Matahari sore di Kudus menyelinap lembut melalui celah-celah daun kelapa di halaman depan rumah kami, mewarnai dinding putih rumah dua lantai itu dengan semburat keemasan yang hangat. Aku, Aksa, duduk di teras depan sambil memainkan ponsel, menunggu kedatangan sahabatku, Darian. Kami sudah berteman sejak SMA, sekarang sama-sama mahasiswa semester lima di universitas swasta di Semarang. Darian adalah tipe cowok yang selalu jadi pusat perhatian—tinggi, berpostur atletis dari kebiasaan main basket, kulit sawo matang yang sehat, dan senyum yang entah kenapa selalu membuat cewek-cewek kampus berbisik-bisik. Tapi bagiku, dia hanya teman yang bisa diajak ngobrol apa saja, dari tugas kuliah sampai curhatan soal cewek.
442Please respect copyright.PENANAKxOYwQALG6
“Ax, dia udah deket belum?” tanya suara lembut dari dalam rumah. Itu suara Ibu, Viona. Aku menoleh dan melihatnya muncul di ambang pintu, mengenakan daster rumah sederhana berbahan katun tipis berwarna krem yang longgar di tubuhnya. Tapi meski longgar, kain itu tak bisa menyembunyikan lekuk tubuhnya yang masih sangat menawan untuk seorang wanita berusia 42 tahun. Payudaranya yang besar dan berat—ukuran yang selalu aku perhatikan secara diam-diam meski dengan rasa bersalah—terlihat menekan kain di bagian dada, dengan garis leher yang sedikit rendah sehingga sedikit kulit dada yang halus terpapar. Pinggangnya masih ramping, bokongnya bulat dan kenyal yang bergoyang pelan saat dia berjalan menghampiriku.
442Please respect copyright.PENANAh4zzLCOdaZ
“Iya, Bu. Katanya sebentar lagi,” jawabku sambil tersenyum. Ibu mendekat, tangannya menyentuh bahuku ringan. Sentuhan itu biasa saja, tapi entah kenapa hari ini terasa sedikit berbeda. Mungkin karena cuaca panas, atau karena aku sedang dalam fase di mana setiap hal kecil tentang Ibu terasa... mengganggu.
442Please respect copyright.PENANAEBY2NTdZpT
Viona adalah ibu tiri-ku sejak aku berusia sepuluh tahun. Ibuku kandung meninggal saat aku kecil, dan Ayah menikah lagi dengan Viona yang waktu itu masih berusia 28 tahun, seorang janda muda yang cantik dan mandiri. Sekarang Ayah sering dinas ke luar kota untuk pekerjaannya sebagai kontraktor, kadang berbulan-bulan. Jadi, rumah ini sering hanya diisi aku dan Ibu. Dia bekerja dari rumah sebagai desainer grafis freelance, jadi kami banyak menghabiskan waktu bersama. Aku selalu menghormatinya, tapi belakangan ini... ada sesuatu yang berubah. Mungkin karena aku semakin dewasa, atau karena Viona semakin terbuka dengan dirinya sendiri.
442Please respect copyright.PENANAaTgFOExS5D
“Kamu masak apa hari ini, Bu? Darian suka masakan rumah,” tanyaku, mencoba mengalihkan pikiran.
442Please respect copyright.PENANAICLy25cQ0B
Viona tersenyum, matanya yang sipit dan indah berbinar. “Ada ayam goreng kremes, sayur asem, dan sambal terasi favoritmu. Ibu tambahin es teh manis dingin juga. Biar temanmu betah.” Dia mengedipkan mata ringan, lalu berbalik ke dapur. Aku tak bisa tidak memperhatikan bagaimana bokongnya bergoyang pelan di balik daster tipis itu, kainnya menempel sedikit di lekuk paha yang mulus saat dia melangkah. Aku menggelengkan kepala, mengusir pikiran itu. *Dia ibumu, Aksa. Jangan gila.*
442Please respect copyright.PENANA6RHsDpgapz
Tak lama kemudian, suara motor Darian terdengar di depan gerbang. Aku bangkit menyambutnya. Darian turun dari motornya, tinggi tegap dengan kaos polo hitam yang ketat di dada dan lengan, celana jeans yang menonjolkan otot pahanya. “Bro! Lama gak ketemu, lu makin ganteng aja,” candanya sambil memelukku sekilas.
442Please respect copyright.PENANAN63zCwVhnA
“Lo yang makin item, kayak abis liburan Bali,” balasku tertawa. Kami masuk ke rumah, dan begitu Viona muncul dari dapur membawa nampan minuman, aku melihat ekspresi Darian berubah sesaat. Matanya melebar sedikit, tatapannya tertuju pada Ibu lebih lama dari yang seharusnya.
442Please respect copyright.PENANAOdkVw9SUuo
“Wah, Tante Viona... sehat selalu ya,” sapa Darian dengan suara yang sedikit bergetar, senyumnya lebar. Ibu tersenyum manis, mendekat dan menyerahkan gelas es teh. Saat tangan mereka bersentuhan sebentar, aku melihat Darian menelan ludah.
442Please respect copyright.PENANAk39GTnzpEc
“Sehat, Dar. Kamu juga tambah tinggi aja. Duduk dulu, Tante ambilkan makanan.” Viona berbalik lagi, dan kali ini aku yakin Darian memperhatikan gerakan bokongnya yang kenyal itu. Aku merasa ada sedikit panas di dada, tapi aku abaikan. Hanya imajinasi.
442Please respect copyright.PENANAyv7DGAtWjO
Kami makan bersama di meja makan. Obrolan mengalir santai. Darian bercerita tentang proyek kuliahnya, aku menimpali, sementara Viona mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali tertawa kecil. Tawaannya lembut, dan setiap kali dia tertawa, payudaranya naik-turun pelan di balik daster, puttingnya samar-samar terlihat menekan kain karena AC ruangan yang dingin. Aku melihat Darian sesekali melirik ke sana, lalu cepat mengalihkan pandangan.
442Please respect copyright.PENANA3CapiIPKaM
“Dar, kamu nginep aja malam ini. Kan besok kita mau ngerjain tugas bareng sampe malam,” usulku. Darian melirik Ibu, seolah minta izin.
442Please respect copyright.PENANAvFZdZvpgmz
“Boleh banget, Tante. Gak ganggu kan?” tanya Darian sopan.
442Please respect copyright.PENANAheJ2B7u5F7
Viona menggeleng, senyumnya semakin lebar. “Sama sekali enggak. Rumah ini sepi, Aksa juga butuh teman. Ibu senang ada yang nemenin.” Matanya bertemu dengan mata Darian sebentar lebih lama, dan aku melihat pipi Darian sedikit memerah. *Apa ini?*
442Please respect copyright.PENANAN4HoRP3OrF
Malam mulai larut. Setelah makan, kami pindah ke ruang keluarga. Ibu berganti baju ke tank top longgar berwarna putih dan celana pendek rumah yang ketat di paha. Tank top itu jelas tak memakai bra di dalamnya—payudaranya yang montok bergoyang bebas setiap gerakan, areola gelap samar terbayang di balik kain tipis saat cahaya lampu menyentuhnya. Dia duduk di sofa single di seberang kami, kakinya disilangkan, paha mulusnya terpapar.
442Please respect copyright.PENANA9YumCZjcTQ
Kami nonton film action di Netflix, tapi aku bisa merasakan suasana berubah. Darian yang biasanya cerewet, sekarang lebih pendiam, matanya sering melirik ke arah Ibu. Viona pura-pura tak sadar, tapi sesekali dia meregangkan tubuh, tangannya terangkat sehingga tank top naik dan memperlihatkan sedikit perut rata serta garis pinggang yang indah. Aroma sabun mandi floral dari tubuhnya menyebar lembut di ruangan.
442Please respect copyright.PENANAnchk96hQAF
“Aksa, ambilin Ibu air mineral dong,” pinta Viona tiba-tiba. Saat aku bangkit ke dapur, aku melihat dari sudut mata bagaimana Viona menggeser posisi duduknya, kakinya terbuka sedikit, celana pendeknya menempel ketat di selangkangan. Darian menatapnya lekat, tangannya yang memegang remote sedikit gemetar.
442Please respect copyright.PENANAtEohfgoCHD
Di dapur, aku mengambil air sambil berpikir. *Ibu biasanya gak segini santai kalau ada tamu cowok.* Tapi aku tak mau berprasangka. Kembali ke ruangan, suasana semakin tegang. Film berlanjut, tapi obrolan beralih ke topik pribadi.
442Please respect copyright.PENANA6hl3Rgfyk4
“Dar, kamu punya pacar belum?” tanya Viona tiba-tiba, suaranya manja. Dia menyandarkan punggung, dada maju sedikit sehingga payudaranya semakin menonjol, puttingnya kini jelas mengeras menekan kain.
442Please respect copyright.PENANAQ1VyogXnM5
Darian tersipu. “Belum, Tante. Sibuk kuliah. Lagian... susah nemu yang bener-bener bikin klepek-klepek.”
442Please respect copyright.PENANA91Kd7BCd07
Viona tertawa pelan. “Pasti banyak yang ngejar kamu. Cowok setampan ini.” Matanya menelusuri tubuh Darian dari atas ke bawah, berhenti sebentar di pangkuannya. Aku melihat ada tonjolan samar di celana jeans Darian. Dia buru-buru menyilangkan kaki, wajahnya memerah.
442Please respect copyright.PENANAITWkDU0z8b
Aku merasa jantungku berdegup kencang. Campuran antara cemburu, penasaran, dan... sesuatu yang aneh di perutku. “Bu, filmnya bagus nih, fokus aja,” kataku mencoba mencairkan.
442Please respect copyright.PENANAMwB8TGs6H7
Tapi Viona tak berhenti. “Ibu dulu waktu muda juga suka cowok atletis kayak Darian. Kuat, tahan lama...” Kata-katanya menggantung, diiringi senyum nakal. Darian menelan ludah keras, tangannya menekan paha sendiri seolah menahan sesuatu.
442Please respect copyright.PENANAC3EWqoyeQX
Percakapan berlanjut dengan rayuan halus dari Ibu. Dia bercerita tentang masa mudanya, sesekali menyentuh lengan Darian saat tertawa, jarinya mengusap pelan. Setiap sentuhan membuat Darian semakin gelisah. Aku bisa melihat kontolnya sudah setengah tegang di balik celana, tonjolannya tak bisa disembunyikan sepenuhnya. Dia terus menggeser posisi duduk, berusaha menyembunyikannya.
442Please respect copyright.PENANA8gPeYT0pxE
Pukul 11 malam, aku mulai mengantuk. “Aku tidur duluan ya. Kamar tamu udah Ibu siapin, Dar. Selimutnya ada di lemari.” Aku naik ke lantai dua, meninggalkan mereka berdua di ruang keluarga. Tapi aku tak langsung tidur. Aku berbaring di kamar, telinga mencoba mendengar suara dari bawah.
442Please respect copyright.PENANA0WYaPMwzTJ
Suara tawa pelan Viona terdengar, diikuti suara Darian yang rendah. “Tante... ini gak enak sama Aksa...” katanya pelan.
442Please respect copyright.PENANAVRZCa6LEN0
“Shh... cuma ngobrol aja, Dar. Kamu tegang sekali dari tadi. Ibu lihat kok...” balas Viona, suaranya semakin manja.
442Please respect copyright.PENANA4sajfrKEhw
Aku membeku di tempat tidur. Jantungku berdegup kencang. Apa yang sedang terjadi di bawah sana? Aku ingin turun, tapi kaki terasa berat. Nafsu aneh bercampur rasa bersalah mulai merayap di pikiranku. Ibu... menggoda Darian? Dan Darian yang kontolnya sudah tegang sejak tadi...
442Please respect copyright.PENANAIyRdB4pvs5
Beberapa menit kemudian, suara langkah kaki mendekati tangga. Tapi bukan hanya satu orang. Aku mendengar bisik-bisik, lalu pintu kamar tamu di lantai bawah tertutup pelan. Atau... apakah mereka naik?
442Please respect copyright.PENANAYMimKbWkL0
Malam itu, aku tak bisa tidur. Bayangan payudara Ibu yang bergoyang, bokongnya yang kenyal, dan kontol Darian yang tegang karena godaan Ibu terus berputar di kepalaku.
442Please respect copyright.PENANAVRWHjxwqs0
Pagi menyingsing dengan cahaya matahari yang lembut menyusup melalui tirai kamar tidurku di lantai dua. Aku terbangun dengan kepala berat, mata masih terasa lengket karena semalam hampir tak bisa memejamkan mata. Suara bisik-bisik dan tawa pelan Viona yang menggoda masih bergema di telingaku, begitu juga bayangan pintu kamar tamu yang sedikit terbuka. Aku duduk di tepi tempat tidur, mengusap wajah, mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanya imajinasi. *Ibu cuma ramah. Darian temanku. Ini gak mungkin.*
442Please respect copyright.PENANABeJrNQyIEw
Tapi saat aku turun tangga, aroma kopi dan roti panggang yang harum menyambut hidungku. Suara dari dapur terdengar—suara Viona yang lembut, diiringi jawaban Darian yang agak serak. Aku melangkah pelan, kaki telanjang menyentuh lantai keramik yang dingin, jantung berdegup tak karuan.
442Please respect copyright.PENANAQ2WvWlrJan
Di dapur, Viona berdiri membelakangiku, mengenakan apron tipis di atas tank top putih yang sama semalam dan celana pendek rumah yang semakin ketat di pagi hari. Kain apron itu menempel pada lekuk tubuhnya, mempertegas pinggang ramping dan bokong bulat kenyal yang bergoyang pelan saat dia mengaduk kopi. Payudaranya yang besar dan berat terayun-ayun bebas di balik tank top, puttingnya sudah mengeras karena udara pagi yang sejuk, menekan kain tipis hingga menimbulkan dua titik yang jelas. Kulitnya yang putih mulus berkilau samar oleh keringat tipis, aroma sabun mandi floral bercampur wangi masakan pagi.
442Please respect copyright.PENANAGqZMJyrXoZ
Darian duduk di meja makan, kaosnya kusut, rambut acak-acakan. Matanya tampak lelah tapi waspada, tangannya memegang gelas kopi dengan erat. Saat aku masuk, dia tersentak sedikit, senyumnya dipaksakan. “Pagi, Ax. Tidur nyenyak?”
442Please respect copyright.PENANAqhqmnEzzjB
“Biasa aja,” jawabku datar, mata tak lepas dari Viona yang kini berbalik menghadap kami. Senyumnya manis, tapi ada kilau nakal di matanya yang sipit indah.
442Please respect copyright.PENANAbLL88B0RRD
“Pagi sayang. Ibu buatin sarapan spesial buat kalian berdua. Duduklah, Aksa.” Viona mendekat, meletakkan piring roti panggang dan telur orak-arik di depanku. Saat membungkuk, tank topnya melorot sedikit ke depan, memperlihatkan belahan dada yang dalam dan payudara kiri yang hampir tumpah keluar. Areolanya yang gelap dan lebar terlihat samar, puttingnya yang kecil tapi sudah tegang seperti menantang untuk disentuh. Aku buru-buru mengalihkan pandangan, tapi Darian tak seberuntung itu. Matanya tertuju tepat ke sana, dan aku melihat jakunnya naik-turun menelan ludah. Di pangkuannya, celana pendek olahraga yang dia pakai semalam menunjukkan tonjolan yang jelas—kontolnya sudah setengah tegang lagi.
442Please respect copyright.PENANAyUKYB6Ml1t
“Kamu keliatan capek, Dar. Semalam tidur nyenyak?” tanya Viona sambil duduk di kursi di sebelah Darian, kakinya yang panjang dan mulus sengaja menyentuh betis Darian di bawah meja. Sentuhan itu “tak sengaja”, tapi bertahan beberapa detik lebih lama.
442Please respect copyright.PENANAD4nOff5Tjr
Darian tersipu, menggeser kakinya tapi tak sepenuhnya menjauh. “I-iya, Tante. Nyenyak... tapi agak panas malamnya.”
442Please respect copyright.PENANAZhFTjxndnh
Viona tertawa pelan, suaranya seperti musik yang mengalun lembut. “Pantas. AC kamar tamu emang suka bermasalah. Lain kali bilang aja sama Ibu, biar Ibu yang atur.” Tangannya menyentuh lengan Darian ringan, jari-jarinya mengusap otot bisep yang keras itu dengan gerakan melingkar pelan. “Kamu kuat sekali ya, ototnya padat. Pasti banyak cewek yang ngejar.”
442Please respect copyright.PENANAEPTlBh4xuG
Aku merasa dada panas. “Bu, Darian mau fokus tugas kuliah hari ini. Kita di kamar aku aja ngerjainnya.”
442Please respect copyright.PENANAIqMrzEVwRX
“Tentu, sayang. Tapi sarapan dulu. Ibu gak mau kalian kelaparan.” Viona bangkit lagi untuk mengambil sesuatu di lemari atas. Tubuhnya meregang, tank top naik hingga memperlihatkan perut rata yang halus, garis pinggul yang lebar, dan sedikit garis celana dalam tipis yang menempel di bokongnya. Darian menatap tanpa berkedip, tangannya menekan paha sendiri, mencoba menekan tonjolan kontolnya yang kini semakin jelas dan tegang. Kontolnya pasti sudah penuh darah, mengeras karena godaan pagi ini.
442Please respect copyright.PENANAOONgmoC1oI
Kami sarapan dalam suasana yang penuh ketegangan tersembunyi. Obrolan mengalir, tapi setiap kata Viona terasa seperti sapuan bulu yang menggelitik. Dia bercerita tentang masa kuliahnya dulu, bagaimana dia suka cowok yang “bertenaga” dan “bisa bikin dia merasa aman”. Darian menjawab dengan suara parau, sesekali melirikku seolah minta maaf, tapi matanya selalu kembali ke payudara Ibu yang bergoyang saat dia tertawa, atau ke paha mulusnya yang terbuka saat duduk menyilang.
442Please respect copyright.PENANAw9O59U2psx
Setelah sarapan, kami naik ke kamarku di lantai dua untuk mengerjakan tugas kelompok. Darian berjalan di belakangku, langkahnya agak kaku karena kontolnya yang masih tegang tak kunjung reda. “Ax... Tante Viona... dia selalu segini ramah?” bisiknya pelan saat kami masuk kamar.
442Please respect copyright.PENANAHEymEiQK4r
Aku mengangguk, pura-pura biasa. “Iya, dia baik. Jangan aneh-aneh ya.”
442Please respect copyright.PENANALRyTLS0JHz
Tapi sepanjang pagi, Viona bolak-balik ke kamarku dengan alasan kecil. Pertama membawa camilan buah potong, lalu jus segar, kemudian “cek AC-nya” karena katanya panas. Setiap kali masuk, dia membungkuk rendah saat meletakkan barang, payudaranya hampir menyentuh meja, aroma tubuhnya yang hangat dan feminin memenuhi ruangan. Saat membungkuk di depan Darian untuk mengambil gelas kosong, bokongnya yang bulat dan kenyal terangkat, celana pendeknya naik hingga garis bibir selangkangan samar terlihat dari samping—bibir memeknya yang tebal dan montok menekan kain, meninggalkan sedikit jejak lembab karena udara panas.
442Please respect copyright.PENANAEh2W2QX5OK
“Maaf ya ganggu, anak-anak. Ibu cuma mau pastiin kalian nyaman,” katanya sambil tersenyum, mata bertemu mata Darian lama. “Dar, kamu kok keringetan? Lepas aja kaosnya, biar adem.”
442Please respect copyright.PENANA0V9ilfiS9a
Darian ragu, tapi akhirnya melepas kaosnya. Tubuh atletisnya terpapar—dada bidang, perut six-pack samar, dan celana pendek yang kini tak bisa menyembunyikan kontolnya yang tegang maksimal. Panjang dan tebal, kepala kontolnya menekan kain hingga hampir menyembul. Viona menatapnya terang-terangan, gigit bibir bawahnya pelan. “Wah... kamu benar-benar atletis. Ibu suka lihat cowok yang... siap sedia seperti ini.”
442Please respect copyright.PENANAY5f4dWCRDD
Aku merasa napasku tersengal. Konflik batin menerpaku: marah, tapi juga ada getar aneh di selangkanganku sendiri. Viona keluar, tapi tak lama kemudian kembali dengan handuk kecil. “Ini, Dar. Usap keringatmu.” Dia sendiri yang mengusap dada Darian pelan, jari-jarinya menyusuri otot perutnya, turun hampir ke pinggiran celana. Darian menggigil, kontolnya berdenyut nyata di depan mata kami.
442Please respect copyright.PENANAIJXjxLM2Zl
“Bu... itu cukup,” kataku dengan suara agak bergetar.
442Please respect copyright.PENANAGQA08EcYlh
Viona tertawa lembut. “Ibu cuma bantu. Kalian fokus tugas ya. Nanti siang Ibu masak spesial lagi.” Dia keluar, tapi sebelum pintu tertutup, dia menoleh dan mengedip ke Darian. “Kalau butuh apa-apa, panggil Ibu aja.”
442Please respect copyright.PENANAgZi2M0qm1F
Siang hari berlalu dengan lambat. Tugas kami maju pelan karena Darian terus gelisah. Kontolnya tak pernah benar-benar lemas—setiap kali Viona lewat di depan pintu kamar dengan alasan mengambil barang di lantai atas, dia sengaja berlama-lama, tubuhnya bergoyang menggoda. Sekali waktu, dia “tak sengaja” menjatuhkan sendok di koridor, membungkuk dalam-dalam sehingga celana pendeknya tertarik naik, memperlihatkan hampir seluruh bokong kenyalnya yang putih mulus, celah bokongnya yang dalam, dan garis memek dari belakang yang sudah sedikit basah.
442Please respect copyright.PENANAwRKNl7dNos
Darian akhirnya tak tahan. Saat Viona datang lagi membawa es, dia berdiri, kontolnya menonjol jelas. “Tante... aku... aku ke kamar mandi dulu ya.”
442Please respect copyright.PENANAqarBMMO0ck
Viona tersenyum penuh pengertian, tangannya menyentuh dada telanjang Darian. “Mau Ibu temani? Kamar mandi di bawah agak jauh.”
442Please respect copyright.PENANA8te3inn1Jw
Aku berdiri. “Gue ikut aja.”
442Please respect copyright.PENANAqWQ2rIT1my
Tapi Viona menahan lenganku pelan. “Kamu lanjut tugasnya, Aksa. Ibu yang antar Darian. Kamu kan capek.”
442Please respect copyright.PENANAKnMGoAgn99
Mereka turun bersama. Aku mencoba fokus pada laptop, tapi telinga tajam mendengar. Suara langkah ke kamar mandi lantai bawah, lalu pintu tertutup. Tak ada suara air mengalir segera. Hanya bisik-bisik pelan, tawa Viona yang tertahan, dan suara napas Darian yang berat.
442Please respect copyright.PENANAMMt06WJDKe
“...Tante... ini gak boleh... Aksa di atas...” desis Darian.
442Please respect copyright.PENANAMiR5UA6Ovr
“Shhh... Ibu cuma lihat kok. Kontolmu dari tadi tegang terus ya, sayang? Kasihan... besar sekali, berdenyut-denyut begini.” Suara Viona manja, penuh godaan. “Ibu sentuh boleh? Cuma pegang pelan... biar reda.”
442Please respect copyright.PENANAY9oq9PfdVh
Aku membeku di kamar. Jantungku mau copot. Aku ingin turun, tapi kaki seperti terpaku. Rasa bersalah membanjiri, tapi nafsu aneh membuat kontolku sendiri mengeras. Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang menyiksa, hanya terdengar suara gesekan kain dan desahan tertahan Darian.
442Please respect copyright.PENANAwtc2Ko3e3S
Pintu kamar mandi terbuka lagi. Darian naik dengan wajah merah padam, celana basah sedikit di bagian depan—mungkin sudah keluar sedikit pra-cum. Viona di belakangnya, bibirnya basah, mata berkilat penuh kepuasan. “Udah reda kan, Dar? Lanjut tugas yuk.”
442Please respect copyright.PENANAlrjDt9zOG5
Sore menjelang, ketegangan semakin memuncak. Kami bertiga duduk di ruang keluarga lagi, AC dingin membuat putting Viona semakin menonjol. Dia sengaja duduk dekat Darian, paha mereka saling menempel. Percakapan berubah semakin mesum secara halus.
442Please respect copyright.PENANANCvoBFEDq8
“Dar, kamu pernah digoda cewek yang lebih tua gak?” tanya Viona sambil tangannya istirahat di paha Darian, jari mengusap naik-turun pelan mendekati kontol yang kembali tegang maksimal.
442Please respect copyright.PENANAZdbI40VXZk
“Belum pernah seintens ini, Tante...” jawab Darian parau, matanya penuh nafsu yang tertahan.
442Please respect copyright.PENANAL9rmMRBTA7
Aku tak tahan lagi. “Bu, cukup. Kita mau istirahat.”
442Please respect copyright.PENANAzaFC5NALs1
Tapi Viona hanya tersenyum. “Ibu cuma bercanda, sayang. Tapi kalau Darian butuh pelepasan... Ibu ada di sini.”
442Please respect copyright.PENANAluMNYlS8eq
Malam semakin larut. Aku pura-pura tidur lebih awal, tapi sebenarnya mengintip dari celah pintu kamar. Darian dan Viona masih di ruang keluarga, cahaya lampu temaram. Viona kini duduk di pangkuan Darian, bokong kenyalnya menekan kontol tegang Darian yang sudah hampir meledak. Payudaranya menempel di dada Darian, tangan Darian gemetar di pinggang Ibu.
442Please respect copyright.PENANAakVyZAPkYP
“Besok pagi Ayah pulang... tapi malam ini masih panjang, Dar,” bisik Viona di telinga Darian, pinggulnya bergoyang pelan menggesek kontol itu.
442Please respect copyright.PENANAvmH8srS9Kf
Aku menutup pintu pelan, napas tersengal. aku berbaring di tempat tidur dengan mata terbuka lebar, telinga menangkap setiap suara samar dari lantai bawah. Desahan pelan yang tertahan, suara kain bergesek, dan bisikan Viona yang manja terus bergema di kepalaku. Jantungku berdegup kencang, campuran antara amarah, rasa bersalah yang menusuk, dan nafsu terlarang yang membuat kontolku sendiri mengeras tanpa henti di balik celana boxer. *Ini ibuku. Tapi kenapa aku tak bisa berhenti mendengarkan?*
442Please respect copyright.PENANAs8G4hHrJUp
Pukul dua dini hari, aku tak tahan lagi. Aku bangkit pelan, berjalan tanpa suara menuruni tangga. Cahaya lampu ruang keluarga masih menyala temaram. Pintu kamar tamu terbuka lebar seperti undangan. Bayangan yang aku lihat dari celah tadi kini semakin jelas. Viona berlutut di depan Darian yang duduk di tepi tempat tidur, tank topnya sudah diturunkan hingga pinggang, memperlihatkan payudara montoknya yang besar dan berat sepenuhnya. Payudara itu bergoyang lembut setiap gerakan kepalanya, areola gelap lebar dengan putting yang mengeras sempurna, merah muda kecokelatan, menonjol karena nafsu.
442Please respect copyright.PENANAFpLR3G9CHS
Tangan Viona memegang pangkal kontol Darian yang sudah bebas dari celana pendek. Kontol itu besar dan tebal, urat-uratnya menonjol, kepala kontolnya mengkilap oleh cairan pra-cum yang meluber. Bibir Viona yang penuh menyentuh ujungnya, mengecup pelan, lidahnya menjulur menjilat cairan itu dengan gerakan lambat yang menggoda.
442Please respect copyright.PENANAAH8ETYU9rD
“Enak ya, Dar? Kontolmu tegang sekali sejak pagi... Ibu kasihan lihatnya,” bisik Viona dengan suara serak penuh gairah. Lidahnya melingkar di kepala kontol, menjilat lubang kecil di ujungnya yang terus mengeluarkan cairan bening. “Besok Ayah pulang, tapi malam ini... kontol ini milik Ibu dulu.”
442Please respect copyright.PENANA8pOE3hkrb2
Darian menggigit bibir, tangannya gemetar memegang rambut Viona yang hitam panjang. “Tante... ahh... ini salah... Aksa di atas... tapi... sial, enak sekali...”
442Please respect copyright.PENANABobgUK3Lv1
Aku berdiri di balik dinding koridor, tangan mengepal, napas tertahan. Aku bisa mundur sekarang, tapi kaki tak bergerak. Viona mulai menelan kontol Darian lebih dalam. Mulutnya yang hangat dan basah meluncur pelan, bibirnya meregang mengulum batang tebal itu. Suara basah “gluck... gluck...” pelan terdengar saat kepalanya naik turun, payudaranya bergoyang berat mengikuti ritme. Tangan Darian meremas payudara kiri Viona, jari-jarinya tenggelam di daging lembut yang penuh, memilin putting yang keras itu hingga Viona mendesah di sekitar kontolnya.
442Please respect copyright.PENANAzLp0ISJsQJ
“Mmmhh... hisap lebih dalam, Tante... kontolku udah gak tahan...” erang Darian.
442Please respect copyright.PENANAFv04NFs9Kb
Viona melepaskan kontol sebentar, benang liur menghubungkan bibirnya dengan kepala kontol yang mengkilap. “Pelan-pelan, sayang. Ibu mau nikmati setiap inci kontol besar ini. Lihat, putting Ibu udah keras banget karena nafsu sama kamu.” Dia mengangkat payudaranya sendiri, menyodorkan ke mulut Darian. Darian langsung menyedot putting itu rakus, lidahnya berputar, menghisap hingga Viona melengkungkan punggung, bokong kenyalnya bergoyang di udara.
442Please respect copyright.PENANASLT8bzgEIj
Aku merasa dunia berputar. Rasa bersalah membakar dadaku, tapi kontolku sudah basah oleh pra-cum sendiri. Aku mundur pelan ke kamar, tak sanggup menyaksikan lebih lama. Tapi suara mereka terus terdengar samar hingga pagi menjelang.
442Please respect copyright.PENANAbpMdK5IdWI
Pagi harinya, suasana rumah terasa berbeda. Ayah memang pulang siang nanti, tapi ketegangan tak berkurang. Aku turun dengan mata panda, Darian sudah di meja makan dengan wajah yang masih memerah. Viona muncul dari dapur mengenakan daster rumah baru yang lebih tipis dan pendek, hampir tak menutupi paha atasnya. Setiap langkah, bokongnya bergoyang leluasa, dan aku yakin dia tak memakai celana dalam.
442Please respect copyright.PENANAxkZddmKFqs
“Pagi anak-anak. Tidur nyenyak?” tanyanya seolah tak terjadi apa-apa, tapi matanya melirik Darian dengan penuh arti. Saat membungkuk meletakkan nasi goreng, belahan dadanya terbuka lebar, payudara berat itu hampir jatuh keluar, puttingnya masih agak merah karena hisapan semalam.
442Please respect copyright.PENANAOiSlvRyTGo
Darian menjawab dengan suara parau. “Nyenyak, Tante... terima kasih.”
442Please respect copyright.PENANA6imbZydJnJ
Kami sarapan dalam diam tegang. Viona sengaja duduk di antara kami, tangan kirinya di bawah meja pasti sedang menyentuh paha Darian. Aku melihat Darian menggeser pinggul, kontolnya kembali tegang menonjolkan celana.
442Please respect copyright.PENANAPLUhAAzoDB
“Ax, hari ini kalian tugas lagi? Ibu bisa bantu kalau butuh referensi,” kata Viona sambil tangannya terang-terangan mengusap selangkangan Darian di bawah meja. Darian tersentak, napasnya tersengal.
442Please respect copyright.PENANAeDmFW7Xryb
Aku mengangguk kaku. “Kami di kamar aja.”
442Please respect copyright.PENANADhrU8uHqpO
Sepagian itu, Viona terus “membantu”. Dia masuk ke kamarku berkali-kali, setiap kali semakin berani. Saat membawa jus, dia sengaja menyeka keringat di leher Darian dengan tangan, lalu turun ke dada. “Kamu panas sekali, Dar. Lepas baju lagi yuk.”
442Please respect copyright.PENANA2yi6RoAP1J
Darian melepas kaosnya lagi. Viona duduk di sampingnya di tepi tempat tidur, tangannya mengusap perut Darian, turun pelan ke pinggiran celana. “Kontolmu lagi tegang ya? Ibu rasain dari tadi. Kasihan... mau Ibu pijit pelan?”
442Please respect copyright.PENANAQ8vMZhCn0y
Aku pura-pura fokus laptop, tapi mata curi-curi. Viona menurunkan resleting celana Darian, mengeluarkan kontol yang sudah keras maksimal. Tangan halusnya memegang batang itu, mengocok pelan naik turun. Kulit kontol Darian meregang, kepala merah mengkilap. “Lembut tapi keras sekali... Ibu suka kontol muda yang penuh tenaga begini.”
442Please respect copyright.PENANAAfYGstES68
Darian mendesah. “Tante Viona... ahh... pelan... Aksa di sini...”
442Please respect copyright.PENANAS3G5e2vtpe
“Dia fokus tugas kok. Kamu diam aja, biar Ibu yang urus nafsumu yang nggak reda-reda ini.” Viona mempercepat gerakan tangannya, ibu jarinya mengusap kepala kontol yang sensitif. Cairan bening terus keluar, membasahi jari-jarinya. Aroma musk maskulin kontol Darian bercampur aroma tubuh Viona yang semakin panas.
442Please respect copyright.PENANA2xvfaNVYnY
KELANJUTANNYA DI LINK 🔗 DIBAWAK INI https://lynk.id/tokoku56


