Malam itu hujan gerimis turun sangat pelan, hampir seperti kabut halus yang membasahi jalanan. Aku berdiri di depan cermin kamar kost yang sempit dan agak pengap. Namaku Vino. Dua puluh enam tahun. Sudah enam bulan ini aku bekerja di divisi pemasaran sebuah perusahaan swasta menengah di pinggir kota, dan selama enam bulan itu pula hidupku seolah berputar pelan-pelan mengelilingi satu orang: Alya.
3000Please respect copyright.PENANAnhuOSy3NQX
Aku masih ingat betul hari pertama Alya masuk ke kantor. Itu hari Senin yang biasa, tapi sejak saat itu tidak ada yang biasa lagi bagiku. Alya datang dengan blus putih lengan panjang yang agak ketat di bagian dada. Kainnya tipis, dan ketika dia tertawa kecil mendengar lelucon rekan kerja lain, payudaranya yang montok dan penuh bergoyang pelan di balik blus itu. Bentuknya bulat sempurna, seolah dua buah buah yang matang dan berat, terangkat indah oleh bra yang pasti tipis. Rok pensil hitamnya memeluk pinggulnya yang lebar dengan sangat rapat, memperlihatkan lekuk bokong yang bulat kencang setiap kali dia berjalan menuju meja kerjanya. Kakinya jenjang, mulus, dan ketika dia duduk, rok itu naik sedikit, memperlihatkan paha atas yang halus dan menggoda.
3000Please respect copyright.PENANAQdEZ1VNkFg
Kami diperkenalkan oleh atasan. “Vino, ini Alya, rekan baru di tim marketing. Alya, ini Vino, dia yang biasa handle desain visual.” Alya menoleh padaku, senyumnya lebar dan tulus. Matanya yang besar berwarna cokelat gelap menatapku langsung. “Halo, Vino. Senang bertemu kamu.” Suaranya lembut, agak serak pelan, membuat dadaku terasa hangat. Saat dia mengulurkan tangan untuk salaman, jari-jarinya hangat. Aku membalas dengan kaku, berusaha tidak menatap terlalu lama ke arah dadanya yang terangkat saat dia bernapas.
3000Please respect copyright.PENANA3eu0TZ5rWG
Sejak hari itu, setiap pagi aku datang lebih awal hanya untuk melihatnya masuk. Setiap kali dia berjalan melewati mejaku, aku memperhatikan bagaimana bokongnya yang kencang bergoyang pelan di balik rok atau celana jeans yang dia pakai. Setiap kali dia tertawa di meeting, payudaranya naik turun, dan aku harus menunduk pura-pura mencatat agar tidak ketahuan menatap. Suatu hari, saat lembur bersama sampai larut, kami berdua sendirian di ruang kerja. Alya duduk di sebelahku, bahunya hampir menyentuh bahuku. Dia cerita tentang mantan pacarnya yang sudah lama putus, tentang bagaimana dia sekarang lebih suka fokus ke karir dulu. Saat dia bicara, tangannya sesekali menyentuh lenganku secara tidak sengaja. Aku merasakan listrik kecil berlari di kulitku. Saat itu aku hampir mengatakan bahwa aku suka padanya. Tapi kata-kata itu tersangkut di tenggorokan. Takut. Takut jika aku bilang, persahabatan kecil yang sudah kami bangun akan hancur.
3000Please respect copyright.PENANAHiLsUoN8rt
Enam bulan berlalu seperti itu. Aku semakin dalam, tapi semakin diam. Alya tetap ramah, tetap tersenyum padaku setiap pagi, tetap mengajakku makan siang kadang-kadang. Tapi aku tahu, baginya aku mungkin hanya “Vino yang baik hati di kantor”.
3000Please respect copyright.PENANATUUM6S2B87
Jadi ketika pesan WA dari grup kantor muncul siang itu, hatiku berdegup sangat kencang sampai terasa sakit.
3000Please respect copyright.PENANAdL6t5qvgJw
“Alya: Teman-teman, besok malam aku ulang tahun yang ke-25. Aku buat acara kecil di apartemenku. Kalian yang mau datang silakan ya, bawa hadiah kalau bisa. Jangan lupa, Vino juga ya 😊”
3000Please respect copyright.PENANAGnXirxKv0o
Dia menyebut namaku secara spesial. Bukan di daftar, tapi langsung “Vino juga ya”. Aku membaca pesan itu berkali-kali. Jantungku seperti mau copot. Malam besok. Aku punya kesempatan untuk mendekatinya lebih jauh. Mungkin… mungkin malam itu aku bisa bilang sesuatu. Atau setidaknya menikmati satu malam penuh bersamanya tanpa harus pura-pura hanya teman kantor.
3000Please respect copyright.PENANA8VxB7vcQGx
Sepanjang sore aku gelisah. Pulang kerja lebih cepat dari biasanya. Di kamar kost, aku mandi lama sekali. Air hangat mengalir di tubuhku sementara pikiranku penuh dengan bayangan Alya. Aku membayangkan bagaimana dia akan berpakaian besok malam. Apakah dress? Apakah rok pendek? Apakah aku akan bisa melihat lebih jelas bentuk payudaranya yang montok, atau lekuk bokongnya yang bulat? Aku mengusap wajah dengan kasar. Bodoh. Jangan berpikir ke sana dulu. Malam ini aku harus fokus pada percakapan, pada kedekatan, bukan pada fantasi murahan.
3000Please respect copyright.PENANAW0fzkz2kCN
Aku keluar dari kamar mandi, berdiri telanjang di depan cermin. Tubuhku biasa saja — tidak berotot berlebihan, tapi cukup tegap. Aku memakai kemeja putih lengan panjang yang baru, celana jeans hitam yang pas, dan sepatu sneakers putih bersih. Lalu aku duduk di kasur, memikirkan hadiah. Aku sudah merencanakannya sejak siang. Aku pergi ke toko buku kecil di dekat kantor dan membeli novel fiksi yang Alya pernah sebutkan ingin dibaca suatu hari saat kami ngobrol di pantry. Lalu ke toko perhiasan kecil di mal, memilih kalung perak sederhana dengan liontin bintang kecil. Aku tidak tahu kenapa bintang. Mungkin karena matanya yang berbinar seperti bintang saat dia senang. Aku membungkusnya sendiri dengan kertas kado biru tua dan pita putih polos. Hadiah itu sekarang ada di tas kecil yang aku pegang erat-erat.
3000Please respect copyright.PENANApoTeRMX7q3
Perjalanan menuju apartemen Alya terasa sangat lama. Hujan gerimis masih turun. Motor ku melaju pelan di jalan yang mulai sepi. Pikiranku berputar-putar. Bagaimana jika ada banyak orang? Bagaimana jika ada pria lain yang lebih berani dariku? Bagaimana jika Alya hanya menganggapku teman baik dan tidak lebih? Tapi di sisi lain, ada harapan kecil yang hangat di dada. Dia menyebut namaku di pesan itu. Itu berarti sesuatu, kan?
3000Please respect copyright.PENANAgnxLdz2p4g
Sesampainya di gedung apartemen, aku memarkir motor di basement, naik lift ke lantai dua belas dengan tangan yang agak dingin karena gugup. Aku berdiri di depan pintu nomor 12B cukup lama sebelum menekan bel. Jantungku berdegup sangat kencang. Napasku agak tersengal. Akhirnya aku menekan.
3000Please respect copyright.PENANAEzg88qrKZ7
Pintu terbuka tidak lama kemudian.
3000Please respect copyright.PENANARaOKSJBYuj
Dan dunia seolah berhenti sebentar.
3000Please respect copyright.PENANAVNOYWvzNEc
Alya berdiri di ambang pintu dengan dress hitam ketat yang membuatku hampir lupa cara bernapas. Kainnya elastis dan tipis, memeluk tubuhnya seperti sarung tangan kedua. Lehernya berbentuk V yang dalam, sangat dalam, memperlihatkan belahan payudara yang lebar dan menggoda. Payudaranya yang montok dan berat terangkat indah oleh dress itu, seolah dua bukit lembut yang ingin meluber keluar. Ketika dia bernapas, belahan dadanya naik turun pelan, dan aku bisa melihat bayangan putingnya yang samar-samar di balik kain — sudah agak mengeras karena udara malam yang sejuk. Pinggangnya kecil, membuat lekuk pinggulnya yang lebar semakin jelas. Bokongnya yang bulat kencang terlihat sempurna di balik kain hitam itu; setiap kali dia bergeser sedikit, kain meregang dan memperlihatkan bentuknya yang padat dan menggoda. Dress itu berakhir di pertengahan paha, memperlihatkan kaki jenjangnya yang mulus, kulitnya bercahaya lembut di bawah cahaya lampu lorong. Paha dalamnya terlihat halus, dan ketika dia melangkah sedikit ke samping, aku bisa membayangkan betapa lembutnya kulit di sana.
3000Please respect copyright.PENANABkR4FC1FB5
“Vino!” serunya dengan suara girang yang membuat dadaku hangat. “Kamu datang juga! Aku senang banget!”
3000Please respect copyright.PENANAFeWVHBEGW2
Dia langsung memelukku erat tanpa ragu sedikit pun. Aku merasakan payudaranya yang penuh dan lembut menekan dadaku dengan kuat. Kehangatan tubuhnya merambat melalui kain kemejaku. Aroma parfumnya yang manis — sedikit floral dengan sentuhan vanilla — memenuhi hidungku. Pelukan itu berlangsung lama, sangat lama. Tangan kanannya berada di punggungku, tangan kirinya di bahuku. Aku bisa merasakan napasnya yang hangat di dekat telingaku. Payudaranya yang montok tertekan di dadaku, bentuknya yang lembut namun kencang terasa jelas. Aku membalas pelukan itu dengan hati-hati, tanganku menyentuh punggungnya yang hampir telanjang — dress itu memang backless rendah, hanya ada tali tipis yang melintang di punggungnya yang mulus. Kulitnya hangat dan halus di bawah jari-jariku.
3000Please respect copyright.PENANAJFsffVX3lU
“Kamu terlambat sedikit,” gumamnya di dekat telingaku, suaranya agak serak karena senang. “Aku sudah mulai khawatir kamu tidak datang.”
3000Please respect copyright.PENANAlh4CEuOYpP
“Aku tidak akan melewatkan ulang tahunmu, Alya,” jawabku dengan suara yang agak serak. “Selamat ulang tahun yang ke-25. Kamu… kamu sangat cantik malam ini. Dress ini… pas sekali di badanmu.”
3000Please respect copyright.PENANAirwQXmJUUv
Dia melepaskan pelukan pelan-pelan, tapi tangannya masih berada di lenganku sebentar. Pipinya agak merona. Matanya yang besar menatapku dengan lembut. “Terima kasih, Vino. Kamu juga tampan. Masuklah, jangan berdiri di luar.”
3000Please respect copyright.PENANAMCiqnIYyxf
Aku mengikuti dia masuk. Apartemennya sudah dihias sederhana tapi hangat. Balon-balon warna pastel menggantung di langit-langit ruang tamu. Spanduk “Happy 25th Birthday Alya” terpasang di dinding. Meja makan penuh dengan makanan ringan, kue tart cokelat yang masih utuh, dan beberapa botol minuman. Ada sekitar sepuluh orang sudah hadir — sebagian rekan kantor yang kukenal, sebagian lagi wajah baru yang mungkin teman lama Alya.
3000Please respect copyright.PENANAgAx10jZn8C
Aku menyerahkan hadiah. Alya membukanya di depanku dengan antusias seperti anak kecil yang mendapat kado. Pertama novelnya. Matanya berbinar terang. “Wah… ini yang aku ceritakan waktu itu! Kamu ingat ya, Vino. Kamu benar-benar memperhatikan.” Lalu dia membuka kotak kecil kalungnya. Dia diam sebentar, jari-jarinya menyentuh liontin bintang kecil itu dengan lembut. “Ini… cantik sekali. Kamu pilih sendiri?”
3000Please respect copyright.PENANAxxSfcYXD8Z
“Iya,” jawabku jujur. “Aku pikir… cocok dengan kamu.”
3000Please respect copyright.PENANAG5Jl8o1Xbe
Dia menatapku lebih lama dari biasanya. Ada sesuatu di matanya yang membuat jantungku berdegup lebih kencang. “Kamu baik banget, Vino. Terima kasih.”
3000Please respect copyright.PENANAtJMOCef9OA
Dia memelukku lagi sebentar, lebih singkat kali ini, tapi tetap membuat payudaranya menekan dadaku. Aku merasakan kehangatan itu meresap dalam-dalam.
3000Please respect copyright.PENANAFWVQSjSC8z
Kami duduk di sofa sudut ruangan yang agak sepi. Alya menyilangkan kakinya dengan anggun. Dress hitamnya naik sedikit di paha, memperlihatkan kulit mulus yang halus. Aku duduk di sebelahnya, jaraknya dekat tapi tidak terlalu dekat. Kami ngobrol panjang sekali. Topiknya mengalir alami. Pertama tentang pekerjaan — proyek yang sedang kami kerjakan bersama, bagaimana atasan kadang terlalu strict. Lalu Alya bercerita tentang keluarganya di kota lain, tentang ibunya yang selalu khawatir dia belum punya pacar di usia dua puluh lima. Aku mendengarkan dengan seksama, sesekali menyela dengan pertanyaan kecil supaya dia terus bicara. Suaranya yang lembut dan agak serak itu membuatku betah mendengar berjam-jam.
3000Please respect copyright.PENANAluLgUuaOHl
Suatu saat, saat dia tertawa karena cerita lucu tentang masa kuliahnya, tangannya secara tidak sengaja menyentuh lenganku dan tinggal di sana beberapa detik. Aku merasakan kehangatan jarinya di kulitku. Payudaranya bergoyang pelan saat dia tertawa, belahan dadanya yang dalam terlihat jelas dari sudut pandangku. Aku harus berusaha sangat keras untuk menjaga pandangan tetap di wajahnya, bukan di dadanya.
3000Please respect copyright.PENANAEUl3j6UB3A
“Vino,” katanya tiba-tiba dengan suara lebih pelan, “kamu tahu tidak, aku senang sekali kamu datang malam ini. Kamu… kamu selalu membuatku merasa nyaman. Beda dengan yang lain.”
3000Please respect copyright.PENANAbSCRt1KdRA
Aku menatapnya. Jantungku berdegup sangat kencang. Ini saatnya? Apakah aku harus bilang sesuatu sekarang? Tapi kata-kata itu masih tersangkut. “Aku juga senang, Alya. Kamu… spesial buat aku.”
3000Please respect copyright.PENANA6rAEBgBbgX
Dia tersenyum lembut, matanya berbinar. Tangan nya menyentuh lenganku lagi, kali ini lebih lama. “Kamu juga spesial buat aku.”
3000Please respect copyright.PENANAnSAZsqAT61
Kami diam sebentar, tatapan saling bertemu. Ada ketegangan manis di udara, hangat dan penuh kemungkinan. Aku hampir mengatakan “Alya, aku suka kamu” ketika bel pintu berbunyi lagi.
3000Please respect copyright.PENANAAVE8Lo924R
Beberapa rekan kantor masuk. Mereka menyapa Alya dengan pelukan dan pujian. “Wah Alya, cantik banget malam ini. Badanmu makin seksi aja,” kata salah satu rekan wanita sambil tertawa. Alya hanya tersenyum malu. Aku memperhatikan dari sofa, melihat bagaimana Alya berinteraksi dengan mereka — ramah, tertawa, tapi matanya sesekali melirik ke arahku, seolah memastikan aku masih di sana.
3000Please respect copyright.PENANAfB5ZFy2ZzF
Kemudian, sekitar pukul sembilan, bel pintu berbunyi lagi. Empat orang pria masuk bersama. Tinggi, berpenampilan rapi, dengan aura percaya diri yang kuat. Alya langsung berdiri dan menyambut mereka dengan antusias.
3000Please respect copyright.PENANA7a1YVFwpHr
“Rangga! Fadil! Dion! Keanu! Kalian datang juga!”
3000Please respect copyright.PENANAjhYOIbJ2sX
Aku mengamati dari kejauhan. Rangga — pria paling tinggi dengan bahu lebar — memeluk Alya lebih lama dari yang lain. Tangan kirinya berada di pinggang Alya, jari-jarinya hampir menyentuh sisi bokongnya yang bulat. Dia mencium pipi Alya dengan cara yang terlalu akrab. “Kamu semakin cantik setiap tahunnya, Alya. Dress ini… wow. Payudaramu kelihatan lebih montok dan enak dilihat.”
3000Please respect copyright.PENANA0ea7uu3Hwz
Alya tertawa sambil memukul lengan Rangga pelan. “Kamu ini selalu bisa bikin aku malu.”
3000Please respect copyright.PENANALLRoJIWSCD
Alya memperkenalkan mereka padaku. “Vino, ini teman-teman lama aku dari kampus. Rangga… mantan pacarku dulu. Tapi sekarang sudah baik-baik aja. Fadil, Dion, dan Keanu sahabatnya.”
3000Please respect copyright.PENANASrWjXSh9d8
Mereka semua menyapa aku dengan ramah, tapi ada sesuatu di mata Rangga saat dia melihat Alya yang membuat perutku terasa tidak enak. Mereka tampak sangat akrab. Saat Alya tertawa dengan mereka, tubuhnya bersandar ke sofa, payudaranya terangkat, bokongnya menekan bantal sofa dengan cara yang menggoda. Aku merasa seperti orang luar yang mengamati.
3000Please respect copyright.PENANAAkkov8gFAX
Pesta berlanjut. Musik diputar. Beberapa orang menari. Alya ikut menari beberapa kali. Pertama dengan rekan kantor wanita. Tubuhnya bergerak luwes, dress hitam berayun, payudaranya bergoyang pelan, bokongnya yang kencang terlihat saat dia berputar. Aku menonton dari dekat dinding, segelas bir di tangan. Setiap gerakan Alya membuatku semakin tegang.
3000Please respect copyright.PENANAsolf22ToO2
Kemudian Rangga mengajaknya menari. Mereka berdua di tengah ruangan. Tubuh mereka dekat. Tangan Rangga di pinggang Alya, jari-jarinya kadang turun lebih rendah, hampir menyentuh bokongnya. Alya tertawa dan mengikuti gerakan, pinggulnya bergoyang dekat dengan pinggul Rangga. Aku merasakan cemburu yang membakar, tapi juga ada panas aneh di tubuhku yang tidak bisa kuabaikan. Aku membayangkan bagaimana rasanya jika aku yang menari dengan Alya, tanganku yang menyentuh pinggang kecilnya, payudaranya yang montok yang mungkin akan menekan dadaku.
3000Please respect copyright.PENANAOTNByFz9Af
Kemudian Fadil bergabung. Sekarang Alya diapit oleh dua pria tinggi itu. Tubuhnya bergoyang di antara mereka. Tangan Fadil di bahu Alya, kadang turun ke lengan, kadang menyentuh sisi pinggulnya. Alya tampak menikmati. Matanya setengah tertutup, senyum nakal di bibir montoknya. Aku berdiri diam, jantungku sakit, tapi mataku tidak bisa berpaling.
3000Please respect copyright.PENANA6JxQLR1pLO
Waktu berlalu. Beberapa tamu mulai pamit. Pukul sebelas malam, apartemen sudah sepi. Yang tersisa hanya aku, Alya, Rangga, Fadil, Dion, dan Keanu.
3000Please respect copyright.PENANAHoreOxqEBf
Alya duduk di sofa, agak mabuk — pipinya merona, matanya berkaca-kaca, tapi senyumnya masih lebar. Kepalanya bersandar di bahu Rangga. “Malam ini seru sekali… terima kasih kalian semua sudah datang. Aku senang banget.”
3000Please respect copyright.PENANAEmMHQ5onvR
Rangga memeluk bahunya dengan santai, tangannya berada di sisi payudara Alya yang montok. “Masih ada satu hadiah lagi untukmu, Alya. Hadiah spesial dari kami. Di kamar kamu.”
3000Please respect copyright.PENANAwIRcTKHu8q
Alya mengangkat kepala, menatap Rangga dengan mata setengah tertutup. “Apa itu?”
3000Please respect copyright.PENANAUxBh6Sh5oi
“Kamu harus lihat sendiri,” jawab Fadil sambil tersenyum tipis.
3000Please respect copyright.PENANAztZbgUOcRV
Alya berdiri dengan sedikit goyah. Dressnya agak berantakan, belahan dadanya lebih terbuka, payudaranya yang montok hampir terlihat putingnya yang sudah mengeras. “Oke… ayo kita lihat. Kalian semua ikut.”
3000Please respect copyright.PENANAgYZwhLmYiX
Dia menoleh ke arahku. Matanya yang berkaca-kaca karena alkohol dan sesuatu yang lain bertemu dengan mataku. Ada undangan di sana, ada hasrat yang samar, ada juga rasa malu yang tipis. “Vino… kamu ikut ya? Jangan pulang dulu. Aku ingin kamu ada di sini malam ini.”
3000Please respect copyright.PENANAEeEHAmqmnn
Aku mengangguk pelan, meski perutku bergejolak dengan campuran emosi yang sangat kuat — cemburu, sakit hati, dan panas yang tidak bisa dijelaskan. Aku mengikuti mereka menuju kamar tidur Alya.
3000Please respect copyright.PENANAd7aAERtYxZ
Kamar itu luas, dengan tempat tidur king size di tengah. Lampu tidur redup sudah dinyalakan. Bau parfum Alya terasa lebih kuat di sini. Alya berdiri di tengah kamar, menatap keempat pria itu dengan senyum yang semakin nakal — senyum yang belum pernah kulihat sebelumnya di kantor.
3000Please respect copyright.PENANAM9Mdc3Et0i
“Jadi… apa hadiah spesialnya?” tanyanya dengan suara agak serak.
3000Please respect copyright.PENANA0lLobECAwz
Rangga mendekat dari belakang dengan sangat pelan. Tangan kirinya merayap ke pinggang Alya yang kecil, lalu naik perlahan menyusuri sisi tubuhnya yang hangat hingga ke bawah payudaranya yang montok. Jari-jarinya menyentuh sisi payudara itu dengan lembut melalui kain dress. “Kami semua ingin membuatmu merasa sangat spesial malam ini, Alya,” bisiknya di telinga Alya. “Seperti dulu… tapi lebih banyak. Kamu setuju?”
3000Please respect copyright.PENANAWVIaPz9P37
Alya mengerang pelan saat jari Rangga menyentuh bagian bawah payudaranya. “Rangga… kita sudah lama tidak…”
3000Please respect copyright.PENANA2ddqncsEJA
“Tapi kamu masih seksi seperti dulu,” jawab Rangga sambil mencium leher Alya yang mulus pelan-pelan. “Bahkan lebih seksi. Badanmu ini… bikin kami semua gila.”
3000Please respect copyright.PENANAGCmTufSyEN
Fadil mendekat dari depan, berdiri sangat dekat dengan Alya. Tangan kanannya menyentuh paha Alya yang jenjang dan mulus, naik perlahan ke bawah dress, menyusuri kulit halusnya dengan jari-jari yang pelan. “Kamu ingat kan, dulu kita pernah bermain bersama… sekarang kita bisa bermain lebih bebas. Kamu mau, Alya?”
3000Please respect copyright.PENANAfFyXsuFzdn
Alya tidak menjawab dengan kata-kata. Tapi ketika Fadil mencium pipinya dekat bibir, dia tidak menjauh. Napasnya semakin cepat. Payudaranya naik turun lebih cepat di balik dress hitam. Putingnya yang sudah mengeras terlihat semakin jelas di balik kain tipis.
3000Please respect copyright.PENANALM79oC4g1w
Rangga mulai menurunkan resleting dress Alya dari belakang dengan sangat pelan, hampir menyiksa. Zipper itu turun inci demi inci, memperlihatkan kulit punggung Alya yang mulus dan hangat. Alya tidak menghentikannya. Malah dia bersandar ke tubuh Rangga, membiarkan pria itu mencium lehernya lebih dalam.
3000Please respect copyright.PENANAAFBNRrn9U2
Aku berdiri di ambang pintu yang tidak sepenuhnya tertutup, napasku tersengal, tubuhku tegang luar biasa. Aku melihat Alya — gadis yang sudah kucintai diam-diam selama enam bulan — sekarang dikelilingi oleh mantan dan teman-temannya, dan dia tampak tidak menolak. Malah ada senyum kecil di bibir montoknya, ada hasrat di matanya yang setengah tertutup.
3000Please respect copyright.PENANAjauFFM4XWs
Rangga membuka resleting sampai bawah. Kain dress hitam itu longgar di tubuh Alya. Dengan pelan, Rangga menariknya turun dari bahu Alya. Dress itu jatuh ke lantai dengan suara pelan, terkumpul di kaki Alya yang jenjang.
3000Please respect copyright.PENANA3gDCCAytT2
Sekarang Alya hanya berdiri dengan bra hitam tipis dan celana dalam kecil matching yang hampir tidak menutupi apa-apa. Payudaranya yang besar dan indah terangkat penuh, puting cokelatnya sudah sangat mengeras terlihat jelas di balik kain tipis bra. Bokongnya yang bulat sempurna terbuka lebar, hanya ditutupi sedikit oleh celana dalam yang masuk ke sela bokongnya yang dalam. Vaginanya yang montok sudah terlihat basah di pinggir celana dalam — ada noda lembap kecil yang jelas. Kakinya yang jenjang dan mulus sedikit gemetar.
3000Please respect copyright.PENANAoL2T1isdXW
Alya menoleh ke arah pintu. Matanya yang berkaca-kaca karena nafsu dan alkohol bertemu dengan mataku. Ada rasa malu yang samar di sana, tapi juga hasrat yang tak terbantahkan. Dia tidak meminta aku pergi. Dia tidak menutup pintu. Seolah dia membiarkanku melihat semuanya… atau bahkan mengundangku untuk tetap di sana.
3000Please respect copyright.PENANAXaGJg8BEz9
“Alya,” bisik Rangga dengan suara rendah dan serak di telinga Alya, “aku boleh buka ini? Aku ingin lihat payudaramu yang besar dan montok ini terbebas. Sudah lama aku tidak melihatnya… dan sekarang Vino juga ada di sini. Kamu tidak keberatan, kan?”
3000Please respect copyright.PENANAQu0tRaAmXf
Alya menggigit bibir bawahnya yang montok. Napasnya sudah tersengal, dada naik turun cepat sehingga belahan payudaranya yang dalam semakin jelas terlihat. Ia menoleh sedikit ke arah pintu, matanya yang berkaca-kaca karena nafsu dan sedikit alkohol bertemu dengan mataku. Ada rasa malu yang tipis di sana, tapi juga sesuatu yang lebih gelap — hasrat yang tak bisa disembunyikan.
3000Please respect copyright.PENANANjymAGRkb0
“Iya…” jawabnya pelan, suaranya agak bergetar. “Buka… Rangga. Aku… aku tidak keberatan.”
3000Please respect copyright.PENANA7HwXfcdsVZ
Rangga tertawa kecil, puas. Dengan gerakan yang sengaja lambat, ia membuka kait bra itu. Suara “klik” kecil terdengar di ruangan yang sepi. Kain tipis hitam itu longgar seketika. Rangga menarik tali bra dari bahu Alya dengan sangat pelan, seolah menyiksa. Bra itu jatuh ke lantai tanpa suara.
3000Please respect copyright.PENANAUn162E6uI0
Payudara Alya yang montok dan berat langsung terbebas sepenuhnya.
3000Please respect copyright.PENANAxHvi8pcIpa
Aku menahan napas di ambang pintu. Payudaranya jauh lebih indah dari yang kubayangkan selama enam bulan ini. Dua buah dada penuh, bulat sempurna, dengan kulit putih mulus yang sedikit kemerahan karena panas nafsu. Putingnya cokelat tua, besar, dan sudah sangat mengeras — menonjol keluar dengan tegas, seolah mengundang untuk disentuh. Saat Alya bernapas cepat, payudaranya bergoyang pelan, beratnya yang lembut membuatnya sedikit jatuh ke bawah sebelum terangkat lagi. Areola-nya lebar dan gelap, kontras indah dengan kulit putih payudaranya.
3000Please respect copyright.PENANAkrjz7bf1P3
Rangga langsung meraih kedua payudara itu dari belakang dengan tangan besarnya. Jari-jarinya meremas kuat, daging lembut payudara Alya terdesak keluar di sela jari. Ia mengangkatnya sedikit, memperlihatkan betapa berat dan penuhnya.
3000Please respect copyright.PENANAmSlrpaVP6n
“Fuck… lihat ini, Vino,” kata Rangga dengan suara kasar, matanya menatap ke arahku di pintu. “Payudara Alya sebesar dan selembut ini. Putingnya sudah keras banget. Kamu lihat kan? Selama ini kamu diam-diam suka lihat payudaranya di kantor, ya? Sekarang lihat baik-baik.”
3000Please respect copyright.PENANAqqCdFfk2kn
Alya mengerang pelan saat Rangga meremas lebih kuat, ibu jarinya memutar puting kiri Alya dengan kasar tapi terkontrol. “Ahh… Rangga… jangan… terlalu kasar…”
3000Please respect copyright.PENANAA4vzooLAbO
Tapi tubuhnya justru mendorong ke belakang, bokong bulatnya bergesekan dengan selangkangan Rangga.
3000Please respect copyright.PENANAppDQNK30Zj
Fadil yang masih berlutut di depan Alya tersenyum nakal. Tangan keduanya naik ke pinggul Alya, jari-jarinya mencengkeram pinggiran celana dalam kecil hitam itu. Ia menariknya turun dengan sangat pelan, inci demi inci, memperlihatkan kulit halus perut bawah Alya, lalu tulang pinggul yang indah, dan akhirnya…
3000Please respect copyright.PENANADACUGrfQ69
Vagina Alya yang sudah benar-benar basah terlihat.
3000Please respect copyright.PENANAgReILaiJ6o
Bibir vagina Alya montok dan halus, sedikit berwarna merah muda gelap karena terangsang. Celana dalamnya sudah basah kuyup di bagian tengah, ada noda bening yang mengkilap. Saat Fadil menarik celana dalam sampai ke lutut Alya, seutas cairan bening tipis terlihat menghubungkan bibir vagina Alya dengan kain dalam itu sebelum putus. Vagina Alya sudah mengembang sedikit, klitorisnya yang kecil tapi bengkak terlihat jelas di atas, mengkilap karena cairan. Lubang vagina Alya berkedut pelan, seolah mengundang untuk dimasukkan sesuatu.
3000Please respect copyright.PENANAnkPp0FYFDR
Fadil menghela napas kasar. “Lihat ini… vagina Alya sudah basah mengkilap. Bau harumnya… manis. Kamu suka dilihat Vino, Alya?
3000Please respect copyright.PENANAc3s2ictp08
Alya menggigit bibir lebih keras, pipinya merona merah. Ia menatapku lagi, matanya setengah tertutup. Suaranya keluar pelan, malu tapi jujur.
3000Please respect copyright.PENANAdCSSbereey
“…Iya,” gumamnya.
3000Please respect copyright.PENANA2tEF5ZJktt
Fadil tertawa pelan, puas. Ia tidak langsung menjilat. Malah ia meniup pelan ke arah klitoris Alya yang bengkak. Alya menggigil, kakinya yang jenjang sedikit gemetar.
3000Please respect copyright.PENANAtQxVfPDBfl
“Kamu jujur sekali, Alya. Bagus,” puji Fadil. Lalu ia menjulurkan lidahnya yang panjang dan merah, dengan sangat pelan menjilat dari bawah ke atas — mulai dari lubang vagina Alya yang basah, naik menyusuri bibir vagina montoknya, lalu berhenti di klitoris yang bengkak. Ia menekan lidahnya di sana, memutar pelan.
3000Please respect copyright.PENANAyVg4dflfRD
“Ahhh—!” Alya mengerang lebih keras, kepalanya terlempar ke belakang, bersandar di bahu Rangga. Payudaranya yang montok terangkat tinggi, putingnya semakin mengeras di antara jari Rangga yang terus memainkan.
3000Please respect copyright.PENANApNCe709LAH
Rangga mencium leher Alya, lalu berbisik sambil terus meremas payudaranya. “Bagus, Alya. Nikmati. Biarkan Vino lihat kamu seperti ini. Biarkan dia lihat betapa enaknya kamu saat dijilat. Kamu suka, ya?
3000Please respect copyright.PENANAzLLvggSeuD
Alya tidak bisa menjawab dengan kata. Ia hanya mengerang lagi saat Fadil mulai menjilat lebih cepat, lidahnya menekan dan memutar klitoris Alya dengan ritme yang tepat. Tangan Fadil naik, satu jari menyentuh lubang vagina Alya yang basah, lalu pelan-pelan mendorong masuk satu ruas jari.
3000Please respect copyright.PENANASijDK8VYhb
Alya tubuhnya melengkung. “Ahh… Fadil… jari mu… masuk… ahh—”
3000Please respect copyright.PENANAdZhhwCZN2X
“Basah sekali,” gumam Fadil di antara jilatan. “Vagina mu mengisap jari ku. Kamu sangat sensitif malam ini. Karena Vino ada di sini?”
3000Please respect copyright.PENANAhDBPGdRvFk
Alya menatapku lagi. Matanya berkaca-kaca, bibirnya terbuka, napasnya tersengal. Ia mengangguk pelan, malu tapi jujur.
3000Please respect copyright.PENANATZM6xtuWhD
Fadil mendorong jarinya lebih dalam, lalu menarik keluar, lalu masuk lagi dengan ritme lambat tapi dalam. Sementara itu lidahnya tidak berhenti menjilat dan mengisap klitoris Alya. Cairan bening Alya mengalir lebih banyak, membasahi dagu Fadil dan paha dalam Alya yang mulus.
3000Please respect copyright.PENANAeCATZUQaoi
Rangga memainkan kedua puting Alya sekarang — memutar, menjepit pelan, menarik sedikit. Payudara Alya yang montok berubah bentuk di tangannya, daging lembutnya terdesak dan terangkat.
3000Please respect copyright.PENANA2mwY0Wfsrx
“Kamu lihat, Vino?” kata Rangga dengan suara kasar, matanya menatapku tanpa malu. “Payudara Alya ini enak sekali dipegang. Berat, lembut, putingnya keras. Kamu selama ini hanya bisa lihat dari jauh di kantor, sekarang lihat baik-baik. Kami yang mainkan.”
3000Please respect copyright.PENANA0xAfhdDeBd
Alya mengerang lebih keras lagi. Tubuhnya bergoyang pelan mengikuti jari Fadil yang masuk-keluar dan lidah yang terus menjilat. Kakinya yang jenjang mulai gemetar hebat. Bokongnya yang bulat menekan ke depan, mencari lebih banyak kontak dengan lidah Fadil.KELANJUTANNYA DI LINK 🔗 DIBAWAK INI https://lynk.id/time47
ns216.73.216.253da2


