"Kak Bima, ini desain rumah baru saya – hemat energi dan bisa dibuat dengan biaya murah untuk keluarga miskin!" ujar Dewi sambil menunjukkan gambar rancangan rumahnya di buku gambar besar. Wajah cantiknya selalu bersinar saat menjelaskan bagaimana rumah tersebut bisa membantu masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana. Pria yang disapa Kak Bima itu sebenarnya adalah Bima Adi – CEO perusahaan konstruksi terbesar di Indonesia yang selama ini hanya fokus pada proyek-proyek mewah untuk kalangan atas.
Ceritanya dimulai ketika Bima merasa perusahaan nya sudah kehilangan nilai sosial yang seharusnya dimiliki oleh industri konstruksi. Banyak arsitek muda berbakat yang tidak pernah mendapatkan kesempatan karena desain mereka dianggap tidak menguntungkan atau terlalu sederhana. Suatu hari, saat mengunjungi daerah yang baru saja terkena gempa bumi, dia menemukan Dewi yang sedang membantu masyarakat membangun rumah darurat dengan bahan lokal yang kuat namun murah.
Dewi adalah arsitek muda yang cantik namun harus bekerja sebagai guru matematika di sekolah desa agar bisa melanjutkan studi pascasarjana tentang arsitektur ramah lingkungan. Desain rumahnya yang tahan gempa dan hemat energi selalu dianggap tidak menarik oleh pengembang besar. Namun Dewi tidak tahu bahwa pria yang sering beri masukan tentang struktur dan material bangunan itu adalah CEO perusahaan yang dulu menolak tawaran kerjasamanya dengan alasan "desainnya tidak sesuai standar mewah pasar".
"Saya pernah mengirim proposal desain ke perusahaan besar tapi mereka bilang rumah seperti ini tidak akan laku dijual," ujar Dewi dengan suara lembut tapi penuh keyakinan. Bima merasa sangat bersalah tapi tetap membantu Dewi mengembangkan desainnya dan melakukan uji coba konstruksi di beberapa daerah rawan bencana. Mereka bekerja sama mengumpulkan data tentang kondisi tanah dan cuaca agar desain rumah bisa disesuaikan dengan kebutuhan lokal.
Suatu malam, badai besar melanda daerah tersebut. Banyak rumah yang baru saja dibangun hampir roboh, namun rumah yang menggunakan desain Dewi tetap berdiri kokoh. Saat mereka sedang memeriksa kondisi rumah-rumah tersebut, terjadi gempa susulan yang membuat akses jalan terputus. Bima akhirnya mengaku identitasnya dan langsung mengirim tim konstruksi terbaik dari perusahaan nya – membawa bahan bangunan baru serta membantu memperbaiki dan membangun lebih banyak rumah dengan desain Dewi sebelum musim hujan tiba.
"Saya salah besar menganggap karya mu tidak berharga," ujar Bima dengan penuh rasa cinta. "Kita akan menjadikan desain mu sebagai standar untuk rumah-rumah tangga miskin dan daerah rawan bencana di seluruh Indonesia!"
Dewi tersenyum bahagia dan menerima cintanya. Program mereka bernama "Rumah Aman untuk Semua" langsung mendapatkan dukungan dari pemerintah dan masyarakat serta membantu ribuan keluarga mendapatkan tempat tinggal yang layak dan aman. Perusahaan juga membuka program beasiswa bagi mahasiswa arsitektur yang ingin fokus pada desain rumah ramah lingkungan dan terjangkau serta bekerja sama dengan universitas untuk mengembangkan kurikulum arsitektur yang lebih peduli pada kebutuhan masyarakat luas.
39Please respect copyright.PENANAad3TDfjxGA


