27Please respect copyright.PENANAcPRdarIHkX27Please respect copyright.PENANATR0g8MGxHC
PONDOK THERON — PINTU MASUK DEPAN
Di luar pondok, kerumunan mulai bubar—bukan dengan damai, melainkan karena pengawal raja mulai mengayunkan pedangnya dalam sapuan lebar.
Orang-orang berhamburan sambil tetap berteriak,
"Hei! Lihat-lihat kalau mengayunkan pedang begitu!!"
Pengawal itu segera menaiki Sally dan memacu kudanya kencang kembali menuju tanah milik Paul.
TANAH MILIK PAUL — SORE HARI
Saat Metro tiba, suasana di tepi hutan kembali tenang.
Rose duduk di sebuah ayunan yang tergantung di pohon, berayun perlahan.
Curtis merumput tak jauh darinya.
Metro mendekat di atas Sally lalu mengulurkan tangan.
Rose membalas dengan senyum lembut.
Rose: (mengangkat tangannya di atas kepala)
"Curtis ada di sini kok, aku bisa menungganginya. Kenapa kita tidak berkeliling desamu selagi masih ada waktu?"
Metro: (mengangguk)
"Tentu."
Mereka pun meninggalkan tanah milik Paul, menunggangi kuda mereka dengan langkah santai menuju hamparan padang rumput di luar tembok desa.
Angin bertiup sejuk.
Padang hijau membentang luas. Bunga-bunga matahari tumbuh di sana-sini, bergoyang mengikuti hembusan angin yang mengibaskan pakaian mereka.
PADANG RUMPUT
Untuk sesaat, dunia terasa sederhana kembali.
Rumput yang baru dipanen tampak terbentang, sementara di kejauhan terlihat hamparan sawah ketika mereka terus berkuda melintasi dataran.
Rose: (melirik Metro)
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
Metro: (tetap menatap ke depan)
"Semuanya akan baik-baik saja. Besok kita akan menemui Theron bersama. Kurasa Paul tidak akan mau ikut, tapi aku akan merasa lebih tenang kalau kalian berdua datang."
Rose mengembuskan napas, lalu berkata,
Rose:
"Rasanya canggung saat pacarmu ada di sana... menatapku seolah-olah mau membakar lubang di tubuhku."
Kepala Metro langsung menoleh, terkejut.
Lalu senyum kecil muncul di wajahnya.
Metro:
"Iya... kadang dia memang begitu."
Wajah Rose langsung berubah masam, tampak tersinggung.
Metro tertawa pelan.
Metro:
"Ayo, balapan sampai gerbang!"
"AYE!"
Sally langsung tahu apa maksudnya.
Ia melesat ke depan, mempercepat larinya seolah mendapat dorongan luar biasa, membuat rumput beterbangan di belakang kuku-kukunya.
Rose dan Curtis segera mengejar, sementara angin menerpa rambut dan pakaian mereka.
Metro: (berteriak)
"YEEAAAH!"
Rose menggeleng sambil tetap tersenyum, lalu memacu Curtis lebih cepat.
Tak lama kemudian mereka memperlambat laju saat tiba di gerbang depan desa.
Keduanya bernapas terengah-engah, wajah mereka dipenuhi kebahagiaan.
Metro menepuk surai Sally.
Metro:
"...Kau masih sehebat dulu, ya, Sal?"
Rose melewatinya dengan hidung terangkat tinggi.
Rose:
"Dasar tidak sopan..."
Ia mendongakkan dagu dengan dramatis, pura-pura bersikap angkuh.
Metro terdiam sesaat, menggenggam tali kekang Sally.
Metro:
"Hei... mampir dulu ke pondokku, yuk."
Rose menoleh sambil tersenyum tipis.
Metro memacu Sally lebih dulu.
Curtis mengikuti di belakang.
PONDOK METRO
Metro dan Rose menunggangi kuda mereka menyusuri jalan tanah kecil menuju pondok sederhana milik Metro.
Curtis mendengus pelan.
Sinar matahari sore mewarnai segala sesuatu dengan cahaya keemasan.
Blake sudah berdiri di luar, sedang mengencangkan tali ransel dan tas selempangnya.
Wajahnya langsung berseri saat melihat mereka.
Blake:
"Hai, kalian! Syukurlah aku sempat ketemu. Paul titip pesan, kalau suatu saat kita perlu berkumpul, tempat kerjanya akan jadi titik pertemuan."
(Hening sejenak.)
"Malam ini aku pulang ke rumah ibu."
Metro menaiki anak tangga kayunya, sementara Rose mengikuti di belakang.
Metro:
"Besok pagi kita ketemu di tempat Paul."
Blake:
"Siap. Oh—aku hampir lupa. Ana memintaku mengambil benih sayuran dan umbi bunga dari pondoknya. Bisa sekalian kau ambilkan? Biar aku nggak lupa."
Metro: (mengangguk)
"Tentu."
Blake tersenyum lega.
Metro:
"Sampai besok."
Blake:
"Sampai jumpa besok pagi!"
Rose: (melambaikan tangan sambil tersenyum)
"Sampai besok!"
Blake berbalik dengan santai, mengangkat sebelah tangan sambil memiringkan kepala bak seorang selebritas yang terlalu sibuk melayani permintaan tanda tangan.
Ia berjalan memasuki desa, sementara tas selempangnya bergoyang di pinggang.
Metro memperhatikannya pergi, lalu mengusap tengkuknya.
Metro:
"Rumahku juga memalukan... lebih baik kita langsung ke pondok Ana saja."
Senyum Rose langsung memudar.
Rose:
"Apa? Padahal aku sudah tidak sabar melihat pondokmu."
Metro tertawa gugup sambil menggaruk pipinya.
Metro:
"...Sekarang kupikir-pikir lagi, aku tidak yakin rumahku bersih. Aku lupa membereskannya sebelum pergi..."
Rose mengangkat alisnya, merasa geli.
Metro berdeham.
Metro:
"Ayo berangkat..."
(Hening sejenak.)
Rose:
"Ayo."
Metro kembali menaiki Sally dengan wajah sedikit salah tingkah.
Rose menyusul menaiki Curtis, masih tersenyum kecil sendiri.27Please respect copyright.PENANAHGbyhuhzsH


