Aku bernama Elvano. Dua puluh satu tahun. Mahasiswa semester enam jurusan arsitektur di sebuah universitas negeri di Jawa Tengah. Rumah kami berada di pinggiran Kudus, rumah tua warisan kakek yang sudah direnovasi secukupnya—dua lantai, halaman belakang luas dengan pohon mangga besar, dan pagar yang cukup tinggi sehingga tetangga tidak bisa melihat ke dalam dengan mudah. Ayah jarang di rumah. Sudah hampir delapan bulan ini ia lebih banyak tinggal di Jakarta atau Surabaya untuk bisnis properti yang sedang ia kembangkan. Ibu… ibu yang menjaga segalanya.
861Please respect copyright.PENANAqjIivgIQeD
Aku tidak pernah berniat membawa masalah ke dalam rumah ini. Dante—teman kuliahku yang lebih tinggi setengah kepala dariku, bahu lebar karena rajin gym, suara rendah yang selalu terdengar tenang—mengeluh di kantin kampus sore itu. Kontrakannya sedang direnovasi total karena atap bocor parah. Debu, suara palu, dan tukang yang datang pukul enam pagi. Ia bilang tidak bisa konsentrasi mengerjakan proyek akhir semester kami yang harus dikumpulkan dalam dua minggu.
861Please respect copyright.PENANAgw1dj0DAhU
“Kenapa tidak tinggal di rumahku saja?” kataku sambil mengaduk kopi dingin. “Rumahku besar. Ada kamar tamu di lantai bawah. Ibu pasti tidak keberatan. Kami bisa kerja bareng tiap malam.”
861Please respect copyright.PENANAQCmkR8aXgx
Dante menatapku agak lama, lalu tersenyum tipis. “Serius? Tidak merepotkan?”
861Please respect copyright.PENANAIHpUzgTURu
“Aku serius. Besok kita angkut barangmu sedikit. Ibu suka ada tamu. Rumah terasa lebih hidup.”
861Please respect copyright.PENANAb2AlBhUF8i
Aku tidak tahu saat itu bahwa kalimat sederhana itu akan menjadi awal dari segala sesuatu yang tidak bisa aku balikkan lagi.
861Please respect copyright.PENANAZS8CgxDJKU
Keesokan harinya, Jumat sore, kami berangkat dari kampus dengan motor Dante. Aku bonceng, tas laptop dan beberapa baju cadangan di dalam ransel. Udara panas sekali. Langit biru bersih, tapi angin dari arah timur membawa bau tanah kering dan sedikit harum bunga kamboja dari halaman rumah-rumah yang kami lewati. Dante mengendarai pelan. Kami tidak banyak bicara. Hanya sesekali ia bertanya tentang rumahku, berapa lama ayah biasanya pergi, apakah ibu sendirian di rumah.
861Please respect copyright.PENANAZVQiSpsZLa
“Ibu sendirian,” jawabku singkat. “Tapi ia terbiasa. Ia kuat.”
861Please respect copyright.PENANAoCueq9nwSh
Aku tidak tahu mengapa aku merasa perlu menambahkan kalimat terakhir itu.
861Please respect copyright.PENANAmxCRaHgp45
Kami tiba sekitar pukul setengah lima. Gerbang besi hitam sudah terbuka. Aku turun, mengetuk klakson motor sekali. Pintu depan terbuka hampir bersamaan.
861Please respect copyright.PENANAGqwydpTTty
Ibu berdiri di ambang pintu.
861Please respect copyright.PENANALwAyCt78YB
Ia memakai daster katun tipis berwarna krem muda dengan motif bunga kecil cokelat. Daster itu sudah agak usang di bagian pinggang, tapi justru karena itu bentuk tubuhnya terlihat jelas. Payudaranya—besar, berat, montok—membuat kain itu menonjol ke depan. Kancing depan daster hanya dikancing sampai dada, sehingga sedikit belahan dada yang dalam dan lembab karena keringat terlihat. Pinggangnya melengkung indah, lalu melebar menjadi pinggul yang lebar dan bulat. Saat ia melangkah turun satu anak tangga untuk menyambut kami, bokongnya bergoyang pelan di balik kain tipis itu. Paha mulusnya yang putih kekuningan terlihat setiap kali daster itu bergerak. Rambut hitam panjangnya diikat setengah, beberapa helai jatuh di bahu dan dada.
861Please respect copyright.PENANARJkRxnZOAD
Ia tersenyum. Senyum yang hangat, tapi ada sesuatu yang lain di matanya—kelelahan yang sudah lama, dan mungkin juga kesepian yang ia coba sembunyikan.
861Please respect copyright.PENANAyOlkwAyoOf
“Elvano,” panggilnya. Suaranya lembut, agak serak karena habis menyanyi sendiri di dapur tadi. “Pulang cepat hari ini. Dan ini temanmu?”
861Please respect copyright.PENANAzk3Q8YiuED
“Aku Dante, Bu,” kata Dante sambil menurunkan motor dan menjabat tangan ibu. Tangannya yang besar dan agak kasar karena sering angkat beban menutupi tangan ibu yang kecil dan halus. Ia menatap ibu lebih lama dari yang seharusnya. Aku melihatnya. Matanya turun sebentar ke belahan dada ibu, lalu naik lagi ke wajah. Ibu sepertinya menyadari, tapi ia hanya tersenyum lebih lebar dan menarik tangannya pelan.
861Please respect copyright.PENANAhQ2dxJCVnA
“Masuklah, Nak. Rumah ini seperti rumah kalian berdua. Aku sudah siapkan kamar tamu. Elvano, bantu Dante bawa barangnya ke atas ya.”
861Please respect copyright.PENANAGLtlpRxNgm
Kami masuk. Rumah terasa sejuk karena AC di ruang tamu menyala. Bau masakan—ikan bakar dan sayur asem—masih menggantung di udara. Ibu berjalan di depan kami menuju dapur. Aku memperhatikan punggungnya. Daster itu menempel di kulit karena keringat. Lekukan pinggangnya yang sempit kontras dengan bokong yang bulat dan kenyal. Setiap langkah membuat kain itu naik sedikit di belakang, memperlihatkan bentuk paha belakangnya yang mulus. Dante berjalan di belakangku. Aku bisa merasakan tatapannya tidak hanya tertuju padaku.
861Please respect copyright.PENANAYl9HpnyZih
Di dapur, ibu membuka kulkas dan mengambil dua gelas es teh. Saat ia membungkuk untuk mengambil gelas dari rak bawah, payudaranya yang berat itu menggantung ke bawah, hampir keluar dari belahan daster. Areola gelapnya terlihat samar-samar di balik kain tipis yang meregang. Puttingnya—aku tahu dari pengalaman melihat ibu tanpa sengaja di rumah—selalu agak menonjol, sensitif. Sekarang, di bawah AC, mereka mengeras. Dua titik kecil yang membuat kain daster itu sedikit berkerut di ujung payudaranya.
861Please respect copyright.PENANA4ON4AtnAjB
Dante berdiri di dekat meja makan. Ia tidak berpura-pura tidak melihat. Matanya tetap di sana beberapa detik terlalu lama. Ibu berdiri tegak lagi, menyerahkan gelas kepadaku dulu, lalu kepada Dante. Jari-jari mereka bersentuhan saat menyerahkan gelas. Hanya sebentar. Tapi aku melihat ibu menarik napas sedikit lebih cepat.
861Please respect copyright.PENANATb80sNmLPb
“Kalian pasti lapar,” kata ibu sambil membalikkan badan untuk mengambil piring dari rak. Bokongnya yang bulat itu menonjol ke belakang. Kain daster menempel di celah bokongnya, memperlihatkan bentuknya yang dalam dan menggoda. “Makan dulu. Nanti kita bicara tentang proyek kalian.”
861Please respect copyright.PENANAyx6cjqOQIB
Kami makan di meja makan kayu besar. Ibu duduk di ujung, Dante di sebelah kiriku. Percakapan mengalir pelan. Dante memuji masakan ibu dengan tulus—bukan basa-basi. Ia bilang ikan bakarnya empuk, bumbunya meresap sempurna. Ibu tertawa kecil, pipinya agak merona. Ia jarang mendapat pujian seperti itu akhir-akhir ini.
861Please respect copyright.PENANAcyrLgcgNB3
“Ayahmu dulu juga suka masakan ini,” kata ibu sambil menatap piringnya. Ada nada yang pelan di suaranya. “Tapi sekarang… ya sudah. Bisnis.”
861Please respect copyright.PENANAq6BIZu4vos
Dante mengangguk mengerti. “Ibu pasti sering kesepian ya, sendirian di rumah sebesar ini.”
861Please respect copyright.PENANAgoPaxdbbQu
Aku menoleh ke Dante. Kalimat itu terlalu langsung. Tapi ibu hanya tersenyum tipis dan mengangkat bahu.
861Please respect copyright.PENANA1t5TxnM3xU
“Sudah terbiasa, Nak. Elvano juga jarang di rumah sekarang. Kuliah, teman-teman… wajar.”
861Please respect copyright.PENANA161JjZlRfC
Matanya sekilas bertemu dengan mata Dante. Ada sesuatu yang berpindah di antara mereka. Aku merasa dadaiku panas. Bukan marah persis. Lebih seperti… sesuatu yang gelap dan hangat mengalir di perutku. Aku tahu ibu cantik. Aku sudah tahu sejak aku mulai mengerti tentang tubuh wanita. Payudaranya yang besar itu pernah menjadi objek fantasi terlarangku di malam-malam sendirian. Aku selalu merasa bersalah setelahnya. Tapi sekarang, melihat temanku—teman yang lebih tampan, lebih percaya diri, lebih dewasa dalam cara bicaranya—menatap ibu dengan cara yang sama… aku merasa sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuatku tidak bisa marah sepenuhnya.
861Please respect copyright.PENANABiG9GJiydo
Setelah makan, ibu menolak dibantu membersihkan meja. “Kalian kerja dulu saja. Nanti ibu yang cuci piring.”
861Please respect copyright.PENANABf4hLVuXMt
Kami naik ke kamar tamu—kamar di sebelah kamar mandi lantai bawah. Dante meletakkan tasnya di atas tempat tidur single yang sudah ibu siapkan dengan sprei bersih dan bantal tambahan. Ia membuka laptopnya di meja kerja kecil.
861Please respect copyright.PENANA4SJnaDkb9G
“Kamu beruntung punya ibu seperti itu,” katanya sambil menyalakan laptop. Suaranya rendah. “Cantik. Ramah. Masakannya enak. Dan… tubuhnya masih sangat…” Ia berhenti, tersenyum miring. “Maaf. Tidak sopan.”
861Please respect copyright.PENANAmMGGNIaasA
Aku tertawa kering. “Tidak apa-apa. Aku tahu ibu cantik.”
861Please respect copyright.PENANAzWliicXFpW
Tapi di dalam hati, aku merasa ada yang berubah. Kata “tubuhnya” yang ia ucapkan tadi terngiang di telingaku.
861Please respect copyright.PENANAd7tgc60eBs
Kami mulai mengerjakan proyek—menggambar denah gedung apartemen mini untuk tugas studio. Waktu berlalu cepat. Jam menunjukkan pukul sembilan malam ketika ibu mengetuk pintu kamar tamu.
861Please respect copyright.PENANAiDG9mPadfn
“Ada teh hangat dan gorengan,” katanya dari balik pintu. “Kalian istirahat dulu.”
861Please respect copyright.PENANAqlqo9xkRdf
Ia masuk membawa nampan. Dasternya sudah diganti dengan yang lebih tipis—kain katun putih polos yang agak transparan di bawah lampu kamar. Aku bisa melihat siluet bra-nya yang tipis, dan bagaimana payudaranya yang berat itu bergoyang pelan setiap kali ia melangkah. Puttingnya masih mengeras. Kali ini lebih jelas. Dua titik gelap di balik kain putih.
861Please respect copyright.PENANA1rgtcqRDP9
Ia meletakkan nampan di meja. Saat membungkuk, belahan dadanya terbuka lebar. Aku melihat hampir seluruh payudaranya—kulit putih mulus, urat-urat halus biru di bawah kulit, dan putting cokelat tua yang montok dan sensitif. Dante duduk di kursi di sebelahku. Aku melihat matanya tidak berkedip. Ibu pasti merasakan tatapan itu. Pipinya agak merah saat ia berdiri tegak lagi.
861Please respect copyright.PENANAXkqTdTcMWi
“Jangan kerja terlalu malam ya,” katanya sambil menatap Dante lebih lama dari yang diperlukan. “Badan perlu istirahat.”
861Please respect copyright.PENANA1uA1pzJCkz
Setelah ibu keluar, kami diam beberapa saat. Dante menghembuskan napas pelan.
861Please respect copyright.PENANAwj3dP9jtS8
“Elvano,” katanya tanpa menoleh. “Ibumu… luar biasa.”
861Please respect copyright.PENANAHZ6SdKOvD5
Aku tidak menjawab. Aku hanya mengangguk kecil dan kembali menatap layar laptop. Tapi tanganku sedikit gemetar.
861Please respect copyright.PENANAL8GZgppdbf
Kami bekerja sampai pukul sebelas. Dante bilang ia mau mandi dulu. Aku naik ke kamarku di lantai dua. Kamar yang menghadap ke halaman belakang. Aku mandi, memakai celana pendek dan kaos oblong tipis. Tapi aku tidak bisa tidur. Pikiranku penuh dengan gambar ibu tadi—cara ia membungkuk, cara payudaranya bergoyang, cara Dante menatapnya seolah ingin memakannya hidup-hidup.
861Please respect copyright.PENANATiVr1MmT51
Aku turun pelan-pelan ke lantai bawah. Lampu ruang tamu masih redup menyala. Aku mendengar suara tertawa pelan dari sana. Aku berhenti di lorong, bersembunyi di balik dinding.
861Please respect copyright.PENANABHtbPMUAqZ
Ibu duduk di sofa panjang. Dante duduk di sebelahnya—tidak terlalu dekat, tapi cukup dekat. Ibu memegang gelas teh. Dante juga. Mereka bicara pelan. Aku tidak bisa mendengar semuanya, tapi aku mendengar ibu tertawa lagi—tawa yang jarang aku dengar akhir-akhir ini.
861Please respect copyright.PENANAVNRohPyuyH
“Kamu terlalu manis bicaranya, Nak,” kata ibu. Suaranya agak serak. “Ibu sudah tua.”
861Please respect copyright.PENANAf59bfhyKoG
Dante menggeleng. “Ibu tidak tua. Ibu… sangat cantik. Lebih cantik dari banyak perempuan seusia ibu yang aku kenal. Bahkan lebih cantik dari beberapa yang lebih muda.”
861Please respect copyright.PENANAU5qJQLry84
Ibu diam. Aku melihat wajahnya dari samping. Pipinya merona. Matanya menatap Dante dengan sesuatu yang aku tidak pernah lihat sebelumnya—campuran kaget, senang, dan… sesuatu yang hangat dan basah.
861Please respect copyright.PENANAnzdngPCiC6
Dante mengangkat tangan. Jarinya yang panjang dan kuat menyentuh helai rambut ibu yang jatuh di pipi. Ia menyisirnya pelan ke belakang telinga ibu. Sentuhan itu lama. Terlalu lama. Ibu tidak menjauh. Malah ia mencondongkan kepala sedikit ke arah tangan Dante, seperti menikmati sentuhan itu.
861Please respect copyright.PENANAofei6sBwax
Jantungku berdegup sangat kencang. Darah mengalir deras ke kepala dan ke selangkangan. Aku merasa mual dan terangsang pada saat yang sama. Aku melihat tangan Dante turun pelan dari telinga ibu, menyentuh bahunya sebentar—hanya ujung jari—sebelum kembali ke gelasnya.
861Please respect copyright.PENANAZ9HAnbGhDi
Mereka diam. Udara di ruang tamu terasa berat, panas, penuh sesuatu yang tidak terucap.
861Please respect copyright.PENANAwpjYGfawy9
Aku mundur pelan ke tangga. Kakiiku gemetar. Aku naik ke kamar, menutup pintu tanpa suara, dan bersandar di pintu itu. Napasku tersengal. Di balik celana pendekku, kontolku sudah setengah tegang—keras, berdenyut, malu karena reaksi tubuhku sendiri.
861Please respect copyright.PENANAeMZ4lweIpM
Paginya
Aku terbangun dengan kontol yang sudah keras menekan celana pendekku. Jam di meja nakas menunjukkan pukul setengah enam pagi. Cahaya matahari pagi menyusup tipis dari celah gorden, menyinari kamar yang masih berantakan karena aku pulang terlambat kemarin. Aku diam di tempat tidur, memandang langit-langit, tapi yang terbayang hanyalah satu hal: jari Dante yang menyisir rambut ibu Serena tadi malam, cara ia menyentuh bahunya terlalu lama, dan cara ibu… tidak menjauh.
861Please respect copyright.PENANAQHJMEB3mKO
Serena.
Aku jarang memanggil namanya belakangan ini. Biasanya hanya “Ibu”. Tapi tadi malam, saat aku berdiri di lorong gelap dan melihat mereka berdua di sofa, nama itu muncul di kepalaku seperti bisikan terlarang. Serena. Ibu Serena. Wanita yang melahirkanku, yang sekarang tubuhnya membuat temanku menatap seperti orang kelaparan.
861Please respect copyright.PENANAZvhC2eqEpz
Aku menghela napas panjang dan memasukkan tangan ke dalam celana. Kontolku sudah basah di ujungnya. Aku menggenggamnya pelan, mengingat bagaimana payudara ibu bergoyang saat ia membungkuk memberi kami es teh. Besar. Berat. Montok. Puttingnya yang cokelat tua menonjol jelas di balik kain tipis daster krem itu. Aku membayangkan bagaimana rasanya jika tangan Dante menyentuhnya. Apakah ibu akan mengerang pelan seperti yang aku bayangkan? Apakah puttingnya akan mengeras lebih lagi di antara jari-jari Dante?
861Please respect copyright.PENANArWywZCknhu
Aku mengusap lebih cepat, merasa malu sekaligus terangsang luar biasa. Aku seharusnya marah. Seharusnya turun dan menyuruh Dante pergi. Tapi instead, aku hanya bisa membayangkan ibu Serena berdiri di dapur tadi malam, bokongnya yang bulat dan kenyal menonjol ke belakang saat ia membungkuk mengambil gelas, dan Dante berdiri di belakangnya… dekat sekali… mungkin kontolnya yang sudah tegang menyentuh bokong ibu tanpa sengaja.
861Please respect copyright.PENANAfWPY6HQuD6
“Fuck…” gumamku pelan, suaraku serak. Aku menyemprotkan air mani ke perutku sendiri dalam beberapa kali denyut yang kuat. Napasku tersengal. Rasa malu datang seketika setelahnya, tapi tidak cukup kuat untuk menghapus bayangan itu.
861Please respect copyright.PENANAyOk74xEviB
Aku mandi cepat, memakai kaos oblong putih dan celana pendek olahraga hitam. Turun ke lantai bawah dengan hati yang masih berdegup tidak normal.
861Please respect copyright.PENANAIqbOApOpam
Dapur sudah beraroma kopi dan roti panggang. Ibu Serena berdiri di depan kompor, punggung menghadap ke arahku. Ia memakai daster baru—kain katun tipis berwarna biru muda yang agak transparan karena cahaya pagi. Rambutnya basah, baru saja mandi. Air masih menetes pelan dari ujung rambutnya ke bahu, lalu mengalir ke belahan dada yang dalam. Daster itu menempel di kulit basahnya di beberapa tempat, membuat siluet payudaranya yang besar dan berat terlihat jelas. Puttingnya masih mengeras karena udara pagi yang sejuk, dua titik kecil yang menonjol tajam di ujung payudara kiri dan kanan.
861Please respect copyright.PENANAb4Z7SJIK8m
Saat ia mengaduk sesuatu di wajan, bokongnya yang bulat bergoyang pelan. Dua buah bokong yang kenyal dan montok, terpisah oleh celah dalam yang membuat kain daster itu masuk sedikit ke dalamnya. Paha mulusnya yang putih kekuningan terlihat setiap kali ia menggeser kaki. Aku berdiri di ambang pintu, menelan ludah.
861Please respect copyright.PENANAlBFfwV1tqZ
“Pagi, Elvano,” katanya tanpa menoleh, seolah sudah tahu aku di sana. Suaranya masih agak serak, seperti biasa di pagi hari. “Duduklah. Sarapan sebentar lagi.”
861Please respect copyright.PENANA40MLZXs81i
Aku duduk di meja makan. Beberapa saat kemudian Dante turun dari kamar tamu. Ia sudah mandi juga, memakai kaos hitam ketat yang memperlihatkan otot lengannya dan celana pendek abu-abu. Rambutnya masih basah. Ia tersenyum lebar saat melihat ibu.
861Please respect copyright.PENANAcpF7IpAa0S
“Pagi, Bu Serena,” katanya. Suaranya rendah dan hangat. “Terima kasih sudah menyiapkan sarapan. Baunya enak sekali.”
861Please respect copyright.PENANAa0BBZLxvZC
Ibu Serena menoleh dan tersenyum. Pipinya agak merona. “Pagi, Dante. Tidur nyenyak?”
861Please respect copyright.PENANAIiMBtsUdCJ
“Nyenyak sekali, Bu. Kasurnya empuk. Dan… rumah ini sangat nyaman.”
861Please respect copyright.PENANA0UMCJtCI87
Mata mereka bertemu sebentar. Terlalu lama untuk tatapan biasa antara ibu teman dan tamu. Aku melihat Dante menatap leher ibu yang terbuka, di mana beberapa tetes air masih mengalir pelan ke bawah, menghilang ke dalam belahan dada yang dalam dan lembab.
861Please respect copyright.PENANA5iVpisLlqq
Sarapan berlangsung dengan percakapan ringan. Dante memuji lagi masakan ibu—telur dadar dengan irisan tomat dan daun bawang, roti panggang dengan selai homemade. Ibu tertawa kecil setiap kali Dante berkata sesuatu yang manis. Ia duduk di seberang kami. Saat ia mengangkat tangan untuk menyeka keringat di dahi, dasternya naik sedikit di dada, memperlihatkan lebih banyak belahan payudara yang berkilau karena keringat pagi. Puttingnya yang sensitif menonjol semakin jelas. Aku melihat Dante menelan ludah.
861Please respect copyright.PENANAYrwinGJKWK
Setelah sarapan, ibu berdiri untuk membersihkan meja. Dante langsung bangkit membantu. “Biar aku bantu, Bu.”
861Please respect copyright.PENANAzjEdcVhtfH
“Aduh, tidak perlu, Nak. Kamu tamu.”
861Please respect copyright.PENANAJL4LoYp8KO
“Tapi saya tidak enak kalau hanya duduk. Biarkan saya membantu.”
861Please respect copyright.PENANAHBMkrpvuDU
Mereka berdiri berdampingan di wastafel. Ibu mencuci piring, Dante mengeringkannya dengan lap. Setiap kali Dante menerima piring dari ibu, jari mereka bersentuhan. Bukan lama, tapi cukup untuk membuat ibu menarik napas sedikit lebih cepat. Aku duduk di meja, pura-pura membuka laptop, tapi mataku terus melirik ke arah mereka.
861Please respect copyright.PENANAbi8p42taDa
Dante berdiri sangat dekat di belakang ibu saat ibu membungkuk untuk mengambil spons yang jatuh. Bokong ibu yang bulat itu hampir menyentuh selangkangan Dante. Aku melihat Dante menarik napas dalam-dalam, matanya setengah tertutup sesaat. Tangan kanannya yang bebas bergerak pelan ke pinggang ibu—hanya ujung jari menyentuh kain daster di atas pinggul—seolah untuk “menstabilkan” ibu agar tidak jatuh. Ibu tidak menjauh. Malah ia diam di posisi itu beberapa detik lebih lama dari yang diperlukan, bokongnya yang kenyal sedikit menyentuh bagian depan celana pendek Dante.
861Please respect copyright.PENANAoTkVUzhIJX
Aku merasa darahku mengalir deras ke kepala… dan ke kontolku.
861Please respect copyright.PENANAarzrro1ZV1
“Terima kasih, Nak,” kata ibu pelan saat berdiri tegak lagi. Suaranya agak berubah—lebih lembut, lebih serak. “Kamu baik sekali.”
861Please respect copyright.PENANARFUG0mI8Qs
Dante tersenyum. Tangan kanannya masih berada di pinggang ibu, tidak langsung dilepas. “Saya senang bisa membantu, Bu Serena. Sungguh.”
861Please respect copyright.PENANALpHlZmB3IK
Mereka saling menatap. Jarak antara wajah mereka hanya sekitar dua puluh senti. Aku bisa melihat ibu menjilat bibir bawahnya tanpa sadar. Puttingnya yang sudah mengeras itu semakin menonjol di balik daster tipis, seolah tubuhnya sendiri mengkhianatinya.
861Please respect copyright.PENANAcBnDZaWmfI
Aku berdiri tiba-tiba. “Aku mau ke minimarket sebentar. Beli rokok dan minuman. Kalian lanjutkan saja… bantu-bantu.”
861Please respect copyright.PENANAxdZz7CENcY
Ibu menoleh padaku, seolah baru ingat aku ada di sana. “Hati-hati ya, Nak. Jangan lama-lama.”
861Please respect copyright.PENANAm3ZxqNVWFX
Dante hanya mengangguk, tapi matanya kembali ke ibu sebelum aku sempat keluar dari dapur.
861Please respect copyright.PENANA5dh0Qpqp2T
Aku berjalan keluar rumah dengan langkah cepat. Jantungku berdegup kencang. Udara pagi sudah panas. Aku tidak benar-benar ingin ke minimarket. Aku hanya butuh udara. Butuh menjauh dari pemandangan itu. Tapi setelah berjalan lima menit, aku berbalik. Aku tidak bisa pergi lama. Ada sesuatu di dalam diriku yang ingin kembali… ingin melihat.
861Please respect copyright.PENANA2jgH5lDMJE
Aku masuk rumah pelan-pelan dari pintu samping. Tidak ada suara di dapur. Aku naik ke lantai dua dengan hati-hati, melewati lorong menuju kamar ibu. Pintu kamar ibu terbuka sedikit. Aku mendengar suara mereka dari dalam.
861Please respect copyright.PENANA6YHhunb6tP
“Di sini, Bu? Lampunya agak longgar,” kata Dante.
861Please respect copyright.PENANAgVGRGmVCng
“Ya, Nak. Tolong bantu ganti saja. Saya tidak bisa reach yang tinggi.”
861Please respect copyright.PENANAtNnSXdz4kE
Aku mengintip dari celah pintu.
861Please respect copyright.PENANAsa0x5YCjfM
Ibu berdiri di atas kursi kecil di depan lemari pakaian tinggi. Dante berdiri di belakangnya, tangan di pinggang ibu untuk menstabilkan. Ibu mengangkat kedua tangan ke atas untuk memegang lampu kecil di langit-langit. Posisi itu membuat dasternya naik tinggi di paha, memperlihatkan hampir seluruh kaki mulusnya sampai ke bawah bokong. Dante berdiri sangat dekat di belakangnya. Selangkangan Dante tepat di belakang bokong ibu yang bulat itu. Aku bisa melihat kontol Dante yang sudah tegang menonjol di balik celana pendeknya, menyentuh celah bokong ibu melalui kain.
861Please respect copyright.PENANAJRYvAyBcwp
Ibu bernapas agak cepat. “Hati-hati ya, Nak… jangan sampai jatuh.”
861Please respect copyright.PENANAn1MZHw5vnh
“Tenang, Bu. Saya pegang erat-erat,” jawab Dante. Suaranya rendah, hampir berbisik.
861Please respect copyright.PENANAGXZMe2MK6e
Tangan kirinya yang bebas bergerak pelan dari pinggang ibu naik ke sisi tubuhnya. Jari-jarinya menyentuh sisi payudara kiri ibu—hanya sedikit, seolah tidak sengaja—tapi ia tidak langsung menariknya. Ibu diam. Napasnya semakin pendek. Puttingnya yang sensitif semakin mengeras, terlihat jelas dari samping.
861Please respect copyright.PENANA8Ovx5WA8ms
Dante menggeser tubuhnya sedikit. Kontolnya yang keras itu kini benar-benar menekan bokong ibu. Ibu tidak bergerak menjauh. Malah ia sedikit mendorong bokongnya ke belakang, pelan, hampir tidak terlihat, tapi aku melihatnya. Bokong ibu yang kenyal itu menekan kontol Dante.
861Please respect copyright.PENANApUtmpfnBVA
“Serena…” bisik Dante pelan, hampir tidak terdengar. Bukan “Bu Serena”. Langsung nama depannya.
861Please respect copyright.PENANAHuSa90mdgZ
Ibu menoleh sedikit ke belakang. Wajah mereka sangat dekat. Bibir Dante hanya beberapa senti dari leher ibu. Aku melihat ibu menutup mata sebentar, bibirnya terbuka, napasnya keluar gemetar.
861Please respect copyright.PENANA1vyaB7Av8W
Aku mundur pelan dari pintu, jantungku seperti mau copot. Kontolku sudah berdiri tegak di dalam celana pendek, basah di ujungnya lagi. Aku berjalan cepat ke kamarku, menutup pintu tanpa suara, dan bersandar di sana.
861Please respect copyright.PENANAOPO8lzDx7j
Aku tidak bisa menahan diri lagi.
861Please respect copyright.PENANAySZWJytWKW
Aku menurunkan celana pendek, menggenggam kontolku yang sudah sangat keras dan basah. Aku mengusapnya cepat sambil membayangkan apa yang sedang terjadi di kamar ibu sekarang. Apakah Dante sudah mencium leher ibu? Apakah tangannya sudah meremas payudara ibu yang besar dan berat itu dari belakang? Apakah ibu mengerang pelan saat kontol Dante menekan bokongnya?
861Please respect copyright.PENANAI9DlKgngi3
“Serena…” gumamku sendiri, meniru bisikan Dante tadi. “Ibu… oh fuck…”
861Please respect copyright.PENANAu7DAd9raAG
Aku membayangkan ibu berdiri di posisi itu, dasternya diangkat, bokongnya telanjang, Dante membuka celananya dan menggesekkan kontolnya yang tegang di antara celah bokong ibu yang hangat dan lembab. Aku membayangkan putting ibu yang sensitif itu dijilat Dante dari belakang sambil tangannya meremas payudara ibu dengan kasar.
861Please respect copyright.PENANAaTwqzIbkp4
Aku menyemprotkan air mani untuk kedua kalinya pagi itu, kali ini lebih deras, lebih lama. Lututku goyah. Aku terduduk di lantai, napas tersengal, rasa malu yang luar biasa bercampur dengan kepuasan yang gelap dan nikmat.
861Please respect copyright.PENANAr4aTtLJPTC
Aku baru saja selesai membersihkan diri ketika aku mendengar langkah kaki di lorong. Pintu kamarku diketuk pelan.
861Please respect copyright.PENANA9EwnwrBCEG
“Elvano? Kamu sudah pulang?” Suara ibu Serena dari balik pintu. “Dante bilang kamu tadi keluar sebentar. Ada yang perlu dibantu?”
861Please respect copyright.PENANAhkjgdA0ycA
Aku menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab. “Sudah, Bu. Aku… baru masuk tadi. Lagi istirahat sebentar.”
861Please respect copyright.PENANAOWeJ2m9hF5
Ada jeda singkat.
861Please respect copyright.PENANATCcCgP8cd9
“Baiklah. Kalau butuh apa-apa, panggil saja ya.”
861Please respect copyright.PENANAmvUjj7wQL6
Langkahnya menjauh. Tapi aku yakin… aku sangat yakin… aku mendengar napasnya yang agak tersengal sebelum ia pergi.
861Please respect copyright.PENANAuuWzJM9xrx
Aku duduk di tepi tempat tidur, memandang pintu yang tertutup.
861Please respect copyright.PENANAQ1t8MmrI0o
Aku tahu aku sudah melewati batas. Aku seharusnya marah. Aku seharusnya turun dan mengusir Dante. Tapi kontolku masih setengah tegang, dan di dalam dadaku ada sesuatu yang gelap dan panas yang terus mendesak: aku ingin melihat lebih banyak. Aku ingin tahu seberapa jauh mereka akan pergi. Dan yang paling buruk… aku ingin menjadi saksi.
861Please respect copyright.PENANAoUUNxK69aV
Aku membersihkan diri, mengganti celana, lalu turun dengan langkah yang kubuat seolah-olah tidak ada apa-apa. Ibu Serena sudah berganti pakaian. Daster biru muda tadi sudah diganti dengan tanktop putih ketat tanpa bra dan celana pendek jeans yang sangat pendek, hanya menutupi separuh paha mulusnya. Tanktop itu terlalu kecil untuk payudaranya yang montok. Kain putih itu meregang kuat di dada, memperlihatkan bentuk dua buah payudara besar yang berat, puttingnya yang sensitif menonjol tajam seperti dua kacang kecil yang menggoda. Karena panasnya hari, keringat sudah mulai mengalir di lehernya dan menghilang ke dalam lembah dada yang dalam dan berkilau. Saat ia bergerak di dapur menyiapkan makan siang, payudaranya bergoyang naik turun, berat dan hidup.
861Please respect copyright.PENANA11xjtLmXrd
Dante sudah ada di meja makan, laptop dibuka, tapi matanya tidak pernah lepas dari ibu. Ia memakai kaos tanpa lengan sekarang, otot lengannya yang kekar terlihat jelas. Saat ibu membungkuk untuk mengambil sesuatu dari lemari bawah, bokongnya yang bulat dan kenyal itu menonjol ke belakang, celana pendek jeansnya masuk ke celah bokong, memperlihatkan bentuk dua buah pantat montok yang menggoda. Dante menatap tanpa malu. Aku melihat kontolnya sudah membentuk tonjolan di celana pendeknya.
861Please respect copyright.PENANAQkQ553wz37
“Makan siang sudah siap,” kata ibu Serena dengan suara yang sedikit berubah. Ada getar halus di sana. Ia meletakkan piring di meja, dan saat ia duduk, tanktopnya naik sedikit, memperlihatkan kulit perutnya yang rata dan sedikit berkeringat. Puttingnya yang mengeras itu semakin jelas terlihat di balik kain putih tipis.
861Please respect copyright.PENANAx0zGcBedXj
Kami makan dalam suasana yang aneh. Dante duduk di sebelah ibu sekarang, bukan di seberangku. Setiap kali ia mengulurkan tangan untuk mengambil sambal, lengannya menyentuh lengan ibu. Ia tidak menariknya cepat. Ibu juga tidak menjauh. Bahkan, ia sedikit menggeser tubuhnya lebih dekat ke Dante.
861Please respect copyright.PENANAIpP7iZgfNW
“Kamu masak sangat enak, Bu Serena,” kata Dante sambil menatap ibu dari dekat. “Tanganmu pasti sangat terampil… di banyak hal.”
861Please respect copyright.PENANAkbeX7aNSbz
Ibu tersenyum kecil, pipinya merona. “Kamu terlalu banyak memuji, Nak.”
861Please respect copyright.PENANAeI61N4LnTk
“Bukan memuji. Hanya mengatakan yang sebenarnya.” Dante menurunkan suaranya. “Bu Serena punya tubuh yang sangat indah. Sulit untuk tidak memperhatikan.”
861Please respect copyright.PENANANuzOK8XLMH
Aku melihat ibu menarik napas dalam-dalam. Payudaranya yang besar itu naik turun dengan cepat. Puttingnya semakin menonjol. Ia tidak menjawab, hanya menunduk ke piringnya, tapi aku melihat sudut bibirnya sedikit tersenyum.
861Please respect copyright.PENANAIkvsj5rTUo
Setelah makan, aku bilang mau istirahat di kamar karena pusing. Mereka tidak banyak bereaksi. Dante hanya mengangguk, tapi matanya sudah kembali ke ibu. Aku naik ke lantai dua, tapi tidak masuk kamar. Aku duduk di tangga atas, mendengarkan.
861Please respect copyright.PENANAvYkIZ8k12r
Dari bawah terdengar suara mereka membersihkan meja. Lalu suara Dante yang rendah.
861Please respect copyright.PENANAgyEA2s6AJ5
“Biarkan saya bantu, Bu.”
861Please respect copyright.PENANAk3CdVKJvC1
Tidak ada jawaban dari ibu, hanya suara langkah dan air mengalir. Kemudian aku mendengar ibu menghela napas panjang.
861Please respect copyright.PENANAEOuDHIL1Df
“Dante… jangan begitu dekat.”
861Please respect copyright.PENANAlHskzYW0Gr
“Kenapa, Bu? Saya hanya membantu.”
861Please respect copyright.PENANAxx0T30ViXl
“Tanganmu… di pinggang saya.”
861Please respect copyright.PENANAXN8K4mrgmL
“Pinggang Bu Serena sangat kecil… dan halus.”
861Please respect copyright.PENANAkNh5VJpOGM
Aku mendengar ibu mengeluarkan suara kecil, seperti desahan yang ditahan. Aku merayap turun dua anak tangga lagi, cukup untuk melihat ke dapur dari balik dinding.
861Please respect copyright.PENANAjmWBibnzaL
Ibu berdiri di depan wastafel, punggung menghadap Dante. Dante berdiri persis di belakangnya, tubuhnya menempel. Satu tangannya berada di pinggang ibu, jari-jarinya meremas pelan kain celana pendek di atas pinggul. Tangan satunya lagi mengelilingi ibu dari samping, dan aku melihat jarinya menyentuh sisi bawah payudara kiri ibu yang berat itu. Bukan sengaja. Tapi ia tidak menarik tangan.
861Please respect copyright.PENANA9xxRseo2tx
Ibu tidak bergerak menjauh. Malah ia sedikit mencondongkan tubuh ke depan, bokongnya yang montok itu menekan selangkangan Dante. Aku bisa melihat tonjolan kontol Dante yang sudah sangat tegang menekan celah bokong ibu melalui dua lapis kain.
861Please respect copyright.PENANA6saEyFnvpm
“Serena…” bisik Dante di telinga ibu. “Kamu sangat cantik. Kamu tidak tahu betapa sulitnya bagi saya untuk menahan diri sejak kemarin.”
861Please respect copyright.PENANAOaY4K0E5fM
Ibu menggigit bibir bawah. “Ini… salah. Saya sudah menikah. Dan kamu teman anak saya.”
861Please respect copyright.PENANA99uj6yffq3
“Tapi kamu basah, Bu,” jawab Dante pelan sambil menggesekkan kontolnya pelan-pelan di bokong ibu. “Saya bisa merasakannya. Bahkan dari balik celana ini.”
861Please respect copyright.PENANA4yIYM4QcXm
Ibu mengeluarkan desahan kecil yang membuat kontolku langsung tegang lagi di dalam celana.
861Please respect copyright.PENANAStTmZIr9fb
Aku mundur pelan ke kamar, menutup pintu, dan bersandar di sana. Tangan ku masuk ke celana. Aku mengusap kontolku yang sudah basah sementara membayangkan apa yang sedang terjadi di dapur. Apakah Dante sudah memasukkan tangannya ke dalam celana pendek ibu? Apakah jarinya sudah menyentuh memek ibu yang mungkin sudah bengkak dan basah?
861Please respect copyright.PENANASWTdLUm85s
Aku tidak tahan. Aku menyemprotkan air mani lagi, kali ini lebih cepat, lebih kotor. Aku terduduk di lantai, malu pada diriku sendiri, tapi tubuhku masih panas.
861Please respect copyright.PENANAdr0vsAkNLx
Sore harinya, panas semakin terik. Aku turun dengan pura-pura baru bangun. Ibu dan Dante sudah di ruang tamu. Ibu duduk di sofa panjang, kaki disilangkan. Celana pendek jeansnya naik tinggi di paha, memperlihatkan kulit mulus yang berkeringat. Tanktop putihnya sudah agak basah di bagian dada karena keringat, membuat kain itu lebih transparan. Puttingnya yang sensitif terlihat jelas, dua titik gelap yang menggoda. Dante duduk di sebelahnya, sangat dekat. Bahu mereka hampir bersentuhan.
861Please respect copyright.PENANAcgDNlGtxH1
Mereka sedang “membahas proyek”, tapi percakapannya sudah jauh dari itu.
861Please respect copyright.PENANAuyGKjatczl
“Suami Bu Serena jarang pulang ya?” tanya Dante sambil menatap leher ibu yang berkeringat.
861Please respect copyright.PENANAnIQ9tHl2Qj
“Iya. Sudah delapan bulan ini lebih banyak di Jakarta.”
861Please respect copyright.PENANAhm7UqJuBeg
“Bu Serena pasti kesepian.”
861Please respect copyright.PENANAmscrYRVByF
Ibu diam sebentar. “Kadang.”
861Please respect copyright.PENANAvyEHsSfKDd
Dante menggeser tubuhnya lebih dekat. Lututnya menyentuh paha ibu. “Kalau saya di posisi suami Bu Serena, saya tidak akan pernah meninggalkan rumah. Tidak akan pernah membiarkan Bu Serena sendirian… apalagi dengan tubuh seperti ini.”
861Please respect copyright.PENANAXH9hSK1yok
Ibu menoleh ke arahnya. Matanya berkaca-kaca. “Dante…”
861Please respect copyright.PENANAPQKmYzYqdw
Dante mengangkat tangan dan menyentuh pipi ibu. Jarinya mengusap pelan ke bawah, ke leher, lalu ke belahan dada yang berkeringat. Ibu tidak menepis. Nafasnya semakin cepat. Payudaranya yang besar naik turun dengan deras.
861Please respect copyright.PENANAPBao9lfhqS
“Kamu sangat indah, Serena,” bisik Dante. “Saya ingin mencium kamu sejak tadi pagi.”
861Please respect copyright.PENANAzMFtmRDaiF
Ibu menggeleng pelan, tapi tubuhnya tidak bergerak menjauh. “Kita tidak bisa…”
861Please respect copyright.PENANAqfYhgQRHQa
Tapi Dante sudah condong ke depan. Bibirnya menyentuh bibir ibu. Hanya sebentar. Ibu diam. Dante mencium lagi, kali ini lebih dalam. Ibu menghela napas melalui hidung, lalu bibirnya sedikit terbuka. Dante memasukkan lidahnya pelan. Ibu mengerang kecil ke dalam mulut Dante.
861Please respect copyright.PENANAqigrhg7WYB
Aku berdiri di lorong, membeku. Kontolku sudah berdiri tegak lagi.
861Please respect copyright.PENANAQ8iFq1xRc6
Dante mengangkat tangan dan meremas payudara kiri ibu dari luar tanktop. Jari-jarinya meremas daging montok itu dengan rakus. Ibu mengerang lebih keras, punggungnya melengkung. Puttingnya yang keras itu dijepit antara jari Dante. Dante menarik tanktop ke bawah dengan kasar. Satu payudara ibu yang besar dan berat itu terlepas keluar—putih mulus, areola cokelat tua yang lebar, putting yang montok dan sangat keras. Dante langsung menunduk dan menghisap putting itu ke dalam mulutnya.
861Please respect copyright.PENANAL3jK4vhxu2
“Ahh… Dante…” desah ibu Serena, tangannya meraih rambut Dante, bukan untuk mendorong, tapi untuk menariknya lebih dekat.
861Please respect copyright.PENANATadv0GcJWt
Dante menghisap dengan rakus, lidahnya berputar di sekitar putting yang sensitif itu. Tangan satunya meremas payudara satunya yang masih tertutup. Ibu mengangkat pinggulnya sedikit dari sofa, seolah mencari sesuatu.
861Please respect copyright.PENANAatcVmLPrRh
Dante melepaskan putting itu dengan suara basah, lalu menatap ibu dengan mata gelap. “Saya ingin menyentuh memekmu, Bu Serena.”
861Please respect copyright.PENANADTd1DdKq2A
Ibu menggigit bibir, napasnya tersengal. “Ini… gila…”
861Please respect copyright.PENANADjq8UJm0gk
Tapi ia membuka kaki sedikit. Dante menyelinap tangannya ke dalam celana pendek jeans ibu. Aku melihat gerakan tangannya di balik kain. Ibu menutup mata dan mengerang pelan saat jari Dante pasti menyentuh memeknya yang sudah basah.
861Please respect copyright.PENANA3acibyiFEU
“Basah sekali…” bisik Dante dengan suara puas. “Memek Bu Serena sudah sangat basah karena saya bu.”
861Please respect copyright.PENANAuxVkcIocwJ
Ibu mengangguk kecil, malu tapi tidak bisa menahan. “Jangan… jangan bilang begitu…”
861Please respect copyright.PENANARTmedB2ANt
Dante menggesekkan jarinya di klitoris ibu. Ibu menggigit bibir kuat-kuat, tapi desahan tetap keluar. Dante memasukkan satu jari ke dalam lubang memek ibu yang hangat dan basah. Ibu mengangkat pinggulnya, mendorong memeknya ke jari Dante.
861Please respect copyright.PENANAU5jShx3w4e
Aku tidak bisa menahan diri. Aku mengeluarkan kontolku di lorong gelap itu dan mengusapnya cepat sambil melihat ibu Serena kehilangan kendali di sofa. Payudaranya yang besar itu bergoyang setiap kali ia mengangkat pinggul. Puttingnya yang basah karena air liur Dante berkilau di bawah lampu. Dante memasukkan jari kedua, menggerakkannya dalam-dalam, ibu mengerang lebih keras.
861Please respect copyright.PENANAjMykJn4jhx
“Dat… Dante… ahh… pelan-pelan…”
861Please respect copyright.PENANABVWPuAxK2p
KELANJUTANNYA DI LINK 🔗 DIBAWAK INI https://lynk.id/tokoku56


