Aku bernama Raka, dua puluh tiga tahun, mahasiswa semester akhir Teknik Sipil di universitas negeri kota ini. Hidupku dulu biasa saja—kuliah, kerja paruh waktu di kafe dekat kampus, dan sesekali main futsal dengan teman kos. Semua berubah sejak pertemuan tak sengaja di perpustakaan fakultas.
392Please respect copyright.PENANAtW3Hi6zQPO
Hari itu aku sedang duduk di meja pojok, buku tebal terbuka di hadapanku, ketika seorang gadis mendekat dengan langkah pelan. Rambut hitam panjangnya tergerai lurus sampai pinggang, sedikit berkilau di bawah cahaya lampu neon. Wajahnya oval sempurna, kulit putih bersih seperti susu, mata cokelat besar yang terlihat cerdas sekaligus pemalu, bibir bawah penuh dan berwarna merah muda alami. Dia memakai kemeja putih lengan panjang yang agak ketat di dada, memperlihatkan bentuk payudara montok yang proporsional, serta rok panjang hitam yang sedikit terbuka di samping saat dia berjalan, memperlihatkan kulit paha mulus yang jenjang.
392Please respect copyright.PENANACLQjhV8809
“Permisi… tempat ini kosong?” tanyanya dengan suara lembut, hampir seperti bisikan.
392Please respect copyright.PENANAKs2KtHlQoa
“Ada, silakan,” jawabku sambil memindahkan tas.
392Please respect copyright.PENANARX5Nd95qyM
Dia duduk di seberang. Kami mulai berbicara pelan agar tidak mengganggu yang lain. Namanya Alya, dua puluh tahun, mahasiswi Pendidikan Bahasa Indonesia. Kami mengambil mata kuliah pilihan yang sama semester ini. Percakapan mengalir begitu natural—dari keluhan tentang dosen yang suka memberi tugas mendadak, sampai kehidupan di luar kampus.
392Please respect copyright.PENANAUgk9aBUpxn
Alya bercerita dengan jujur. Ayahnya meninggal tiga tahun lalu karena penyakit jantung. Sejak itu ia dan ibunya, Ibu Laila, tinggal berdua di rumah dua lantai di pinggiran kota. “Ibu ku bekerja sebagai guru honorer di SMA swasta. Kadang pulang sore, kadang malam kalau ada rapat. Rumahnya besar, tapi terasa… sepi,” katanya sambil menatap meja.
392Please respect copyright.PENANAyzXOvEbrLi
Aku mendengarkan sungguhan. Bukan pura-pura. Ada sesuatu dalam cara Alya bicara—tenang, dewasa, tapi ada kerapuhan halus yang membuatku ingin melindungi. Kami bertukar nomor sebelum perpustakaan tutup. Sejak hari itu, chat kami tidak pernah putus.
392Please respect copyright.PENANAuZOFKrg83R
Minggu-minggu berikutnya terasa seperti mimpi lambat yang indah. Kami belajar bersama di taman kampus, makan siang di kantin, jalan sore di sekitar danau buatan. Setiap kali aku melihatnya, detail tubuhnya semakin jelas terukir di benakku. Payudaranya yang montok naik turun pelan saat dia tertawa lepas. Pinggangnya kecil, bisa ku peluk dengan satu tangan. Bokongnya bulat dan kenyal, terlihat samar di balik rok atau celana jeans yang pas. Kakinya jenjang, mulus, sering kali terlihat ketika dia duduk bersila di rumput.
392Please respect copyright.PENANAJhOQOQMmKa
Suatu sore di taman, setelah hampir sebulan berteman dekat, aku memberanikan diri.
392Please respect copyright.PENANAs6CzqRTVCm
“Alya,” panggilku pelan, “aku suka sama kamu. Bukan cuma sebagai teman belajar.”
392Please respect copyright.PENANAZ4VFu9j9My
Dia menunduk, pipi merona merah muda. Jari-jarinya memetik ujung rumput. “Aku juga… mulai merasa begitu, Raka. Kamu berbeda. Kamu mendengarkan aku beneran.”
392Please respect copyright.PENANAU8y3rtWEXs
Malam itu aku mengantarnya pulang. Di depan pagar rumahnya yang tinggi dan sepi, di bawah cahaya lampu jalan yang redup, kami berciuman pertama kali. Ciuman itu lembut, ragu-ragu, tapi penuh rasa. Bibirnya hangat dan manis. Lidahku menyentuh bibir bawahnya, dia membuka sedikit, lidah kami bertautan pelan. Tangan ku memeluk pinggang rampingnya, merasakan kehangatan kulit di balik kemeja. Tangan nya naik ke dadaku, meremas pelan. Kami berciuman lama sekali, napas tersengal ketika akhirnya berpisah.
392Please respect copyright.PENANAanmBosTjz8
“Pertama kalinya aku berciuman seperti ini,” bisiknya, dahi bersandar di dadaku.
392Please respect copyright.PENANARrRDVMBHKc
“Aku juga akan pelan-pelan,” jawabku.
392Please respect copyright.PENANAy3gfROjuR2
Sejak saat itu kami resmi pacaran. Alya mulai mengajakku ke rumahnya. Ibu Laila menyambut ramah. Ibu Laila—empat puluh dua tahun, janda yang masih sangat cantik. Wajahnya memiliki garis halus yang justru menambah daya tarik matang. Rambut hitam pendek bergelombang, mata besar seperti Alya tapi lebih dalam. Tubuhnya lebih berisi dan matang: payudara lebih besar dan berat, pinggul lebar, bokong montok yang terlihat jelas di balik daster tipis rumah yang sering ia pakai. Kadang ketika ia membungkuk mengambil sesuatu di meja, belahan dadanya yang dalam terlihat sekilas. Aku selalu mengalihkan pandangan cepat, fokus ke Alya. Tapi benih ketertarikan pada tubuh matang itu sudah tertanam diam-diam.
392Please respect copyright.PENANAcKCVeY8pFV
Suatu sore Alya mengirim pesan: “Ibu ku ada rapat sampai malam. Mau datang? Aku masak nasi goreng spesial.”
392Please respect copyright.PENANAJUgKfJ62Fx
Aku datang dengan hati berdebar kencang. Alya membuka pintu memakai kaos ketat putih tanpa bra dan celana pendek rumah hitam yang sangat pendek. Payudaranya montok terlihat jelas, puting sedikit menonjol di balik kain tipis. Kami makan di meja dapur sambil ngobrol ringan, tapi udara terasa berat oleh hasrat yang terpendam.
392Please respect copyright.PENANAPt6gVMJ8VC
Setelah makan, kami pindah ke sofa ruang tamu. Lampu hanya menyala satu, redup. Alya duduk di pangkuanku menghadap. Kami berciuman lagi—kali ini lebih dalam, lebih lapar. Lidahku menjelajah mulutnya, menghisap bibir bawahnya kuat-kuat. Tangan ku menyusuri punggungnya, turun ke bokong bulat yang empuk. Aku meremas dua belahan itu pelan, Alya mengerang kecil ke dalam mulutku.
392Please respect copyright.PENANAVH0pzcSgP0
“Boleh aku buka kaosmu?” tanyaku bisik di telinganya.
392Please respect copyright.PENANAFM12ka4jDV
“Ya… aku mau kamu lihat,” jawabnya dengan napas panas.
392Please respect copyright.PENANAUn64N04gIj
Aku angkat kaosnya perlahan. Payudaranya terbebas—montok, bulat sempurna, puting cokelat muda sudah tegak keras seperti kacang. Kulitnya halus, sedikit beraroma sabun mandi. Aku memandang beberapa detik, kagum. “Cantik sekali, Alya. Payudara mu seperti ini… membuatku gila setiap kali melihat bayangannya di balik baju.”
392Please respect copyright.PENANA8O3lqm5IpO
Aku mendekat, mulutku menangkap puting kiri. Aku hisap pelan, lidah melingkar di sekitar areola, kemudian menghisap lebih kuat. Alya mendesah panjang “Ahh… Raka… rasanya… aneh… tapi enak sekali…” Tangan ku meremas payudara kanan, jari menjepit putingnya pelan. Aku ganti sisi, hisap lebih lama, membuat puting basah berkilat oleh air liurku. Alya menggesek pinggulnya ke pangkuanku, merasakan kontolku yang sudah keras membengkak di balik celana jeans.
392Please respect copyright.PENANAX5Q3qGGO1z
Aku bawa dia ke kamarnya di lantai dua. Kamar itu rapi, tempat tidur besar dengan sprei putih bersih, aroma vanilla samar dari lilin yang pernah dinyalakan. Kami berbaring. Aku di atasnya sebentar, lalu berganti. Aku buka celana pendeknya pelan, tarik celana dalam putih kecilnya dengan gigi. Vaginanya terbuka di depan mata ku—bibir luar montok dan halus, tanpa bulu sama sekali, dalamnya pink mengkilap sudah basah mengalir tipis. Klitoris kecil tapi sudah bengkak. Bau harum alami, manis dan menggoda.
392Please respect copyright.PENANAq8AGW0ixm7
“Kamu sangat cantik di sini juga,” kataku pelan sambil mencium paha dalamnya yang mulus.
392Please respect copyright.PENANAmXv5rv3Leu
Aku mulai menjilat perlahan dari bawah ke atas, lidahku meratakan, merasakan tekstur lembut dan basah. Alya mengerang keras “Ahhh… Raka… pertama kali… rasanya… panas…” Aku fokus ke klitoris, hisap pelan lalu cepat, lidah melingkar seperti sedang memainkan permen. Satu jari ku masukkan ke dalam vagina—hangat, sempit sekali, otot dalamnya langsung berkontraksi menyambut. Aku gerakkan jari pelan, mencari titik sensitif di dinding depan. Alya tubuhnya melengkung “Di situ… ahh… lebih dalam, Raka…”
392Please respect copyright.PENANAE18Fld3mxA
Aku masukkan jari kedua, pompa perlahan sambil terus menghisap klitoris. Cairan cintanya semakin deras, membasahi dagu dan tanganku. “Kamu basah sekali untukku, sayang.”
392Please respect copyright.PENANAnQH7iHmsE3
“Karena kamu… ahh… Raka… aku… aku mau keluar…”
392Please respect copyright.PENANAEV4SNJoYny
Tubuhnya tiba-tiba kaku, kakinya menekan kepalaku kuat, vagina berkedut hebat di sekitar jari-jari ku. Cairan semprot tipis keluar, tubuhnya gemetar hebat. “Ahhh… Raka…!” Orgasm pertama Alya bersamaku—panjang, indah, membuatnya lemas total.
392Please respect copyright.PENANA39coBx3qBv
Aku naik, cium bibirnya dalam-dalam, biarkan dia mencicipi sendiri cairannya yang manis. “Enak?” tanyaku.
392Please respect copyright.PENANAbXRr8VyAFj
“Sangat… aku mau balas,” jawabnya sambil mendorong aku berbaring.
392Please respect copyright.PENANAsT1yBgdV8v
Alya buka celana jeans ku dengan tangan sedikit gemetar. Kontolku terlepas—panjang dua puluh sentimeter lebih, tebal, kepala besar berwarna ungu gelap, urat-urat menonjol jelas, sudah bocor cairan bening di ujung. “Wah… besar sekali, Raka… aku takut… tapi aku sangat mau.”
392Please respect copyright.PENANAGMk5WyrSf5
Tangan kecilnya memegang, jari-jari tak bisa melingkari penuh. Dia stroking pelan dari pangkal ke kepala, merasakan berat dan panasnya. “Ketagihan belum… tapi rasanya… membuatku basah lagi.”
392Please respect copyright.PENANASrzU1OwA7n
Mulutnya mendekat. Lidah kecilnya menjilat kepala, merasakan asin. Dia buka mulut lebar, hisap kepala pelan, lidah melingkar di bawah. Karena ukurannya, dia hanya bisa menghisap setengah, tapi dia lakukan dengan antusias. Tangan nya memijat bola ku pelan. “Enak?” tanyanya sambil sesekali menarik napas.
392Please respect copyright.PENANA2kvhDBQUMB
“Sangat enak, Alya… mulutmu hangat dan basah…”
392Please respect copyright.PENANAiXU7CmrozO
Setelah beberapa menit yang terasa lama dan nikmat, aku hentikan. “Cukup, sayang. Aku mau merasakan dalam dirimu sekarang.”
392Please respect copyright.PENANAYTrFfVgUcv
Aku posisikan di atasnya, kaki Alya ku angkat dan letakkan di bahu ku. Kontolku ku gosokkan pelan ke celah vagina yang basah dan sensitif pasca orgasme. Kepala besar membelah bibir montok, menggosok klitoris yang masih bengkak. Alya mengerang “Masukkan… pelan ya… kontolmu besar…”
392Please respect copyright.PENANAANudsR84wK
Perlahan aku dorong masuk. Kepala besar masuk pertama, Alya “Ahh… sakit… penuh sekali…” Tapi dia tahan, pinggulnya sedikit dorong ke atas. “Lanjut… aku mau penuh sama kamu, Raka.”
392Please respect copyright.PENANAiDymZCuvKK
Inch demi inch, kontolku masuk total. Dinding vagina Alya sangat ketat, panas luar biasa, membungkus setiap urat dan kepala dengan sempurna seperti sarung tangan basah yang hidup. Akhirnya tertanam penuh, kepala menyentuh ujung dalam. “Penuh… sekali… rasanya seperti diisi total,” desah Alya, napas tersengal.
392Please respect copyright.PENANAbgbqBCQc0u
Aku mulai gerak pelan, keluar hampir seluruhnya lalu dorong dalam lagi. Setiap dorong Alya mengerang “Ah… ah… dalam… enak… Raka…” Aku percepat ritme, tangan ku meremas payudara montoknya, jari menjepit puting. “Vaginamu sangat sempit dan basah, Alya. Aku suka sekali ngewe kamu.”
392Please respect copyright.PENANAHZGFYWhFjv
“Iya… suka… kontol besar mu… menghantam rahimku… jangan berhenti…”
392Please respect copyright.PENANANDlP6mxapn
Kami berganti posisi. Alya naik ke atas, cowgirl. Dia pegang kontol basah ku dengan tangan, arahkan ke lubang yang masih berkedut. Turun pelan sambil mengerang panjang “Ahhh… lagi penuh…” Dia mulai naik turun, bokong bulatnya bergoyang indah di depan mata ku. Payudaranya montok bergoyang naik turun mengikuti gerakan. Aku pegang pinggulnya, bantu gerak, lalu tangan naik meremas payudara. Jari jepit putingnya kuat-kuat. “Lihat payudara mu bergoyang cantik sekali.”
392Please respect copyright.PENANAr2LS1fPIrw
Alya condong ke depan, payudaranya tepat di wajah ku. Aku hisap puting sambil dia naik turun lebih cepat. “Raka… aku… aku mau keluar lagi…”
392Please respect copyright.PENANATecmir3t3E
“Keluarkan di kontolku, sayang. Biarkan vagina mu memijat kuat-kuat.”
392Please respect copyright.PENANApp3GGGxKDg
Tubuh Alya tiba-tiba gemetar hebat, vagina berkontraksi seperti mulut kecil yang menghisap kontolku ritmis. Cairan keluar deras, membasahi paha dan perut ku. Dia jatuh ke dadaku, napas ngos-ngosan. “Dua… kali… sudah…”
392Please respect copyright.PENANAvoQVTtyUoz
Aku balikkan dia dengan lembut ke posisi doggy. Alya berlutut, bokong tinggi, punggung melengkung indah. Aku dari belakang, masukkan kontol dalam satu dorong kuat. Pemandangan yang indah—bokong bulat kenyal montok, lubang anus kecil berkedut, vagina terbuka lebar menerima kontol tebal. Aku pegang pinggul lebarnya, hentak kuat dan dalam. Suara “plak-plak-plak” dari kulit bertemu. Setiap hentakan, bokongnya bergoyang seperti jelly. “Bokongmu empuk dan montok sekali, Alya. Aku suka ngewe dari belakang.”
392Please respect copyright.PENANAOSNRq4egrr
“Iya… ngewe aku keras… aku suka… tampar pelan…”
392Please respect copyright.PENANARznV9IbQFh
Aku tampar bokong kanan pelan, jejak merah muda muncul. Alya mengerang lebih keras. Aku jangkau depan, jari mainkan klitorisnya yang basah sambil terus hentak. Alya orgasme ketiga kali—tubuhnya kaku total, vagina memijat kontolku seperti vice, jeritan pelan “Raka… ahhh… lagi…!”
392Please respect copyright.PENANA7vHThKA2dF
Kontraksi itu hampir membuatku meledak. “Aku mau keluar di dalammu, Alya. Boleh?”
392Please respect copyright.PENANA7w01WbsxeE
“Ya… isi aku… penuhi vagina ku dengan sperma mu… aku mau…”
392Please respect copyright.PENANAP1llF1XL4W
Aku dorong dalam-dalam sampai pangkal, sperma panas menyembur deras berkali-kali ke dalam rahimnya. Alya mengerang merasakan hangatnya memenuhi. Kami collapse bersama, aku peluk dari belakang, kontol masih tertanam dalam, sperma bocor pelan di paha Alya.
392Please respect copyright.PENANAdRdHSs8drg
Kami berbaring lama, napas pelan, tangan saling membelai. “Aku ketagihan, Raka,” bisik Alya di dada ku. “Kamu dan kontolmu yang besar ini. Aku mau lagi dan lagi. Diam-diam di rumah ini.”
392Please respect copyright.PENANAskiUuXAJXM
“Aku juga, Alya. Tubuhmu membuatku gila. Vaginamu… bokongmu… payudaramu… semuanya sempurna.”
392Please respect copyright.PENANA2huMQSGW78
Kami mandi bersama di kamar mandi dalam kamar Alya. Air hangat mengalir, kami saling bersihkan dengan sabun. Sentuhan lagi muncul—aku hisap payudaranya di bawah shower, jari ku masuk ke vagina nya yang masih sensitif, Alya stroking kontol ku sampai setengah tegak lagi. Tapi kami tidak lanjut full karena sudah lelah dan malam semakin larut.
392Please respect copyright.PENANAAuOQACBZ9p
Sejak hari itu, kami melakukannya hampir setiap kali ada kesempatan. Ketika Ibu Laila kerja atau keluar arisan atau rapat, Alya akan mengirim pesan singkat “Rumah kosong. Ayo.” Kami melakukannya di kamar Alya, di sofa ruang tamu, sekali bahkan di dapur ketika nafsu datang tiba-tiba. Setiap kali Alya semakin berani dan ketagihan. Dirty talk nya semakin vulgar dan natural.
392Please respect copyright.PENANA98ePjOWiL6
“Kontol besar mu milikku, Raka,” katanya suatu sore sambil naik turun di atas ku. “Buat aku penuh sampai dalam. Aku suka rasanya ketika kepalamu menghantam rahim.”
392Please respect copyright.PENANAfNvtbbWdhX
Aku juga semakin terbiasa dengan tubuhnya yang responsif—vagina selalu basah dan siap, payudara selalu sensitif, bokong selalu empuk untuk dipegang, kaki jenjang selalu melingkar kuat di pinggang atau bahu ku ketika orgasme.
392Please respect copyright.PENANADxWKDpa31X
Tapi kami selalu hati-hati. Pastikan pintu terkunci, suara tidak terlalu keras, dan Ibu Laila tidak curiga. Alya sering bilang ibunya baik hati, tapi tentu saja tidak akan setuju jika tahu putrinya berhubungan intim di rumah ini dengan pacarnya.
392Please respect copyright.PENANAhvLmCEyHZE
Hari ini seperti biasa.
392Please respect copyright.PENANAM2hIV9fdDF
Alya mengirim pesan pagi: “Ibu ku ada arisan ibu-ibu sampai sore nanti. Rumah kosong seharian. Aku sudah mandi dan menunggu kontolmu, sayang.”
392Please respect copyright.PENANAYyWsZO3EcJ
Aku datang siang hari. Alya membuka pintu memakai lingerie hitam sederhana—bra push-up yang membuat payudaranya semakin montok dan terangkat, celana dalam thong kecil yang hampir tidak menutupi apa-apa. Rambutnya tergerai basah, aroma sabun mandi masih menempel.
392Please respect copyright.PENANAP1CcadbN7u
Kami tidak banyak bicara. Langsung ke kamar. Foreplay sangat panjang seperti biasa. Aku duduk di pinggir tempat tidur, Alya di pangkuan ku. Kami berciuman dalam-dalam selama berpuluh menit—lidah saling menjelajah, menghisap, gigit pelan bibir. Tangan ku meremas bokongnya yang telanjang, jari menyusuri celah bokong sampai ke vagina yang sudah basah. Alya mengerang terus di mulutku.
392Please respect copyright.PENANAgNOLVuMkMG
Aku baringkan dia, buka bra nya. Payudara montok terlepas, puting sudah tegak. Aku hisap bergantian sangat lama—hisap kuat, lidah cepat melingkar, gigit lembut, jari remas yang satunya. Alya sudah menggeliat-geliat, “Raka… payudara ku sensitif… tapi enak… hisap lebih kuat…”
392Please respect copyright.PENANAShT3bTkE44
Aku turun, buka celana dalamnya. Vagina sudah sangat basah, cairan mengalir sampai ke anus. Aku jilat lama—dari anus kecil naik ke vagina, hisap klitoris, masukkan lidah sedalam mungkin, lalu dua jari masuk sambil hisap klit cepat. Alya orgasme pertama kali hari ini—tubuh melengkung tinggi, kaki jenjang gemetar hebat, jeritan “Raka… ahhh… keluar…!”
392Please respect copyright.PENANApBTnQvWuzg
Aku tidak berhenti. Aku lanjut jilat dan pompa jari pelan, build up lagi. Alya “Tidak… sensitif… ahh… tapi… lagi… Raka…” Orgasm kedua datang lebih kuat, dia menyembur sedikit, tubuh kaku total, tangan meraih sprei kuat-kuat.
392Please respect copyright.PENANADQW6TBlkxh
Baru setelah itu aku naik. Kontolku sudah sangat keras dan bocor banyak. Alya pegang, stroking beberapa kali, lalu arahkan ke lubang. “Masuk… pelan dulu… aku masih sensitif…”
392Please respect copyright.PENANA6e0FSabi9u
Aku dorong pelan. Kepala besar masuk, Alya mendesah panjang. Inch demi inch sampai penuh. “Penuh… sekali… kontolmu selalu membuatku merasa… dimiliki total…”
392Please respect copyright.PENANAiLsTNUO9eS
Kami mulai bergerak. Missionary dulu—lambat, dalam, penuh perasaan. Aku hisap payudaranya sambil ngewe pelan. Alya memeluk leherku, kakinya melingkar di pinggang ku. “Aku suka posisi ini… bisa lihat wajahmu… dan merasa kontolmu dalam-dalam…”
392Please respect copyright.PENANAWL9YDzY5rc
Setelah beberapa menit, Alya mendorong dada ku. “Aku mau di atas.”
392Please respect copyright.PENANA8iHKsBtXfj
Dia naik, cowgirl. Pegang kontol basah ku, turun pelan sambil mengerang. Mulai naik turun. Payudaranya bergoyang indah. Aku pegang pinggul, lalu naik ke payudara, remas dan jepit puting. “Lihat betapa cantiknya payudara mu bergoyang saat menunggangi kontolku.”
392Please respect copyright.PENANAZqWE5ZWeYL
Alya semakin cepat. “Raka… kontolmu… menghantam tempat yang enak… aku… mau keluar lagi…”
392Please respect copyright.PENANAQ3rliRi7gE
“Keluarkan. Biarkan aku rasakan vagina mu berkedut.”
392Please respect copyright.PENANADJydlhIVcE
Dia orgasme ketiga—tubuh gemetar hebat, vagina memijat kontolku ritmis kuat, cairan deras membasahi. Dia jatuh ke dadaku sebentar, napas ngos-ngosan.
392Please respect copyright.PENANAu7HUR11DF5
Aku angkat dia, posisikan doggy. Alya patuh, bokong tinggi, punggung melengkung indah seperti kucing. Aku dari belakang, masukkan dalam satu dorong kuat. Pemandangan sempurna—bokong montok kenyal, vagina terbuka lebar menerima kontol tebal, anus kecil berkedut setiap hentakan. Aku pegang pinggul lebarnya, hentak kuat dan dalam. Suara basah “plak-plak” menggema. Setiap hentakan, bokongnya bergoyang hebat. Aku lihat kontolku yang basah dan mengkilap masuk keluar, membawa cairan putih Alya.
392Please respect copyright.PENANAp0Yxt9Wa6i
“Bokongmu montok dan empuk sekali, Alya. Aku suka ngewe kamu dari belakang seperti ini.”
392Please respect copyright.PENANALsZyxhuKgf
“Ngewe aku lebih keras, Raka… aku suka… tampar bokongku pelan…”
392Please respect copyright.PENANAdEpSikQ4IN
Aku tampar bokong kanan pelan, jejak merah muncul. Alya mengerang lebih keras. Aku jangkau depan, jari mainkan klitorisnya yang bengkak sambil terus hentak. Alya orgasme keempat kali—tubuhnya kaku total, vagina seperti tangan kecil yang memeras kontolku kuat-kuat, jeritan panjang “Raka… ahhh… lagi… aku keluar lagi…!”
392Please respect copyright.PENANA1we7fZOc2t
Kontraksi itu membuatku di ambang ledakan. Aku hentak lebih dalam, lebih cepat, tangan memegang pinggulnya kuat. “Aku mau isi kamu dalam-dalam, Alya…”
392Please respect copyright.PENANAatOJ2yq7QL
“Ya… penuhi… isi rahimku… aku mau sperma mu banyak…”
392Please respect copyright.PENANA8bKqS9rjBV
Aku dorong sampai pangkal, sperma panas menyembur deras berkali-kali ke dalam rahimnya yang sudah penuh. Alya mengerang merasakan hangatnya memenuhi. Kami tetap dalam posisi doggy beberapa detik, napas berat, keringat bercampur.
392Please respect copyright.PENANARZM8U5PT1a
Aku pelan-pelan keluarkan kontolku. Sperma putih kental langsung bocor deras dari vagina Alya yang masih terbuka sedikit, mengalir di paha dan sprei. Alya collapse ke samping, tubuh lemas puas, payudara naik turun cepat, kaki jenjang masih sedikit gemetar.
392Please respect copyright.PENANAISVqAn6qO0
Aku berbaring di sampingnya, peluk dari belakang, tangan memeluk payudaranya yang masih basah keringat. Kontolku masih setengah tegak, basah oleh campuran cairan kami, panjang dan tebal tergeletak di paha Alya.
392Please respect copyright.PENANA9wAlEyCPlL
Kami berdua telanjang, berkeringat, puas, di tempat tidur Alya yang sekarang berantakan.
392Please respect copyright.PENANA2wGrqrOvjD
Tiba-tiba ada suara langkah kaki pelan di koridor luar kamar.
392Please respect copyright.PENANAuMcPiofbR5
Pintu kamar yang tidak terkunci itu terbuka pelan.
392Please respect copyright.PENANAr2TiAEfR1e
Ibu Laila berdiri di ambang pintu.
392Please respect copyright.PENANAromw99tNC0
Matanya melebar melihat adegan di depannya: putrinya telanjang telentang, kaki masih terbuka, vagina merah dan basah dengan sperma putih kental mengalir keluar, payudara montok naik turun. Dan di sampingnya, aku—pacar putrinya—telanjang, kontol besar yang masih setengah tegak, basah berkilat oleh cairan campuran, urat-urat menonjol jelas, kepala besar ungu masih mengeluarkan sisa sperma.
392Please respect copyright.PENANAv9gFX2pMyt
Ibu Laila tidak berteriak. Tidak marah. Wajahnya memerah sampai leher. Napasnya tersengal pelan. Matanya… tidak bisa berpaling dari kontolku yang besar itu. Ada kilatan hasrat yang jelas di matanya—hasrat yang selama ini mungkin terpendam sebagai janda yang hidup sendiri.
392Please respect copyright.PENANA70mndubbNV
Dia diam berdiri di situ, tangan memegang gagang pintu gemetar.
392Please respect copyright.PENANABcdOxpHA5b
Alya juga kaget, cepat menarik selimut menutupi tubuhnya, “Ibu… aku… kami…”
392Please respect copyright.PENANAmkKm9ee8Jc
Tapi Ibu Laila masih diam. Matanya masih tertuju ke kontolku. Dan di wajahnya, bukan kemarahan… melainkan sesuatu yang lain. Sesuatu yang panas. Sesuatu yang terangsang.
392Please respect copyright.PENANAcUDZGL1kNv
Aku masih membeku di tempat tidur, kontolku yang setengah tegak dan basah oleh campuran cairan Alya dan sperma ku sendiri tergeletak di paha pacarku. Sperma putih kental masih terus mengalir pelan dari vagina Alya yang merah dan sedikit terbuka. Bau seks tebal memenuhi kamar.
392Please respect copyright.PENANAACF3M5v990
Ibu Laila berdiri di ambang pintu, tangan masih memegang gagang, napasnya terdengar jelas—pendek, agak tersengal. Matanya tidak bisa lepas dari kontolku. Bukan pandangan marah. Bukan kecewa. Tapi pandangan seorang wanita yang sudah lama haus, dan sekarang melihat sesuatu yang membuat tubuhnya bereaksi tanpa bisa dikendalikan.
392Please respect copyright.PENANATJmtkCSWum
Dia pelan-pelan menutup pintu di belakangnya. Klik pelan kunci terdengar. Suara itu seperti bom di telingaku.
392Please respect copyright.PENANAWOOZylAy6t
“Ibu…” Alya bersuara pelan, suaranya gemetar, selimut ditarik lebih tinggi menutupi payudaranya yang masih telanjang. “Ibu… ini… kami…”
392Please respect copyright.PENANAi46iVF7xIM
Ibu Laila tidak menjawab langsung. Langkahnya pelan mendekati tempat tidur. Matanya masih tertuju ke kontolku. Aku bisa melihat jelas—pipinya merah, lehernya memerah sampai ke belahan dada yang terlihat di balik daster tipis biru muda yang biasa ia pakai di rumah. Daster itu tipis sekali. Aku bisa melihat bentuk bra-nya yang menahan payudara besar dan berat. Dan… di antara pahanya, ada noda basah kecil yang mulai terlihat di kain daster.
392Please respect copyright.PENANAsRfSBq1IPU
Dia berhenti di sisi tempat tidur. Jaraknya hanya setengah meter dari kami.
392Please respect copyright.PENANAp2FP6pSKQZ
“Jadi… ini yang kalian lakukan diam-diam di rumah Ibu,” katanya pelan. Suaranya serak, bukan marah, tapi penuh sesuatu yang lain. “Setiap kali Ibu keluar… kalian… ngewe di sini.”
392Please respect copyright.PENANAiyApPwo88s
Alya menunduk malu, tapi aku melihat tangannya yang memegang selimut sedikit gemetar. Bukan hanya takut. Ada sesuatu yang lain di matanya—kaget campur… gairah?
392Please respect copyright.PENANAIR8QzdhtOo
Aku menelan ludah. Kontolku yang tadi mulai lemas, sekarang… entah kenapa… mulai berdenyut lagi di bawah tatapan Ibu Laila. Besar, tebal, urat-uratnya masih menonjol, kepala ungu masih mengkilap basah.
392Please respect copyright.PENANAzbV2JGDTSB
Ibu Laila menatapnya lebih lama. Napasnya semakin berat. Tangan kanannya yang gemetar perlahan naik ke dadanya sendiri, meremas payudaranya sendiri di atas daster. “Kontolmu… Raka…” bisiknya, hampir tidak terdengar. “Besar sekali… tebal… panjang… Ibu bisa lihat jelas… bahkan dari pintu tadi…”
392Please respect copyright.PENANAVePKLWFKpO
Dia melangkah lebih dekat. Sekarang lututnya menyentuh pinggir tempat tidur.
392Please respect copyright.PENANAOSRxBz137D
“Alya…” panggilnya pelan, tapi matanya masih di kontolku. “Ibu tidak marah. Ibu… hanya… melihat ini…” tangannya turun, menunjuk kontolku yang semakin mengeras lagi. “Membuat Ibu… basah. Sangat basah. Setelah bertahun-tahun… Ibu merasa seperti ini lagi.”
392Please respect copyright.PENANAhX19U50rr7
Alya menoleh ke ibunya, mata melebar. “Ibu… apa-apaan ini…?”
392Please respect copyright.PENANAKq9pkpPzUg
Ibu Laila akhirnya menoleh ke putrinya. Matanya berkaca-kaca, tapi bukan air mata. “Ibu sudah lama menahan diri, Alya. Sejak ayahmu tiada… Ibu hanya fokus ke kamu. Tapi Ibu juga manusia. Ibu juga punya nafsu. Dan hari ini… melihat kontol Raka ini… yang baru saja keluar dari dalam vagina kamu… yang masih basah oleh sperma dan cairan kamu… Ibu tidak bisa… menahan lagi.”
392Please respect copyright.PENANALV9odHirLb
Tangan Ibu Laila bergerak. Pelan. Dia duduk di pinggir tempat tidur, dekat kakiku. Tangan kanannya yang gemetar perlahan mendekati kontolku. Jari-jarinya yang halus, kuku pendek rapi, menyentuh pangkal kontolku yang basah.
392Please respect copyright.PENANA00vZOSg1Mk
Aku mendesah pelan tanpa sadar. Kontolku berdenyut keras di bawah sentuhannya.
392Please respect copyright.PENANAv2uxi4sKNJ
“Pan… as…” bisik Ibu Laila. Jari-jarinya naik pelan, menyusuri urat-urat yang menonjol, merasakan setiap lekukan. “Besar… berat… Ibu bisa rasakan denyutnya… Kontol ini baru saja ngewe putri Ibu… dan sekarang… Ibu juga ingin…”
392Please respect copyright.PENANAYFfnt2lsqz
Dia menoleh ke Alya. “Kamu tidak marah kalau Ibu… ikut merasakan sedikit? Ibu janji… Ibu tidak akan ambil Raka darimu. Ibu hanya… ingin merasakan kontol besar ini… sekali saja… atau… mungkin lebih.”
392Please respect copyright.PENANAmB0Mhvkyg3
Alya diam. Napasnya juga tersengal. Aku melihat putingnya yang masih telanjang di balik selimut sedikit mengeras lagi. Dia… terangsang juga melihat ibunya seperti ini?
392Please respect copyright.PENANABbZPiqjB3j
“Alya…” panggilku pelan.
392Please respect copyright.PENANAYbgsqfKY28
Alya menatapku, lalu menatap ibunya yang sedang memegang kontol pacarnya. Lalu… dia mengangguk pelan, hampir tidak terlihat. “Ibu… kalau Ibu mau… aku… aku tidak tahu… tapi… aku juga… anehnya… melihat Ibu seperti ini… membuatku… basah lagi…”
392Please respect copyright.PENANAQViTwcvxwb
Ibu Laila tersenyum kecil, senyum yang penuh hasrat. “Terima kasih, Nak…”
392Please respect copyright.PENANAmwnHtCGi5O
Tangan Ibu Laila mulai bergerak lebih berani. Ia stroking kontolku pelan dari pangkal ke kepala, jari-jarinya membasahi oleh cairan campuran yang masih menempel. Kontolku semakin keras, semakin besar di tangannya. Karena ukurannya, tangan Ibu Laila yang cantik itu tidak bisa melingkari penuh.
392Please respect copyright.PENANAEP8UR3M3L0
“Gila…” desah Ibu Laila. “Lebih besar dari yang Ibu bayangkan… Ibu sudah lama tidak memegang yang sebesar ini… Vagina Ibu… sudah mulai berkedut sendiri…”
392Please respect copyright.PENANAywNf49qtwr
Dia menunduk. Rambut hitam pendeknya jatuh ke samping. Mulutnya mendekati kepala kontolku yang basah. Lidahnya keluar—merah muda, basah—dan menjilat pelan ujungnya. Rasa campuran cairan Alya dan sperma ku langsung terasa di lidahnya. Dia mengerang pelan “Hmm… enak… asin… manis… dari putri Ibu dan Raka…”
392Please respect copyright.PENANA1pSprn0jaX
Alya menonton dengan mata lebar. Tangan Ibu Laila yang satu lagi turun ke pahanya sendiri, mengangkat sedikit daster, dan menyentuh vagina nya di balik celana dalam.
392Please respect copyright.PENANAstCrpRgubR
Aku tidak bisa bergerak. Tubuhku panas. Kontolku yang tadi lemas sekarang tegak penuh lagi—keras, tebal, panjang, urat menonjol, kepala mengkilap—di tangan dan mulut ibu pacarku sendiri.
392Please respect copyright.PENANAAvnyhAMdgq
Kelanjutannya ada link di bawah ini


