"Tukang kebun hari ini tidak datang, Bu. Mau aku bantu merawat kebun saja ya?"
Saya melihat ke arah pria muda yang sedang berdiri di pintu kebun rumah saya. Dia mengenakan kaos oblong yang sudah memudar warnanya dan celana jeans yang lusuh. Wajahnya tampak akrab tapi saya tidak bisa ingat kapan pernah bertemu dengannya.
"Maaf ya, kamu adalah...?"
"Dimas, Bu. Anak dari Pak Joni yang dulu jadi tukang parkir di kompleks ini. Kamu mungkin sudah lupa ya, Bu. Aku sering bermain di kebun ini saat kecil lho, Bu selalu kasih saya buah jeruk dari pohonnya."
Ah, akhirnya saya ingat. Dimas adalah anak dari tukang parkir yang dulu selalu membantu saya membawa belanjaan dari mobil ke rumah. Sudah lebih dari sepuluh tahun sejak mereka pindah karena ayahnya mendapatkan pekerjaan di luar kota.
"Tentu saja aku ingat kamu, Dimas! Kamu sudah tumbuh besar sekali ya. Silakan saja bantu merawat kebunnya, makasih ya."
Sejak itu, Dimas datang setiap hari untuk merawat kebun saya. Dia membersihkan rerumputan, menyiram tanaman, memangkas ranting yang tidak perlu, dan bahkan membuat beberapa tempat duduk kecil dari kayu bekas untuk duduk santai di kebun.
Setiap sore, kita akan duduk bersama di tempat duduk yang dia buat sambil minum teh hangat dan berbicara tentang banyak hal. Saya cerita tentang hidup saya sebagai seorang pensiunan guru yang sekarang tinggal sendirian setelah suami dan anak-anak saya pindah ke luar negeri. Dia cerita tentang kehidupannya—setelah ayahnya meninggal dua tahun yang lalu, dia kembali ke kota ini untuk mencari pekerjaan dan tinggal di kontrakan kecil dekat sini.
"Aku selalu ingat kebun ini, Bu," katanya suatu hari sambil melihat pohon jeruk yang sudah sangat besar. "Ketika aku kecil dan ayahku kesusahan mencari uang untuk biaya sekolahku, Bu selalu memberikan makanan dan kadang-kadang uang saku kecil. Bu tidak pernah melihat aku sebagai anak tukang parkir—Bu selalu melihat aku sebagai seorang anak yang berhak mendapatkan kesempatan."
Saya tersenyum lembut. "Setiap anak berhak mendapatkan kesempatan terbaik, Dimas. Kamu sudah tumbuh menjadi orang yang baik dan pekerja keras."
Beberapa minggu kemudian, Dimas membawa seorang gadis muda ke kebun saya. "Ini Maya, Bu. Pacarku. Aku ingin dia mengenal Bu yang selalu membantu keluargaku dulu."
Maya adalah gadis yang ceria dan sopan. Kita berbincang dengan senang hati, dan saya bisa melihat betapa bahagia mereka berdua. Tapi di mata Dimas, saya melihat sesuatu yang lebih dari sekadar rasa terima kasih kepada saya. Ada sesuatu yang membuat hati saya terasa hangat seperti ketika suami saya masih hidup.
Suatu malam, saya menemukan surat di meja makan. Itu dari Dimas:
"Bu, aku tahu ini mungkin terdengar aneh, tapi aku harus bilang yang sebenarnya. Aku tidak hanya datang ke sini untuk merawat kebunmu atau karena rasa terima kasih. Aku datang karena aku merasa ada hubungan khusus antara kita. Sejak aku kembali dan melihatmu lagi, aku menyadari bahwa cinta tidak selalu datang dalam usia yang sama atau dalam bentuk yang kita harapkan. Aku mencintaimu, Bu, bukan sebagai seorang ibu atau seorang guru, tapi sebagai seorang wanita yang telah mengubah hidupku dan membuatku menjadi orang yang aku sekarang ini."
Saya terkejut membaca surat itu. Tapi di dalam hati saya, saya merasa sesuatu yang sudah lama hilang—rasa dicintai dan diperhatikan secara penuh. Saya sudah hidup sendirian selama lima tahun dan merasa bahwa masa untuk cinta sudah berlalu. Tapi Dimas membuat saya berpikir ulang.
Kita bertemu di kebun pada hari berikutnya. Udara pagi masih segar dan bunga mawar yang dia tanam baru saja mekar.
"Saya sudah membaca suratmu, Dimas," ucapku dengan suara tenang. "Saya tidak bisa menyembunyikan bahwa saya juga merasa sesuatu yang spesial denganmu. Tapi kamu harus tahu bahwa kita memiliki perbedaan usia yang cukup jauh, dan dunia mungkin tidak akan menerima hubungan kita."
"Dunia tidak perlu menerima apa yang kita rasakan, Bu," katanya dengan tegas. "Yang penting adalah kita saling mencintai dan bisa memberikan kebahagiaan satu sama lain. Aku tidak peduli dengan apa yang orang lain katakan. Aku hanya tahu bahwa hidupku akan lebih berarti jika aku bisa bersama kamu."
Saya menangis pelan sambil meraih tangannya. Setelah lama hidup sendirian, akhirnya saya menemukan cinta lagi dalam bentuk yang tidak pernah saya duga. Cinta yang datang bukan dari orang yang seusia saya, tapi dari orang yang telah melihat keindahan dalam diri saya bahkan ketika saya sendiri sudah mulai melupakannya.
Kita memutuskan untuk bersama, tidak peduli dengan apa yang orang lain katakan. Dimas membantu saya merawat rumah dan kebun, sementara saya membantu dia dengan urusan pekerjaan dan memberikan nasihat tentang hidup. Maya ternyata sudah tahu tentang perasaan Dimas padaku dan memberikan dukungan penuh—dia bilang bahwa cinta sejati tidak mengenal batasan usia atau keadaan.
Karena cinta tidak pernah datang sesuai dengan jadwal atau bentuk yang kita inginkan. Kadang-kadang cinta datang kembali ketika kita paling tidak mengharapkannya, dalam bentuk yang paling luar biasa.23Please respect copyright.PENANABUsYtzK1gq


