Aku bernama Arfan. Usiaku 18 tahun. Begitu juga Sinta, pacarku, dan Dito, teman dekatku di kelas. Kami bertiga duduk di kelas XII SMK Negeri jurusan Teknik Komputer dan Jaringan. Beberapa teman lain di kelas memang ada yang 17, tapi kami bertiga sudah 18 tahun penuh—beberapa karena mengulang, beberapa karena masuk telat. Di mata hukum, kami sudah dewasa. Tapi di sekolah ini, kami masih mengenakan seragam putih abu-abu yang sama, masih duduk di bangku yang sama, masih menghirup udara praktikum yang sama.
1029Please respect copyright.PENANAx7fBjrqQ9u
Hari itu dimulai seperti biasa. Pukul 06.40 pagi, motor bebekku yang sudah agak reyot aku parkir di barisan paling belakang. Embun masih menempel di rumput halaman sekolah. Aku berjalan ke gerbang dengan tas ransel hitam di punggung, dasi yang baru kucuci semalam, dan hati yang sudah berdegup kencang hanya karena tahu siapa yang menunggu di bawah pohon besar dekat pos satpam.
1029Please respect copyright.PENANAopsTbuCCvQ
Sinta sudah berdiri di sana.
1029Please respect copyright.PENANAEtWuo6sGrF
Seragam putihnya menempel pas di tubuhnya. Kemeja itu sedikit ketat di dada—bukan sengaja, tapi karena payudaranya memang penuh, montok, dan berbentuk indah seperti buah yang matang sempurna. Setiap kali ia bernapas dalam, dadanya naik turun pelan, membuat lekukan di antara payudaranya samar terlihat di balik kancing kedua dari atas. Rok biru gelapnya jatuh tepat di atas lutut, tapi saat angin pagi berhembus, rok itu sesekali menempel di bokongnya yang bulat, kencang, dan menggoda. Bokong itu tidak terlalu besar, tapi pas—padat, bulat, dan selalu membuatku ingin meraihnya setiap kali kami berpelukan di tempat sepi. Kakinya panjang, mulus, kulit putih bersih seperti susu, tanpa noda sedikit pun. Saat ia berdiri dengan sepatu hitam sekolah, otot betisnya terlihat tegang halus, membuatku selalu membayangkan bagaimana rasanya kaki itu melingkar di pinggangku.
1029Please respect copyright.PENANAt4b2G8hnIn
Rambut hitam panjangnya diikat kuncir kuda rendah, memperlihatkan leher jenjang yang halus dan bahu yang mungil. Wajahnya… cantik dalam arti yang tenang. Mata besar berwarna hitam pekat, alis tebal alami, hidung kecil mancung, dan bibir penuh berwarna pink kecokelatan yang selalu lembap. Ia tidak pakai lipstik tebal—hanya pelembab, tapi tetap membuatku ingin menciumnya setiap pagi.
1029Please respect copyright.PENANAMhLn0SyEkY
“Sinta,” panggilku pelan saat mendekat.
1029Please respect copyright.PENANAsILJjAojOd
Ia menoleh, senyumnya langsung mekar. “Arfan… pagi.” Suaranya lembut, sedikit serak karena baru bangun. Ia melangkah mendekat, tasnya yang pink aku ambil tanpa diminta. Tangan kami bersentuhan sebentar. Kulitnya hangat, lembut, dan harum sabun mandi yang selalu ia pakai—wangi bunga melati yang ringan.
1029Please respect copyright.PENANAvi1crsVYDc
“Kamu cantik sekali hari ini,” kataku jujur sambil berjalan di sampingnya menuju koridor kelas.
1029Please respect copyright.PENANA4TCMXfaXUG
Sinta tertawa kecil, pipinya agak merona. “Kamu selalu bilang begitu setiap pagi.”
1029Please respect copyright.PENANAfx8JSf4D38
“Karena memang begitu.”
1029Please respect copyright.PENANAItmN9nynHC
Kami berjalan pelan. Koridor sudah ramai siswa lain, tapi aku hanya melihat dia. Kami bicara tentang ujian akhir yang tinggal dua bulan lagi, tentang rencana setelah lulus. Sinta ingin kuliah desain grafis di kota besar. Aku ingin kerja di bidang jaringan komputer, mungkin magang dulu di perusahaan lokal.
1029Please respect copyright.PENANAhU3bkoLYvE
“Kamu akan support aku kan, kalau nanti aku harus pindah kota?” tanyanya tiba-tiba, matanya menatapku penuh harap.
1029Please respect copyright.PENANAOHwK23yVWq
Aku menghentikan langkah sebentar, menoleh padanya. “Selalu. Mau kamu di mana saja, aku akan selalu ada. Kamu tahu itu.”
1029Please respect copyright.PENANAW0Ll7o1Ezs
Sinta tersenyum lebar, lalu dengan berani—meski di koridor ramai—ia menggenggam jari-jariku sebentar. “Aku sayang kamu, Arfan.”
1029Please respect copyright.PENANAu7W4b7XFaW
“Aku juga sayang kamu. Lebih dari apa pun.”
1029Please respect copyright.PENANAES0iduWzJ8
Kami masuk kelas XII TKJ 2. Ruangan itu sudah penuh. Bangku diatur ulang minggu lalu karena proyek kelompok. Aku dan Sinta biasanya duduk bersebelahan, tapi sekarang Dito duduk di sebelah Sinta, karena kelompok praktik kami bertiga.
1029Please respect copyright.PENANAKdXUJxPnxu
Dito sudah ada di tempatnya. Tinggi 175 cm, bahu lebar, lengan berotot karena aktif futsal setiap sore. Rambut pendek hitam rapi, wajah tampan dengan senyum lebar yang sering membuat cewek-cewek kelas saling bisik. Ia pandai praktik, sabar menjelaskan, dan—yang paling penting—ia teman baikku sejak kelas 10.
1029Please respect copyright.PENANAdIAPBSR4cg
“Pagi Arfan, pagi Sinta,” sapa Dito dengan suara dalam yang percaya diri.
1029Please respect copyright.PENANA7IdkGorFvp
“Pagi Dit,” balas Sinta sambil tersenyum lebih lebar dari biasanya.
1029Please respect copyright.PENANAVvWKIiPKaS
Aku mengangguk dan duduk. “Pagi. Siap praktik nanti?”
1029Please respect copyright.PENANAsoM6b5HQnK
“Siap. Aku sudah baca modul sampai larut semalam. Kalau ada yang bingung, bilang aja,” jawab Dito sambil mengeluarkan buku catatan tebal dan pulpen hitam.
1029Please respect copyright.PENANAMfvDp9qE5H
Pelajaran pertama Bahasa Indonesia dimulai. Guru bicara tentang puisi romantis. Tapi pikiranku tidak sepenuhnya di sana. Aku melirik Sinta dari samping. Cara ia menulis—jari-jarinya yang lentik memegang pulpen, pergelangan tangannya yang halus, dadanya yang naik turun pelan saat ia menarik napas. Payudaranya yang montok itu bergerak sedikit setiap kali ia tertawa pelan mendengar gurauan teman di depan. Aku ingat bagaimana rasanya memeluknya dari belakang kemarin sore di belakang gedung olahraga—tubuhnya yang hangat, payudaranya yang empuk menekan lenganku, bokongnya yang bulat menempel di pahaku.
1029Please respect copyright.PENANAgNxYAPeitl
Setelah pelajaran itu, jam istirahat pukul 09.40. Kami bertiga pergi ke kantin seperti biasa. Meja pojok dekat dispenser air. Sinta membeli nasi goreng spesial dan es jeruk. Aku mie ayam. Dito lontong sayur.
1029Please respect copyright.PENANA6KFsTsfMQE
Sambil makan, percakapan mengalir natural, tapi aku mulai memperhatikan hal-hal kecil.
1029Please respect copyright.PENANAE0eoDGbmn1
“Dito, kemarin kamu bantu aku banget pas praktik konfigurasi switch. Terima kasih ya,” kata Sinta sambil menyendok nasinya. Ia membungkuk sedikit, dan dari posisiku, aku bisa melihat sedikit belahan dadanya—kulit putih mulus, payudaranya yang padat dan berbentuk sempurna, hampir terlihat putingnya jika kemeja sedikit bergeser.
1029Please respect copyright.PENANAiTqxVHtovE
Dito tersenyum, matanya tidak langsung menoleh ke tempat lain. “Sama-sama. Kamu cepat tangkap kok. Aku cuma bantu sedikit.”
1029Please respect copyright.PENANAYK5k7AvgGr
“Kamu jago banget sih. Aku sampai bingung sendiri kalau sendirian,” lanjut Sinta, suaranya penuh kekaguman.
1029Please respect copyright.PENANAUFuWRPbey1
Aku ikut tersenyum, tapi di dalam dada ada sedikit rasa aneh. “Kalian berdua memang cocok kerja bareng. Aku kadang ketinggalan karena sibuk OSIS.”
1029Please respect copyright.PENANAZOb3dycPxt
Sinta langsung menoleh padaku, matanya lembut. “Jangan gitu, Arfan. Kamu hebat di OSIS. Aku bangga. Dan Dito juga hebat di praktik. Kalian berdua adalah orang-orang terbaik di hidupku.”
1029Please respect copyright.PENANA6ebEU1cFY1
Dito tertawa pelan. “Kita tim solid. Tapi Sinta, jangan rendah diri. Kamu lebih teliti dari aku. Kemarin kamu nemu kesalahan kabel yang aku lewatkan.”
1029Please respect copyright.PENANAc7xlqNsEJp
Sinta tersipu, pipinya merona merah muda cantik. “Ah, kamu lebay.”
1029Please respect copyright.PENANAMo77ppccrX
Mereka tertawa bersama. Aku ikut tertawa, tapi mataku memperhatikan. Cara Dito memandang Sinta saat ini—bukan pandangan teman biasa. Ada kekaguman, ada perhatian yang lebih dalam. Dan Sinta… ia tampak lebih hidup saat bicara dengan Dito. Tawanya lebih bebas, matanya lebih berbinar.
1029Please respect copyright.PENANAucr5UIrjXx
Setelah makan, kami kembali ke kelas. Pelajaran berikutnya teori jaringan. Lalu, pukul 12.40, praktik dimulai.
1029Please respect copyright.PENANAODV24QorR2
Kami bertiga berjalan ke lantai dua. Ruang praktikum Teknik Komputer dan Jaringan luas—sekitar 12x15 meter. Dua puluh meja komputer desktop, rak kabel warna-warni, switch, router, laptop cadangan, proyektor, dan AC yang berdengung pelan. Bau khas ruangan itu selalu sama: campuran plastik baru, debu halus, dan sedikit bau solder dari praktik sebelumnya. Cahaya fluorescent agak redup di pojok, membuat suasana terasa lebih intim.
1029Please respect copyright.PENANA74dwAR9hEy
Pak Budi, guru praktik, masuk dan memberikan instruksi singkat. “Lanjutkan proyek star topology kemarin. Kelompok Arfan, Sinta, Dito kerjakan di meja nomor 5. Pastikan semua komputer terkoneksi, IP address sudah benar, dan bisa ping satu sama lain. Kalian harus selesaikan hari ini juga. Besok presentasi.”
1029Please respect copyright.PENANA9xG8wVfolU
Kami mengangguk dan berpindah ke meja nomor 5 di pojok kanan belakang—agak terpisah dari kelompok lain. Dua komputer desktop, satu laptop, kabel-kabel menjuntai rapi di meja, dan layar monitor 24 inci.
1029Please respect copyright.PENANAOJhBRTO67Z
Aku duduk di tengah. Sinta di sebelah kiriku, Dito di sebelah kanan Sinta. Kami mulai bekerja.
1029Please respect copyright.PENANAsGJ3exwKoH
“Sinta, coba kamu buka terminal dan ketik ping 192.168.1.10,” kata Dito sambil mencondongkan tubuhnya ke kiri untuk melihat layar Sinta. Bahunya yang lebar hampir menyentuh lengan Sinta. Aku melihat dari samping—rok Sinta naik sedikit saat ia duduk di kursi tinggi, memperlihatkan paha putih mulus yang halus. Bokongnya yang bulat menekan kursi, membentuk lekukan indah di balik kain rok. Saat ia menggerakkan kaki untuk mencari pedal di bawah meja, rok itu naik sedikit lagi, memperlihatkan lebih banyak kulit paha yang mulus.
1029Please respect copyright.PENANAkeaAGRTuJ4
Sinta mengetik dengan cepat. “Ping berhasil! Dito, kamu hebat.”
1029Please respect copyright.PENANA7066mmhjh2
“Kamu juga. Kita tim yang bagus,” balas Dito sambil tersenyum lebar. Matanya berhenti di wajah Sinta lebih lama dari biasanya.
1029Please respect copyright.PENANAGnt7AsBNuU
Aku mencoba fokus pada kabel yang aku susun di meja sebelah. Tapi telingaku mendengar setiap kata mereka. Setiap tawa Sinta. Setiap pujian Dito.
1029Please respect copyright.PENANA5hnCG0Rjne
Waktu berlalu cepat. Pukul 14.05, Pak Budi mendekat lagi. “Bagaimana progressnya?”
1029Please respect copyright.PENANAg9mdNxDs7C
“Hampir selesai, Pak. Tinggal satu komputer lagi yang belum stabil koneksinya,” jawab Dito.
1029Please respect copyright.PENANAgOEeAzLMu6
“Bagus. Kalian selesaikan hari ini juga. Kalau perlu tinggal sampai sore, boleh. Aku akan titip kunci cadangan ke satpam. Matikan semua peralatan sebelum pulang.”
1029Please respect copyright.PENANAlyk4MKijz5
Setelah Pak Budi pergi, kami lanjut bekerja. Aku merasa sedikit lelah—sudah seharian aktif di OSIS pagi tadi. Ponselku bergetar di saku. Pesan dari Ibu: “Arfan, ayahmu sakit perut lagi. Bisa pulang sekarang? Bantu antar ke klinik, obatnya habis.”
1029Please respect copyright.PENANAxTVgmcJ7T1
Aku membaca pesan itu dua kali. Hati rasanya berat. Aku tidak ingin meninggalkan Sinta dan Dito sendirian, tapi keluarga lebih penting.
1029Please respect copyright.PENANALo1MBeTVBj
Aku berdiri, mengumpulkan tas. “Maaf ya… aku harus pulang duluan. Ibu minta tolong antar ayah ke klinik. Kalian bisa lanjutkan tanpa aku kan?”
1029Please respect copyright.PENANAooe1KzxuJc
Sinta langsung khawatir, matanya melebar. “Wah, ayahmu sakit lagi? Kasihan sekali. Kamu hati-hati di jalan ya. Kami akan selesaikan. Jangan khawatir soal praktik.”
1029Please respect copyright.PENANAIWf3Kefid4
Dito mengangguk, suaranya tenang. “Iya, Arfan. Aku dan Sinta handle saja. Kamu pulang dulu. Semoga ayahmu cepat sembuh.”
1029Please respect copyright.PENANAQAATO206Gu
Aku menatap Sinta sebentar. Lalu aku mendekat, memeluknya di depan Dito. Tubuhnya terasa hangat, payudaranya yang empuk menekan dadaku sebentar, bokongnya yang bulat aku rasakan di tanganku saat aku memeluk pinggangnya. Aku mencium keningnya pelan. “Terima kasih, Sayang. Aku sayang kamu.”
1029Please respect copyright.PENANAIhh2mczAZu
“Aku juga sayang kamu,” balas Sinta sambil membalas pelukan erat. Harum tubuhnya memenuhi hidungku.
1029Please respect copyright.PENANA3FvbKHU9Bd
Aku melepaskan pelukan, menoleh ke Dito. “Jaga Sinta ya, Dit. Jangan biarkan dia pulang sendirian nanti.”
1029Please respect copyright.PENANAqIvev2PNt3
“Tenang. Aku jaga,” jawab Dito dengan senyum.
1029Please respect copyright.PENANAqo8rnywFXp
Aku berjalan keluar ruang praktikum. Koridor sudah sepi—hanya beberapa siswa yang masih ada di kelas lain. Aku berjalan pelan ke tangga, tas di pundak. Tapi sebelum turun, aku menoleh ke belakang.
1029Please respect copyright.PENANA2ZMHNrL5Hf
Melalui kaca pintu ruang praktikum yang sedikit terbuka, aku melihat mereka.
1029Please respect copyright.PENANAlkFi2D8eFY
Sinta dan Dito berdiri di depan komputer. Dito menunjuk sesuatu di layar, tubuhnya dekat sekali dengan Sinta. Tangannya yang besar menumpu di punggung kursi Sinta, jarinya hampir menyentuh bahu telanjang Sinta yang terlihat dari kemeja yang sedikit longgar di bagian atas. Sinta tertawa kecil—tawa yang tulus, matanya berbinar saat menoleh ke Dito. Wajah mereka berjarak kurang dari 30 cm.
1029Please respect copyright.PENANAzj7Y4iIbcl
Dito mengatakan sesuatu yang membuat Sinta tertawa lagi. Lalu, dengan gerakan yang tampak sangat natural, Dito meletakkan tangannya di bahu Sinta sebentar—bukan lama, tapi cukup untuk membuat jantungku berdegup kencang di luar.
1029Please respect copyright.PENANAhwTYHc4ZH1
Sinta tidak menjauh. Ia hanya tersenyum, kepalanya sedikit menoleh ke Dito, seolah menikmati kedekatan itu.
1029Please respect copyright.PENANAjLwBDD5z3R
Aku berdiri di koridor sepi itu, memandang mereka berdua yang tampak begitu nyaman, begitu dekat, begitu… cocok. Ada perasaan aneh yang naik dari perutku ke dada. Bukan hanya cemburu. Ada sesuatu yang lebih gelap, lebih dalam, sesuatu yang membuat napasku sedikit tersengal dan selangkangan ku terasa hangat meski aku tidak mau mengakuinya.
1029Please respect copyright.PENANAnv9cQbW42x
Aku memaksa diri berbalik. Aku turun tangga, keluar ke parkiran, menyalakan motor. Tapi pikiranku tetap tertinggal di ruang praktikum itu. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah aku terlalu berpikir? Atau… ada sesuatu yang mulai berubah di antara ketiga kami, sesuatu yang tidak bisa lagi aku kendalikan?
1029Please respect copyright.PENANALQcEJDqwur
Motor melaju keluar gerbang sekolah. motor bebekku melaju pelan di jalan sore yang semakin sepi. Lampu jalan mulai menyala satu per satu, tapi pikiranku tidak tenang sedetik pun. Setiap kali rem, setiap kali berhenti di persimpangan, bayangan itu muncul lagi di kepalaku: Dito berdiri terlalu dekat dengan Sinta, tangannya di punggung kursi Sinta, jarinya hampir menyentuh bahu telanjang pacarku. Sinta tertawa dengan cara yang lebih bebas daripada biasanya. Payudaranya yang montok naik turun di balik kemeja putih saat ia tertawa. Bokongnya yang bulat menekan kursi. Kakinya yang mulus terbuka sedikit di bawah meja.
1029Please respect copyright.PENANAhMgzNvckhm
Aku menggoyang kepala keras-keras, mencoba mengusirnya. “Sinta mencintaiku,” gumamku sendiri. “Dia tidak akan melakukan apa-apa. Dito hanya teman baik.”
1029Please respect copyright.PENANA5vdn7RGUCn
Tapi suara hatiku yang lain berbisik lebih pelan, lebih gelap: *Tapi kenapa kamu merasa panas di selangkangan saat melihat mereka dekat? Kenapa kamu tidak bisa berhenti membayangkan apa yang akan terjadi kalau kamu tidak ada?*
1029Please respect copyright.PENANADueUB1Aep8
Aku sampai di rumah pukul 14.40. Ayah sudah duduk di ruang tamu, wajahnya pucat, tangan memegang perut. Ibu sibuk menyiapkan air hangat. Aku langsung membantu mengangkat ayah ke motor, lalu mengantarnya ke klinik terdekat. Sepanjang perjalanan aku diam. Dokter bilang asam lambung kambuh karena stres dan makan tidak teratur. Diberi obat dan suntik. Aku menunggu di luar ruang periksa sambil memegang ponsel.
1029Please respect copyright.PENANAG0zHsN6cOa
Aku mengetik pesan ke Sinta.
1029Please respect copyright.PENANAXVspSgbByB
“Aku di klinik sama ayah. Kamu masih di sekolah?”
1029Please respect copyright.PENANAc8kcxH59m2
Aku menunggu. Lima menit. Sepuluh menit. Ponsel bergetar.
1029Please respect copyright.PENANAtJ0P3W6LKK
“Masih di ruang praktikum. Praktik belum selesai. Dito bantu aku configure yang terakhir. Kamu jangan khawatir ya. Hati-hati di jalan. Aku sayang kamu ❤️”
1029Please respect copyright.PENANAqFDNbkI9jJ
Aku membaca pesan itu berkali-kali. “Dito bantu aku.” Ada sesuatu yang menusuk di dada. Aku membalas singkat: “Oke. Hati-hati. Aku sayang kamu juga.”
1029Please respect copyright.PENANAtBZCg69KuD
Setelah obat diambil dan ayah sudah agak enakan, aku antar pulang. Pukul 15.25. Ibu bilang ayah sudah boleh istirahat. Aku mandi cepat, ganti baju kaos dan celana jeans. Tapi tanganku gemetar saat memakai kaos. Pikiranku tidak bisa lepas dari ruang praktikum. Aku janji pada Dito tadi: “Jaga Sinta ya, jangan biarkan dia pulang sendirian.” Sekolah sudah sore, mungkin sudah sepi. Satu orang perempuan di gedung praktik bersama laki-laki yang lebih tinggi, lebih kuat, lebih berani dariku.
1029Please respect copyright.PENANAPBuIvljFJQ
“Aku harus jemput dia,” kataku pada ibu sambil mengambil kunci motor lagi.
1029Please respect copyright.PENANASSY9mp0BvW
Ibu mengangguk tanpa curiga. “Hati-hati.”
1029Please respect copyright.PENANAbkfUQIypBy
Motor melaju lagi ke arah sekolah. Kali ini lebih cepat. Pukul 16.05 aku sampai di gerbang. Satpam mengangguk mengenaliku. Parkiran hampir kosong. Hanya motor beberapa guru dan satu mobil satpam. Gedung praktik lantai dua masih ada lampu menyala redup di beberapa jendela.
1029Please respect copyright.PENANAHiKqYazmek
Aku parkir motor di tempat biasa, lalu berjalan pelan ke gedung. Hati berdegup sangat kencang sampai terasa di telinga. Koridor lantai satu sepi. Tangga naik ke lantai dua terasa lebih panjang dari biasanya. Setiap langkahku bergema pelan di dinding beton.
1029Please respect copyright.PENANAfVqe05uzT6
Saat aku mendekati pintu ruang praktikum, aku berhenti. Aku mendengar suara.
1029Please respect copyright.PENANAU64XPbeSMl
Bukan suara keyboard. Bukan suara obrolan biasa.
1029Please respect copyright.PENANAKS3EVipMPg
Suara napas. Suara bisikan pelan. Suara yang membuat bulu kudukku berdiri.
1029Please respect copyright.PENANA8FJdNKzUxT
Pintu tertutup rapat, tapi ada kaca kecil persegi di bagian atas pintu. Aku mendekat pelan, membungkuk sedikit, dan mengintip melalui kaca itu.
1029Please respect copyright.PENANAYkL8uBSLJ3
Lampu utama ruangan mati. Hanya satu lampu meja di pojok yang menyala kuning redup. Dua komputer masih menyala, layarnya biru terang. Bau ruangan yang sama — plastik, debu, dan sekarang ada bau lain yang samar: bau parfum Sinta yang bercampur dengan sesuatu yang lebih hangat, lebih berat.
1029Please respect copyright.PENANA1zj0AJ5r9X
Mereka berdiri di dekat meja nomor 5.
1029Please respect copyright.PENANAUpx8WiqAQ5
Sinta berdiri dengan punggung menghadap meja. Kemejanya sudah tidak rapi — kancing atas terbuka dua buah. Roknya masih utuh, tapi agak naik di satu sisi. Dito berdiri di depannya, sangat dekat. Tubuhnya yang tinggi dan lebar hampir menutupi Sinta sepenuhnya. Satu tangannya memegang pinggang Sinta, tangan yang lain menyentuh pipi Sinta dengan lembut.
1029Please respect copyright.PENANAPaZTJmNHYb
“Sinta…” suara Dito pelan, dalam, jelas terdengar meski dari balik kaca. “Aku suka kamu sudah lama. Sejak kamu pertama kali duduk di depan kelas. Kamu cantik. Pintar. Baik hati. Tubuhmu… setiap kali kamu membungkuk di meja praktik, setiap kali kamu tertawa, aku tidak bisa berhenti memandang.”
1029Please respect copyright.PENANAMSBY7Vkh3m
Sinta menunduk. Suaranya gemetar. “Dito… jangan bilang begitu. Aku punya Arfan. Kita bertiga teman. Ini tidak benar.”
1029Please respect copyright.PENANAE5ZdIILRN3
Tapi ia tidak menarik diri. Tangannya yang kecil memegang lengan Dito, seolah tidak yakin mau mendorong atau menarik.
1029Please respect copyright.PENANA2qFu5SlQcd
Dito mengusap bibir bawah Sinta dengan jempol. “Arfan sudah pulang. Dia tidak akan tahu. Ini hanya kita berdua sekarang. Aku ingin merasakan kamu. Aku ingin mencium payudaramu yang montok itu. Aku ingin merasakan betapa basahnya memek kamu untukku.”
1029Please respect copyright.PENANAcmzyPewt2l
Sinta menggigit bibir bawahnya. Matanya berkaca-kaca. “Tapi… aku sayang Arfan.”
1029Please respect copyright.PENANAXOqHnm8aWm
“Aku tahu,” bisik Dito. “Tapi aku juga tahu kamu merasa sesuatu untukku. Aku lihat cara kamu memandangku saat praktik. Aku lihat cara kamu tersenyum saat aku memuji kamu. Biarkan aku tunjukkan betapa aku menginginkanmu.”
1029Please respect copyright.PENANAw79bJEloro
Lalu Dito mendekatkan wajahnya. Bibir mereka bertemu.
1029Please respect copyright.PENANAnklJvrUtfw
Sinta mula-mula kaku, bahunya tegang. Tapi saat Dito mencium lebih dalam, lidahnya menyentuh bibir Sinta, Sinta membuka mulut sedikit. Ciuman itu berubah menjadi dalam, basah, penuh nafsu. Lidah mereka bertemu, saling menjilat. Sinta mengerang pelan ke dalam mulut Dito — suara yang membuat penis ku langsung mengeras di dalam celana jeans.
1029Please respect copyright.PENANAUhiXVok23X
Aku di luar pintu, napasku tersengal. Aku tidak bisa bergerak. Aku hanya bisa menonton.
1029Please respect copyright.PENANAqQ3SULyUHg
Tangan Dito turun dari pinggang Sinta ke bokongnya. Ia meremas bokong Sinta yang bulat melalui rok seragam. Jari-jarinya menekan dalam, membentuk lekukan di kain. Sinta mengerang lebih keras, punggungnya melengkung, payudaranya yang montok menekan dada Dito.
1029Please respect copyright.PENANAXKnuHLCqv6
Dito memecah ciuman sebentar. “Kamu sudah basah, kan?” bisiknya sambil mengangkat rok Sinta perlahan. Rok naik ke pinggang, memperlihatkan paha putih mulus dan celana dalam putih sederhana yang sudah lembap di bagian tengah. “Lihat… sudah basah sekali.”
1029Please respect copyright.PENANAzbCtTcC3Ol
Sinta hanya bisa mengerang. “Dito… ahh…”
1029Please respect copyright.PENANACqCiu8TSbp
Dito menyentuh selangkangan Sinta dengan dua jari, menggosok pelan di atas celana dalam yang basah. Sinta menggigit bibir, kakinya sedikit terbuka. Dito menarik celana dalam ke samping dengan satu jari, memperlihatkan vagina Sinta yang sudah basah mengkilap.
1029Please respect copyright.PENANAf1BFDbqeow
Vagina Sinta indah. Bibir luarnya penuh dan montok, berwarna pink kecokelatan. Bibir dalamnya sudah bengkak dan mengkilap karena cairan bening yang mengalir pelan dari lubangnya. Clit kecilnya sudah menonjol, bengkak, sensitif. Dito mengoleskan cairan itu ke seluruh vagina dengan jari tengahnya, memutar pelan di sekitar clit.
1029Please respect copyright.PENANAig95VT1fm0
“Kamu sangat basah untukku, Sinta,” bisik Dito. “Memek pacar temanku basah dan siap dientot.”
1029Please respect copyright.PENANAMorn1hmIgD
Sinta mengerang panjang saat Dito memasukkan satu jari ke dalam vaginanya. Jari itu masuk mudah karena basahnya. Dito gerakkan pelan, dalam, lalu tambah jari kedua. Ia memutar jari-jarinya di dalam, mencari titik sensitif di dinding depan vagina Sinta. Jempolnya terus mengusap clit yang bengkak.
1029Please respect copyright.PENANALCcuxMUhwI
Sinta memegang bahu Dito erat. Kakinya gemetar. “Ahh… Dito… jari mu… ahh… di dalam… enak…”
1029Please respect copyright.PENANAPP2fgSKoBb
Dito mempercepat gerakan jarinya. Suara basah “cip cip cip” terdengar jelas dari dalam ruangan. Sinta orgasme pertama kali dengan tiba-tiba — tubuhnya menegang, kaki kiri mengangkat sedikit, vagina berkedut kuat di sekitar jari Dito, cairan bening muncrat sedikit ke tangan Dito. Ia menjerit pelan “Ditooo… aku cum… ahhh!”
1029Please respect copyright.PENANAreMrBOH4qL
Dito tidak berhenti. Ia terus menggerakkan jari dalam-dalam sambil menunduk, mulutnya menghisap salah satu puting Sinta yang sudah telanjang — entah kapan kemeja dan bra Sinta dibuka, tapi sekarang payudara Sinta yang montok dan putih terbuka penuh. Putingnya berwarna cokelat muda, sudah tegak keras seperti kacang, mengkilap karena air liur Dito. Dito menghisap kuat, lidahnya memutar puting, gigi pelan menggigit, sementara jarinya di dalam vagina tidak berhenti.
1029Please respect copyright.PENANAZ7wtgwaQiO
Sinta orgasme lagi, lebih keras. Tubuhnya gemetar hebat, tangan menarik rambut Dito, kakinya menegang sampai jari kakinya menekuk. “Ahhh… Dito… mulutmu… jari mu… aku cum lagi… ahh!”
1029Please respect copyright.PENANAnvIA0mucpm
Aku di luar, penis ku sudah keluar dari celana. Aku memegangnya dengan tangan kanan, mengocok pelan tanpa sadar. Aku melihat pacarku yang kucintai — payudaranya dihisap, vaginanya difingering sampai squirting kecil, bokongnya yang bulat terbuka karena rok terangkat — dan aku… aku tidak bisa berhenti menonton. Aku marah. Aku cemburu. Tapi aku sangat keras, dan tanganku bergerak sendiri.
1029Please respect copyright.PENANAsNOC11IOaQ
Dito menarik jarinya keluar. Jari-jarinya basah kuyup dengan cairan Sinta. Ia menjilat jarinya sendiri di depan Sinta. “Manis,” bisiknya. “Memek kamu manis sekali.”
1029Please respect copyright.PENANAsRvqgmjwcj
Lalu Dito berlutut di depan Sinta. Ia angkat satu kaki Sinta ke bahunya, buka vagina Sinta lebar-lebar dengan kedua ibu jari. Lidahnya menjilat dari bawah ke atas — dari lubang vagina yang berkedut sampai clit yang sensitif. Ia menghisap clit ke dalam mulut, menghisap kuat dan ritmis seperti menghisap permen, sementara lidahnya memutar cepat di ujung clit. Dua jarinya masuk lagi ke dalam vagina, memompa pelan tapi dalam.
1029Please respect copyright.PENANAqrtURQbbkd
Sinta memegang kepala Dito dengan kedua tangan. Punggungnya melengkung ke belakang, payudaranya bergoyang. Ia mengerang tanpa henti, suara yang semakin tinggi. “Dito… lidahmu… ahh… enak sekali… jangan berhenti… ahh… aku akan cum lagi… ahhh!”
1029Please respect copyright.PENANAi9t0W8LUyd
Orgasm ketiga datang lebih hebat. Sinta menjerit, kaki yang diangkat menegang, vagina menyemburkan cairan lebih banyak ke mulut Dito. Tubuhnya gemetar tak terkendali. Dito terus menjilat dan menghisap sampai Sinta hampir jatuh, baru kemudian berdiri.
1029Please respect copyright.PENANA0JC4MvKwUm
Dito membuka celana jeansnya. Penisnya keluar — besar, tegang, urat-urat menonjol biru di sepanjang batang, kepala mengkilap dengan precum bening. Panjangnya sekitar 18 cm, tebal, dengan kepala yang lebar. Sinta melihatnya, mata melebar, bibir terbuka.
1029Please respect copyright.PENANAfslFH4lyxV
“Dito… besar sekali…” bisik Sinta dengan suara serak.
1029Please respect copyright.PENANAL40sHzKXla
Dito mendekat, menggesekkan kepala penisnya yang panas di vagina basah Sinta yang masih berkedut. “Aku akan masukkan pelan. Katakan jika sakit.”
1029Please respect copyright.PENANAmiFiyXOvty
Ia dorong pelan. Kepala penis yang lebar membuka bibir vagina Sinta, masuk sedikit demi sedikit. Sinta mengerang panjang, tangannya mencengkeram lengan Dito. “Ahhh… penuh… Dito… ahh… besar…”
1029Please respect copyright.PENANAlKjkEnSqBy
Dito dorong lebih dalam, perlahan, sampai pangkalnya menyentuh bibir vagina Sinta. Ia diam sebentar, membiarkan Sinta merasakan penuhnya. Lalu ia mulai bergerak — keluar hampir seluruhnya, lalu dorong dalam lagi, pelan tapi dalam. Setiap dorongan membuat payudara Sinta bergoyang indah. Putingnya yang basah bergeser di udara.
1029Please respect copyright.PENANA7mWq9ercK7
Sinta mengerang setiap kali Dito masuk penuh. “Ahh… Dito… entot aku… ahh… enak sekali… ahh…”
1029Please respect copyright.PENANAaW0Mk9Lpxs
Dito mempercepat sedikit. Tangan kanannya meremas payudara Sinta yang montok, jempol mengusap puting yang keras. Tangan kirinya memegang pinggul Sinta, menariknya setiap kali mendorong. Suara “plok plok plok” basah terdengar jelas — suara penis besar Dito masuk keluar dari vagina basah Sinta.
1029Please respect copyright.PENANAoW0DUko53h
Aku di luar mengocok penis ku lebih cepat. Aku melihat vagina pacarku terbuka lebar oleh penis temanku. Aku melihat cairan Sinta mengalir deras di sepanjang batang penis Dito setiap kali ditarik keluar. Aku melihat bokong Sinta yang bulat bergoyang pelan. Dan aku… aku orgasme pertama kali di tanganku sendiri. Air mani menyembur ke lantai koridor tanpa suara, tapi penis ku tetap keras.
1029Please respect copyright.PENANAboJlqtCjOB
Dito mengubah posisi. Ia angkat Sinta ke atas meja, buat Sinta berbaring telentang di meja praktikum yang dingin. Kaki Sinta diangkat dan dibuka lebar, lutut ditekuk ke dada. Posisi ini membuat vagina Sinta terbuka sempurna. Dito berdiri di ujung meja, memasukkan penisnya lagi dari posisi ini — lebih dalam, lebih keras.
1029Please respect copyright.PENANAfGYYJxsfzL
Setiap dorongan membuat meja bergetar. Payudara Sinta bergoyang hebat ke atas-bawah. Dito meremas kedua payudara Sinta dengan kedua tangan, jempol memainkan puting. “Memek kamu sangat sempit dan basah,” desah Dito. “Arfan tidak tahu betapa enaknya mengentot pacarnya seperti ini.”
1029Please respect copyright.PENANAjgOosnveOM
Sinta hanya bisa mengerang, mata setengah tertutup. “Ahh… Dito… jangan bilang nama Arfan… ahh… tapi enak… ahh… entot aku lebih keras…”
1029Please respect copyright.PENANALW8CVPrXto
Dito mempercepat. Dorongan menjadi lebih dalam, lebih cepat. Suara “plok plok plok” semakin keras. Sinta orgasme keempat kali — vagina mengencang kuat di sekitar penis Dito, tubuh melengkung tinggi dari meja, jeritan panjang “Ditooo… aku cum… ahhh… dalam… ahh!”
1029Please respect copyright.PENANAQMsECAq4Rj
Dito terus mengentot tanpa henti, menikmati vagina Sinta yang berkedut hebat.
1029Please respect copyright.PENANAql2O06MNVh
Lalu Dito menarik Sinta turun dari meja. Ia putar tubuh Sinta, buat Sinta membungkuk di atas meja, bokong menghadap Dito. Rok masih di pinggang. Celana dalam sudah di kaki. Dito masukkan penisnya dari belakang — posisi doggy.
1029Please respect copyright.PENANAvOKROp4i4r
Dari posisi mengintipku, aku bisa melihat dengan jelas. Bokong Sinta yang putih, bulat, dan kencang terbuka. Vagina Sinta dari belakang terlihat jelas — bibirnya terbuka karena penis Dito, cairan mengalir deras ke paha. Dito meremas bokong Sinta dengan kedua tangan, membuka lebar, memperlihatkan lubang anus Sinta yang kecil dan berkedut. Dito menampar bokong Sinta pelan tapi tegas — “plak” — membuat bokong bergoyang indah dan kulitnya memerah samar.
1029Please respect copyright.PENANANLl5Iyv8FC
Sinta mengerang lebih keras. “Ahh… Dito… bokongku… ahh… entot aku dari belakang… ahh… dalam sekali…”
1029Please respect copyright.PENANAXp3Ah2687r
Dito menarik rambut Sinta pelan, membuat punggung Sinta melengkung. Ia mengentot lebih cepat, lebih dalam. Setiap dorongan membuat bokong Sinta bergoyang hebat. Payudara Sinta bergantung dan bergoyang di bawah. Dito meraih payudara dari belakang, meremas kuat sambil terus menubruk.
1029Please respect copyright.PENANAUGE7058DVE
Sinta orgasme lagi — kelima kali — tubuh gemetar hebat, kaki hampir tidak bisa berdiri, vagina menyemburkan cairan ke lantai dan ke paha Dito. “Ahhh… Dito… aku cum lagi… ahh… tidak bisa… ahh!”
1029Please respect copyright.PENANAWcWtcLxRUP
Dito juga mendekati klimaks. Ia tarik penis keluar, ejakulasi di bokong Sinta dan punggung bawah. Air mani putih kental menyembur beberapa kali — pertama di bokong kiri, lalu di bokong kanan, lalu mengalir di celah bokong Sinta dan ke vagina yang masih terbuka. Sinta mengerang saat merasakan air mani panas di kulitnya.
1029Please respect copyright.PENANA1NnlugNKF2
Mereka berdua terengah-engah. Dito membalik Sinta, menciumnya lama dan dalam. Tangan Dito masih memainkan payudara Sinta yang basah keringat dan air liur. Puting Sinta masih keras, mengkilap.
1029Please respect copyright.PENANA3mxxOxPk95
“Kamu luar biasa, Sinta,” bisik Dito di bibir Sinta. “Tubuhmu… aku tidak bisa berhenti.”
1029Please respect copyright.PENANAhkqGruYt4q
Sinta, masih dengan rok di pinggang, kemeja terbuka, payudara telanjang, napas tersengal, menatap Dito dengan mata berkaca-kaca. “Ini… ini salah… Arfan… tapi aku tidak bisa… aku suka… aku suka sekali…”
1029Please respect copyright.PENANANvkCI2jXfX
Dito tersenyum, jempolnya mengusap puting Sinta yang sensitif. Sinta mengerang pelan. “Kita bisa lakukan lagi. Malam ini. Besok. Kapan saja. Arfan tidak akan tahu. Aku bisa bantu kamu praktik setiap hari… dan setelahnya, kita lakukan ini lagi.”
1029Please respect copyright.PENANAhd8X6V5YoO
Sinta tidak menjawab dengan kata-kata. Tapi ia tidak menolak saat Dito menunduk lagi dan menghisap putingnya yang masih keras. Tangan Sinta bahkan memegang kepala Dito, mendorong lebih dalam ke dadanya.
1029Please respect copyright.PENANAbqRqPyyALK
Di luar pintu, aku masih berdiri. Penis ku sudah orgasme dua kali di tanganku sendiri, tapi masih setengah keras. Air mani mengering di lantai dan di tanganku. Aku melihat pacarku yang kucintai — tubuhnya telanjang setengah, vagina basah dan merah karena dientot, bokong ditutupi air mani temanku, payudara dihisap — dan aku tidak bisa berhenti menonton.
1029Please respect copyright.PENANAKIsmpX5hkP
Mereka mulai bergerak lagi. Dito mengangkat Sinta ke pangkuannya. Ia duduk di kursi praktikum yang besar, Sinta di atas, kaki Sinta mengangkang di kedua sisi pinggul Dito. Sinta memegang penis Dito yang sudah mulai mengeras lagi, mengarahkannya ke vagina basahnya, lalu menurunkan tubuhnya pelan.
1029Please respect copyright.PENANAaa1sQH88Fl
Penis Dito masuk lagi ke dalam vagina Sinta dari posisi ini. Sinta mengerang panjang saat merasakan penuhnya lagi. Ia mulai naik-turun pelan di atas Dito, payudaranya bergoyang di depan wajah Dito. Dito menghisap puting Sinta sambil tangannya memegang bokong Sinta, membantu menggerakkan naik-turun.
1029Please respect copyright.PENANAPSOD0b3puP
Aku melihat dari kaca — Sinta menunggangi Dito, bokongnya naik-turun, vagina terbuka lebar setiap kali naik, penis Dito yang basah dengan campuran cairan Sinta dan air mani sebelumnya terlihat jelas. Sinta mengerang “Ahh… Dito… aku suka posisi ini… ahh… dalam sekali…”
1029Please respect copyright.PENANAk91eNDovWF
Dito memegang pinggul Sinta, membantu mempercepat gerakan. “Kamu suka dikentot pacarku, Sinta? Kamu suka memekmu penuh dengan penis lain?”
1029Please respect copyright.PENANA7cPWKdj2hE
Sinta hanya mengerang, tidak menyangkal. Ia naik-turun lebih cepat, payudaranya bergoyang hebat. Dito menampar bokong Sinta lagi — “plak” — membuat Sinta mengerang lebih keras.
1029Please respect copyright.PENANAJLFEQuUHtC
Aku di luar, tanganku kembali memegang penis yang mulai mengeras lagi. Aku tidak bisa percaya ini terjadi. Tapi aku juga tidak bisa berhenti melihat. Aku ingin melihat Sinta orgasme lagi. Aku ingin melihat Dito mengisi vagina Sinta dengan air mani lagi.
1029Please respect copyright.PENANAGoNMyvP1IZ
Mereka terus bergerak di kursi itu. Sinta naik-turun, Dito menghisap payudara dan menampar bokong. Suara basah, suara mengerang, suara “plak” bokong ditampar memenuhi ruangan.
1029Please respect copyright.PENANAYHFWbBEvvi
Aku berdiri di koridor sepi itu, penis di tangan, mata tidak bisa lepas dari kaca kecil pintu ruang praktikum.
1029Please respect copyright.PENANAEvlb3ZeHI4
Sinta terus naik-turun di atas pangkuan Dito dengan ritme yang semakin cepat. Kursi praktikum yang besar itu berderit pelan setiap kali bokong Sinta menghantam pangkal paha Dito. Dari posisi mengintipku di balik kaca pintu, aku bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana vagina Sinta yang basah dan merah membuka lebar setiap kali ia mengangkat pinggulnya. Penis Dito yang tebal dan berurat muncul setengah, mengkilap penuh dengan cairan bening Sinta yang mengalir deras, lalu Sinta menurunkan tubuhnya lagi dan seluruh batang itu hilang ke dalam lubang basahnya sampai pangkalnya menempel di clit Sinta yang bengkak.
1029Please respect copyright.PENANAeprdAhHV99
Payudara Sinta yang montok bergoyang-goyang hebat ke atas dan ke bawah mengikuti gerakan pinggulnya. Putingnya yang cokelat muda sudah sangat keras dan basah karena air liur Dito, bergeser mengikuti ayunan payudara itu. Setiap kali Sinta turun penuh, payudaranya bergoyang ke bawah, lalu naik lagi saat ia mengangkat bokongnya. Dito memegang pinggul Sinta dengan kedua tangan yang besar, jari-jarinya menekan daging bokong yang putih dan kenyal, membantu menggerakkan Sinta naik-turun dengan ritme yang lebih dalam dan lebih keras.
1029Please respect copyright.PENANAqXtETpoddg
“Ahh… Dito… ahh… dalam sekali… ahh…” Sinta mengerang tanpa henti, suaranya serak dan penuh nafsu. Ia meletakkan kedua tangan di bahu Dito untuk menopang tubuhnya, kepalanya sedikit tertengadah, mata setengah tertutup, bibir terbuka mengeluarkan napas panas. “Memek aku… penuh… dengan penis mu… ahh… enak… sangat enak…”
1029Please respect copyright.PENANAKd9g70QpB1
Dito menatap wajah Sinta dari dekat, senyum kecil di bibirnya yang basah. “Kamu suka ya, Sinta? Kamu suka memek pacar temanmu ini dientot dalam-dalam seperti ini?” Ia dorong pinggulnya ke atas setiap kali Sinta turun, membuat penisnya menabrak titik terdalam di dalam vagina Sinta. “Lihat betapa basahnya kamu. Cairan memekmu mengalir sampai ke bola pelirku.”
1029Please respect copyright.PENANAvN0xt0NoMp
Sinta hanya bisa mengerang lebih keras sebagai jawaban. Ia mempercepat gerakan pinggulnya, sekarang bukan hanya naik-turun, tapi juga memutar pinggulnya dalam lingkaran kecil setiap kali turun penuh. Gerakan memutar itu membuat kepala penis Dito menggesek dinding dalam vagina Sinta dari berbagai arah. Cairan Sinta semakin banyak, mengalir keluar dari celah antara bibir vagina dan batang penis Dito, menetes ke paha Dito dan ke kursi di bawahnya.
1029Please respect copyright.PENANABjaB7jDDMO
Aku di luar pintu, tangan kananku mengocok penis ku yang sudah basah dengan air mani dari orgasme sebelumnya. Aku tidak bisa berhenti. Setiap kali Sinta mengerang nama Dito, setiap kali aku melihat vagina pacarku terbuka lebar oleh penis lain, penis ku berdenyut dan mengeras lagi. Aku merasa marah, cemburu, sakit hati… tapi aku juga sangat terangsang sampai tidak bisa berpikir jernih. Aku hanya bisa menonton dan mengocok.
1029Please respect copyright.PENANAK55ycPX5kM
Sinta mulai mengerang lebih tinggi nadanya. Tubuhnya bergetar. “Dito… ahh… aku… aku akan cum lagi… ahh… jangan berhenti… ahh… terus… ahhh!” Ia menurunkan bokongnya penuh dan menekannya kuat-kuat ke pangkal paha Dito, memutar pinggulnya cepat dalam gerakan kecil yang menggesek clit-nya ke tubuh Dito. Vagina Sinta berkedut hebat di sekitar penis Dito — aku bisa melihat bibir vaginanya berkontraksi dan mengencang berulang-ulang di sekitar batang yang tebal itu.
1029Please respect copyright.PENANA0zPYNTJ0q7
Orgasm keenam Sinta datang dengan sangat hebat. Tubuhnya menegang, punggung melengkung ke belakang, payudaranya terangkat tinggi, putingnya menonjol keras. Ia menjerit panjang “Ditooo… aku cum… ahhh… memek aku… ahh… berkedut… ahhh!” Cairan bening menyembur keluar dari sekitar penis Dito, membasahi paha Dito dan kursi di bawahnya. Kakinya yang mengangkang gemetar tak terkendali, jari kakinya menekuk kuat di dalam sepatu sekolahnya yang masih terpasang.
1029Please respect copyright.PENANAT31uBFbFyo
Dito memegang pinggul Sinta erat, tidak membiarkannya berhenti bergerak. Ia terus mendorong pinggulnya ke atas pelan, memperpanjang orgasme Sinta. “Bagus… cum lagi untukku, Sinta. Biarkan memekmu memeras penis ku. Kamu sangat cantik saat orgasme seperti ini.”
1029Please respect copyright.PENANAuZbiAO8KR9
Sinta masih bergoyang pelan di atas Dito, napasnya tersengal, tubuhnya masih bergetar sisa orgasme. Air mata kecil mengalir di pipinya — entah karena nikmat yang terlalu kuat atau karena rasa bersalah yang mulai muncul. Tapi ia tidak berhenti. Ia terus menggerakkan pinggulnya pelan, menikmati sensasi penis Dito yang masih keras dan besar di dalam vaginanya yang sensitif.
1029Please respect copyright.PENANASo25bsINVB
Dito mengangkat tangan kanannya ke payudara Sinta, meremasnya kuat, jempol mengusap puting yang basah dan keras. “Kamu masih mau lagi?” bisiknya di telinga Sinta sambil menghisap daun telinga Sinta. “Aku bisa terus mengentot kamu sepanjang malam kalau kamu mau.”
1029Please respect copyright.PENANAlmXQL6phve
Sinta mengangguk pelan, suaranya lemah tapi penuh nafsu. “Aku… aku masih mau… Dito… tubuhku… panas sekali… jangan berhenti…”
1029Please respect copyright.PENANA7mwhJbGQCN
Dito tersenyum puas. Ia memegang bokong Sinta dengan kedua tangan, berdiri perlahan dari kursi sambil tetap membawa Sinta yang masih terhubung dengan penisnya. Sinta mengerang saat merasa tubuhnya diangkat, penis Dito masih tertanam dalam di dalam vaginanya. Dito berdiri tegak, tangannya menopang bokong Sinta yang bulat dan berat. Kaki Sinta otomatis melingkar di pinggang Dito.
1029Please respect copyright.PENANAW078YbTRjl
Dari posisi mengintipku, aku bisa melihat dengan jelas. Sinta digendong oleh Dito, kakinya melingkar erat di pinggang Dito yang berotot, bokongnya yang putih dan telanjang terbuka lebar karena posisi itu. Vagina Sinta terlihat dari belakang — bibirnya yang bengkak dan basah menggenggam erat batang penis Dito yang tebal. Cairan Sinta masih mengalir pelan di sepanjang batang itu dan menetes ke lantai.
1029Please respect copyright.PENANAIgb4wI2i8l
Dito mulai bergerak. Ia mengangkat dan menurunkan bokong Sinta dengan kedua tangannya yang kuat, membuat penisnya masuk dan keluar dari vagina Sinta dalam posisi berdiri. Setiap kali Dito mengangkat bokong Sinta, penisnya muncul hampir seluruhnya — basah, mengkilap, urat-uratnya menonjol — lalu ia menurunkan Sinta dengan keras, membuat seluruh batang masuk penuh sampai bola pelir Dito menepuk bokong Sinta.
1029Please respect copyright.PENANAs8JIceDMPI
Plok… plok… plok…
1029Please respect copyright.PENANApyYo0WXpmk
Suara itu terdengar jelas bahkan dari balik pintu. Sinta mengerang setiap kali diturunkan penuh. “Ahh… Dito… ahh… posisi ini… dalam sekali… ahh… kamu kuat sekali… ahh…” Payudaranya bergoyang hebat di depan wajah Dito. Dito menunduk dan menghisap salah satu puting Sinta sambil terus menggerakkan bokong Sinta naik-turun di penisnya.
1029Please respect copyright.PENANAzTi4g7g4ip
Aku mengocok penis ku lebih cepat. Aku melihat pacarku digendong dan dientot berdiri oleh temanku. Aku melihat bokong Sinta yang bulat dan kenyal bergoyang setiap kali Dito menurunkannya. Aku melihat vagina Sinta yang basah dan terbuka lebar setiap kali penis Dito ditarik keluar. Dan aku orgasme lagi di tanganku — air mani menyembur ke lantai koridor untuk ketiga kalinya malam itu. Tapi aku tidak berhenti mengocok. Penis ku tetap setengah keras, dan aku terus menonton.
1029Please respect copyright.PENANAkqNS9AXyI3
Dito mempercepat gerakannya. Ia mengangkat dan menurunkan Sinta lebih cepat dan lebih keras. Suara “plok plok plok” menjadi lebih kencang dan lebih basah. Sinta memegang leher Dito erat, wajahnya tertanam di leher Dito, mengerang tanpa henti ke kulit Dito. “Ahh… Dito… aku… aku akan cum lagi… ahh… jangan berhenti… ahh… entot aku… ahhh!”
1029Please respect copyright.PENANAUabN4mvI1p
Orgasm ketujuh Sinta datang saat Dito menurunkan bokongnya dengan sangat keras dan dalam. Sinta menjerit ke leher Dito, tubuhnya menegang di gendongan Dito, kakinya yang melingkar menekan pinggang Dito kuat-kuat. Vagina Sinta berkedut hebat di sekitar penis Dito, cairan menyembur keluar dan mengalir di paha Dito. Sinta menggigit bahu Dito pelan, meninggalkan bekas gigi merah di kulit Dito.
1029Please respect copyright.PENANAzBCkVTiHC8
Dito tidak berhenti. Ia terus menggerakkan Sinta naik-turun pelan sambil membiarkan Sinta menikmati orgasmenya yang panjang. “Cum… cum lagi untukku, Sinta. Biarkan memekmu memeras penis ku sampai kering.”
1029Please respect copyright.PENANAmL7dxoWeQT
Sinta masih bergoyang pelan di gendongan Dito, napasnya sangat tersengal, tubuhnya lemas tapi masih bergetar. “Dito… aku… tidak bisa… lagi… ahh… terlalu enak… ahh…”
1029Please respect copyright.PENANAyzZhb0zUwy
Dito tersenyum. Ia membawa Sinta ke arah meja praktikum lagi sambil tetap membawa Sinta di pangkuannya. Ia meletakkan bokong Sinta di pinggir meja, membuat Sinta berbaring telentang di meja dengan kaki masih melingkar di pinggangnya. Posisi ini membuat penis Dito bisa masuk lebih dalam lagi.
1029Please respect copyright.PENANAs96SoOJBBX
Dito mulai mengentot Sinta dalam posisi ini — berdiri di ujung meja, memegang pinggul Sinta, mendorong penisnya masuk dan keluar dengan ritme yang dalam dan lambat tapi kuat. Setiap dorongan membuat meja bergetar dan membuat payudara Sinta bergoyang indah di dadanya. Dito meremas kedua payudara Sinta dengan kedua tangannya, jempol memainkan puting yang masih keras dan sensitif.
1029Please respect copyright.PENANAcz6jDmKZrT
“Kamu sangat cantik saat dientot seperti ini,” desah Dito sambil mempercepat sedikit. “Pacar Arfan… tubuhmu sempurna untuk dikentot. Memekmu sangat sempit dan basah. Aku bisa mengentot kamu setiap hari dan kamu akan selalu basah untukku.”
1029Please respect copyright.PENANAYgUQC3Sumw
Sinta mengerang, tangannya memegang lengan Dito. “Ahh… Dito… jangan… ahh… bilang nama Arfan… tapi… ahh… aku suka… aku suka sekali… ahh… entot aku lebih dalam… ahh…”
1029Please respect copyright.PENANAKvGIC182Et
Dito mendengar permintaan itu. Ia dorong lebih dalam dan lebih keras. Penisnya menabrak serviks Sinta setiap kali masuk penuh. Sinta mengerang sangat keras, kakinya yang melingkar di pinggang Dito menegang. “Ahhh… di sana… ahh… kamu menyentuh… ahh… titik itu… ahhh!”
1029Please respect copyright.PENANAOfLHdubOET
Orgasm kedelapan Sinta datang tiba-tiba dan sangat hebat. Tubuhnya melengkung tinggi di atas meja, payudaranya terangkat, putingnya menonjol keras, vagina berkedut sangat kuat di sekitar penis Dito. Ia menjerit panjang tanpa bisa menahan “Ditooo… aku cum… ahhh… sangat dalam… ahhh… aku tidak bisa berhenti… ahhh!” Cairan Sinta menyembur deras, membasahi perut Dito dan meja di bawah bokong Sinta.
1029Please respect copyright.PENANAicgmIJF3dW
Dito terus mengentot Sinta yang sedang orgasme, menikmati sensasi vagina yang berkedut hebat memeras penisnya. Ia menahan klimaksnya sendiri, ingin membuat Sinta orgasme sebanyak mungkin malam itu.
1029Please respect copyright.PENANA3Jar0MN9x1
Setelah Sinta agak tenang, Dito menarik penisnya keluar perlahan. Penisnya keluar dengan suara basah “plop”, mengkilap penuh dengan cairan Sinta dan air mani sebelumnya. Vagina Sinta terbuka lebar sejenak, merah, basah, berkedut pelan, sebelum bibirnya perlahan menutup lagi.
1029Please respect copyright.PENANAD5iuuC42L1
Dito membalik Sinta di atas meja. Sekarang Sinta berbaring telungkup di meja, bokongnya menghadap Dito. Ia angkat pinggul Sinta sedikit, buat Sinta berdiri dengan kaki agak terbuka dan bokong terangkat. Posisi doggy di atas meja.
1029Please respect copyright.PENANAyqdVUxnSDl
Dito memasukkan penisnya lagi dari belakang. Kali ini ia masuk dengan satu dorongan keras dan dalam. Sinta mengerang ke meja, jari-jarinya mencengkeram pinggir meja. “Ahh… Dito… ahh… dari belakang lagi… ahh… bokongku… ahh…”
1029Please respect copyright.PENANAAPw8CZXuzM
Dito memegang pinggul Sinta dengan kedua tangan, mulai mengentot dengan ritme yang cepat dan dalam. Setiap dorongan membuat bokong Sinta bergoyang hebat ke depan dan ke belakang. Dito menampar bokong Sinta berulang kali — “plak… plak… plak” — membuat kulit bokong memerah samar dan bergoyang lebih indah. Ia meraih rambut Sinta yang sudah agak acak-acakan, menarik pelan, membuat punggung Sinta melengkung.
1029Please respect copyright.PENANAvSaNWxM0oy
Dari posisi mengintipku, aku bisa melihat semuanya dengan sangat detail. Bokong Sinta yang bulat dan putih bergoyang setiap kali Dito menubruk dari belakang. Vagina Sinta terlihat dari belakang — bibirnya yang bengkak menggenggam erat batang penis Dito, cairan mengalir deras di sepanjang batang dan menetes ke lantai. Lubang anus Sinta yang kecil terlihat jelas di atas vagina, berkedut setiap kali Dito mendorong dalam.
1029Please respect copyright.PENANA2bhdNRBqBC
Dito mempercepat lagi. “Kamu suka bokongmu ditampar saat dikentot, Sinta? Kamu suka diperlakukan kasar seperti ini?” Ia menampar lebih keras, membuat Sinta mengerang campur antara sakit dan nikmat.
1029Please respect copyright.PENANAhkkHczxB0n
“Ya… ahh… Dito… aku suka… ahh… tampar lagi… ahh… entot aku lebih keras… ahhh!”
1029Please respect copyright.PENANADIOVC0YifD
Dito menampar bokong Sinta lagi dan lagi sambil mengentot lebih cepat. Suara “plak plok plok” memenuhi ruangan. Sinta orgasme kesembilan kali — tubuhnya gemetar hebat di atas meja, bokongnya mengejang, vagina berkedut kuat di sekitar penis Dito. Ia menjerit ke permukaan meja “Ditooo… aku cum lagi… ahhh… tidak bisa… ahhh!”
1029Please respect copyright.PENANAutzDSgraoi
Dito juga sudah mendekati batas. Ia tarik rambut Sinta lebih kuat, mempercepat dorongan sampai sangat cepat dan dalam. “Aku akan cum di dalam kamu, Sinta,” desahnya. “Aku akan isi memek pacar Arfan dengan air maniku.”
1029Please respect copyright.PENANA5TDlXPL5Ys
Sinta, masih dalam sisa orgasme, hanya bisa mengerang lemah “Ya… Dito… isi aku… ahh… cum di dalam memek aku… ahh…”
1029Please respect copyright.PENANALZ3mUcpsKO
Dito mendorong dalam-dalam satu kali terakhir dan menahan di sana. Penisnya berdenyut kuat di dalam vagina Sinta. Aku bisa melihat dari belakang bagaimana bola pelir Dito menegang dan berkedut saat ia menyemburkan air mani ke dalam rahim Sinta. Air mani panas menyembur berulang kali — pertama deras, lalu semakin pelan — memenuhi vagina Sinta sampai meluap keluar di sekitar batang penis Dito dan menetes ke paha Sinta.
1029Please respect copyright.PENANAxS5BhjGRHL
Dito tetap diam di dalam Sinta selama beberapa detik, menikmati sensasi vagina Sinta yang masih berkedut pelan memeras penisnya. Lalu ia menarik keluar perlahan. Penisnya keluar dengan suara basah, diikuti oleh aliran air mani putih kental yang mengalir keluar dari vagina Sinta yang terbuka dan berkedut. Air mani Dito bercampur dengan cairan Sinta mengalir deras di paha Sinta dan menetes ke lantai.
1029Please respect copyright.PENANAMsUSqvkPDJ
Sinta masih berbaring telungkup di meja, napas tersengal, tubuh gemetar, bokong masih terangkat sedikit. Vagina nya terbuka lebar, merah, basah, dengan air mani Dito mengalir keluar pelan. Payudaranya yang montok tertekan di permukaan meja, putingnya masih keras.
1029Please respect copyright.PENANACjEr3MIClA
Dito membalik Sinta dengan lembut. Ia mengangkat tubuh Sinta dan mendudukkannya di pinggir meja, menghadapnya. Ia mencium Sinta lama dan dalam, tangannya memegang wajah Sinta dengan lembut. “Kamu luar biasa,” bisik Dito di bibir Sinta. “Kita bisa lakukan ini lagi. Besok. Lusa. Setiap kali Arfan tidak ada.”
1029Please respect copyright.PENANARn5cww6bjk
Sinta menatap Dito dengan mata berkaca-kaca, napas masih tersengal. Payudaranya naik turun cepat. “Ini… ini sangat salah… tapi… aku tidak bisa menolak… tubuhku… masih panas… masih ingin…”
1029Please respect copyright.PENANAGrKszWNDWu
Dito tersenyum. Tangannya turun ke payudara Sinta lagi, memainkan puting yang sensitif. Sinta mengerang pelan. “Kita bisa mulai lagi sekarang,” bisik Dito sambil menggesekkan penisnya yang sudah mulai mengeras lagi ke paha Sinta. “Aku masih keras. Dan kamu… memekmu masih basah dan siap.”
1029Please respect copyright.PENANAsgXEB3m7tm
Sinta menggigit bibir bawahnya, matanya menatap penis Dito yang sudah mulai tegak lagi di depan vaginanya yang masih mengalirkan air mani. Ia mengangguk pelan, suaranya lemah tapi penuh hasrat. “Ya… Dito… lagi… aku masih mau lagi…”
1029Please respect copyright.PENANAKha5Ao3wrY
Dito mendorong Sinta pelan sampai punggung Sinta menyentuh permukaan meja lagi. Ia angkat kaki Sinta dan letakkan di bahunya. Posisi ini membuat vagina Sinta terbuka lebar di depan penis Dito yang sudah hampir penuh tegang lagi. Dito menggesekkan kepala penisnya yang basah di clit Sinta yang sensitif, membuat Sinta mengerang.
1029Please respect copyright.PENANAuFN2xkPrmu
Aku di luar pintu berdiri kaku. Penis ku sudah orgasme berkali-kali di tanganku, tapi masih bisa mengeras lagi saat melihat mereka bersiap untuk ronde berikutnya. Aku melihat air mani Dito masih mengalir keluar dari vagina Sinta. Aku melihat Sinta yang lemas tapi masih menginginkan lebih. Aku melihat Dito yang siap mengentot pacarku lagi.
1029Please respect copyright.PENANAG01PzSZL6s
Dan aku… aku tidak bisa berhenti menonton.
1029Please respect copyright.PENANAiUOGgO1Md8
Dito mulai mendorong penisnya yang sudah keras penuh ke dalam vagina Sinta yang basah dan penuh air mani. Kepala penisnya membuka bibir vagina Sinta yang sudah sensitif, masuk pelan tapi dalam. Sinta mengerang panjang saat merasakan lagi penuhnya, meski vaginanya sudah penuh dengan air mani Dito sebelumnya.
1029Please respect copyright.PENANAXfdf0m1E6g
“Ahh… Dito… lagi… ahh… kamu masih keras… ahh…” Sinta mengerang, tangannya memegang pinggir meja.
1029Please respect copyright.PENANADZIs9Ovq4x
Dito mendorong penisnya yang sudah penuh tegang kembali ke dalam vagina Sinta yang masih basah dan penuh dengan air mani dari ronde sebelumnya. Posisi kaki Sinta di bahu Dito membuat vagina Sinta terbuka sangat lebar dan dalam. Setiap kali Dito mendorong, kepala penisnya yang lebar menabrak titik paling dalam di dalam rahim Sinta. Aku bisa melihat dengan jelas dari balik kaca bagaimana bibir vagina Sinta yang sudah bengkak dan merah meregang lebar mengelilingi batang tebal Dito, cairan campuran bening dan putih kental mengalir keluar setiap kali Dito menarik penisnya hampir seluruhnya, lalu mendorong kembali dengan kuat sampai bola pelirnya menepuk bokong Sinta yang terangkat.
1029Please respect copyright.PENANAmpeEbY2KBr
Sinta mengerang panjang dan dalam, suaranya serak karena sudah terlalu banyak orgasme. “Ahh… Dito… ahh… dalam sekali… ahh… kamu menyentuh… ahh… rahim aku… ahhh…” Tangannya mencengkeram pinggir meja praktikum kuat-kuat, buku-buku jarinya memutih. Payudaranya yang montok bergoyang hebat ke atas dan ke bawah mengikuti setiap dorongan Dito. Putingnya yang cokelat muda sudah sangat sensitif, bergeser mengikuti ayunan payudara, masih basah dan mengkilap.
1029Please respect copyright.PENANArKWVfjTokb
Dito memegang paha Sinta yang terangkat dengan kedua tangan besarnya, jari-jarinya menekan daging paha yang putih dan mulus. Ia mengentot dengan ritme yang dalam dan lambat tapi sangat kuat. Setiap dorongan penuh membuat meja bergetar dan membuat Sinta mengerang lebih keras. “Memek kamu masih sangat sempit meski sudah aku isi dengan air maniku,” desah Dito sambil mempercepat sedikit. “Kamu suka ya, Sinta? Kamu suka memek pacar temanmu ini penuh dengan air mani orang lain?”
1029Please respect copyright.PENANA36RISWbR0t
Sinta mengangguk lemah, mata setengah tertutup, bibir terbuka. “Ya… ahh… Dito… aku suka… ahh… jangan bilang… tapi… ahh… enak sekali… ahh… isi aku lagi… ahhh…”
1029Please respect copyright.PENANAXrrJnMWY2Q
Dito mendengar jawaban itu dan senyumnya melebar. Ia mempercepat gerakan pinggulnya. Suara “plok plok plok” basah semakin kencang dan ritmis. Setiap kali penis Dito masuk penuh, air mani putih kental dari ronde sebelumnya terdorong keluar dan mengalir di bokong Sinta serta ke meja di bawahnya. Aku di luar mengocok penis ku yang sudah basah dan sensitif. Aku melihat pacarku yang kucintai dientot dalam-dalam di meja praktikum sekolah kami, vaginanya penuh air mani temanku, dan aku… aku orgasme lagi di tangan sendiri tanpa bisa menahan. Air mani menyembur ke lantai koridor untuk keempat kalinya malam itu.
1029Please respect copyright.PENANAOC6lQS3dNz
Sinta mulai mengerang lebih tinggi. Tubuhnya bergetar hebat. “Dito… ahh… aku… aku akan cum lagi… ahh… jangan berhenti… ahh… lebih dalam… ahhh!” Ia orgasme kesepuluh kali malam itu. Vagina Sinta berkedut sangat kuat di sekitar penis Dito, bibir vaginanya berkontraksi berulang-ulang, cairan bening menyembur keluar bercampur dengan air mani Dito yang sudah ada di dalam. Tubuh Sinta menegang, kaki yang di bahu Dito menegang lurus, jari kakinya menekuk kuat di dalam sepatunya. Ia menjerit panjang “Ditooo… aku cum… ahhh… sangat dalam… ahhh… memek aku… ahhh… tidak bisa berhenti… ahhh!”
1029Please respect copyright.PENANAMMuTrNWBfW
Dito tidak berhenti mengentot. Ia terus mendorong dalam-dalam sambil Sinta sedang orgasme, menikmati sensasi vagina yang berkedut hebat memeras penisnya. “Bagus… cum lagi… biarkan memekmu memeras air maniku yang baru saja aku isi tadi,” bisik Dito dengan suara serak.
1029Please respect copyright.PENANAIw5VK6ugos
Setelah Sinta agak tenang, Dito menurunkan kaki Sinta dari bahunya. Ia tarik Sinta ke pinggir meja, membuat Sinta duduk di pinggir meja dengan kaki menggantung. Lalu Dito memutar Sinta pelan sampai Sinta berbaring telungkup di meja lagi, tapi kali ini Dito angkat satu kaki Sinta ke atas meja, membuat Sinta berbaring miring dengan satu kaki terangkat tinggi. Posisi ini membuat vagina Sinta terbuka lebar dari samping dan Dito bisa masuk sangat dalam.
1029Please respect copyright.PENANAh5ObGbVEip
Dito memasukkan penisnya lagi dari posisi ini. Ia memegang pinggul Sinta dan paha yang terangkat, mulai mengentot dengan ritme yang cepat dan dalam. Dari posisi mengintipku, aku bisa melihat sisi tubuh Sinta dengan jelas — payudaranya yang montok bergoyang ke samping, putingnya keras, bokongnya yang bulat terangkat sedikit, vagina Sinta dari samping terlihat jelas sedang digeser oleh penis tebal Dito. Air mani Dito yang sudah ada di dalam mengalir keluar setiap kali Dito menarik penisnya dan terdorong kembali saat ia mendorong dalam.
1029Please respect copyright.PENANAU8SZyKPH0W
Sinta mengerang terus-menerus, suaranya sudah lemah tapi penuh hasrat. “Ahh… Dito… posisi ini… ahh… enak… ahh… kamu entot aku… ahh… seperti milikmu… ahhh…”
1029Please respect copyright.PENANAyoiikjfkvQ
Dito mempercepat. Tangan kanannya meraih payudara Sinta dari samping, meremas kuat sambil jempol memainkan puting. Tangan kirinya memegang paha Sinta yang terangkat. “Kamu memang milikku malam ini, Sinta. Pacar Arfan… tubuhmu… memekmu… bokongmu… semuanya aku nikmati malam ini.”
1029Please respect copyright.PENANAlzKRcjZeYN
Sinta hanya bisa mengerang sebagai jawaban. Ia orgasme kesebelas kali — tubuhnya gemetar di atas meja, kaki yang terangkat menegang, vagina berkedut hebat. Ia menjerit lemah “Dito… aku cum lagi… ahhh… tidak kuat… ahhh…”
1029Please respect copyright.PENANAyTosV7xlkb
Dito masih belum cum. Ia terus mengentot Sinta yang sedang orgasme, memperpanjang kenikmatannya. Setelah Sinta agak tenang, Dito menarik penisnya keluar. Ia bantu Sinta turun dari meja, membuat Sinta berdiri dengan punggung menghadap Dito. Dito membungkukkan Sinta di atas meja lagi, posisi doggy berdiri. Ia masukkan penisnya dari belakang dengan satu dorongan keras.
1029Please respect copyright.PENANAmQZldvU7AN
Sinta mengerang saat merasa penuh lagi. Dito memegang pinggul Sinta dan mulai mengentot dengan ritme yang cepat dan dalam. Bokong Sinta bergoyang hebat setiap kali Dito menubruk. Dito menampar bokong Sinta berulang kali — “plak… plak… plak” — membuat kulit memerah dan bergoyang lebih indah. Ia meraih rambut Sinta, menarik pelan, membuat punggung Sinta melengkung.
1029Please respect copyright.PENANAnegPf4s3Gq
“Aku akan cum di dalam kamu lagi, Sinta,” desah Dito sambil mempercepat dorongan sampai sangat cepat. “Aku akan isi kamu penuh lagi.”
1029Please respect copyright.PENANAR1ZS7BlHLJ
Sinta, sudah lemas dan sensitif, hanya bisa mengerang “Ya… Dito… isi aku… ahh… cum di dalam memek aku lagi… ahhh…”
1029Please respect copyright.PENANAeGquRQR9l0
Dito mendorong dalam-dalam satu kali terakhir dan menahan. Penisnya berdenyut kuat di dalam vagina Sinta. Aku bisa melihat dari belakang bagaimana bola pelir Dito menegang saat ia menyemburkan air mani panas untuk kedua kalinya malam itu ke dalam rahim Sinta. Air mani menyembur deras, memenuhi vagina Sinta yang sudah penuh, lalu meluap keluar di sekitar batang penis Dito dan mengalir deras di paha Sinta serta ke lantai.
1029Please respect copyright.PENANAJGmIYar7yO
Dito tetap diam di dalam Sinta selama hampir satu menit, menikmati sensasi vagina Sinta yang masih berkedut pelan memeras penisnya. Lalu ia menarik keluar perlahan. Penisnya keluar dengan suara basah, diikuti oleh aliran air mani putih kental yang sangat banyak mengalir keluar dari vagina Sinta yang terbuka lebar, merah, dan berkedut. Air mani Dito bercampur dengan cairan Sinta mengalir deras membasahi paha Sinta sampai ke lutut dan menetes ke lantai.
1029Please respect copyright.PENANAhPQZQlE72W
Sinta masih berdiri membungkuk di atas meja, napas sangat tersengal, kaki gemetar, bokong masih terangkat. Vagina nya terbuka lebar, air mani Dito terus mengalir keluar pelan. Payudaranya yang montok tertekan di permukaan meja, putingnya masih keras.
1029Please respect copyright.PENANADNEQWTO7u5
Dito membalik Sinta dengan lembut. Ia mengangkat tubuh Sinta dan mendudukkannya di pinggir meja lagi, menghadapnya. Ia mencium Sinta lama dan dalam, tangannya memegang wajah Sinta dengan lembut meski tadi ia memperlakukan Sinta cukup kasar. “Kamu luar biasa malam ini, Sinta,” bisik Dito di bibir Sinta. “Kita akan lakukan ini lagi. Besok. Atau lusa. Setiap kali Arfan tidak ada atau sibuk.”
1029Please respect copyright.PENANAUnPpgSWcUD
Sinta menatap Dito dengan mata berkaca-kaca, napas masih tersengal. Tubuhnya lemas, tapi ia mengangguk pelan. “Ini… sangat salah… tapi… aku tidak bisa menolak… tubuhku… masih ingin… kamu…”
1029Please respect copyright.PENANAkaxUXC1hQN
Dito tersenyum. Ia membantu Sinta turun dari meja. Mereka berdua berdiri di tengah ruangan yang redup. Dito mengambil tisu dari tas Sinta yang ada di meja sebelah dan membersihkan paha Sinta serta vagina Sinta dengan lembut. Sinta mengerang pelan saat tisu menyentuh vaginanya yang sensitif. Dito juga membersihkan air mani yang menetes di lantai sebisa mungkin.
1029Please respect copyright.PENANAiMf4lcsv4Q
Sinta memakai celana dalamnya yang sudah basah, lalu memasang bra dan mengancing kemejanya dengan tangan gemetar. Roknya ia turunkan kembali ke tempatnya. Rambutnya acak-acakan, ia coba merapikan dengan jari. Dito memakai celananya kembali, kemejanya ia masukkan ke dalam celana.
1029Please respect copyright.PENANAnwQ1a7VVi6
Mereka berdiri saling berhadapan sebentar. Dito memegang tangan Sinta. “Kita harus pulang sekarang. Besok kita harus bisa bersikap normal di depan Arfan. Kamu bisa?”
1029Please respect copyright.PENANAjuBoUCY9QK
Sinta mengangguk lemah. “Aku… akan coba. Tapi… aku tidak tahu apakah aku bisa melupakannya.”
1029Please respect copyright.PENANAW4XRblwhgY
Dito mencium kening Sinta pelan. “Kamu tidak perlu melupakannya. Kita bisa ulangi kapan saja.”
1029Please respect copyright.PENANAT4ySF9TukW
Mereka mematikan komputer dan lampu meja. Ruangan kembali gelap kecuali cahaya dari koridor yang masuk melalui kaca pintu. Dito mengambil kunci cadangan yang tadi diberikan satpam dan mengunci pintu dari luar setelah mereka keluar.
1029Please respect copyright.PENANAVZfNqH5fTL
Aku di koridor sudah mundur ke tangga sejak tadi. Aku mendengar langkah mereka keluar dari ruangan. Aku cepat-cepat turun tangga pelan tapi cepat, keluar dari gedung praktik sebelum mereka melihatku. Aku lari pelan ke parkiran, naik ke motorku yang sudah dingin, dan menyalakannya.
1029Please respect copyright.PENANAsIHR6ODh6r
Dari kejauhan, di balik pohon dekat gerbang, aku melihat Dito dan Sinta keluar dari gedung. Dito menawarkan Sinta naik motornya. Sinta ragu sebentar, lalu naik di belakang Dito, tangannya memegang pinggang Dito. Motor Dito melaju keluar gerbang sekolah.
1029Please respect copyright.PENANATIheDPnsYF
Aku mengikuti dari kejauhan dengan motorku, jarak cukup jauh supaya tidak terlihat. Aku melihat Sinta duduk di belakang Dito, roknya naik sedikit, tangannya memegang pinggang Dito erat. Mereka berhenti sebentar di sebuah gang sepi sebelum sampai rumah Sinta. Aku melihat dari kejauhan Dito memutar badan dan mencium Sinta lama di motor. Tangan Dito meremas payudara Sinta sebentar melalui kemeja sebelum mereka melanjutkan perjalanan.
1029Please respect copyright.PENANAv5Uz2b8pi9
Aku tidak mengikuti sampai rumah Sinta. Aku berbalik dan pulang ke rumahku sendiri.
1029Please respect copyright.PENANA0gBAFzH8CS
Sampai di rumah, sudah larut malam. Ayah sudah tidur. Ibu masih menunggu sebentar lalu ikut tidur. Aku mandi lama di kamar mandi, mencoba membersihkan air mani yang mengering di tangan dan celana dalamku. Tapi gambar-gambar yang aku lihat malam itu tidak bisa hilang dari kepala.
1029Please respect copyright.PENANAzwq3gQT5wC
Aku berbaring di tempat tidurku dalam gelap. Penis ku masih sensitif. Setiap kali aku memejamkan mata, aku melihat lagi: Sinta naik-turun di atas Dito, vagina Sinta terbuka lebar, air mani Dito mengalir keluar, bokong Sinta ditampar, payudara Sinta dihisap, Sinta mengerang nama Dito berulang kali.
1029Please respect copyright.PENANAgUZFxeTPQV
Gambar Sinta yang telanjang setengah, vagina penuh air mani, bokong memerah karena ditampar, dan wajahnya yang penuh kenikmatan saat orgasme berulang kali… akan terus membayangiku.1029Please respect copyright.PENANAk1eRMGC0bM


