Aku bernama Bayu. Dua puluh dua tahun. Mahasiswa semester akhir Teknik Sipil di sebuah universitas negeri di Jawa Tengah. Rumah kami berdiri di pinggiran kota Semarang yang masih cukup asri—pohon mangga di halaman depan, pagar besi hitam yang sudah agak karatan, dan lorong sempit menuju kamar-kamar di lantai atas. Ayah bekerja sebagai pegawai negeri di dinas perhubungan, Ibu hanya ibu rumah tangga yang rajin memasak dan mengeluh tentang harga sayur setiap pagi. Kakak perempuanku, Viona, dua puluh lima tahun, baru saja lulus dan bekerja sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan ekspedisi. Dia cantik dalam arti yang membuat orang sering menoleh dua kali. Rambut hitamnya panjang, selalu harum setelah dicuci, jatuh lembut di bahu atau diikat kuda ketika sedang santai di rumah. Wajahnya oval, alisnya tegas tapi tidak keras, bibirnya penuh dan sering tersenyum tipis ketika sedang memikirkan sesuatu.
1154Please respect copyright.PENANAQczSiBFWOF
Tubuhnya… aku sering memperhatikan tanpa sengaja. Payudaranya montok, bentuknya bulat sempurna, tidak terlalu besar tapi cukup untuk membuat kaos ketat yang dia pakai di rumah terlihat menggoda. Pinggangnya ramping, lekuknya halus seperti ukiran, dan bokongnya bulat padat—terutama ketika dia memakai celana pendek rumah atau rok santai. Kakinya panjang, kulitnya halus kecokelatan karena sering terkena matahari saat naik motor ke kantor. Aku tahu ini salah, tapi sejak aku remaja, Kak Viona selalu menjadi ukuran kecantikan bagiku. Bukan hanya karena dia kakakku, tapi karena ada sesuatu yang membuatnya berbeda dari gadis-gadis lain yang pernah aku kenal.
1154Please respect copyright.PENANAMQBIMJO7Zf
Teman akrabnya sejak SMA, Dinda, dua puluh empat tahun, sering menginap di rumah kami. Dinda bekerja di bank swasta cabang Semarang. Tubuhnya sedikit lebih berisi dari Kak Viona. Payudaranya lebih besar, penuh, sering terlihat bergoyang pelan ketika dia tertawa atau bergerak cepat. Kulitnya lebih putih, paha dan bokongnya lebih montok, pinggangnya juga ramping tapi lebih berlekuk. Mereka seperti saudara sendiri. Dinda memanggil Ibu “Bunda”, dan Ibu memperlakukannya seperti anak sendiri. Setiap kali Dinda datang, rumah terasa lebih ramai. Tawa mereka berdua sering terdengar dari kamar Kak Viona sampai larut malam. Mereka tidur satu ranjang, berbagi selimut, berbisik-bisik sampai aku yang tidur di kamar sebelah kadang terbangun karena suara mereka yang pelan tapi jelas.
1154Please respect copyright.PENANAB6i7PeDk6Q
Aku mulai memperhatikan hal-hal kecil beberapa bulan terakhir. Cara Kak Viona memandang Dinda ketika Dinda tertawa—ada kelembutan yang lebih dari sekadar persahabatan. Cara Dinda menyentuh lengan Kak Viona saat mereka duduk di sofa menonton film, jarinya berlama-lama di kulit halus itu. Cara mereka saling memakai baju, saling meminjam bra, saling mengoleskan lotion di punggung. Aku mengabaikannya. Mungkin hanya kedekatan sahabat yang sudah bertahun-tahun. Tapi malam itu, semuanya berubah.
1154Please respect copyright.PENANAOf6LfdHRKG
Ayah dan Ibu pergi ke acara syukuran keluarga di Salatiga. Mereka berangkat siang, akan pulang besok siang. Rumah hanya berisi aku, Kak Viona, dan Dinda. Aku pulang dari kampus lebih awal karena dosen terakhir membatalkan kuliah. Jam menunjukkan pukul sembilan malam ketika aku masuk rumah. Lampu ruang tamu redup. Aku mendengar suara dari lantai atas—bukan tawa seperti biasanya. Ada desahan pelan, napas tersengal, dan bisikan yang tidak jelas.
1154Please respect copyright.PENANA9p68aSAk0g
Aku naik tangga pelan-pelan. Sepatu ku kulepas di bawah agar tidak berisik. Koridor lantai atas gelap, hanya cahaya temaram dari celah bawah pintu kamar Kak Viona yang menyelinap keluar. Pintunya tidak terkunci rapat. Ada celah kecil, sekitar dua jari. Rasa penasaran yang aneh mendorong aku mendekat. Aku tahu ini salah. Sangat salah. Tapi kaki ku seolah bergerak sendiri.
1154Please respect copyright.PENANASY9axcHZ5p
Aku mengintip.
1154Please respect copyright.PENANAyNFXez6FFy
Di dalam kamar, lampu nakas menyala redup. Kasur queen-size yang biasa dipakai Kak Viona dan Dinda ketika menginap sudah berantakan. Seprai putih kusut. Di atasnya, Kak Viona dan Dinda telanjang bulat.
1154Please respect copyright.PENANAmnUA89dLmL
Kak Viona berbaring telentang. Kakinya terbuka lebar, lutut ditekuk. Dinda berada di antara pahanya, kepalanya menunduk dalam, lidahnya menjilat bagian paling intim Kak Viona dengan gerakan lambat dan dalam. Aku melihat dengan jelas. Vagina Kak Viona basah, bibir luarnya merah muda mengkilap karena air liur dan cairan alami. Putingnya yang cokelat muda sudah mengeras sempurna, payudaranya montok bergoyang pelan setiap kali Dinda mengisap atau menjilat lebih dalam. Kulit perutnya yang halus berkeringat tipis, lekuk pinggangnya terlihat jelas saat dia mengangkat pinggul pelan, seolah meminta lebih banyak.
1154Please respect copyright.PENANAybvY3S4zEg
Dinda sendiri telanjang dari belakang. Bokongnya yang putih dan montok terangkat tinggi, paha mulusnya tegang. Aku bisa melihat payudaranya yang lebih besar bergantung dan bergoyang saat dia bergerak. Puting Dinda lebih gelap, lebih besar. Vagina Dinda juga terlihat dari sudut itu—basah, terbuka sedikit karena posisinya.
1154Please respect copyright.PENANAoxeft3CtEx
Mereka berdua mengerang pelan tapi jelas.
1154Please respect copyright.PENANAN3eTsv3Yts
“Ahh… Dinda… pelan-pelan sayang…” suara Kak Viona parau, penuh nikmat. Tangannya meraih rambut Dinda, menariknya lebih dekat ke vaginanya.
1154Please respect copyright.PENANAlseDuzt4GT
Dinda mengangkat kepala sebentar, bibir dan dagunya basah. “Kamu enak sekali, Vi. Aku suka banget rasa kamu. Basahnya… enak.”
1154Please respect copyright.PENANAakf5yAekVN
Mereka berganti posisi. Sekarang Kak Viona di atas. Dia duduk di wajah Dinda, menghadap ke kaki Dinda, lalu membungkuk untuk melakukan hal yang sama. Posisi 69. Kak Viona menggerakkan pinggul pelan di atas mulut Dinda, sementara lidahnya menjilat vagina Dinda dengan ritme yang sama. Suara basah dari lidah dan vagina mereka terdengar samar tapi jelas—suara yang membuat darahku mengalir deras ke bawah.
1154Please respect copyright.PENANAIwrNpamKdV
Aku terpaku. Jantungku berdetak sangat kencang sampai terasa di telinga. Napasku tertahan. Ada rasa kaget yang luar biasa, campur aduk dengan rasa bersalah yang dalam, tapi juga… gairah yang tak bisa kupungkiri. Kakakku. Kakakku yang selalu melindungiku, yang selalu memarahi ku ketika aku pulang malam, yang selalu memasakkan aku mie instan ketika Ibu sibuk… sekarang telanjang, mengerang, dan saling menjilat dengan sahabatnya.
1154Please respect copyright.PENANANMTQzxcE1M
Aku mengambil ponsel dari saku celana. Tangan ku gemetar hebat. Aku mengaktifkan kamera tanpa suara, tanpa flash. Aku mengambil foto. Satu. Dua. Tiga. Dari sudut yang berbeda. Foto yang menunjukkan wajah Kak Viona dalam ekstasi—mulut terbuka, mata setengah terpejam, pipi merah. Foto yang menunjukkan lidah Dinda menjilat vagina Kak Viona dengan jelas. Foto yang menunjukkan payudara mereka bergoyang, bokong Dinda terangkat, paha Kak Viona tegang. Aku mengambil sekitar tujuh foto sebelum rasa takut membuatku mundur pelan-pelan dari pintu.
1154Please respect copyright.PENANATRlkmzU0gQ
Aku kembali ke kamarku dengan langkah yang hampir berlari. Pintu ku kunci dari dalam. Aku duduk di tempat tidur, lampu kamar ku matikan. Hanya cahaya layar ponsel yang menyinari wajahku. Aku membuka galeri. Foto-foto itu muncul satu per satu.
1154Please respect copyright.PENANA693AIUAkmx
Aku memperbesar. Detail payudara Kak Viona yang montok, putingnya yang keras dan mengkilap. Lekuk pinggangnya yang indah saat dia mengangkat pinggul. Bokong Dinda yang bulat dan putih, paha nya yang mulus berkeringat. Ekspresi wajah mereka berdua—bukan ekspresi malu, tapi ekspresi penuh kenikmatan dan kasih sayang yang dalam. Mereka benar-benar saling mencintai. Bukan sekadar bermain-main.
1154Please respect copyright.PENANAQDrdrhCxKX
Aku merasa marah. Cemburu. Bingung. Tapi penis ku sudah sangat keras di dalam celana jeans. Aku membuka resleting, mengeluarkannya. Tangan ku menggenggam erat. Aku mulai menggerakkan tangan sambil terus melihat foto-foto itu. Bayangan Kak Viona telanjang, mengerang karena lidah Dinda, terus terbayang. Aku membayangkan bagaimana rasanya jika aku yang berada di posisi itu. Jika aku yang menyentuh payudaranya yang montok, jika aku yang menjilat vagina basahnya yang harum.
1154Please respect copyright.PENANASVotRf5KOs
Aku orgasme dengan cepat, kencang, dan penuh rasa bersalah yang luar biasa. Sperma ku menyembur ke perut dan tangan. Napas ku tersengal. Aku merasa jijik pada diriku sendiri. Tapi di saat yang sama, ada kepuasan gelap yang tak bisa kusangkal. Aku punya foto. Aku punya bukti. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, aku merasa punya kekuasaan atas Kak Viona.
1154Please respect copyright.PENANAHk1a7ou0fF
Keesokan paginya, suasana rumah terasa aneh. Dinda sudah bangun lebih awal, memasak nasi goreng di dapur bersama Kak Viona. Mereka tertawa seperti biasa, tapi aku melihat perbedaan kecil. Cara Kak Viona memandang Dinda—lebih lembut, lebih intim. Cara Dinda menyentuh pinggang Kak Viona saat mengambil garam—lebih lama dari biasanya.
1154Please respect copyright.PENANAjcciwo2zaR
Aku duduk di meja makan, mengamati mereka diam-diam. Kak Viona memakai kaos tipis warna putih dan celana pendek jeans. Kaosnya agak ketat, garis payudaranya terlihat jelas. Ketika dia membungkuk untuk mengambil piring, bokongnya yang bulat terlihat sempurna. Dinda memakai tank top dan hotpants, payudaranya yang lebih besar bergoyang pelan saat dia bergerak.
1154Please respect copyright.PENANAZOecUG1TmK
Mereka tidak curiga apa-apa. Mereka tidak tahu bahwa aku sudah melihat segalanya. Bahwa aku sudah memiliki senjata yang bisa menghancurkan rahasia mereka.
1154Please respect copyright.PENANABFqSkhvUxy
Siang harinya, Dinda pulang ke kosnya. Dia bilang ada urusan bank besok pagi, jadi harus persiapan. Kak Viona mengantarnya ke depan rumah, memeluknya agak lama, berbisik sesuatu yang membuat Dinda tersenyum malu. Aku mengamati dari jendela kamar.
1154Please respect copyright.PENANAKXGZcEbk0P
Setelah Dinda pergi, rumah kembali sunyi. Aku turun ke dapur. Kak Viona sedang mencuci piring, punggungnya menghadapku. Aku berdiri di ambang pintu, memandanginya dari belakang. Pinggangnya yang ramping, bokongnya yang bulat di dalam celana pendek, kakinya yang panjang dan mulus. Aku membayangkan bagaimana rasanya memegang bokong itu, meremasnya, membuka pahanya lebar-lebar seperti tadi malam.
1154Please respect copyright.PENANApont5xPT92
“Kak,” panggilku pelan.
1154Please respect copyright.PENANAIx7VeNCa8j
Dia menoleh, tersenyum biasa. “Ada apa, Bayu? Mau makan siang? Aku bisa masakkan sesuatu.”
1154Please respect copyright.PENANAOwQ6l3IMuf
Aku mengeluarkan ponsel. Aku membuka foto pertama yang aku ambil tadi malam—foto Kak Viona dengan mulut terbuka mengerang, Dinda menjilat vaginanya dengan jelas. Aku menunjukkan layar ke arahnya.
1154Please respect copyright.PENANA2q043mZZXW
Wajah Kak Viona berubah seketika. Warna darah seolah hilang dari pipinya. Tangannya yang basah karena air cucian piring gemetar hebat. Piring yang dipegangnya hampir terjatuh.
1154Please respect copyright.PENANAYbfOegHFoo
“Bayu… apa itu?” suaranya serak. “Dari mana kamu dapat foto itu?”
1154Please respect copyright.PENANAfQYsagDgqI
“Tadi malam,” jawabku datar. “Aku pulang lebih awal. Aku mendengar suara dari kamar mu. Pintunya tidak terkunci rapat. Aku mengintip. Dan aku foto.”
1154Please respect copyright.PENANAH8TaenVU36
Dia mundur selangkah, punggungnya menyentuh wastafel. “Hapus itu. Sekarang juga. Ini… ini salah. Kamu tidak boleh melihat. Kamu tidak boleh foto.”
1154Please respect copyright.PENANApKWEnPNkAo
“Kenapa kalian bisa seperti itu, Kak?” tanyaku, suaraku tetap tenang meski hatiku berdegup kencang. “Kalian berdua… saling menjilat, saling mengerang. Kalian lesbi?”
1154Please respect copyright.PENANAKWmTKtOcVH
Air mata mulai mengalir di pipi Kak Viona. “Kami… kami saling suka. Sudah lama. Sejak SMA. Tapi kami takut. Takut orang tua tahu. Takut kamu tahu. Ini rahasia kami, Bayu. Tolong… hapus foto itu. Jangan bilang siapa-siapa.”
1154Please respect copyright.PENANA2PLDj3lor3
Aku melangkah mendekat. Aku berdiri tepat di depannya. Jarak kami hanya satu langkah. Aku bisa mencium aroma sabun cuci piring bercampur parfumnya yang lembut. Aku bisa melihat dadanya naik turun cepat karena panik.
1154Please respect copyright.PENANASwLKwSkmW2
“Kalau begitu,” kataku pelan, “aku bisa bantu jaga rahasia ini. Selamanya. Tidak akan ada yang tahu. Tapi dengan syarat.”
1154Please respect copyright.PENANAED8CPkC2Yn
Matanya melebar. “Syarat… apa?”
1154Please respect copyright.PENANANptc4V7Ixy
Aku tersenyum tipis. Bukan senyum ramah. Senyum yang penuh maksud. “Kalian berdua harus melayani aku. Kamu dan Dinda. Kalian harus menjadi milikku juga. Bukan hanya milik satu sama lain.”
1154Please respect copyright.PENANAGvr2XNMzsl
Dia menggeleng cepat, air mata semakin deras. “Bayu… kamu gila? Kami kakak beradik! Ini… ini dosa besar. Kamu tidak bisa minta itu.”
1154Please respect copyright.PENANAxh0SUa2bdl
“Aku tidak peduli soal dosa,” jawabku. “Aku punya foto ini. Banyak foto. Foto yang menunjukkan wajah kalian jelas. Foto yang menunjukkan tubuh kalian telanjang, saling menjilat. Jika aku kirim ke grup keluarga WhatsApp, atau ke teman-teman kalian di kantor, atau bahkan ke orang tua Dinda… bagaimana menurutmu?”
1154Please respect copyright.PENANAyQJcoqD5Wb
Dia terdiam. Tubuhnya gemetar hebat. Tangannya mencengkeram pinggiran wastafel sampai buku-buku jarinya putih. “Kamu… kamu tidak akan melakukan itu. Kamu kakakku. Kamu tidak mungkin…”
1154Please respect copyright.PENANAdeqZvVLktM
“Aku akan,” potongku. “Kecuali kalian patuh. Besok malam, ketika Dinda datang lagi, kalian berdua datang ke kamarku. Kalian harus melakukan apa yang aku minta. Tanpa menolak. Tanpa menangis. Kalian harus melayani aku dengan baik. Jika kalian lakukan itu, foto-foto ini akan tetap aman. Tidak akan ada yang tahu.”
1154Please respect copyright.PENANAOFRUygXx8s
Kak Viona menunduk. Air matanya jatuh ke lantai dapur. Dia menangis pelan, bahunya bergoyang. Aku mengangkat dagunya dengan dua jari. Kulitnya halus, hangat. Matanya merah, penuh ketakutan dan… sesuatu yang lain. Mungkin malu. Mungkin ada percikan kecil yang tidak bisa dia sembunyikan.
1154Please respect copyright.PENANA1MF2tYV26u
“Baik…” bisiknya akhirnya. “Aku akan bicara dengan Dinda. Tapi… jangan sakiti kami. Jangan paksa kami melakukan hal yang… yang terlalu jauh.”
1154Please respect copyright.PENANA7lgaI0d0Ll
“Aku tidak akan sakiti,” jawabku. “Asal kalian patuh. Besok malam, pukul sembilan, kalian datang ke kamarku. Buka baju kalian di depanku. Dan mulai dari situ, kalian berdua milikku.”
1154Please respect copyright.PENANAPn4vWVRfJh
Dia mengangguk pelan, masih menangis. Aku melepaskan dagunya. Aku mundur selangkah. Aku melihat tubuhnya—kaos tipis yang basah di bagian dada karena air cucian, payudaranya yang montok terlihat jelas, pinggangnya yang ramping, celana pendek yang menempel di bokongnya yang bulat. Aku membayangkan besok malam, ketika dia berdiri telanjang di depanku, bersama Dinda.
1154Please respect copyright.PENANAYTs9G93CmJ
Aku berbalik dan naik ke kamarku. Pintu ku kututup pelan. Aku duduk di tempat tidur, memandang langit-langit.
1154Please respect copyright.PENANADRccjCjti5
Di dalam hatiku, ada kegembiraan gelap yang semakin membesar. Aku sudah melihat rahasia mereka. Aku sudah memiliki bukti. Dan besok malam, aku akan memiliki keduanya—Kak Viona yang cantik dan montok, dan Dinda yang lebih berisi dan menggoda.
1154Please respect copyright.PENANAdbx53qqsiI
Aku tersenyum sendiri dalam gelap.
Besok malamnya rumah terasa lebih sunyi dan lebih panas dari biasanya, meskipun AC di kamarku menyala dengan suara dengung pelan yang konstan. Jam dinding menunjukkan pukul delapan lewat sepuluh. Ayah dan Ibu masih di Salatiga, tidak akan pulang sebelum siang besok. Hanya aku, Bayu, dua puluh dua tahun, yang tersisa di rumah ini bersama rahasia besar yang baru saja aku temukan — dan rencana yang sudah aku susun dengan dingin sejak tadi sore.
1154Please respect copyright.PENANAGAQpHAhz3N
Aku duduk di kursi belajar, ponsel di tangan. Galeri foto yang aku ambil tadi malam masih terbuka. Aku memperbesar satu demi satu. Ada foto Kak Viona telentang, kakinya terbuka lebar, wajahnya setengah tertutup bantal karena malu atau nikmat, sementara Dinda menjilat vaginanya dengan lidah yang terjulur jelas. Ada foto lain di mana payudara Kak Viona bergoyang karena gerakan Dinda, putingnya yang cokelat muda mengeras sempurna, kulit perutnya yang halus berkeringat tipis. Aku bisa melihat setiap detail — lekuk pinggangnya yang indah, bokong Dinda yang montok terangkat tinggi, rambut hitam Dinda yang tersebar di paha Kak Viona.
1154Please respect copyright.PENANAgSbY7vkaM2
Penisku sudah setengah tegang hanya dengan melihatnya. Aku mengingat kembali bagaimana rasanya tadi malam mengintip dari celah pintu, jantung berdegup kencang, tangan gemetar saat mengambil foto diam-diam. Sekarang aku punya kekuasaan. Kak Viona — kakak yang selalu melindungiku, yang memasakkan aku ketika aku sakit, yang memarahiku ketika aku pulang terlalu malam — sekarang berada di bawah ancamanku. Dan Dinda, sahabatnya yang sering menginap dan memperlakukanku seperti adik kecil, juga akan ikut.
1154Please respect copyright.PENANACfLOC84SzF
Aku berdiri, berjalan mondar-mandir di kamar. Aku membayangkan bagaimana nanti mereka akan datang. Apakah Kak Viona akan menangis lagi? Apakah Dinda akan marah dan mencoba melawan? Aku merasa bersalah — sangat bersalah — karena ini kakak kandungku sendiri. Tapi di balik rasa bersalah itu ada kegembiraan gelap yang semakin membesar. Aku selalu mengagumi tubuh Kak Viona dari jauh. Payudaranya yang montok, pinggangnya yang ramping, bokongnya yang bulat padat. Sekarang aku akan menyentuhnya. Aku akan merasakannya. Dan aku akan membuatnya mengerang karena aku, bukan karena Dinda.
1154Please respect copyright.PENANAWlFIpCE3oU
Sekitar pukul setengah sembilan, aku mendengar suara motor bebek berhenti di depan pagar. Dinda datang. Aku mendengar pintu depan dibuka, suara Kak Viona menyapa dengan nada yang sedikit berbeda — lebih pelan, lebih tegang. Mereka berbicara di ruang tamu. Aku turun pelan-pelan sampai ke tangga, berdiri di balik dinding, menguping tanpa malu.
1154Please respect copyright.PENANAwiJusWrvnI
“Vi… apa-apaan ini? Bayu benar-benar foto kita tadi malam? Oh Tuhan… wajah kita jelas sekali…” suara Dinda terdengar panik, hampir menangis.
1154Please respect copyright.PENANARmCGzpKTKF
“Aku juga tidak tahu bagaimana dia bisa tahu,” jawab Kak Viona dengan suara serak. “Pintu kamar tidak aku kunci rapat. Mungkin dia pulang lebih awal dan mendengar suara kita. Dia sudah punya foto. Banyak foto. Kalau kita tidak patuh, dia akan sebarkan ke grup keluarga, ke teman-teman kantor kita, bahkan mungkin ke orang tua.”
1154Please respect copyright.PENANA4nHeiIycOK
“Kita harus lapor polisi! Ini pemerasan! Ini… ini incest juga nanti kalau dia benar-benar minta itu!”
1154Please respect copyright.PENANAIQ2gB4eoM8
“Tidak bisa, Din. Kalau orang tua tahu, mereka akan mengusir aku dari rumah. Karirmu juga bisa hancur. Foto itu terlalu jelas. Bayu bilang dia akan kirim semuanya kalau kita menolak. Kita tidak punya pilihan malam ini. Hanya malam ini. Aku akan usahakan… agar tidak berlarut-larut. Kita patuh dulu, lalu kita cari cara.”
1154Please respect copyright.PENANA4sd68pqD8D
Mereka berbicara lebih lama. Dinda menangis pelan, Kak Viona mencoba menenangkannya dengan suara lembut. Akhirnya aku mendengar langkah kaki naik tangga — dua pasang langkah yang berat dan ragu-ragu.
1154Please respect copyright.PENANActthB2Hzmz
Aku kembali ke kamarku, duduk di tempat tidur, lampu nakas menyala temaram. Pintu kamar ku biarkan sedikit terbuka. Aku sudah membuka celana jeans dan mengganti dengan celana pendek rumah yang longgar, tanpa celana dalam. Kontol ku sudah setengah tegang, menonjol jelas.
1154Please respect copyright.PENANAZbWNPdBrAk
Tak lama, ketukan pelan di pintu.
1154Please respect copyright.PENANAeJjEeAO0kS
“Bayu… kami sudah datang,” suara Kak Viona terdengar lemah, hampir berbisik.
1154Please respect copyright.PENANAZyocL5UXQn
“Masuk,” jawabku datar.
1154Please respect copyright.PENANAC6yojxNEmu
Pintu terbuka. Mereka masuk bersama. Kak Viona memakai kaos lengan pendek putih dan celana jeans biru ketat. Dinda memakai blouse krem dan rok panjang hitam. Wajah mereka pucat, mata bengkak dan merah karena menangis. Dinda langsung menunduk, tangannya saling mencengkeram. Kak Viona mencoba tersenyum tipis, tapi gagal.
1154Please respect copyright.PENANAASQy2iTiG5
Aku menunjuk tempat tidur. “Duduk.”
1154Please respect copyright.PENANAIXO92TL33T
Mereka duduk di tepi tempat tidur, berdekatan, bahu saling bersentuhan seolah saling memberi kekuatan. Aku berdiri di depan mereka, memandang dari atas. Aku mengeluarkan ponsel, membuka foto pertama — foto di mana Kak Viona mengerang dengan mulut terbuka lebar, Dinda menjilat vaginanya dengan jelas.
1154Please respect copyright.PENANAoJpvUeOyeU
Dinda menutup mulut dengan tangan, air mata langsung mengalir lagi. “Vi… ini… ini benar-benar kita…”
1154Please respect copyright.PENANAG0jKCjXVZf
“Ya,” jawabku. “Ini kalian berdua tadi malam. Lesbi. Saling menjilat, saling mengerang, saling orgasme. Dan sekarang, untuk menjaga rahasia itu tetap aman, kalian harus melayani aku. Adik laki-laki kalian.”
1154Please respect copyright.PENANA8x8koZzq9f
Kak Viona menatapku dengan mata berkaca-kaca. “Bayu… kamu tidak bisa minta ini. Kami kakak beradik. Ini dosa besar. Kamu akan menyesal nanti.”
1154Please respect copyright.PENANAK5T9F6M1zQ
“Aku tidak akan menyesal,” jawabku dingin. “Aku sudah menyesal sejak kecil karena selalu melihatmu dari jauh dan tidak bisa menyentuh. Sekarang aku punya kesempatan. Dan kalian tidak punya pilihan.”
1154Please respect copyright.PENANABSALcKoEcg
Dinda mengangkat wajahnya, matanya marah. “Kamu brengsek. Ini pemerasan. Kamu akan masuk penjara kalau kami lapor.”
1154Please respect copyright.PENANAfdfmqOvF1H
“Coba saja lapor,” aku tersenyum tipis. “Lalu aku sebarkan foto-foto ini ke semua orang sebelum polisi datang. Lihat siapa yang lebih menderita — aku atau kalian.”
1154Please respect copyright.PENANAE9vQF6iZEw
Mereka terdiam. Kak Viona menunduk, air matanya jatuh ke lantai. Dinda memeluk lengannya sendiri, tubuhnya gemetar.
1154Please respect copyright.PENANAZ3a3FQGZL6
Aku mendekat, mengangkat dagu Kak Viona dengan dua jari. Kulitnya halus, hangat, masih sedikit basah karena air mata. “Jangan menangis. Jika kalian patuh dengan baik malam ini, aku akan senang. Dan foto ini akan tetap aman di ponselku. Tapi jika kalian menolak atau pura-pura tidak menikmati… aku akan kirim semuanya besok pagi.”
1154Please respect copyright.PENANANf6M45lhAQ
Kak Viona mengangguk pelan, malu dan takut. Dinda juga mengangguk, meski dengan enggan.
1154Please respect copyright.PENANASclIyeakqb
Aku mundur selangkah, duduk di kursi belajar, dan memandang mereka. “Sekarang berdiri. Berdua. Di depan aku. Mulai dari Kak Viona. Buka kaosmu perlahan.”
1154Please respect copyright.PENANABKSHanJOeo
Viona berdiri dengan kaki goyah. Tangannya gemetar saat mengangkat kaos dari bawah. Kulit perutnya yang halus dan rata terlihat — perut yang selalu aku kagumi ketika dia memakai crop top di rumah. Kaos terangkat lebih tinggi, memperlihatkan bra putih sederhana yang menahan payudaranya yang montok. Bra itu agak ketat, garis atas payudara sedikit meluber. Dia tarik kaos ke atas, lepas dari kepala, dan jatuh ke lantai.
1154Please respect copyright.PENANA7VSdBxOnCF
“Bagus,” kataku pelan. “Sekarang bra.”
1154Please respect copyright.PENANAE4BrO1mcFt
Dia menunduk, tangan gemetar membuka kaitan di belakang. Bra longgar, tali jatuh dari bahu, lalu dia lepas sepenuhnya. Payudaranya terbebas dan sedikit bergoyang karena beratnya sendiri. Bulat, montok, kulitnya halus kecokelatan, puting cokelat muda sudah mengeras karena udara AC yang dingin atau karena ketegangan — atau mungkin karena sesuatu yang lebih dalam. Aku memandang lama, tidak buru-buru. “Cantik sekali, Kak. Lebih cantik dari bayanganku selama ini. Putingmu sudah keras. Kamu sudah mulai terangsang?”
1154Please respect copyright.PENANA8T29TDYmDw
Viona menutup payudaranya dengan kedua tangan, pipi merah padam. “Jangan… jangan lihat seperti itu…”
1154Please respect copyright.PENANANgUnRG0foT
“Jangan tutup,” perintahku. “Biarkan aku lihat semuanya. Sekarang buka celana jeans.”
1154Please respect copyright.PENANAXgt6NM1DBk
Dia buka kancing, turunkan resleting dengan suara kecil, lalu turunkan jeans ke bawah. Celana jeans ketat itu turun pelan, memperlihatkan paha mulusnya yang indah. Dia angkat kaki satu per satu untuk melepaskan celana, lalu berdiri hanya dengan celana dalam putih polos yang tipis. Aku bisa melihat bentuk vagina nya melalui kain — bibir luarnya sedikit menonjol, ada noda basah kecil di bagian tengah. Aku tersenyum. “Kamu sudah basah, Kak. Padahal tadi bilang tidak mau. Tubuhmu lebih jujur dari mulutmu.”
1154Please respect copyright.PENANAgjME5mUGuY
Viona menutup mata, air mata mengalir lagi, tapi dia tidak menutup kakinya. Aku suruh dia lepas celana dalam juga. Dia tarik ke bawah pelan, celana dalam jatuh ke pergelangan kaki lalu dia angkat. Sekarang Kak Viona berdiri telanjang sepenuhnya di depanku. Vagina nya terlihat jelas — strip tipis rambut hitam di atas, bibir luar pink dan sedikit mengkilap karena basah, klitoris kecil yang sudah sedikit membengkak. Bau femininnya yang harum mulai tercium samar di udara AC.
1154Please respect copyright.PENANA7fPD25Nu6J
Sekarang giliran Dinda.
1154Please respect copyright.PENANAiVhcAta7uV
“Dinda, sekarang kamu. Buka blouse dulu.”
1154Please respect copyright.PENANAc8IHHmalOo
Dinda lebih bandel. Dia menatapku dengan mata marah, tapi Kak Viona menyentuh lengannya pelan, memberi isyarat untuk patuh. Dinda membuka kancing blouse satu per satu dengan tangan gemetar. Blouse terbuka, memperlihatkan bra hitam yang lebih seksi — renda tipis, menahan payudara yang lebih besar dan lebih penuh dari Kak Viona. Ketika bra dilepas, payudaranya jatuh sedikit karena beratnya, bergoyang pelan. Lebih besar, lebih berat, puting lebih gelap dan lebih besar, sudah mengeras sempurna. Aku mendekat, tanganku meraih satu payudara Dinda, meremas pelan. “Enak. Lebih besar dan lebih berat. Putingmu lebih gelap. Aku suka.”
1154Please respect copyright.PENANA4mGpJZYbTx
Dinda menggigit bibir bawah, tidak menjawab, tapi napasnya tersengal.
1154Please respect copyright.PENANA69PzeHt0jB
Aku suruh dia lepas rok dan celana dalam. Rok hitam turun, memperlihatkan paha yang lebih montok. Celana dalam hitam juga turun. Vagina Dinda lebih berbulu, bibir lebih tebal dan lebih gelap, sudah agak basah juga — ada cairan bening yang mengkilap di bibir dalamnya.
1154Please respect copyright.PENANAHDvpa1g1Sc
Sekarang dua tubuh cantik berdiri telanjang di depanku. Kak Viona lebih ramping, payudara montok tapi proporsional, pinggang ramping, bokong bulat padat, kaki panjang. Dinda lebih berisi, payudara lebih besar dan berat, bokong lebih montok, paha lebih tebal dan mulus. Keduanya menggoda dengan cara berbeda. Bau tubuh mereka bercampur — parfum lembut Kak Viona, aroma sabun Dinda, dan sedikit aroma keringat karena gugup, plus aroma feminin yang semakin kuat dari vagina mereka yang basah.
1154Please respect copyright.PENANAABBuQT9cct
Aku berdiri, mendekat ke Kak Viona dulu. Tanganku meraih kedua payudaranya, meremas pelan tapi dalam, ibu jari mengusap puting yang sudah keras. Viona tubuhnya tegang, tapi dia tidak mundur. Aku menunduk, mulutku membuka, lidahku menjilat satu puting, lalu menghisapnya ke dalam mulut. Hangat, agak asin karena keringat tipis, teksturnya kenyal. Aku hisap lebih kuat, gigit pelan dengan gigi depan. Viona mengeluarkan desahan kecil yang tidak bisa ditahan — “Ahh… jangan… Bayu…”
1154Please respect copyright.PENANAcKau4LyHOD
“Kenapa jangan?” bisikku di dekat putingnya. “Kamu suka kan? Lihat, putingmu semakin keras. Kamu sudah basah sejak tadi.”
1154Please respect copyright.PENANARQNclIHOsp
Tanganku turun ke vagina nya. Dua jari mengusap bibir luarnya yang basah, lalu masuk pelan. Vagina nya hangat, licin, dinding dalamnya mengencang di jari ku. Aku gerakkan jari dalam-dalam, mencari titik sensitif, sambil ibu jari menekan klitorisnya. Viona pinggulnya bergerak sedikit, seolah ingin menolak tapi tubuhnya mengikuti. Desahannya semakin jelas. “Bayu… stop… aku tidak mau ini… ahh… tapi… jangan berhenti…”
1154Please respect copyright.PENANAqJPg18Vwuf
Aku terus finger dia sampai tubuhnya tegang, vagina mengencang kuat di jari ku, dan dia orgasme pertama malam itu. Tubuhnya kejang, cairan hangat mengalir keluar membasahi tangan ku. Aku jilat jari-jari ku di depan wajahnya. “Enak, Kak. Rasa mu manis.”
1154Please respect copyright.PENANAjcZxbKfFLb
Kemudian aku ke Dinda. Aku lakukan hal yang sama — meremas payudaranya yang lebih besar, menghisap putingnya yang lebih gelap dan lebih besar, finger vagina nya yang lebih tebal dan lebih berbulu. Dinda mengerang lebih keras, lebih bandel, tapi orgasme nya datang lebih cepat — tubuhnya gemetar, vagina mengencang, cairan nya lebih banyak. “Vi… tolong… ahh Bayu jangan… enak… aku tidak mau tapi enak…”
1154Please respect copyright.PENANAtfWiLnidFz
Sekarang aku siap untuk tahap berikutnya. Aku duduk di tempat tidur, membuka celana pendek ku. Kontol ku sudah sangat keras, panjang, tebal, ujungnya mengkilap penuh precum. Aku menunjuk ke lantai di depanku. “Berlutut. Berdua. Buka mulut kalian dan hisap kontol adikmu.”
1154Please respect copyright.PENANAkMHDPHS3Kn
Mereka berlutut dengan enggan. Kak Viona yang lebih dulu — tangannya gemetar saat meraih kontol ku. Dia membuka mulut, memasukkan kepala kontol ke dalam. Hangat, basah, lidahnya coba menyentuh ujung. Aku pegang rambutnya pelan, dorong lebih dalam. “Bagus, Kak. Hisap lebih dalam. Gunakan lidahmu. Lihat Dinda, kamu juga ikut.”
1154Please respect copyright.PENANAOaqFoZ4Aeq
Dinda mendekat dari samping, lidahnya menjilat batang kontol ku dari bawah, lalu menghisap bola ku dengan lembut. Mereka berdua melayani kontol ku dengan mulut — lidah bertemu, saliva mengalir deras, suara basah terdengar jelas di kamar yang sunyi. Aku mengerang nikmat, kepala tertarik ke belakang. “Ahh… enak sekali. Kalian berdua pandai menghisap. Kak Viona, hisap lebih dalam… ya seperti itu. Dinda, jilat ujungnya sambil Kak Viona menghisap.”
1154Please respect copyright.PENANAGpt0zPoolh
Aku biarkan mereka melakukannya lama — sekitar sepuluh menit. Aku bergantian mendorong kontol ke mulut Kak Viona dan mulut Dinda, membuat mereka bergantian dalam-dalam sampai hampir muntah, tapi mereka tetap patuh. Air liur mereka mengalir ke dagu, ke payudara mereka. Aku meremas payudara mereka sambil mereka menghisap.
1154Please respect copyright.PENANAFKJXJxZ2XF
Kemudian aku baringkan Kak Viona di tempat tidur, telentang, kakinya aku buka lebar dan angkat ke bahu ku. Vagina nya terbuka sempurna di depan mataku — basah mengkilap, bibir dalam merah muda, klitoris membengkak. Aku posisikan kontol ku di pintu masuknya. “Aku akan masuk sekarang, Kak. Kamu siap?”
1154Please respect copyright.PENANApG9tFXnWRS
“Bayu… jangan… ini salah… kita kakak beradik…” tapi pinggulnya sedikit maju, vagina nya berkedut seolah menyambut.
1154Please respect copyright.PENANAMkegpKB8S7
Aku dorong pelan. Kepala kontol masuk, lalu batang tebal menyusul. Vagina nya sangat ketat, hangat seperti oven, dinding dalamnya mengencang dan memijat kontol ku seperti ingin menolak tapi justru menyambut. Aku mengerang keras. “Ahh… Kak… memekmu sangat sempit dan panas. Lebih enak dari yang aku bayangkan selama ini. Kamu mengisap kontol ku seperti mau menelannya.”
1154Please respect copyright.PENANAUzezwP216s
Aku dorong sampai dalam, diam sebentar, merasakan setiap detik dinding vagina nya berdenyut di sekitar kontol ku. Kemudian aku mulai gerakkan pinggul pelan — tarik hampir keluar, dorong dalam lagi. Setiap dorongan, Viona mengerang campur antara “jangan” dan “ahh enak”. Payudaranya bergoyang pelan mengikuti ritme. Aku remas payudaranya dengan kedua tangan, jepit putingnya, sambil mengentot lebih dalam. “Lihat Dinda,” kataku ke Dinda yang duduk di samping tempat tidur menonton dengan mata lebar. “Lihat Kak Viona di entot adiknya sendiri. Dia lebih suka kontol laki-laki daripada lidahmu .”
1154Please respect copyright.PENANAZt0Vh0HFLt
Dinda menunduk, tapi matanya tidak bisa lepas dari tempat kami bertemu — kontol ku yang basah karena cairan Viona masuk keluar dari vagina nya yang merah dan bengkak.
1154Please respect copyright.PENANA77RXqINt9R
Aku ubah posisi. Aku tarik keluar pelan (transisi panjang — aku sentuh tubuh Viona, cium lehernya, bisik kotor di telinganya, biarkan dia bernapas sebentar), lalu suruh dia on all fours, doggy style. Bokongnya yang bulat dan padat terangkat di depan ku. Aku masukkan lagi dari belakang, kali ini lebih dalam, lebih kuat. Aku pegang pinggangnya, dorong kuat sampai kulit bokongnya bertepuk dengan pangkal pahaku. Tangan ku jilat, lalu jari tengah masukkan ke anus nya yang kecil — hanya ujung jari, buat dia kaget dan mengerang lebih keras. “Kak, bokongmu enak sekali. Besok atau lusa aku akan entot sini juga. Kamu akan mengerang lebih keras.”
1154Please respect copyright.PENANAkcnmyVocKr
“Tidak… jangan di sana… ahh Bayu… terlalu dalam…” tapi vagina nya semakin basah, cairan menetes ke paha.
1154Please respect copyright.PENANAtLvrMntdC5
Aku entot dia dari belakang lama — ritme cepat, dalam, kulit bertepuk keras, suara basah dari vagina nya yang terlalu basah. Viona orgasme lagi, tubuhnya kejang, vagina mengencang kuat di kontol ku, cairan nya menyembur sedikit. Aku tahan, tidak keluar dulu.
1154Please respect copyright.PENANAYoWhnHjyXS
Kemudian giliran Dinda. Aku suruh Dinda on all fours di samping Viona. Aku pindah ke Dinda, masukkan kontol yang masih basah dari cairan Viona ke vagina Dinda yang lebih longgar dan lebih berbulu. Aku entot Dinda dari belakang sambil tangan ku meraih payudaranya yang besar dari bawah, meremas kuat. Dinda mengerang lebih keras. “Ahh… Bayu… jangan… terlalu kasar… tapi enak… Vi tolong…”
1154Please respect copyright.PENANAsCPa6V2tNq
Kelanjutannya ada link di bawah ini


