39Please respect copyright.PENANAwOb1VXLq0A39Please respect copyright.PENANAF3ihonAy6B
Percikan kecil melintas di tatapan Mathias — cepat, mengganggu, seperti sesuatu yang mencoba bangkit di dalam dirinya.
Dia tidak menyukai perasaan itu.
Jadi dia menghancurkan momen itu.
Mathias (mencondongkan tubuh ke depan, dengan senyum lebar):
“HEY! Jangan khawatir, aku cuma akan mematahkan punggungmu! Ha ha, lagipula aku cuma mematahkan tulang belakang orang saat akhir pekan!”
Tiga hantaman kepalan tangan yang brutal menghantam meja berturut-turut.
BAM! BAM! BAM!
Mathias memutar leher besarnya ke kiri, kanan, lalu kiri lagi.
“BENAR KAN, PARA PRIA!?”
— Dia memindai ruangan, mencari wajah-wajah yang menyetujui candaan itu —
Dia mengangguk pada dirinya sendiri, merasa lega, seolah logika itu sepenuhnya masuk akal.
Dia mengunci kepalanya kembali pada posisi semula. Matanya bergerak ke seluruh ruangan, mencari kilatan cahaya, tawa, atau apa pun yang menunjukkan bahwa semuanya baik-baik saja.
Phillip menyela dengan penuh kegembiraan, senyum lebar membelah wajahnya.
Phillip:
“Lihat dirimu, Metro... hidup! Lebih tinggi! Masih mengecewakan seperti biasa — tapi lebih tinggi!”
Dia berjalan mendekati Mathias.
“— dan Matt, berhenti menakut-nakuti Metro. Karena kalau dia mati, aku yang harus mengurus dokumennya.”
(Phillip menepuk meja dengan tangannya.)
Dia tertawa terbahak-bahak.
Mathias (mengusap kepala botak Phillip):
“Dia tahu aku nggak bermaksud apa-apa. Kapten Bola Biliar!”
Tawa kecil terdengar di meja itu, menjadi hiburan ringan.
Metro tersenyum hangat, senang bisa kembali bersama teman-temannya.
Jeff:
“Senang melihatmu kembali, bro.”
Metro:
“Kamu juga.”
Seluruh kafetaria menjadi semakin ramai — suara sepatu bot bergesekan di bawah, alat makan beradu, tawa memantul di dinding.
— Tapi Rose tidak mendengarkan semua itu.
Dia mengamati.
Merasakan.
Membaca suasana dengan cara yang hanya dia bisa.
Wajahnya tenang, tetapi matanya...
matanya hidup.
Dia duduk dengan tangan terlipat, posturnya lembut, tetapi ekspresinya berubah dalam gerakan kecil dan halus — jenis perubahan yang mengungkapkan semua perasaannya meskipun dia tidak mengatakan apa pun.
Rasa ingin tahu.
Kekhawatiran.
Kasih sayang lembut yang belum sepenuhnya dia pahami.
Dia tidak tahu mengapa dia terus melirik Metro.
Dia tidak tahu mengapa dadanya terasa sesak ketika melihat Metro terlihat tersesat.
Dia tidak tahu mengapa nalurinya terus berbisik.
Dia belum memiliki kata-kata untuk menjelaskannya...
tetapi alam bawah sadarnya mulai menyala.
Begitu juga auranya.
Energinya meningkat.
Cahaya putih mulai muncul dengan warna merah muda lembut di tepinya.
Naluri aktif — WAKTU MELAMBAT
Rose menyadari keberadaan Veronica sebelum Metro menyadarinya.
Tatapan Veronica tajam, posesif, hampir seperti pemangsa — mata hijau gelapnya terkunci pada Metro seolah dia mencoba memilikinya hanya dengan tatapan.
Ekspresi Rose berubah.
Alisnya mengerut.
Bibirnya menekan menjadi garis tipis.
Kepalanya sedikit miring — sebuah pesan diam dan naluriah:
Aku melihatmu.
Tetapi dia tidak menatap tajam.
Dia tidak menantang.
Dia hanya mengamati.
Intuisinya berdengung seperti alarm kecil yang tenang.
Lalu Rose menyadari keberadaan Ana.
Energi Ana bersinar — benar-benar terlihat seperti cahaya hangat lembut di atas kepalanya, seperti lingkaran cahaya atau mahkota.
Rose melihatnya seperti orang lain melihat warna atau gerakan — sebuah perpanjangan alami dari intuisinya.
Mata Ana terangkat dan bertemu dengan mata Rose.
Ada pemahaman di sana, bercampur dengan senyum kecil penuh kasih.
Sebuah anggukan lembut.
Pesan tanpa kata.
Ekspresi Rose melembut.
Matanya membesar.
Bibirnya sedikit terbuka.
Wajahnya berubah menjadi sesuatu yang lembut dan rentan.
Dia melihat Metro.
Tatapannya hangat.
Terbuka.
Tenang.
Penuh kasih dengan cara yang bahkan belum dia kenali.
Mulutnya sedikit terbuka dalam ekspresi kecil yang penuh kerinduan, pengenalan, dan penerimaan lembut.
Posturnya menjadi rileks.
Bahu-bahunya turun.
Auranya semakin terang.
Dia menunggu — sabar, lembut, mempercayai nalurinya.
Dia melihat kebingungan di mata Metro.
Cara dia terlihat seperti seseorang yang sedang tenggelam di bawah air.
Ekspresinya berubah lagi — khawatir, lalu lembut, lalu sesuatu yang lebih dalam.
Dia melihat Metro menoleh ke arah Veronica terlebih dahulu.
Dia melihat ketegangan di rahangnya.
Dia melihat ketidaknyamanan di bahunya.
Dia melihat bagaimana tatapan Veronica seolah menjebaknya.
Lalu dia berbalik ke arahnya.
Dan napas Rose tertahan.
Matanya membesar — bersinar, hangat, cokelat, berkilauan dengan sesuatu yang tidak bisa dia beri nama.
Bibirnya terbuka lagi, kali ini lebih lembut.
Seluruh wajahnya terbuka seperti bunga yang menghadap cahaya matahari.
Dia hanya membalas tatapan Metro.
Dan dalam saat itu...
dia merasakannya.
Sebuah pengenalan yang tenang.
Kebenaran yang datang dari naluri.
Rasa terhipnosis itu pecah.
Namun ekspresi Rose tetap bertahan — lembut dan bercahaya, bahkan setelah momen itu berlalu.
Ana berdiri di belakangnya.
Tangan kanannya diletakkan di bahu Metro.
Tangan kirinya berada di atas kursi Metro.
Stabil dan melindungi.
Dia tetap di sana sejenak, menenangkan Metro melalui sentuhannya.
Ana:
“Baiklah, kita semua sangat berterima kasih atas dukungan di meja ini.”
(Melihat para jenderal dan kapten)
“Untuk keamanan dan ketenangan pikiran.”
Dia sekarang meletakkan kedua tangannya di bahu Metro.
“Kita semua tahu bahwa tidak ada yang sempurna. Bukan anak ini, dan bukan siapa pun dari kita. Dia sudah melewati banyak hal, dan begitu juga kita semua.”
Dia mengangguk sekali, menatap mereka dengan penuh harapan.
“Kita harus tetap berdiri di sisinya sampai akhir. Ya.”
Dia mengangguk lagi dengan penuh keyakinan.
“Aku akan mulai kelas besok. Rose dan Lilly, kalian boleh tetap tinggal. Kita semua menghadapi ini bersama.”
Dia mengangguk percaya diri.
(Mengunci tatapannya dengan Metro)
“Kami ada di sini untukmu, Metro. Untuk bekerja, belajar, dan tumbuh bersamamu.”
Keheningan lembut turun di meja itu.
Jeffrey bergeser, matanya menunduk tetapi ada senyum kecil di wajahnya.
Jeff:
“Kurasa itu berarti kita sekarang adalah keluarga...”
Dagu Phillip sedikit terangkat.
Mata Mathias melembut. Dia melihat ke bawah sambil menyentuh pinggir cangkirnya, hampir merasa malu.
Metro (setelah beberapa saat):
“Terima kasih, kalian semua.”
“Kalian semua. Ini sangat berarti bagiku.”
“Aku merasa terhormat memiliki kalian semua di sini.”
Perlahan ruangan kembali santai.
Kursi bergeser.
Suara-suara rendah kembali terdengar dalam percakapan kecil yang saling bertumpuk dengan lembut.39Please respect copyright.PENANAy8ozWukp7O


