Bab 1: Pertemuan di Pesta Elit
1848Please respect copyright.PENANAnPDzFv2gGK
Malam itu, ballroom hotel bintang lima di pusat kota Jakarta dipenuhi cahaya kristal lampu gantung yang memantulkan kemewahan. Musik jazz lembut mengalun dari panggung, bercampur dengan tawa halus para tamu undangan yang merupakan kalangan atas ibu kota. Revan berdiri di sudut ruangan, memegang gelas whiskey single malt di tangan kanannya. Tubuhnya yang tinggi atletis, dengan bahu lebar dan pinggang ramping, tertutup sempurna oleh setelan tuxedo hitam custom yang menonjolkan garis otot di balik kain mahal. Wajahnya tampan dengan rahang tegas, mata tajam berwarna gelap, dan senyum tipis yang selalu menyimpan sesuatu yang buas. Pada usia 27 tahun, ia sudah menjadi pengusaha sukses yang menguasai beberapa perusahaan properti dan teknologi. Kekayaannya tak terhitung, pengaruhnya merambah ke mana-mana, tapi nafsunya yang paling gelap adalah sesuatu yang tak bisa dibeli dengan uang: istri orang lain.
1848Please respect copyright.PENANAWQ6ZCgqFbx
Revan menyesap whiskey-nya perlahan. Matanya menyapu ruangan seperti predator yang sedang mencari mangsa. Ia selalu merasa bosan dengan wanita-wanita muda yang mudah didapatkan. Yang ia inginkan adalah wanita yang sudah bertali pernikahan, yang setia, yang polos, dan yang akan hancur perlahan di bawah kekuasaannya. Obsesinya itu telah membuatnya merusak beberapa rumah tangga sebelumnya, tapi ia selalu lolos berkat kekayaan dan koneksinya. Malam ini, ia datang ke pesta amal elit ini dengan satu tujuan: mencari target baru.
1848Please respect copyright.PENANA5yyGj9oxjR
Di tengah keramaian, seorang wanita menarik perhatiannya. Viona. Usianya 29 tahun, istri dari seorang pengusaha tua yang sudah berusia enam puluhan. Tubuhnya sempurna, dengan payudara besar berukuran G-cup yang montok dan menegang di balik gaun malam berwarna merah puting yang elegan. Kulitnya putih mulus, rambut hitam panjangnya tergerai indah di bahu, dan wajahnya memancarkan kepolosan yang jarang ditemui di kalangan ini. Ia berdiri di samping suaminya, seorang pria berperut buncit dengan rambut memutih, yang sedang sibuk berbincang dengan rekan bisnisnya. Viona tersenyum kecil, tapi matanya terlihat agak kosong, seperti sedang menahan kebosanan.
1848Please respect copyright.PENANAjCECK5kKRH
Revan tersenyum dalam hati. Ini mangsa yang sempurna. Ia melangkah mendekat dengan langkah percaya diri, seolah-olah kebetulan saja. Saat melewati Viona, bahunya menyentuh pelan lengan wanita itu. Sentuhan itu singkat, tapi cukup untuk membuat Viona menoleh.
1848Please respect copyright.PENANAvm1fe1E9Wb
"Maaf, Bu. Saya tidak sengaja," kata Revan dengan suara rendah yang dalam dan memikat. Matanya menatap langsung ke mata Viona, seolah menembus jiwa wanita itu.
1848Please respect copyright.PENANA2gQDHr3q5Q
Viona tersipu, pipinya memerah tipis. "Tidak apa-apa, Mas. Saya juga kurang hati-hati," jawabnya lembut, suaranya halus seperti beledu. Suaminya melirik sekilas tapi langsung kembali ke percakapan bisnisnya, menganggap Revan hanya tamu biasa.
1848Please respect copyright.PENANAEReWjr9RKo
Revan tidak langsung pergi. Ia berdiri di dekat mereka, memperkenalkan diri dengan sopan. "Saya Revan, pemilik grup properti Horizon. Senang bertemu dengan Bapak dan Ibu." Ia menjabat tangan suami Viona dengan kuat, tapi pandangannya lebih sering tertuju pada Viona. Saat berjabat tangan dengan Viona, ibu jarinya mengusap pelan punggung tangan wanita itu, gerakan kecil yang terasa seperti listrik.
1848Please respect copyright.PENANADxWAh2N7oJ
Viona merasakan getaran aneh di tubuhnya. Sentuhan itu ringan, tapi ada sesuatu yang berbeda. Suaminya jarang menyentuhnya seperti itu lagi. Mereka sudah menikah lima tahun, tapi kehidupan intim mereka semakin dingin. Suaminya lebih sibuk dengan bisnis daripada dengan dirinya. Malam ini, gaun yang ia pakai membuatnya merasa agak tidak nyaman karena payudaranya yang besar terasa tertekan, tapi ia tetap tersenyum.
1848Please respect copyright.PENANAFrBapqyhY7
Mereka mulai berbincang ringan. Revan bercerita tentang proyek terbarunya dengan gaya yang menawan, sesekali melempar pujian halus. "Ibu Viona terlihat sangat anggun malam ini. Jarang ada wanita yang bisa membuat gaun sederhana terlihat luar biasa seperti itu." Kata-katanya halus, tapi ada nada rayuan yang tersembunyi.
1848Please respect copyright.PENANAsietJLfQUs
Viona tertawa kecil, merasa tersanjung. "Terima kasih, Mas Revan. Mas Revan sendiri terlihat sangat sukses dan... energik." Ia tidak sadar bahwa kata-katanya sudah mulai menunjukkan ketertarikan. Suaminya tertawa bangga, mengira Revan hanya sedang beramah-tamah.
1848Please respect copyright.PENANA4xsGOmjaGe
Revan melihat kesempatan. Saat suami Viona pergi ke toilet, ia mendekat lebih dekat. "Boleh saya antar Ibu ke meja minuman? Di sini agak ramai." Tanpa menunggu jawaban, tangannya menyentuh punggung Viona dengan lembut, tepat di atas kain gaun yang tipis. Panas telapak tangannya menembus kain, membuat Viona merinding. Bau parfum Revan yang maskulin dan mahal memenuhi indra penciumannya, campur dengan aroma whiskey yang kuat.
1848Please respect copyright.PENANARgtlVQ2AcD
Mereka berjalan bersama. Revan sengaja memilih jalur yang agak sempit di antara tamu, sehingga tubuh mereka sesekali bersenggolan. Pinggul Viona yang lembut menyentuh paha Revan. Viona merasa jantungnya berdegup lebih kencang. "Kenapa saya merasa seperti ini?" pikirnya dalam hati. Ia sudah lama tidak merasakan sentuhan pria yang begitu percaya diri.
1848Please respect copyright.PENANAJrYbDdBP3p
Di meja minuman, Revan memesan champagne untuk Viona. Saat menyerahkan gelas, jari mereka bersentuhan lagi, lebih lama kali ini. "Ibu terlihat seperti butuh sesuatu yang menyegarkan," bisik Revan di dekat telinga Viona. Napas hangatnya menyapu daun telinga wanita itu, membuat bulu kuduk Viona berdiri.
1848Please respect copyright.PENANAvqjkbitOBO
Viona menggenggam gelasnya erat. "Mas Revan pandai bicara ya. Suami saya juga sering bilang begitu pada orang lain." Ia mencoba mengingatkan diri sendiri tentang suaminya, tapi suara Revan terlalu memikat.
1848Please respect copyright.PENANAyhAjOGHaYk
Revan tersenyum buas di dalam. Ia tahu tahap pertama godaan sudah dimulai: sentuhan "tak sengaja" dan pujian halus. Mereka berbincang lebih lama. Revan menceritakan perjalanan bisnisnya ke luar negeri, tentang hotel mewah yang ia miliki, tentang kebebasan yang ia rasakan. Secara tak langsung, ia membandingkan dirinya dengan suami Viona yang sudah tua dan lelah.
1848Please respect copyright.PENANA5WuvUNRA9T
"Ibu pasti capek ya, mendampingi suami yang sibuk. Wanita seindah Ibu pantas mendapatkan perhatian penuh," kata Revan sambil menatap payudara Viona sekilas, tapi cukup untuk membuat wanita itu sadar.
1848Please respect copyright.PENANAbPd3dQodhe
Viona merasa pipinya panas. Ia merasakan sensasi aneh di perutnya, seperti kupu-kupu beterbangan. "Saya... biasa saja, Mas. Kami sudah lama menikah." Suaranya agak gemetar. Bau tubuh Revan yang kuat membuatnya sulit berkonsentrasi. Kulitnya terasa hangat di tempat Revan menyentuhnya tadi.
1848Please respect copyright.PENANAYuqUKnu99K
Suami Viona kembali, tapi Revan tidak mundur. Ia bergabung dalam percakapan, menunjukkan pengetahuan bisnisnya yang mendalam, membuat suami Viona terkesan. Tapi setiap kesempatan, Revan mencuri pandang ke Viona, dan sesekali tangannya "tak sengaja" menyentuh lengan atau pinggang wanita itu.
1848Please respect copyright.PENANAKRkn8LjhCo
Malam semakin larut. Pesta semakin ramai dengan dansa. Revan mengajak Viona berdansa saat suaminya sedang berbicara di panggung sebagai pembicara. "Boleh saya pinjam istri Bapak sebentar?" tanya Revan sopan. Suami Viona mengangguk setuju, tidak curiga.
1848Please respect copyright.PENANAnnv8FKBQUP
Di lantai dansa, Revan memeluk pinggang Viona dengan kuat. Tubuh mereka menempel cukup dekat. Payudara montok Viona menekan dada Revan yang keras. Revan bisa merasakan kehangatan tubuh wanita itu, aroma sabun mandi floral yang lembut dari kulit Viona. Tangan Revan turun sedikit ke pinggul Viona, merasakan lekukannya yang indah.
1848Please respect copyright.PENANASlc7OwlLmU
Viona merasa napasnya tersengal. "Mas Revan... pelukannya agak erat," bisiknya malu-malu. Tapi ia tidak menolak. Denyut jantungnya cepat, dan ada kelembapan aneh yang mulai terasa di antara pahanya. Ia mencoba mengingat suaminya, tapi tubuh Revan yang atletis dan kontol yang terasa menonjol samar di balik celana membuat imajinasinya melayang.
1848Please respect copyright.PENANAQ8x6RaSAee
Revan berbisik di telinganya, "Ibu Viona sangat lembut. Saya jarang bertemu wanita yang membuat saya ingin melindungi dan... memiliki sekaligus." Kata-kata itu penuh makna ganda. Tangan Revan mengusap punggung Viona pelan, naik turun, mendekati garis bokongnya.
1848Please respect copyright.PENANARhJYcLzwRO
Sensasi itu membuat Viona gemetar kecil. Ia merasakan panas dari tubuh Revan, kekuatan ototnya, dan aroma maskulin yang membuat kepalanya pusing. "Ini salah... tapi kenapa rasanya enak?" batinnya. Mereka berdansa beberapa lagu, tubuh mereka semakin dekat. Revan sengaja menekankan pinggulnya sedikit, membuat Viona merasakan tonjolan besar di balik celana Revan yang menggesek perut bawahnya.
1848Please respect copyright.PENANAaR2HVikeUx
Viona menahan napas. Ukuran itu terasa tidak biasa, jauh berbeda dari suaminya yang biasa-biasa saja. Rasa bersalah menyergapnya, tapi juga ada rasa penasaran yang tumbuh.
1848Please respect copyright.PENANAzpUX2lmTMb
Setelah dansa, Revan mengantar Viona kembali ke meja. Sebelum berpisah, ia memberikan kartu namanya. "Kalau Ibu butuh teman bicara atau ingin melihat proyek saya, hubungi saya kapan saja." Saat Viona menerima kartu, Revan menahan tangannya sebentar, ibu jarinya mengelus telapak tangan Viona dengan sensual.
1848Please respect copyright.PENANAFWtGvAPASH
Malam itu, Viona pulang dengan suaminya. Di dalam mobil, ia diam, pikirannya penuh dengan Revan. Suaminya mengantuk di sampingnya, tapi Viona merasakan tubuhnya masih panas. Ia menyentuh pinggangnya sendiri, mengingat sentuhan Revan. Di rumah, saat suaminya tidur lelap, Viona berbaring di tempat tidur, tangannya tanpa sadar menyentuh payudaranya yang sensitif. Bayangan Revan membuat "ceri" kecilnya berdenyut pelan.
1848Please respect copyright.PENANAJhN1C6nSPY
Sementara itu, di penthouse-nya, Revan tersenyum puas sambil meminum whiskey lagi. "Hari pertama dimulai dengan baik, Viona. Besok kamu akan semakin dekat," gumamnya. Ia sudah merencanakan langkah selanjutnya.
1848Please respect copyright.PENANA700GjUS9pF
Revan kembali ke apartemen mewahnya setelah pesta. Ia melepas tuxedo-nya, memperlihatkan tubuh atletis yang terlatih di gym setiap hari. Otot perut six-pack-nya keras, lengan berotot, dan di balik celana dalamnya, kontolnya yang panjang 28 cm dan super tebal sudah setengah tegang hanya karena mengingat tubuh Viona. Ia duduk di sofa, memutar rekaman video pesta yang diam-diam ia ambil dengan ponselnya. Gambar Viona yang polos dan pemalu membuatnya tersenyum buas.
1848Please respect copyright.PENANA84ySlbL4JE
Ia tahu Viona adalah tipe yang mudah broken. Tubuhnya sensitif, payudaranya yang besar pasti akan bereaksi hebat saat disentuh dengan benar. Revan membayangkan bagaimana ia akan merobek kesetiaan Viona perlahan, membuatnya memohon kontolnya yang besar.
1848Please respect copyright.PENANAO01wXvwNh1
Keesokan paginya, Viona terbangun dengan perasaan gelisah. Malam sebelumnya, ia mimpi tentang Revan. Dalam mimpi itu, tangan Revan menjelajahi tubuhnya, membuatnya basah. Ia bangun dengan "memek"-nya yang lembab. Suaminya sudah pergi ke kantor pagi-pagi. Viona mandi, air hangat mengalir di kulitnya, tapi ia terus mengingat sentuhan Revan di punggungnya. Saat menggosok payudaranya dengan sabun, puting-putingnya mengeras, membuatnya menggigit bibir.
1848Please respect copyright.PENANAM8zwbphhJY
"Ibu Viona... kamu akan menjadi milikku," kata Revan di dalam mobil mewahnya saat ia mengirim pesan singkat ke nomor Viona yang ia dapatkan dari kenalan. Pesan itu sederhana: "Senang bertemu kemarin. Semoga Ibu baik-baik saja hari ini."
1848Please respect copyright.PENANAvnVWfNGPUH
Viona melihat pesan itu saat sarapan. Jantungnya berdegup. Ia ragu-ragu, tapi akhirnya membalas singkat: "Terima kasih, Mas Revan. Saya baik."
1848Please respect copyright.PENANAakge4ca4Tw
Revan tersenyum melihat balasan itu. Godaan tahap satu berjalan lancar. Ia merencanakan pertemuan "kebetulan" berikutnya di tempat yang lebih privat.
1848Please respect copyright.PENANA3EK5xjNMdE
Sepanjang hari, Viona tidak bisa konsentrasi. Ia pergi ke salon, tapi pikirannya melayang ke Revan. Tubuh atletisnya, suaranya yang dalam, sentuhan yang membuatnya merinding. Suaminya menelepon sekilas, tapi pembicaraan mereka datar seperti biasa. Viona merasa bersalah, tapi juga ada kegembiraan kecil yang ia coba tekan.
1848Please respect copyright.PENANAiwA1cYTxQ6
Sore harinya, Revan muncul di sebuah kafe elit yang sering dikunjungi Viona. Ia "kebetulan" berada di sana untuk meeting. Mereka bertemu lagi. Percakapan semakin dalam. Revan menceritakan betapa ia iri pada suami Viona yang memiliki istri seperti dia. "Kalau saya yang punya istri seperti Ibu, saya tidak akan pernah melepaskan Ibu sedetik pun," katanya dengan tatapan intens.
1848Please respect copyright.PENANAOYfMZiwFTN
Viona tersipu, tapi kata-kata itu menusuk hatinya. Ia merasakan kehangatan di dada dan bawah perutnya. Mereka duduk berhadapan, lutut mereka sesekali bersentuhan di bawah meja. Revan menyentuh tangan Viona lagi, kali ini lebih berani, mengelus jari-jarinya.
1848Please respect copyright.PENANAng5AxtXpf5
Sensasi kulit mereka bersentuhan membuat Viona sulit bernapas. Bau kopi dan parfum Revan bercampur, menciptakan aroma yang memabukkan. Suara tawa Revan yang rendah membuat "ceri"-nya berdenyut lagi. Ia pulang dengan pikiran kacau, tapi sudah mulai menanti pesan berikutnya dari Revan.
1848Please respect copyright.PENANAZJ5T5LdoMl
1848Please respect copyright.PENANAlACd6UUik5


