Rumah itu berdiri tenang di pinggiran Kota Kudus, Jawa Tengah, di sebuah gang kecil yang masih asri dengan pohon mangga di halaman depan. Pagi itu sudah lewat, matahari bersinar terik namun angin dari arah sawah masih membawa kesejukan. Fajar, suami Rara, sudah berangkat ke kantor sejak pukul enam pagi. Ia bekerja sebagai supervisor produksi di sebuah pabrik tekstil yang cukup besar di sebelah timur kota. Pekerjaannya menuntut, sering pulang larut, kadang bahkan harus lembur sampai malam. Karena itulah renovasi rumah kecil mereka yang baru dibeli di perumahan sebelah belum bisa diselesaikan dengan cepat. Atap bocor, dinding perlu dicat ulang, dan kamar mandi belakang harus diperluas. Sementara menunggu tabungan cukup dan Fajar punya waktu luang, mereka memutuskan tinggal dulu di rumah orang tua Fajar.
4658Please respect copyright.PENANA4Aw19G1glE
Pak Hartono, ayah Fajar, lima puluh dua tahun, pensiunan pegawai negeri sipil yang dulu menjabat sebagai kepala seksi di Dinas Pendidikan. Tubuhnya masih tegap untuk usianya, bahu lebar, kumis tipis yang selalu rapi, dan suara rendah yang penuh wibawa. Ibu Sari, istrinya, empat puluh delapan tahun, ibu rumah tangga yang telaten, selalu bangun pagi untuk memasak dan merawat kebun kecil di belakang. Mereka berdua menyambut Rara dengan hangat sejak hari pertama menantu mereka datang. Rara, dua puluh empat tahun, guru taman kanak-kanak di sekolah swasta dekat pasar, adalah sosok yang sempurna di mata mertuanya. Cantik tanpa berlebihan, sopan, rajin, dan tidak pernah sekali pun menunjukkan sikap sombong meski ia adalah anak tunggal dari keluarga yang cukup berada.
4658Please respect copyright.PENANAY4bhOViFcR
Tubuh Rara memang jenis yang sulit dilupakan begitu saja. Payudaranya montok dan padat, berbentuk bulat sempurna seperti buah mangga matang, ukurannya pas di telapak tangan pria dewasa. Ketika ia mengenakan daster atau kaos biasa tanpa bra tebal, bentuknya terlihat jelas, terutama ketika ia bergerak atau membungkuk. Putingnya berwarna cokelat muda, sensitif luar biasa; sering kali menegang hanya karena hembusan angin AC atau ketika ia merasa sedikit gugup. Bokongnya bulat, kenyal, dan menggoyang lembut setiap kali ia berjalan. Pinggulnya lebar, pinggangnya kecil, menciptakan lekuk jam pasir yang membuat siapa pun yang melihatnya dari belakang sulit mengalihkan pandangan. Kakinya jenjang, paha bagian dalamnya halus dan putih mulus, tanpa sehelai bulu pun. Vaginanya tersembunyi di balik celana dalam katun sederhana yang selalu ia pakai, bibirnya penuh dan simetris, klitorisnya kecil namun sangat responsif, dan lubangnya yang sempit selalu basah ketika ia sedang bergairah bersama suaminya. Kulit seluruh tubuhnya putih bersih dengan sedikit semburat merah muda di pipi ketika ia malu atau kepanasan.
4658Please respect copyright.PENANAcGDnhoJkK6
Hari itu, seperti biasa, Rara bangun lebih awal. Ia mandi, memakai daster tipis berwarna krem yang agak longgar di badan, rambut hitam panjangnya diikat menjadi ekor kuda yang rapi. Setelah membantu Ibu Sari menyiapkan sarapan dan mengantar Fajar ke depan gang untuk naik ojek, ia kembali ke rumah dan mulai membereskan ruang tamu. Ibu Sari sudah berangkat ke pasar untuk membeli ikan segar dan sayuran, meninggalkan rumah hanya berisi Pak Hartono dan Rara.
4658Please respect copyright.PENANAhNLzWaxVtd
Pak Hartono sedang di loteng, membersihkan barang-barang lama yang sudah bertahun-tahun tidak tersentuh. Debu tebal menempel di langit-langit kayu, tumpukan kardus berisi pakaian bekas nenek, buku-buku sekolah zaman dulu, dan sebuah lemari kecil yang terkunci rapat. Ia membuka lemari itu dengan kunci tua yang ia temukan di laci meja kerja. Di dalamnya ada sebuah kotak kayu jati berukir halus, ukurannya sebesar kotak perhiasan. Pak Hartono membukanya dengan hati-hati. Di dalam kotak itu tergeletak sebuah jimat berbentuk oval, terbuat dari perak tua yang sudah menghitam di beberapa bagian. Di tengahnya ada batu merah gelap seperti garnet, diukir dengan huruf-huruf Jawa kuno yang sudah pudar. Ada juga selembar kertas kuning rapuh yang dilipat rapi.
4658Please respect copyright.PENANAXITEKpRkyf
Ia mengeluarkan kertas itu dan membacanya pelan, suaranya bergema pelan di loteng yang sunyi.
4658Please respect copyright.PENANA91xptZSQgA
“Barang siapa yang memegang jimat ini dengan niat yang tulus kepada seorang perempuan, maka tubuh perempuan itu akan menjadi miliknya. Darah akan mengalir deras, puting akan menegang tanpa disentuh, lubang rahasia akan mengalirkan madu sendiri, bokong akan menggoyang mencari sentuhan, dan seluruh tubuh akan patuh pada kehendak pemegang jimat. Nafsu akan bangkit seperti api yang tak bisa dipadamkan, dan kenikmatan akan datang berulang-ulang sampai pemegang jimat puas. Ini adalah warisan leluhur untuk menguasai yang diinginkan.”
4658Please respect copyright.PENANAJhtMwC10am
Pak Hartono tertawa kecil, menggelengkan kepala. “Tahyul orang dulu. Mungkin cuma buat cerita pengantar tidur.” Tapi ia tetap memasukkan jimat itu ke saku celana panjangnya. Ada rasa penasaran yang aneh di dadanya. Ia turun dari loteng membawa kotak kosong, dan langsung melihat Rara di ruang tamu.
4658Please respect copyright.PENANAFSh7c2CSOV
Rara sedang membungkuk di depan keranjang cucian, melipat baju-baju Fajar. Daster kremnya menempel erat di punggung karena keringat tipis, memperlihatkan garis bra putih di bawahnya. Ketika ia membungkuk lebih dalam, bokongnya yang bulat dan kenyal terangkat tinggi, kain daster naik hingga pertengahan paha, memperlihatkan kulit mulus kakinya yang putih. Pak Hartono berhenti di ambang pintu, matanya tak sengaja tertuju ke sana lebih lama dari yang seharusnya. Payudara Rara bergoyang pelan ketika ia mengangkat tumpukan baju, bentuknya yang montok terlihat jelas dari samping, putingnya sedikit menonjol karena udara dingin dari kipas angin.
4658Please respect copyright.PENANA0oovnGxcbf
“Rara, kamu sudah mulai membereskan ya?” tanya Pak Hartono dengan suara ramah, masuk ke ruangan dan duduk di sofa.
4658Please respect copyright.PENANA4IGPS4PUZG
Rara menoleh cepat, tersenyum manis. Matanya yang besar dan jernih seperti air sungai di pagi hari menatap mertuanya dengan penuh hormat. “Iya Pak. Tadi habis antar Fajar. Biar tidak numpuk. Ibu juga sudah ke pasar.”
4658Please respect copyright.PENANAJgMtWMwG18
Pak Hartono mengangguk, tangannya secara tidak sadar menyentuh saku yang berisi jimat. “Kamu rajin sekali. Fajar beruntung punya istri seperti kamu.”
4658Please respect copyright.PENANAUo6Bx1LRuH
Rara tertawa kecil, pipinya agak merona. “Ah, Pak jangan lebay. Saya cuma melakukan kewajiban sebagai istri dan menantu. Lagipula Ibu dan Pak sudah baik sekali sama saya.”
4658Please respect copyright.PENANA6Cxv2ty40F
Mereka mulai mengobrol ringan. Rara menceritakan bagaimana murid-muridnya di TK hari ini lucu-lucu, ada yang menangis karena ditinggal ibunya, ada yang membawa kado kecil untuk guru. Pak Hartono mendengarkan sambil sesekali menyela dengan cerita tentang masa kerjanya dulu. Percakapan mengalir natural, penuh tawa kecil, seperti mertua dan menantu yang sudah akrab.
4658Please respect copyright.PENANArz2qf3YTYk
Tapi di dalam hati Pak Hartono, ada sesuatu yang berubah sejak ia memegang jimat tadi. Ia merasa jimat itu sedikit hangat di saku. Tanpa ia sadari, ia mulai membayangkan bagaimana jika kata-kata di kertas kuning itu benar. Bagaimana jika tubuh Rara yang indah ini bisa meresponsnya? Bagaimana jika payudara montok itu bisa ia sentuh, puting sensitif itu bisa ia hisap, bokong kenyal itu bisa ia pegang, dan vagina basah itu bisa ia rasakan?
4658Please respect copyright.PENANAv2kS8EaYai
Ia tidak berniat jahat. Setidaknya tidak di awal. Ia hanya penasaran. Ia menggenggam jimat di dalam saku, merasakan bentuknya yang halus, dan secara perlahan mengarahkan niatnya ke Rara yang sedang duduk di lantai melipat baju.
4658Please respect copyright.PENANAmMsLlgyNP5
Rara tiba-tiba berhenti. Tangannya yang sedang memegang kaos Fajar bergetar pelan. Sebuah gelombang hangat yang tak bisa dijelaskan menyebar dari dada ke perut bawahnya. Payudaranya terasa tiba-tiba lebih berat, seolah ada tangan tak terlihat yang meremasnya dari dalam. Putingnya menegang dengan cepat, menusuk-nusuk kain bra tipis yang ia pakai. Ia menarik napas tajam, dada naik turun lebih cepat.
4658Please respect copyright.PENANA8qBxoIztEU
“Rara? Kamu kenapa?” tanya Pak Hartono, memperhatikan dengan saksama. Wajah Rara mulai memerah, dari leher sampai pipi.
4658Please respect copyright.PENANAMGhF6D792r
Rara menggeleng pelan, mencoba tersenyum. “Tidak apa-apa Pak. Mungkin… mungkin saya kepanasan tadi. Atau angin. Dada saya… tiba-tiba terasa aneh.”
4658Please respect copyright.PENANAwpNuwftWg6
Ia mencoba melanjutkan melipat baju, tapi tangannya gemetar. Sensasi itu turun semakin rendah. Vaginanya yang tadinya biasa saja kini terasa hangat, basah perlahan. Cairan cinta mulai merembes ke celana dalam katun putihnya. Bibir vaginanya membengkak pelan, berdenyut lembut seperti jantung kecil. Klitorisnya menegang, bergesekan dengan kain setiap kali ia menggeser posisi duduk. Bokongnya terasa tegang, seolah ingin didorong ke depan. Kakinya yang jenjang sedikit gemetar, paha bagian dalamnya terasa lembab.
4658Please respect copyright.PENANAC8UecnPLyD
Ia menekan kedua paha erat-erat, berusaha meredakan sensasi aneh itu. Tapi justru semakin parah. Sebuah desahan kecil hampir lolos dari bibirnya yang penuh dan berwarna merah muda alami. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.
4658Please respect copyright.PENANAnebmAL9lEm
Pak Hartono melihat semuanya. Ia melihat bagaimana puting Rara menonjol jelas di balik daster, bagaimana napasnya tersengal, bagaimana lututnya saling menekan seolah berusaha menahan sesuatu yang tak terlihat. Jimat di tangannya terasa semakin hangat, seolah merespons keinginannya.
4658Please respect copyright.PENANAh9EoWwGOPO
“Minum dulu, Ra,” kata Pak Hartono pelan, bangkit dan menuang air putih ke gelas di meja. “Kamu kelihatan pucat.”
4658Please respect copyright.PENANANu9QhT0qaQ
Rara mengangguk lemah. Ia berdiri, tapi lututnya sedikit goyah. Ia berjalan ke meja, bokongnya bergoyang lebih berat dari biasanya, seolah tubuhnya tidak sepenuhnya dikendalikan otaknya. Ketika ia mengambil gelas, jari-jarinya menyentuh jari Pak Hartono sekilas. Sentuhan itu seperti listrik. Gelombang panas langsung menyambar dari ujung jari ke payudaranya, ke putingnya yang sudah sangat sensitif, lalu turun deras ke vagina yang sudah basah kuyup. Ia hampir menjatuhkan gelas.
4658Please respect copyright.PENANAdUFnnc0AId
“Maaf… maaf Pak,” gumamnya, suaranya parau. Ia minum air dengan cepat, air sedikit tumpah ke dagu dan menetes ke leher, lalu ke celah payudaranya. Ia tidak menyadari betapa menggodanya pemandangan itu di mata Pak Hartono.
4658Please respect copyright.PENANAFaH3FP14ZE
Pak Hartono merasa darahnya mengalir deras ke selangkangan. Ia belum pernah merasakan gairah sekuat ini dalam bertahun-tahun. Ibu Sari adalah istri yang baik, tapi rutinitas sudah membuat api itu redup. Sekarang, di depannya ada Rara, menantunya sendiri, tubuhnya yang muda dan subur sedang bereaksi karena kekuatan yang ia pegang.
4658Please respect copyright.PENANAGdyBaKVyzp
Rara kembali ke lantai, mencoba melanjutkan pekerjaan. Tapi setiap gerakan menjadi siksaan. Ketika ia membungkuk lagi, payudaranya terasa berat dan sensitif, putingnya bergesekan dengan kain, mengirimkan gelombang kecil kenikmatan yang membuatnya ingin mengerang. Vaginanya semakin basah, cairan mulai menetes perlahan ke paha dalam. Ia harus sering menekan paha, menggeser posisi duduk, berusaha agar Pak Hartono tidak curiga.
4658Please respect copyright.PENANATJ54JT1MKT
Percakapan berlanjut, tapi Rara semakin sulit berkonsentrasi. Suaranya sedikit gemetar. Pak Hartono memperhatikan setiap detail. Ia melihat bagaimana Rara sesekali menutup mata sebentar, bagaimana bibirnya sedikit terbuka, bagaimana tangannya kadang menyentuh perut bawah tanpa sadar.
4658Please respect copyright.PENANApzg3XXKJsR
Setelah hampir satu jam, Rara akhirnya tidak tahan. “Pak… saya minta izin istirahat sebentar di kamar. Kepala saya agak pusing. Mungkin karena kurang tidur tadi malam.”
4658Please respect copyright.PENANAOfadmj2ZQL
Pak Hartono mengangguk, berusaha menyembunyikan senyum tipis. “Silakan. Jangan dipaksa kalau tidak enak badan. Nanti kalau Ibu pulang saya bilang kamu istirahat.”
4658Please respect copyright.PENANAP8fqHp5k04
Rara bangkit dengan hati-hati, berjalan ke tangga dengan langkah yang sedikit tidak stabil. Bokongnya bergoyang pelan, kain daster menempel di lekuk tubuhnya yang basah keringat dan cairan lain. Pak Hartono mengikuti dengan pandangan sampai Rara menghilang di lantai dua.
4658Please respect copyright.PENANAVW0RbGXGjp
Di kamar yang ia bagi dengan Fajar, Rara mengunci pintu dari dalam. Ia bersandar di pintu, napasnya sangat cepat. Ia melihat dirinya di cermin besar lemari pakaian. Wajahnya merah padam, mata berkaca-kaca, bibir sedikit bengkak karena digigit. Dasternya basah di beberapa tempat. Ia mengangkat tangan, menyentuh payudaranya sendiri melalui kain. Sentuhan itu membuat tubuhnya tersentak. Putingnya sangat keras, hampir sakit. Ia meremas pelan, dan sebuah desahan panjang keluar dari mulutnya.
4658Please respect copyright.PENANATdzReluoaU
“Ya Tuhan… apa yang terjadi dengan saya?” gumamnya, suara gemetar.
4658Please respect copyright.PENANAonhHN6SK5k
Tangan satunya turun ke bawah, menyentuh bagian dalam paha yang sudah lembab. Ia mengangkat daster, melihat celana dalam putihnya yang sudah transparan karena basah. Ia menyentuh bagian luar celana dalam, merasakan panas dan basahnya, merasakan bibir vaginanya yang bengkak dan klitoris yang menonjol. Satu jari menggosok pelan, dan tubuhnya langsung melengkung. Kenikmatan yang luar biasa menyambar, membuat lututnya lemas.
4658Please respect copyright.PENANAzEt9ETsU4M
Ia berbaring di tempat tidur, kakinya terbuka lebar. Tangan kanannya masih di payudara, meremas dan memilin puting melalui kain. Tangan kirinya masuk ke dalam celana dalam, jari tengah menyentuh klitoris langsung, menggosok melingkar pelan. Cairan cinta mengalir deras, membasahi jari dan seprai. Ia membayangkan Fajar, membayangkan suaminya menyentuhnya seperti ini, tetapi entah mengapa wajah Pak Hartono terus muncul di benaknya. Bayangan mertuanya yang tegas, kumis tipisnya, bahu lebarnya.
4658Please respect copyright.PENANAJzg7CQiXQf
“Tidak… tidak boleh… ini salah…” gumamnya, tapi jarinya tidak berhenti. Ia memasukkan satu jari ke dalam vagina yang sempit dan basah, merasakan dinding dalamnya yang berkontraksi, mencari sesuatu yang lebih dalam. Ia memompa pelan, jari kedua menyusul, sambil ibu jari terus menggosok klitoris. Tubuhnya bergoyang di tempat tidur, payudara bergoyang mengikuti gerakan tangannya, bokong terangkat dari kasur setiap kali jari masuk lebih dalam.
4658Please respect copyright.PENANAfs5URANK6c
Ia merasakan orgasme pertama mendekat dengan cepat, lebih cepat dari biasanya. Tubuhnya tegang, vagina berkontraksi kuat di sekitar jarinya, cairan muncrat sedikit ke tangan. Ia menekan wajah ke bantal Fajar, mengerang pelan tapi dalam, “Ahh… Fajar… ya… ya…”
4658Please respect copyright.PENANAUDRHjAn6G7
Tapi ketika puncak itu datang, wajah yang ia lihat di dalam kepalanya bukan Fajar. Ia melihat Pak Hartono, melihat mata tajamnya, melihat tangan besarnya yang mungkin bisa meremas payudaranya lebih kuat, bisa memasukkan jari lebih dalam, bisa membuatnya merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan.
4658Please respect copyright.PENANAixc5MUX9Ne
Orgasme itu menghantamnya keras. Tubuhnya melengkung seperti busur, kaki menegang, jari-jari mencengkeram seprai. Ia mengerang lebih keras dari yang ia inginkan, suara tertahan oleh bantal. Gelombang demi gelombang kenikmatan menyapu tubuhnya, payudara terasa sakit karena tegang, vagina berkontraksi berulang-ulang, bokong tegang, kaki gemetar tak terkendali.
4658Please respect copyright.PENANARQM2ep2Z6n
Ketika gelombang itu mereda, Rara terbaring lemas, napas tersengal, tubuh berkeringat. Ia menarik tangan dari celana dalam, melihat jarinya basah kuyup. Rasa bersalah yang luar biasa langsung menghantamnya. Ia mencintai Fajar. Mereka baru menikah enam bulan. Hubungan intim mereka baik, penuh kasih sayang, meski kadang Rara merasa ingin lebih kasar atau lebih lama, tapi ia malu untuk mengatakannya.
4658Please respect copyright.PENANAXz1QHrTTH1
Tapi tadi… tadi ia baru saja bermimpi tentang mertuanya sendiri saat orgasme.
4658Please respect copyright.PENANADZPEGu6Sh4
Ia bangkit, membersihkan diri dengan tergesa-gesa di kamar mandi dalam kamar. Air hangat mengalir di tubuhnya, membasahi payudara, puting, perut, vagina yang masih sensitif. Ia tidak berani menyentuh lagi. Ia hanya berdiri di bawah shower, membiarkan air menghanyutkan air mata yang tiba-tiba mengalir.
4658Please respect copyright.PENANAYn8spVaQZz
“Maaf Fajar… maaf…” bisiknya pelan.
4658Please respect copyright.PENANAMTAxRm1ayk
Sementara itu di bawah, Pak Hartono duduk di sofa, jimat masih di genggaman. Ia merasa kekuatan itu nyata. Ia merasa Rara baru saja mengalami sesuatu yang luar biasa di kamar. Ia bisa merasakannya entah bagaimana, seolah jimat menghubungkan mereka. Ia tidak langsung naik. Ia memutuskan untuk menunggu. Membiarkan Rara merenung, membiarkan ketegangan itu tumbuh di dalam dirinya.
4658Please respect copyright.PENANAcHiKR3WntM
Ketika Ibu Sari pulang dari pasar, Pak Hartono sudah meletakkan jimat di tempat aman di laci meja kerjanya. Ia menyapa istrinya seperti biasa, membantu membawa belanjaan. Rara turun tidak lama kemudian, sudah berganti baju menjadi kaos lengan pendek dan celana pendek rumah yang longgar. Wajahnya masih agak pucat, tapi ia tersenyum dan membantu Ibu Sari di dapur.
4658Please respect copyright.PENANAPRVkYoOjmv
Sepanjang sore dan malam, Rara berusaha normal. Ia mengobrol dengan Fajar lewat telepon ketika suaminya istirahat makan siang. Ia tertawa, bercerita tentang hari yang biasa saja. Tapi setiap kali ia melihat Pak Hartono, jantungnya berdegup lebih kencang. Setiap kali Pak Hartono lewat dekat dengannya, ia merasakan sisa-sisa kehangatan aneh di tubuhnya.
4658Please respect copyright.PENANAiPnN4LRhQU
Malam harinya, setelah semua orang tidur, Rara berbaring di samping Fajar yang sudah pulang dan langsung tertidur karena lelah. Ia menatap langit-langit kamar yang gelap. Tubuhnya masih terasa aneh. Payudaranya masih sensitif ketika bergesekan dengan kaos tidur. Vaginanya masih sedikit basah meski ia sudah mandi dua kali.
4658Please respect copyright.PENANAecsjQLoRst
Ia membalikkan badan, memeluk punggung Fajar dari belakang, menghirup aroma suaminya. Tapi bayangan lain terus muncul. Tangan besar. Kumis tipis. Suara rendah yang memanggil namanya dengan cara yang berbeda.
4658Please respect copyright.PENANA9NwNcXrgwm
Keesokan paginya, sinar matahari menyusup pelan melalui celah gorden kamar tidur Rara dan Fajar. Rara terbangun lebih dulu. Tubuhnya terasa berat, seolah ada sisa-sisa kehangatan yang aneh menempel di kulitnya sejak kemarin sore. Ia duduk di tepi tempat tidur, tangan kanannya secara refleks menyentuh perut bawah, lalu turun sedikit ke celah paha. Masih ada sedikit basah di sana, sisa dari mimpi yang tidak ingin ia akui. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, merasa bersalah yang luar biasa kepada Fajar yang masih tidur nyenyak di sampingnya.
4658Please respect copyright.PENANA3obvnIpGyB
Fajar bergeser, tangannya meraih pinggang Rara dari belakang. “Pagi sayang…” gumamnya dengan suara serak pagi yang biasa membuat Rara tersenyum. Hari ini Rara hanya bisa membalas dengan senyum tipis. “Pagi Fajar. Kamu tidur nyenyak?”
4658Please respect copyright.PENANAfXqI9LuX96
Fajar mengangguk, mencium belakang leher Rara pelan. “Iya. Kamu kenapa? Wajahmu agak pucat. Masih capek?”
4658Please respect copyright.PENANA02VQk9LgDI
Rara menggeleng pelan. “Tidak… mungkin cuma kurang minum kemarin.” Ia bangkit cepat sebelum Fajar bisa meraihnya lebih jauh. “Saya mandi dulu ya. Kamu siap-siap berangkat.”
4658Please respect copyright.PENANAI8xzu4Cka5
Di kamar mandi, Rara berdiri di depan cermin. Ia melepas kaos tidurnya. Payudaranya yang montok terlihat sedikit lebih bengkak dari biasanya, puting cokelat mudanya sudah agak menegang meski udara masih sejuk. Ia menyentuh salah satu puting dengan ujung jari, dan sebuah gelombang kecil panas langsung menyambar ke bawah perut. Ia menarik tangan dengan cepat, jantung berdegup kencang. “Ini tidak mungkin… ini cuma bayangan,” bisiknya pada diri sendiri.
4658Please respect copyright.PENANAhnw082Y0WA
Ia mandi dengan air hangat, berusaha membersihkan segala rasa aneh itu. Tapi ketika sabun menyentuh putingnya, sensasi itu kembali. Ketika ia menyabuni bagian dalam paha, jarinya hampir menyentuh bibir vaginanya yang sudah mulai basah lagi. Ia menghentikan diri, cepat membilas, dan keluar dengan handuk membungkus tubuh.
4658Please respect copyright.PENANAho4TozowAg
Fajar sudah siap berangkat ketika Rara keluar dari kamar mandi memakai daster tipis warna hijau muda yang agak longgar. Daster itu menempel di beberapa bagian tubuh karena kulit masih agak lembab. Bentuk payudaranya yang bulat dan berat terlihat jelas, garis puting yang masih sedikit menonjol samar-samar. Bokongnya yang kenyal menggoyang pelan ketika ia berjalan ke dapur untuk menyiapkan kopi Fajar.
4658Please respect copyright.PENANAoyh16znwP3
“Fajar, kopi sudah siap,” panggil Rara dari dapur.
4658Please respect copyright.PENANABXFHZHxjH4
Fajar mendekat dari belakang, memeluk pinggang Rara, tangannya naik pelan menyentuh bagian bawah payudara melalui daster. “Kamu cantik sekali pagi ini,” bisiknya di telinga Rara, lalu mencium lehernya.
4658Please respect copyright.PENANAsAHZ5PsA45
Rara tubuhnya sedikit kaku. Biasanya ia akan membalas dengan memutar badan dan mencium suaminya. Hari ini ia hanya membalas pelukan itu sebentar, lalu melepaskan diri pelan. “Nanti kamu telat. Meeting pagi kan?”
4658Please respect copyright.PENANALDS7CrpPSR
Fajar tertawa kecil. “Oke deh. Kamu hari ini bantu Ibu ya? Jangan capek-capek.” Ia mencium pipi Rara dan berangkat dengan sepeda motor.
4658Please respect copyright.PENANATmI9PKLUtM
Setelah Fajar pergi, rumah terasa lebih sunyi. Rara membersihkan meja makan sambil Ibu Sari menyiapkan sarapan untuk Pak Hartono. Pak Hartono turun dari kamar mandi dengan kemeja lengan pendek putih dan celana panjang hitam yang rapi. Kumis tipisnya sudah dirapikan, wajahnya segar. Matanya langsung bertemu mata Rara yang sedang menyeka meja.
4658Please respect copyright.PENANAkYPMhDQsn3
“Pagi Rara,” sapanya dengan suara rendah yang biasa.
4658Please respect copyright.PENANA02QhKWNTUa
“Pagi Pak,” balas Rara, menunduk cepat. Jantungnya sudah berdegup lebih kencang hanya karena mendengar suara itu.
4658Please respect copyright.PENANAo8054cBs1R
Mereka sarapan bersama bertiga. Ibu Sari banyak bicara tentang rencana arisan ibu-ibu hari ini dan belanja sayur di pasar. Rara menjawab sesekali, tapi konsentrasinya buyar. Setiap kali Pak Hartono mengangkat gelas atau mengunyah, Rara tidak bisa menahan diri untuk melirik tangan besar itu. Tangan yang kemarin… ia menggoyang kepala pelan, mengusir pikiran itu.
4658Please respect copyright.PENANA0D91gALuuI
Setelah sarapan, Ibu Sari berdiri dan mengambil tasnya. “Saya mau ke pasar dulu, lalu langsung ke rumah Bu RT untuk arisan. Mungkin pulang siang atau sore. Rara, tolong jaga rumah ya. Kalau Bapak butuh sesuatu, bantu saja. Jangan biarkan Bapak capek-capek sendiri.”
4658Please respect copyright.PENANAzkLtFpmbA3
Rara mengangguk. “Iya Bu. Hati-hati di jalan.”
4658Please respect copyright.PENANA6PgprJtPzO
Ibu Sari pergi dengan motor. Suara mesin semakin menjauh. Rumah kembali sunyi. Hanya Rara dan Pak Hartono.
4658Please respect copyright.PENANAprv2udI2XF
Rara mulai membereskan piring di wastafel. Punggungnya menghadap Pak Hartono yang duduk di sofa ruang tamu sambil membaca koran. Daster hijau mudanya agak naik ketika ia berdiri di ujung kaki untuk meletakkan piring di rak atas. Bokongnya yang bulat dan kenyal terangkat sedikit, kain menempel erat di lekuk pinggul dan paha. Pak Hartono menurunkan korannya, matanya menikmati pemandangan itu lebih lama.
4658Please respect copyright.PENANA563YvgSl5Q
Rara turun lagi, merapikan daster dengan tangan yang gemetar pelan. Tubuhnya sudah mulai terasa hangat. Payudaranya terasa lebih berat, puting menegang perlahan tanpa alasan yang jelas. Ia menekan paha kanan ke kiri, berusaha meredakan sensasi aneh di antara kaki.
4658Please respect copyright.PENANAjn6EwRmnkY
Pak Hartono bangkit dari sofa. Ia memasukkan tangan ke saku celana, jari-jarinya menyentuh jimat yang sudah ia ambil dari laci tadi pagi. Ia menggenggamnya erat, mengarahkan niat lebih kuat, lebih dalam dari kemarin. Ia ingin melihat seberapa jauh tubuh Rara bisa bereaksi hari ini.
4658Please respect copyright.PENANAWf6q3BPVXk
“Rara, tolong ambilkan air putih dingin untuk Bapak,” panggilnya dari ruang tamu dengan suara tenang.
4658Please respect copyright.PENANAxC15zVVGug
Rara menoleh dari dapur. “Iya Pak.” Suaranya sedikit parau.
4658Please respect copyright.PENANAfSxYxncfqO
Ia berjalan ke kulkas, membungkuk untuk mengambil botol dari rak bawah. Payudaranya bergoyang berat ke depan, kain daster meregang di dada. Putingnya sudah sangat tegang sekarang, menusuk-nusuk kain tipis. Ketika ia berdiri lagi, ia merasa vagina mulai basah perlahan. Cairan hangat merembes ke celana dalam katun putih yang ia pakai pagi ini.
4658Please respect copyright.PENANACySORPh7Iq
Ia menuang air ke gelas dengan tangan yang bergetar. Beberapa tetes tumpah ke tangannya. Ia membawa gelas ke ruang tamu, berusaha berjalan normal. Tapi setiap langkah membuat paha bagian dalamnya bergesekan, dan sensasi itu semakin kuat. Vaginanya sudah benar-benar basah sekarang, bibirnya bengkak, klitoris menegang dan bergesekan dengan kain setiap kali ia bergerak.
4658Please respect copyright.PENANAv6xiwAePbP
Pak Hartono menerima gelas. Jari-jarinya sengaja menyentuh jari Rara lebih lama. “Terima kasih,” katanya pelan sambil menatap mata Rara.
4658Please respect copyright.PENANAGJWjBQy21e
Sentuhan itu seperti api yang menyambar. Rara tersentak hebat. Gelas hampir jatuh. Gelombang panas langsung menyambar dari ujung jari ke lengan, ke dada, ke puting yang langsung mengeras seperti dua kancing kecil yang sakit, lalu turun deras ke vagina yang langsung banjir. Cairan cinta mengalir deras, membasahi celana dalam dan mulai menetes pelan ke paha dalam. Rara menekan paha erat-erat, lututnya sedikit goyah.
4658Please respect copyright.PENANArpZVhZBxrN
“Rara?” Pak Hartono berdiri, pura-pura khawatir. “Kamu kenapa lagi? Wajahmu merah sekali.”
4658Please respect copyright.PENANAykCGvCbqsK
Rara mundur selangkah, napas sudah tersengal. “Tidak… tidak apa-apa Pak. Mungkin… saya kurang tidur. Saya… saya ke kamar sebentar.”
4658Please respect copyright.PENANAvE99UA4hvA
Ia berbalik hendak naik tangga, tapi Pak Hartono menyentuh lengannya pelan. “Tunggu. Biar Bapak antar ke atas. Kamu kelihatan tidak enak badan.”
4658Please respect copyright.PENANAg1Y1AgAlmW
Sentuhan di lengan itu membuat Rara hampir mengerang. Tubuhnya berhenti bergerak. Payudaranya naik turun cepat, puting sangat keras dan sensitif. Vaginanya berdenyut kuat, seolah meminta untuk disentuh. Ia merasa tidak bisa menolak. Kakinya bergerak mengikuti Pak Hartono ke tangga, meski pikirannya berteriak untuk lari ke kamar dan mengunci pintu.
4658Please respect copyright.PENANAsviDg5Px1Q
Di tangga, Pak Hartono berjalan di belakang Rara. Matanya menikmati bokong yang bergoyang pelan di depannya. Ketika Rara sampai di anak tangga terakhir, ia sedikit tersandung karena lutut lemas. Pak Hartono cepat memegang pinggang Rara dari belakang untuk menahan.
4658Please respect copyright.PENANAJmwNcJ7lag
Tangan besar itu memegang pinggang Rara tepat di atas bokong. Jari-jari menekan daging kenyal melalui daster. Rara tubuhnya melengkung ke belakang tanpa sadar, bokongnya menekan pangkal paha Pak Hartono. Ia merasakan sesuatu yang keras di sana, dan itu membuatnya semakin basah.
4658Please respect copyright.PENANAIVRMjiyz5F
“Pak… lepas…” bisik Rara, suaranya pecah.
4658Please respect copyright.PENANA5Zw0M7rcvN
Tapi ia tidak bergerak menjauh. Tubuhnya seolah menempel sendiri.
4658Please respect copyright.PENANAVtVzvI707R
Pak Hartono tidak melepaskan. Malah tangan kanannya naik pelan dari pinggang ke sisi payudara Rara. Jari-jarinya menyentuh bagian bawah payudara yang montok dan berat itu melalui kain daster. “Kamu panas sekali, Rara. Biar Bapak bantu.”
4658Please respect copyright.PENANABqTkXy0Upc
Rara gemetar hebat. “Pak… ini… ini tidak boleh…”
4658Please respect copyright.PENANAtDPA2p5jJl
Pak Hartono membalikkan tubuh Rara sehingga mereka berhadapan di lorong lantai dua. Wajah Rara hanya beberapa senti dari wajahnya. Matanya berkaca-kaca, bibir penuhnya sedikit terbuka, napas panas menyentuh wajah Pak Hartono.
4658Please respect copyright.PENANAK0E3CKm01y
Tangan Pak Hartono naik lebih tinggi, ibu jari menyentuh puting Rara yang sudah sangat tegang melalui daster. Ia menggosok pelan sekali. Rara langsung mengerang pelan, tubuhnya tersentak. Putingnya terasa seperti terbakar nikmat. Vaginanya mengeluarkan cairan lebih banyak, celana dalamnya sudah benar-benar basah kuyup.
4658Please respect copyright.PENANA9oQB7Auwg2
“Pak… ahh…” Rara memegang lengan Pak Hartono, bukan untuk mendorong, tapi untuk menahan diri agar tidak jatuh.
4658Please respect copyright.PENANAbwq3vbMZc4
Pak Hartono menggeser tubuh Rara ke dinding lorong. Tubuhnya menempel di tubuh Rara. Payudara montok Rara menekan dada Pak Hartono. Puting keras bergesekan dengan kemeja. Pak Hartono menunduk, bibirnya menyentuh leher Rara, mencium pelan kulit halus di sana.
4658Please respect copyright.PENANA20JSHIwwkE
Rara kepalanya menengadah, mengerang lebih keras. “Pak… Fajar… saya istri Fajar…”
4658Please respect copyright.PENANAnTbqDlo3bO
“Tapi tubuhmu merespons Bapak,” bisik Pak Hartono di telinga Rara, suaranya dalam dan penuh gairah. “Lihat payudaramu sudah sangat keras. Vaginamu sudah sangat basah. Bapak bisa merasakannya.”
4658Please respect copyright.PENANApeKxTtU68K
Tangan Pak Hartono turun ke paha Rara, mengangkat daster hijau muda perlahan. Tangan besar itu menyentuh kulit paha dalam yang mulus dan basah. Jari tengah menyusuri celah vagina dari luar celana dalam yang sudah transparan karena basah. Ia merasakan panas dan basah yang luar biasa.
4658Please respect copyright.PENANAKpI1GjicBs
Rara kakinya terbuka sedikit tanpa sadar. “Ahh… jangan sentuh di sana… Pak…”
4658Please respect copyright.PENANAelD1NrTjHw
Tapi pinggulnya justru mendorong ke depan, mencari sentuhan itu.
4658Please respect copyright.PENANAi0ELBtpL9p
Pak Hartono tersenyum kecil. Ia dorong celana dalam Rara ke samping dengan jari, langsung menyentuh bibir vagina yang sudah bengkak dan basah kuyup. Klitoris Rara menonjol kecil dan keras. Pak Hartono menggosoknya pelan dengan ibu jari, sementara jari tengah menyusuri lubang vagina yang panas.
4658Please respect copyright.PENANAZzuE3uk5Yn
Rara mengerang panjang, tangannya mencengkeram bahu Pak Hartono. “Oh… oh Tuhan… rasanya… terlalu enak… saya tidak bisa…”
4658Please respect copyright.PENANAntRX7qlUrR
Pak Hartono memasukkan satu jari ke dalam vagina Rara perlahan. Dinding dalam yang sempit dan basah langsung menggenggam jari itu erat, berkontraksi pelan. Cairan cinta mengalir deras, membasahi telapak tangan Pak Hartono dan menetes ke lantai.
4658Please respect copyright.PENANANHBMCPzkH4
KELANJUTANNYA DI LINK 🔗 DIBAWAK INI 4658Please respect copyright.PENANAiuOQUq33J7
https://lynk.id/nassa45


