari sambil menggigit, mengoyak, serta memakan tubuh warga desa. Dengan sisa tenaga yang ada dan amarah yang memuncak dibalut rasa sedih yang tak terbendung, Khamsa melompat ke kerumunan Majoz dan menghabisi mereka satu per satu.
"AKHHHHHHHH!"
'Swussh! Srak! Clang! Whoosh! Srat!'
Layaknya dewa perang, Khamsa mengayunkan pedangnya secara membabi buta ke arah para Majoz yang ada. Dengan perasaan yang hancur, Ia terus bertarung tanpa henti selama berjam-jam lamanya. Entah apa yang dirasakan Khamsa saat itu, Ia tidak dapat berpikir secara jernih lagi.
Tepat ketika Majoz terakhir dibasmi, matahari pun terbit. Dengan rasa putus asa, Khamsa pergi ke arah rumahnya. Di sana, Ia melihat rumahnya yang sudah tidak berbentuk, dan hanya terdapat sisa mayat tidak utuh yang entah milik siapa.
"TIDAKKKKKK...." teriak Khamsa.
Di tengah hamparan mayat itu, Khamsa hanya dapat menangis dan merasa frustrasi sedalam-dalamnya. Ia tidak menyangka apa yang telah menimpa desanya benar-benar terjadi.
'Tap... tap...'
Saat tengah berputus asa itu, Khamsa mendengar suara langkah kaki dari belakangnya. Dengan penampilan yang kacau balau, Khamsa menoleh ke arah suara tersebut. Ia pun terkejut mendapati sosok di balik langkah kaki tersebut.
"Bukankah sudah kukatakan, bayaran untuk kekuatan instan itu tidaklah murah."
"HAHHHHHH!"
'Slinngg!'
Ternyata sosok tersebut adalah Paman San. Dengan pakaian rapi dan berlagak sombong, Ia memandang rendah ke arah Khamsa. Menduga pelaku semua ini adalah Paman San, Khamsa pun menghunuskan pedang merah ke arahnya, mencoba mengintimidasi agar ia mengatakan semuanya.
"Mengorbankan keluarga dan desa yang indah ini hanya untuk sebuah pedang murah. Sepele," ucap Paman San sambil menyentuh ujung pedang merah tersebut.
'KRAK! PRANG!'
"Lah?" ucap Khamsa bingung.
Ketika Paman San menyentuh pedang yang dihunuskan Khamsa, entah bagaimana, pedang tersebut seketika hancur berkeping-keping ketika dipegang olehnya. Melihat hal tersebut, Khamsa terdiam seketika dan tidak percaya dengan apa yang dilakukan Paman San.
"Aku bukanlah pelakunya, Khamsa. Namun, aku dapat memberitahumu siapa pelaku sebenarnya," ucap Paman San.
"Siapa memangnya?" tanya Khamsa curiga.
"Ifrid. Sosok jahat yang kini tengah kami kejar," jawab Paman San.
"Ifrid?" tanya Khamsa bingung.
"Benar, penguasa kegelapan dan sosok di balik semua tragedi ini. Sebelumnya, kau pernah dibisiki oleh seseorang, kan?" tanya Paman San.
"Benar, aku mengetahui lokasi pedang tersebut dari seseorang yang membisikkannya kepadaku," jawab Khamsa memverifikasi.
"Yap, itu adalah pecahan dari Ifrid. Ia dalang dari semua ini," jawab Paman San tegas.
"Tadi kau menyebutkan 'yang kini kami kejar'. Siapa memangnya?" tanya Khamsa kembali.
"Hmm, itu adalah Seek of Truth. Organisasi tempat para pencari kebenaran berada," jawab Paman San.
"Bagaimana, Khamsa? Apa kau ingin bergabung bersama kami? Walaupun ada syaratnya," tanya Paman San menawarkan.
Saat ini, Khamsa masih memproses apa yang sebenarnya terjadi. Intinya, dalang di balik semua kejadian ini bernama Ifrid. Sosok yang sama juga menghasut Khamsa untuk menemukan pedang di dalam gua. Kemudian, ada organisasi bernama Seek of Truth. Khamsa juga masih curiga dengan Paman San, namun di satu sisi, kini ia tidak memiliki petunjuk lain selain bergabung dengan organisasi tersebut.
"Baiklah, aku akan bergabung. Apa syaratnya?" tanya Khamsa tegas.
"Kau harus meminjamkan 100 kepadaku," jawab Paman San.
"Maksudnya? Uang?" tanya Khamsa bingung.
"Tidak, 100 adalah angka biner dari empat unsur penting penyusun makhluk hidup: Ingatan, Perasaan, Tubuh, dan Jiwa. Kau harus meminjamkan ingatanmu selama ini kepada organisasi; dengan kata lain, masa lalumu akan terbongkar. Perasaan, kau harus memiliki perasaan yang kuat kepada Ifrid, atau perasaan kuat akan sesuatu. Tubuh, kau harus siap menghadapi berbagai macam pertarungan hidup dan mati. Dan Jiwa, semua hidup dan matimu hanya dipersembahkan untuk mengalahkan Ifrid," jelas Paman San.
"Aku tidak keberatan," jawab Khamsa yakin.
Setelah mendengarkan penjelasan Paman San, Khamsa merasa tidak masalah dengan keempat syarat tersebut. Terlepas dari segala macam aturan, selain soal ingatan, ia memang bertekad untuk membalaskan dendam kepada Ifrid yang telah membuat keluarga dan desanya hancur.
"Baiklah kalau begitu. Welcome home, Clautonny."
Saat itu, Khamsa belum mengetahui bahwa Ia akan dikenang di masa depan dengan gelar yang melebihi Rekisi, yaitu Clautonny/Gluttony (Sang Rakus), pembela segalanya dan salah satu pahlawan yang menyinari Injansia kelak.
50Please respect copyright.PENANAsekM1pQrDg


