29Please respect copyright.PENANAd9oHcPXPlUTheron:
"Ya Tuhan! Kasihanilah aku, sebagaimana Engkau telah mengasihani rakyat kami! Limpahkanlah belas kasihan yang sama kepadaku... dan kepada rakyatku!"
Saat ia mengucapkan kata-kata itu, tubuhnya tersentak ke belakang, kejang dengan hebat.
Ia terjatuh ke lantai, bagian belakang kepalanya membentur dinding.
Kejang menguasai tubuhnya. Bola matanya berputar hingga hanya bagian putihnya yang terlihat.
Metro berlari menuju meja.
(Naluri Rose menyala— Indranya menajam— Penglihatannya melambat— Nalurinya menuntunnya— bukan kepada Theron— melainkan kepada Traevan.)
Mata Traevan berwarna merah, bersinar dengan kekuatan tenang yang berlawanan dengan roh.
Ia menyaksikan Theron kejang tanpa penyesalan, tanpa kepedulian, tanpa sedikit pun rasa kemanusiaan.
Lalu—perlahan—
Mata Traevan memudar kembali menjadi cokelat.
Wajah Rose berubah dipenuhi amarah. (Gerakan lambat.)
Traevan mendongak menatapnya.
Tersenyum.
Lalu berbalik dan berjalan keluar melalui pintu belakang dengan tenang.
Seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Semua orang terkejut dan bergegas mengerumuni Theron.
Sang Ratu menjerit memanggil namanya.
Para pelayan panik.
Para pemanah menjatuhkan busur mereka.
Senjata-senjata berjatuhan ke lantai di depan kaki mereka.
Metro memanggil Blake.
Blake berlari menghampiri Metro dan berlutut di hadapannya, matanya membelalak saat melihat Theron kejang hebat di lantai.
Ratu Susan memangku kepala Theron yang terus bergetar, air mata sudah mengalir deras.
Ratu Susan:
"LAKUKAN SESUATU! TOLONG DIA!"
Metro menatap Blake, lalu memejamkan matanya.
Ia meletakkan tangannya di atas kepala Theron.
Blake secara naluriah mengikuti, meletakkan kedua tangannya di atas tangan Metro. Jantungnya berdegup kencang, tetapi ia merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Keyakinan.
Iman.
Kepastian.
Ia juga memejamkan matanya.
Sebuah bola cahaya putih terbentuk di atas kepala Theron—awalnya lembut, lalu semakin terang.
Lilin-lilin dan lentera berkelip dengan hebat, hampir padam, sebelum akhirnya kembali tenang.
Bola cahaya itu bersinar.
Tubuh Theron tiba-tiba menjadi lemas.
Ratu Susan memeluk kepalanya sambil terisak.
Susan:
"Apa yang terjadi... Theron..."
Metro merendahkan tubuhnya, kedua tangan bertumpu di lututnya, berjongkok di samping Sang Ratu.
Ruangan menjadi sunyi—hanya terdengar isak tangis pelan Susan dan dengungan samar para pekerja di luar kantor.
Metro mengangkat pandangannya.
Api putih masih berkedip.
Tak terlihat oleh kebanyakan orang.
Namun dirasakan oleh semua orang.
Adegan memudar menjadi hitam.
— Adegan ditutup —
— Akhir bab —29Please respect copyright.PENANAAWErFL2XyM


