Pagi berikutnya, Pesantren Ar-Rahman sudah ramai sejak subuh. Suara adzan masih bergema ketika Raihan berjalan menuju kelas tahfidz kelas menengah. Dia mengenakan kemeja putih lengan panjang, celana hitam, dan peci. Jantungnya berdegup kencang, campuran antara gugup dan excited.
626Please respect copyright.PENANAfAZDwudd97
Begitu masuk kelas, puluhan santri langsung berdiri.
626Please respect copyright.PENANA0oCndHA23e
“Assalamualaikum, Ustadz Raihan!” seru mereka kompak.
626Please respect copyright.PENANAXb2EXU1PFW
Raihan tersenyum lebar. Dulu mereka memanggilnya “Kak Raihan”. Sekarang panggilan itu sudah berubah.
626Please respect copyright.PENANA3uKmP3dB8M
“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Duduk, anak-anak. Alhamdulillah, ana kembali ke sini untuk khidmah. Kita akan hafal bersama, ya. Semangat?”
626Please respect copyright.PENANAGzCgvnG63i
“Semangat, Ustadz!” jawab mereka antusias.
626Please respect copyright.PENANAXar0jbHXXS
Pelajaran berjalan lancar. Raihan menjelaskan teknik muraja’ah yang lebih efektif, mendengarkan hafalan satu per satu, dan memberi motivasi. Beberapa santri putra yang dulu kecil sekarang sudah remaja, mata mereka berbinar melihat “Kak Raihan” kini menjadi Ustadz.
626Please respect copyright.PENANA1BCHeZJBxR
Setelah dua jam mengajar, bel istirahat berbunyi. Raihan berjalan menuju gazebo pondok yang berada di taman belakang, tempat para ustadz dan ustadzah biasa berkumpul.
626Please respect copyright.PENANAuZoYQ4Jhmh
Di gazebo sudah ada beberapa orang. Ustadz Adam sedang duduk sambil memegang gelas teh hangat. Ustadzah Layla duduk anggun dengan gamis hitam panjang dan cadar yang masih terpasang rapi. Di sebelahnya Ustadzah Salwa yang berbadan montok, gamis abu-abunya terlihat agak ketat di bagian dada yang besar dan berat. Ustadzah Hanifa juga ada, tersenyum manis dengan jilbab segi empat warna cream.
626Please respect copyright.PENANAWWjFJATJgW
“Assalamualaikum, Ustadz-ustadzah,” sapa Raihan sambil duduk di kursi rotan kosong.
626Please respect copyright.PENANAMMHWnKmypv
“Waalaikumsalam… Wah, Ustadz baru sudah kelihatan capek,” goda Ustadzah Salwa sambil tertawa renyah. Tawanya membuat dadanya yang besar bergoyang pelan di balik gamis. Raihan buru-buru mengalihkan pandangan.
626Please respect copyright.PENANAv2Aer2d5dH
Ustadz Adam tertawa. “Biasa, pertama kali mengajar selalu begitu. Santri kelas menengah agak bandel ya, Raihan?”
626Please respect copyright.PENANAWBDmparnHu
“Alhamdulillah tidak terlalu, Ustadz. Mereka antusias. Cuma ada yang masih suka ngantuk pas belajar” jawab Raihan sambil tersenyum.
626Please respect copyright.PENANAU0OlRtyi3J
Ustadzah Layla yang sejak tadi diam, kini berbicara dengan suara lembut di balik cadar. Matanya yang indah terlihat menatap Raihan.
626Please respect copyright.PENANA1L8w91ykbS
“Metode yang Ustadz pakai kemarin di rapat sudah dicoba? Kombinasi audio dan hafalan klasik?”
626Please respect copyright.PENANAnL0IjT4zg7
“Iya, Ustadzah. Tadi saya coba. Ada dua santri yang langsung bisa memperbaiki bacaan mereka. Ternyata efektif.”
626Please respect copyright.PENANADWDmf0Cmwj
“Bagus sekali,” puji Ustadzah Layla. Kerut mata di sudut cadarnya menunjukkan dia tersenyum.
626Please respect copyright.PENANAGadUw8cSey
Ustadzah Hanifa ikut nimbrung, suaranya halus dan agak malu-malu. “Santri putri kelas saya juga banyak yang kangen sama Ustadz dulu. Katanya Kak Raihan yang suka cerita motivasi pas kajian malam.”
626Please respect copyright.PENANAcRr9eCySDE
Raihan menggaruk kepala. “Dulu saya masih santri juga sih, Ustadzah. Sekarang malah jadi yang kasih motivasi.”
626Please respect copyright.PENANAWelOuSPztT
Ustadzah Salwa menyodorkan sepiring kue basah. “Makan dulu, Ustadz. Biar tambah semangat. badannya jangan sampai kurus mengajar terus.”
626Please respect copyright.PENANAI01nJmTot0
Semua tertawa. Raihan melirik sekilas ke arah dada Ustadzah Salwa yang memang sangat menonjol. Dua gundukan besar itu naik-turun perlahan saat dia tertawa. Di sebelahnya, Ustadzah Layla duduk tegak, gamis hitamnya longgar tapi tetap tidak bisa menyembunyikan ukuran dada yang juga besar dan padat.
626Please respect copyright.PENANARZBP4GF4US
Obrolan terus santai. Mereka membahas masalah santri, rencana kegiatan tahunan, hingga menu makanan pondok yang mulai membosankan.
626Please respect copyright.PENANAsU8jrcbLFO
“Kadang saya kangen masakan rumah,” keluh Ustadzah Hanifa pelan.
626Please respect copyright.PENANAaPqw6pyou5
“Kalau begitu nanti kita masak bareng-bareng di dapur ustadzah,” usul Ustadz Adam.
626Please respect copyright.PENANAjTY0A2ZQJp
Ustadzah Layla menggeleng pelan. “Lebih baik kita fokus mengajar dulu. Tapi… kalau ada yang mau diskusi pelajaran, silakan datang ke perpustakaan sore nanti.”
626Please respect copyright.PENANAZmJPiDjf6Z
Mata Raihan bertemu dengan mata Ustadzah Layla. Ada sesuatu yang tak terucapkan di dalamnya.
626Please respect copyright.PENANAaff4x0iM5O
Setelah istirahat selesai, mereka kembali ke kelas masing-masing.
626Please respect copyright.PENANAddWMJ5BsjZ
Sore hari, setelah asar, Raihan memutuskan ke perpustakaan seperti yang disinggung Ustadzah Layla. Ruangan itu sepi, hanya ada aroma buku lama dan sedikit minyak attar.
626Please respect copyright.PENANAfJOUqmK5RC
Ustadzah Layla sudah ada di sana, duduk di meja pojok sambil membaca buku fiqih. Cadarnya masih terpasang sempurna.
626Please respect copyright.PENANA0qpZcR35uE
“Assalamualaikum ustadzah,” sapa Raihan pelan.
626Please respect copyright.PENANAJOHGC5X4PY
“Waalaikumsalam.Duduk, Ustadz.Saya tunggu dari tadi.”
626Please respect copyright.PENANAb9HH51C9bT
Mereka mulai berdiskusi soal metode pengajaran tahfidz untuk santri putri dan putra yang bisa digabungkan dalam beberapa sesi. Obrolan mengalir lancar.
626Please respect copyright.PENANAM1tIm36FYu
“Ustadzah lulusan Al-Azhar pasti punya banyak pengalaman unik,” kata Raihan.
626Please respect copyright.PENANAPuqv8OmR0a
Layla mengangguk. "Iya. Di sana kami belajar mandiri. Tapi di sini, suasananya lebih… hangat." Dia menoleh ke Raihan. “Apalagi sekarang ada ustadz muda yang energik.”
626Please respect copyright.PENANAzYsnaVZRjV
Raihan merasa pipinya hangat. “Ustadzah bisa saja.”
626Please respect copyright.PENANALTirrM3oTV
Mereka tertawa kecil. Jarak duduk mereka cukup dekat. Raihan bisa mencium wangi parfum mawar dari tubuh Ustadzah Layla. Pandangannya tanpa sengaja turun ke dada ustadzah yang meski tertutup gamis lebar, tetap terlihat penuh dan berat. Setiap kali Layla bernapas, kain di bagian itu sedikit menegangkan.
626Please respect copyright.PENANABeLwZLwGKn
“Ustadz Raihan… kamu sudah punya rencana nikah setelah khidmah?” tanya Layla tiba-tiba, suaranya lebih lembut.
626Please respect copyright.PENANAsBUdxYoDt4
Raihan terkejut. “Belum terpikir, Ustadzah. Fokus khidmah dulu.”
626Please respect copyright.PENANAF7vktIvvkm
"Bagus. Tapi jangan terlalu lama. Laki-laki saleh seperti Ustadz… banyak yang mencari," katanya sambil menunduk membalik halaman buku.
626Please respect copyright.PENANAfgtFlOczhU
Suasana mulai terasa hangat. Raihan ingin bertanya lebih dalam, tapi tiba-tiba pintu perpustakaan terbuka.
626Please respect copyright.PENANAqyb97KeALu
“Assalamualaikum… eh, ada yang lagi diskusi ya?” suara Ustadzah Salwa terdengar riang.
626Please respect copyright.PENANAI65EXeE9ZD
Di belakangnya muncul Ustadzah Hanifa yang tersenyum malu.
626Please respect copyright.PENANA6AkDlJt36c
Raihan tertegun. Hatinya berdegup kencang. Di depannya ada tiga ustadzah cantik dan berisi. Ustadzah Layla dengan cadarnya, Ustadzah Salwa dengan dada montoknya yang hampir tak tertutupi sempurna oleh gamis, dan Ustadzah Hanifa yang ramping tapi berlekuk indah.
626Please respect copyright.PENANAUJqqueKHWW
“Waalaikumsalam.Iya, lagi bahas metode hafalan,” jawab Raihan berusaha tenang.
626Please respect copyright.PENANABfdCaoQvTx
Ustadzah Salwa langsung duduk di sebelah Raihan tanpa sungkan. Pinggulnya yang lebar menyentuh kursi dengan lembut. "Boleh ikut? Saya juga ada ide soal santri yang sering bolos masuk kelas."
626Please respect copyright.PENANAofjneKkGoe
Ustadzah Hanifa duduk di seberang, kakinya bersilang hingga gamisnya sedikit naik, menampilkan kaus kaki putih yang rapi.
626Please respect copyright.PENANAzRgjoogot4
Obrolan terus berempati. Tapi pikiran Raihan sudah melayang pembohong.
626Please respect copyright.PENANAaCmnxvipSg
apa mungkin di pondok ini saya bisa mendekati satu-satu mereka?* batinnya. Ustadzah Layla yang misterius dengan tubuh berisi itu… Ustadzah Salwa yang dadanya selalu membuat saya susah konsentrasi… Ustadzah Hanifa yang manis dan lembut…
626Please respect copyright.PENANAJshVBOpdfW
Ustadzah Salwa tertawa lagi saat bercerita tentang santri yang salah hafal. Tubuhnya bergetar, dadanya yang besar naik-turun dengan jelas. Raihan menelan ludah.
626Please respect copyright.PENANA4LzCLCUaEE
“Ustadz Raihan kok diam saja?” tanya Ustadzah Hanifa sambil merawat dengan lembut.
626Please respect copyright.PENANArIEJdIkvii
“Eh, lagi mendengarkan cerita Ustadzah Salwa,” jawab Raihan cepat.
626Please respect copyright.PENANA7tygi7pf7K
Ustadzah Layla yang sejak tadi lebih pendiam, kini berbicara. “Mungkin besok kita akan melanjutkan diskusinya lagi. Sudah hampir magrib sebentar lagi.”
626Please respect copyright.PENANAHY5qlDUbOD
Mereka berempat mendekat. Saat keluar perpustakaan, Ustadzah Salwa berjalan di depan Raihan. Pinggulnya yang lebarnya bergoyang pelan di balik gamis. Di belakangnya Ustadzah Layla berjalan tenang, tapi sesekali menoleh ke belakang, matanya bertemu dengan Raihan.
626Please respect copyright.PENANAKY4kWOf39P
Di pintu gerbang asrama, mereka berpisah.
626Please respect copyright.PENANAqZVzgIblMM
“Selamat malam, Ustadz Raihan,” kata Ustadzah Layla pelan. “Besok kita ketemu lagi ya.”
626Please respect copyright.PENANAndHk2OaNS3
“Insya Allah, Ustadzah.”
626Please respect copyright.PENANAVjQnAdahtQ
Malam itu, di dalam ruangan, Raihan berbaring sambil menatap langit-langit. Bayangan ustadzah ketiga itu bergantian muncul. Tubuh montok Ustadzah Salwa, tajam di balik cadar Ustadzah Layla, senyum malu Ustadzah Hanifa.
626Please respect copyright.PENANAfeQjucnBpw
Satu tahun khidmah ini masih sangat panjang.
626Please respect copyright.PENANAKcDMD8RJXc
626Please respect copyright.PENANAPiEj6zBgk2


