pacarku jadi mainan ayahnya dan kakaknya
Aku tidak pernah mengira bahwa undangan sederhana dari pacarku akan mengubah segalanya. Nama pacarku adalah Nayla. Dua puluh satu tahun, mahasiswi semester akhir di fakultas sastra, rambut hitam panjang yang selalu ia ikat agak longgar di tengkuk, menyisakan beberapa helai yang jatuh di bahu. Matanya hitam pekat dengan bulu mata lebat yang membuatnya selalu tampak seperti baru saja bangun dari mimpi basah. Bibirnya tebal, merah alami, sedikit menganga saat ia tersenyum, seolah selalu siap digigit.
922Please respect copyright.PENANAuVhfNkUjQ1
Tubuhnya… Tuhan, tubuhnya adalah kutukan dan anugerah sekaligus. Payudara sepasang yang berisi, tidak terlalu besar tapi berat dan kenyal, berbentuk buah pir terbalik yang selalu menggoyang pelan setiap ia melangkah. Aku tahu betul bentuknya di balik bra. Putingnya berwarna coklat muda, sensitif sekali; hanya dengan digosok pelan lewat baju saja sudah mengeras seperti kancing kecil. Pinggangnya ramping, membentuk lekukan yang sempurna menuju bokong bulat yang kenyal dan sedikit naik. Saat ia memakai celana jeans ketat, pantatnya tampak seperti dua buah peach yang matang, siap diperas. Pahanya mulus, berisi, bertemu di celah yang selalu membuat imajinasiku liar. Dan di antara paha itu… vagina yang selalu basah lebih cepat dari yang aku duga, beraroma manis seperti vanila basah yang bercampur dengan aroma kulitnya sendiri.
922Please respect copyright.PENANAMyQBoJWoj7
Kami sudah pacaran tujuh bulan. Bertemu di perpustakaan kampus, berawal dari saling meminjam buku, lalu ngopi, lalu ciuman di mobil, lalu seks di kos-kosan. Tapi Nayla selalu menolak aku menginap di rumahnya. “Rumahku jauh, Dio. Dan keluargaku… agak aneh,” katanya dulu sambil tertawa kecil, matanya menghindari pandanganku.
922Please respect copyright.PENANAZU8J8fJx4R
Hari itu, tiba-tiba ia mengirim pesan.
922Please respect copyright.PENANA8VGqqMMvOb
“Dio… minggu ini libur panjang. Ayah dan Kak Raka bilang boleh bawa pacar ke rumah. Mau ikut? Aku rindu kamu tidur peluk aku di kamar sendiri.”
922Please respect copyright.PENANAzi5IQdeQWL
Aku setuju tanpa pikir panjang. Rindu. Rindu bau tubuhnya yang khas, rindu desahannya saat aku menggigit cuping telinganya, rindu basahnya yang selalu membasahi jariku.
922Please respect copyright.PENANAw0SWtBB2nu
Sabtu pagi kami berangkat. Aku menjemputnya di terminal bus antar kota. Ia sudah menunggu dengan tas ransel kecil. Memakai kemeja putih tipis yang agak tembus pandang, dua kancing atas terbuka, memperlihatkan lekuk payudara yang dalam. Celana pendek denim yang hanya menutup sepertiga paha. Rambutnya tergerai, sedikit basah karena hujan semalam.
922Please respect copyright.PENANAbxqhU4NFND
“Hai,” katanya sambil tersenyum, lalu langsung memelukku erat. Dada montoknya menekan dadaku. Aku bisa merasakan putingnya yang sudah agak keras. Aroma parfum vanila campur kulit basahnya langsung membuat celanaku sesak.
922Please respect copyright.PENANA682NsnstD9
“Kamu cantik banget hari ini,” bisikku di telinganya.
922Please respect copyright.PENANAS0LVV2eVFi
Ia tertawa pelan, suaranya rendah dan basah. “Jangan bilang begitu di depan Ayah nanti. Dia suka cemburu kalau ada yang puji aku.”
922Please respect copyright.PENANAoaTQbsuw1T
“Cemburu?” Aku mengernyit.
922Please respect copyright.PENANAnFLSL0STFH
Nayla hanya mengangkat bahu, senyumnya agak aneh. “Keluarga kami… dekat. Nanti kamu lihat sendiri.”
922Please respect copyright.PENANA5PJu7hZqDf
Perjalanan dua jam dengan mobil sewaan terasa seperti siksaan manis. Nayla duduk di kursi penumpang, kaki disilangkan, celana pendeknya naik semakin tinggi. Aku mencuri pandang berkali-kali. Paha dalamnya putih bersih, tanpa bekas luka, seolah belum pernah disentuh matahari. Sesekali ia meraih tanganku dan meletakkannya di atas pahanya, mengusap-usap pelan.
922Please respect copyright.PENANA1p92sRQoSU
“Dio… nanti malam, di kamar aku, boleh kan kita…?” suaranya pelan, matanya menatap lurus ke jalan tapi pipinya memerah.
922Please respect copyright.PENANA5YJNI5fYcX
“Boleh. Aku bahkan mau sekarang,” jawabku, tangan mulai naik pelan ke arah selangkangannya.
922Please respect copyright.PENANAXA5eO9lh2o
Ia menahan tanganku. “Jangan. Nanti basah. Aku nggak bawa ganti celana dalam.”
922Please respect copyright.PENANAPRreyU0UY3
Aku menelan ludah. “Kamu nggak pakai…?”
922Please respect copyright.PENANAkMGYEzsNS4
“Pakai. Tapi tipis. Lace hitam. Yang kamu suka.” Ia menoleh, bibirnya terbuka sedikit. “Aku basah dari tadi pagi mikirin kamu. Mikirin lidahmu di situ. Mikirin jari-jarimu yang selalu tahu cara bikin aku squirt.”
922Please respect copyright.PENANAx0hTbe9uN5
Aku mengerang pelan. “Nayla, jangan. Nanti aku stop di pinggir jalan.”
922Please respect copyright.PENANAxnmvbtp4eh
Ia tertawa, suaranya merdu tapi penuh hasrat. “Sabar. Di rumah nanti. Kamar aku di lantai dua, paling ujung. Dindingnya tebal. Ayah dan Kak Raka kamarnya di lantai satu.”
922Please respect copyright.PENANAV1XpBtAe9l
Aku mengangguk, berusaha fokus ke jalan. Tapi bayangan tubuhnya yang telanjang terus menghantuiku. Bayangan payudaranya yang bergoyang saat aku mengentotnya dari belakang. Bayangan putingnya yang aku hisap sampai ia menggeliat. Bayangan vagina basahnya yang selalu meregang sempurna menerima kontolku.
922Please respect copyright.PENANA7tT68pZZtk
Rumah mereka berada di pinggiran kota kecil, sebuah villa dua lantai dengan taman luas dan kolam renang di belakang. Pagar tinggi, sepi. Saat mobil berhenti di depan garasi, pintu rumah sudah terbuka.
922Please respect copyright.PENANA6sfjIjOsNH
Seorang pria berusia sekitar empat puluh tujuh tahun berdiri di sana. Tinggi, tegap, rambut hitam sedikit beruban di pelipis, rahang tegas, mata tajam. Ia memakai kaos hitam longgar dan celana pendek. Otot dadanya masih terlihat jelas. Ini pasti Pak Surya, ayah Nayla.
922Please respect copyright.PENANAzKJPlAN2VO
Di sampingnya berdiri pria lebih muda, sekitar dua puluh lima tahun. Raka. Kakak Nayla. Rambutnya agak gondrong, senyumnya nakal, tubuhnya atletis. Ia memakai tank top putih yang memperlihatkan lengan berotot dan tato kecil di dada kiri.
922Please respect copyright.PENANAiwY36TWlT8
“Naylaaa!” Raka langsung berlari mendekat saat kami turun. Ia memeluk adiknya erat, mengangkat tubuh Nayla sedikit sehingga kaki Nayla terangkat dari tanah. Pelukan itu lama. Tangan Raka turun ke pinggang adiknya, hampir menyentuh bokong. Nayla tertawa, memeluk balik leher kakaknya.
922Please respect copyright.PENANAvJwe1jxstz
“Kak, lepas. Bau keringat,” godanya, tapi tidak benar-benar berusaha lepas.
922Please respect copyright.PENANA6t1fPInIFJ
Pak Surya mendekat lebih pelan. Matanya menyapu tubuh putrinya dari atas ke bawah, berhenti sejenak di dada yang menonjol karena kemeja tipis, lalu ke paha yang terbuka. “Kamu kurusan, Nak,” katanya, suaranya dalam dan hangat. Lalu ia memeluk Nayla. Pelukan ayah-anak yang normal… tapi tangannya menepuk-nepuk punggung bawah putrinya lebih lama dari seharusnya. Saat lepas, jarinya sempat mengusap pinggang ramping Nayla.
922Please respect copyright.PENANA9Bs3dicuaY
Aku berdiri di samping, merasa seperti orang luar.
922Please respect copyright.PENANAFmuzNBbZ4J
“Ini Dio, Ayah. Pacarku,” kata Nayla, menarik tanganku.
922Please respect copyright.PENANADV5PxeHDnV
Pak Surya menjabat tanganku erat. Senyumnya ramah, tapi matanya menilai. “Selamat datang, Dio. Semoga betah.”
922Please respect copyright.PENANANOf6unaBCe
Raka juga menjabat tanganku, tapi lebih santai. “Wah, finally ketemu. Nayla sering cerita soal kamu. Katanya jago di tempat tidur,” godanya sambil tertawa.
922Please respect copyright.PENANAv4dF6AcNfh
Nayla memukul lengan kakaknya. “Kak! Malu!”
922Please respect copyright.PENANAdYIfl0Cyxv
Tapi pipinya memerah. Dan aku melihat Raka mengedipkan mata padanya.
922Please respect copyright.PENANAO5SvdN1wwm
Kami masuk. Rumah itu luas, interior modern minimalis dengan sentuhan kayu. Aroma kopi dan masakan tercium. Di ruang tamu ada sofa besar berbentuk L, TV besar, dan beberapa foto keluarga di dinding. Satu foto menangkap perhatianku: Nayla berusia sekitar tujuh belas, memakai bikini di tepi kolam, tertawa, sementara Raka memeluknya dari belakang dan Pak Surya berdiri di samping, tangan di bahu putrinya.
922Please respect copyright.PENANAfQAb5cIoix
“Duduk dulu,” kata Pak Surya. “Nayla, bantu Ayah di dapur. Dio, Raka, ngobrol dulu.”
922Please respect copyright.PENANAr1EvL6MW1Q
Nayla mengangguk, tapi sebelum pergi ia berbisik di telingaku, “Nanti aku antar ke kamarku dulu ya. Mau ganti baju.”
922Please respect copyright.PENANAbcX5QOf30Y
Ia pergi, pantatnya bergoyang pelan di dalam celana pendek itu. Aku menelan ludah.
922Please respect copyright.PENANAa8om47S1x3
Raka duduk di seberangku, menyilangkan kaki. “Jadi, seberapa serius kamu sama adikku?”
922Please respect copyright.PENANAjlxX0GcAB3
“Sangat serius,” jawabku jujur.
922Please respect copyright.PENANAgZAIp7apOI
Raka tersenyum, tapi senyumnya agak gelap. “Bagus. Nayla itu… spesial. Dia manja. Suka dimanja. Dan di rumah ini, kami biasa manja-manjaan. Jangan kaget ya.”
922Please respect copyright.PENANAYRp591xo6m
Aku mengernyit. “Maksudnya?”
922Please respect copyright.PENANAbMEoTS9GIQ
“Nanti kamu lihat.” Raka berdiri, meraih dua botol bir dari kulkas mini di sudut ruangan. “Minum dulu. Biar santai.”
922Please respect copyright.PENANAN66M8ziQvZ
Kami minum. Obrolan ringan tentang kuliah, kerja, mobil. Tapi pikiranku terus ke Nayla. Beberapa menit kemudian ia kembali, sudah berganti baju. Kali ini memakai dress pendek warna cream, longgar di atas tapi ketat di pantat, potongan V di dada yang dalam. Tanpa bra. Aku bisa melihat jelas bentuk payudaranya yang bergoyang bebas setiap langkah. Putingnya sedikit menonjol di balik kain tipis.
922Please respect copyright.PENANA6xCBE4Y9mW
“Ayah masak steak,” katanya sambil duduk di sampingku, sangat dekat. Kakinya menempel ke kakiku. “Kamu suka kan?”
922Please respect copyright.PENANAPweLjo4ZR4
Aku mengangguk, tapi mataku tertuju ke dadanya. “Kamu nggak pakai…?”
922Please respect copyright.PENANAwCwnH94dH2
Ia tersenyum nakal, berbisik, “Nggak. Biar enak. Nanti malam kamu yang buka.”
922Please respect copyright.PENANAliOz4QAaGG
Pak Surya keluar dari dapur membawa piring-piring. Ia duduk di sofa yang sama dengan kami, di sisi lain Nayla. Raka duduk di sofa L yang menyiku.
922Please respect copyright.PENANACUFuRi1krL
Makan siang berlangsung dengan percakapan yang aneh. Pak Surya bertanya banyak tentang hubunganku dengan Nayla. “Kalian sudah… intim?” tanyanya tiba-tiba, sambil memotong steak.
922Please respect copyright.PENANAwkTOsTHXFv
Aku tersedak. Nayla hanya tertawa. “Ayah! Jangan tanya begitu.”
922Please respect copyright.PENANA4A4SldjXB2
“Ayah cuma penasaran. Kamu dulu bilang pacar sebelumnya jelek di tempat tidur. Dio ini lebih bagus?”
922Please respect copyright.PENANAdzZzLrSQnA
Nayla menoleh ke arahku, matanya berkilau. “Jauh lebih bagus, Yah. Kontolnya lebih besar, lebih tahan lama, dan lidahnya… jago banget.”
922Please respect copyright.PENANAac24KvVqlC
Aku membeku. Raka tertawa terbahak. Pak Surya hanya tersenyum, seolah itu percakapan biasa. “Bagus. Ayah bangga kamu punya pacar yang bisa bikin kamu puas. Dulu ibumu juga suka cerita ke Ayah soal hal-hal begitu.”
922Please respect copyright.PENANA2XGvZl4gVL
Suasana menjadi aneh. Tapi Nayla seolah tidak merasa apa-apa. Ia bahkan menyandarkan kepalanya ke bahu ayahnya sesaat, lalu ke bahuku.
922Please respect copyright.PENANA2GDQziOUA8
Setelah makan, Nayla berdiri. “Aku antar Dio ke kamarku dulu ya. Biar taruh barang.”
922Please respect copyright.PENANAiCKGZoAice
“Jangan lama-lama,” kata Raka sambil menyeringai. “Nanti sore kita renang bareng.”
922Please respect copyright.PENANAL2emYNMxNQ
Kami naik tangga. Kamar Nayla di ujung koridor lantai dua. Besar, ber-AC, kasur queen size dengan sprei putih, jendela menghadap kolam renang. Saat pintu tertutup, Nayla langsung mendorongku ke dinding dan menciumku dalam-dalam.
922Please respect copyright.PENANA7jaC1iV4eM
Lidahnya masuk ke mulutku, basah, lapar. Tangannya meraba dadaku, lalu turun ke selangkanganku yang sudah keras. “Mmm… kangen banget,” desahnya di sela ciuman. “Dari tadi basah. Lihat.”
922Please respect copyright.PENANAdf3PTn7jri
Ia meraih tanganku dan memasukkannya ke dalam dress-nya. Tidak ada celana dalam. Jari-jariku langsung menyentuh bibir vagina yang sudah licin, bengkak, panas. Aku mengusap klitorisnya pelan. Ia menggelinjang.
922Please respect copyright.PENANADGvOgRYLS0
“Dio… pelan. Nanti aku desah kenceng,” bisiknya, tapi pinggulnya sudah menggesek jariku.
922Please respect copyright.PENANATiqfsfnAME
Aku memutar tubuhnya, menekannya ke dinding, jari tengahku masuk perlahan ke dalam lubang basahnya. Vagina Nayla selalu sempit di awal, tapi cepat meregang. Aku bisa merasakan dinding dalamnya berdenyut. Ibu jariku memutar di klitorisnya yang sudah mengeras.
922Please respect copyright.PENANAaWfp1zheZ8
“Ahh… iya… gitu…” desahnya, kepala terlempar ke belakang, lehernya panjang dan putih terpapar. Aku menggigit lehernya pelan sambil menambah jari kedua.
922Please respect copyright.PENANA96R5SRjimz
Payudaranya bergoyang di balik dress tipis. Aku menggigit putingnya lewat kain. Ia mendesah lebih kencang.
922Please respect copyright.PENANA32gIVZvvqr
“Dio… stop dulu. Nanti basah banget. Aku mau ganti dulu.”
922Please respect copyright.PENANAN7WtxJ9On2
Aku enggan melepas, tapi ia mendorong pelan. Tangannya meremas kontolku di luar celana. “Nanti malam. Aku janji. Aku mau kamu entot aku sampai aku nggak bisa jalan. Mau kamu cum di dalam, di wajah, di payudara. Mau kamu jilat aku sampai squirt ke mulutmu.”
922Please respect copyright.PENANAW72LKSTsNW
Aku mengerang. “Kamu gila.”
922Please respect copyright.PENANAsO1XPMILjp
“Gila sama kamu.” Ia menciumku sekali lagi, lalu masuk ke kamar mandi dalam. “Tunggu di luar ya. Aku mandi dulu.”
922Please respect copyright.PENANA5vNDFfXHHN
Aku duduk di tepi kasur, napas masih terengah, jari masih basah oleh cairan Nayla. Aroma manis vanila dan musk basahnya menempel di jariku. Aku menghisap jari itu, memejamkan mata.
922Please respect copyright.PENANA2uS1S8LJpS
Beberapa menit kemudian ia keluar, hanya memakai handuk kecil yang melilit dada. Rambut basah menempel di kulit. Handuk itu pendek sekali, hanya menutupi sampai sepertiga paha. Setiap langkah, celah di depan handuk terbuka sedikit, memperlihatkan sekelumit bulu pubis yang ia cukur rapi menjadi garis tipis.
922Please respect copyright.PENANAWZkoMIolBZ
“Lihat,” katanya sambil berdiri di depanku. Ia membuka handuk sedikit. Payudara sepasang itu jatuh bebas, berat, puting coklat muda sudah mengeras karena dingin AC. Aku meraih, menimbang, memijat. Ia mendesah.
922Please respect copyright.PENANAc7phUlPUnN
“Ayah bilang payudaraku mirip ibuku dulu,” bisiknya tiba-tiba. “Kak Raka juga bilang gitu. Kadang mereka… suka usap-usap. Cuma guyonan, kok.”
922Please respect copyright.PENANA4xBM6zJBf4
Aku menatapnya. “Guyonan?”
922Please respect copyright.PENANAiHeHM47JzT
Nayla mengangkat bahu, seolah itu biasa. “Keluarga kami open. Nanti kamu biasa juga.”
922Please respect copyright.PENANAGHG5AE4m5O
Ia berpakaian lagi: bikini hitam string. Atasan hanya dua segitiga kecil yang menutupi puting, tali tipis di leher dan punggung. Bawahan string yang hilang di celah bokong. Pantatnya hampir telanjang. “Ayo, renang. Ayah dan Kak udah di kolam.”
922Please respect copyright.PENANAtdgFPTXBBs
Kami turun. Di kolam, Pak Surya sudah berenang, tubuhnya basah mengkilap. Raka duduk di pinggir, kaki dalam air, memegang bir.
922Please respect copyright.PENANALNAhEE2zc0
Saat Nayla melompat ke kolam, air memercik. Bikini hitam basah menempel sempurna ke tubuhnya. Payudara mengambang sedikit, puting menonjol jelas. String di pantatnya naik, menyembunyikan hampir tidak ada.
922Please respect copyright.PENANA2CFQCsEwGq
Raka bersiul. “Gila, adik. Semakin montok.”
922Please respect copyright.PENANAJ8PShlP9eL
Nayla berenang mendekati kakaknya, menempelkan tubuh basahnya ke dada Raka. “Kak jahat. Bilang gitu di depan pacar.”
922Please respect copyright.PENANAA03vCluRxs
Raka tertawa, tangan turun ke pinggang adiknya di dalam air. “Pacar juga lihat sendiri kan. Dio, setuju nggak adikku ini seksi banget?”
922Please respect copyright.PENANAVXmYfzZ3II
Aku hanya tersenyum kaku. “Setuju.”
922Please respect copyright.PENANANigg1vKLun
Pak Surya berenang mendekat. “Nayla, sini. Ayah ajarin gaya baru.”
922Please respect copyright.PENANAg1Gglp9H6U
Nayla melepaskan diri dari Raka dan berenang ke ayahnya. Pak Surya memegang pinggang putrinya dari belakang, tubuh mereka menempel. Tangan ayahnya di perut Nayla, hampir menyentuh tepi bikini. Mereka berenang pelan, seolah ayah mengajari anak berenang, tapi tangan itu tidak pernah lepas. Sesekali jari Pak Surya naik sedikit, menyentuh bawah payudara.
922Please respect copyright.PENANA7uzyxap2lO
Aku duduk di pinggir kolam, bir di tangan, tapi tenggorokan kering. Raka mendekatiku.
922Please respect copyright.PENANABJilsyA5Po
“Santai aja, bro,” katanya pelan. “Di rumah ini, sentuhan biasa. Kami besar bareng. Nayla manja. Ayah juga masih jomblo sejak ibu meninggal lima tahun lalu. Jadi… ya, saling menghibur.”
922Please respect copyright.PENANA2UcsenDs7o
“Menghibur?”
922Please respect copyright.PENANA4wZ2irf2Ri
Raka hanya tersenyum, lalu meloncat ke air.
922Please respect copyright.PENANABH1ohc3Lld
Sore itu terasa panjang. Kami berenang, makan buah, minum bir. Nayla terus menempel ke ayah atau kakaknya lebih sering daripada ke aku. Saat ia keluar dari kolam, air menetes dari ujung rambut ke payudara, lalu ke perut rata, lalu ke celah paha. Bikini basah hampir transparan. Aku bisa melihat jelas warna puting dan bahkan sedikit garis bibir vagina di balik kain tipis.
922Please respect copyright.PENANApDDrPxM7yt
Malam tiba. Makan malam lebih santai. Setelah itu, Nayla mengajakku ke kamar.
922Please respect copyright.PENANABCEWmkTGkX
Pintu tertutup. Lampu dimatikan, hanya lampu tidur kuning. Nayla melepas bikini di depanku. Tubuhnya basah, mengkilap. Payudara bergoyang bebas. Ia naik ke kasur, berlutut, lalu merangkak mendekatiku.
922Please respect copyright.PENANAI0W2uxtctT
“Sekarang… giliranmu,” bisiknya.
922Please respect copyright.PENANAD0c6jSIpwu
Kami bercumbu lama. Aku menghisap payudaranya, memutar lidah di puting yang sudah mengeras. Ia mendesah, memegang kepalaku. Aku turun, menjilat perutnya, lalu membuka paha indahnya. Vagina basah mengkilap di bawah lampu. Aku menjilat pelan, dari bawah ke atas, menghisap klitorisnya. Nayla menggelinjang, tangan mencengkeram seprei.
922Please respect copyright.PENANAT8Q3cb8crY
“Ahh… Dio… iya… jilat lebih dalam…”
922Please respect copyright.PENANAVFo7JUccpi
Aku memasukkan lidah ke dalam lubangnya, merasakan rasa manis asinnya. Jari ikut masuk, mencari titik G. Ia mulai basah lebih banyak, cairan mengalir ke dagu ku.
922Please respect copyright.PENANAMYVBnASr14
Tiba-tiba ada ketukan di pintu.
922Please respect copyright.PENANA1ab3JwegvJ
“Nayla? Ayah bawa susu hangat.”
922Please respect copyright.PENANApGL2zlRxTY
Nayla membeku. Aku juga. Ia buru-buru menarik selimut menutupi tubuhnya. “Masuk, Yah…”
922Please respect copyright.PENANAP3TgA4baYO
Pintu dibuka. Pak Surya masuk dengan nampan. Ia melihat kami di kasur, selimut hanya menutupi setengah, bahu Nayla telanjang, rambut berantakan. Senyumnya tidak berubah.
922Please respect copyright.PENANAQeqnNuYTpU
“Maaf ganggu. Tapi biasanya sebelum tidur Nayla minum susu. Biar tidur nyenyak.”
922Please respect copyright.PENANA8oDkyBXW1k
Ia meletakkan nampan di nakas, lalu duduk di tepi kasur, di sisi Nayla. Tangan besarnya mengusap rambut putrinya. “Kamu capek ya? Wajahmu merah.”
922Please respect copyright.PENANA2WDDc8sz46
Nayla tersenyum malu. “Baru… main sama Dio.”
922Please respect copyright.PENANAMalALbF6OY
Pak Surya tertawa pelan. “Bagus. Ayah dulu juga gitu sama ibumu.” Tangannya turun ke bahu Nayla, mengusap pelan kulit basahnya. “Dingin ya? Pakai piyama.”
922Please respect copyright.PENANAE8w0vKkF2a
“Nanti, Yah. Habis minum dulu.”
922Please respect copyright.PENANAXXjRGRv2O8
Pak Surya menyuapi putrinya minum susu. Gerakannya lembut, seperti ayah yang menyayangi anak. Tapi matanya sesekali melirik ke dada Nayla yang hanya tertutup selimut tipis. Saat Nayla menunduk, selimut turun sedikit, memperlihatkan belahan payudara dalam.
922Please respect copyright.PENANAyQxwTKQFmN
“Ayah… nanti kamu tidur di mana?” tanya Nayla tiba-tiba.
922Please respect copyright.PENANAtQktMa1Ckx
“Di kamar Ayah, Nak. Seperti biasa. Tapi kalau kamu takut, Ayah bisa tidur di sofa sini.”
922Please respect copyright.PENANAVHNXwi0ahw
Nayla menggeleng. “Nggak usah. Ada Dio.”
922Please respect copyright.PENANAMk8WDWXvx5
Pak Surya mengangguk, lalu berdiri. Tapi sebelum pergi, ia membungkuk dan mencium kening putrinya. Bibirnya sempat turun ke pipi, lalu ke sudut bibir. Ciuman itu agak lama. “Selamat malam, sayang. Jangan terlalu keras nanti. Dindingnya nggak setebal itu.”
922Please respect copyright.PENANAo6zrMyp2Jr
Ia keluar, menutup pintu.
922Please respect copyright.PENANAz3ZusK4tki
Nayla menoleh ke arahku, mata basah hasrat. “Maaf. Ayah memang gitu. Dekat banget.”
922Please respect copyright.PENANAGTmdBfv9EN
Aku tidak menjawab. Di dalam celana, kontolku masih keras. Tapi ada rasa aneh di dada.
922Please respect copyright.PENANA5LG3Gbn1T4
Kami melanjutkan. Aku mengentot Nayla pelan di posisi missionary, memandang matanya, mencium bibirnya. Payudaranya bergoyang setiap hentakan. Ia mendesah di telingaku, “Lebih kencang… Dio… entot aku kayak kamu benci aku…”
922Please respect copyright.PENANAxfdxe2U3JB
Aku menurut. Kasur berderit. Desahan Nayla semakin kencang. Aku merasakan vaginanya meremas, basah, panas. Ia orgasme pertama kali dengan tubuh menggelinjang, cairan membasahi selangkanganku.
922Please respect copyright.PENANA8GErEDi3Yq
Kami ganti posisi. Nayla di atas, cowgirl. Payudaranya bergoyang liar di depan wajahku. Aku menghisapnya bergantian sambil memegang bokongnya, menggerakkan pinggulnya ke atas-bawah. Suara basah “plok-plok” memenuhi kamar. Ia orgasme lagi, kali ini lebih kencang, tubuhnya kejang, vagina berdenyut hebat.
922Please respect copyright.PENANA9dU6AVgv8f
Aku hampir cum saat tiba-tiba pintu diketuk lagi.
922Please respect copyright.PENANAvJ90MNr1lW
“Nay? Kak bawa es krim. Mau?”
922Please respect copyright.PENANAicIr3vlDBN
Nayla, masih di atasku, kontolku masih di dalam, hanya tertawa. “Masuk aja, Kak!”
922Please respect copyright.PENANAxtINSiaXuK
Pintu dibuka. Raka masuk dengan dua mangkuk es krim. Ia melihat adiknya telanjang total di atas pacarnya, payudara basah keringat, puting merah, vagina masih menelan kontol orang lain.
922Please respect copyright.PENANAhrMa3qaZ04
Raka tidak kaget. Ia hanya menyeringai, duduk di kursi di pojok kamar. “Lanjut aja. Nggak usah malu. Aku sering dengar kamu desah dulu-dulu.”
922Please respect copyright.PENANApICBtOTa4C
Nayla, masih terengah, menoleh. “Kak jahat. Nggak ketuk dulu.”
922Please respect copyright.PENANAGpJFTst0Sf
“Udah ketuk.” Raka menyodorkan mangkuk. “Mau?”
922Please respect copyright.PENANACRYloamUOt
Nayla meraih, masih dengan kontolku di dalam, lalu menyuap es krim sambil pinggulnya bergerak pelan naik-turun. “Dingin… enak.”
922Please respect copyright.PENANA8X0aM7VN07
Aku membeku di bawahnya. Raka menatap adiknya dengan mata yang gelap. “Kamu semakin jago naik, Nay. Dulu kaku.”
922Please respect copyright.PENANAIcxnFER9jx
Nayla tertawa, es krim menetes ke payudaranya. “Kak ajarin dulu kan.”
922Please respect copyright.PENANAz5JkddDn6Q
Aku menatapnya. “Ajarin?”
922Please respect copyright.PENANAzh9diivUGY
Nayla menggigit bibir, matanya menatapku seolah baru sadar. “Maksudnya… dulu Kak ajarin aku nari. Goyang-goyang gitu.”
922Please respect copyright.PENANAqs4vNCNNgn
Raka tertawa. “Iya. Goyang-goyang.”
922Please respect copyright.PENANAcMeXqZPq7n
Ia berdiri, mendekat ke kasur. “Aku boleh minta ciuman selamat malam nggak? Biasanya gitu.”
922Please respect copyright.PENANAGjkM7Bil8T
Nayla mengangguk. Raka membungkuk, mencium bibir adiknya. Bukan ciuman saudara. Lidah terlihat. Tangan Raka memegang dagu Nayla, memperdalam ciuman. Nayla membalas, pinggulnya masih bergerak di atas kontolku.
922Please respect copyright.PENANAz6JWkWGzTp
Aku merasa seperti hantu. Kontolku masih keras di dalam, tapi otakku berputar.
922Please respect copyright.PENANAoA1epykvpc
Raka lepas ciuman, bibir basah. “Enak. Nanti malam Kak tidur di ruang TV aja. Kalau kalian berisik, Kak dengar.”
922Please respect copyright.PENANAiBT1AcaBei
Ia keluar, menutup pintu.
922Please respect copyright.PENANAshI6kjQcOo
Nayla menatapku, napas masih terengah. “Maaf… mereka emang gitu. Open banget. Kamu marah?”
922Please respect copyright.PENANAL18AES3Roy
Aku menggeleng pelan. “Nggak. Cuma… kaget.”
922Please respect copyright.PENANAyGV7q0Xv14
Ia tersenyum, lalu mulai bergerak lagi di atasku, lebih kencang. “Lanjut. Aku mau kamu cum di dalam. Mau merasakan hangatmu.”
922Please respect copyright.PENANASJdee3WsUr
Kami lanjut sampai aku cum, memompa semen ke dalam rahimnya. Nayla orgasme ketiga kali, desahannya tertahan di bantal.
922Please respect copyright.PENANAVzsYV3UZ8j
Setelah itu kami berbaring. Nayla di pelukanku, kepala di dada. “Besok kita ke pasar malam ya? Atau ke pantai. Ayah dan Kak ikut juga. Seru.”
922Please respect copyright.PENANAXHzvy1dWAU
Aku mengangguk, tapi pikiranku liar.
922Please respect copyright.PENANAJMAF8gsAWS
Malam semakin larut. Nayla tertidur dulu, napasnya teratur, tubuh telanjang menempelku. Aku tidak bisa tidur. Jam menunjukkan pukul satu dini hari. Aku bangkit pelan, memakai celana pendek, keluar ke koridor untuk ke toilet.
922Please respect copyright.PENANAUxipBTqYL8
Di tangga, aku mendengar suara. Suara desahan pelan. Suara basah. Suara pria bergumam.
922Please respect copyright.PENANAER5Z0DsZnD
Aku diam. Suara itu dari ruang keluarga di lantai bawah. Lampu TV menyala redup, pintu setengah terbuka.
922Please respect copyright.PENANA1b45Td263n
Aku mendekat pelan, jantung berdegup kencang.
922Please respect copyright.PENANA2lPcPw9nFR
Melalui celah pintu, aku melihat.
922Please respect copyright.PENANAYPWnsvk7YX
Nayla… tidak, itu Nayla. Tapi ia sudah bangun? Tidak. Ia masih di kamar. Tunggu…
922Please respect copyright.PENANAaXrMDgDjH2
Tidak. Itu Nayla. Rambutnya, tubuhnya. Ia berlutut di lantai berkarpet, di antara kaki Pak Surya yang duduk di sofa. Kepala Nayla naik-turun di pangkuan ayahnya. Suara hisapan basah terdengar jelas. Pak Surya memegang rambut putrinya, mengarahkan.
922Please respect copyright.PENANAKmrigm612m
Di samping, Raka berdiri, kontolnya keluar, digenggam tangan Nayla yang lain, diurut pelan.
922Please respect copyright.PENANAgW2quSUFhR
“Pelan, sayang… jilat yang dalam… seperti yang Kak ajarin dulu…” bisik Raka.
922Please respect copyright.PENANA7cIs1RdEWz
Nayla melepaskan kontol ayahnya sejenak, saliva menetes dari bibirnya ke puting yang sudah basah. “Enak, Yah? Putrimu jago kan?”
922Please respect copyright.PENANA8dA06VyCET
Pak Surya mengerang, tangan turun meremas payudara putrinya yang menggantung bebas. “Jago banget… lebih jago dari ibumu dulu…”
922Please respect copyright.PENANAeY8YSoYP4N
Aku membeku di balik pintu. Dunia seolah berhenti. Pacarku… pacarku yang barusan aku entot… sekarang sedang mengulum kontol ayahnya sendiri, sambil mengocok kontol kakaknya.
922Please respect copyright.PENANAsXODOcPbDw
Nayla menoleh sedikit ke arah pintu, seolah merasakan ada yang mengawasi. Matanya bertemu dengan mataku di kegelapan.
922Please respect copyright.PENANA26FitnrN0C
Ia tidak kaget.
922Please respect copyright.PENANAF8Bp27emTk
Ia tersenyum.
922Please respect copyright.PENANARTL5fxQVea
Senyum kecil, basah, penuh dosa.
922Please respect copyright.PENANA6nqMvuByvR
Lalu ia membuka mulut lebih lebar, menelan kontol ayahnya lebih dalam, sambil matanya masih menatapku.
922Please respect copyright.PENANAnNExhNQicL
Aku tidak bisa bergerak.
922Please respect copyright.PENANAuRCSrWTmXK
Kaki seolah membeku di atas ubin dingin koridor. Napas macet di tenggorokan. Jantung berdegup begitu kencang hingga aku yakin mereka bisa mendengarnya dari dalam ruang keluarga yang redup itu. Cahaya biru keunguan dari TV yang menyala tanpa suara memantul ke kulit mereka, membuat bayangan-bayangan bergoyang di dinding.
922Please respect copyright.PENANAZ2o0S1Af8o
Di pangkuan Pak Surya, kontol ayahnya sendiri masuk-keluar dari mulut basah putrinya. Bibir tebal Nayla meregang sempurna mengelilingi batang tebal yang mengkilap. Setiap kali ia menelan sampai pangkal, hidungnya menempel di bulu pubis ayahnya, dan aku bisa mendengar suara basah “gluk-gluk” yang dalam. Tangan kiri Nayla memegang pangkal kontol itu, sementara tangan kanannya mengocok kontol Raka yang berdiri di samping, urat-uratnya menonjol, ujungnya sudah basah serta menetes ke punggung tangan adiknya.
922Please respect copyright.PENANAkxDtxFxcax
Dan matanya… matanya masih menatapku.
922Please respect copyright.PENANAHoMrqxsh1n
Senyum tipis di bibir yang penuh saliva itu tidak hilang. Ia tidak kaget. Tidak panik. Bahkan tidak mencoba menutupi. Senyum itu seperti mengatakan: *Aku tahu kamu di situ. Dan aku suka kamu melihat.*
922Please respect copyright.PENANAUAE4JGdGHr
Darah di kepalaku berdesir kencang. Ada rasa mual di perut, rasa hancur yang menusuk dada, tapi di saat yang sama kontolku yang barusan kosong di dalam tubuhnya kini sudah mengeras lagi, menekan kain celana pendek dengan sakit. Aku benci diriku sendiri. Aku benci betapa basahnya celana dalamnya yang ia tinggalkan di kasur barusan. Aku benci betapa indahnya tubuh pacarku saat digunain oleh ayah dan kakaknya sendiri.
922Please respect copyright.PENANAGlQmgohrfs
Nayla melepaskan kontol ayahnya dengan bunyi “plop” basah. Saliva panjang menetes dari bibir bawahnya ke dagu, lalu jatuh ke payudara kanannya, mengalir pelan di lekuk putih itu. Ia menjilat bibir, masih menatapku lewat celah pintu.
922Please respect copyright.PENANAvTcPf49KqN
“Enak banget, Yah…” suaranya serak, basah, penuh hasrat. “Kontol Ayah lebih tebal dari Dio.”
922Please respect copyright.PENANA0Ch2W4ciKe
Pak Surya mengerang pelan, tangan besarnya yang penuh urat masih memegang rambut putrinya, mengusap pelipisnya dengan lembut seolah menyayangi. “Putri Ayah pintar sekali. Dari dulu jago banget ngenyot. Lebih jago dari ibumu waktu masih hidup.”
922Please respect copyright.PENANAf7fvP7mZoi
Raka tertawa rendah di samping, pinggulnya mendorong pelan ke genggaman tangan Nayla. “Adik emang bakat. Dulu waktu pertama kali Kak ajarin, langsung bisa telan sampai tenggorokan. Ingat nggak, Nay? Di kamar mandi lantai dua, malam pertama setelah ibu meninggal.”
922Please respect copyright.PENANAdNtxzoin1s
Nayla mengangguk, matanya masih tertuju padaku. Ia membuka mulut lagi, kali ini menjulurkan lidah panjang, menjilat dari pangkal sampai ujung kontol ayahnya dengan lambat, memutar-mutar di lubang kencing yang sudah basah. “Aku ingat, Kak. Waktu itu Kak pegang kepalaku dari belakang, bilang ‘isap pelan, adik. Biar Kak nggak sedih lagi’. Terus Ayah masuk, dan… yah, mulai deh.”
922Please respect copyright.PENANAElzHPc1iXa
Aku menelan ludah. Tenggorokan kering. Jadi begini ceritanya. Lima tahun. Mereka sudah melakukan ini selama lima tahun. Dan pacarku… pacarku yang selalu bilang “keluargaku agak aneh”… ternyata sudah lama jadi mainan ayah dan kakaknya.
922Please respect copyright.PENANAlBpIdwsavr
Nayla beralih. Ia memutar tubuh sedikit, masih berlutut, lalu mengulum kontol Raka. Kepala bergerak maju-mundur lebih cepat. Suara hisapan basah semakin kencang. Pipinya cekung. Air mata kecil keluar di ujung matanya karena terlalu dalam, tapi ia tidak berhenti. Tangan kirinya kembali ke kontol ayahnya, mengocok pelan sambil ibu jari memutar di ujung basah.
922Please respect copyright.PENANA6q6ly6Zn4a
Pak Surya merendahkan tubuh, tangannya meraih payudara putrinya dari belakang. Ia meremas keduanya bergantian, memilin puting yang sudah memanjang, menarik pelan sampai Nayla mendesah di sekeliling kontol kakaknya. “Payudaramu semakin berat, Nak. Semakin kenyal. Dulu kecil, sekarang… penuh banget. Mau Ayah hisap?”
922Please respect copyright.PENANAN8Ahwa8Kuu
Nayla melepaskan kontol Raka sebentar, napas terengah. “Mau, Yah. Hisap yang kencang. Kayak biasanya.”
922Please respect copyright.PENANAtrPbd9B6Un
Pak Surya berlutut di lantai di belakang putrinya. Ia merangkul tubuh Nayla dari belakang, dada bidangnya menempel di punggung basah, lalu kedua tangannya mengangkat payudara montok itu, menawarkannya seolah buah matang. Mulutnya turun ke puting kiri, menghisap kuat. Suara “mmmph” basah terdengar. Lidahnya memutar, giginya menggigit pelan, lalu menghisap lagi lebih dalam.
922Please respect copyright.PENANANho71xD8HQ
Nayla melengkungkan punggung, bokongnya yang bulat kenyal terdorong ke belakang, menempel ke selangkangan ayahnya yang masih berpakaian celana pendek. “Ahh… Yah… iya… hisap lebih kencang… putingku sensitif banget malam ini…”
922Please respect copyright.PENANAD8shVa6QOw
Raka tidak mau kalah. Ia berlutut di depan adiknya, membuka paha Nayla lebih lebar, lalu menunduk. Lidahnya langsung menempel di bibir vagina yang sudah mengkilap basah. Aku bisa melihat dari celah pintu bagaimana lidah kakaknya itu menjilat panjang dari lubang sampai klitoris, lalu menghisap bibir bawah yang bengkak.
922Please respect copyright.PENANAIj2ADBM3Ym
“Memek adik basah banget,” gumam Raka di sela jilatan. “Bau Dio masih nempel. Tapi lebih enak bau kamu sendiri. Manis. Asin. Panas.”
922Please respect copyright.PENANAF6PnRTfyLD
Nayla mendesah panjang, kepalanya terlempar ke belakang menempel di bahu ayahnya yang sedang menghisap payudaranya. “Kak… jilat klitorisku… putar… iya gitu… ahh…”
922Please respect copyright.PENANAKHRYkGvU48
Aku memegangi pintu dengan jari yang gemetar. Kontolku sudah menegang penuh di dalam celana, ujungnya basah. Aku ingin masuk. Aku ingin berteriak. Aku ingin menarik Nayla dari pelukan mereka. Tapi kakiku tidak mau bergerak. Mataku tidak mau lepas. Setiap gerakan lidah Raka di memek pacarku, setiap hisapan kuat Pak Surya di putingnya, setiap desahan basah yang keluar dari bibir yang barusan aku cium… semuanya membuat otakku berantakan.
922Please respect copyright.PENANAvWd8lvSHVh
Nayla orgasme pertama kali di tangan mereka. Tubuhnya kejang. Paha mulusnya bergetar hebat. Suara desahannya pecah jadi jeritan kecil tertahan. Cairan bening menyembur sedikit ke lidah Raka, membasahi dagu kakaknya. Raka tidak berhenti. Ia terus menjilat, menghisap, memasukkan dua jari ke dalam lubang basah yang masih berdenyut, menggaruk titik di dalam dengan gerakan cepat.
922Please respect copyright.PENANAgWsiv4R4mt
“Lagi, Kak… bikin adik squirt lagi…” pinta Nayla dengan suara pecah.
922Please respect copyright.PENANAyGyrqx26AD
Pak Surya melepaskan puting yang sudah merah dan bengkak, saliva mengkilap di sekitarnya. Ia mencium leher putrinya dari belakang, gigitan kecil di cuping telinga. “Cantik banget kamu pas squirt, Nak. Dari dulu. Waktu pertama kali Ayah bikin kamu squirt di sofa ini, kamu masih delapan belas. Menangis sambil bilang ‘Ayah jahat, tapi enak’.”
922Please respect copyright.PENANApTSWyJI05h
Nayla tertawa kecil, basah, penuh dosa. “Aku masih bilang gitu sekarang, Yah. Ayah jahat. Kak jahat. Tapi… aku nggak mau berhenti.”
922Please respect copyright.PENANALY7HG9Lg5B
Ia menoleh lagi ke arah pintu. Matanya mencari mataku di kegelapan. Senyum itu kembali. Lebih lebar. Lebih basah.
922Please respect copyright.PENANAMOfk7C22xA
“Dio…” bisiknya, suaranya jelas meski pelan. “Kamu di situ kan? Aku bisa cium baumu. Masuk. Jangan cuma nonton dari belakang pintu.”
922Please respect copyright.PENANAf8w2tczXYu
Aku terlonjak. Darah seolah mengalir mundur.
922Please respect copyright.PENANAaj829mhA3u
Pak Surya dan Raka ikut menoleh. Tidak ada kaget di wajah mereka. Hanya senyum yang sama… senyum seolah mereka sudah menunggu.
922Please respect copyright.PENANAY4hCmKs3E9
“Masuk aja, Dio,” kata Pak Surya tenang, suaranya masih dalam, masih hangat seperti ayah yang ramah. Tangannya masih meremas payudara putrinya. “Pintunya dibuka. Nonton dari dekat lebih enak.”
922Please respect copyright.PENANAeT22V6eME6
Raka mengangkat wajah basah dari selangkangan adiknya, bibir mengkilap cairan Nayla. “Iya, bro. Udah lama nunggu kamu sadar. Nayla bilang kamu bakalan ketahuan malam ini. Dia sengaja biarin pintu kamar nggak dikunci barusan.”
922Please respect copyright.PENANA7hDpx28pVB
Aku membuka mulut. Tidak ada suara yang keluar.
922Please respect copyright.PENANAQnFZCi3hQH
Nayla merangkak pelan mendekati pintu, payudaranya bergoyang berat di bawahnya, puting yang basah menggores karpet. Ia membuka pintu lebih lebar dengan satu tangan, lalu menatapku dari bawah, mata basah, bibir bengkak.
922Please respect copyright.PENANALmzqmdpsfK
“Masuk, sayang,” bisiknya. “Aku nggak bohong. Aku sayang kamu. Tapi ini… ini bagian dari aku juga. Bagian yang cuma mereka yang bisa bikin. Lihat dulu. Kalau kamu benci, pergi. Tapi kalau… kalau kontolmu masih keras kayak gitu…” matanya turun ke selangkanganku yang menonjol jelas, “…berarti kamu juga mau nonton, kan?”
922Please respect copyright.PENANAO32ygXJFIU
Aku melangkah masuk. Seolah tubuh bergerak sendiri. Pintu tertutup di belakangku dengan bunyi pelan.
922Please respect copyright.PENANA1s1rFbqDBq
Ruang keluarga terasa lebih panas. Aroma seks kental: aroma vagina basah Nayla, aroma precum ayah dan kakaknya, aroma keringat, aroma parfum vanila yang sudah bercampur dengan bau tubuh kotor.
922Please respect copyright.PENANAf0rwcxVvt9
Nayla berlutut lagi di depanku, tangan meraih pinggang celana pendekku, menurunkan pelan. Kontolku melompat keluar, keras, urat menonjol, ujungnya basah. Ia menatapnya, lalu menatap mataku.
922Please respect copyright.PENANAjMPopKztun
“Masih besar,” gumamnya. “Masih enak. Tapi sekarang… kamu cuma nonton dulu. Biar aku kasih liat gimana ayah dan kakakku ngenyot dan ngewe putri mereka.”
922Please respect copyright.PENANASbLntPNr9M
Ia berbalik, merangkak kembali ke antara kedua pria itu.
922Please respect copyright.PENANAjbjvPSSK3L
Pak Surya duduk kembali di sofa, kaki terbuka. Nayla naik ke pangkuannya, memunggungi ayahnya, lalu menurunkan tubuhnya perlahan. Kontol tebal ayahnya menggesek bibir vagina basahnya dulu, naik-turun di celah, basah melumuri batang.
922Please respect copyright.PENANALqrnpe9gPC
“Pelan, Nak…” gumam Pak Surya, tangan memegang pinggang ramping putrinya. “Masukin pelan. Biar Dio liat gimana memek kamu meregang buat Ayah.”
922Please respect copyright.PENANAJZ7m5SSE7a
Nayla menunduk, menatap ke bawah, lalu ke arahku. Matanya tidak lepas dari mataku saat ia menurunkan pinggul. Kepala kontol ayahnya menekan lubang, lalu masuk pelan. Bibir vagina meregang lebar, merah muda, basah, menelan sentimeter demi sentimeter.
922Please respect copyright.PENANAAHJC01rSPE
“Ahhh… Yah… tebal banget…” desahnya panjang. “Lebih tebal dari Dio… penuh… ahh…”
922Please respect copyright.PENANAcjvi617B0d
Ia terus turun sampai pangkal. Pantat kenyalnya menempel di paha ayahnya. Payudara bergoyang di depan. Ia mulai bergerak naik-turun pelan, setiap kali naik, batang basah mengkilap terlihat, setiap kali turun, suara “plok” basah terdengar.
922Please respect copyright.PENANAfIu8Mdoytt
Raka berdiri di samping, mengocok kontolnya sendiri sambil menonton. “Goyang lebih kencang, adik. Biar Dio liat payudaramu bergoyang. Cantik banget.”
922Please respect copyright.PENANA24ZtHwH6k2
Nayla menurut. Pinggulnya bergerak lebih cepat. Payudara sepasang itu bergoyang liar ke atas-bawah, ke kiri-kanan, puting memanjang ikut bergetar. Suara basah semakin kencang. Desahannya pecah-pecah.
922Please respect copyright.PENANAYf6T8Hawrz
“Dio… liat… liat memek aku dimakan ayahku sendiri…” bisiknya sambil menatapku, mata setengah terpejam karena enak. “Basah banget… licin… ahh… Yah… entot lebih dalam…”
922Please respect copyright.PENANARSLMQACY6H
Pak Surya memegang pinggang putrinya lebih kuat, lalu menghentak dari bawah. Bunyi kulit bertemu kulit memenuhi ruangan. “Putri Ayah enak banget. Memeknya masih sempit meski udah sering dipakai. Dio, kamu beruntung bisa ngewe ini setiap hari. Tapi malam ini… giliran Ayah dan kakaknya.”
922Please respect copyright.PENANAIYLDHSGhYn
Aku berdiri mematung, kontol di tangan, mengocok pelan tanpa sadar. Aku benci. Aku benci betapa basahnya pacarku. Aku benci betapa indahnya wajahnya saat diisi kontol ayahnya. Aku benci betapa kerasnya kontolku sendiri.
922Please respect copyright.PENANAryJn9tp3E4
Kelanjutannya ada link di bawah ini


