852Please respect copyright.PENANAjrt2pgkYLHAnak Tiri yang Dipakai Keluarga dan Tetangga
Lina baru saja pulang dari kampus. Jam menunjukkan pukul setengah enam sore ketika ia mendorong pintu rumahnya yang sederhana di pinggiran kota. Rumah itu kecil, dua kamar tidur, ruang tamu sempit, dapur yang selalu beraroma masakan sederhana. Ibu Lina sudah meninggal dua tahun lalu, dan sejak itu ia hanya tinggal berdua dengan ayah tirinya, Pak Hendra.
Lina meletakkan tas kuliahnya di sofa, lalu berjalan ke kamarnya untuk berganti baju. Ia membuka kemeja seragam kampusnya, memperlihatkan bra hitam yang menahan payudaranya yang besar dan berat. Payudaranya selalu menjadi masalah baginya—terlalu mencolok untuk tubuhnya yang montok. Ia melepas bra, payudaranya langsung terjuntai bebas, putingnya yang kecokelatan sedikit mengeras karena udara sore yang agak dingin. Ia memakai kaus oblong tipis tanpa bra, kaus itu langsung menempel ketat di kulit, memperlihatkan bentuk putingnya yang jelas. Lalu ia memakai celana pendek jeans yang agak ketat di pinggulnya yang lebar.
Ia pergi ke dapur untuk memasak. Pak Hendra biasanya pulang kerja sekitar pukul tujuh. Lina memotong sayur, menggoreng ikan asin, menanak nasi. Tubuhnya bergerak lincah di dapur yang sempit. Saat ia membungkuk untuk mengambil bumbu di rak bawah, pantatnya yang bulat dan montok terangkat tinggi, celana pendeknya masuk sedikit ke sela pantatnya, memperlihatkan garis paha bagian dalam yang putih mulus.
Pintu depan terbuka. Pak Hendra pulang. Ia seorang pria 48 tahun, tubuhnya masih tegap karena dulu sering kerja kasar. Wajahnya kasar, kumis tipis, dan matanya selalu terlihat lapar saat memandang Lina belakangan ini.
“Lina, sudah pulang?” suaranya berat.
“Iya, Pak. Makanan sudah hampir matang,” jawab Lina tanpa menoleh, masih sibuk di kompor.
Pak Hendra meletakkan tas kerjanya, lalu berjalan ke dapur. Ia berdiri di belakang Lina yang sedang membungkuk mengaduk sayur. Matanya langsung jatuh ke pantat Lina yang terangkat. Celana pendek itu sangat ketat, memperlihatkan bentuk pantat yang bulat sempurna. Ia bisa melihat sedikit celah di antara paha Lina.
Tanpa berkata apa-apa, Pak Hendra mengulurkan tangan dan meraba pantat Lina dari belakang.
Lina tersentak. “Pak…!”
Tangan Pak Hendra meremas pantatnya dengan kasar, jarinya menekan daging yang empuk. “Ini pantatnya makin gede aja, Lina. Tiap hari dipakai duduk kuliah ya?”
Lina buru-buru berdiri tegak, memukul tangan ayah tirinya. “Pak! Jangan gitu! Aku anak kamu!”
Pak Hendra tertawa kecil, tapi matanya tidak ikut tertawa. “Anak tiri. Bukan darah daging. Dan kamu sudah besar sekarang, 19 tahun. Sudah waktunya kamu bantu ayah di rumah ini.”
Lina mundur selangkah, wajahnya memerah marah dan takut. “Aku bukan gitu, Pak. Jangan macam-macam.”
Pak Hendra mendekat lagi. Tangannya kali ini naik ke pinggang Lina, lalu naik lagi ke bawah payudaranya yang besar. Jarinya meremas payudara Lina dari bawah, merasakan berat dan kelembutannya melalui kaus tipis.
“Pak… jangan…” suara Lina sudah bergetar. Air matanya mulai menggenang.
Pak Hendra menarik Lina ke arahnya, memeluknya dari belakang. Kontolnya yang sudah setengah tegang menekan pantat Lina. “Kamu tinggal di rumah ini gratis, makan gratis, kuliah juga aku yang bayar. Sekarang ayah butuh sedikit hiburan. Kamu harus mengerti.”
Lina berusaha melepaskan diri, tapi Pak Hendra lebih kuat. Ia menarik kaus Lina ke atas, memperlihatkan payudara telanjangnya. Dua buah payudara besar itu langsung terjuntai. Putingnya yang kecokelatan sudah mengeras karena takut. Pak Hendra meremas keduanya dengan kasar, jarinya mencubit puting Lina hingga Lina menjerit pelan.
“Pak… sakit… tolong… aku takut…”
Pak Hendra mendorong Lina ke meja dapur. Ia membungkukkan tubuh Lina ke depan, payudaranya yang besar menempel di meja kayu yang dingin. Tangan Pak Hendra menarik celana pendek Lina ke bawah bersama celana dalamnya. Memek Lina yang mulus dan berbulu tipis langsung terlihat. Pak Hendra meraba memeknya dari belakang, jarinya kasar menyentuh bibir memek yang masih kering karena takut.
“Masih kering,” gumamnya. “Nanti juga basah sendiri.”
Lina menangis. “Pak… jangan… aku mohon… aku anak kamu…”
Pak Hendra membuka celananya. Kontolnya yang tebal dan panjang langsung keluar, sudah keras. Ia menggesekkan kepala kontolnya di sela pantat Lina, lalu mendorong ke depan, mencari lubang memek.
Lina berteriak saat kepala kontol Pak Hendra berhasil masuk sedikit. “Sakit! Pak… sakit banget!”
Pak Hendra tidak peduli. Ia mendorong lebih dalam dengan satu hentakan kuat. Kontolnya yang tebal merobek memek Lina yang sempit. Lina menjerit keras, tangannya mencengkeram pinggir meja. Air matanya jatuh deras di meja dapur. Darah tipis bercampur dengan rasa sakit yang luar biasa.
Pak Hendra mulai menggerakkan pinggulnya. Ia mengentot Lina dari belakang dengan kasar, tangannya meremas payudara Lina yang bergoyang-goyang setiap kali ia menghentak. Setiap kali kontolnya masuk penuh, Lina meraung. Memeknya terasa seperti robek, peregangan yang menyakitkan.
“Enak… memek kamu sempit banget, Lina… lebih enak dari ibumu dulu,” desah Pak Hendra sambil terus menghentak.
Lina hanya bisa menangis dan merintih. “Pak… pelan… sakit… tolong pelan…”
Pak Hendra malah mempercepat. Ia menarik rambut Lina ke belakang, memaksa Lina menengadah. Kontolnya terus masuk keluar dengan bunyi “plak-plak-plak” yang basah. Setelah beberapa menit, Pak Hendra mendesah panjang dan mendorong kontolnya sampai ke pangkal. Ia menyemprotkan sperma panas ke dalam rahim Lina. Lina bisa merasakan denyutan kontol itu, merasakan cairan hangat memenuhi perut bagian bawahnya.
Pak Hendra menarik kontolnya keluar. Sperma dan sedikit darah menetes dari memek Lina yang merah dan bengkak. Lina langsung jatuh berlutut di lantai dapur, tubuhnya gemetar, menangis tersedu-sedu. Memeknya sakit luar biasa. Ia merasa kotor, hina, dan takut.
Pak Hendra menarik celananya naik. “Mulai sekarang, setiap malam kamu tidur di kamarku. Kalau kamu berani bilang ke orang lain, aku sebarkan foto-foto kamu yang aku ambil diam-diam. Kamu paham?”
Lina hanya bisa mengangguk sambil menangis.
Malam itu, Lina dipaksa tidur di kamar Pak Hendra. Pak Hendra mengentotnya lagi dua kali. Yang pertama di posisi misionaris, payudara Lina diremas-remas kasar sementara kontolnya menghancurkan memeknya yang sudah sakit. Yang kedua di posisi doggy lagi, kali ini Pak Hendra memasukkan jari ke dalam anus Lina sambil mengentot memeknya. Lina menangis sepanjang malam, tapi tubuhnya mulai sedikit basah di tengah-tengah rasa sakit.
Keesokan harinya, Pak Hendra pulang lebih awal bersama seorang temannya, Pak Dodi, tetangga sebelah yang berusia 45 tahun, gemuk dan berkacamata.
Lina sedang di ruang tamu, memakai kaus tipis dan rok pendek. Saat melihat ada tamu, ia langsung mau masuk kamar, tapi Pak Hendra memanggilnya.
“Lina, sini. Duduk sama Pak Dodi.”
Lina duduk di sofa dengan gugup. Pak Dodi memandanginya dari atas ke bawah, matanya jelas-jelas menelanjangi. Pak Hendra duduk di sebelah Lina, tangannya langsung merayap ke pahanya.
“Pak Dodi sudah tahu semuanya,” kata Pak Hendra santai. “Mulai sekarang, dia juga boleh pakai kamu.”
Lina menoleh kaget. “Pak… apa-apaan ini…”
Pak Hendra menarik kaus Lina ke atas, memperlihatkan payudaranya ke Pak Dodi. “Lihat ini. Cantik kan? Besar dan empuk.”
Pak Dodi tertawa. “Wah, bagus sekali. Boleh saya coba?”
Tanpa menunggu jawaban, Pak Hendra mendorong Lina untuk berdiri. Ia menarik rok dan celana dalam Lina ke bawah. Memek Lina yang masih merah dan sedikit bengkak langsung terlihat. Pak Dodi meraba memeknya dengan jari gemuknya.
“Masih basah sisa semalam ya?” goda Pak Hendra.
Lina menangis pelan. “Pak… jangan… aku malu…”
Pak Hendra membuka celananya, mengeluarkan kontolnya yang sudah keras. Ia menyuruh Lina berlutut. “Hisap dulu. Kalau kamu hisap enak, nanti Pak Dodi juga ikut.”
Lina terpaksa membuka mulut. Kontol Pak Hendra yang berbau kencing dan sperma kering dimasukkan ke dalam mulutnya. Ia menghisap dengan enggan, air matanya jatuh. Sementara itu, Pak Dodi membuka celananya juga. Kontolnya yang pendek tapi sangat tebal langsung diarahkan ke wajah Lina.
Dua kontol sekarang ada di depan wajah Lina. Pak Hendra memegang kepala Lina, memaksanya bergantian menghisap kedua kontol itu. Lina tersedak beberapa kali, air liurnya menetes ke dagu dan payudaranya.
Setelah beberapa menit, Pak Hendra menyuruh Lina naik ke sofa, berlutut dengan pantat menghadap ke belakang. Ia masuk dari belakang dulu, mengentot memek Lina dengan cepat. Sementara itu, Pak Dodi berdiri di depan sofa, memasukkan kontolnya ke mulut Lina.
Lina dikentot dari dua arah sekaligus. Kontol Pak Hendra menghantam rahimnya dari belakang, sementara kontol Pak Dodi mencekik tenggorokannya. Payudaranya bergoyang-goyang hebat.
Setelah Pak Hendra puas, ia menarik kontolnya dan menyuruh Pak Dodi ganti posisi. Pak Dodi langsung naik ke sofa dan memasukkan kontol tebalnya ke memek Lina yang sudah basah oleh cairan campuran. Ia mengentot dengan gerakan pendek dan kuat, tangannya meremas pantat Lina dengan kasar.
Pak Hendra berdiri di samping, mengelus kontolnya yang basah. “Sekarang coba double. Aku mau lihat memeknya bisa muat dua.”
Lina tersentak. “Pak… tidak bisa… sakit… tolong jangan…”
Pak Hendra mengabaikan. Ia naik ke sofa, mendorong Pak Dodi sedikit ke samping. Dua pria itu sekarang berdiri di belakang Lina yang berlutut. Pak Hendra memegang kontolnya, mengarahkan ke memek Lina yang sudah penuh dengan kontol Pak Dodi.
“Pelan… pelan dulu,” kata Pak Dodi.
Kepala kontol Pak Hendra mendorong masuk ke samping kontol Pak Dodi. Memek Lina meregang sangat lebar. Lina berteriak keras, tubuhnya gemetar hebat. Rasa sakit luar biasa, seperti memeknya akan robek. Dua kontol tebal itu perlahan-lahan masuk bersama-sama, bergesekan di dalam dinding memeknya yang sempit.
“Wah… enak banget… dua kontol di dalam sini,” desah Pak Hendra.
Lina hanya bisa meraung. “Sakit… sakit banget… keluarin… tolong…”
Tapi kedua pria itu tidak peduli. Mereka mulai menggerakkan pinggul secara bergantian. Kadang satu masuk saat yang lain keluar, kadang keduanya mendorong masuk bersama. Memek Lina meregang ekstrem, bibir memeknya tertarik keluar setiap kali kedua kontol ditarik. Cairan campuran (air mani Pak Hendra semalam + cairan Lina + air liur) membuat suara “crot-crot-crot” yang sangat mesum.
Pak Hendra meraih payudara Lina dari belakang, meremasnya kuat-kuat. Pak Dodi memegang pinggul Lina, menariknya ke belakang setiap kali ia menghentak. Lina menangis tersedu, tapi di tengah rasa sakit yang luar biasa, ia merasakan sesuatu yang aneh—sebuah gelombang kecil nikmat yang tidak diinginkan mulai muncul dari dalam rahimnya.
Setelah hampir sepuluh menit double penetration, Pak Hendra mendesah dan menyemprotkan sperma di dalam memek Lina, di samping kontol Pak Dodi yang masih keras. Sperma panas itu membuat Lina merasa penuh luar biasa. Tak lama kemudian Pak Dodi juga keluar, menambah jumlah sperma di dalam rahim Lina.
Kedua kontol ditarik keluar. Memek Lina menganga lebar, sperma putih kental langsung mengalir keluar dalam jumlah banyak, menetes ke paha dan sofa. Lina langsung jatuh telungkup, tubuhnya gemetar, menangis histeris. Memeknya terasa seperti hancur, bengkak, dan sakit luar biasa.
Pak Hendra menepuk pantatnya. “Bagus. Mulai sekarang kamu milik kami berdua. Dan nanti ada yang lain juga.”
Hari-hari berikutnya menjadi neraka sekaligus kebiasaan yang mengerikan bagi Lina.
Setiap pagi sebelum berangkat kuliah, Pak Hendra selalu mengentotnya dulu—kadang cepat di kamar mandi, kadang lambat di dapur. Lina sudah tidak lagi menangis setiap kali, hanya diam dengan air mata mengalir pelan. Tubuhnya mulai terbiasa, memeknya lebih cepat basah meskipun hatinya masih menolak.
Pak Dodi datang hampir setiap dua hari. Kadang hanya berdua, kadang bertiga dengan Pak Hendra. Double vaginal menjadi rutinitas. Lina sudah hafal rasa dua kontol yang meregangkan memeknya secara bersamaan. Rasa sakitnya masih ada, tapi kadang-kadang, di tengah hentakan, ia merasakan orgasme kecil yang membuatnya malu sendiri.
Suatu sore, Pak Hendra membawa dua orang sekaligus: Pak Dodi dan Pak Bambang, teman kerjanya yang berusia 50 tahun, kurus tapi kontolnya panjang.
Mereka bertiga mengentot Lina di ruang tamu. Pertama bergantian. Lalu Pak Hendra dan Pak Dodi melakukan double vaginal lagi, kali ini di posisi Lina telentang di sofa dengan kaki diangkat tinggi. Pak Bambang memasukkan kontol panjangnya ke mulut Lina.
Saat dua kontol di memek dan satu di mulut, Lina merasa seperti benar-benar menjadi mainan. Payudaranya diremas bergantian oleh ketiga pria. Sperma Pak Hendra dan Pak Dodi kembali memenuhi rahimnya, sementara Pak Bambang menyemprotkan sperma ke dalam mulutnya. Lina terpaksa menelan sebagian, sisanya menetes dari bibirnya ke payudara.
Malam harinya, Pak Hendra mengajak Lina ke rumah Pak RT yang tinggal tiga rumah dari mereka. Pak RT sudah berusia 55 tahun, perut buncit, tapi matanya penuh nafsu. Di rumah Pak RT, Lina dipaksa melayani tiga pria sekaligus: Pak Hendra, Pak RT, dan tetangga lain bernama Pak Udin.
Mereka mengentotnya di ruang tamu Pak RT. Pertama bergantian. Lalu datang adegan double vaginal ketiga dalam minggu ini. Kali ini posisinya Lina ditidurkan di meja makan, kaki digantung di bahu Pak Hendra. Pak Hendra masuk dulu, lalu Pak RT mendorong kontolnya dari samping. Dua kontol lagi meregangkan memek Lina yang sudah terbiasa tapi tetap terasa penuh dan sakit.
Pak Udin berdiri di samping meja, memasukkan kontolnya ke mulut Lina. Lina dikentot dari tiga lubang sekaligus. Payudaranya yang besar bergoyang setiap kali dua kontol di bawah menghentak bersamaan. Sperma ketiga pria itu akhirnya memenuhi perut dan mulutnya.
Lina pulang ke rumah dengan jalan tertatih, memeknya bengkak dan sperma masih menetes di celana dalamnya.
Seminggu kemudian, Pak Hendra melakukan hal yang lebih berani.
Ia menyuruh Lina mengundang dua teman cowoknya dari kampus untuk “belajar kelompok” di rumah. Lina menolak keras, tapi Pak Hendra mengancam akan mengirim video yang ia rekam diam-diam saat Lina dikentot oleh Pak Dodi dan dirinya.
Lina terpaksa mengirim pesan ke Rian dan Andi, dua teman sekelasnya yang cukup dekat. Mereka datang sore itu, membawa buku dan laptop.
Pak Hendra menyambut ramah. Ia menyajikan minuman yang sudah dicampur obat perangsang ringan untuk Lina. Setelah satu jam “belajar”, Pak Hendra mulai membuka topik.
“Rian, Andi… kalian tahu tidak, Lina ini anak yang baik sekali di rumah. Dia selalu nurut sama ayahnya.”
Rian dan Andi saling pandang bingung.
Pak Hendra tersenyum. “Coba kalian lihat ini.”
Ia memutar video di laptop—video Lina sedang double vaginal dengan Pak Hendra dan Pak Dodi. Suara Lina menangis dan mengerang terdengar jelas.
Rian dan Andi terdiam kaget. Lina menunduk, wajahnya merah padam karena malu.
Pak Hendra berdiri. “Sekarang kalian berdua juga boleh ikut. Kalau tidak… video ini akan tersebar ke seluruh kampus.”
Rian, yang lebih berani, langsung berdiri. “Beneran, Pak?”
Pak Hendra mengangguk. “Silakan. Mulai dari sekarang, Lina milik kita semua.”
Andi masih ragu, tapi setelah melihat Lina yang hanya diam dengan air mata mengalir, ia juga bangkit.
Empat pria sekarang ada di ruang tamu: Pak Hendra, Rian, Andi, dan Lina yang duduk di tengah dengan kaus dan rok yang sudah setengah terbuka.
Pak Hendra menyuruh Lina berdiri dan membuka baju. Lina menangis pelan sambil melepaskan kausnya. Payudaranya yang besar terjuntai bebas. Lalu ia menurunkan rok dan celana dalam. Memeknya yang sudah sering dipakai terlihat merah dan sedikit basah.
Rian langsung mendekat, meraba payudara Lina dengan tangan gemetar. “Wah… gede banget…”
Andi meraba pantatnya dari belakang.
Pak Hendra membuka celananya. “Lina, hisap kontol ayah dulu.”
Lina berlutut. Ia menghisap kontol Pak Hendra sambil dua tangannya meraba kontol Rian dan Andi yang sudah dikeluarkan. Ketiga kontol itu bergantian dimasukkan ke mulutnya.
Setelah beberapa menit, Pak Hendra menyuruh Lina naik ke sofa, berlutut. Ia masuk dari belakang dulu, mengentot cepat. Sementara itu, Rian berdiri di depan, memasukkan kontolnya ke mulut Lina.
Andi menunggu giliran. Setelah Pak Hendra puas dan menyemprotkan sperma ke dalam, ia menarik kontolnya dan menyuruh Andi masuk.
Andi mengentot Lina dengan gaya yang lebih kasar, seolah-olah marah karena selama ini Lina selalu menolak ajakannya kencan. Ia menampar pantat Lina beberapa kali sambil menghentak.
Kemudian datang momen yang ditunggu-tunggu.
Pak Hendra naik lagi ke sofa. “Sekarang coba double sama temennya.”
Rian dan Andi saling pandang. Rian mengangguk. Ia berbaring di sofa, menarik Lina untuk naik di atasnya. Kontol Rian masuk ke memek Lina dari bawah. Andi berdiri di belakang, mendorong kontolnya ke samping kontol Rian.
Lina berteriak saat dua kontol temannya masuk bersamaan ke dalam memeknya. Rasa peregangan kali ini berbeda—lebih muda, lebih energik, dan entah kenapa lebih dalam.
“Wah… enak… memek Lina sempit banget buat dua kontol,” desah Rian dari bawah.
Andi menghentak dari belakang. Dua kontol itu bergesekan kuat di dalam dinding memek Lina. Lina meraung, tangannya mencengkeram bahu Rian. Payudaranya yang besar bergoyang di depan wajah Rian. Rian meraihnya dan menghisap putingnya dengan kasar.
Pak Hendra berdiri di samping, mengelus kontolnya sambil menonton. “Bagus. Hisap putingnya lebih keras, Rian. Buat dia nangis.”
Lina memang menangis, tapi kali ini ada campuran erangan nikmat yang tidak bisa ia tahan. Tubuhnya mulai bergetar. Setiap kali dua kontol menghentak bersamaan, ia merasakan tekanan yang dalam di rahimnya. Air matanya jatuh di dada Rian.
Setelah hampir lima belas menit double penetration dengan dua teman sekelasnya, Rian dan Andi hampir bersamaan menyemprotkan sperma ke dalam rahim Lina. Jumlahnya banyak. Sperma mereka bercampur dengan sisa sperma Pak Hendra tadi.
Ketika kedua kontol ditarik keluar, memek Lina menganga lebar, sperma putih kental langsung mengalir deras ke paha dan sofa. Lina jatuh lemas di atas Rian, napasnya tersengal, tubuhnya gemetar hebat.
Pak Hendra tersenyum puas. “Mulai sekarang, setiap akhir pekan kalian boleh datang. Dan nanti saya akan undang yang lain juga.”
Minggu berikutnya, intensitas semakin meningkat.
Pak Hendra mengundang lima orang sekaligus ke rumah: Pak Dodi, Pak Bambang, Pak RT, Pak Udin, dan satu teman baru bernama Pak Joko, seorang tukang ojek langganan yang berusia 40 tahun.
Mereka semua datang sore hari. Lina sudah disuruh mandi dan memakai lingerie tipis hitam yang Pak Hendra belikan—bra yang terlalu kecil sehingga payudaranya hampir tumpah, dan celana dalam thong yang langsung masuk ke sela memeknya.
Lina disuruh melayani mereka satu per satu di ruang tamu yang sudah ditutup tirainya.
Pertama Pak Hendra dan Pak Dodi melakukan double vaginal di posisi Lina telentang di meja makan, kakinya diangkat lebar-lebar. Dua kontol itu masuk dan keluar bergantian, kadang bersamaan. Lina menjerit setiap kali mereka mendorong dalam-dalam.
Kemudian giliran Pak Bambang dan Pak RT. Kali ini posisi doggy di lantai. Pak Bambang di bawah, Pak RT di belakang. Double vaginal lagi. Memek Lina sudah sangat basah dan longgar, tapi rasa penuh tetap luar biasa. Sperma dari double sebelumnya masih ada di dalam, membuat suara lebih mesum.
Pak Udin dan Pak Joko melakukan double vaginal ketiga di sofa. Kali ini Lina ditidurkan menyamping. Satu kontol dari depan, satu dari belakang. Mereka bergantian menghentak. Lina sudah tidak lagi menangis keras—hanya erangan panjang dan air mata yang mengalir pelan. Tubuhnya sudah terlalu lelah, tapi setiap kali dua kontol bergesekan di dalam memeknya, ia merasakan gelombang nikmat yang semakin sulit ditahan.
Pak Hendra merekam semuanya dengan ponselnya.
Setelah semua pria puas dan sperma mereka memenuhi rahim Lina berkali-kali, Pak Hendra menyuruh Lina berlutut di tengah ruang tamu. Lima pria berdiri mengelilinginya, kontol mereka yang masih setengah tegang diarahkan ke wajah dan payudaranya. Mereka menyuruh Lina membuka mulut lebar-lebar.
Sperma sisa dari semua pria itu mereka keluarkan lagi ke mulut dan payudara Lina. Lina menelan apa yang bisa ia telan, sisanya menetes ke payudaranya yang besar, mengalir ke perut dan paha.
Pak Hendra mengelus kepala Lina. “Kamu sudah jadi milik kami semua sekarang. Setiap hari, setiap minggu, kamu akan dipakai. Kalau kamu berani melawan… video-video ini akan tersebar.”
Lina menunduk. Air matanya jatuh ke lantai yang sudah kotor oleh cairan tubuh. Memeknya terasa hancur, bengkak, dan penuh sperma. Payudaranya penuh gigitan dan cubitan. Tapi di lubuk hatinya yang paling dalam, ia tahu bahwa tubuhnya sudah mulai terbiasa—bahkan kadang merindukan rasa penuh yang ekstrem itu.
Malam itu, setelah semua tamu pulang, Pak Hendra mengentot Lina sekali lagi di kamarnya. Kali ini pelan, hampir sayang. Ia berbisik di telinga Lina sambil menghentak dalam-dalam.
“Kamu sudah tidak bisa lari lagi, Lina. Kamu anak tiri yang baik… yang selalu nurut dipakai ayah dan teman-temannya.”
Lina hanya diam, memeluk bantal, membiarkan kontol ayah tirinya menyemprotkan sperma terakhir untuk malam itu ke dalam rahimnya yang sudah penuh.
Di luar jendela, lampu-lampu rumah tetangga masih menyala. Besok atau lusa, mungkin ada tetangga baru yang akan datang. Atau teman-teman Lina yang lain. Atau mungkin teman-teman Pak Hendra yang lebih banyak lagi.
Lina menutup mata. Air mata mengalir pelan di pipinya.
Tubuhnya sudah menjadi milik mereka.
Dan ia tahu, besok pagi, semuanya akan dimulai lagi.852Please respect copyright.PENANArLvEtSyVIF


