Aku bernama Reno. Dua puluh tiga tahun. Tinggal di rumah yang dulu terasa cukup untuk aku dan ibu saja, sekarang terasa sempit meski ukurannya bertambah. Bukan karena dindingnya yang berubah, tapi karena orang-orang di dalamnya.
5271Please respect copyright.PENANA2uCFypyGp5
Ibu ku, Maya, empat puluh dua tahun. Setelah ayah kandungku meninggal lima tahun lalu, ibu sempat tenggelam dalam kesedihan yang panjang. Aku melihatnya bangun pagi dengan mata bengkak, memasak untukku dengan senyum yang tidak sampai ke mata. Dua tahun lalu ia menikah lagi dengan Hendra, pria empat puluh delapan tahun yang membawa anak laki-lakinya sendiri, Bima, dua puluh lima tahun.
5271Please respect copyright.PENANAFKsnq5ZEtB
Sejak saat itu, rumah ini berubah pelan-pelan, seperti air yang mendidih tanpa kita sadari sampai uapnya sudah terasa di kulit.
5271Please respect copyright.PENANAH1kDwz7kfw
Aku ingat hari pertama Bima pindah. Ia datang dengan koper besar dan senyum lebar yang seolah sudah menguasai ruangan. Tubuhnya tinggi, bahu lebar, rambut pendek yang selalu rapi. Ada aura percaya diri yang berlebihan, seolah ia tahu persis efek yang ditimbulkannya pada orang di sekitarnya.
5271Please respect copyright.PENANAJEmazwg0PE
Ibu menyambutnya di depan pintu dengan pelukan singkat. Aku melihat tangan Bima menyentuh pinggang ibu lebih lama dari yang seharusnya. Bukan canggung, tapi seolah sudah biasa. Ibu tertawa kecil, pipinya agak merah.
5271Please respect copyright.PENANAFhTS7yvVDX
“Selamat datang di rumah ini, Nak,” kata ibu. Suaranya lembut, seperti biasa, tapi ada nada yang berbeda. Nada yang dulu hanya muncul saat ia bicara dengan ayahku dulu.
5271Please respect copyright.PENANAZnBvHhU80u
Pak Hendra berdiri di belakang, tangannya di bahu ibu. “Maya sudah seperti ibu sendiri untuk Bima. Kamu harus berterima kasih, Reno.”
5271Please respect copyright.PENANARZJxs6u9ro
Aku hanya mengangguk. Tidak ada yang salah dengan kalimat itu. Tapi ada sesuatu di matanya yang membuatku tidak nyaman.
5271Please respect copyright.PENANA10dy8iSLFh
Malam itu, kami makan malam bersama untuk pertama kalinya sebagai keluarga baru. Ibu memasak nasi goreng spesial, meja penuh dengan lauk. Ia mengenakan daster katun tipis berwarna krem yang menempel di tubuhnya. Daster itu bukan yang paling ketat, tapi cukup untuk memperlihatkan lekuk dada dan pinggulnya yang masih montok. Payudaranya yang besar sedikit bergoyang saat ia bergerak mengambil piring dari rak. Aku memperhatikan bagaimana Bima mengikuti gerakan itu dengan mata yang tidak berusaha disembunyikan.
5271Please respect copyright.PENANAFHUHDkT2bv
“Kalian berdua beruntung punya ibu yang bisa masak seperti ini setiap hari,” kata Bima sambil menyendok nasi. Ia duduk di sebelah ibu. “Kalau di rumah lama, aku biasanya makan mie instan atau pesan online.”
5271Please respect copyright.PENANA3GRmox66RZ
Ibu tersenyum, menyeka tangannya di apron. “Kalau sudah di sini, jangan harap makan mie lagi. Ibu akan masakkan yang enak-enak.”
5271Please respect copyright.PENANAEODsEjY93O
Pak Hendra tertawa dari ujung meja. “Lihat, Reno? Ibumu sudah betah sekali di sini. Dulu ia sering bilang masak hanya untukmu. Sekarang sudah untuk kita bertiga.”
5271Please respect copyright.PENANAsbls8EbsCV
Aku menatap piringku. “Iya, Pak.”
5271Please respect copyright.PENANAsvV8zjjSfg
Suasana terasa hangat. Terlalu hangat. Bima terus bercanda dengan ibu, menceritakan hal-hal kecil tentang pekerjaannya, tentang bagaimana ia pernah hampir kena tipu klien. Ibu mendengarkan dengan perhatian penuh, sesekali tertawa dan menyentuh lengan Bima ringan. Sentuhan itu tidak lama, tapi cukup untuk membuat dadaku terasa sesak.
5271Please respect copyright.PENANAIxPw8f2hMC
Setelah makan, ibu berdiri untuk membersihkan meja. Dasternya naik sedikit saat ia membungkuk mengambil piring kotor. Bokongnya yang bulat dan montok terlihat jelas di balik kain tipis itu. Aku melihat Bima menatapnya tanpa malu. Pak Hendra juga, tapi dengan cara yang lebih tenang, seolah sudah terbiasa memiliki hak untuk memandang.
5271Please respect copyright.PENANA6kPDJuAEXX
Malam itu aku tidur dengan perasaan aneh. Bukan marah. Bukan cemburu biasa. Ada sesuatu yang panas di perutku, sesuatu yang membuatku terbangun di tengah malam dengan tangan di dalam celana dan gambar ibu yang membungkuk di meja makan masih jelas di kepala.
5271Please respect copyright.PENANAyl0LgMnVz7
Minggu-minggu berikutnya berlalu dengan pola yang sama. Ibu semakin sering tersenyum. Ia mulai mengenakan pakaian yang sedikit lebih terbuka di rumah—blouse tanpa lengan yang memperlihatkan belahan dada, rok yang sedikit di atas lutut. Bukan vulgar. Tapi cukup untuk membuat siapa pun yang melihatnya berhenti sejenak.
5271Please respect copyright.PENANAOqdw0r6Zvq
Suatu sore, aku pulang lebih awal dari kampus. Rumah sepi. Aku mendengar suara tawa dari dapur. Aku melangkah pelan, sepatu dilepas di depan pintu.
5271Please respect copyright.PENANAVOJmWdgIWI
Ibu berdiri di depan kompor, mengaduk sesuatu di wajan. Bima berdiri di belakangnya, sangat dekat. Tangannya di atas tangan ibu yang memegang spatula, seolah membantu mengaduk. Tubuh mereka hampir menempel. Ibu tertawa, kepalanya sedikit menoleh ke belakang.
5271Please respect copyright.PENANADRYnJVpbfh
“Bima, jangan begitu. Nanti ibu kaget.”
5271Please respect copyright.PENANAx9mDo2jfCz
“Kenapa, Bu? Kan Bima cuma bantu. Ibu kan bilang tangan ibu capek tadi.”
5271Please respect copyright.PENANA0b2DFAT2dU
Ibu tidak menjauh. Malah ia bersandar sedikit ke belakang, punggungnya menyentuh dada Bima. Aku melihat wajah ibu dari samping—pipinya merah, napasnya agak cepat. Bima menunduk, bibirnya hampir menyentuh telinga ibu.
5271Please respect copyright.PENANAsiOMhD7gWT
“Baunya enak sekali, Bu. Bukan cuma masakannya.”
5271Please respect copyright.PENANAlffIDAW3Ek
Ibu tertawa lagi, suaranya lebih rendah. “Dasar anak nakal.”
5271Please respect copyright.PENANAYhUCt28YzS
Aku mundur pelan sebelum mereka menyadari kehadiranku. Jantungku berdetak sangat kencang. Ada rasa marah yang naik, tapi di bawahnya ada sesuatu yang lain—sesuatu yang membuat celanaku terasa sempit. Aku naik ke kamar, menutup pintu, dan berdiri di depan cermin lama.
5271Please respect copyright.PENANAVumg4U9SFJ
Wajahku panas. Aku membayangkan apa yang akan terjadi kalau aku tidak mundur. Apakah Bima akan mencium leher ibu? Apakah ibu akan membiarkannya? Apakah Pak Hendra tahu? Apakah ia membiarkannya?
5271Please respect copyright.PENANAoiDSqwqNyn
Malam itu, saat makan malam, suasana terasa berbeda. Ibu duduk di antara Pak Hendra dan Bima. Pak Hendra sering menyentuh lutut ibu di bawah meja. Aku melihat jari-jarinya bergerak pelan, naik turun. Ibu tidak menyingkirkan tangan itu. Malah ia sesekali menggigit bibir bawahnya saat jari itu naik lebih tinggi.
5271Please respect copyright.PENANA4g29tuOYwk
Bima bercerita tentang proyek baru di kantor. Suaranya santai, tapi matanya sesekali melirik ke arah dada ibu yang terlihat dari belahan blouse-nya. Ibu memakai bra hitam tipis hari itu. Putingnya samar-samar terlihat saat cahaya lampu menyentuh kain.
5271Please respect copyright.PENANAIPvb8c1SCg
“Reno, kamu diam saja malam ini,” kata ibu tiba-tiba. Matanya menatapku dengan lembut, tapi ada sesuatu yang lain di sana. Sesuatu yang seperti… menantang.
5271Please respect copyright.PENANAoGnJgeHAGf
“Aku capek, Bu,” jawabku. Suaraku terdengar datar di telingaku sendiri.
5271Please respect copyright.PENANAXij3j8EoAI
Pak Hendra tertawa kecil. “Anak muda sekarang memang banyak yang capek. Padahal usia masih muda. Kalau Bima, energinya selalu penuh. Bisa bantu ibumu di rumah sampai malam.”
5271Please respect copyright.PENANADsnciDLFlx
Bima tersenyum lebar. “Iya, Pak. Ibu kan sudah seperti ibu sendiri. Bima senang bisa membantu.”
5271Please respect copyright.PENANAZLq41TvoQA
Ibu menoleh ke Bima, senyumnya lembut. “Kamu memang anak baik, Bima. Ibu beruntung punya kamu di rumah ini.”
5271Please respect copyright.PENANAYvU0Efizl9
Tangan Pak Hendra di bawah meja bergerak lagi. Aku melihat ibu menarik napas dalam-dalam, dada naik turun. Matanya setengah tertutup sesaat.
5271Please respect copyright.PENANAx10v8HMrzO
Malam itu, setelah semua orang tidur, aku tidak bisa tidur. Aku turun ke dapur untuk minum air. Saat melewati kamar tidur utama, pintunya tidak tertutup rapat. Ada celah kecil. Cahaya lampu tidur menyinari bagian dalam.
5271Please respect copyright.PENANAa90E9Eiw9q
Aku berhenti. Mendengar suara.
5271Please respect copyright.PENANAJ6KV9kGCoo
Bukan suara bicara. Suara napas. Napas ibu yang tersengal pelan. Lalu suara Pak Hendra yang rendah, “Kamu semakin cantik saja akhir-akhir ini, Maya. Tubuhmu… semakin menggoda.”
5271Please respect copyright.PENANA3G3foOdDXi
Lalu suara lain. Suara Bima. “Bu… boleh Bima cium?”
5271Please respect copyright.PENANAK3BA3M4Kx3
Tidak ada jawaban verbal. Hanya suara ibu yang menghela napas panjang, lalu suara ciuman basah.
5271Please respect copyright.PENANA5U7U3BgiXP
Aku berdiri di depan celah pintu itu, tubuhku kaku. Melalui celah, aku melihat ibu duduk di tepi tempat tidur. Pak Hendra di sebelahnya, tangannya sudah di dalam blouse ibu, meremas payudara ibu yang besar. Ibu menengadahkan kepala, bibirnya terbuka. Bima berdiri di depan ibu, membungkuk, mencium leher ibu dengan rakus. Tangan Bima di paha ibu, naik perlahan ke bawah rok yang sudah terangkat.
5271Please respect copyright.PENANA3k2vzjWxcU
Ibu tidak menolak. Malah ia mengangkat tangan, menyentuh rambut Bima, menariknya lebih dekat. Suaranya keluar pelan, penuh napas, “Bima… hati-hati… Reno bisa bangun…”
5271Please respect copyright.PENANAIUUTgfRp1w
Pak Hendra tertawa rendah di telinga ibu. “Biarkan saja. Kalau ia bangun, ia akan lihat betapa bahagianya ibunya sekarang.”
5271Please respect copyright.PENANAzkjRT5NP2z
Ibu menoleh ke arah pintu. Matanya terbuka. Dan untuk sesaat yang sangat singkat, pandangannya bertemu dengan celah itu. Ia melihatku. Aku yakin ia melihatku.
5271Please respect copyright.PENANAHR1JtvLpcZ
Tapi ia tidak berhenti. Malah ia menarik Bima lebih dekat, membiarkan bibir anak tirinya itu mencium bibirnya. Ciuman yang dalam, lidah bertemu. Sementara tangan Pak Hendra sudah membuka kancing blouse ibu, memperlihatkan bra hitam yang menahan dua buah dada montok yang naik turun cepat.
5271Please respect copyright.PENANAryqwS4lmzG
Aku mundur selangkah. Kaki terasa lemas. Celanaku sudah sangat sempit, keras, sakit. Aku ingin berteriak. Ingin masuk dan menghentikan semuanya. Tapi kaki tidak mau bergerak. Hanya berdiri di sana, menyaksikan ibuku—ibuku yang dulu hanya milik ayahku, yang dulu selalu menjaga jarak dengan pria lain—sekarang membiarkan dua pria itu menyentuhnya, menciumnya, dan ia merespons dengan tubuh yang gemetar, napas yang tersengal, dan tangan yang aktif membalas sentuhan.
5271Please respect copyright.PENANAF2gifh2OOb
Ibu menarik napas dalam saat Bima mencium putingnya yang sudah telanjang. Suaranya pecah, “Ahh… Bima… jangan gigit… pelan-pelan…”
5271Please respect copyright.PENANAEHlKOS2UQI
Pak Hendra tertawa lagi, tangannya turun ke antara paha ibu. “Lihat, anakku. Ibumu sudah basah sekali. Kamu membuat ibumu seperti ini.”
5271Please respect copyright.PENANAvwCkOZaHbl
Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri di sana. Waktu terasa berhenti. Aku hanya bisa melihat, mendengar, dan merasakan panas yang menyebar ke seluruh tubuh. Rasa bersalah yang luar biasa bercampur dengan gairah yang tidak bisa ditahan. Aku membenci diri sendiri karena tidak bisa berhenti menonton. Membenci karena bagian dari diriku ingin melihat lebih banyak. Ingin melihat ibu telanjang bulat. Ingin melihat apa yang akan dilakukan Bima dan Pak Hendra padanya malam ini.
5271Please respect copyright.PENANAQmcmJmlKOU
Ibu menoleh lagi ke arah pintu. Matanya berkaca-kaca, bibirnya bengkak karena ciuman. Ia melihat ke arah tempat aku berdiri. Dan kali ini, ia tersenyum kecil. Senyum yang penuh rahasia. Senyum yang seolah berkata: *Aku tahu kamu di sana, Reno. Dan aku tidak peduli.*
5271Please respect copyright.PENANAsUHX0rnYwg
Lalu ia menutup mata, membiarkan Bima mendorongnya perlahan ke belakang sampai punggungnya menyentuh kasur. Pak Hendra sudah membuka celananya. Bima juga.
5271Please respect copyright.PENANAlUl9xCfbJ1
Aku mundur. Kali ini kaki bergerak. Aku naik ke kamar, menutup pintu pelan, bersandar di belakangnya dengan napas yang sangat kacau.
5271Please respect copyright.PENANAXQLNdtxSAB
Di luar, dari kamar utama, terdengar suara ibu yang mulai mengerang pelan. Suara yang tidak pernah kudengar sebelumnya. Suara yang penuh kenikmatan, penuh penyerahan.
5271Please respect copyright.PENANAEFLfMmkw9S
Aku merosot ke lantai. Tangan sudah di dalam celana tanpa sadar. Aku membenci ini. Aku membenci betapa kerasnya aku. Membenci betapa aku tidak bisa berhenti membayangkan apa yang terjadi di balik pintu itu.
5271Please respect copyright.PENANA1tdaovtUbR
Tapi yang paling aku benci adalah kenyataan bahwa aku ingin kembali ke celah pintu itu. Ingin melihat lebih banyak. Ingin mendengar ibu mengerang lebih keras.
5271Please respect copyright.PENANAyQ4fxJrcLv
Di luar kamar, suara ibu semakin jelas. Ia memanggil nama Bima dengan suara yang pecah. Lalu nama Pak Hendra. Bergantian. Seolah keduanya sudah menjadi miliknya. Atau sebaliknya.
5271Please respect copyright.PENANArdyzUIS0Y3
Di luar sana, ibuku sedang disentuh, dicium, dan disentuh lagi oleh ayah tiriku dan anak tirinya.
5271Please respect copyright.PENANAXFTfaJaaQk
Setelah beberapa menit aku putuskan untuk kembali.
5271Please respect copyright.PENANAHiOWojNkT1
Kakiku bergerak, pelan tapi pasti, kembali ke lorong yang gelap. Jantungku berdetak begitu kencang sampai terasa di telinga. Napas tersengal, tangan dingin dan basah oleh keringat. Pintu kamar utama masih terbuka sedikit, celah yang cukup untuk melihat bayangan bergerak di baliknya. Suara dari dalam sudah tidak lagi pelan. Erangan ibu terdengar jelas, penuh napas panas dan kenikmatan yang tidak bisa disembunyikan.
5271Please respect copyright.PENANAr33RE9Q7xr
Aku mendekat lagi. Mata menempel di celah itu seperti orang yang kehausan mencari air. Dan apa yang kulihat membuat lututku lemas seketika.
5271Please respect copyright.PENANA6VG7thELAt
Ibu sudah setengah telanjang di atas tempat tidur. Blouse kremnya terbuka lebar, kancing-kancingnya lepas satu per satu. Bra hitam tipis yang biasa ia pakai ditarik ke bawah, sehingga dua buah payudaranya yang besar dan montok terpapar sepenuhnya. Kulitnya putih mulus, sedikit berkeringat di bawah cahaya lampu tidur yang redup. Putingnya yang cokelat tua sudah mengeras sempurna, bengkak dan mengkilap karena air liur. Pak Hendra sedang menghisap satu puting dengan rakus, bibirnya menarik-narik daging lembut itu, lidahnya berputar-putar di sekitar areola yang gelap. Tangannya yang kasar meremas payudara satunya dengan kuat, jari-jarinya tenggelam ke dalam daging montok yang empuk, membuatnya berubah bentuk di genggaman.
5271Please respect copyright.PENANA4acKJ3Sw0F
Di sebelah lain, Bima membungkuk di atas ibu, mencium lehernya dengan lapar. Bibirnya bergerak dari bawah telinga ke bahu, menghisap kulit putih itu sampai meninggalkan tanda merah samar. Tangan kirinya sudah di dalam rok ibu yang terangkat tinggi ke pinggang, jari-jarinya bergerak pelan di antara paha yang terbuka.
5271Please respect copyright.PENANAHh97ZbQPtl
Ibu mengerang panjang, kepalanya menengadah ke belakang, rambut hitam panjangnya tersebar di bantal. “Hendra… ahh… pelan dulu, Mas… Bima… jangan gigit puting ibu terlalu keras…”
5271Please respect copyright.PENANAJU52tGPgow
Suara ibu pecah, penuh napas. Tapi ia tidak mendorong mereka pergi. Malah tangannya yang satu menyentuh rambut Bima, menariknya lebih dekat, sementara tangan satunya meraih lengan Pak Hendra yang sedang meremas dadanya.
5271Please respect copyright.PENANAPHzBkXF2LY
Aku berdiri di luar, tubuh gemetar. Kontolku sudah keras kembali, menekan celana pendek yang kubawa. Aku tidak bisa bergerak. Tidak bisa berteriak. Hanya bisa menonton bagaimana ibuku—wanita yang dulu selalu menjaga jarak, yang dulu hanya tersenyum sopan pada pria lain—sekarang membiarkan dua pria itu menyentuh tubuhnya dengan bebas.
5271Please respect copyright.PENANADI2XtR7VSq
Pak Hendra melepaskan puting ibu dari mulutnya, meninggalkan jejak air liur yang mengkilap. Ia menatap ibu dengan mata penuh nafsu. “Kamu sudah basah, Maya. Aku bisa merasakannya dari sini. Rokmu basah kuyup.”
5271Please respect copyright.PENANApNdcfLB7be
Ibu menggigit bibir bawahnya, pipinya merah padam. “Mas… jangan bilang begitu… Reno bisa mendengar…”
5271Please respect copyright.PENANA7tEsYVCGJU
Bima tertawa pelan di leher ibu. “Biarkan saja, Bu. Kalau ia bangun, ia akan lihat betapa bahagianya ibunya malam ini.” Tangannya bergerak lebih dalam di bawah rok. Aku melihat jari tengahnya bergerak pelan, mendorong kain dalam ibu ke samping. Lalu jari itu masuk.
5271Please respect copyright.PENANAtXcQu4FycG
Ibu melengkungkan punggungnya dengan tajam. “Ahh—Bima…!”
5271Please respect copyright.PENANAtUtbkue3UT
Jari Bima bergerak masuk-keluar dengan ritme lambat tapi dalam. Aku bisa mendengar suara basah yang samar dari dalam rok itu. Ibu menggoyang pinggulnya mengikuti gerakan jari itu, napasnya semakin cepat. Pak Hendra kembali menghisap putingnya, kali ini lebih keras, giginya sesekali menyentuh daging sensitif itu. Ibu mengerang lebih nyaring, tangannya menekan kepala Pak Hendra ke dadanya.
5271Please respect copyright.PENANAjTi3d3u2qt
“Hisap lebih dalam, Mas… ibu suka… ahh… Bima, jari mu… dalam sekali…”
5271Please respect copyright.PENANATtlSWUwCng
Aku tidak tahan. Tangan kananku turun sendiri ke celana pendek, membuka kancing dengan gemetar. Kontolku melonjak keluar, keras dan panas di genggaman. Aku mulai mengusap pelan, mengikuti ritme jari Bima yang masuk-keluar dari vagina ibu. Rasa bersalah yang luar biasa bercampur dengan gairah yang tidak bisa lagi kutahan. Aku membenci diri sendiri karena ini. Tapi aku tidak bisa berhenti menonton. Tidak bisa berhenti membayangkan bagaimana rasanya menjadi salah satu dari mereka—menyentuh ibu seperti itu, membuatnya mengerang seperti itu.
5271Please respect copyright.PENANA3I06ld7chZ
Bima menarik jarinya keluar. Jari tengah dan telunjuknya berkilau basah oleh cairan ibu. Ia mengangkat tangan itu ke depan wajah ibu, memperlihatkannya. “Lihat, Bu. Sudah sangat basah. Bau ibu… sangat menggoda.”
5271Please respect copyright.PENANA06ksfqEXr7
Ibu menatap jarinya sendiri yang basah, napasnya tersengal. Matanya berkaca-kaca karena nafsu. “Bima… jangan perlihatkan…”
5271Please respect copyright.PENANAw1R4OSYLR8
Tapi Bima tidak peduli. Ia menjilat jarinya sendiri pelan, mata tidak pernah lepas dari wajah ibu. “Manis. Seperti yang Bima bayangkan sejak lama.”
5271Please respect copyright.PENANAl1AdQvzhXW
Pak Hendra tertawa rendah, tangannya turun ke pinggang ibu. “Sudah cukup bermain-main. Lepas roknya.”
5271Please respect copyright.PENANAvdpz6jOfJt
Mereka bekerja sama. Bima menarik rok ibu ke bawah, sementara Pak Hendra mengangkat pinggul ibu sedikit. Rok itu meluncur ke lantai, diikuti oleh celana dalam ibu yang sudah benar-benar basah. Sekarang ibu hanya memakai bra yang ditarik ke bawah dan tidak ada lagi di bawah pinggang.
5271Please respect copyright.PENANA9mhOSPXGYE
Tubuh ibu telanjang dari pinggang ke bawah terpapar di depan mataku. Aku menelan ludah dengan susah payah. Vaginanya… indah dan menggoda. Bibir luarnya tebal dan montok, berwarna pink kecokelatan, sudah mengkilap basah oleh cairannya sendiri. Klitorisnya yang kecil menonjol sedikit dari balik lipatan, bengkak karena rangsangan. Lubangnya berkedut pelan, mengeluarkan cairan bening yang mengalir perlahan ke bawah, membasahi anusnya yang pink dan bersih. Bau khas wanita yang terangsang menyebar samar ke udara—manis, agak asin, sangat memabukkan.
5271Please respect copyright.PENANA4y7Sfbcpmd
Pak Hendra meletakkan tangannya di paha ibu, mendorongnya lebih lebar. “Lihat betapa cantiknya vaginamu, Maya.
5271Please respect copyright.PENANABG3VqRA5KN
Ibu menutup mata malu-malu, tapi pinggulnya sedikit terangkat, seolah menawarkan diri. “Mas… jangan lihat begitu… malu…”
5271Please respect copyright.PENANAesLr76L1Wa
Bima sudah turun dari tempat tidur. Ia berlutut di lantai, di antara kaki ibu yang terbuka lebar. Tanpa banyak bicara, ia menunduk dan menjulurkan lidahnya.
5271Please respect copyright.PENANApL12s1tWMi
Kontak pertama lidah Bima dengan vagina ibu membuat ibu melengkungkan tubuhnya dengan kuat. “Ahhh—Bima…!”
5271Please respect copyright.PENANAyAHgLJDSGY
Lidahnya bergerak pelan dari bawah ke atas, menjilat seluruh lipatan basah itu, menikmati setiap tetes cairan ibu. Ia menghisap klitoris ibu dengan lembut tapi mantap, bibirnya membungkus daging sensitif itu, lidahnya berputar-putar di sekitarnya. Ibu mengerang tanpa henti, tangannya meraih rambut Bima, menekannya lebih dalam ke selangkangannya. Pinggul ibu bergoyang mengikuti gerakan lidah itu, seolah mencari lebih banyak gesekan.
5271Please respect copyright.PENANA8twfSLLfTo
Pak Hendra naik ke tempat tidur, duduk di samping ibu. Ia mencium bibir ibu dalam-dalam, lidahnya masuk ke dalam mulut ibu yang terbuka karena erangan. Tangan kanannya kembali meremas payudara ibu, jari-jarinya menarik-narik puting yang keras. Sementara tangan kirinya turun ke kepala Bima, mendorongnya lebih dalam.
5271Please respect copyright.PENANANRvXbyx2d9
“Hisap klitoris ibumu lebih kuat, Bima,” kata Pak Hendra sambil melepaskan ciuman sebentar. “Ibu suka begitu. Lihat, pinggulnya sudah tidak bisa diam.”
5271Please respect copyright.PENANAcH9nZUN71C
Bima menurut. Ia menghisap klitoris ibu lebih keras, lidahnya menekan dan menggetar di sana. Satu jarinya masuk ke dalam vagina ibu, bergerak masuk-keluar dengan ritme yang sama dengan hisapannya. Suara basah dan slurping terdengar jelas di kamar yang tenang. Ibu mengerang lebih nyaring, suaranya pecah-pecah.
5271Please respect copyright.PENANAEsjj1yu6mQ
“ Bima… ahh… lidahmu… panas… dalam… jangan berhenti… ahh… Mas Hendra, cium ibu lagi… ibu mau dicium…”
5271Please respect copyright.PENANALbGroan3ce
KELANJUTANNYA DI LINK 🔗 DIBAWAK INI https://lynk.id/nassa45


