32Please respect copyright.PENANAXMeYlGejY032Please respect copyright.PENANAKSqdYLq9Sk
— GERBANG DEPAN DESA —
Di luar, barisan infanteri dan iring-iringan kereta mulai bergerak.
Di balik mereka berdiri gerbang depan desa.
Seluruh rombongan melambat hingga hampir berhenti.
Paul dan Lilly menghentikan kereta lalu turun bersamaan dari bangku kusir.
Mereka melepaskan kuk dari empat kuda putih.
Masing-masing menaiki seekor kuda, sementara dua kuda lainnya mereka tuntun dengan tali kekang, membimbing hewan-hewan megah itu mengikuti di belakang.
Paul membungkuk sedikit di atas pelana.
Paul: "Ayo lewat gerbang samping. Itu jalan pintas."
Lilly menoleh sambil menyibakkan rambutnya ke belakang.
Lilly: "Yakin...?"
Paul mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari jalan di kejauhan.
Paul: "Percayalah. Aku tahu di mana mereka akan bertemu."
Lilly mengencangkan genggaman pada tali kekang.
Kedua kuda itu langsung memacu langkah ke dalam derap yang lebih cepat, meninggalkan jalan tanah dan menerjang hamparan padang rumput.
Rumput-rumput tinggi membungkuk lalu terbelah di bawah hentakan kuku mereka, bergelombang ke segala arah saat mereka melesat melintasi dataran terbuka.
Cahaya matahari memantul di tubuh kuda-kuda putih mereka.
Angin meraung melewati wajah keduanya saat mereka memacu lebih keras, menyalip jalur kereta menuju gerbang samping benteng.
— Adegan memudar —
— Pergantian Adegan —
— PONDOK THERON —
Metro, Rose, dan Blake turun bersama dari kereta.
Curtis dan Sally mendengus pelan, mengguncang debu dari surai mereka saat Metro dan Rose mengikat kedua kuda itu pada tiang.
Iring-iringan di belakang mereka berhenti berderak.
Para prajurit mulai berbaris.
Baju zirah bergemerincing.
Peti-peti bercahaya di atas kereta berderit pelan.
Sang kapten berteriak,
Kapten: "Kita lanjut ke dermaga pengiriman! Cepat muat semuanya supaya kita sudah berlayar sebelum malam!"
Naluri Rose tiba-tiba bergetar.
Sebuah firasat halus merambat hingga ke tulang-tulangnya.
Seorang Pengawal Raja melangkah melewati mereka, memimpin rombongan menaiki anak tangga.
Kehadirannya terasa begitu berat.
Terlalu berat.
Seolah udara di sekitarnya ikut melengkung mengikuti langkahnya.
Napas Rose berubah.
Nalurinya aktif.
Ia menggenggam erat baju Metro, menyalurkan energinya ke dalam tubuh pemuda itu hingga cahaya auranya menjadi jauh lebih padat.
Saat sang Pengawal Raja melewati mereka...
Rose melihatnya.
Sebuah kehampaan hitam menyelimuti tubuh pria itu.
Aura yang kosong.
Sebuah pertanda.
Sebuah peringatan.
Sally juga melihatnya.
Telinganya menekuk ke belakang.
Seluruh ototnya menegang.
Blake menggeliat gelisah, tanpa sadar mengecilkan tubuhnya.
Ia membenci konfrontasi.
Ia membenci ketegangan.
Metro tetap melangkah maju...
Tetapi pikirannya berada di tempat lain.
Sejak membaca gulungan kitab itu, pikirannya tak pernah berhenti berputar.
(Dalam hati)
"Apa yang harus kulakukan... agar dapat hidup makmur...?"
Mereka melewati tiang-tiang penyangga beranda depan lalu memasuki bangunan.
Pengawal Raja berhenti tepat di ambang pintu.
Ia berdiri seperti patung.
Tak bergerak.
Tak terbaca.
Hanya kehadirannya saja yang seakan mempersilakan mereka masuk.
Rose menyelinap melewatinya.
Nalurinya masih aktif.
Matanya membelalak ketakutan saat ia berusaha menyembunyikan dirinya.
Blake segera menyusul, menghindari kontak mata.
Aura di sekelilingnya berdenyut semakin kuat.
Metro masuk paling akhir.
Aura putihnya kini memancar jauh lebih terang.
— Lorong Dalam —
Traeven: "Selamat datang."
Metro menatap Traeven.
Wajahnya tetap tanpa ekspresi.
Matanya berpendar biru.
Ekspresi Traeven berubah.
Rasa terluka tampak jelas di wajahnya, tetapi fokusnya tidak goyah.
Traeven: "Aku lihat gulungan itu masih bersamamu."
"Katakan padaku..."
"Sudah cukup jauh kau membacanya untuk meramalkan apa yang akan terjadi selanjutnya?"
Rose dan Blake berdiri di belakang.
Mereka membeku, seolah sedang menyaksikan pertarungan yang tak pernah mereka duga akan terjadi.
Metro tetap menatapnya.
Tanpa emosi.
Senyum Traeven justru semakin lebar.
Ia berbalik lalu memberi isyarat agar mereka mengikutinya.
Traeven: "Aku menyukaimu, Metro."
"Kau benar-benar menarik."
"Dan kau mengerti diriku."
(Hening sejenak.)
"Aku ingin berbicara denganmu setelah pertemuanmu dengan Theron..."
"...tentu saja, kalau kau punya waktu."
Traeven membuka pintu ruang kerja Theron.
Ia masuk lebih dulu, melewati pelayan bertopeng yang berdiri berjaga.
Rose masuk setelahnya.
Blake mengikuti.
Tatapannya beralih kepada sahabatnya.
(Dalam hati)
"Sedang apa Metro... bermeditasi?"
Blake melangkah masuk ke ruang kerja bersama Rose.
Metro perlahan mengangkat pandangannya.
Ia memasukkan gulungan kitab ke dalam ranselnya.
Tangan kanannya tetap memegang tas itu, membiarkannya hampir menyeret lantai saat ia berjalan masuk.
Mata Metro bersinar biru terang.
Aura putih di sekeliling kepalanya memancar tajam seperti mahkota cahaya.
32Please respect copyright.PENANAme3Q4EyPRu
32Please respect copyright.PENANAwbIU8tk9Jc


