/story/219113/ustadz-cabul-dorongan-nafsu-prequel/?load=0
Ustadz Cabul: Dorongan Nafsu Prequel | Penana
arrow_back
Ustadz Cabul: Dorongan Nafsu Prequel
more_vert share bookmark_border file_download
info_outline
format_color_text
toc
exposure_plus_1
coins
Search stories, writers or societies
Continue ReadingClear All
What Others Are ReadingRefresh
X
Never miss what's happening on Penana!
G
Ustadz Cabul: Dorongan Nafsu Prequel
blibibdi69
Intro Table of Contents Top sponsors Comments (0)

"Nafsu hanya memberi kesenangan sesaat, namun penyesalan yang dibawanya bertahan sangat lama."

Ungkapan diatas sangat mulia. Namun, pada cerita kali ini penulis akan membawa pembaca untuk mengarungi kisah para Ustad dan Ustadzah yang terus menerus larut dalam DORONGAN NAFSU SESAAT dan mereka akan terus TERSESAT dalam lubang penuh nikmat.

Cerita ini akan tersaji dalam 3 Prequel:

Prequel 1:

"Oooh… aaah… aiihh… u-udah, pak ! Toloong, jangaan… saya tak mau ! Tak rela! Oooh… kasihani saya, pak ! Saya tak mau selingkuh… saya istri ustadz! Kasihani saya, pak Luhut !” keluh Halimah sambil masih berusaha melepaskan diri dari tindihan badan pak Luhut yang begitu kekar."

Desahan lemah lembut dari mulut Halimah terdengar sangat kontras dengan dengusan berat lelaki yang sedang menggagahinya, apalagi ketika pak Luhut setelah puas menciumi telinganya, kini mulai turun ke leher jenjang Halimah. Disitu pak Luhut menggigit-gigit dengan gemas sehingga terlihat cupangan-cupangan bekas bibir dowernya, setelah itu ciumannya turun ke bahu, kemudian wajah pak Luhut yang berhias kumis bagai sapu ijuk itu melekat di ketiak Halimah yang licin tanpa bulu, dan bagaikan anjing kelaparan mulai menciumi dan menilati kulit yang sedemikian halus dan peka itu.

Prequel 2:

“Maaf ustad.. Indri tau kalau ini dilarang agama, tapi Indri lagi butuh banget seseorang untuk bersandar dan ustad telah buat Indri nyaman.. maaf..”, ujar Indri sambil menatapku dengan matanya yang berkaca-kaca.

Suara bisikan iman dalam hatiku pun bergolak supaya aku segera pergi dan beristighfar karena aku sedang fii Sabilillah. Namun dentum genderang setan yang lebih keras menenggelamkan bisikan Iman yang terlalu lemah di hatiku. Lagipula aku memang menginginkan hal ini sejak pertama kali bertemu dengan Indri. Ah sudahlah, kita semua juga tau yang terjadi selanjutnya.

Kedua mata kami pun saling menatap. Bibir merah Indri yang basah sedikit terbuka menandakan dia siap akan apa yang akan terjadi selanjutnya. Indri mulai memejamkan matanya saat wajahku semakin dekat dan tanpa berlama-lama aku pun mendaratkan bibirku di bibir Indri.

Prequel 3:

“Kadang saat nonton bokep, saya membayangkan wajah ustadzah Arum.” Ucapnya, tangan kanannya masih bergerak maju mundur di batang penisnya sendiri.

“Jadi sekarang kamu sedang membayangkanku?” Tanyaku, sama sekali tak ada kemarahan, yang ada hanyalah rasa penasaranku. Dion mengangguk.

“Apa yang kamu bayangkan sekarang?” Entah kenapa pertanyaan ini begitu menggelitikku, padahal seharusnya aku tak melakukannya.

“Saya membayangkan ustadzah Arum sekarang telanjang sambil ngangkang. Saya bisa melihat vagina ustadzah Arum, payudara ustadzah…”

“Terus…?” Aku masih mengejar jawabannya, rasa penasaran dalam diriku perlahan berganti dengan perasaan aneh yang mulai merayapi tubuhku. Hangat dan sesuatu yang tak bisa kujelaskan dengan kata-kata.

“Saya ciumi ustadzah…Ouucchhh Ustadzah…” Dion terus mengocok batang penisnya sambil mengutarakan khayalannya padaku.

Tatapan mata jalang Dion menyusuri tubuhku seolah sedang menelanjangiku. Sama sekali tak ada rasa jengah, justru aku merasakan tersanjung bisa membangkitkan birahi seorang pria meskipun itu muridku sendiri.

Wajahku bahkan makin memerah, hangat yang terasa aneh mulai menjalari tubuhku. Gerakan tangan Dion sesekali dipelankan, mengurut sensual batang penisnya yang makin mengeras. Aku bisa dengan jelas melihat otot-otot penisnya membesar.

“Ouuhhh ustadzah Arum!! Saya mau crot…”

Show Comments
BOOKMARK
Total Reading Time: 1 hour 42 minutes
toc Table of Contents
bookmark_border Bookmark Start Reading >
×


Reset to default

X
×
×

Install this webapp for easier offline reading: tap and then Add to home screen.