Rumah itu berdiri di pinggir kota Kudus, Jawa Tengah, di sebuah perumahan yang masih sepi di pagi hari. Rumah dua lantai dengan halaman depan yang rapi dan taman belakang yang luas—hampir setengah hektar—yang sudah bertahun-tahun tidak tersentuh tangan manusia dengan benar. Rumput setinggi lutut, semak belukar liar merayap ke mana-mana, gazebo kayu di tengah taman sudah reyot, catnya mengelupas, dan kolam kecil di sudut sudah berwarna hijau pekat karena lumut. Arga dan Laras tinggal di sana sejak bertunangan setahun lalu. Rumah itu warisan orang tua Arga yang sudah pindah ke Semarang.
3871Please respect copyright.PENANAiQS3x2LHvw
Arga, 28 tahun, bekerja sebagai supervisor produksi di sebuah pabrik tekstil di kawasan industri. Setiap hari ia berangkat pukul setengah tujuh, pulang kadang malam, kadang larut. Tubuhnya sedang, tidak berotot berlebihan, wajahnya tampan dengan kacamata tipis yang membuatnya terlihat lebih intelektual. Ia pria yang lembut, romantis dengan caranya sendiri—selalu mengingat hari ulang tahun, membelikan bunga sesekali, dan di ranjang ia penuh perhatian, meski sering kelelahan sehingga sesi mereka pendek dan manis.
3871Please respect copyright.PENANAey3nfvHrSC
Laras, 25 tahun, baru saja resign dari pekerjaannya sebagai staf administrasi di sebuah klinik kecantikan. Ia ingin fokus mempersiapkan pernikahan yang akan datang dalam tiga bulan. Rambut hitam panjangnya selalu tergerai atau diikat kuda dengan santai. Wajahnya oval dengan alis tebal alami, mata besar berwarna hitam pekat, bibir penuh yang selalu terlihat basah. Tubuhnya adalah jenis yang membuat pria menoleh dua kali: payudara penuh dan montok ukuran C, bentuknya bulat sempurna, berat namun tetap kencang, dengan puting berwarna cokelat tua yang sensitif—sering menegang hanya karena angin atau sentuhan kain. Pinggangnya kecil, membentuk lekukan tajam menuju pinggul lebar dan bokong bulat kenyal yang bergoyang pelan saat ia berjalan, seolah mengundang tangan untuk meremas. Kakinya panjang, mulus, paha bagian dalamnya lembut dan selalu hangat. Di antara kakinya, memeknya berbentuk indah, bibir luarnya montok, selalu sedikit basah ketika ia sedang gelisah, dan klitorisnya kecil tapi sangat sensitif.
3871Please respect copyright.PENANAHexJaUdTsy
Mereka saling mencintai. Sungguh. Tapi ada sesuatu yang diam-diam mengendap di dada Laras belakangan ini—suatu kebosanan yang tidak bisa ia jelaskan. Hubungan seksual mereka selalu baik, penuh kasih sayang, Arga selalu memastikan Laras mencapai klimaks dengan jari atau mulutnya sebelum ia sendiri masuk. Tapi belakangan Laras merasa ada yang kurang. Ia ingin sesuatu yang lebih kasar, lebih dalam, lebih… liar. Ia tidak pernah mengatakannya. Ia takut menyakiti Arga.
3871Please respect copyright.PENANArrE5i0qUYU
Suatu malam, saat mereka duduk di ruang makan yang hangat, Arga meletakkan sendoknya dan berkata pelan, “Laras, taman belakang itu sudah seperti hutan. Malu kalau tamu undangan datang nanti. Bagaimana kalau kita cari tukang kebun yang benar-benar ahli?”
3871Please respect copyright.PENANAt6NyVQ7niF
Laras mengangkat wajahnya dari piring. Cahaya lampu kuning membuat kulitnya terlihat lebih cerah. “Aku setuju, Mas. Aku juga sudah tidak tahan melihatnya. Mungkin bisa dibuat cantik lagi sebelum pernikahan.”
3871Please respect copyright.PENANAuOzoGnUh69
Mereka mencari melalui tetangga. Pak RT merekomendasikan seorang pria bernama Darma, 48 tahun, yang sudah puluhan tahun mengurus taman-taman besar di Kudus dan sekitarnya. “Orangnya jujur, rajin, dan hasil kerjanya rapi,” kata Pak RT.
3871Please respect copyright.PENANAa25QcWIfto
Keesokan paginya, tepat pukul tujuh, bel rumah berbunyi.
3871Please respect copyright.PENANATkzFRfUwOR
Laras membuka pintu. Ia memakai kaos oblong putih longgar tanpa bra—sengaja, karena di rumah saja—dan celana pendek jeans ketat yang memeluk bokong serta pahanya dengan sempurna. Payudaranya yang montok bergoyang pelan saat ia bergerak, putingnya sedikit menonjol di balik kain tipis karena udara pagi yang sejuk.
3871Please respect copyright.PENANA9F9gGirVeJ
Di depan pintu berdiri seorang pria tinggi besar. Darma. Bahunya lebar, lengan bawahnya tebal dengan urat-urat menonjol karena puluhan tahun menggali tanah, memangkas pohon, dan mengangkat batu. Kulitnya kecokelatan merata, wajahnya tegas dengan garis-garis halus di dahi dan sudut mata, janggut tipis yang sudah mulai memutih di beberapa tempat. Matanya hitam tajam, namun saat melihat Laras, ia langsung menunduk sopan. Ia memakai kaos oblong abu-abu pudar yang agak ketat di dada dan lengan, celana kerja panjang berwarna cokelat, dan sepatu bot hitam yang sudah usang.
3871Please respect copyright.PENANAe5IW9X3hBG
“Selamat pagi, Bu. Nama saya Darma. Pak RT menyuruh saya ke sini.”
3871Please respect copyright.PENANANWJFchkoR1
Suara Darma dalam, berat, seperti bergema dari dada yang bidang. Laras merasa ada sesuatu yang bergetar di perutnya.
3871Please respect copyright.PENANAcWn29HnU9s
“Silakan masuk, Pak Darma. Saya Laras.”
3871Please respect copyright.PENANAsd7P71sjev
Arga sudah siap berangkat kerja. Ia menyapa ramah, menjabat tangan Darma dengan erat. Mereka duduk di ruang tamu. Laras duduk di sebelah Arga, kakinya disilangkan, rok pendeknya naik sedikit, memperlihatkan paha mulus yang putih. Darma duduk di kursi tunggal di depan mereka. Matanya sesekali melirik ke arah Laras, tapi cepat kembali ke Arga.
3871Please respect copyright.PENANAhLjZj0tshR
Arga menjelaskan panjang lebar apa yang mereka inginkan: taman dibersihkan total, rumput dirapikan, gazebo diperbaiki, kolam dibersihkan, ditanami bunga-bunga warna-warni yang tahan panas, ada jalur setapak dari batu alam, dan penerangan taman yang romantis untuk malam hari. “Tiga bulan lagi kami nikah di sini. Saya ingin tamannya indah.”
3871Please respect copyright.PENANAP7GcRhoqmn
Darma mendengarkan dengan seksama, sesekali mengangguk. Ia mengeluarkan buku catatan kecil dari saku celana dan mencatat. Tangan besarnya yang kasar memegang pulpen dengan hati-hati.
3871Please respect copyright.PENANAZGB4zzCDSJ
“Semua bisa saya kerjakan, Pak,” katanya setelah Arga selesai. “Tapi saya butuh waktu sekitar dua setengah bulan kalau kerja sendiri. Kalau ada bantuan satu orang, bisa lebih cepat. Biaya saya hitung per hari atau borongan, terserah Bapak.”
3871Please respect copyright.PENANACQnOZn9JFE
Mereka sepakat Darma akan datang setiap hari mulai besok pukul tujuh pagi sampai sore. Gaji harian disepakati, plus bonus kalau selesai lebih cepat.
3871Please respect copyright.PENANAyYSnWm5N8q
Arga melihat jam tangannya. “Maaf, saya harus ke kantor sekarang. Ada rapat pagi.” Ia berdiri, mencium pipi Laras dengan lembut. “Kamu yang atur detailnya ya, sayang. Saya percaya.”
3871Please respect copyright.PENANAG93tpxiFCr
Arga pergi. Mobilnya meninggalkan halaman.
3871Please respect copyright.PENANAFYijbdOCEU
Tiba-tiba rumah terasa sangat sunyi.
3871Please respect copyright.PENANAEYPFTACHQS
Laras berdiri. “Pak Darma, saya tunjukkan taman dulu.”
3871Please respect copyright.PENANAkwsn59pCdR
Mereka berjalan keluar melalui pintu belakang. Udara pagi sudah mulai hangat. Laras berjalan di depan, bokongnya yang bulat bergoyang pelan di balik celana jeans ketat. Darma berjalan di belakangnya, matanya tidak sengaja tertuju ke sana. Ia mengalihkan pandangan dengan cepat, mengumpat dalam hati.
3871Please respect copyright.PENANAuOLVEPxjlz
Di taman, rumput tinggi menyengat kaki telanjang Laras. Ia memakai sandal jepit. Setiap kali ia melangkah, paha dan bokongnya bergerak indah. Darma berusaha fokus pada pekerjaan. Ia memeriksa tanah, menyentuh daun-daun kering, menjelaskan mana yang harus dibongkar, mana yang bisa diselamatkan.
3871Please respect copyright.PENANAA0K2ffY1Xo
Laras bertanya banyak hal. “Pak Darma, kalau mau tanam mawar di sini, jenis apa yang bagus?”
3871Please respect copyright.PENANAwqSXPlm70V
Darma menjawab dengan sabar, suaranya dalam dan tenang. “Mawar lokal lebih tahan, Bu. Tapi kalau mau yang harumnya kuat, ada varietas impor yang bisa dicoba. Tapi butuh perawatan lebih.”
3871Please respect copyright.PENANAEiTMCWqVaC
Mereka berhenti di dekat gazebo reyot. Darma memegang tiang kayu yang sudah lapuk, menggoyang-goyangkannya pelan untuk menguji kekuatan. Lengan bawahnya menegang, ototnya menonjol. Laras memperhatikan tanpa sadar. Ada urat biru yang menonjol di lengannya. Tangan itu terlihat sangat kuat—bisa meremas apa saja dengan mudah.
3871Please respect copyright.PENANA4lmQ9JIsfr
“Gazebo ini bisa diselamatkan,” kata Darma. “Cuma perlu ganti beberapa papan dan dicat ulang.”
3871Please respect copyright.PENANAcgL6C9Y17b
Laras mengangguk. “Bagus. Saya suka gazebo ini. Dulu waktu kecil sering main di sini.”
3871Please respect copyright.PENANA4S67LrUkNK
Mereka berbicara lebih lama. Darma bertanya tentang pernikahan dengan sopan. Laras menceritakan singkat bagaimana ia dan Arga bertemu di kampus, pacaran tiga tahun, lalu bertunangan. Darma mendengarkan dengan seksama, sesekali mengangguk.
3871Please respect copyright.PENANAAH98iYSier
“Pak Arga orang baik,” katanya akhirnya. “Mbak Laras beruntung.”
3871Please respect copyright.PENANAUvC3aVX3YB
Laras tersenyum tipis. “Terima kasih, Pak.”
3871Please respect copyright.PENANAd5O7dnNtcJ
Mata mereka bertemu sebentar. Ada sesuatu yang berdenyut di udara—sesuatu yang kecil, hampir tak terlihat, tapi nyata.
3871Please respect copyright.PENANAWL2xRKWvZm
Setelah hampir satu jam berkeliling taman, Darma bilang ia akan mulai besok pagi. “Saya bawa alat sendiri, Bu. Tidak merepotkan.”
3871Please respect copyright.PENANADrWUSRlFjI
Laras mengantarnya ke pintu depan. Sebelum pergi, Darma menjabat tangannya. Tangan besar yang kasar itu membungkus tangan Laras sepenuhnya. Hangat. Kuat. Laras merasa ada getaran kecil menjalar dari telapak tangannya ke dada, lalu ke bawah perut, lalu ke selangkangan. Ia menarik napas pelan.
3871Please respect copyright.PENANAQi5DtbM6fL
“ sampai jumpa besok, Pak Darma.”
3871Please respect copyright.PENANANUtmAyorQt
“Ya, Bu. Selamat siang.”
3871Please respect copyright.PENANAtjshHLdgof
Setelah pintu ditutup, Laras bersandar di pintu kayu itu. Jantungnya berdetak tidak normal. Ia menggeleng pelan. “Apa-apaan ini, Laras? Baru pertama kali ketemu.”
3871Please respect copyright.PENANAuUsUSv6zfo
Ia naik ke kamar mandi lantai atas. Melepas kaos dan celana pendeknya, berdiri telanjang di depan cermin besar. Payudaranya yang montok terangkat pelan saat ia bernapas. Putingnya sudah agak menegang. Ia menyentuhnya dengan ujung jari, meremas pelan. Bayangan tangan kasar Darma muncul di benaknya—tangan itu meremas payudaranya dengan lebih kuat, lebih kasar.
3871Please respect copyright.PENANA0DUjnlkr0l
Ia mengusir pikiran itu dengan cepat. “Gila.”
3871Please respect copyright.PENANAdwu7fJSRnR
Tapi saat air hangat mengguyur tubuhnya, ia tidak bisa menahan tangannya turun ke antara kakinya. Jari-jarinya menyentuh bibir memeknya yang sudah sedikit basah. Ia menggosok pelan, membayangkan Darma berdiri di belakangnya, tangan besar itu memeluk pinggangnya dari belakang, kontol tebalnya menekan bokongnya.
3871Please respect copyright.PENANAHes2CjurLv
Ia orgasme cepat—tubuhnya gemetar, air dari pancuran bercampur dengan cairan dari vaginanya. Ia menekan bibirnya kuat-kuat agar tidak bersuara. Setelah reda, ia bersandar di dinding kamar mandi, napas tersengal.
3871Please respect copyright.PENANAmS0UsSbFZK
“Arga… maaf,” bisiknya pelan.
3871Please respect copyright.PENANATzv4eojZ7W
Malamnya Arga pulang. Mereka makan malam bersama. Laras menceritakan bahwa Darma sudah datang, orangnya ramah dan kelihatan ahli. Arga senang. Setelah makan, mereka menonton film sebentar di sofa. Arga memeluknya dari belakang, tangannya merayap ke payudara Laras, meremas pelan di balik kaos. Laras merespons dengan mendesah kecil. Mereka naik ke kamar.
3871Please respect copyright.PENANAVXpaxauNLi
Di ranjang, Arga menciumnya lama. Mulutnya turun ke leher, lalu ke payudara. Ia menghisap puting Laras dengan lembut, tangannya meraba paha dalam Laras. Jari Arga masuk ke dalam memek yang sudah basah. Laras menggeliat, tapi dalam kepalanya, ia membayangkan tangan yang lebih besar, lebih kasar, lebih berpengalaman. Ia membayangkan Darma yang menghisap putingnya dengan lebih rakus, jarinya yang tebal masuk lebih dalam, lebih kasar.
3871Please respect copyright.PENANAL7PgoDRsvV
Saat Arga akhirnya masuk ke dalam dirinya, Laras menutup mata dan membayangkan tubuh bidang Darma di atasnya. Ia orgasme lebih keras dari biasanya, kuku mencakar punggung Arga. Arga senang, mengira itu karena ia yang membuatnya.
3871Please respect copyright.PENANAuatTovHcLY
Setelah Arga tertidur, Laras terbangun lama. Ia menatap langit-langit kamar yang gelap. Di luar, angin malam menggerakkan daun-daun pohon di taman. Ia membayangkan Darma sedang tidur di rumahnya yang sederhana. Apakah ia juga memikirkan hari ini? Apakah ia juga merasakan sesuatu saat jabat tangan tadi?
3871Please respect copyright.PENANAPS8tscUWAt
Keesokan paginya, tepat pukul tujuh, bel berbunyi lagi.
3871Please respect copyright.PENANAKAUC91FgjS
Laras sudah mandi dan berganti pakaian. Ia memakai tank top tipis warna hitam yang sangat ketat di payudaranya—bentuk dan ukuran payudaranya terlihat jelas, putingnya sedikit menonjol—dan rok pendek katun putih yang hanya sampai pertengahan paha. Ia sengaja tidak memakai bra. Ia tidak tahu kenapa ia melakukan itu. Ia hanya merasa… ingin dilihat.
3871Please respect copyright.PENANADFWL2uqKtO
Darma berdiri di depan pintu dengan membawa peralatan. Kaos abu-abunya sudah basah keringat di beberapa tempat meski baru pagi. Ia melihat Laras, matanya sebentar terpaku di dada Laras yang terlihat jelas di balik tank top ketat itu, lalu cepat menunduk.
3871Please respect copyright.PENANAwzSLcXF5C7
“Selamat pagi, Mbak Laras.”
3871Please respect copyright.PENANAv6a9gwZli4
“Pagi, Pak Darma. Masuklah. Saya sudah siapkan kopi dan roti di dapur kalau Bapak mau sarapan dulu.”
3871Please respect copyright.PENANA8khvMPmgbH
Darma menolak sopan. “Terima kasih, Bu. Saya langsung mulai saja. Biar cepat selesai.”
3871Please respect copyright.PENANA5FdirCK72c
Laras mengikuti dia ke taman. Ia membawa segelas air dingin. Darma mulai bekerja—memangkas semak liar dengan gunting besar. Otot lengannya menegang setiap kali ia menekan gagang gunting. Keringat mulai mengalir di pelipisnya, lalu di leher, lalu merembes ke kaosnya, membuat kain itu menempel di dada bidangnya.
3871Please respect copyright.PENANAfdFcMXRT0v
Laras duduk di bangku taman, pura-pura membaca buku, tapi matanya terus melirik ke arah Darma. Setiap kali Darma membungkuk, ia bisa melihat garis punggung yang lebar di balik kaos yang basah. Setiap kali Darma mengangkat ranting besar, bahunya menegang indah.
3871Please respect copyright.PENANAQztGyQt41p
Sekitar pukul sembilan, Darma berhenti sebentar, melepas kaosnya dan hanya memakai kaos dalam putih yang ketat. Dada dan perutnya terlihat—otot perut tidak terlalu six-pack seperti model, tapi padat, kuat, seperti pria yang benar-benar bekerja dengan tubuhnya setiap hari. Ada sedikit bulu hitam di dada yang basah keringat.
3871Please respect copyright.PENANAdpRZzMEuer
Laras menelan ludah. Ia merasa memeknya basah lagi. Ia menyilangkan kaki kuat-kuat.
3871Please respect copyright.PENANAHO85c9tF9f
Darma mendekat untuk minum air yang Laras bawakan. “Terima kasih, Mbak.”
3871Please respect copyright.PENANA0pfFLpRoEJ
Mereka bicara lagi. Kali ini lebih santai. Darma bertanya tentang keluarga Laras. Laras menceritakan orang tuanya yang tinggal di Pati. Darma menceritakan istrinya yang meninggal lima tahun lalu karena kanker, dan dua anaknya yang sudah menikah dan tinggal di Jakarta.
3871Please respect copyright.PENANAgD8RwPxhPS
“Saya sekarang hidup sendiri,” katanya sambil tersenyum kecil. “Cukup. Kerja, pulang, tidur. Kadang rindu ada yang menemani.”
3871Please respect copyright.PENANAWvbqDS3w72
Laras merasa ada rasa sedih yang tulus di suaranya. Ia ingin meraih tangan Darma, tapi ia menahan diri.
3871Please respect copyright.PENANAByU1SZPr3U
Hari itu Darma bekerja sampai sore. Laras bolak-balik ke dalam rumah, membawakan minum, kadang duduk di gazebo sambil mengobrol. Setiap kali mereka dekat, Laras bisa mencium bau maskulin Darma—bau tanah, keringat, dan sesuatu yang liar. Bau itu membuat kepalanya pusing enak.
3871Please respect copyright.PENANAw1fwLpIANh
Malamnya, saat Arga pulang, Laras lebih agresif di ranjang. Ia naik ke atas Arga, menggoyang pinggulnya sendiri, payudaranya bergoyang di depan wajah Arga. Arga terkejut tapi senang. Laras orgasme dua kali—sekali karena membayangkan Darma yang menggenggam pinggulnya dari bawah dengan tangan kasar, dan sekali lagi saat Arga menghisap putingnya dengan lebih kuat dari biasanya.
3871Please respect copyright.PENANAcVIm4yQlab
Tapi setelah Arga tidur, Laras lagi-lagi terjaga. Ia merayap ke kamar mandi, mengunci pintu, duduk di pinggir bak mandi, dan menyentuh dirinya sendiri sambil membayangkan Darma. Kali ini ia membayangkan Darma mendorongnya ke dinding gazebo, mencium lehernya dengan kasar, tangan besar itu meremas bokongnya, lalu jari tebalnya masuk ke dalam memeknya yang basah. Laras menggosok klitorisnya dengan dua jari, memasukkan jari tengahnya sendiri ke dalam vagina, membayangkan itu adalah kontol Darma. Ia orgasme dengan keras, tubuh gemetar hebat, cairan muncrat sedikit ke lantai kamar mandi. Ia menekan mulut dengan telapak tangan agar tidak menjerit.
3871Please respect copyright.PENANAgbRX3HOent
Keesokan harinya, pola yang sama terulang. Darma datang. Laras memakai pakaian yang sedikit lebih terbuka lagi—kali ini crop top pendek yang memperlihatkan sedikit perut rata dan pinggulnya, plus rok yang lebih pendek. Darma bekerja tanpa kaos atas sepanjang hari karena panas. Mereka mengobrol lebih lama di gazebo saat istirahat siang. Darma bercerita tentang masa mudanya yang keras, bagaimana ia harus bekerja sejak kecil untuk membantu orang tua. Laras mendengarkan dengan mata berbinar. Ada kekaguman di sana. Dan ada sesuatu yang lain—sesuatu yang panas dan basah di antara pahanya.
3871Please respect copyright.PENANA2fkICWxb04
Pada hari keempat, Arga mengumumkan di meja makan malam bahwa besok ia harus berangkat ke Surabaya untuk rapat penting dengan klien besar. “Mungkin pulang empat hari lagi, sayang. Kamu bisa jaga rumah sendiri kan?”
3871Please respect copyright.PENANACTx47wJ6sr
Laras mengangguk, jantungnya berdegup kencang. “Bisa, Mas.”
3871Please respect copyright.PENANA9faBGLO2d3
Malam itu mereka berhubungan lagi. Arga lebih lembut dari biasanya karena besok akan lama tidak bertemu. Ia mencium setiap jengkal tubuh Laras, menghisap putingnya lama, menjilat memeknya sampai Laras orgasme di mulutnya. Lalu ia masuk dari belakang, memegang pinggul Laras, mengentot pelan tapi dalam. Laras menekan wajah ke bantal dan membayangkan Darma yang lebih kasar, lebih cepat, lebih dalam—membayangkan Darma yang menampar bokongnya pelan sambil mengentot, membayangkan suara berat Darma yang berbisik kotor di telinganya.
3871Please respect copyright.PENANA3hH1Fczdgk
Arga tidak tahu. Ia hanya merasa calon istrinya semakin panas belakangan ini, dan ia senang.
3871Please respect copyright.PENANAK81oUDACr9
Keesokan paginya, Arga berangkat dengan taksi ke bandara. Laras berdiri di pintu depan, memakai gaun tipis tanpa lengan warna krem yang longgar di dada tapi ketat di pinggul dan bokong. Ia melambai sampai mobil taksi hilang di tikungan.
3871Please respect copyright.PENANAZte322jN9V
Begitu mobil itu lenyap, Laras menutup pintu dan bersandar. Rumah terasa sangat besar dan sunyi. Hanya ada dia… dan Darma yang akan datang dalam satu jam.
3871Please respect copyright.PENANABOO0HrzDaE
Ia mandi lama. Ia mencukur selangkangan dengan hati-hati sampai mulus. Ia memakai parfum di leher, di antara payudara, dan sedikit di paha dalam. Ia memilih pakaian: gaun tanpa bra lagi, kali ini gaun katun tipis warna putih yang agak transparan jika terkena cahaya, dan roknya hanya sampai 10 cm di atas lutut. Saat ia berjalan, payudaranya bergoyang bebas, putingnya terlihat samar-samar di balik kain.
3871Please respect copyright.PENANACEBvoFY7vv
Pukul tujuh tepat, bel berbunyi.
3871Please respect copyright.PENANAtSJScVJptl
Laras membuka pintu.
3871Please respect copyright.PENANAevgEcRWqD2
Darma berdiri di sana. Kaosnya sudah basah sedikit di dada karena ia berjalan kaki dari rumahnya yang tidak jauh. Matanya langsung tertuju ke dada Laras yang tidak memakai bra—bentuk payudara montok itu terlihat jelas, puting yang sudah agak menegang karena gugup. Darma menelan ludah keras-keras.
3871Please respect copyright.PENANATIjAXtQqRu
“Selamat pagi, Mbak Laras,” katanya dengan suara yang sedikit serak.
3871Please respect copyright.PENANARxP4Lvl3Bd
“Pagi, Pak Darma. Masuk.”
3871Please respect copyright.PENANAwObFfe5OS7
Hari itu cuaca sangat panas. Darma bekerja di taman tanpa kaos atas sejak awal. Tubuhnya berkeringat deras. Laras bolak-balik membawakan air, es teh, dan roti. Setiap kali ia mendekat, Darma bisa mencium parfumnya yang harum bercampur dengan bau tubuh wanita yang sehat. Setiap kali Laras membungkuk untuk meletakkan gelas, gaunnya melorot sedikit di dada, memperlihatkan belahan payudara yang dalam dan putih.
3871Please respect copyright.PENANAeqXTSO6znc
Sekitar pukul sebelas, saat istirahat, mereka duduk di gazebo yang sudah sebagian diperbaiki. Laras membawa piring nasi goreng dan ayam yang ia masak sendiri. Mereka makan bersama di bawah atap gazebo yang baru dicat.
3871Please respect copyright.PENANAHLlazvoZhp
Percakapan mengalir lama. Darma bertanya tentang Arga. Laras menjawab jujur—bahwa Arga baik, tapi sering sibuk. Darma mendengarkan tanpa menghakimi.
3871Please respect copyright.PENANAfCNDW8MtSn
“Mbak Laras sendirian di rumah besar ini sekarang,” kata Darma pelan sambil minum es teh. “Kalau butuh bantuan apa-apa, bilang saja. Saya bisa datang lebih awal atau lebih lama.”
3871Please respect copyright.PENANAiIie8cD9FQ
Laras menatapnya. “Terima kasih, Pak. Tapi… saya rasa saya bisa.”
3871Please respect copyright.PENANAuH8Gmdrum0
Mereka diam sebentar. Angin panas bertiup, membuat gaun Laras menempel di tubuhnya, memperlihatkan lekuk payudara dan pinggulnya dengan jelas.
3871Please respect copyright.PENANAieouguMocw
Tiba-tiba angin lebih kencang. Topi jerami yang Laras pakai terbang ke semak belukar di belakang gazebo. Laras berdiri cepat untuk mengambilnya. Saat ia membungkuk untuk meraih topi di antara semak, kakinya terpeleset di tanah basah bekas siraman. Ia jatuh ke depan.
3871Please respect copyright.PENANANJyeZYsVms
Darma bereaksi cepat. Ia melompat, tangan besarnya menangkap pinggang Laras sebelum ia jatuh telungkup. Ia menarik Laras ke dadanya dengan kuat.
3871Please respect copyright.PENANA9tGuOQeTtm
Tubuh mereka bertabrakan.
3871Please respect copyright.PENANAmJ33ttbaxF
Laras merasakan dada bidang Darma yang basah keringat menempel di payudaranya yang montok. Ia merasakan tangan besar Darma memegang pinggangnya erat—jari-jari kasar itu hampir menyentuh sisi bokongnya. Dan di bawah, ia merasakan sesuatu yang sangat keras, sangat besar, menekan perut bawahnya melalui celana kerja Darma.
3871Please respect copyright.PENANAsSVsoGhf9H
Kontol Darma. Ereksi penuh. Tebal. Panjang. Panas.
3871Please respect copyright.PENANAG4mzPd6XJL
Waktu berhenti.
3871Please respect copyright.PENANAHQkeEdnfil
Laras menatap mata Darma dari jarak dekat. Mata hitam itu gelap oleh hasrat yang sudah tidak bisa disembunyikan lagi. Napas Darma terasa di wajah Laras—hangat, agak tersengal.
3871Please respect copyright.PENANApwhrWXrRIQ
Darma berbisik dengan suara serak yang berat, “Mbak Laras… maaf. Saya… tidak bisa menahan lagi.”
3871Please respect copyright.PENANA3ShAhRdCjv
Tangan kirinya masih memegang pinggang Laras. Tangan kanannya naik pelan, menyentuh sisi payudara Laras yang penuh melalui gaun tipis. Jempolnya mengusap puting yang sudah sangat menegang.
3871Please respect copyright.PENANAI4WseAWES3
Laras tidak menarik diri.
3871Please respect copyright.PENANAW8JRtW7vHx
Jantungnya berdetak seperti mau meledak. Memeknya basah kuyup, cairan sudah merembes ke paha dalam. Ia merasa kontol Darma yang besar itu berdenyut di perutnya. Ia ingin meraihnya. Ia ingin membuka celana Darma sekarang juga, ingin melihatnya, ingin merasakannya di tangannya, di mulutnya, di dalam vaginanya yang kosong dan haus.
3871Please respect copyright.PENANAd0MAn7YOda
Tapi kemudian, sisa akal sehatnya muncul. Ia mendorong dada Darma pelan.
3871Please respect copyright.PENANAhNIjG3EsEO
Darma melepaskan dengan enggan. Tangan besarnya meninggalkan pinggang Laras dengan sangat lambat, seolah tidak mau pergi.
3871Please respect copyright.PENANAK1lAhwRlab
Laras mundur dua langkah. Wajahnya merah padam. Napasnya tersengal. Gaunnya basah di bagian dada karena keringat Darma. Putingnya menonjol jelas.
3871Please respect copyright.PENANACEGNHVDFJC
“A-aku… aku masuk dulu, Pak,” katanya dengan suara gemetar.
3871Please respect copyright.PENANAXswHSmOZjB
Ia berbalik dan berlari ke dalam rumah. Pintu belakang ditutup dengan keras. Ia menguncinya.
3871Please respect copyright.PENANABPqxKgNxtr
Di dalam kamar mandi lantai dua, ia mengunci pintu, bersandar di dinding, lalu tangannya langsung masuk ke bawah gaun. Ia tidak memakai celana dalam. Jari-jarinya langsung menemukan memek yang sangat basah, bibirnya bengkak, klitorisnya menonjol. Ia menggosok dengan dua jari dengan cepat dan kasar, membayangkan Darma mendorongnya ke dinding gazebo tadi, membuka gaunnya, menghisap payudaranya dengan rakus, lalu menurunkan celananya dan memasukkan kontol besar itu ke dalam dirinya tanpa ampun.
3871Please respect copyright.PENANAs3e0HPA4jF
Dalam kurang dari dua menit, Laras orgasme dengan hebat. Tubuhnya gemetar hebat, lututnya lemas, ia terduduk di lantai kamar mandi. Cairan bening muncrat dari vaginanya, membasahi paha dan lantai. Ia menekan mulut dengan lengan agar tidak menjerit nama Darma.
3871Please respect copyright.PENANA3a6uxKwwas
Setelah reda, ia duduk di lantai, napas masih tersengal, air mata mengalir di pipinya.
3871Please respect copyright.PENANAapXTNpxFnt
Ia baru saja mengkhianati Arga. Bukan dengan tubuh, tapi dengan pikiran dan hasrat yang sudah tidak bisa dikendalikan.
3871Please respect copyright.PENANAcVrFZYrcrP
Di luar, di taman, Darma berdiri diam di gazebo. Tangan besarnya masih bisa merasakan pinggang Laras. Kontolnya masih keras, nyeri di balik celana. Ia menatap pintu belakang rumah yang tertutup.
3871Please respect copyright.PENANAJXni9XhLjg
Ia tahu. Ia merasakannya. Wanita itu menginginkannya sama seperti ia menginginkan wanita itu.
3871Please respect copyright.PENANA3UCs8Liu74
Laras masih duduk di lantai kamar mandi lantai dua, punggung bersandar ke dinding dingin. Gaun tipisnya sudah basah kuyup di bagian dada dan paha. Air mani yang belum sempat ia bersihkan dari paha dalamnya mulai mengering, lengket. Napasnya masih tersengal. Payudaranya yang montok naik-turun cepat, puting cokelat tua masih menegang keras, nyeri karena baru saja ia remas sendiri dengan kasar saat orgasme tadi.
3871Please respect copyright.PENANARMVh72Xy7M
Ia menutup mata. Bayangan Darma masih sangat jelas: dada bidang basah keringat, tangan kasar memegang pinggangnya erat, dan kontol besar yang panas menekan perutnya melalui celana. Ia bisa merasakan lagi bagaimana kontol itu berdenyut — tebal, keras, dan jauh lebih besar dari milik Arga.
3871Please respect copyright.PENANAiZmPw6h25U
“Apa yang baru saja aku lakukan…” bisiknya pelan, suaranya bergetar.
3871Please respect copyright.PENANAXBSKNzlWYr
Ia berdiri dengan lutut masih lemas, melepas gaun basah itu, dan masuk ke dalam shower. Air dingin mengguyur tubuh telanjangnya. Ia menyabuni payudaranya dengan lambat, jari-jarinya mengelilingi puting yang sensitif. Setiap kali ia menutup mata, ia membayangkan Darma yang menghisapnya dengan rakus, gigi pelan menggigit, lidah kasar menjilat.
3871Please respect copyright.PENANA4Ym6my0X22
Tangan kanannya turun lagi ke selangkangan. Memeknya masih bengkak dan basah. Dua jari masuk dengan mudah. Ia menggerakkan jari sambil membayangkan kontol Darma yang baru saja ia rasakan menekan tubuhnya. Dalam hitungan menit ia orgasme lagi — lebih pelan kali ini, tapi lebih dalam, air mata bercampur air shower.
3871Please respect copyright.PENANAeS1Gr1aRdh
Setelah mandi, ia berdiri di depan cermin besar kamar mandi. Tubuhnya masih merah karena panas dan nafsu. Payudara montoknya terlihat lebih penuh, puting masih menonjol. Bokongnya bulat dan kenyal, paha dalamnya masih ada bekas basah yang baru ia bersihkan. Ia menyentuh perutnya sendiri, membayangkan air mani Darma menyemprot di sana.
3871Please respect copyright.PENANAIkVR6gReqY
Ia memakai gaun panjang longgar warna biru muda yang menutupi lebih banyak, tapi tetap tipis. Tanpa bra. Tanpa celana dalam. Ia tidak tahu kenapa ia memilih begitu. Mungkin karena ia sudah tahu bahwa garis sudah dilangkahi.
3871Please respect copyright.PENANAyjsbCW0Dcx
Turun ke bawah, ia melihat Darma masih di taman. Pukul setengah tiga siang. Cuaca panas sekali. Darma sudah memasang beberapa papan baru di gazebo. Tubuhnya berkeringat deras. Ia hanya memakai celana kerja pendek sekarang, dada telanjang. Otot punggung dan bahunya mengkilap karena keringat.
3871Please respect copyright.PENANAD7OKTm7vkB
Laras berdiri di ambang pintu belakang selama beberapa menit, hanya menatap punggung lebar itu. Jantungnya berdetak kencang. Ia tahu ia harus menyuruh Darma pergi. Ia tahu ia harus menelepon Arga dan menceritakan semuanya. Tapi kakinya malah melangkah keluar.
3871Please respect copyright.PENANAsawFkwpYzx
Darma mendengar langkahnya. Ia menoleh. Mata mereka bertemu dari jarak sepuluh meter. Tidak ada yang tersenyum. Hanya saling menatap dengan pengakuan yang sama: sesuatu yang besar sudah terjadi, dan tidak bisa dikembalikan.
3871Please respect copyright.PENANAHDqpEfUXZQ
Laras berjalan pelan ke gazebo. Ia duduk di bangku kayu yang baru dipasang. Darma meletakkan palunya, mengambil kain lap, dan menyeka keringat di dada serta lehernya sebelum mendekat. Ia duduk di bangku seberang, jaraknya masih sopan — sekitar satu meter.
3871Please respect copyright.PENANAXCreT5yNJj
Beberapa detik berlalu dalam diam yang berat.
3871Please respect copyright.PENANAc7CC9pdn4Z
Akhirnya Darma bicara, suaranya dalam dan serak. “Mbak Laras… saya minta maaf yang sebesar-besarnya. Tadi saya… saya sudah kehilangan akal. Saya tidak seharusnya memegang Mbak seperti itu. Saya bisa angkat koper sekarang juga. Saya tidak akan kembali lagi. Saya janji.”
3871Please respect copyright.PENANA1E4zGzQmb4
Laras menatap tangannya sendiri yang bertaut di pangkuan. “Jangan… jangan pergi, Pak.”
3871Please respect copyright.PENANA4KM0q0d9Im
Darma menatapnya tajam. “Mbak yakin?”
3871Please respect copyright.PENANA5XbpXvGQ2z
Laras mengangguk pelan. “Saya… saya juga salah. Saya tidak langsung menolak. Saya bahkan… membiarkan Bapak menyentuh saya.”
3871Please respect copyright.PENANA7mBme1THbP
Darma menghela napas panjang. Ia menyandarkan punggung ke tiang gazebo. “Saya sudah menahan diri sejak hari pertama saya datang ke sini, Mbak. Saat Mbak membuka pintu dengan kaos longgar tanpa bra itu… payudara Mbak yang montok terlihat jelas, putingnya menonjol karena angin pagi. Saya langsung merasa bersalah. Tapi setiap hari saya datang, godaan itu semakin besar. Cara Mbak berjalan, bokong Mbak yang bulat bergoyang pelan, kaki panjang Mbak yang mulus… Saya pria tua, Mbak. Saya sudah lama tidak merasakan hasrat seperti ini.”
3871Please respect copyright.PENANAdVRnBx2MLP
Laras merasa wajahnya panas. Ia menggigit bibir bawah. “Pak Darma juga… membuat saya merasa berbeda. Arga baik. Sangat baik. Tapi belakangan… saya merasa ada yang kosong. Saat kami berhubungan, saya selalu membayangkan… Bapak.”
3871Please respect copyright.PENANA3EBFwMnEse
Darma diam sebentar, lalu berkata pelan, “Mbak pernah membayangkan saya saat bersama Pak Arga?”
3871Please respect copyright.PENANAcym0RzI4P8
Laras mengangguk malu-malu, tanpa menatapnya. “Ya. Beberapa kali. Bahkan tadi malam… sebelum Bapak datang hari ini. Saya… saya menyentuh diri sendiri sambil membayangkan Bapak.”
3871Please respect copyright.PENANAxsnH60v16L
Darma berdiri pelan dan pindah duduk di sebelah Laras. Jarak mereka sekarang hanya beberapa senti. Ia tidak menyentuhnya dulu. Hanya duduk dekat, membiarkan Laras merasakan panas tubuhnya.
3871Please respect copyright.PENANAtXxXVr81h6
Tangan kanannya naik pelan, menyentuh punggung tangan Laras yang bertaut di pangkuan. Jari kasarnya mengusap pelan. Laras tidak menarik tangan.
3871Please respect copyright.PENANAvwGXSUI35K
“Mbak ingin saya pergi sekarang?” tanya Darma lagi, suaranya lebih serak.
3871Please respect copyright.PENANA2JUKNSykRo
Laras menggeleng. “Tidak.”
3871Please respect copyright.PENANAMSB6qWcDB5
Darma menggeser tubuhnya lebih dekat. Bahu mereka bersentuhan. “Mbak ingin saya sentuh lagi… seperti tadi?”
3871Please respect copyright.PENANAX6xlAeusJK
Laras diam beberapa detik. Lalu ia mengangguk sangat pelan.
3871Please respect copyright.PENANADlPZVho2Bn
Darma mengangkat tangan kanannya, punggung jarinya menyentuh pipi Laras dengan sangat lembut. Kulit kasar bertemu kulit halus. Laras menutup mata. Darma membungkuk pelan… dan mencium bibir Laras.
3871Please respect copyright.PENANACYpzNDWZC2
Ciuman pertama sangat lembut. Hanya bibir bertemu bibir. Lalu Darma menekan lebih dalam. Lidahnya menyentuh bibir bawah Laras, meminta izin. Laras membuka mulut sedikit. Lidah mereka bertemu. Ciuman menjadi basah, dalam, lapar.
3871Please respect copyright.PENANAk6xUrhK2rw
Tangan Darma turun ke pinggang Laras, menariknya lebih dekat. Tubuh mereka menempel. Payudara montok Laras menekan dada bidang Darma yang telanjang dan basah keringat. Darma bisa merasakan puting keras Laras menusuk kulitnya.
3871Please respect copyright.PENANAQjaibMMn4U
Tangan Darma naik, meremas payudara kiri Laras melalui gaun tipis. Jempolnya menggosok puting yang sudah menegang. Laras mendesah ke dalam mulut Darma.
3871Please respect copyright.PENANAwkyqOMbxmo
Darma menarik gaun dari bahu Laras dengan satu tangan. Gaun melorot sampai pinggang. Payudara montok Laras terbebas sepenuhnya — bulat, penuh, puting cokelat tua menegang sempurna. Darma menarik napas tajam melihatnya.
3871Please respect copyright.PENANAargZuHAQnl
“Indah sekali…” bisiknya.
3871Please respect copyright.PENANAgT9161WwuR
Ia membungkuk, mulutnya langsung menghisap puting kanan Laras dengan rakus. Lidahnya melingkar cepat, giginya pelan menggigit. Tangan kirinya meremas payudara kiri, jempol dan telunjuk mencubit puting yang lain.
3871Please respect copyright.PENANAVGzQjezujY
Laras menjerit pelan, kepalanya tertengadah, tangan kanannya memegang rambut Darma, menekannya lebih kuat ke payudaranya. “Ahh… Pak Darma…”
3871Please respect copyright.PENANArowpZ8Ms4u
Darma berganti ke payudara kiri, menghisap dengan lebih kasar. Sementara tangan kanannya turun ke paha Laras, menyusuri ke dalam gaun yang sudah naik. Jari-jarinya menemukan bahwa Laras benar-benar tidak memakai celana dalam. Memeknya sudah sangat basah — cairan bening mengalir pelan di paha dalam.
3871Please respect copyright.PENANARUOUTPZKLM
Darma menggeram puas. “Mbak sudah basah sekali… hanya dari ciuman dan hisapan puting.”
3871Please respect copyright.PENANAfg4IrR0uIs
Dua jari tebalnya membelah bibir memek yang bengkak, menggosok klitoris yang sudah menonjol. Laras gemetar hebat. Darma memasukkan satu jari ke dalam vagina — dalam, pelan, memutar. Lalu jari kedua menyusul. Ia menggerakkan jari dengan irama yang mantap, ibu jarinya tetap menggosok klitoris.
3871Please respect copyright.PENANAbNH1aKyg2c
Laras menggigit bibirnya sendiri agar tidak menjerit terlalu keras. Tapi ketika Darma mempercepat gerakan jarinya dan membengkokkan jari ke arah depan, menyentuh titik sensitif di dalam, Laras tidak bisa menahan lagi.
3871Please respect copyright.PENANAoDndooyWQf
“Aaaahhh… Pak… saya… saya mau keluar…”
3871Please respect copyright.PENANAxu7yqC4ZBK
Darma tidak berhenti. Ia menghisap puting lebih keras sambil jarinya bergerak cepat dan dalam. “Keluarlah, Mbak. Keluarkan untuk saya.”
3871Please respect copyright.PENANAHkq1xU96x8
Laras orgasme dengan hebat. Tubuhnya melengkung, kaki menegang, memeknya menjepit jari Darma kuat-kuat. Cairan muncrat sedikit ke tangan Darma. Ia menjerit nama Darma tanpa sadar.
3871Please respect copyright.PENANAxNwVlBHva9
Darma tidak menarik jarinya. Ia terus menggerakkan pelan sambil mencium leher Laras, membiarkan Laras menikmati sisa orgasme yang panjang.
3871Please respect copyright.PENANAyoOufqInpC
Setelah reda, Laras masih terengah-engah. Darma menarik jarinya pelan, memperlihatkan jari yang basah mengkilap. Ia menjilat jarinya sendiri di depan Laras. “Manis.”
3871Please respect copyright.PENANAlrXZb0Q80z
Laras menatapnya dengan mata berkaca-kaca karena nikmat. Ia meraih wajah Darma dengan kedua tangan, jari-jarinya yang kecil menenggelam di rahang tegas itu, lalu menarik pria itu turun dan menciumnya dengan lapar yang sudah meledak. Ciuman mereka basah, dalam, dan penuh nafsu. Lidah Darma langsung masuk ke mulut Laras, menguasai, menjilat langit-langit mulutnya dengan kasar. Laras mendesah ke dalam mulut Darma, tubuhnya bergoyang pelan di bangku gazebo. Payudaranya yang montok bergesekan dengan dada bidang Darma yang telanjang dan basah keringat. Puting cokelat tuanya yang sudah sangat menegang menusuk kulit pria itu.
3871Please respect copyright.PENANA5qE19XYfVS
Tangan kanan Laras turun dengan gemetar. Ia membuka kancing celana kerja Darma satu per satu, perlahan, seolah menikmati setiap detik. Begitu kancing terakhir terbuka, kontol besar itu langsung melonjak keluar dengan berat, menimpa telapak tangan Laras yang kecil. Panasnya luar biasa. Beratnya membuat pergelangan tangan Laras sedikit goyah.
3871Please respect copyright.PENANA0ZEo9QnIPg
Laras menatapnya dari dekat. Ia tidak bisa membungkus seluruh batang dengan satu tangan. Jari-jarinya yang lentik hanya bisa memegang sekitar dua pertiga. Ia stroking pelan dari pangkal ke kepala, merasakan setiap urat yang menonjol, merasakan bagaimana kontol itu berdenyut di tangannya. Cairan bening dari ujungnya mengalir ke jarinya, membuat gerakan stroking-nya lebih licin.
3871Please respect copyright.PENANABSwFPyomTS
Darma berdiri tegak di depan Laras yang masih duduk di bangku gazebo. Cahaya matahari sore menyinari tubuh mereka. Laras membungkuk ke depan, rambut hitam panjangnya tergerai ke satu sisi, lalu membuka mulut lebar-lebar. Ia menjulurkan lidah pinknya dan menjilat kepala kontol itu pelan, merasakan rasa asin yang kuat. Lidahnya melingkar di sekitar kepala merah itu, menjilat lubang kecil di ujungnya, menikmati cairan yang terus keluar.
3871Please respect copyright.PENANAbeg6TbC0Z0
Darma menggeram dalam-dalam. Tangan besarnya yang kasar menyentuh rambut Laras dengan lembut. “Ya… seperti itu, Mbak. Jilat lagi.”
3871Please respect copyright.PENANA0SAGOi2CoX
Laras menurut. Ia menjilat sepanjang batang dari bawah ke atas, lidahnya yang basah merasakan setiap urat yang menonjol. Kemudian ia membuka mulut lebih lebar lagi dan memasukkan kepala kontol itu ke dalam mulutnya. Bibirnya yang penuh meregang lebar mengelilingi kepala yang tebal. Ia menghisap dengan rakus, pipinya cekung, lidahnya terus bergerak di bawah kepala yang sensitif.
3871Please respect copyright.PENANAsdfJUVyMUm
Darma menghela napas tajam. “Mulut Mbak hangat sekali… sempit… ahh…”
3871Please respect copyright.PENANAR7PyG6Iaf9
Laras mencoba memasukkan lebih dalam. Ia mendorong kepalanya pelan. Kontol itu menyentuh langit-langit mulutnya, lalu menyentuh tenggorokannya. Ia tersedak pelan, air mata langsung menggenang di mata. Tapi ia tidak mundur. Ia menarik napas melalui hidung dan mendorong lagi, memasukkan hampir dua pertiga batang ke dalam mulut dan tenggorokannya yang sempit. Air liurnya mengalir deras, membasahi batang kontol yang tersisa, menetes ke tangannya, dan jatuh ke payudaranya yang telanjang.
3871Please respect copyright.PENANAGcj9yc6DJG
Darma memegang rambut Laras lebih erat, tapi tetap lembut. Ia tidak memaksa. Ia hanya membiarkan Laras menikmati. “Hisap lebih dalam lagi, sayang… bagus sekali… mulutmu seperti diciptakan untuk kontol ini.”
3871Please respect copyright.PENANA2b4u0lPdeG
Laras mengeluarkan kontol dari mulutnya sebentar untuk mengambil napas. Air liurnya membentuk benang panjang yang menghubungkan bibirnya dengan kepala kontol yang mengkilap. Ia menatap Darma dengan mata berkaca-kaca dan bibir yang bengkak. “Besar sekali, Pak…” bisiknya dengan suara serak. “Saya… saya tidak bisa memasukkan semuanya…”
3871Please respect copyright.PENANAs7qfuc4CeI
Darma tersenyum kecil, tangannya mengusap pipi Laras dengan ibu jari. “Tidak apa-apa. Nikmati saja. Hisap sebisamu.”
3871Please respect copyright.PENANA3nZrOsrTah
Laras kembali membungkuk. Kali ini ia menggunakan kedua tangan. Tangan kiri memegang pangkal kontol dan memijat pelan, sementara tangan kanan memompa batang bagian tengah. Mulutnya kembali menghisap kepala dengan lebih rakus. Ia menggerakkan kepalanya naik-turun dengan irama yang semakin cepat. Setiap kali ia menurunkan kepala, kontol itu menyentuh tenggorokannya lagi. Ia tersedak, tapi malah semakin bersemangat. Air liurnya semakin deras, membasahi seluruh batang, membuat suara “slurp… slurp… slurp” yang basah dan mesum terdengar jelas di taman yang sepi.
3871Please respect copyright.PENANAKjVDLO8tbd
Payudaranya yang montok bergoyang pelan mengikuti gerakan kepalanya. Puting cokelat tuanya yang keras bergesekan dengan paha Darma setiap kali ia membungkuk lebih dalam. Bokongnya yang bulat dan kenyal menempel di bangku kayu gazebo, sementara kakinya yang panjang dan mulus terbuka lebar di bawah gaun yang sudah naik sampai pinggang. Memeknya yang telanjang sudah sangat basah — cairan bening mengalir pelan di paha dalamnya, menetes ke bangku.
3871Please respect copyright.PENANANVpXLPSdyW
Darma melihat ke bawah dan melihat pemandangan itu. “Lihat dirimu, Mbak… memekmu sudah menetes hanya karena menghisap kontol saya. Kamu sangat nakal hari ini.”
3871Please respect copyright.PENANAp9RFSHr9ME
Laras mendesah di sekitar kontol yang ada di mulutnya. Getaran itu membuat Darma menggeram lebih keras. Ia mulai menggerakkan pinggulnya pelan, mendorong kontolnya masuk dan keluar dari mulut Laras dengan ritme yang lembut. Laras menyerah pada gerakan itu. Ia membiarkan Darma mengentot mulutnya pelan-pelan. Air liurnya semakin banyak, mengalir deras ke dagu, ke leher, dan jatuh ke payudaranya yang bergoyang.
3871Please respect copyright.PENANAOEplEftByj
Darma bicara lagi dengan suara berat penuh nafsu. “Hisap lebih kuat… ya, seperti itu. Lidahmu bagus sekali. Arga pernah merasakan mulutmu seperti ini? Atau selama ini kamu hanya memberinya yang biasa saja?”
3871Please respect copyright.PENANA1anwGBUcnC
Laras tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menghisap lebih dalam dan lebih cepat, seolah ingin membuktikan bahwa mulutnya memang untuk kontol sebesar ini. Tangannya yang satu turun ke bawah, menyentuh memeknya sendiri. Dua jari langsung masuk ke dalam vagina yang sudah basah kuyup. Ia menggerakkan jarinya sendiri sambil terus menghisap kontol Darma.
3871Please respect copyright.PENANApzo103s4gN
Darma melihat itu dan tersenyum puas. “Jari sendiri tidak cukup lagi ya, Mbak? Kamu sudah haus kontol yang besar.”
3871Please respect copyright.PENANAnfaEkEVZX7
Ia menahan kepala Laras pelan dan menarik kontolnya keluar dari mulut Laras dengan suara “pop” yang basah. Kontol itu mengkilap penuh air liur. Laras menatapnya dengan napas tersengal, bibir bengkak, air liur mengalir di dagu dan payudaranya.
3871Please respect copyright.PENANAIPzt3Uupgm
Darma membungkuk, mencium Laras lagi dengan dalam, mencicipi rasa kontolnya sendiri di mulut Laras. Lalu ia berbisik di telinga Laras, “Sekarang giliran saya yang memuaskan kamu.”
3871Please respect copyright.PENANAsXMPBi3Ndj
Ia mengangkat Laras dengan mudah — tangan besarnya memegang pinggang dan bokong bulat itu seolah Laras tidak berat sama sekali. Ia meletakkan Laras di atas meja gazebo yang baru. Gaun Laras ia angkat sampai di atas pinggang. Kaki Laras yang panjang dan mulus ia buka lebar, kaki kiri diletakkan di bahu Darma, kaki kanan ia pegang dengan tangan.
3871Please respect copyright.PENANApJgrEX8BtU
Kontol besar itu kembali menggosok di antara bibir memek Laras yang bengkak dan basah. Darma menggesekkan kepala kontolnya ke klitoris Laras berulang kali, membuat Laras menggeliat dan mendesah.
3871Please respect copyright.PENANAUbCe1WnBos
“Masukkan… Pak… saya tidak tahan lagi…” pinta Laras dengan suara memohon.
3871Please respect copyright.PENANAgqMTq84ewI
KELANJUTANNYA DI LINK 🔗 DIBAWAK INI


