Bab 3: Malam Penuh Gejolak dan Bayangan yang Tak Terhapuskan
1577Please respect copyright.PENANA3nOxOvLu02
Malam itu, perjalanan pulang dari pesta amal terasa lebih panjang dari biasanya bagi Viona. Mobil mewah suaminya meluncur mulus di jalanan Jakarta yang masih ramai meski sudah larut, lampu-lampu kota berkelap-kelip di luar jendela seperti ribuan bintang yang tak bisa diraih. Viona duduk di kursi belakang, tubuhnya masih panas dan gelisah. Gaun merah puting yang tadi terasa elegan kini terasa menyesakkan, terutama di bagian payudaranya yang montok berukuran G-cup. Setiap gerakan mobil membuat kain tipis itu menggesek puting-putingnya yang masih mengeras, menciptakan sensasi nyeri manis yang membuatnya menggigit bibir bawahnya kuat-kuat agar tidak mengeluarkan suara.
1577Please respect copyright.PENANARW1C7GXwzn
Suaminya, Pak Hendra, duduk di depan sambil mengantuk. Pria berusia enam puluhan itu hanya sesekali melirik ke belakang melalui kaca spion, bertanya dengan suara lelah, “Kamu kenapa, Sayang? Dari tadi diam saja. Pesta tadi melelahkan ya?” Viona tersenyum paksa, suaranya lembut tapi agak parau, “Iya, Mas. Capek sedikit. Kamu istirahat saja, biar sopir yang antar kita pulang.” Di dalam hati, Viona merasa gelombang rasa bersalah yang besar menyergapnya. Suaminya yang setia, yang telah membiayai hidupnya mewah selama lima tahun pernikahan, kini terasa begitu jauh berbeda dengan Revan yang baru ia kenal beberapa jam.
1577Please respect copyright.PENANAeaBMEP8O8H
Bayangan balkon tadi terus berputar di kepala Viona. Sentuhan tangan Revan yang hangat dan tegas di punggungnya, bisikan suara rendah yang penuh nafsu di telinganya, tekanan kontol besar yang menggesek bokongnya dari belakang, dan aroma maskulin Revan yang kuat bercampur whiskey. Semuanya membuat “memek”-nya masih basah hingga sekarang. Cairan hangat bening itu terus mengalir pelan, membasahi celana dalam sutra yang sudah lengket. Ia menyilangkan kaki rapat-rapat, berusaha menekan getaran kecil di “ceri” kecilnya yang masih berdenyut minta perhatian.
1577Please respect copyright.PENANAXne3BucwEb
Sesampainya di rumah mewah mereka di kawasan elite Pondok Indah, Pak Hendra langsung masuk ke kamar tidur utama dan tertidur lelap setelah mandi cepat. Suaminya memang sudah jarang menyentuhnya. Kehidupan intim mereka hampir mati, hanya sesekali rutinitas cepat yang tidak pernah memuaskan tubuh sensitif Viona. Malam ini, Viona mandi lebih lama di kamar mandi marmer yang luas. Air hangat mengalir deras dari shower, membasahi kulit putih mulusnya yang masih merinding mengingat Revan. Saat tangannya menyabuni payudara besarnya, jari-jarinya tanpa sadar mengelus puting-putingnya yang mengeras. Sensasi itu membuatnya mendesah pelan, “Ahh… Mas Revan…” Nama itu keluar begitu saja dari bibirnya, membuatnya terkejut sendiri.
1577Please respect copyright.PENANAjlrcdCLaLg
Viona cepat-cepat menyelesaikan mandi, tapi hasratnya tak kunjung padam. Ia berbaring di samping suaminya yang sudah mendengkur, memeluk bantal erat. Pikirannya kembali ke balkon. Ia membayangkan lagi bagaimana Revan memeluknya dari belakang, tangan besar itu meremas payudaranya, bisikan kotor tentang kontol tebal yang akan meregangkan “memek”-nya. Tubuhnya panas dingin bergantian. Kakinya gemetar pelan di bawah selimut. Akhirnya, tangan kanannya turun pelan ke bawah perut, menyentuh “memek”-nya yang sudah banjir. Jari-jarinya mengelus bibir “memek” yang lembut dan basah, menemukan “ceri” yang membengkak. Setiap putaran jari membuat getaran kenikmatan menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia membayangkan kontol Revan yang super tebal 28 cm, berurat, dan panas, menggesek celahnya tanpa masuk. Cairan orgasmenya semakin banyak keluar, membasahi seprai.
1577Please respect copyright.PENANADIM0p269rz
“Kenapa… kenapa rasanya beda sekali,” gumam Viona dalam hati sambil menahan erangan. Suaminya di sampingnya tidak terganggu sama sekali. Perbandingan itu menyakitkan sekaligus memabukkan. Suaminya yang lemah dan cepat lelah versus Revan yang muda, atletis, kaya raya, dan penuh stamina. Viona mencapai klimaks kecil yang membuat tubuhnya kejang pelan, air mata tipis mengalir di pipinya karena campuran rasa bersalah dan kenikmatan terlarang. Setelah itu, ia tidur gelisah, mimpi-mimpi erotis tentang Revan datang silih berganti.
1577Please respect copyright.PENANAkfoGPWexQl
Pagi harinya, sinar matahari menyusup melalui tirai kamar. Viona terbangun dengan tubuh masih sensitif. Pak Hendra sudah berangkat ke kantor sejak subuh, meninggalkan pesan singkat di meja makan: “Hari ini meeting panjang, pulang malam. Kamu istirahat saja.” Viona membaca pesan itu sambil minum kopi, hatinya terasa hampa. Rumah besar ini terasa kosong. Ponselnya bergetar. Pesan dari Revan masuk.
1577Please respect copyright.PENANAbsmlSmjBsm
“Selamat pagi, Bu Viona yang cantik. Semalam saya masih memikirkan kehangatan tubuh Ibu di balkon. Bagaimana tidur Ibu? Apakah mimpi indah tentang saya?” Pesan itu disertai emoji senyum tipis yang nakal.
1577Please respect copyright.PENANATOUBlQowby
Viona menatap layar ponsel lama sekali. Jantungnya berdegup kencang. Ia tahu ini salah, tapi jarinya mengetik balasan, “Pagi, Mas Revan. Saya… tidur tidak nyenyak. Mas Revan jangan kirim pesan seperti ini lagi ya. Saya sudah menikah.” Balasannya terdengar lemah bahkan di matanya sendiri.
1577Please respect copyright.PENANAwDYmlU4vcQ
Revan, yang sedang di gym elit pribadinya, tersenyum buas saat membaca. Tubuh atletisnya yang tinggi berpeluh setelah latihan berat. kontolnya yang besar terasa berdenyut di balik celana pendek olahraga hanya karena mengingat Viona. Ia balas cepat, “Maaf kalau mengganggu. Tapi saya tidak bisa berhenti memikirkan bagaimana payudara Ibu terasa sempurna di tangan saya. Kalau Ibu ingin bicara lebih, saya ada di kafe dekat rumah Ibu siang ini. Tidak ada paksaan.”
1577Please respect copyright.PENANAqQYEgJw8Fe
Sepanjang pagi, Viona berusaha sibuk dengan urusan rumah. Ia pergi ke salon untuk perawatan tubuh, tapi setiap sentuhan terapis membuatnya teringat tangan Revan. Saat dipijat pinggang dan paha, ia hampir mendesah. “memek”-nya kembali basah hanya karena bayangan. Di kafe siang itu, “kebetulan” ia bertemu Revan lagi. Revan duduk di sudut privat, mengenakan kemeja casual yang menonjolkan otot dadanya. Wajah tampan buasnya tersenyum saat melihat Viona masuk.
1577Please respect copyright.PENANARqHLnDrbkK
Mereka duduk berhadapan. Revan memesan minuman favorit Viona tanpa bertanya. Percakapan dimulai ringan, tapi cepat berubah intim. Revan bercerita tentang masa mudanya yang penuh petualangan, kekayaannya yang ia gunakan untuk traveling ke tempat-tempat eksotis, dan betapa ia menginginkan pasangan yang bisa menikmati semua itu bersamanya. “Suami Ibu memang baik, tapi lihat Ibu sekarang—cantik, sensitif, penuh hasrat yang terpendam. Apakah ia masih bisa memuaskan Ibu seperti dulu?” tanya Revan dengan suara rendah, tangannya menyentuh punggung tangan Viona di atas meja.
1577Please respect copyright.PENANATOperJNZYs
Sentuhan itu lagi-lagi membuat Viona merinding. Panas telapak Revan menjalar ke lengan, dada, dan bawah perutnya. Bau kopi dan parfum Revan memenuhi meja kecil mereka. Suara Revan yang dalam terdengar seperti godaan langsung ke jiwa. Viona menceritakan sedikit tentang pernikahannya yang monoton, suaminya yang semakin sibuk dan jarang menyentuhnya. Air mata menggenang di matanya saat mengakui itu.
1577Please respect copyright.PENANAqQLdpWEzTe
Revan mendekat, jarinya mengelus punggung tangan Viona dengan gerakan melingkar sensual. “Ibu pantas mendapatkan lebih. Bayangkan saya menyentuh Ibu dengan benar, lidah saya menjilat ‘ceri’ Ibu sampai gemetar, kontol saya yang tebal masuk pelan meregangkan ‘memek’ rapat Ibu sampai penuh sekali.” Kata-kata kotor itu diucapkan pelan tapi jelas, membuat Viona menahan napas. Wajahnya merah padam, pahanya mengepal di bawah meja.
1577Please respect copyright.PENANAGMGgsDuXQy
Sensasi imajinasi itu begitu kuat. Viona merasakan “memek”-nya berdenyut hebat, cairan hangat mengalir lagi membasahi celana dalam. Kakinya gemetar pelan. “Mas… tolong berhenti. Saya takut… tapi…” Ia tidak melanjutkan, hanya menatap Revan dengan mata berkabut hasrat.
1577Please respect copyright.PENANApbghAamiVG
Revan tidak memaksa lebih jauh di kafe. Ia hanya memberikan kartu kunci hotel mewah yang sudah dipesannya. “Malam ini, suite 1801. Kalau Ibu datang, saya janji akan buat Ibu merasakan kenikmatan yang belum pernah Ibu rasakan. Kalau tidak, saya paham. Tapi saya tahu tubuh Ibu sudah basah sekarang memikirkannya.”
1577Please respect copyright.PENANAoBBLYE7ysA
Viona pulang dengan pikiran kacau berat. Di rumah, ia mondar-mandir. Suaminya menelepon sore hari, bilang akan pulang sangat malam karena meeting mendadak. Kesempatan itu membuat Viona semakin goyah. Ia mandi lagi, memilih lingerie hitam yang jarang dipakai, lalu melepasnya lagi karena malu. Flashback balkon, kafe, dan pesan-pesan Revan terus menghantui. Emosinya campur aduk: cinta pada suami, rasa bersalah yang menyiksa, tapi hasrat yang membara pada Revan yang kuat, dominan, dan mampu “merusak”nya.
1577Please respect copyright.PENANAv3xIWN6BIO
Malam semakin larut. Viona duduk di tepi tempat tidur, memegang kartu kunci hotel. Tubuhnya panas, “memek”-nya basah sekali, “ceri”-nya berdenyut tak tertahankan. Ia membayangkan Revan menunggunya di suite mewah, tubuh atletis telanjang, kontol besarnya sudah tegang siap. Akhirnya, dengan tangan gemetar, ia memesan taksi. “Hanya bicara sebentar,” katanya pada diri sendiri, tapi ia tahu itu bohong.
1577Please respect copyright.PENANADTeSJwhZgE
Di penthouse-nya, Revan tersenyum lebar sambil mempersiapkan suite hotel. Botol champagne dingin, lilin aromaterapi, dan mainan-mainan ringan sudah disiapkan. “Malam ini, tahap dua dimulai, Viona. Kamu akan broken perlahan,” gumamnya puas.
1577Please respect copyright.PENANAOPNlTYgjuJ
Viona tiba di lobi hotel dengan hati berdebar kencang. Lift naik ke lantai 18 terasa lambat. Setiap detik, konflik emosional semakin kuat, tapi kakinya terus melangkah. Pintu suite terbuka saat ia ketuk pelan. Revan berdiri di sana, hanya mengenakan kemeja longgar dan celana formal, senyum buas di wajah tampannya.
1577Please respect copyright.PENANA96yvfRdCs3
“Selamat datang, Bu Viona. Saya tahu Ibu akan datang,” katanya sambil menarik Viona masuk pelan, pintu tertutup di belakang mereka.
1577Please respect copyright.PENANAfW170sgZ9f
Malam itu, godaan memasuki babak baru yang lebih intens. Viona masih berusaha menahan, tapi tubuh sensitifnya sudah mulai menyerah pada pesona predator bernama Revan.
1577Please respect copyright.PENANAz6cdNsL8bl
1577Please respect copyright.PENANAQiuD9zzHrn
Sepanjang sore hingga malam, Viona mengalami gejolak batin yang mendalam. Ia mencoba menonton TV, tapi setiap adegan romantis membuatnya teringat Revan. Ia membuka galeri ponsel, melihat foto pernikahannya dengan suami, lalu membandingkan dengan bayangan Revan yang atletis. Rasa pengkhianatan itu anehnya justru membuat hasratnya semakin tinggi. Di kamar mandi, ia hampir memuaskan diri lagi sambil menyebut nama Revan, tapi berhenti di ambang klimaks karena merasa terlalu bersalah.
1577Please respect copyright.PENANAsR5nIaipCi
Revan di sisi lain menghabiskan waktu merencanakan setiap detail. Ia membayangkan bagaimana Viona yang pemalu akan menjerit saat kontolnya masuk perlahan ke “memek” rapat wanita itu. Stamina seksualnya yang luar biasa membuatnya yakin bisa membuat Viona pingsan karena kenikmatan berulang.
1577Please respect copyright.PENANAQeU2jtfi85
Saat Viona masuk suite, aroma lilin vanila dan champagne dingin menyambut. Revan menuangkan minuman, tangannya menyentuh pinggang Viona lagi, kali ini lebih posesif. Mereka duduk di sofa panjang, Revan mulai mencium leher Viona pelan, lidahnya menjilat kulit sensitif itu. Viona gemetar hebat, air mata mengalir karena konflik, tapi tangannya tanpa sadar mencengkeram kemeja Revan.
1577Please respect copyright.PENANAtathnMzYkN
Sensasi lidah Revan yang hangat dan basah membuat seluruh tubuh Viona merinding. Bau tubuh Revan memabukkan, suara desahan kecil Viona sendiri terdengar asing di telinganya. Revan berbisik kotor, “Lepaskan gaunmu, Bu. Biarkan saya lihat betapa indahnya tubuh istri orang yang akan saya rusak malam ini.”
1577Please respect copyright.PENANAdY2wVEBJPd
Viona masih ragu, tapi jari Revan sudah menurunkan resleting gaunnya pelan. Payudara G-cupnya melompat keluar, puting-putingnya keras menantang. Revan meremas lembut, membuat Viona mendesah panjang, “Ahhh… Mas Revan… ini salah… tapi enak sekali…”
1577Please respect copyright.PENANAXG4lhBQwa4
Babak foreplay lambat mulai terbuka di suite mewah itu, membawa Viona semakin dekat ke jurang kenikmatan terlarang yang akan mengubah hidupnya selamanya.
1577Please respect copyright.PENANAosTOOMJHI2
LANJUTAN CERITA https://lynk.id/novelhambilah1577Please respect copyright.PENANAGpoEHPSmdt
LINK ALTERNATIF https://lynk.id/hambilah1577Please respect copyright.PENANAs3HG64Ktbj
1577Please respect copyright.PENANAmnFns5fltC


