Bab 2: Rasa Pertama yang Terlarang
626Please respect copyright.PENANAx8Jy3EMRbQ
Laras masih terduduk di tempat tidur Rio dengan napas tersengal. memeknya berdenyut pelan, sisa cairan orgasme orgasme menetes pelan ke seprai yang sudah basah. Kakinya gemetar tak terkendali, air mata malu mengalir di pipi sawo matangnya yang memerah. Rio berdiri di depannya, kontol besarnya masih terpampang tegak, kepala mengkilap cairan awal yang bening. Bau maskulin yang kuat memenuhi kamar sejuk itu.
626Please respect copyright.PENANAnf1BglQoqm
“Mas… tolong… cukup sudah,” pinta Laras dengan suara bergetar. Payudaranya yang montok masih naik turun cepat, puting-putingnya menonjol keras di balik seragam basah keringat.
626Please respect copyright.PENANAQ9s5DeCdI4
Rio tersenyum tipis, tangannya menggenggam kontolnya sendiri dan menggosok pelan di depan wajah Laras. “Cukup? Baru permulaan, Mbak Laras. Kamu sudah basah sekali tadi. Tubuhmu jujur, meski mulutmu bohong.” Ia mendekat, ujung kontolnya hampir menyentuh bibir pembantu itu. “Kalau tidak mau aku kirim foto dan video ke Ayah, kamu harus patuh hari ini.”
626Please respect copyright.PENANADLmz6Z4ge7
Laras menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Air mata semakin deras. Tapi di balik rasa malu yang membakar, ada panas aneh yang menyebar dari memeknya. Nafsunya yang gila mulai bangkit lagi. Bau kontol Rio yang segar dan kuat membuat mulutnya berair tanpa sadar.
626Please respect copyright.PENANAz8xMdAar26
“Dekatkan wajahmu,” perintah Rio tegas tapi lembut.
626Please respect copyright.PENANAPgAXVI2g66
Dengan tangan gemetar, Laras mendekatkan wajahnya. Napas hangatnya menyapu kontol Rio. Pemuda itu mendesah pelan saat bibir lembut Laras hampir menyentuh kulit panas itu. “Cium dulu. Pelan-pelan.”
626Please respect copyright.PENANAitxsDyyrup
Laras menutup mata, air mata menetes ke kontol Rio. Ia mencium ujungnya dengan bibir gemetar. Rasa asin manis cairan awal Rio menyentuh lidahnya. “Hh…” desah kecil keluar dari mulutnya. kontol itu berdenyut di depan wajahnya, panas dan hidup.
626Please respect copyright.PENANA2orjCrKFGQ
“Bagus. Sekarang jilat dari bawah ke atas,” Rio memegang rambut Laras pelan, membimbingnya.
626Please respect copyright.PENANArIOLrVCyEG
Laras menurut. Lidahnya yang hangat menjilat dari pangkal kontol Rio yang tebal hingga ke kepala yang mengkilap. Suara basah “slurp…” terdengar. Rasa dan bau maskulin memenuhi indranya. memeknya kembali basah, cairan orgasme bening mengalir pelan ke paha dalamnya.
626Please respect copyright.PENANAu6utnOsbsX
Rio mengerang pelan. “Enak sekali lidahmu… Lanjutkan. Masukkan ke mulut.”
626Please respect copyright.PENANAkRjdcXCwJP
Laras membuka mulutnya lebar. Kepala kontol Rio masuk perlahan ke rongga hangatnya. Bibirnya meregang mengelilingi batang tebal itu. “Mmmph…” suara tertahan keluar dari tenggorokannya. Ia mulai menggerakkan kepala maju mundur pelan, lidahnya menari di sekeliling kepala kontol.
626Please respect copyright.PENANAYodnR7FPzR
Rio memegang rambut Laras lebih erat. Pinggulnya maju pelan, mendorong kontolnya lebih dalam. “Ya… seperti itu. Hisap lebih kuat, Mbak. Bayangkan ini sedang masuk ke memekmu yang basah tadi.”
626Please respect copyright.PENANApPG1VfJm81
Kata-kata kotor itu membuat Laras menggigil. memeknya berdenyut hebat, cerinya membengkak. Ia menghisap lebih kuat, pipinya cekung. Suara “gluck… gluck…” basah memenuhi kamar. Air liurnya menetes ke kontol Rio, membuatnya semakin licin dan mengkilap.
626Please respect copyright.PENANA1rMdnelVWS
Pemuda itu mendesah nikmat. “Kamu cepat belajar. Payudaramu besar sekali… keluarkan.”
626Please respect copyright.PENANALXyFhvHQDg
Laras melepaskan kontol Rio sebentar, napasnya tersengal. Dengan tangan gemetar ia membuka kancing seragam atasnya. Payudara J-cup montoknya melompat keluar, berat dan penuh, puting cokelat gelap menonjol keras. Rio langsung meremas keduanya kasar, mencubit puting hingga Laras menjerit kecil.
626Please respect copyright.PENANAkPEbEwIPZX
“Ahh! Sakit… tapi… enak,” erangnya tanpa sadar.
626Please respect copyright.PENANAkPkipx0BbY
Rio tersenyum puas. “Masukkan lagi ke mulut.”
626Please respect copyright.PENANAH9cl5SZsn7
Laras kembali menelan kontol Rio. Kali ini lebih dalam. Kepala kontol menyentuh tenggorokannya, membuatnya tersedak tapi tak mau melepaskan. Air mata mengalir, campur air liur yang menetes ke payudaranya sendiri. Rio mulai menggerakkan pinggul lebih cepat, fucking mulut Laras dengan irama sedang.
626Please respect copyright.PENANAYah9FQNViz
“Slurp… gluck… gluck…” Suara basah dan erangan keduanya bercampur.
626Please respect copyright.PENANAxvAySV6FXL
memek Laras sudah banjir. Ia menyelipkan satu tangan ke bawah, menggosok cerinya sendiri sambil menghisap. Rio melihat itu dan tertawa pelan. “Kamu memang binal. Main sendiri lagi sambil ngisap kontol majikan.”
626Please respect copyright.PENANAD7ZMBG4GWK
Laras hanya bisa mendesah di sekitar kontol tebal itu. Sensasi penuh di mulut, rasa asin manis, bau kuat, dan tangan Rio yang meremas payudaranya membuat otaknya berkabut kenikmatan. Malu masih ada, tapi nafsu jauh lebih kuat.
626Please respect copyright.PENANAjEJCoJAe5J
Rio semakin cepat. kontolnya berdenyut di dalam mulut Laras. “Aku mau keluar… terima di mulut ya.”
626Please respect copyright.PENANAVbdco2uCDg
Laras mengangguk kecil, matanya memohon. Beberapa detik kemudian, Rio mengerang panjang. sperma panas kental menyembur deras ke tenggorokan Laras. “Ughh… minum semuanya!”
626Please respect copyright.PENANAJOz41rCCV7
Laras tersedak, tapi menelan sebanyak mungkin. Beberapa sperma lolos dari sudut bibirnya, menetes ke payudara montoknya. Rasa asin pahit manis memenuhi mulutnya. Tubuhnya mengejang, orgasme kedua datang hanya dari menggosok memeknya sendiri. cairan orgasme bening squirt lagi, membasahi lantai kamar.
626Please respect copyright.PENANAbnoYoZsNt3
Rio menarik kontolnya keluar, masih setengah tegang dan mengkilap campuran air liur serta sperma. Ia mengusap sisa sperma di bibir Laras. “Bagus sekali untuk pertama kali. Mulutmu enak, Mbak Laras.”
626Please respect copyright.PENANAmyJikXEBv3
Laras terduduk lemas, napas tersengal, wajah basah air mata dan sperma. Payudaranya merah bekas remasan, memeknya masih berdenyut pelan mengeluarkan sisa cairan orgasme. “Mas Rio… saya… sudah patuh. Jangan bilang ke siapa-siapa ya…”
626Please respect copyright.PENANAmh5743Ds15
Rio duduk di sampingnya, tangannya menyusuri paha Laras yang licin. “Belum cukup. Ini baru awal. Mulai besok, kamu tidak boleh pakai celana dalam di rumah. Dan setiap malam, kamu harus lapor ke kamar aku atau Ayah.”
626Please respect copyright.PENANA7nIk7u0NBJ
Laras membelalak. “Ayah… maksud Mas?”
626Please respect copyright.PENANAyslQaY5QbF
Rio tersenyum misterius. “Ayah juga suka mainan baru yang cantik seperti kamu. Tubuhmu terlalu menggoda untuk hanya aku saja.”
626Please respect copyright.PENANAt7HchKOsa0
Laras merasa dunia berputar. Malu, takut, tapi memeknya kembali berdenyut hanya mendengar ancaman itu. Nafsunya yang gila mulai membuatnya ketagihan sensasi baru ini.
626Please respect copyright.PENANAx7ZAAJUCTF
Rio berdiri, merapikan celana. “Bersihkan kamar ini. Besok lanjut lagi. Dan ingat, kalau melawan… semuanya akan tahu betapa binalnya pembantu baru ini.”
626Please respect copyright.PENANATnU3iYZCCw
Setelah Rio keluar, Laras ambruk ke tempat tidur. Tubuhnya lemas, tapi pikirannya penuh bayangan kontol besar Rio dan kemungkinan kontol Pak Budi yang katanya super tebal. Ia menyentuh memeknya yang masih basah, menggigit bibir.
626Please respect copyright.PENANABl3qiCzyRp
“Apa yang aku lakukan…” bisiknya. Tapi jari-jarinya kembali bergerak pelan, membayangkan apa yang akan terjadi besok.
626Please respect copyright.PENANAY54ZDs0mON
Malam semakin larut. Di rumah mewah itu, permainan gelap baru saja dimulai. Laras, pembantu cantik itu, sudah berada di ambang kehancuran yang penuh kenikmatan terlarang.
626Please respect copyright.PENANARJ5Ux1VbXL


