192Please respect copyright.PENANAP4K4UaD0K2Bab 2
Bab 2: Rencana Pembunuhan di Hutan
192Please respect copyright.PENANAPcDrneBYaq
Ratu masih berdiri telanjang di depan jendela kamarnya yang berantakan. Tubuhnya berkeringat, memeknya masih basah dan sedikit nyeri setelah dilayani dua puluh pria sekaligus tadi. Air mani para pria itu masih mengalir pelan di paha dalamnya. Namun amarah dan kecemburuannya terhadap Putri Salju tidak juga reda. Justru semakin membesar.
Ia memandang ke arah taman sekali lagi. Putri Salju sudah tidak terlihat. Gadis itu mungkin sudah kembali ke kamarnya. Ratu mengepalkan tangan. Ia membutuhkan cara yang lebih pasti untuk menyingkirkan gadis itu. Cara yang tidak akan menimbulkan kecurigaan di istana.
Setelah beberapa menit berdiri dalam diam, sebuah ide muncul di kepalanya.
“Berburu…” gumamnya pelan. Bibirnya yang merah membentuk senyum tipis yang jahat.
Ia tahu Putri Salju sangat menyukai alam dan binatang. Gadis itu sering pergi ke pinggir hutan untuk memberi makan rusa atau sekadar berjalan-jalan. Ratu bisa memanfaatkan itu.
Ia akan memerintahkan Putri Salju untuk pergi berburu ke dalam hutan yang lebih dalam bersama beberapa “pemburu” pilihan Ratu. Orang-orang yang sudah sering ia gunakan untuk pekerjaan kotor. Mereka adalah pria-pria kasar, kejam, dan tidak segan membunuh. Ratu akan memberi mereka perintah rahasia: bunuh Putri Salju di tengah hutan, buang mayatnya, lalu bawa pulang jantungnya sebagai bukti.
Ratu tersenyum lebih lebar. Rencana itu terasa sempurna. Tidak ada yang akan curiga jika Putri Salju “tersesat” atau “diserang binatang buas” di hutan.
Ia segera memanggil pelayan kepercayaannya.
“Panggil Putri Salju ke sini. Sekarang juga,” perintahnya.
Tak lama kemudian, Putri Salju masuk ke kamar Ratu dengan langkah ringan. Ia masih mengenakan gaun putih tipis yang sama seperti tadi pagi. Rambut hitamnya sedikit acak-acakan karena angin di taman. Tubuhnya yang delapan belas tahun terlihat segar dan menggoda tanpa ia sadari. Payudaranya yang montok sedikit terangkat setiap kali ia bernapas. Pinggulnya bergoyang pelan saat berjalan.
“Apa yang Ibu Ratu panggilkan?” tanya Putri Salju dengan sopan, matanya yang besar dan polos menatap Ratu.
Ratu sudah mengenakan jubah hitam longgar yang sedikit terbuka di dada, memperlihatkan belahan payudaranya yang kencang. Ia tersenyum manis, meski matanya dingin.
“Putriku sayang,” katanya dengan suara lembut yang palsu. “Ibu Ratu melihat kau begitu menyukai hutan dan binatang. Hari ini Ibu ingin kau pergi berburu ke hutan sebelah timur. Ambil beberapa ekor rusa atau kelinci untuk makan malam kita. Ibu sudah menyiapkan beberapa pemburu terbaik untuk menemanimu. Mereka akan melindungimu.”
Putri Salju tersenyum lebar. Matanya berbinar.
“Benarkah, Ibu Ratu? Boleh aku pergi?”
“Ya, tentu saja. Pergilah sekarang juga sebelum siang. Jangan lupa bawa gaun yang lebih cocok untuk berburu. Ibu tidak ingin kau kotorkan gaun bagusmu.”
Putri Salju mengangguk antusias. Ia tidak curiga sedikit pun. Ia membungkuk hormat lalu keluar dari kamar Ratu dengan langkah ringan dan gembira.
Begitu pintu tertutup, senyum Ratu langsung hilang. Ia berbalik dan berjalan ke meja tulisnya. Ia menulis surat singkat berisi perintah rahasia kepada ketua kelompok pemburu yang sudah ia pilih.
“ Bunuh gadis itu di dalam hutan. Jangan tinggalkan jejak. Bawa jantungnya kembali sebagai bukti. ”
Ia menyegel surat itu dengan lilin merah dan memanggil salah satu pelayan pria kepercayaannya untuk mengantarkan surat itu kepada ketua pemburu.
Sementara itu, Putri Salju sudah kembali ke kamarnya dan mengganti pakaian. Ia mengenakan gaun berburu sederhana berwarna cokelat muda yang agak ketat di dada dan pinggul. Gaun itu sedikit pendek di bagian bawah, memperlihatkan betis mulusnya. Ia mengikat rambutnya menjadi kepang longgar, lalu mengambil busur dan anak panah kecil yang biasa ia gunakan.
Tak lama kemudian, ia bertemu dengan empat pemburu di halaman istana.
Empat pria itu bertubuh kekar dan tinggi. Wajah mereka kasar, tangan mereka besar dan kasar karena sering berburu dan membunuh. Mereka sudah menerima surat rahasia dari Ratu dan tahu apa yang harus mereka lakukan. Namun saat melihat Putri Salju berjalan mendekat dengan gaun ketat yang menonjolkan lekuk tubuhnya yang matang, ketegangan langsung muncul di antara mereka.
Putri Salju tersenyum ramah kepada mereka.
“Terima kasih sudah mau menemani aku berburu. Aku tidak terlalu mahir, jadi tolong bantu aku ya.”
Salah satu pemburu, pria bernama Garrick yang paling besar dan paling kejam di antara mereka, menatap Putri Salju dari atas ke bawah. Matanya berhenti cukup lama di payudaranya yang terangkat oleh gaun ketat, lalu turun ke pinggul dan paha yang terlihat setiap kali ia melangkah.
“Kami akan menemanimu, Putri,” jawab Garrick dengan suara rendah. “Kami akan pastikan… kau mendapat pengalaman yang tak terlupakan di hutan.”
Putri Salju mengangguk polos, tidak menangkap nada ganda dalam suara Garrick.
Mereka berangkat menuju hutan sebelah timur. Perjalanan memakan waktu hampir dua jam. Semakin dalam mereka masuk ke hutan, semakin sepi suasananya. Hanya suara burung dan dedaunan yang bergesekan. Putri Salju berjalan di depan, sementara keempat pemburu mengikuti di belakangnya.
Mata mereka tidak bisa lepas dari tubuh Putri Salju.
Setiap kali ia melangkah, pinggulnya bergoyang. Gaun cokelat ketat itu menempel di pantatnya yang bulat dan kencang. Saat ia membungkuk untuk melihat jejak binatang, payudaranya yang montok terlihat jelas dari belakang, hampir meluber dari gaun. Keringat mulai membasahi leher dan dada Putri Salju karena udara hutan yang lembab dan panas. Gaunnya menempel di kulit, memperjelas bentuk putingnya yang mulai menonjol karena keringat.
Para pemburu saling pandang. Garrick mengangguk pelan kepada yang lain. Rencana membunuh Putri Salju masih ada di kepala mereka, tapi nafsu mulai mengalahkan perintah Ratu.
Mereka berhenti di sebuah tempat terbuka di tengah hutan yang agak gelap karena pepohonan lebat. Tidak ada siapa-siapa di sekitar. Hanya mereka berlima.
Putri Salju berhenti dan menoleh.
“Mengapa kita berhenti di sini? Aku belum melihat jejak rusa sama sekali.”
Garrick melangkah mendekat. Tubuhnya yang besar menjulang di depan Putri Salju. Dua pemburu lainnya mengelilinginya dari samping, sementara satu lagi berdiri di belakangnya.
“Kami berpikir… tidak perlu berburu rusa hari ini,” kata Garrick pelan. Matanya menatap Putri Salju dengan nafsu yang tak disembunyikan lagi.
Putri Salju mengerutkan kening.
“Apa maksudmu?”
Garrick mengangkat tangan besarnya dan menyentuh dagu Putri Salju dengan kasar. Jarinya yang kasar mengusap bibir merah gadis itu.
“Ratu memerintahkan kami untuk membunuhmu di hutan ini,” katanya terus terang. “Tapi melihat tubuhmu… melihat cara gaun ini menempel di payudaramu… di pinggulmu… kami berubah pikiran.”
Putri Salju mundur selangkah, wajahnya pucat.
“Apa… apa katamu? Ibu Ratu tidak mungkin—”
Sebelum ia selesai bicara, salah satu pemburu di belakangnya langsung memeluk tubuhnya dari belakang dengan kuat. Tangan besar itu meraih payudaranya dari luar gaun dan meremasnya kasar.
Putri Salju menjerit kaget.
“Jangan—!”
Garrick tertawa pelan.
“Terlalu terlambat, Putri kecil. Kami sudah melihatmu sejak tadi. Tubuhmu terlalu menggoda untuk dibunuh begitu saja. Kami akan menikmatimu dulu.”
Mereka langsung bertindak.
Dua pemburu merobek gaun berburu Putri Salju dengan paksa. Gaun itu disobek dari dada hingga pinggang, memperlihatkan payudaranya yang montok dan putih tanpa penutup. Putingnya yang merah muda langsung terpapar. Pria di belakangnya langsung meremas kedua payudara itu dengan kasar, mencubit putingnya hingga Putri Salju menangis kesakitan bercampur kaget.
Garrick membuka celananya dan mengeluarkan kontolnya yang sudah tegang dan besar. Ia mendorong Putri Salju hingga berlutut di tanah hutan yang lembab dan berdaun kering.
“Buka mulutmu,” perintahnya.
Putri Salju menggeleng ketakutan, tapi salah satu pemburu menarik rambutnya ke belakang dengan kasar hingga ia menjerit. Garrick langsung memasukkan kontol tebalnya ke dalam mulut Putri Salju yang terbuka. Ia mendorong dalam-dalam hingga Putri Salju tersedak.
Mereka memperlakukannya dengan sangat liar.
Garrick mengentot mulutnya dengan kasar, memegang kepala Putri Salju dengan dua tangan dan mengayunkan pinggulnya tanpa ampun. Air liur Putri Salju mengalir deras di dagunya. Sementara itu, dua pemburu lain merobek sisa gaunnya hingga ia hanya tersisa rok bagian bawah yang disobek hingga pinggang. Mereka membuka kaki Putri Salju lebar-lebar dan langsung menyentuh memeknya yang masih perawan.
“Memeknya masih rapat sekali,” geram salah satu dari mereka sambil memasukkan dua jari kasar ke dalam lubang Putri Salju yang kering karena ketakutan.
Mereka tidak peduli. Mereka meludahi jari mereka sendiri lalu memaksa memek Putri Salju terbuka dan mulai mengentotnya dengan jari secara kasar. Putri Salju menangis dan merintih di balik kontol yang ada di mulutnya.
Setelah beberapa menit, Garrick menarik kontolnya dari mulut Putri Salju. Ia mendorong tubuh gadis itu telungkup di atas daun-daun kering dan tanah. Ia mengangkat pinggul Putri Salju tinggi-tinggi, lalu menusukkan kontol besarnya ke dalam memek Putri Salju dengan satu dorongan keras.
Putri Salju menjerit sangat kencang. Tubuhnya tersentak hebat. Rasa sakit yang luar biasa menyebar dari antara kedua pahanya. Darah sedikit keluar karena membran yang robek. Garrick tidak peduli. Ia langsung menggerakkan pinggulnya dengan liar, mengentot Putri Salju dari belakang dengan sangat kasar dan cepat. Suara “plak-plak-plak” yang keras menggema di hutan yang sepi.
Dua pemburu lainnya tidak mau ketinggalan. Yang satu meraih kepala Putri Salju dan memasukkan kontolnya ke mulut gadis itu lagi. Yang lain meremas dan menampar pantat Putri Salju yang sedang dihajar dari belakang.
Mereka bergantian dengan brutal.
Setiap kali Garrick merasa hampir klimaks, ia menarik kontolnya dan berganti dengan yang lain. Putri Salju sudah tidak bisa menjerit lagi. Tubuhnya lemas, air mata mengalir deras, namun para pemburu terus memperlakukannya seperti mainan. Mereka memutar posisinya berkali-kali. Ada yang mengentot memeknya dari depan sambil menindih tubuhnya, ada yang memaksa ia naik ke pangkuan salah satu pria dan menggoyang pinggulnya sendiri meski ia menangis, ada yang menggunakan mulutnya secara bergantian.
Salah satu pemburu bahkan mengangkat tubuh Putri Salju dan menekannya ke pohon besar di dekat situ. Ia mengentot Putri Salju sambil berdiri, kaki gadis itu digantung di pinggang pria itu yang kekar. Setiap dorongan membuat punggung Putri Salju bergesekan dengan kulit pohon yang kasar.
Mereka tidak berhenti sampai lebih dari satu jam.
Setiap pria menuangkan air maninya ke dalam memek Putri Salju secara bergantian. Memek gadis itu sudah merah, bengkak, dan penuh air mani yang mengalir keluar setiap kali kontol baru masuk. Tubuhnya penuh keringat, kotoran daun, dan bekas tangan kasar para pemburu.
Setelah semua pria selesai dan merasa puas, mereka melepaskan Putri Salju. Gadis itu jatuh telentang di tanah hutan, napasnya terengah-engah, matanya kosong, tubuhnya gemetar hebat. Air mani mengalir deras dari antara kedua pahanya yang terbuka lebar.
Garrick berdiri di atasnya sambil mengenakan celana kembali. Ia menatap Putri Salju dengan senyum puas.
“Kami tidak akan membunuhmu hari ini,” katanya pelan. “Tubuhmu terlalu enak untuk dibuang begitu saja. Tapi jangan harap kami akan membiarkanmu pulang begitu mudah.”
Ia meludah ke tanah di dekat wajah Putri Salju.
“Kami akan membawamu ke tempat persembunyian kami dulu. Ratu tidak perlu tahu… setidaknya untuk sementara waktu.”
Dua pemburu lainnya mengangkat tubuh Putri Salju yang lemas dan telanjang. Mereka membawanya lebih dalam ke hutan, meninggalkan gaun robek dan busurnya di tempat terbuka.
Di kejauhan, burung-burung beterbangan karena suara jeritan tadi. Hutan kembali sunyi.
Sementara itu, di istana, Ratu masih menunggu kabar dari para pemburu dengan senyum puas di wajahnya.
Ia belum tahu bahwa rencananya sudah berubah total.
Setelah semua pemburu selesai menuangkan air mani mereka ke dalam tubuh Putri Salju, mereka berdiri mengelilingi tubuh gadis itu yang tergeletak lemas di atas daun-daun kering dan tanah hutan. Putri Salju sudah tidak bisa menangis lagi. Matanya setengah terbuka, napasnya pendek-pendek, tubuhnya penuh keringat, kotoran, dan air mani yang mengalir dari memeknya yang merah dan bengkak. Gaunnya sudah robek total, hanya menyisakan potongan kain di pergelangan tangan dan pergelangan kakinya.
Garrick, ketua pemburu, mengenakan celananya kembali sambil menatap Putri Salju dengan campuran puas dan sedikit ragu.
“Kita sudah bersenang-senang cukup lama,” katanya kepada ketiga rekannya. “Kalau kita bunuh dia sekarang dan bawa jantungnya ke Ratu, kita pasti dapat hadiah besar. Tapi…”
Ia menatap tubuh Putri Salju yang telanjang dan hancur.
“…tubuhnya terlalu enak. Kalau kita bunuh dia sekarang, kita tidak bisa menikmatinya lagi nanti.”
Salah satu pemburu lain mengangguk setuju.
“Biarkan saja dia pergi. Kita bunuh rusa saja, ambil jantungnya, dan bilang ke Ratu bahwa kita sudah membunuh Putri Salju. Ratu tidak akan tahu bedanya.”
Garrick berpikir sebentar, lalu mengangguk.
“Setuju. Lepaskan dia.”
Mereka tidak membantu Putri Salju sama sekali. Mereka hanya meninggalkannya telanjang di tengah hutan. Sebelum pergi, salah satu dari mereka menendang pantat Putri Salju dengan kasar.
“Kalau kamu beruntung, kamu bisa keluar dari hutan ini hidup-hidup. Kalau tidak… ya sudah nasibmu.”
Keempat pemburu itu tertawa pelan lalu pergi meninggalkan Putri Salju. Mereka membunuh seekor rusa besar yang lewat tidak jauh dari situ, mengambil jantungnya, dan membungkusnya dengan kain sebelum kembali ke istana untuk melapor kepada Ratu.
Putri Salju tergeletak sendirian.
Tubuhnya sakit di mana-mana. Memeknya terasa seperti robek, pahanya gemetar, dan ada air mani yang terus mengalir keluar dari dalam dirinya. Ia mencoba berdiri, tapi kakinya lemas. Dengan susah payah, ia merangkak dulu sebelum akhirnya bisa berdiri dengan berpegangan pada pohon.
Ia tidak tahu harus ke mana. Hutan ini sangat luas dan gelap. Ia hanya berjalan tanpa arah, telanjang, tubuhnya penuh bekas tangan kasar para pemburu. Air mata mengalir di pipinya, tapi ia terus berjalan. Setiap langkah terasa menyakitkan karena memeknya yang baru saja diperkosa secara brutal.
Sementara itu, di istana, Ratu menerima laporan dari Garrick dan ketiga rekannya. Mereka menyerahkan jantung rusa yang masih hangat.
“Ini jantung Putri Salju, Tuan Putri,” kata Garrick dengan wajah datar.
Ratu mengambil bungkusan itu dan tersenyum puas. Ia tidak curiga sedikit pun.
“Kalian sudah melakukan tugas dengan baik. Pergilah. Hadiah kalian akan kuberikan besok pagi.”
Setelah para pemburu pergi, Ratu membuka bungkusan itu dan menatap jantung rusa dengan senyum lebar.
“Akhirnya… gadis sialan itu sudah mati.”
Ia tidak tahu bahwa Putri Salju masih hidup dan sedang berjalan telanjang di dalam hutan.
Putri Salju terus berjalan semakin dalam ke hutan. Tubuhnya yang telanjang dan cantik berkilau karena keringat. Payudaranya yang montok bergoyang pelan setiap kali ia melangkah. Memeknya yang masih basah karena air mani para pemburu terus mengeluarkan cairan putih yang menetes di paha dalamnya.
Karena kecantikannya yang luar biasa — kulit putih seperti salju, rambut hitam legam, bibir merah, dan tubuh yang matang sempurna — aura aneh mulai menyebar di sekitarnya. Di hutan ini, ada banyak makhluk yang biasanya tidak terlalu peduli dengan manusia. Namun hari ini, sesuatu yang berbeda terjadi.
Kecantikan Putri Salju seolah menjadi magnet bagi nafsu semua makhluk jantan di hutan.
Makhluk pertama yang menemukannya adalah sekelompok goblin.
Sekitar tujuh goblin kecil berwarna hijau keabu-abuan muncul dari balik semak. Mereka biasanya pengecut dan suka mencuri, tapi saat melihat Putri Salju yang telanjang dan berjalan terhuyung-huyung, mata mereka langsung menyala penuh nafsu. Tubuh kecil mereka langsung bereaksi. Kontol hijau kecil mereka yang berbentuk aneh langsung mengeras.
Mereka berteriak kegirangan dan langsung mengepung Putri Salju.
Putri Salju mundur ketakutan.
“Jangan… pergilah!”
Tapi para goblin tidak peduli. Mereka langsung menjatuhkannya ke tanah. Tangan-tangan kecil tapi kuat mereka meraih payudaranya dan meremasnya dengan rakus. Beberapa goblin langsung menjilat putingnya dengan lidah kasar. Yang lain meraih kakinya dan membukanya lebar-lebar.
Salah satu goblin yang paling berani langsung naik ke atas tubuh Putri Salju dan menusukkan kontol kecilnya yang keras ke dalam memek gadis itu yang sudah basah. Meski kecil, ia menggerakkan pinggulnya dengan sangat cepat dan liar, seperti binatang.
Putri Salju menjerit. Tubuhnya yang sudah lelah semakin menderita. Goblin-goblin lain bergantian. Mereka memaksa Putri Salju berlutut dan memasukkan kontol mereka ke mulutnya secara bergantian. Beberapa goblin bahkan naik ke punggungnya dan mencoba memasukkan kontol ke lubang belakangnya, meski ukurannya kecil.
Mereka memperlakukan Putri Salju seperti mainan. Mereka menjilat seluruh tubuhnya, menggigit pelan payudaranya, dan mengentotnya tanpa henti. Air mani goblin yang berbau aneh mengalir ke dalam mulut dan memek Putri Salju. Setelah hampir empat puluh menit, para goblin akhirnya puas dan pergi meninggalkannya dalam keadaan lebih kotor dan lelah.
Putri Salju mencoba bangun lagi. Tubuhnya gemetar hebat. Ia terus berjalan, kali ini lebih dalam ke bagian hutan yang lebih gelap dan liar.
Tidak lama kemudian, ia mendengar suara lolongan serigala.
Sekelompok serigala besar muncul dari balik pepohonan. Bukan serigala biasa — mereka lebih besar, lebih ganas, dan mata mereka menyala merah karena nafsu yang tiba-tiba membara. Bau tubuh Putri Salju yang penuh air mani dan keringat seolah membuat mereka gila.
Salah satu serigala paling besar langsung mendekat dan menjilat paha dalam Putri Salju dengan lidah kasarnya yang panjang. Putri Salju mundur ketakutan, tapi serigala lain sudah mengelilinginya.
Serigala itu tidak menyerang untuk membunuh. Mereka menyerang untuk kawin.
Serigala terbesar mendorong Putri Salju hingga ia jatuh dengan posisi merangkak. Ia langsung naik ke punggung Putri Salju dan menusukkan kontol merah mudanya yang panjang dan runcing ke dalam memek gadis itu. Gerakannya sangat liar dan cepat, seperti kawin binatang. Kuku serigala mencakar punggung Putri Salju saat ia mengentot dengan ganas.
Putri Salju menjerit histeris. Tubuhnya bergoyang hebat karena dorongan serigala yang sangat kuat. Serigala lain mengelilinginya dan menjilat wajah serta payudaranya. Beberapa bahkan mencoba memasukkan kontol ke mulutnya.
Setelah serigala pertama selesai dan menuangkan air maninya yang panas ke dalam Putri Salju, serigala lain langsung menggantikan posisinya. Mereka bergantian memperkosa Putri Salju dengan cara yang sangat binatang. Putri Salju sudah tidak bisa melawan. Ia hanya bisa menangis dan merintih setiap kali kontol serigala menusuk dalam-dalam.
Setelah semua serigala selesai, mereka pergi meninggalkan Putri Salju yang sekarang benar-benar hancur. Tubuhnya penuh cakaran, air mani serigala mengalir deras dari memeknya, dan ia hampir tidak bisa berdiri.
Dengan sisa tenaga yang tersisa, Putri Salju terus berjalan terhuyung-huyung semakin dalam ke hutan.
Malam mulai turun.
Dan makhluk berikutnya yang menemukannya jauh lebih besar dan lebih berbahaya.
Sekelompok orc — makhluk humanoid tinggi besar dengan kulit hijau keabu-abuan, tubuh berotot, dan wajah menyeramkan — sedang berkemah di dekat sungai kecil. Saat mereka mencium bau Putri Salju yang penuh air mani binatang dan manusia, mereka langsung berdiri dan mencari sumbernya.
Mereka menemukan Putri Salju yang sedang duduk lemas di bawah pohon besar.
Orc terbesar di antara mereka — tinggi hampir dua setengah meter dengan otot yang menonjol — langsung mendekat. Ia mengangkat tubuh Putri Salju dengan mudah menggunakan satu tangan.
Putri Salju hanya bisa menatapnya dengan mata kosong.
Orc itu mengeluarkan kontolnya yang san192Please respect copyright.PENANA8E1WMUcBAv


