Aku, Kiran, berdiri di teras rumah kontrakanku yang sederhana di pinggiran kota ini. Jam dinding menunjukkan pukul enam lewat sedikit. Udara Juni terasa lembab dan panas, meski hujan sore tadi sudah reda. Angin membawa wangi tanah basah bercampur aroma melati yang tumbuh rimbun di halaman rumah sebelah. Rumah itu lebih besar, pagar besi hitamnya rapi, garasinya selalu ada mobil hitam mengkilap milik Pak Arman.
6434Please respect copyright.PENANArXDVuzVW6G
Dua bulan aku tinggal di sini, dan setiap hari rasanya semakin sulit.
6434Please respect copyright.PENANAXWM8H12XeF
Aku bekerja sebagai desainer grafis freelance, sebagian besar waktu di dalam rumah, hanya keluar untuk beli kebutuhan atau sekadar menghirup udara. Hidupku tenang, terlalu tenang, sampai aku mulai memperhatikan penghuni rumah sebelah.
6434Please respect copyright.PENANANmPs9lvJE4
Pak Arman, pria berusia empat puluh tujuh tahun, ramah dan sering menyapaku setiap kali bertemu di pagar. Dia bekerja sebagai kontraktor, sering berangkat pagi dan pulang larut. Istri pertamanya, Bu Lestari, wanita matang berusia empat puluh satu tahun. Tubuhnya masih terawat, senyumnya hangat seperti ibu-ibu pada umumnya. Dia sering memakai kebaya atau daster longgar, bergerak dengan tenang di halaman.
6434Please respect copyright.PENANAbipuRxc2ju
Tapi Saskia… istri keduanya… dialah yang membuatku gelisah setiap malam.
6434Please respect copyright.PENANAUtvrHSE6Tl
Aku masih ingat jelas sore pertama aku pindah. Aku sedang menurunkan kardus dari bak belakang motor ketika pintu rumah sebelah terbuka. Seorang wanita muda keluar, memakai tank top putih ketat dan celana pendek jeans yang menempel erat di tubuhnya. Rambut hitam panjangnya diikat kuda ekor, memperlihatkan leher mulus dan bahu yang indah. Payudaranya… besar, montok, mungkin ukuran 36D atau lebih. Saat dia berjalan menyirami tanaman dengan selang air, dua buah dada itu bergoyang pelan, berat, seolah menantang gravitasi. Air menyemprot, beberapa tetes jatuh ke dadanya. Kain putih langsung basah dan menempel, memperlihatkan bentuk putting yang mengeras, gelap, dan menggoda di balik kain tipis itu.
6434Please respect copyright.PENANANGhvPcUOvk
Aku berdiri membeku, kotak di tangan, mata tak bisa berpaling. Saskia menoleh, tersenyum manis. “Halo, Mas. Baru pindah ya? Saya Saskia. Tetangga sebelah. Kalau butuh bantuan, bilang saja.”
6434Please respect copyright.PENANAIivJvUugYB
Suara nya lembut, sedikit serak yang membuat bagian bawah perutku menegang. “Iya, Mbak… terima kasih. Nama saya Kiran.”
6434Please respect copyright.PENANAOF95qguOpZ
Dia mendekat sedikit. Aku mencium aroma parfumnya yang manis bercampur keringat ringan yang justru membuatnya lebih sensual. “Jangan panggil Mbak. Panggil saja Saskia. Kita tetangga, sama-sama muda.” Dia tertawa kecil. Payudaranya bergoyang lagi. Aku melihat belahan dada yang dalam, bayanganku langsung liar: membuka tank top itu dengan tangan gemetar, menghisap putting gelap yang sensitif sampai dia mengerang, meremas payudara berat itu dengan kedua tangan, merasakan kehangatan dan kelembutannya.
6434Please respect copyright.PENANAVy33kAtKsa
Sejak hari itu, aku tak bisa berhenti memperhatikan.
6434Please respect copyright.PENANAByQZb7TUHM
Setiap pagi aku sengaja bangun lebih awal. Pukul enam lewat, Saskia biasanya keluar membawa sapu atau menyirami tanaman lagi. Suatu pagi dia memakai daster tipis warna krem tanpa bra. Saat membungkuk untuk memungut daun kering, daster itu terangkat sedikit di belakang. Aku melihat bokongnya yang bulat sempurna, kenyal, celana dalam hitam lace yang tersembul di antara belahan bokong yang dalam. Paha mulusnya yang tebal, kulitnya berkilau karena embun pagi. Aku menelan ludah keras. Kontolku langsung berdenyut di dalam celana pendek.
6434Please respect copyright.PENANAMC5on5scWU
Malam harinya aku onani di kamar mandi. Aku membayangkan Saskia telanjang bulat di hadapanku. Payudaranya besar dan montok, putting cokelat gelap menonjol keras. Aku membayangkan meremasnya kasar, menghisap dalam, menggigit pelan sampai dia mengerang “Ahh… Kiran… puttingku sensitif… jangan gigit terlalu keras…” Lalu aku turun, mencium selangkangannya. Aroma feminin yang harum, sedikit asin. Bibir memeknya montok, sudah bengkak karena nafsu. Klitorisnya menonjol kecil, mengkilap karena cairan. Aku menjilat pelan, lalu cepat, menghisap klitorisnya, memasukkan lidah ke dalam lubang hangatnya. Dia mengerang lebih keras, pinggulnya bergoyang, tangannya menekan kepalaku lebih dalam. “Kiran… jilat memekku… enak sekali… aku mau keluar…”
6434Please respect copyright.PENANAIw30pUcTar
Dalam fantasi itu aku berdiri, membalik tubuhnya, memegang pinggang kecilnya yang indah. Aku dorong kontolku yang tegang ke dalam memeknya dari belakang. “Plok… plok… plok…” Bunyi basah menggema. Memeknya panas, sempit, menjepit kontolku erat. Dia mengerang “Kontanmu besar… enak… ngentot aku lebih keras… aku istri orang… tapi aku mau kamu isi aku…” Aku pegang rambutnya, tarik pelan, dorong lebih dalam, lebih cepat. Payudaranya bergoyang liar. Lalu dia mencapai orgasme pertama, tubuhnya gemetar hebat, cairan bening menyembur deras membasahi pahaku. Squirt. Aku terus ngentot sampai dia orgasme lagi, lalu aku ejakulasi dalam-dalam, creampie yang deras, sperma putih kental mengalir keluar dari memeknya yang merah membengkak.
6434Please respect copyright.PENANAG8LUSExo9q
Setiap kali selesai onani, rasa bersalah datang seperti gelombang dingin. Pak Arman baik padaku. Dia sering mengajakku ngobrol di pagar sore hari. “Kamu masih muda, Kiran. Nikmati hidup. Kalau butuh teman ngopi malam, rumah kami selalu terbuka.”
6434Please respect copyright.PENANACuV0UPAMGD
Aku tersenyum, berusaha normal. Tapi di dalam hati aku merasa seperti pengkhianat.
6434Please respect copyright.PENANApPlTVAdZyi
Suatu sore hujan deras datang tiba-tiba. Pak Arman sedang memperbaiki atap kecil di garasi yang bocor karena angin kencang. Aku melihat dari jendela dan tanpa pikir panjang keluar membantu. Kami bekerja bersama di bawah hujan. Saskia keluar membawa handuk dan dua gelas teh hangat.
6434Please respect copyright.PENANAIjMrh33Bzm
“Terima kasih ya, Mas Kiran,” katanya sambil memberikan handuk. Jarinya menyentuh tanganku lebih lama dari yang seharusnya. Matanya menatapku. Ada panas di sana. Sesuatu yang tak terucap. Saat dia berbalik untuk kembali ke rumah, dasternya basah menempel di tubuh. Aku melihat garis putting yang mengeras di dadanya, dan bokongnya yang bergoyang di bawah kain basah. Celana dalam hitamnya terlihat samar, menempel di celah bokong yang dalam. Kontolku langsung tegang lagi di dalam celana jeans basah.
6434Please respect copyright.PENANA991q3kwt5g
Malam itu aku tak bisa tidur. Pukul sebelas lewat, aku berdiri di jendela kamar yang menghadap rumah mereka. Cahaya kamar tidur utama masih menyala. Tirai tipis setengah tertutup. Aku melihat siluet Saskia berdiri di depan cermin. Dia membuka dasternya perlahan. Punggungnya telanjang, kulit putih mulus berkilau di bawah lampu. Lalu dia berbalik. Payudaranya terbebas sepenuhnya. Besar, montok, putting gelap menonjol keras. Dia meremas payudaranya sendiri dengan kedua tangan, kepala tertengadah, bibir terbuka dalam desahan yang tak terdengar. Tangannya turun, masuk ke dalam celana pendeknya. Aku melihat gerakan jarinya di balik kain. Dia sedang meraba memeknya sendiri. Pinggulnya bergoyang pelan, mengikuti irama jarinya.
6434Please respect copyright.PENANA9igjOa545K
Aku mengeluarkan kontolku yang sudah tegang sakit. Aku mengocoknya pelan, mengikuti gerakan tangannya. Tiba-tiba Saskia menoleh ke arah jendela. Matanya seolah menembus kegelapan, langsung ke arahku. Dia tersenyum pelan. Nakal. Sengaja. Lalu dia membuka celana pendeknya sedikit lebih lebar, memperlihatkan tangannya yang basah karena cairan memek. Jarinya yang mengkilap dia angkat ke mulut dan dihisap pelan, sambil matanya tetap menatap ke arah rumahku.
6434Please respect copyright.PENANA3aHnE6ZtvU
Itu bukan kebetulan. Itu undangan.
6434Please respect copyright.PENANAmzji9C96VC
Aku hampir ejakulasi di tempat.
6434Please respect copyright.PENANApvZpeASWUw
Hari-hari berikutnya terasa seperti api yang perlahan menyala lebih besar. Pak Arman semakin sering mengajakku ke rumah mereka untuk makan malam. Di meja makan, Saskia duduk di seberangku. Malam itu dia memakai blouse kancing putih yang agak longgar di atas. Dua kancing atas terbuka, memperlihatkan belahan payudara yang dalam dan menggoda. Saat dia menuang air ke gelasku, lengannya menyentuh lenganku. Aku merasa listrik menjalar ke seluruh tubuh. Matanya bertemu dengan mataku lebih lama dari seharusnya. Bibirnya yang penuh dan merah muda itu sedikit tersenyum. Aku membayangkan mencium bibir itu, menjilatnya, membiarkan lidahnya menghisap jari ku seperti menghisap kepala kontolku.
6434Please respect copyright.PENANAdY9ZUXgX2E
Suatu kali, saat Pak Arman pergi sebentar ke dapur, Saskia berbisik pelan, “Kamu sering melihat ke sini, ya Mas? Aku juga sering melihatmu dari jendela.” Lalu dia tertawa kecil, payudaranya bergoyang pelan di balik blouse. Aku hampir tersedak nasi.
6434Please respect copyright.PENANANOt8OCvfYi
Konflik batinku semakin parah. Aku tahu ini salah. Sangat salah. Tapi setiap malam fantasi semakin detail dan liar. Aku membayangkan Saskia datang diam-diam ke rumahku tengah malam. Dia mendorongku ke sofa, membuka celanaku dengan tangan gemetar penuh nafsu, lalu menghisap kontolku dalam-dalam. Mulutnya hangat dan basah. Lidahnya memutar di kepala kontol, air liurnya mengalir deras ke bawah. Dia menelan sampai dalam, tenggorokannya menjepit, matanya berair tapi penuh nafsu. “Kontanmu enak, Kiran… lebih besar… lebih keras dari suamiku… aku mau kamu ngentot mulutku sampai aku tak bisa bicara…”
6434Please respect copyright.PENANAeCM58biycq
Lalu aku membaliknya, membuka pahanya lebar, menjilat memeknya sampai dia squirt deras di wajahku. Cairan panas, manis-asin, membasahi lidahku. Aku meneguknya rakus. Setelah itu aku masukkan kontolku pelan ke dalam memeknya yang sudah basah kuyup dan bengkak. Posisi missionary, matanya menatapku penuh nafsu dan rasa bersalah yang bercampur. “Kiran… aku istri orang… tapi aku mau kamu isi aku malam ini… jangan keluar… creampie aku…”
6434Please respect copyright.PENANAIqmTEsqP8i
Aku ngentot pelan dulu, merasakan setiap lipatan dalam memeknya menjepit kontolku. Lalu semakin cepat, semakin keras. Payudaranya bergoyang di depan wajahku. Aku hisap puttingnya sambil ngentot. Dia mengerang lebih keras. “Ahh… Kiran… kontolmu mengisi aku sempurna… ngentot aku lebih keras… aku mau squirt lagi…” Tubuhnya gemetar hebat, cairan menyembur deras membasahi perutku. Aku terus ngentot sampai dia orgasme ketiga, lalu aku ejakulasi deras di dalam, sperma panas mengalir deras ke dalam rahimnya.
6434Please respect copyright.PENANAToH6el555u
Setiap kali fantasi itu berakhir, aku merasa kotor. Tapi nafsu tak bisa dipadamkan.
6434Please respect copyright.PENANAwCVWbdB5dP
Malam yang mengubah segalanya datang pada hari Kamis.
6434Please respect copyright.PENANAZWyxwDD3lD
Pak Arman datang ke rumahku sekitar pukul delapan malam. Dia membawa sebotol kopi hitam dan sebungkus rokok. Wajahnya serius. “Kiran, ada waktu? Aku mau bicara sesuatu yang penting.”
6434Please respect copyright.PENANAUnWygEBrAe
Kami duduk di teras. Lampu temaram. Angin malam sepoi-sepoi. Dia menghela napas panjang sebelum bicara.
6434Please respect copyright.PENANATHVGGP4dXD
“Kamu anak baik, Kiran. Aku sudah anggap kamu seperti adik sendiri sejak kamu pindah ke sini. Tapi ada hal yang harus aku katakan. Ini… tidak biasa. Bahkan mungkin gila bagi kebanyakan orang. Tapi aku sudah pikir matang-matang, dan aku sudah bicara terbuka dengan Saskia.”
6434Please respect copyright.PENANAUqPlQYQTfd
Aku menegang. Jantungku berdegup sangat kencang. Kontolku tiba-tiba berdenyut tanpa alasan yang jelas.
6434Please respect copyright.PENANAcXFcxaOhnE
“Pak… ada apa?”
6434Please respect copyright.PENANAr2PLsQnuCN
Dia menatapku lurus. “Saskia… istriku yang muda. Dia wanita yang luar biasa. Cantik, penyayang, penuh perhatian. Tapi dia punya nafsu yang sangat tinggi. Aku mencintainya sepenuh hati. Aku memuaskannya sebisaku. Tapi dengan dua istri, dan usiaku yang tidak lagi muda, aku tak selalu bisa memberinya apa yang dia butuhkan setiap saat. Kadang dia gelisah di malam hari. Tubuhnya panas. Dia tak bisa tidur. Aku lihat dia sering meraba dirinya sendiri di kamar mandi atau di tempat tidur saat dia pikir aku sudah tidur.”
6434Please respect copyright.PENANAp22KCJak3N
Aku menelan ludah. Gambaran Saskia meraba memeknya sendiri muncul jelas di kepalaku. Kontolku semakin tegang di dalam celana.
6434Please respect copyright.PENANA13x0cEebYk
Pak Arman melanjutkan dengan suara pelan. “Aku sudah perhatikan kamu, Kiran. Kamu memandangnya dengan cara yang… spesial. Dan aku juga melihat Saskia kadang menatapmu lebih lama dari seharusnya. Ada ketertarikan di antara kalian. Aku bukan orang bodoh.”
6434Please respect copyright.PENANA6ATADajhmf
Aku ingin protes, tapi kata-kata macet di tenggorokan. Nafsu dan rasa bersalah bertarung hebat di dalam dadaku.
6434Please respect copyright.PENANAyLUNbQcLKq
“Pak… aku… tidak pernah…”
6434Please respect copyright.PENANAa4eHE8SMyX
“Dengar dulu,” potongnya lembut. “Aku punya usul yang mungkin akan membuatmu kaget. Tapi ini adalah pilihan ku. Aku ingin kamu membantu memuaskannya. Secara diam-diam. Aku izinkan sepenuhnya. Bahkan, aku merasa… excited membayangkannya. Melihat istri mudaku dipuaskan oleh pria muda yang sehat dan baik seperti kamu. Aku sudah bicara dengan Saskia. Dia juga tertarik padamu. Dia setuju jika kamu mau. Ini bukan pengkhianatan. Ini persetujuan kami berdua.”
6434Please respect copyright.PENANAHIL11HMpsM
Dunia seolah berhenti berputar. Nafsu meledak di seluruh tubuhku. Aku membayangkan Saskia telanjang di bawahku, kakinya diangkat lebar, memeknya terbuka basah dan merah, aku dorong kontolku masuk perlahan, merasakan dinding dalamnya yang panas dan basah menjepit, lalu aku ngentot keras sambil dia berteriak “Kiran! Ahh… kontolmu besar… enak sekali… ngentot aku sampai aku lupa aku istri orang… aku mau creampie mu… isi aku dalam-dalam…”
6434Please respect copyright.PENANAyHcRajmtDJ
Kontolku sudah keras seperti batu, menonjol jelas di celana. Aku berusaha menutupinya dengan tangan, malu dan terangsang sekaligus.
6434Please respect copyright.PENANAMaJIMJmS5H
“Pak… ini gila,” kataku dengan suara parau. “Dia istri kamu. Saya tak bisa…”
6434Please respect copyright.PENANAiiyeSBhn11
Pak Arman tersenyum tipis, hampir sedih tapi juga lega. “Aku tahu kamu akan bilang itu. Tapi aku sudah memikirkan ini berbulan-bulan. Aku mencintai Saskia. Aku ingin dia bahagia sepenuhnya. Dan aku percaya padamu. Kamu tidak akan menyakitinya. Kamu akan memperlakukannya dengan baik.”
6434Please respect copyright.PENANAkaSboBbbQq
Dia berdiri perlahan. “Pikirkan dulu. Besok malam, Jumat, Bu Lestari akan pergi ke rumah orang tuanya di luar kota untuk acara keluarga. Dia menginap di sana. Aku akan bilang ada rapat bisnis penting di hotel sampai pagi. Tapi sebenarnya aku akan memberi kalian ruang. Rumah akan kosong kecuali Saskia. Jika kamu setuju, datanglah sekitar pukul sembilan malam. Pintu belakang akan tidak dikunci. Tidak ada paksaan sama sekali. Jika kamu tidak mau, kita lupakan percakapan ini selamanya, dan persahabatan kita tetap seperti biasa.”
6434Please respect copyright.PENANATMTeg8Qii5
Dia menepuk bahuku pelan. “Kamu pria dewasa, Kiran. Pilihan ada di tanganmu. Tapi aku lihat nafsu di matamu setiap kali kamu melihatnya. Dan di matanya juga ada hal yang sama.”
6434Please respect copyright.PENANADpzFWG0Zqv
Setelah Pak Arman pergi, aku duduk sendirian di teras dalam kegelapan. Tubuhku gemetar. Kontolku sakit karena tegang di dalam celana. Aku masuk ke kamar, membuka celana dengan tangan gemetar, lalu mengocoknya keras sambil membayangkan besok malam.
6434Please respect copyright.PENANAR2Djf0SPFw
Saskia membuka pintu belakang dengan daster tipis hitam yang tembus pandang. Senyum nakal di bibirnya. “Masuklah, Kiran. Aku sudah menunggu sejak lama.” Dia mendorongku ke dinding, menciumku penuh nafsu. Lidahnya menari liar dengan lidahku. Tangannya meraba kontolku di luar celana, meremasnya. “Akhirnya… aku ingin kontolmu sejak pertama kali melihatmu membantu suamiku di bawah hujan.”
6434Please respect copyright.PENANAIgJOgcnAzx
Aku membayangkan mendorongnya ke tempat tidur kamar utama. Membuka dasternya perlahan. Tubuh telanjang Saskia terbentang di hadapanku. Payudara besar montok dengan putting cokelat gelap yang mengeras. Pinggang kecil yang indah. Bokong bulat kenyal. Dan memeknya… mulus, bibir luar montok dan bengkak, klitoris menonjol, sudah basah mengkilap, cairan bening mengalir pelan ke bawah. Aroma feminin yang harum dan menggairahkan.
6434Please respect copyright.PENANASAVxtnXVH6
Aku membayangkan berlutut, membuka pahanya lebar, dan menjilat memeknya lama. Lidahku menyelami setiap lipatan, menghisap klitorisnya yang sensitif, memasukkan lidah ke dalam lubang hangatnya. Saskia mengerang keras, tangannya menekan kepalaku. “Ahh… Kiran… jilat memekku… enak sekali… aku mau squirt di mulutmu…” Tubuhnya gemetar, cairan panas menyembur deras ke lidahku. Aku meneguk rakus.
6434Please respect copyright.PENANAnnIinZ8QeI
Lalu aku naik, posisi missionary. Matanya menatapku penuh nafsu dan sedikit rasa bersalah yang justru membuatku semakin terangsang. Kakinya melingkar di pinggangku. Aku dorong kontolku pelan masuk ke dalam memek panas yang sempit. “Ahh… besar… Kamu mengisi aku sempurna…” Aku ngentot pelan dulu, merasakan setiap sentimeter dinding dalamnya menjepit. Lalu semakin cepat, semakin keras. Bunyi “plok plok plok” basah menggema di kamar. Payudaranya bergoyang di depan wajahku. Aku hisap puttingnya sambil ngentot. Dia mengerang “Kiran… ngentot aku lebih keras… aku istri orang… tapi malam ini aku milikmu… creampie aku… isi aku dalam-dalam…”
6434Please respect copyright.PENANAhZv17Yg7qE
Aku membaliknya ke doggy style, pegang pinggang kecilnya, dorong kontolku dari belakang. Aku tarik rambutnya pelan. “Kamu suka ngentot istri orang, ya Saskia?” “Suka… ahh… kontolmu enak… jangan berhenti…” Aku ngentot lebih keras. Bokongnya bergoyang setiap kali aku dorong dalam. Lalu dia mencapai orgasme lagi, squirt deras membasahi seprai. Aku terus ngentot sampai dia orgasme keempat, lalu aku ejakulasi deras di dalam, sperma panas kental mengalir deras ke dalam rahimnya, creampie yang berlimpah, mengalir keluar dari memeknya yang merah membengkak.
6434Please respect copyright.PENANAg9areaa0ZJ
Aku ejakulasi deras ke tisu di kamar, tapi rasa puas itu tak datang. Nafsu masih menyala tinggi.
6434Please respect copyright.PENANApYPaOw9G4H
Malam itu aku tak bisa tidur sama sekali.
6434Please respect copyright.PENANAqcg4CYzm6r
Pukul dua belas lewat, aku berdiri lagi di jendela. Cahaya di kamar Saskia masih menyala. Tirai sedikit terbuka. Aku melihatnya berdiri di depan cermin, daster sudah terbuka. Payudaranya telanjang. Dia meremas payudaranya dengan kedua tangan, memutar puttingnya dengan jari. Lalu tangannya turun. Dia membuka pahanya sedikit, jarinya masuk ke dalam memeknya. Aku melihat gerakan jarinya yang cepat. Cairan basah mengalir di paha dalamnya. Dia mengerang pelan, bibirnya terbuka, kepala tertengadah.
6434Please respect copyright.PENANAB9iOdvd0NA
Tiba-tiba dia menoleh ke arah jendela lagi. Matanya langsung menemukan arahku di kegelapan. Dia tersenyum pelan, penuh arti. Lalu dia sengaja membuka pahanya lebih lebar, memperlihatkan jarinya yang sedang masuk keluar dari memek basahnya. Jarinya yang basah dia angkat ke mulut dan dihisap pelan, sambil matanya tetap menatap ke arah rumahku. Seolah berkata: “Besok malam… aku menunggumu.”
6434Please respect copyright.PENANAX2J580AjTS
Aku mengeluarkan kontolku lagi. Mengocoknya mengikuti gerakan jarinya. Ketika Saskia mencapai orgasme, tubuhnya gemetar hebat, mulutnya terbuka lebar dalam erangan tak bersuara, cairan squirt menyembur deras ke lantai. Aku juga ejakulasi deras, membayangkan itu adalah creampie yang akan aku berikan besok malam.
6434Please respect copyright.PENANAFT6ia7uzT1
Setelah itu, Saskia tersenyum lagi ke arahku. Lalu dia mematikan lampu.
--
Esoknya
Jumat pagi terasa berbeda. Aku bangun lebih awal dari biasanya, tubuhku masih panas karena mimpi yang tak kunjung reda sepanjang malam. Aku bermimpi Saskia telanjang di tempat tidurku, payudaranya yang besar dan montok bergoyang di atas wajahku, memeknya yang basah menjepit kontolku erat, dan dia berbisik dengan suara serak penuh nafsu, “Kiran… creampie aku… isi aku dalam-dalam…”
6434Please respect copyright.PENANAEsmTCHcbbW
Aku mandi air dingin dua kali, tapi kontolku tetap tegang setiap kali membayangkan apa yang akan terjadi malam nanti. Sepanjang hari aku tak bisa fokus pada pekerjaan. Layar laptop hanya jadi latar belakang. Pikiranku terus kembali ke rumah sebelah.
6434Please respect copyright.PENANAQcRGkkXiiA
Pukul tujuh pagi, aku melihat Saskia dari jendela kamar. Dia sedang menjemur pakaian di halaman belakang. Memakai kaos ketat berwarna abu-abu tanpa bra dan rok pendek jeans yang menempel di bokongnya yang bulat dan kenyal. Saat dia mengangkat kedua tangan untuk menjepit baju di tali jemuran, kaos itu terangkat, memperlihatkan kulit perutnya yang rata dan pinggang kecil yang menggoda. Payudaranya yang besar terangkat tinggi, puttingnya menonjol jelas di balik kain tipis karena udara pagi yang masih sejuk. Saat dia membungkuk untuk mengambil baju berikutnya, roknya terangkat di belakang. Aku bisa melihat paha dalamnya yang mulus dan tebal, serta sedikit belahan bokong yang dalam di balik celana dalam hitam lace yang tersembul.
6434Please respect copyright.PENANAYSlrnBNk0S
Dia menoleh ke arah rumahku. Matanya langsung menemukan jendelaku. Dia tersenyum pelan, nakal, lalu sengaja membungkuk lebih lama dari yang diperlukan, bokongnya bergoyang pelan seolah sengaja memperlihatkan. Aku menelan ludah. Kontolku sudah berdenyut di dalam celana pendek.
6434Please respect copyright.PENANAIqr5ItBh2Y
Siang hari terasa panjang sekali. Aku keluar sebentar ke minimarket hanya untuk mengalihkan pikiran, tapi setiap kali melihat wanita berpakaian agak terbuka, bayangan Saskia muncul. Aku pulang, mandi lagi, onani sekali di kamar mandi sambil membayangkan mulutnya yang hangat menghisap kontolku dalam-dalam, lidahnya memutar di kepala, air liurnya mengalir deras. Tapi onani itu tak membuatku lega. Nafsu justru semakin membesar.
6434Please respect copyright.PENANAIZbr3Iflmd
Sore hari pukul lima, Pak Arman datang ke pagar depan rumahku. Dia tersenyum tipis, suaranya pelan. “Kamu sudah memutuskan, Kiran?”
6434Please respect copyright.PENANAq43R57ycrf
Aku mengangguk pelan, jantung berdegup kencang. “Ya, Pak… aku akan datang.”
6434Please respect copyright.PENANAQiGl7FE3ut
Dia menepuk bahuku. “Bagus. Aku percaya padamu. Bu Lestari sudah berangkat tadi siang. Aku akan keluar pukul setengah sembilan. Pintu belakang tidak dikunci. Lakukan dengan baik. Buat dia bahagia.” Lalu dia pergi tanpa banyak bicara lagi.
6434Please respect copyright.PENANAdA0smd8Hj2
Waktu seolah berjalan sangat lambat setelah itu.
6434Please respect copyright.PENANA1W6QkJ6TQ0
Pukul delapan malam, aku melihat mobil Pak Arman keluar dari garasi. Dia melambaikan tangan singkat ke arah rumahku sebelum pergi. Rumah sebelah sekarang hanya ditempati Saskia.
6434Please respect copyright.PENANADVWZGpx3i4
Pukul sembilan tepat, aku berdiri di depan pintu belakang rumah mereka. Tangan kananku gemetar saat aku mengetuk pelan tiga kali. Jantungku berdegup sangat kencang. Kontolku sudah setengah tegang hanya karena membayangkan apa yang ada di balik pintu ini.
6434Please respect copyright.PENANAK8DnFC3M1y
Pintu terbuka perlahan.
6434Please respect copyright.PENANANpENHf7HkS
Saskia berdiri di ambang pintu, memakai daster hitam tipis yang hampir tembus pandang di bawah cahaya teras. Rambut hitam panjangnya tergerai basah, seolah baru saja mandi. Aroma sabun mandi yang harum bercampur parfum ringan langsung menyapa hidungku. Di balik daster tipis itu, aku bisa melihat siluet tubuhnya dengan jelas: dua buah payudara besar montok tanpa bra, puttingnya sudah mengeras menonjol, pinggang kecil yang indah, dan bokong bulat yang membentuk lengkungan sempurna.
6434Please respect copyright.PENANAR7IKN4DQiZ
Dia tersenyum pelan, mata cokelatnya penuh nafsu yang tak disembunyikan lagi. “Masuklah, Kiran. Aku sudah menunggu sejak tadi.”
6434Please respect copyright.PENANAMTSp1xxSWg
Aku melangkah masuk. Pintu ditutup dan dikunci dari dalam. Suara klik itu terdengar sangat keras di telingaku.
6434Please respect copyright.PENANAVgahNgu4FV
Kami berdiri berhadapan di dapur yang remang-remang. Hanya lampu kecil di atas meja yang menyala. Saskia mendekat perlahan. Tubuhnya hampir menyentuh tubuhku. Aku bisa merasakan panas yang memancar dari kulitnya.
6434Please respect copyright.PENANAFAZEHql6I6
“Kamu datang,” bisiknya. “Aku tak yakin kamu akan datang. Tapi aku senang… sangat senang.”
6434Please respect copyright.PENANAF78dgifNZs
Aku menelan ludah. Suaraku terdengar parau. “Saskia… ini… ini salah. Tapi aku tak bisa menahan diri lagi.”
6434Please respect copyright.PENANAuPNMZgsPLL
Dia mengangkat tangan, jarinya menyentuh dadaku pelan. “Aku juga. Sudah dua bulan aku memikirkanmu setiap malam. Setiap kali aku melihatmu dari jendela, setiap kali aku membantu suamiku di halaman… aku selalu membayangkan tanganmu di tubuhku.”
6434Please respect copyright.PENANA8Ca2v6i3Oz
Dia mengambil tanganku dan meletakkannya di pinggangnya. Kulitnya hangat di balik kain tipis. “Rasakan. Aku sudah mandi dua kali hari ini… tapi memekku tetap basah sejak pagi tadi, sejak aku tahu kamu akan datang malam ini.”
6434Please respect copyright.PENANAUmfykYn21I
Aku meraba pinggangnya yang kecil, turun pelan ke bokongnya yang bulat dan kenyal. Aku meremas pelan. Saskia mengerang pelan di tenggorokan. “Kamu suka bokongku, ya? Aku sering melihatmu menatapnya saat aku membungkuk.”
6434Please respect copyright.PENANAehQZcaOfsG
Kami bergerak ke ruang tamu. Dia membuatkan dua gelas teh hangat, tapi kami tak minum. Kami duduk di sofa yang panjang. Jarak kami semakin dekat. Lutut kami bersentuhan. Tangannya berada di pahaku, naik pelan ke atas, berhenti tepat di bawah kontolku yang sudah tegang penuh di dalam celana jeans.
6434Please respect copyright.PENANAnsMhti4TZx
“Aku tahu kamu sering onani sambil membayangkanku,” bisiknya sambil menatap mataku. “Aku juga. Setiap malam. Aku membayangkan kontolmu… besar, keras, dan panas. Aku membayangkan kamu memasukkannya ke dalam mulutku… ke dalam memekku… dan mengisi aku dengan sperma panasmu.”
6434Please respect copyright.PENANAQQGhtvgZgs
Aku tak tahan lagi. Aku memegang dagunya, menolehkan wajahnya ke arahku, lalu menciumnya.
6434Please respect copyright.PENANAS8lJjDXLVb
Ciuman pertama pelan, ragu-ragu. Bibirnya lembut dan hangat. Lalu Saskia membuka mulutnya, lidahnya keluar dan menari dengan lidahku. Ciuman itu menjadi dalam, basah, penuh nafsu. Tangan kiriku meremas payudaranya yang besar di balik daster. Payudara itu berat, kenyal, puttingnya mengeras di telapak tanganku. Aku meremas lebih kuat. Saskia mengerang ke dalam mulutku.
6434Please respect copyright.PENANApKdY2zmgOy
Dia menarik dasternya ke bawah sendiri, memperlihatkan payudaranya sepenuhnya. Dua buah dada besar montok terjatuh sedikit karena beratnya, putting cokelat gelap sudah mengeras sempurna, areola lebar dan gelap mengelilinginya. Aku membungkuk, menghisap putting kanannya dalam-dalam. Lidahku memutar di sekitar putting yang sensitif. Saskia menekan kepalaku ke dadanya, punggungnya melengkung. “Ahh… Kiran… hisap lebih keras… puttingku sensitif sekali… enak…”
6434Please respect copyright.PENANAFKYp16rzqB
Aku menghisap bergantian kiri dan kanan, menggigit pelan, menarik putting dengan bibir sampai dia mengerang lebih keras. Kulit payudaranya mulai memerah karena isapan. Aku merasakan beratnya yang nyata di tangan dan mulutku. Ini bukan fantasi lagi. Ini nyata.
6434Please respect copyright.PENANAFMJI3D22Hy
Saskia berdiri, menarik tanganku. “Kemarilah… ke kamar.”
6434Please respect copyright.PENANAbspTpKEoRV
Kami berjalan ke kamar tidur utama. Lampu tidur menyala redup. Seprai putih bersih sudah dibentangkan. Bau parfum dan sedikit aroma feminin yang sudah terasa di udara.
6434Please respect copyright.PENANAebyMlXTxug
Di tengah kamar, Saskia melepaskan dasternya sepenuhnya. Kain hitam tipis itu jatuh ke lantai. Tubuhnya telanjang sepenuhnya di hadapanku.
6434Please respect copyright.PENANAjK40BgMa2Q
Aku menatap tak berkedip.
6434Please respect copyright.PENANAnIHWE8x6NN
Payudaranya besar dan montok, bentuknya indah seperti buah pir yang matang, putting gelap menonjol keras. Pinggangnya kecil, perutnya rata dengan sedikit lekukan. Bokongnya bulat sempurna, kenyal, dua buah belahan yang dalam dan menggoda. Paha dan betisnya mulus dan tebal. Dan di antara paha yang indah itu… memeknya yang mulus, dicukur rapi, hanya ada sedikit strip tipis di atas. Bibir luar montok dan sudah sedikit bengkak karena nafsu. Klitorisnya menonjol kecil di atas, mengkilap karena cairan yang sudah mulai mengalir. Aroma feminin yang harum dan menggairahkan langsung memenuhi ruangan.
6434Please respect copyright.PENANAh31EhBRgev
“Sentuh aku,” bisiknya. “Aku ingin merasakan tanganmu.”
6434Please respect copyright.PENANAtVY0StRY0P
Aku mendekat. Tanganku meraba payudaranya lagi, lalu turun ke perut, lalu ke selangkangan. Jari-jariku menyentuh bibir memeknya yang sudah basah. Cairan bening hangat menempel di jari. Aku mengusap pelan dari bawah ke atas, mengoleskan cairannya ke klitoris. Saskia mengerang, pinggulnya maju ke depan.
6434Please respect copyright.PENANADMzRa40gSh
Aku berlutut di lantai. Membuka pahanya lebih lebar. Sekarang aku bisa melihat memeknya dari dekat. Bibir luar montok dan bengkak, warna pink gelap di dalam sudah terlihat karena sudah terbuka sedikit. Klitoris menonjol seperti kacang kecil yang mengkilap. Cairan bening mengalir pelan dari lubang memeknya ke bawah, membasahi paha dalamnya. Aroma harumnya semakin kuat.
6434Please respect copyright.PENANAoBJ0fjbp2w
Aku menjulurkan lidah, menjilat dari bawah ke atas, menyelami setiap lipatan. Rasa manis-asin langsung memenuhi lidahku. Saskia mengerang keras, tangannya memegang rambutku. “Ahh… Kiran… jilat memekku… enak sekali…”
6434Please respect copyright.PENANA5CKywXdrdF
Aku menghisap klitorisnya pelan lalu cepat, lidahku memutar di sekitarnya. Dua jari tangan kananku masuk ke dalam lubang memeknya yang hangat dan basah. Dinding dalamnya menjepit jari-jariku erat. Aku gerakkan jari ke depan-belakang, mencari titik sensitif di dalam. Ketika aku menemukannya, Saskia hampir berteriak. “Di situ… ahh… jangan berhenti… jilat klitku lebih cepat…”
6434Please respect copyright.PENANA6QZAvjt6XJ
KELANJUTANNYA DI LINK 🔗 DIBAWAK INI https://lynk.id/time47


