Arkan Wijaya berdiri di depan jendela kaca besar ruang kerjanya di lantai dua rumah mereka di kawasan BSD City. Jam menunjukkan pukul setengah enam sore. Cahaya matahari sore yang keemasan menyapu permukaan meja kerja yang rapi, laptop masih menyala dengan deretan angka dan grafik yang belum selesai ia telaah. Usianya tiga puluh dua tahun, tubuhnya tinggi dan terawat berkat latihan rutin di gym pribadi yang ia bangun di basement. Wajahnya tegas dengan garis rahang kuat, mata hitam yang tajam, dan rambut hitam pendek yang selalu rapi. Sebagai pendiri sebuah perusahaan rintisan di bidang solusi digital untuk UMKM, ia sudah terbiasa dengan tekanan, keputusan cepat, dan kesendirian di puncak.
3903Please respect copyright.PENANAVtAOoJDR38
Namun sore ini ada sesuatu yang berbeda. Bukan tekanan kerja. Bukan juga kebosanan rutin yang kadang menyusup di antara jam-jam panjang bersama istrinya. Ada gelisah yang samar, seperti angin kecil yang belum ia kenali arahnya.
3903Please respect copyright.PENANA8Wgm6xZWoQ
“Mas, aku pulang!”
3903Please respect copyright.PENANAvMm8nZL2ov
Suara Livia yang ceria terdengar dari bawah, diikuti suara tas kulit yang diletakkan di meja konsol dekat pintu. Arkan tersenyum tipis, mematikan layar laptop, lalu turun tangga dengan langkah santai. Livia sudah berdiri di ruang tamu, melepas blazer hitamnya. Wanita dua puluh delapan tahun itu masih memancarkan pesona yang sama seperti tiga tahun lalu saat mereka menikah. Rambut bob-nya yang hitam mengkilap, tubuh ramping dengan payudara sedang yang selalu terlihat proporsional di balik kemeja kerja, pinggang kecil, dan bokong yang bulat tapi tidak berlebihan. Livia adalah istri yang sempurna: cantik, cerdas, ambisius di karirnya sebagai marketing manager di perusahaan multinasional, dan setia.
3903Please respect copyright.PENANAjNrQoQYsLG
Arkan mendekat, mencium pipinya yang masih agak lembap karena keringat Jakarta. “Capek?”
3903Please respect copyright.PENANAaIZ3Nfi6IJ
“Sedikit,” jawab Livia sambil tersenyum. Ia meletakkan tangan di dada Arkan sebentar, lalu menatap suaminya dengan mata yang sedikit berbinar. “Tapi aku ada kabar. Besok Ivana datang.”
3903Please respect copyright.PENANAFFzA22weba
Arkan mengangkat alis. “Ivana?”
3903Please respect copyright.PENANAv1Pp7WnNFW
“Iya. Adikku. Dia sudah lulus tahun lalu, Mas. Sekarang dua puluh dua tahun. Dapat magang sebagai graphic designer di agensi iklan besar di Sudirman. Orang tua telepon kemarin malam, minta aku bantu jaga dia. Apartemen yang dia incar belum siap, dan kos di Jakarta mahal sekali. Aku bilang dia boleh tinggal di kamar tamu kita selama dua bulan. Kamu setuju kan?”
3903Please respect copyright.PENANAwMyavKpS3Z
Arkan diam sejenak. Ia mengingat Ivana. Terakhir kali melihat gadis itu di pernikahan mereka tiga tahun lalu. Saat itu Ivana baru sembilan belas tahun, masih kuliah semester awal, tubuhnya kurus dan datar, wajah imut pemalu yang selalu menunduk setiap kali Arkan menyapanya. Cantik, ya. Tapi masih seperti anak kecil yang belum sepenuhnya tumbuh.
3903Please respect copyright.PENANA9RA9lwKWEe
Sekarang… dua puluh dua tahun. Sudah dewasa.
3903Please respect copyright.PENANAJIwIKX6uH3
“Setuju,” kata Arkan akhirnya. “Keluarga kan. Kapan dia datang?”
3903Please respect copyright.PENANAzsHOTh7SGE
“Besok pagi. Kereta dari Semarang jam delapan. Kamu bisa jemput dia di Gambir? Aku harus masuk kantor lebih awal, ada meeting dengan klien besar.”
3903Please respect copyright.PENANAfls2SmIg9i
Arkan mengangguk. “Bisa. Aku jemput.”
3903Please respect copyright.PENANA6Cl3eIQgtN
Livia tersenyum lega dan memeluknya sebentar. “Kamu baik sekali. Aku lega. Ivana anak baik, Mas. Pintar, rajin, cuma agak polos karena baru pertama kali tinggal jauh dari rumah. Tolong jaga dia ya.”
3903Please respect copyright.PENANATtXf3ZwjNY
Malam itu mereka makan malam bersama di meja dapur. Livia bercerita lebih banyak. Ivana sudah lulus dengan predikat cum laude dari jurusan desain grafis di sebuah universitas negeri di Jawa Tengah. Ia punya portofolio yang bagus, excited sekali bisa bekerja di Jakarta, dan berjanji tidak akan merepotkan kakak iparnya. Arkan mendengarkan sambil sesekali mengangguk, tapi ada bagian kecil di pikirannya yang terus membayangkan wajah Ivana yang dulu — dan bertanya-tanya seperti apa wajah itu sekarang setelah tiga tahun berlalu.
3903Please respect copyright.PENANAAgRmgUExRT
Keesokan paginya, Arkan bangun lebih awal dari biasanya. Ia mandi dengan air dingin, memakai kaos polo hitam lengan pendek yang menonjolkan otot lengannya dan celana chino krem yang rapi. Livia masih tidur nyenyak, jadi ia berangkat sendiri ke Stasiun Gambir dengan mobil SUV hitamnya.
3903Please respect copyright.PENANAIGaNMq7yD2
Peron sudah ramai ketika kereta tiba. Arkan berdiri di dekat pintu keluar gerbong eksekutif, memegang papan kecil bertuliskan “Ivana” dengan tulisan tangan yang rapi. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya, meski ia tidak mengerti mengapa.
3903Please respect copyright.PENANAEnnm4lJGjp
Kemudian ia melihatnya.
3903Please respect copyright.PENANAmrdGjed5mn
Seorang wanita muda turun dari gerbong dengan langkah ringan. Rambut hitam panjang lurusnya tergerai indah hingga tengah punggung, berkilau di bawah cahaya pagi. Ia memakai kaos putih polos yang agak ketat di bagian dada, memperlihatkan dua buah payudara yang penuh, bulat, dan montok — ukuran yang sempurna untuk tubuhnya yang ramping. Saat ia berjalan menarik koper kecil, payudaranya bergoyang pelan dan alami, menggoda mata siapa saja yang melihat. Pinggangnya kecil dan lentur, pinggulnya lebar dengan bokong yang bulat, kenyal, dan menggoda di balik jeans biru tua yang ketat membalut paha jenjangnya. Kulitnya putih mulus seperti porselen, kakinya panjang dan proporsional. Wajahnya… cantik. Sangat cantik. Mata besar berwarna hitam pekat dengan bulu mata lentik, hidung kecil mancung, dan bibir penuh berwarna merah muda alami yang tampak lembut dan menggoda bahkan tanpa lipstik.
3903Please respect copyright.PENANA4wE8MeFvnX
Arkan menahan napas lebih lama dari yang seharusnya. “Ini adik iparku,” katanya dalam hati dengan suara yang tegas. “Jangan gila, Arkan.”
3903Please respect copyright.PENANAd9vtew8C5D
“Ivana!” panggilnya sambil mengangkat tangan.
3903Please respect copyright.PENANA4yINCn7xZZ
Ivana menoleh. Wajahnya langsung cerah dengan senyum lebar yang memperlihatkan deretan gigi putih rapi. “Mas Arkan!” Ia berlari kecil mendekat, koper ditinggalkan sebentar, dan memeluk Arkan erat tanpa ragu.
3903Please respect copyright.PENANAgKXc77D8ab
Arkan terkejut. Tubuh Ivana yang hangat dan lembut menempel penuh padanya. Dua payudara montok dan berat itu menekan dadanya dengan jelas melalui kaos tipis. Ia bisa merasakan kelembutan, kehangatan, dan sedikit getaran napas Ivana. Aroma tubuhnya — campuran shampoo buah-buahan segar dan sedikit keringat pagi dari perjalanan — menyusup ke hidungnya, membuat kepalanya sedikit pusing. Pelukan itu berlangsung tiga detik lebih lama dari yang sopan, atau mungkin hanya perasaannya saja.
3903Please respect copyright.PENANAMJUr5TEgKl
“Terima kasih sudah jemput, Mas,” kata Ivana sambil melepaskan pelukan, tapi tangannya masih memegang lengan Arkan sebentar. Matanya menatap Arkan dengan penuh rasa terima kasih. “Maaf merepotkan.”
3903Please respect copyright.PENANA8cEE0MXDDe
“Tidak apa-apa,” jawab Arkan. Suaranya sedikit lebih rendah dari biasanya. “Selamat datang di Jakarta. Koper kamu berat? Biar aku bawa.”
3903Please respect copyright.PENANA4YPdidMpGo
Ivana menggeleng sambil tersenyum. “Nggak berat kok, Mas. Aku bawa yang penting saja dulu.”
3903Please respect copyright.PENANAXKTjXhdqej
Mereka berjalan ke parkiran. Arkan membuka pintu depan mobil untuk Ivana. Saat gadis itu naik, Arkan tidak bisa menahan pandangan pada paha Ivana yang terlihat jelas saat jeansnya naik sedikit. Kulit paha itu mulus, putih, dan tampak halus. Bokong Ivana yang bulat sempurna terlihat jelas saat ia membungkuk sedikit untuk meletakkan tas di kaki.
3903Please respect copyright.PENANAHfKtJKHIPn
Di dalam mobil, suasana tertutup dan dingin dari AC membuat aroma tubuh Ivana semakin terasa. Arkan mengemudi dengan fokus berlebihan ke jalan, tapi matanya sesekali melirik ke samping. Ivana duduk dengan kaki rapat, tapi jeans ketat itu tetap memperlihatkan setiap lekuk paha dan pinggulnya. Saat mobil berbelok di tikungan, Ivana sedikit condong ke samping, dan Arkan bisa melihat sedikit belahan dalam payudaranya dari samping kaos putih yang agak longgar di bagian atas.
3903Please respect copyright.PENANAvrQdgEN5xH
“Mas Arkan sudah lama di Jakarta ya?” tanya Ivana dengan suara yang lembut dan antusias. “Livia bilang Mas punya perusahaan sendiri sekarang. Keren banget.”
3903Please respect copyright.PENANAGE2jQ6RCZJ
Arkan tersenyum kecil, berusaha menjaga nada suara tetap normal. “Bukan besar-besar amat. Tapi cukup untuk hidup nyaman. Kamu nanti kalau butuh diantar ke kantor atau kemana saja, bilang saja. Aku sering kerja dari rumah.”
3903Please respect copyright.PENANAJALPGVFxK2
“Wah, enak sekali. Aku janji tidak akan ganggu. Aku bisa bantu masak atau bersih-bersih rumah biar Mbak Livia nggak capek.”
3903Please respect copyright.PENANAJzB9Y7Y0SN
“Kamu ini tamu, bukan pembantu,” kata Arkan sambil tertawa ringan. “Santai saja. Nikmati Jakarta.”
3903Please respect copyright.PENANA6OLAnJTHzZ
Tapi dalam hati, ia merasa gelisah. Suara Ivana yang manis, cara ia tertawa dengan kepala sedikit miring sehingga rambutnya jatuh ke satu sisi dan memperlihatkan leher mulusnya, cara payudaranya naik turun pelan saat ia bernapas — semuanya membuat sesuatu di dalam tubuh Arkan bergetar pelan. Ia mencoba mengusirnya. “Ini salah. Dia adik Livia. Aku sudah menikah tiga tahun.”
3903Please respect copyright.PENANA9qSwufDcFg
Tapi godaan itu sudah mulai merayap, seperti api kecil yang dinyalakan di tempat yang salah.
3903Please respect copyright.PENANAtbyPvVfuNk
Sampai di rumah, Livia sudah menunggu di depan pintu dengan senyum lebar dan pelukan hangat untuk adiknya. “Ivana! Akhirnya kamu di sini!” Mereka berpelukan erat, kakak beradik yang lama tidak bertemu. Arkan berdiri di samping sambil membawa koper masuk. Dari sudut matanya, ia melihat bokong Ivana yang bulat dan kenyal bergerak indah saat ia melompat kecil karena excited. Jeans ketat itu membalut setiap lekuk dengan sempurna.
3903Please respect copyright.PENANASn3NiVVwLs
Setelah pelukan, Ivana menoleh padanya. “Mas Arkan, kamar tamu di mana? Aku mau taruh barang dulu.”
3903Please respect copyright.PENANAwbv1k2i2Rx
“Aku antar,” jawab Arkan.
3903Please respect copyright.PENANAkYtKdA9X95
Mereka naik ke lantai dua. Kamar tamu berada persis di seberang kamar utama, hanya dipisahkan koridor sempit berlampu temaram. Arkan membuka pintu. “Ini kamarnya. Kamar mandi dalam di sana. Kalau butuh selimut tambahan atau apa saja, bilang.”
3903Please respect copyright.PENANAKqIEyf4Swp
Ivana masuk, memandang sekitar dengan mata berbinar penuh rasa kagum. “Wah, bagus sekali. Terima kasih ya, Mas. Maaf merepotkan.”
3903Please respect copyright.PENANAt6X6SJBRRf
Saat Arkan hendak keluar, Ivana berbalik cepat untuk meletakkan tasnya dan hampir menabrak dada Arkan. Tubuh mereka bertemu. Payudara Ivana yang empuk dan berat menempel di lengan Arkan dengan jelas. Arkan bisa merasakan kelembutan dua bukit itu, bahkan bisa merasakan sedikit getaran napas Ivana. Ivana tersenyum malu, wajahnya sedikit merona. “Maaf, Mas. Aku terlalu excited.”
3903Please respect copyright.PENANAThcuddEvEw
“Tidak apa-apa,” gumam Arkan. Suaranya serak. Ia cepat-cepat keluar, menutup pintu, dan berdiri di koridor dengan napas yang sedikit tidak teratur. Jantungnya berdetak kencang. Ada panas yang naik dari perutnya ke dada. Ia mengutuk dirinya sendiri dalam hati.
3903Please respect copyright.PENANAOU6oStJ03m
Sepanjang sore, rumah terasa lebih hidup. Livia dan Ivana memasak bersama di dapur yang luas. Arkan membantu sesekali — mengambil bumbu di rak atas, membawakan piring. Setiap kali Ivana bergerak, Arkan melihat. Saat Ivana mengaduk sup di kompor, payudaranya bergoyang pelan di balik kaos putih yang sedikit basah oleh uap. Saat ia membungkuk untuk mengambil panci di laci bawah, bokongnya yang bulat dan kenyal menonjol jelas, jeansnya meregang sempurna di sekitar pinggul dan paha. Saat ia mengangkat tangan untuk mengambil garam di rak tinggi, kaosnya naik sedikit, memperlihatkan kulit pinggang putih yang mulus dan pinggul yang lebar.
3903Please respect copyright.PENANAguPdFqMjJO
Arkan minum air putih berkali-kali. Tenggorokannya terasa kering. Setiap kali matanya tertuju pada tubuh Ivana, ia segera mengalihkan pandangan, tapi godaan itu semakin kuat. Ia merasa seperti remaja yang baru pertama kali melihat tubuh wanita — padahal ia sudah menikah bertahun-tahun.
3903Please respect copyright.PENANAjLH6JXs8b6
Di meja makan malam, Ivana duduk di seberang Arkan. Cahaya lampu gantung membuat kulitnya tampak lebih cerah. Saat ia tertawa karena cerita Livia tentang masa kecil mereka — bagaimana Ivana dulu sering menangis kalau dipisah dari kakaknya — Ivana memiringkan kepala, rambut hitam panjangnya jatuh ke satu sisi, memperlihatkan leher jenjang yang mulus. Bibirnya yang penuh sedikit terbuka saat tertawa. Arkan membayangkan sebentar bagaimana rasanya mencium bibir itu, lalu segera mengusir pikiran itu dengan rasa bersalah yang kuat.
3903Please respect copyright.PENANAu7BiagBHUX
“Mbak Livia bilang Mas Arkan suka masak juga,” kata Ivana sambil tersenyum padanya. Matanya yang besar menatap Arkan langsung. “Besok aku masak spesial buat kalian deh. Biar kalian tahu aku tidak cuma makan enak.”
3903Please respect copyright.PENANAtHSkjOLIef
Arkan mengangguk. “Kamu tidak usah repot.”
3903Please respect copyright.PENANANK5RfnOUpa
“Tidak repot kok, Mas,” jawab Ivana dengan suara lembut. “Aku senang bisa balas budi sedikit. Kalian sudah sangat baik menerima aku di rumah ini.”
3903Please respect copyright.PENANAHvVhsdtKjH
Setelah makan, mereka menonton film di ruang keluarga yang nyaman. Livia duduk bersandar di dada Arkan di sofa panjang. Ivana duduk di sofa single di sebelah, kakinya ditarik ke dada sehingga paha jenjangnya dan sedikit bokongnya terlihat dari samping. Film yang dipilih Livia adalah drama romantis ringan. Ivana sesekali tertawa atau mengomentari adegan dengan antusias. Setiap kali ia tertawa, tubuhnya sedikit bergoyang, dan Arkan tidak bisa menahan pandangan pada payudaranya yang naik turun di balik kaos.
3903Please respect copyright.PENANAppP01M5Q0a
Di tengah film, Ivana menguap lebar. “Maaf, Mas, Mbak. Capek dari perjalanan. Aku mau tidur dulu ya. Besok kan aku mulai kerja.”
3903Please respect copyright.PENANApjU7DfnHAs
“Iya, istirahat yang banyak,” kata Livia. “Besok pagi aku harus ke kantor lebih awal. Kamu diantar Mas Arkan ya ke kantornya. Aku sudah kasih alamat dan nomor kontaknya.”
3903Please respect copyright.PENANANRE7aLf9mr
Ivana mengangguk. Ia berdiri dan mendekat untuk pelukan pada Livia, lalu pada Arkan. Pelukan pada Arkan terasa lebih hangat, lebih lama. Ivana berbisik pelan di dekat telinga Arkan, “Selamat malam, Mas Arkan. Terima kasih lagi. Semoga mimpi indah.”
3903Please respect copyright.PENANAMmwuZVuvye
Napas hangat Ivana menyentuh telinga Arkan. Aroma tubuhnya yang segar membuat kepalanya berputar sebentar. Arkan mengangguk kaku. “Selamat malam.”
3903Please respect copyright.PENANAw6w8tqTUFT
Setelah Ivana naik ke kamarnya, Livia memeluk Arkan dari samping di sofa. “Kamu baik sekali ya, Mas. Aku lega ada kamu yang bisa jaga dia.”
3903Please respect copyright.PENANARzkN6PXQrd
Arkan memaksa tersenyum. “Dia keluarga.”
3903Please respect copyright.PENANAl8mdIuFXmh
Mereka naik ke kamar utama. Livia mandi lebih dulu. Arkan duduk di tepi tempat tidur, pikirannya penuh dengan bayangan Ivana. Payudara montok yang menekan dadanya saat pelukan. Bokong kenyal yang terlihat saat ia membungkuk. Leher mulus yang ingin ia kecup. Ia merasa ereksi yang tidak diinginkan muncul di celananya. Ia mengutuk dirinya sendiri keras-keras dalam hati. “Ini salah. Sangat salah. Dia adik iparku. Aku mencintai Livia.”
3903Please respect copyright.PENANAKa3cLddrTB
Tapi bayangan itu tidak mau pergi.
3903Please respect copyright.PENANAWWufhRgOG0
Livia keluar dari kamar mandi dengan handuk putih yang membalut tubuhnya. Ia mendekat, mencium Arkan, dan mulai merayunya dengan lembut seperti biasa. Mereka bercinta dengan cara yang sudah mereka kenal — penuh kasih sayang, saling mengenal tubuh masing-masing. Arkan memeluk Livia erat, mencium lehernya, menyentuh payudaranya yang ia kenal baik. Tapi saat ia menutup mata, yang muncul adalah bayangan Ivana. Bayangan payudara Ivana yang lebih penuh, bokongnya yang lebih bulat, suaranya yang lebih muda dan manis.
3903Please respect copyright.PENANA6jKGhcgbMa
Orgasme datang lebih cepat dan lebih kuat dari biasanya. Arkan merasa tubuhnya gemetar. Setelahnya, saat Livia tertidur di pelukannya dengan napas tenang, Arkan terjaga lama. Rasa bersalah menghantamnya seperti gelombang. Ia mencium rambut Livia dan berbisik pelan, “Aku sayang kamu.” Tapi hatinya resah. Ada api kecil yang sudah dinyalakan di tempat yang tidak seharusnya.
3903Please respect copyright.PENANAqsCfG4PruS
Keesokan paginya, Livia sudah siap-siap untuk pergi ke kantor lebih awal. Mereka sarapan bersama — Livia, Arkan, dan Ivana yang sudah bangun pagi dan memakai blouse putih rapi dengan rok pensil hitam yang membalut pinggul dan bokongnya dengan sempurna. Ivana terlihat profesional dan cantik. Arkan berusaha tidak menatap terlalu lama.
3903Please respect copyright.PENANAIQfFLOGSRH
Tapi saat sarapan hampir selesai, telepon Livia berdering. Ia menjawab dengan wajah serius. Percakapan singkat, lalu ia meletakkan ponsel dengan napas panjang.
3903Please respect copyright.PENANAEngO0CyfYF
“Mas,” katanya sambil menatap Arkan. “Aku harus pergi ke Singapura besok pagi. Ada klien besar yang mendadak minta presentasi langsung besok lusa. Tim butuh aku handle. Aku mungkin pulang seminggu atau lebih.”
3903Please respect copyright.PENANA5o089Kx461
Arkan terdiam. “Seminggu?”
3903Please respect copyright.PENANAmZ7PEJc6A0
“Iya. Maaf ya, Mas. Kamu bisa handle rumah kan? Dan… jaga Ivana. Tolong antar dia ke kantor hari ini dan besok-besok sampai aku pulang. Aku sudah kasih tau dia.”
3903Please respect copyright.PENANAKRU9OkpWUj
Arkan mengangguk pelan. “Tentu. Hati-hati di sana.”
3903Please respect copyright.PENANASX7tIwwZG5
Livia tersenyum lega dan memeluknya. “Kamu terbaik.”
3903Please respect copyright.PENANAKzEwbizHvh
Sore itu, setelah Livia pulang dari kantor dan mulai mengemas barang untuk perjalanan, Arkan berdiri di koridor lantai dua. Pintu kamar Ivana terbuka sedikit. Cahaya dari dalam menyinari koridor. Arkan melihat Ivana berdiri di depan cermin besar di kamarnya, memakai tank top tipis berwarna putih dan celana pendek rumah yang sangat pendek, hampir menutupi bokongnya. Ia sedang menyisir rambut panjangnya. Gerakan tangannya membuat payudaranya yang montok bergerak pelan di balik kain tipis. Putting kecilnya sedikit menonjol karena dingin AC. Siluet tubuhnya yang sempurna — pinggang kecil, pinggul lebar, bokong bulat, paha jenjang — terlihat jelas dari celah pintu.
3903Please respect copyright.PENANAClzFPwHxHa
Arkan menelan ludah. Ia tahu ia harus pergi, tapi kakinya seperti terpaku. Ivana berbalik, melihatnya di celah pintu. Ia tersenyum malu-malu, tapi tidak buru-buru menutup pintu.
3903Please respect copyright.PENANAIrTkVUPHth
“Mas Arkan? Ada apa?” tanyanya dengan suara lembut.
3903Please respect copyright.PENANAWHhQW1vjg3
Arkan buru-buru mengatur ekspresi. “Tidak… aku cuma mau tanya, kamu sudah siap untuk besok diantar ke kantor?”
3903Please respect copyright.PENANATKN21zJ3Ko
Ivana mengangguk. “Sudah, Mas. Terima kasih. Aku… senang bisa tinggal di sini. Apalagi Mbak Livia harus pergi, aku janji tidak akan merepotkan kamu. Kalau kamu butuh teman ngobrol malam-malam, atau… apa saja, aku ada di sini. Jangan ragu ya, Mas.”
3903Please respect copyright.PENANANiVxWcUfsU
Arkan merasa darahnya mengalir deras ke seluruh tubuh. Ia mengangguk cepat. “Terima kasih. Selamat malam.”
3903Please respect copyright.PENANAQe7dQ9ouLh
Ia berbalik dan masuk ke kamar utama dengan langkah cepat, menutup pintu lebih keras dari yang seharusnya. Di dalam kamar, Livia sudah tidur nyenyak setelah lelah packing. Arkan duduk di tepi tempat tidur, tangannya sedikit gemetar. Pikirannya penuh dengan Ivana. Tubuhnya yang menggoda di balik kain tipis. Senyumnya yang manis. Kata-katanya yang terdengar seperti undangan terlarang: “aku ada di sini.”
3903Please respect copyright.PENANA9i9Uflea8g
Seminggu sendirian dengan Ivana di rumah ini. Tanpa Livia. Hanya mereka berdua.
3903Please respect copyright.PENANAMbMjP95q1U
Arkan menutup mata, tapi yang muncul hanyalah bayangan adik iparnya yang terlalu cantik, terlalu menggoda, dan sekarang terlalu dekat.
3903Please respect copyright.PENANAegv52E3Hk9
Sesuatu yang besar akan terjadi. Ia bisa merasakannya di setiap denyut nadinya. Dan itu membuatnya takut… sekaligus sangat, sangat menginginkannya.
3903Please respect copyright.PENANAxc4pbujS9u
---
3903Please respect copyright.PENANAPUHON6MmSM
Pagi itu terasa berbeda. Cahaya matahari yang menyinari kamar utama tampak lebih terang dari biasanya, atau mungkin hanya perasaan Arkan saja. Livia sudah bangun sejak pukul lima, sibuk memeriksa koper terakhir kali sebelum taksi online datang menjemputnya ke bandara. Arkan berdiri di ambang pintu kamar, memandang istrinya yang sedang memakai blazer abu-abu di depan cermin.
3903Please respect copyright.PENANACgFPCBNGV7
Livia menoleh dan tersenyum. “Jangan khawatir ya, Mas. Aku cuma seminggu. Paling lama sepuluh hari kalau ada tambahan meeting. Kamu jaga rumah dan jaga Ivana baik-baik.”
3903Please respect copyright.PENANAAw23TthJMh
Arkan mengangguk. Ia mendekat dan memeluk Livia dari belakang, mencium lehernya sebentar. “Hati-hati di sana. Telepon kalau sudah sampai.”
3903Please respect copyright.PENANAtUUD7pzecZ
Livia berbalik dan mencium bibirnya pelan. “Aku sayang kamu. Jangan kerja terlalu keras. Dan… tolong antar Ivana setiap hari. Aku sudah kasih uang saku tambahan buat dia, tapi kalau butuh apa-apa lagi, pakai kartuku saja.”
3903Please respect copyright.PENANAqKXhi6sYps
Tak lama kemudian, taksi datang. Arkan mengantar Livia sampai ke mobil, memasukkan koper ke bagasi, lalu memeluk istrinya sekali lagi di depan rumah. Livia melambai dari jendela sampai mobil menghilang di tikungan.
3903Please respect copyright.PENANAYAFR6ZoH25
Arkan berdiri di halaman depan agak lama setelah itu. Rumah yang biasanya terasa penuh dengan kehadiran Livia kini terasa… kosong. Atau justru terlalu penuh dengan kehadiran orang lain yang belum terbiasa ia rasakan.
3903Please respect copyright.PENANA1pLwx51yVM
Ia masuk kembali ke dalam rumah. Ivana belum turun. Arkan pergi ke dapur, membuat kopi hitam pekat untuk dirinya sendiri. Pikirannya masih kacau. Seminggu. Mungkin sepuluh hari. Bersama Ivana. Sendirian.
3903Please respect copyright.PENANAWsh1MPSoy5
Langkah kaki ringan terdengar dari tangga. Arkan menoleh.
3903Please respect copyright.PENANAbUHXGKbrti
Ivana turun dengan langkah pelan, masih mengenakan pakaian tidur — tank top putih tipis tanpa bra dan celana pendek katun hitam yang sangat pendek, hampir menutupi bokongnya yang bulat. Rambut hitam panjangnya agak acak-acakan karena baru bangun, wajahnya masih sedikit mengantuk tapi tetap cantik memukau. Payudaranya yang montok dan berat bergoyang pelan saat ia melangkah turun tangga. Putting kecilnya sedikit menonjol di balik kain tipis karena udara pagi yang masih sejuk dari AC.
3903Please respect copyright.PENANA6Dijil5j10
“Selamat pagi, Mas Arkan,” sapanya dengan suara serak manis. Ia menguap kecil, tangannya terangkat, membuat tank topnya naik sedikit dan memperlihatkan kulit perut putih mulus di atas pinggang celana pendek.
3903Please respect copyright.PENANARqvUgafKOO
Arkan menelan ludah. “Pagi, Ivana. Sudah bangun? Livia baru berangkat tadi.”
3903Please respect copyright.PENANAHEY3J3xZ13
Ivana mengangguk dan mendekat ke dapur. “Aku dengar taksi tadi. Mbak Livia sudah selamat jalan ya, Mas?”
3903Please respect copyright.PENANAfMO67jfBQ5
“Sudah. Dia bilang seminggu sampai sepuluh hari.”
3903Please respect copyright.PENANAfIj2yEqnco
Ivana mengangguk lagi, lalu tersenyum kecil. “Berarti aku merepotkan kamu lebih lama ya, Mas. Maaf.”
3903Please respect copyright.PENANAvOC0kEiqtv
“Tidak merepotkan,” jawab Arkan cepat. Terlalu cepat. Ia meneguk kopinya yang masih panas, membakar lidahnya sedikit. “Kamu mau sarapan apa? Aku bisa buatkan telur atau roti bakar.”
3903Please respect copyright.PENANA0vTC8Sq9cL
Ivana menggeleng. “Nggak usah, Mas. Aku biasa sarapan ringan saja. Nanti aku buat sendiri.” Ia berjalan ke kulkas, membungkuk untuk mengambil air mineral di rak bawah. Bokongnya yang bulat dan kenyal menonjol jelas ke arah Arkan. Celana pendeknya naik, memperlihatkan bagian bawah bokong yang mulus dan putih. Arkan buru-buru mengalihkan pandangan, tapi sudah terlambat. Bayangan itu sudah tertancap di kepalanya.
3903Please respect copyright.PENANAXryczTy3OP
Ivana menuang air ke gelas, lalu meneguknya perlahan. Tetesan air jatuh dari bibirnya ke dagu, lalu ke leher, dan akhirnya hilang ke dalam belahan payudaranya yang dalam. Arkan melihat semuanya. Tenggorokannya terasa kering lagi.
3903Please respect copyright.PENANAg85z19rgKP
“Mas Arkan,” panggil Ivana sambil meletakkan gelas. “Jam berapa kita berangkat ke kantor? Aku takut telat hari pertama.”
3903Please respect copyright.PENANAzTsaGz77Bs
“Setengah delapan kita berangkat. Kantor kamu di Sudirman, kan? Biasanya macet.”
3903Please respect copyright.PENANAAodquLYhTG
Ivana mengangguk. “Aku siap jam tujuh ya, Mas. Aku mandi dulu.”
3903Please respect copyright.PENANADNcx1lBlwu
Ia berbalik dan naik tangga lagi. Arkan memandang punggungnya yang lentur, pinggang kecil, dan bokong yang bergoyang pelan di setiap langkah. Ia merasa darahnya mengalir deras ke selangkangan. Ia mengutuk dirinya sendiri keras-keras dalam hati.
3903Please respect copyright.PENANAu04HqJ6mLS
Setengah jam kemudian, Ivana turun lagi. Kali ini ia sudah rapi untuk hari pertama kerja. Blouse putih lengan panjang yang agak ketat di dada, rok pensil hitam yang membalut pinggul dan paha jenjangnya dengan sempurna, serta sepatu hak sedang. Rambutnya diikat rapi ke belakang, memperlihatkan leher jenjang yang mulus. Makeup tipis membuat wajahnya tampak lebih dewasa dan cantik.
3903Please respect copyright.PENANA33Dce0td51
Arkan yang sudah menunggu di ruang tamu dengan kunci mobil di tangan hampir tidak bisa berkata-kata. Ivana terlihat seperti wanita karir muda yang sedang naik daun — profesional, cantik, dan sangat, sangat menggoda tanpa berusaha.
3903Please respect copyright.PENANA7xIhI5jcBo
“Kita berangkat sekarang, Mas?” tanya Ivana sambil tersenyum.
3903Please respect copyright.PENANAP8LYPbWQbR
Arkan mengangguk. “Ayo.”
3903Please respect copyright.PENANAzVxuvNjlTy
Di dalam mobil, suasana terasa lebih intim dari kemarin. Tanpa Livia di belakang, hanya mereka berdua. Ivana duduk di kursi penumpang, rok pensilnya naik sedikit di atas lutut, memperlihatkan paha putih mulus yang mulus. Saat Arkan mengemudi melewati jalanan Jakarta yang sudah mulai ramai, Ivana bercerita tentang harapannya di hari pertama kerja.
3903Please respect copyright.PENANA6nNB0jZOBZ
“Aku agak nervous sih, Mas,” akunya sambil tertawa kecil. “Ini pertama kalinya aku kerja di perusahaan besar. Takut salah atau tidak bisa mengikuti.”
3903Please respect copyright.PENANAz0nAVVDLkh
“Kamu pasti bisa,” kata Arkan sambil melirik sebentar. “Kamu lulus cum laude, kan? Itu sudah bukti.”
3903Please respect copyright.PENANAg4l5EWQIqq
Ivana menoleh padanya dan tersenyum hangat. “Terima kasih, Mas. Kamu selalu bisa bikin orang percaya diri.”
3903Please respect copyright.PENANAxmyIhtYiOv
Mereka terjebak macet di Jalan Sudirman. Arkan mematikan mesin sebentar. Ivana membuka jendela sedikit, angin pagi masuk dan membuat rambutnya yang lepas di sisi wajah bergerak pelan. Blouse putihnya sedikit basah oleh keringat tipis di dada karena panas Jakarta. Kainnya menempel di payudaranya yang montok, memperlihatkan bentuk dan sedikit bayangan putting yang mulai mengeras karena angin AC yang dingin bercampur panas luar.
3903Please respect copyright.PENANAfLaIoNJYv6
Arkan memaksa diri fokus ke depan. Tapi matanya terus tertarik ke samping. Paha Ivana yang terbuka sedikit karena rok naik, kulitnya yang berkilau pelan karena keringat, lekuk pinggangnya yang terlihat saat ia bergerak untuk mengambil botol air di tas.
3903Please respect copyright.PENANAnYt9SP4WAz
“Mas Arkan,” panggil Ivana pelan. “Kamu baik sekali mau antar aku setiap hari. Aku janji nanti kalau sudah dapat gaji pertama, aku traktir kamu makan enak.”
3903Please respect copyright.PENANAa5T1OnVNO7
Arkan tersenyum tipis. “Tidak usah. Kamu adik iparku. Ini kewajiban.”
3903Please respect copyright.PENANAPfHSWdUU1p
Ivana diam sebentar, lalu berkata dengan suara lebih lembut. “Tapi kamu sudah sangat baik. Mbak Livia beruntung punya suami seperti kamu.”
3903Please respect copyright.PENANAFoG0nQt15y
Arkan merasa dadanya sesak. Kata-kata itu terdengar polos, tapi entah mengapa membuat hatinya bergetar dengan cara yang salah.
3903Please respect copyright.PENANAYApFxHIxrs
Mereka sampai di gedung kantor Ivana tepat jam delapan lewat sedikit. Arkan berhenti di depan lobby. Ivana membuka pintu, lalu menoleh sebelum turun.
3903Please respect copyright.PENANAQTw5sSUJOJ
“Terima kasih, Mas. Aku telepon kalau sudah selesai nanti sore. Jam lima biasanya.”
3903Please respect copyright.PENANAcT2cCGJOnE
“Baik. Hati-hati di dalam.”
3903Please respect copyright.PENANAHalHQY8hpz
Ivana tersenyum lebar, lalu tiba-tiba mendekat dan memeluk Arkan singkat dari samping. Payudaranya yang montok menempel di lengan Arkan lagi. Aroma parfum ringannya — campuran bunga dan vanila — membuat kepala Arkan pusing sebentar.
3903Please respect copyright.PENANAw9LM5Ex7Nw
“Semoga hari kamu lancar juga, Mas,” bisiknya sebelum melepaskan pelukan dan turun dari mobil.
3903Please respect copyright.PENANAYt9X331UQx
Arkan memandang Ivana berjalan masuk ke gedung sampai hilang dari pandangan. Rok pensil hitam itu membalut bokongnya dengan sangat erat, setiap langkah membuat bokong itu bergoyang pelan dan menggoda. Arkan merasa ereksi mulai terbentuk di celananya. Ia menghela napas panjang, memukul setir mobil pelan, lalu mengemudi pulang dengan perasaan kacau.
3903Please respect copyright.PENANAeT3wJLRc4j
Sepanjang hari, Arkan mencoba bekerja di ruang kerjanya di lantai dua. Tapi fokusnya hancur. Setiap kali ia mencoba membaca email atau laporan, bayangan Ivana muncul. Payudaranya di balik tank top pagi tadi. Bokongnya di balik rok pensil. Senyumnya. Suaranya. Cara ia memeluknya.
3903Please respect copyright.PENANAnMKJkrF9bN
Ia berdiri dan pergi ke kamar mandi, memercikkan air dingin ke wajah. “Kamu gila, Arkan,” gumamnya pada bayangan di cermin. “Dia adik Livia. Dua puluh dua tahun. Kamu sudah menikah.”
3903Please respect copyright.PENANAo5qaJzpaGc
Tapi tubuhnya tidak mendengar. Ereksi itu tidak mau pergi.
3903Please respect copyright.PENANAu9oD9rYybu
Sore harinya, tepat jam lima kurang sepuluh, Arkan sudah menunggu di lobby gedung Ivana. Ivana keluar dengan beberapa rekan kerja wanita seusianya. Saat melihat Arkan, wajahnya langsung cerah. Ia berlari kecil mendekat, meninggalkan teman-temannya.
3903Please respect copyright.PENANAih9pIuo5Fo
“Mas Arkan!” serunya. “Kamu tepat waktu sekali.”
3903Please respect copyright.PENANACB4eXvBmrY
Arkan membuka pintu mobil untuknya. “Bagaimana hari pertamanya?”
3903Please respect copyright.PENANArvjfI0cCh8
Ivana masuk dan menghela napas lega. “Capek, tapi menyenangkan. Banyak yang harus dipelajari. Tapi timnya ramah semua.” Ia tersenyum padanya. “Terima kasih sudah jemput. Aku senang pulang bisa langsung ketemu kamu.”
3903Please respect copyright.PENANAnoAHOUHIKL
Kata-kata itu membuat dada Arkan menghangat dengan cara yang berbahaya.
3903Please respect copyright.PENANAl1kx7GUhxR
Di perjalanan pulang, macet lagi. Ivana bercerita tentang hari pertamanya dengan antusias — bosnya yang ramah, tugas pertamanya membuat desain sederhana, teman-teman barunya yang mengajak makan siang bersama. Arkan mendengarkan, tapi matanya terus melirik paha Ivana yang terlihat karena roknya naik lagi. Kulitnya tampak sedikit merah karena lelah berdiri seharian. Arkan membayangkan bagaimana rasanya menyentuh paha itu, merasakan kehangatannya.
3903Please respect copyright.PENANAoBb6kpMii6
Sampai di rumah, Ivana langsung naik ke kamar untuk mandi dan ganti baju. Arkan pergi ke dapur, membuka kulkas, mencari bahan untuk makan malam. Ia memutuskan membuat pasta sederhana — sesuatu yang cepat dan tidak merepotkan.
3903Please respect copyright.PENANA0SHmSR2NBx
Ivana turun lagi setelah tiga puluh menit. Kali ini ia memakai tank top hitam tipis tanpa bra lagi dan celana pendek jeans yang sangat pendek, robek-robek di bagian paha. Rambutnya basah karena baru mandi, jatuh lurus di punggung. Kulitnya masih agak lembap, membuat tank top menempel di payudaranya yang montok. Puttingnya terlihat jelas menonjol di balik kain hitam tipis.
3903Please respect copyright.PENANA47gC7aMnht
“Mas Arkan masak?” tanyanya sambil mendekat ke dapur. “Wah, enak sekali. Bau apanya?”
3903Please respect copyright.PENANAK6ynqvKh7N
“Pasta carbonara. Kamu suka?”
3903Please respect copyright.PENANAaM0SqAyfIa
Ivana mengangguk antusias. “Suka banget. Aku bantu ya, Mas.”
3903Please respect copyright.PENANAz3hXa0jyKd
Mereka bekerja bersama di dapur yang agak sempit. Ivana berdiri di samping Arkan saat ia mengaduk saus. Setiap kali Ivana bergerak, payudaranya menyentuh lengan Arkan. Arkan bisa merasakan kelembutan dan beratnya melalui kain tipis. Saat Ivana membungkuk untuk mengambil garpu di laci bawah, bokongnya menempel di paha Arkan sebentar. Arkan merasa seperti tersengat listrik.
3903Please respect copyright.PENANAqcQKBWonSP
“Mau aku cicipi dulu?” tanya Ivana sambil mengambil sendok kecil. Ia mencelupkan sendok ke saus panas, lalu meniupnya pelan sebelum menyuapkannya ke mulut Arkan.
3903Please respect copyright.PENANA1YZA1B854m
Arkan membuka mulut. Sendok masuk. Sausnya enak, tapi yang ia rasakan lebih adalah jari-jari Ivana yang menyentuh bibirnya saat menyuapkan. Ivana tersenyum. “Enak kan, Mas?”
3903Please respect copyright.PENANA20jphkqfdk
Arkan mengangguk, tidak bisa berkata banyak. Tenggorokannya tercekat.
3903Please respect copyright.PENANABcKUoIt4K1
Mereka makan malam di meja dapur yang kecil. Lampu kuning hangat membuat suasana terasa sangat intim. Ivana duduk di seberang Arkan, kakinya kadang menyentuh kaki Arkan di bawah meja tanpa sengaja. Setiap sentuhan membuat Arkan semakin sulit berkonsentrasi pada makanannya.
3903Please respect copyright.PENANAcwW4BvKf1T
“Mas Arkan,” kata Ivana sambil meneguk air. “Kamu sering sendirian di rumah ya? Mbak Livia kan sering kerja sampai malam atau travel.”
3903Please respect copyright.PENANAxZbfJs2UsZ
Arkan mengangguk. “Kadang. Tapi biasanya tidak masalah.”
3903Please respect copyright.PENANAQyt2TbD769
Ivana menatapnya dengan mata besar yang penuh perhatian. “Tapi sekarang Mbak Livia pergi seminggu. Kamu nggak kesepian?”
3903Please respect copyright.PENANA0hnWHBGmeO
Arkan diam sebentar. “Biasanya tidak. Tapi… hari ini terasa agak berbeda.”
3903Please respect copyright.PENANAl70UQEBfnA
Ivana tersenyum lembut. “Aku juga. Rumah ini besar. Tapi dengan kamu di sini, aku nggak takut. Kamu bikin aku merasa… aman.”
3903Please respect copyright.PENANAAS7LkWb3DG
Kata-kata itu menghantam Arkan seperti pukulan pelan tapi dalam. Ia merasa bersalah sekaligus terangsang. Ivana tidak tahu apa yang sedang ia pikirkan tentang tubuhnya. Ivana hanya melihat kakak ipar yang baik hati.
3903Please respect copyright.PENANA8AYPrWJW0H
Setelah makan, mereka pindah ke ruang keluarga. Ivana memilih film komedi ringan di Netflix. Mereka duduk di sofa yang sama — Ivana di satu ujung, Arkan di ujung lain. Tapi seiring film berjalan, Ivana semakin mendekat. Ia mengangkat kakinya ke sofa, sehingga paha jenjangnya yang telanjang hampir menyentuh paha Arkan.
3903Please respect copyright.PENANAExHRl5KQNc
Arkan bisa mencium aroma sabun mandi Ivana yang segar. Ia bisa melihat dari sudut mata bagaimana payudaranya naik turun pelan saat ia tertawa. Saat adegan lucu muncul, Ivana tertawa terbahak-bahak dan tanpa sadar menyentuh lengan Arkan, tangannya tinggal di sana beberapa detik lebih lama.
3903Please respect copyright.PENANANnPXc9aY6R
“Mas Arkan,” bisik Ivana di tengah film, “kamu nggak apa-apa? Kamu kelihatan tegang.”
3903Please respect copyright.PENANACd6ngiPPHg
Arkan memaksa tersenyum. “Tidak. Cuma capek kerja.”
3903Please respect copyright.PENANAUoP5Kvum5b
Ivana mengangguk, tapi tidak menjauh. Malah ia semakin dekat, bahunya menyentuh lengan Arkan. Panas tubuhnya terasa jelas.
3903Please respect copyright.PENANADmyrWRaDLP
Film selesai hampir pukul sebelas malam. Ivana menguap lebar. “Wah, sudah malam. Aku mau tidur dulu ya, Mas. Besok aku harus bangun pagi lagi.”
3903Please respect copyright.PENANAzslgGNx6vS
“Iya. Selamat malam.”
3903Please respect copyright.PENANAQPlkslLOR3
Ivana berdiri, lalu tiba-tiba mendekat dan memeluk Arkan dari samping. Pelukan ini lebih lama dari sebelumnya. Payudaranya yang montok dan tanpa bra menempel penuh di dada Arkan. Arkan bisa merasakan putting kecil yang mengeras sedikit karena dingin AC menyentuh dadanya melalui kain tipis. Bokong Ivana yang bulat hampir menyentuh pangkal pahanya.
3903Please respect copyright.PENANAIe7CvqsHnN
“Terima kasih sudah nemenin aku hari ini, Mas,” bisik Ivana di dekat telinganya. “Aku senang sekali.”
3903Please respect copyright.PENANAEaQPFBwLOg
Arkan membeku. Tubuhnya tegang. Ereksi yang sudah setengah jadi sejak sore langsung mengeras penuh di celananya. Ia berharap Ivana tidak merasakannya.
3903Please respect copyright.PENANAoTCthfKaPr
Ivana melepaskan pelukan pelan, tersenyum manis, lalu naik ke kamarnya. “Selamat malam, Mas Arkan.”
3903Please respect copyright.PENANAujyvGX3EmL
Arkan duduk diam di sofa setelah Ivana pergi. Jantungnya berdetak sangat kencang. Tangan kanannya gemetar pelan. Ia menunduk dan melihat tonjolan jelas di celananya. Ia menghela napas panjang, berdiri, dan mematikan lampu ruang keluarga.
3903Please respect copyright.PENANA2i28Mlwo1y
Di kamar mandi kamar utama, Arkan berdiri di depan cermin. Ia membuka celana, melepaskan boxer. Kontolnya sudah keras dan menegang, kepala merah mengkilap karena sudah bocor cairan bening. Ia membayangkan Ivana. Bayangan payudaranya yang montok di balik tank top tipis. Bayangan bokongnya yang kenyal saat ia membungkuk di dapur. Bayangan puttingnya yang mengeras saat memeluknya.
3903Please respect copyright.PENANAwSXlbgLVWg
Arkan memegang kontolnya dengan tangan kanan, mulai menggerakkan tangannya perlahan. Ia membayangkan Ivana berlutut di depannya, membuka mulut lebar, memasukkan kontolnya ke dalam bibir penuhnya yang hangat. Ia membayangkan Ivana menatapnya dari bawah dengan mata besar yang basah, menghisap dalam-dalam sambil mengeluarkan suara basah yang menggoda.
3903Please respect copyright.PENANA7W2LVWReOi
Tangan Arkan bergerak lebih cepat. Ia membayangkan membuka tank top Ivana, memegang dua payudara montok itu dengan kedua tangan, meremasnya, menghisap putting kecil yang mengeras. Ia membayangkan Ivana mengerang pelan, “Mas Arkan… ahh… enak…”
3903Please respect copyright.PENANAHugUpmmIlg
Arkan merasa orgasme mendekat cepat. Ia membayangkan Ivana telanjang bulat di atas tempat tidur, kaki terbuka lebar, memeknya yang pink dan basah terbuka untuknya. Ia membayangkan memasukkan kontolnya perlahan ke dalam lubang sempit itu, merasakan dinding dalamnya yang panas dan basah meremasnya.
3903Please respect copyright.PENANAqhlaZlJG0C
“Fuck… Ivana…” gumam Arkan pelan saat sperma menyembur deras ke wastafel. Tubuhnya gemetar hebat. Beberapa detik ia berdiri diam, napas tersengal, rasa bersalah langsung menghantam seperti gelombang dingin.
3903Please respect copyright.PENANA8YRvCMqgGF
Ia membersihkan diri dengan air, lalu kembali ke kamar tidur. Livia tidak ada. Tempat tidur terasa terlalu besar dan terlalu kosong. Arkan berbaring telentang, menatap langit-langit yang gelap.
3903Please respect copyright.PENANA6TUQ2Wrak0
Ia baru saja masturbasi sambil membayangkan adik iparnya. Adik istrinya. Gadis dua puluh dua tahun yang tinggal di bawah atap yang sama, yang mempercayainya sepenuhnya.
3903Please respect copyright.PENANAgWLL6P5M3B
Arkan menutup mata. Tapi bayangan Ivana tidak pergi. Malah semakin jelas. Ia bisa masih mencium aroma tubuh Ivana di bajunya. Masih merasakan kelembutan payudaranya saat dipeluk.
3903Please respect copyright.PENANA1rXIF8y262
Ia tahu ini baru permulaan. Seminggu lagi. Mungkin sepuluh hari.
3903Please respect copyright.PENANABb2GuOSc1y
Dan setiap hari, godaan itu akan semakin kuat.
3903Please respect copyright.PENANAABi81EEwBg
Arkan membalikkan badan, mencoba tidur. Tapi di kepalanya, hanya ada satu pikiran yang berputar-putar:
3903Please respect copyright.PENANAd2vBzAEnLR
Besok pagi, Ivana akan turun lagi dengan tank top tipis tanpa bra. Ia akan tersenyum padanya. Ia akan memeluknya lagi. Dan Arkan tidak tahu berapa lama lagi ia bisa menahan diri sebelum akhirnya… melakukan sesuatu yang tidak bisa ia kembalikan.
3903Please respect copyright.PENANA0Su6TriNM1
Di kamar seberang koridor, Ivana juga belum tidur.
3903Please respect copyright.PENANAU9AhInQWrw
Ia berbaring di tempat tidur tamu, memandang langit-langit. Tangan kanannya menyentuh payudaranya sendiri di atas tank top, meremas pelan. Puttingnya masih mengeras karena ingatan pelukan tadi — dada Arkan yang keras dan hangat, bau maskulinnya yang membuat perutnya aneh.
3903Please respect copyright.PENANAf8jKW94YeF
Ivana menutup mata. Wajah Arkan muncul di pikirannya. Kakak iparnya yang tampan, baik hati, dan entah mengapa membuat tubuhnya terasa hangat di tempat yang tidak seharusnya.
3903Please respect copyright.PENANAaxFAfXUxCC
Ia menggigit bibir bawah. “Ini salah,” bisiknya pelan pada dirinya sendiri. “Dia suami Mbak Livia.”
3903Please respect copyright.PENANAtFXerMV2Xl
Tapi tangannya tidak berhenti. Ia menyusuri perutnya sendiri, turun ke pinggir celana pendek, dan menyentuh bagian dalam pahanya yang sudah agak basah.
3903Please respect copyright.PENANAvKRUQ6tOW6
Ivana mengerang pelan di balik bibir yang digigit.
3903Please respect copyright.PENANAKqopUWI93t
Malam pertama tanpa Livia baru saja dimulai.
3903Please respect copyright.PENANAHEsD7mPxmN
---
3903Please respect copyright.PENANA4drdPfHPjX
Pagi kedua tanpa Livia terasa lebih berat dari yang Arkan bayangkan.
3903Please respect copyright.PENANAvaDvEsnkvk
Ia bangun pukul enam dengan rasa lelah yang aneh, seolah semalaman ia tidak benar-benar tidur. Mimpi-mimpi yang datang dan pergi penuh dengan bayangan Ivana — payudaranya yang montok di balik kain tipis, bokongnya yang kenyal saat membungkuk, suaranya yang manis memanggil “Mas Arkan”. Setiap kali ia terbangun, kontolnya sudah setengah tegang. Ia harus mandi air dingin dua kali sebelum akhirnya turun ke dapur.
3903Please respect copyright.PENANAeeXZGAvh5W
Ivana sudah ada di sana.
3903Please respect copyright.PENANAJzmo0UwhnM
Gadis itu berdiri di depan kompor kecil, memasak telur mata sapi dengan tank top putih tipis lagi dan celana pendek hitam yang sama seperti kemarin. Rambut panjangnya diikat kuda poni tinggi, memperlihatkan leher jenjang yang mulus dan bahu yang halus. Saat ia mengaduk telur, payudaranya yang berat dan montok bergoyang pelan ke kiri dan kanan. Putting kecilnya sudah mengeras karena udara pagi, terlihat jelas menonjol di balik kain putih yang sangat tipis.
3903Please respect copyright.PENANAIzjrIV1quF
Arkan berdiri di ambang pintu dapur, memandang sebentar lebih lama dari yang seharusnya. Ia merasa seperti pencuri yang mengintip sesuatu yang bukan miliknya.
3903Please respect copyright.PENANAmKLgOmJ0Jz
“Pagi, Mas,” sapa Ivana sambil menoleh. Senyumnya cerah seperti biasa, tapi ada sedikit warna merah di pipinya. “Aku buatkan sarapan. Kamu suka telur mata sapi kan? Mbak Livia pernah cerita.”
3903Please respect copyright.PENANAXhE8kmGwe8
Arkan mengangguk dan masuk. “Terima kasih. Kamu tidak usah repot.”
3903Please respect copyright.PENANAOAEHxlOZ3h
“Tidak repot kok,” jawab Ivana sambil meletakkan dua piring di meja. Ia menarik kursi dan duduk di seberang Arkan. Saat ia duduk, tank topnya agak melorot ke satu sisi, memperlihatkan belahan payudara yang dalam dan putih. Arkan buru-buru menatap piringnya.
3903Please respect copyright.PENANAbcD6ki9wJm
Mereka makan dalam diam yang tidak sepenuhnya nyaman. Setiap suara sendok dan garpu terdengar terlalu keras. Arkan mencuri pandang beberapa kali. Ivana makan dengan lahap kecil, bibirnya yang penuh membuka dan menutup, lidahnya sesekali menjilat sisa kuning telur di sudut bibir. Arkan membayangkan lidah itu menjilat sesuatu yang lain.
3903Please respect copyright.PENANAK2bSNsefgB
“Mau aku antar ke kantor jam setengah delapan lagi?” tanya Arkan akhirnya, suaranya sedikit serak.
3903Please respect copyright.PENANAT3gngxLJkU
Ivana mengangguk. “Kalau tidak merepotkan, Mas. Aku janji besok aku coba naik ojek online saja biar kamu tidak harus bolak-balik.”
3903Please respect copyright.PENANAHvOYxPMBUh
“Tidak apa-apa,” kata Arkan cepat. Terlalu cepat. “Aku memang sering kerja dari rumah. Bisa antar kamu.”
3903Please respect copyright.PENANAqvLD6npJ7F
Ivana tersenyum lembut. Matanya yang besar menatap Arkan lebih lama dari biasanya. “Kamu baik sekali. Aku… senang bisa di sini bersamamu.”
3903Please respect copyright.PENANAFdYO6PVi8K
Kata “bersamamu” terdengar terlalu intim di telinga Arkan. Ia merasa panas naik ke leher.
3903Please respect copyright.PENANA6lHBsu6LX6
Setelah sarapan, Ivana naik untuk mandi dan bersiap. Arkan berdiri di dapur, mencuci piring sendiri sambil mencoba menenangkan pikiran. Tapi setiap kali ia menutup mata, ia melihat Ivana kemarin malam saat memeluknya — payudaranya menempel di dadanya, putting yang mengeras, bokong yang hampir menyentuh kontolnya yang sudah tegang.
3903Please respect copyright.PENANAq84hlF7dkX
Ia menggigit bibir bawah kuat-kuat.
3903Please respect copyright.PENANAb8mKGTtlpa
Jam setengah delapan, Ivana turun lagi dengan pakaian kerja yang sama rapi seperti kemarin — blouse putih ketat di dada dan rok pensil hitam. Tapi hari ini ia memakai blazer tipis di atasnya. Rambutnya dibiarkan tergerai indah di punggung.
3903Please respect copyright.PENANAqWD4pp1zMJ
“Kita berangkat, Mas?” tanyanya sambil tersenyum.
3903Please respect copyright.PENANAbpMSjX8aJv
Di dalam mobil, macet seperti biasa. Ivana duduk dengan kaki rapat, tapi rok pensilnya tetap naik sampai pertengahan paha. Kulit pahanya yang putih dan mulus terlihat jelas. Arkan mencoba fokus ke jalan, tapi tangan kanan Ivana yang diletakkan di atas pahanya sendiri membuatnya teralihkan.
3903Please respect copyright.PENANArYSgU1FnpE
“Mas Arkan,” panggil Ivana pelan setelah beberapa menit diam. “Kamu tidur nyenyak semalam?”
3903Please respect copyright.PENANAgmYkO1vSsY
Arkan hampir tersedak. “Cukup. Kenapa?”
3903Please respect copyright.PENANAuXB2PG6l8q
Ivana menoleh padanya. Pipinya agak merona. “Aku… agak susah tidur. Rumah baru, dan… aku mimpi aneh.”
3903Please respect copyright.PENANAODWnKX05kS
“Mimpi apa?” tanya Arkan sebelum bisa menahan diri.
3903Please respect copyright.PENANABehXj3dqOB
Ivana diam sebentar, lalu tertawa kecil malu-malu. “Mimpi kamu menyelamatkan aku dari sesuatu. Aku lupa detailnya. Tapi rasanya… hangat. Aku bangun dengan perasaan aneh.”
3903Please respect copyright.PENANAyRTO9qSx2m
Arkan merasa dadanya sesak. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Jadi ia hanya mengangguk pelan.
3903Please respect copyright.PENANAnzs5RyYenw
Ivana meletakkan tangan kirinya di lengan Arkan sebentar, sentuhan yang ringan tapi terasa seperti api. “Terima kasih sudah nemenin aku kemarin malam. Aku nggak merasa sendirian.”
3903Please respect copyright.PENANA90lgoe6aal
Mereka sampai di kantor Ivana. Sebelum turun, Ivana mendekat dan memeluk Arkan lagi dari samping. Pelukan ini lebih lama. Payudaranya yang montok menempel penuh di dada Arkan. Arkan bisa merasakan kelembutan dan beratnya dengan jelas. Ivana berbisik di dekat telinganya, “Semoga hari kamu lancar, Mas. Aku tunggu dijemput nanti.”
3903Please respect copyright.PENANAZ5Q8INOOZK
Setelah Ivana turun, Arkan duduk diam di mobil beberapa menit sebelum mengemudi pulang. Kontolnya sudah setengah tegang lagi. Ia mengutuk dirinya sendiri sepanjang perjalanan pulang.
3903Please respect copyright.PENANAihzwwqyKLh
Sepanjang hari, Arkan mencoba bekerja. Tapi setiap email yang ia baca, setiap laporan yang ia buka, pikirannya melayang ke Ivana. Ia membayangkan gadis itu di kantornya sekarang — duduk di meja, rok pensil naik sedikit saat ia menyilangkan kaki, blouse yang agak terbuka di dada saat ia membungkuk untuk mengambil sesuatu. Ia membayangkan rekan kerja pria di kantor itu memandang Ivana dengan cara yang sama seperti dirinya.
3903Please respect copyright.PENANAso13YCC08Y
Rasa cemburu yang tidak masuk akal muncul di dadanya.
3903Please respect copyright.PENANAfiXeTD0quW
Sore harinya, Arkan sudah menunggu di lobby gedung Ivana jam lima tepat. Ivana keluar dengan wajah lelah tapi tetap cantik. Begitu melihat Arkan, matanya berbinar. Ia berlari kecil dan langsung memeluk Arkan di depan beberapa orang yang lewat.
3903Please respect copyright.PENANAguGlv2qAje
“Mas Arkan!” serunya. “Kamu datang lagi.”
3903Please respect copyright.PENANAg31zWVPS6R
Arkan memeluknya singkat, merasakan tubuh Ivana yang hangat dan sedikit berkeringat setelah seharian bekerja. Aroma parfumnya bercampur dengan sedikit keringat membuat kepalanya pusing.
3903Please respect copyright.PENANAIN1yW55PsJ
Di perjalanan pulang, Ivana bercerita tentang hari keduanya dengan antusias. Tapi Arkan memperhatikan bahwa Ivana semakin sering menyentuh lengannya saat berbicara. Dan setiap kali mobil berhenti di lampu merah, Ivana menoleh padanya dengan tatapan yang semakin sulit dibaca.
3903Please respect copyright.PENANAYkwpw3p8nz
“Mas,” kata Ivana tiba-tiba di tengah jalan macet. “Kamu kenapa sih selalu baik sama aku? Aku kan cuma adik iparmu. Banyak kakak ipar yang cuek atau bahkan jahil sama adik ipar perempuan.”
3903Please respect copyright.PENANAtCMYbgPUjg
Arkan menatap jalan depan. “Karena kamu keluarga. Dan… kamu baik.”
3903Please respect copyright.PENANA4ey1h8ocsl
Ivana diam sebentar. Lalu ia berkata dengan suara lebih pelan, hampir berbisik. “Tapi kamu juga… membuat aku merasa aman. Dan… ada perasaan lain yang aku nggak mengerti.”
3903Please respect copyright.PENANAEslRu6LX1b
Arkan merasa jantungnya berhenti sebentar. Ia tidak menjawab. Mobil bergerak lagi.
3903Please respect copyright.PENANApgtfaPZdlh
Sampai di rumah, Ivana langsung naik untuk mandi. Arkan pergi ke dapur dan mulai menyiapkan makan malam — nasi goreng spesial dengan telur dan ayam. Ia butuh melakukan sesuatu dengan tangannya agar pikiran tidak terus melayang.
3903Please respect copyright.PENANAeVcmR1vInl
Ivana turun setelah empat puluh menit. Kali ini ia memakai tank top hitam yang sangat tipis dan celana pendek jeans robek lagi. Rambutnya masih basah, kulitnya masih agak lembap dari mandi. Tank topnya menempel di payudaranya yang montok, memperlihatkan bentuk sempurna dan putting yang sudah mengeras karena dingin.
3903Please respect copyright.PENANA7XO3Sxkit2
“Wah, Mas masak nasi goreng?” tanyanya sambil mendekat. “Bau enak sekali.”
3903Please respect copyright.PENANAYbNdp2qYFO
Mereka makan di meja dapur lagi. Lampu kuning membuat suasana terasa sangat pribadi. Ivana duduk lebih dekat dari biasanya. Kakinya sesekali menyentuh kaki Arkan di bawah meja. Setiap sentuhan membuat Arkan semakin sulit menelan makanannya.
3903Please respect copyright.PENANAARtCrsR2U4
Setelah makan, Ivana membantu mencuci piring. Mereka berdiri berdampingan di wastafel yang sempit. Setiap kali Ivana mengulurkan tangan untuk mengambil gelas, payudaranya menyentuh lengan Arkan. Arkan bisa merasakan kelembutan dan kehangatan dua bukit itu dengan jelas.
3903Please respect copyright.PENANA0CfbPrGUAj
“Mau kita nonton film lagi malam ini, Mas?” tanya Ivana sambil mengeringkan tangan. “Atau… kamu mau istirahat saja?”
3903Please respect copyright.PENANAJKsQeomOvg
Arkan menatapnya. Ivana berdiri sangat dekat. Matanya yang besar menatap Arkan dengan campuran rasa ingin tahu dan sesuatu yang lebih dalam.
3903Please respect copyright.PENANAIcS9cfPR9N
“Nonton saja,” jawab Arkan akhirnya. “Aku juga belum mau tidur.”
3903Please respect copyright.PENANAMGYBrzsBgw
Mereka pindah ke ruang keluarga. Ivana memilih film horor ringan kali ini — katanya biar tidak terlalu romantis. Mereka duduk di sofa yang sama. Kali ini Ivana duduk lebih dekat, bahunya menyentuh lengan Arkan dari awal.
3903Please respect copyright.PENANAUgiycWtOqI
Film dimulai. Ivana sesekali berteriak kecil saat adegan menegangkan muncul, lalu tertawa malu. Setiap kali ia berteriak, ia tanpa sadar memegang lengan Arkan erat. Jari-jarinya yang kecil menekan otot lengan Arkan.
3903Please respect copyright.PENANAZ0v0NihsSy
Di tengah film, listrik padam sebentar karena hujan deras di luar. Ruangan menjadi gelap total. Ivana langsung mendekat dan memeluk lengan Arkan erat.
3903Please respect copyright.PENANAZAryaSHJcx
“Mas…” bisiknya. Suaranya sedikit gemetar. “Aku takut gelap.”
3903Please respect copyright.PENANAyyF7bDyIar
Arkan merasakan tubuh Ivana menempel penuh di sisinya. Payudaranya yang montok menekan lengannya. Napas Ivana yang hangat menyentuh lehernya. Dalam gelap, segala sesuatu terasa lebih intens.
3903Please respect copyright.PENANAJBLkqR9DIf
“Tenang,” kata Arkan pelan. Tangannya tanpa sadar mengelus punggung Ivana. “Mungkin cuma sebentar.”
3903Please respect copyright.PENANAkIlENLI3Iq
Mereka duduk diam dalam gelap. Hujan deras di luar membuat suasana semakin intim. Ivana tidak melepaskan pelukannya. Malah ia semakin mendekat, kepalanya bersandar di bahu Arkan.
3903Please respect copyright.PENANAP2zbSnyCib
“Mas Arkan,” bisiknya setelah beberapa menit. “Kamu baunya enak. Seperti… rumah.”
3903Please respect copyright.PENANAZb3n05c8V1
Arkan menelan ludah. Tangannya masih mengelus punggung Ivana pelan. Ia bisa merasakan bra tipis di bawah tank top, dan di bawahnya, kelembutan kulit Ivana.
3903Please respect copyright.PENANA4pmy8ywuGA
Listrik menyala kembali setelah sepuluh menit. Cahaya lampu membuat mereka berdua tersadar. Ivana buru-buru melepaskan pelukan, wajahnya merona merah. Arkan menarik tangannya dengan cepat.
3903Please respect copyright.PENANAex8HJhmGCR
“Maaf,” gumam Ivana. “Aku… agak kaget.”
3903Please respect copyright.PENANATndzzcsfpR
“Tidak apa-apa,” jawab Arkan. Suaranya serak.
3903Please respect copyright.PENANAEJEXwS7GAC
Mereka melanjutkan film, tapi suasana sudah berubah. Ivana duduk lebih dekat lagi. Kaki telanjangnya menyentuh paha Arkan. Arkan bisa merasakan kehangatan kulitnya.
3903Please respect copyright.PENANAyx2S83wKWp
Film selesai pukul setengah dua belas malam. Ivana menguap. “Sudah malam sekali. Aku mau tidur dulu ya, Mas.”
3903Please respect copyright.PENANAcSg8oIllt1
Arkan mengangguk. “Selamat malam.”
3903Please respect copyright.PENANA0f2SCIity7
Ivana berdiri, lalu tiba-tiba membungkuk dan mencium pipi Arkan pelan. Bibirnya yang hangat dan lembut menyentuh kulit Arkan lebih lama dari ciuman biasa.
3903Please respect copyright.PENANAkwwdRENGdp
“Terima kasih sudah nemenin aku,” bisiknya sebelum naik ke kamar.
3903Please respect copyright.PENANA0ed4tRZgiG
Arkan duduk diam di sofa setelah Ivana pergi. Jantungnya berdetak sangat kencang. Kontolnya sudah tegang penuh di dalam celana. Ia bisa masih merasakan bibir Ivana di pipinya. Masih mencium aroma tubuh Ivana di bajunya.
3903Please respect copyright.PENANAqyJGuNjZ98
Ia berdiri dan naik ke kamar mandi kamar utama. Kali ini ia tidak langsung mandi. Ia berdiri di depan cermin, membuka celana, dan memegang kontolnya yang sudah keras dan panas.
3903Please respect copyright.PENANAkhTbdy5mCo
Ia membayangkan Ivana tadi malam saat listrik padam. Bayangan payudaranya menempel di lengannya. Bayangan bokongnya yang bulat saat ia membungkuk di dapur. Bayangan bibirnya yang penuh saat mencium pipinya tadi.
3903Please respect copyright.PENANAuBSmQd8J48
Arkan menggerakkan tangannya cepat. Ia membayangkan membuka tank top Ivana, memegang dua payudara montok itu dengan kasar, meremasnya sampai Ivana mengerang. Ia membayangkan menarik rok pensil Ivana ke atas, membuka paha jenjangnya, dan melihat memeknya yang sudah basah untuknya.
3903Please respect copyright.PENANA0GTw0ZmQNC
“Fuck… Ivana… kamu membuat aku gila,” gumam Arkan pelan saat sperma menyembur deras ke wastafel untuk kedua kalinya dalam dua hari.
3903Please respect copyright.PENANAHwBQG9pXOQ
Setelah membersihkan diri, Arkan berbaring di tempat tidur yang besar dan kosong. Ia menatap langit-langit. Rasa bersalah menghantamnya lebih keras dari sebelumnya. Ia mencintai Livia. Ia tidak ingin menyakiti istrinya. Tapi setiap kali ia melihat Ivana, setiap kali ia mencium aroma tubuhnya, setiap kali tubuh mereka bersentuhan, ia merasa seperti orang yang berbeda.
3903Please respect copyright.PENANAdROp3iAEX3
Ia tidak tahu berapa lama lagi ia bisa menahan diri.
3903Please respect copyright.PENANAL64tF3zzXo
Di kamar seberang, Ivana juga tidak bisa tidur.
3903Please respect copyright.PENANApkuMXiCdFT
Ia berbaring telentang, tangannya menyentuh payudaranya sendiri di atas tank top. Puttingnya sudah mengeras sejak pelukan tadi di ruang keluarga. Ia membayangkan tangan Arkan yang besar dan hangat menyentuhnya di tempat itu. Ia membayangkan Arkan mencium lehernya, turun ke dadanya, menghisap puttingnya.
3903Please respect copyright.PENANAYxNTAdCCKj
Tangan Ivana turun ke perutnya, lalu ke dalam celana pendek. Jari-jarinya menyentuh bibir memeknya yang sudah basah. Ia menggigit bibir bawah saat jarinya menyentuh klitoris yang sudah sensitif.
3903Please respect copyright.PENANAUq7eYgmr19
“Mas Arkan…” bisiknya pelan di gelap kamar.
3903Please respect copyright.PENANAlwNUFQXvCx
Jari-jarinya bergerak lebih cepat. Ia membayangkan Arkan di atasnya, kontol keras Arkan menyentuh paha dalamnya, lalu perlahan masuk ke dalam tubuhnya yang sempit dan panas. Ia membayangkan Arkan berbisik di telinganya, “Kamu membuat aku tidak bisa menahan diri lagi…”
3903Please respect copyright.PENANAp8RT8Vn8sF
Ivana mengerang pelan saat orgasme kecil datang. Tubuhnya gemetar. Air mata mengalir di sudut matanya.
3903Please respect copyright.PENANAUhra0ClLF4
Ia merasa bersalah. Sangat bersalah. Tapi ia juga merasa… hidup. Dengan cara yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
3903Please respect copyright.PENANAeFD8KR8J0X
Keesokan paginya — hari ketiga Livia pergi — suasana di rumah terasa berbeda.
3903Please respect copyright.PENANAHjNazAr2Ov
Ivana turun dengan tank top putih lagi dan celana pendek. Tapi kali ini ia tidak langsung tersenyum cerah seperti biasa. Ada sesuatu di matanya saat ia melihat Arkan di dapur. Sesuatu yang hangat dan gelisah sekaligus.
3903Please respect copyright.PENANAhiF8z2qBKR
Mereka sarapan dengan percakapan yang lebih sedikit. Tapi setiap kali mata mereka bertemu, ada percikan yang tidak bisa mereka sangkal lagi.
3903Please respect copyright.PENANA45lRJyk1CD
Setelah sarapan, Ivana berkata pelan sebelum naik untuk bersiap kerja.
3903Please respect copyright.PENANAt74Jx4KPjM
“Mas… malam ini, setelah aku pulang… boleh kita ke kolam renang belakang rumah? Cuacanya panas sekali akhir-akhir ini. Aku butuh rileks.”
3903Please respect copyright.PENANAX5ktcYgnJH
Arkan menatapnya. Kolam renang pribadi di belakang rumah jarang ia gunakan. Tapi bayangan Ivana di dalam air dengan bikini membuat dadanya sesak.
3903Please respect copyright.PENANA5Q8p89HcHu
“Boleh,” jawabnya akhirnya.
3903Please respect copyright.PENANAmanHEMnL8X
Ivana tersenyum kecil. “Terima kasih, Mas.”
3903Please respect copyright.PENANAFv0yiCVm6Y
Siang harinya, Arkan tidak bisa fokus sama sekali. Ia membayangkan Ivana di kolam renang. Bayangan tubuhnya yang basah, bikini yang menempel di kulit, payudaranya yang montok terlihat jelas, bokongnya yang bulat di balik kain kecil.
3903Please respect copyright.PENANApSr8Y9WOHw
Sore harinya, saat menjemput Ivana, Arkan sudah merasa gelisah luar biasa.
3903Please respect copyright.PENANAM6GTARGm3u
Di perjalanan pulang, Ivana berkata dengan suara pelan. “Aku bawa bikini dari rumah. Semoga masih muat.”
3903Please respect copyright.PENANAKm53JZt6Zf
Arkan hampir tidak bisa menjawab.
3903Please respect copyright.PENANArSWhk8eO3F
Sampai di rumah, Ivana langsung naik untuk ganti baju. Arkan pergi ke kolam renang di belakang rumah. Ia memakai celana renang hitam yang longgar. Tubuhnya yang tinggi dan berotot terlihat jelas di bawah cahaya sore.
3903Please respect copyright.PENANA4q1nStnxhe
Ivana turun beberapa menit kemudian.
3903Please respect copyright.PENANAMbFrvzou7U
Arkan menahan napas.
3903Please respect copyright.PENANAsEval2wRX9
Ivana memakai bikini hitam dua potong yang sangat minim. Atasan bikini hanya menutupi puting dan sebagian kecil payudaranya yang montok. Belahan dada yang dalam terlihat jelas. Celana bikini bagian bawah berbentuk V kecil yang menutupi memeknya dengan sangat minim, memperlihatkan pinggul lebar dan bokong bulat yang hampir seluruhnya terbuka. Kulit putihnya yang mulus berkilau di bawah cahaya matahari sore.
3903Please respect copyright.PENANAlpquuN8TkQ
Ivana berjalan mendekat dengan langkah agak malu. “Mas… gimana? Aku agak… kurus ya? Bikini ini dari dua tahun lalu.”
3903Please respect copyright.PENANAHVnsgmjL6i
Arkan menelan ludah keras. “Kamu… cantik sekali.”
3903Please respect copyright.PENANAhF8D1mChXW
Ivana tersenyum malu-malu. “Terima kasih, Mas.”
3903Please respect copyright.PENANA3MXufl81gE
Mereka masuk ke kolam. Airnya sejuk. Ivana berenang pelan di sisi dangkal. Arkan berdiri di sisi dalam, memandang Ivana. Saat Ivana berenang mendekat, air membuat bikini hitamnya menempel lebih erat di tubuhnya. Putting kecilnya terlihat jelas menonjol di balik kain basah. Garis memeknya sedikit terlihat di bagian depan celana bikini yang basah.
3903Please respect copyright.PENANAHJf6LQgJhe
“Mau main kejar-kejaran, Mas?” tanya Ivana sambil tersenyum nakal.
3903Please respect copyright.PENANAiQ9UuDAuiY
Arkan tidak menjawab. Ivana sudah berenang mendekat dan menyipratkan air ke wajahnya. Arkan membalas. Mereka bermain air seperti anak kecil, tertawa, menyipratkan air satu sama lain.
3903Please respect copyright.PENANAK1yCmENcNy
Tapi setiap kali Arkan menyentuh Ivana untuk “menangkap”nya, tangannya menyentuh kulit telanjangnya yang basah dan licin. Saat ia memegang pinggang Ivana dari belakang untuk menghentikannya, bokong Ivana yang bulat dan kenyal menempel di perut bawahnya. Arkan bisa merasakan kontolnya yang mulai tegang di dalam celana renang menyentuh bokong Ivana.
3903Please respect copyright.PENANAnYjHHo6cg0
Ivana diam sebentar, tapi tidak menjauh. Malah ia bersandar ke belakang, punggungnya menempel di dada Arkan. Air membuat mereka berdua basah kuyup.
3903Please respect copyright.PENANAXj6VXOc7GG
“Mas…” bisik Ivana pelan. “Kamu kuat sekali.”
3903Please respect copyright.PENANAMdGtg46YIs
Arkan merasakan napas Ivana di lehernya. Ia bisa merasakan payudara Ivana yang basah dan montok di lengannya saat ia memeluk pinggang gadis itu dari belakang.
3903Please respect copyright.PENANAqN2f35CvHJ
Mereka diam di dalam air beberapa saat. Hanya suara napas mereka dan air yang tenang.
3903Please respect copyright.PENANAcjYa2KGtHq
Kemudian Ivana berbalik perlahan di dalam pelukan Arkan. Wajah mereka sangat dekat. Mata Ivana yang besar menatap Arkan dengan penuh keinginan yang sudah tidak bisa disembunyikan lagi.
3903Please respect copyright.PENANA2lM3G9LQA1
“Mas Arkan…” bisiknya. “Aku… aku suka sama kamu. Lebih dari seharusnya.”
3903Please respect copyright.PENANA8e7kQdsXWc
Arkan merasa seperti ditampar. Tapi ia tidak bisa menahan diri lagi. Ia menunduk dan mencium bibir Ivana.
3903Please respect copyright.PENANAXpFhiicK7V
Ciuman pertama mereka.
3903Please respect copyright.PENANAjtdSDlrX9y
Bibir Ivana yang penuh dan lembut terbuka untuknya. Lidah mereka bertemu dengan ragu-ragu di awal, lalu semakin lapar. Arkan memeluk Ivana erat di dalam air. Tangan kanannya naik dan memegang payudara Ivana yang basah dan montok di balik bikini. Ivana mengerang pelan ke dalam mulut Arkan saat jari-jari Arkan meremas puttingnya yang mengeras.
3903Please respect copyright.PENANAYjN88ZsRhf
Mereka terus berciuman. Tangan Arkan turun ke bokong Ivana, meremasnya kuat. Ivana membuka paha dan mengaitkan kakinya di pinggang Arkan. Kontol Arkan yang sudah sangat keras di dalam celana renang menempel di bagian dalam paha Ivana yang basah.
3903Please respect copyright.PENANAehUsatHPRd
Ivana menggiling pinggulnya pelan, membuat kontol Arkan bergesekan dengan memeknya yang sudah basah di balik kain bikini kecil.
3903Please respect copyright.PENANA9TBGrmjHZn
“Mas…” desah Ivana di antara ciuman. “Aku… aku basah… karena kamu…”
3903Please respect copyright.PENANAa6SNGAaOGr
Arkan merasa seperti kehilangan akal. Ia mengangkat Ivana lebih tinggi, mulutnya turun ke leher Ivana, lalu ke belahan payudaranya yang dalam. Ia menarik tali bikini Ivana ke samping dengan giginya, membebaskan satu payudara montok yang basah. Putting kecil berwarna coklat muda itu sudah mengeras sempurna. Arkan menghisapnya dalam-dalam.
3903Please respect copyright.PENANAoznCcOlmLC
Ivana mengerang lebih keras, tangannya memegang rambut Arkan erat. “Ahh… Mas Arkan… enak…”
3903Please respect copyright.PENANANqzwGaHGp4
Tangan Arkan turun ke bawah air. Ia menyelinap ke dalam celana bikini Ivana, jari-jarinya menyentuh bibir memek Ivana yang sudah bengkak dan sangat basah. Ivana mengerang lebih keras saat jari tengah Arkan menyentuh klitorisnya yang menonjol.
3903Please respect copyright.PENANAbtTk8Mrg2l
“Mas… jangan berhenti…” bisik Ivana dengan suara parau penuh nafsu.
3903Please respect copyright.PENANAGFfsFjIXFW
Arkan memasukkan satu jari ke dalam lubang sempit Ivana. Dinding dalam memek Ivana yang panas dan basah meremas jarinya erat. Ivana menggigit bahu Arkan untuk menahan erangan.
3903Please respect copyright.PENANA5X5u5OR29Q
Mereka terus berciuman gila-gilaan. Arkan menambahkan jari kedua. Ia menggerakkan jarinya dalam-dalam, mencari titik sensitif Ivana. Ivana menggiling pinggulnya mengikuti gerakan jari Arkan.
3903Please respect copyright.PENANAxwC1ao6ysK
Tapi tiba-tiba, Arkan berhenti.
3903Please respect copyright.PENANACpPN4yaCp8
Ia menarik jarinya keluar dari dalam Ivana. Ia melepaskan ciuman. Napasnya tersengal. Wajahnya penuh dengan perjuangan batin yang sangat berat.
3903Please respect copyright.PENANA6a5y9S6AHV
“Tidak bisa…” gumamnya pelan. “Ini… salah. Kamu adik Livia. Aku… aku sudah menikah.”
3903Please respect copyright.PENANAZ3HUlY2UhX
Ivana menatapnya dengan mata basah. Bibirnya bengkak karena ciuman. Payudaranya yang satu masih terbuka, puttingnya basah dan mengeras. Air mata mengalir di pipinya.
3903Please respect copyright.PENANAEYc09YjaCd
“Mas…” bisiknya dengan suara pecah. “Aku juga tahu ini salah. Tapi… aku tidak bisa menahan perasaanku lagi. Kamu juga merasakannya kan?”
3903Please respect copyright.PENANA6ZEOFhMIjE
Arkan melepaskan Ivana pelan. Ia mundur selangkah di dalam air. Kontolnya masih sangat keras, tapi rasa bersalah sudah menghantamnya seperti gelombang besar.
3903Please respect copyright.PENANAOVIeeqLRHW
“Aku minta maaf,” katanya dengan suara serak. “Ini… tidak seharusnya terjadi.”
3903Please respect copyright.PENANA4MWnGuWHMg
Ivana menatapnya lama. Air mata terus mengalir. Lalu ia menarik tali bikini-nya kembali ke tempat semula, menutupi payudaranya. Ia berenang ke tepi kolam tanpa berkata apa-apa, naik, dan berlari masuk ke rumah dengan langkah cepat.
3903Please respect copyright.PENANAGDzicMLouK
Arkan berdiri sendirian di dalam kolam. Air dingin tidak bisa mendinginkan api yang sudah menyala di dadanya.
3903Please respect copyright.PENANAPECdAfAO68
Ia tahu ia baru saja melewati garis yang tidak seharusnya ia lewati.
3903Please respect copyright.PENANAih1RDybSVP
Dan ia juga tahu… ia tidak bisa kembali lagi.
3903Please respect copyright.PENANAO912pPKNqa
Malam itu, Arkan tidur di kamar utama dengan pintu terkunci. Ia mendengar Ivana menangis pelan di kamar seberang koridor. Setiap isak tangis gadis itu seperti pisau yang menusuk dadanya.
3903Please respect copyright.PENANA85my99ie3C
Tapi di balik rasa bersalah yang sangat besar, ada satu hal yang tidak bisa ia pungkiri lagi:
3903Please respect copyright.PENANAQskm9xflOk
Ia menginginkan Ivana. Lebih dari yang pernah ia inginkan siapa pun dalam hidupnya.
3903Please respect copyright.PENANAHY5zaDWNZR
---
3903Please respect copyright.PENANAE7U8va6liY
Pagi setelah kejadian di kolam renang terasa seperti berjalan di atas pecahan kaca.
3903Please respect copyright.PENANAVyHNa1pdbK
Arkan bangun pukul lima lewat, mata terasa berat karena kurang tidur. Ia mandi air dingin yang sangat dingin, berharap bisa membekukan api yang masih menyala di dadanya. Tapi setiap kali ia menutup mata di bawah shower, ia melihat Ivana — bibirnya yang bengkak karena ciuman, payudaranya yang montok dengan putting mengeras, memeknya yang basah dan panas di sekitar jarinya.
3903Please respect copyright.PENANAzMxIJQLfN1
Ia mengutuk dirinya sendiri berulang kali.
3903Please respect copyright.PENANAfGIOQeTBAA
Saat turun ke dapur pukul setengah tujuh, Ivana sudah ada di sana. Gadis itu memakai tank top putih tipis dan celana pendek hitam seperti biasa, tapi suasananya sangat berbeda. Ivana tidak menoleh saat Arkan masuk. Ia sibuk mengaduk kopi di cangkir, punggungnya tegang.
3903Please respect copyright.PENANAsa68R1C5QJ
“Pagi,” sapa Arkan pelan.
3903Please respect copyright.PENANANZ5z2vkgWu
Ivana mengangguk tanpa menoleh. “Pagi, Mas.”
3903Please respect copyright.PENANA6vaP23PQm2
Mereka sarapan dalam diam yang tebal. Hanya suara sendok dan garpu yang terdengar. Arkan mencuri pandang beberapa kali. Ivana memakai tank top yang sama tipisnya, payudaranya yang montok terlihat jelas bergoyang pelan saat ia mengangkat sendok. Puttingnya sudah mengeras — entah karena udara pagi atau karena ingatan semalam. Arkan merasa kontolnya mulai tegang di dalam celana boxer.
3903Please respect copyright.PENANAntwXlEeYfd
Setelah sarapan, Ivana berdiri dan berkata dengan suara datar. “Aku siap dijemput jam setengah delapan, Mas.”
3903Please respect copyright.PENANAjVrl9VZdRW
Arkan mengangguk. “Baik.”
3903Please respect copyright.PENANAmPL1Zln7cs
Di dalam mobil, suasana semakin berat. Ivana duduk dengan kaki rapat, rok pensil hitamnya naik sampai pertengahan paha. Kulit pahanya yang putih mulus terlihat jelas. Arkan mencoba fokus ke jalan, tapi tangannya yang memegang setir gemetar pelan.
3903Please respect copyright.PENANAvOTwlxVGxN
Sepuluh menit dalam perjalanan, Ivana akhirnya bicara. Suaranya pelan dan sedikit pecah.
3903Please respect copyright.PENANAf95Tx6XBLV
“Mas… tentang semalam…”
3903Please respect copyright.PENANAvqQEVoABZz
Arkan menegang. “Ivana, aku minta maaf. Aku seharusnya tidak—”
3903Please respect copyright.PENANAwRNN4BuPG7
“Jangan,” potong Ivana cepat. Ia menoleh ke Arkan, mata besarnya berkaca-kaca. “Jangan bilang itu salah. Aku juga ikut. Aku juga… menginginkannya.”
3903Please respect copyright.PENANA21YmCmNx4v
Arkan menelan ludah. “Kamu adik Livia. Aku suami Livia. Ini—”
3903Please respect copyright.PENANARfu32gPln9
“Aku tahu!” Ivana memotong lagi, suaranya naik sedikit. “Aku tahu ini salah. Aku merasa sangat bersalah. Tapi… aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Sejak aku datang ke rumah ini, sejak aku melihat kamu lagi setelah tiga tahun… ada sesuatu yang berubah di dalam diriku.”
3903Please respect copyright.PENANA85xi7pMpi9
Arkan diam. Mobil berhenti di lampu merah.
3903Please respect copyright.PENANA7faKLmZHa9
Ivana melanjutkan dengan suara lebih pelan, hampir berbisik. “Aku… aku suka kamu, Mas. Bukan cuma sebagai kakak ipar. Aku suka cara kamu menatapku. Aku suka cara kamu menahan diri meskipun aku tahu kamu juga menginginkanku. Dan semalam… saat kamu menyentuhku… aku merasa seperti… seperti aku hidup untuk pertama kalinya.”
3903Please respect copyright.PENANAns18PKHHCH
Arkan merasa dadanya sesak. Ia ingin mengatakan bahwa ia juga merasakan hal yang sama. Bahwa ia tidak bisa tidur semalam karena membayangkan tubuh Ivana. Bahwa ia mencintai Livia tapi menginginkan Ivana dengan cara yang membuatnya merasa seperti monster.
3903Please respect copyright.PENANASNbki9M8Jc
Tapi ia hanya bisa berkata, “Kita tidak bisa melakukan ini lagi.”
3903Please respect copyright.PENANAhKmia66BXI
Ivana menatapnya lama. Lalu ia mengangguk pelan, air mata mengalir di pipi kirinya. “Kalau itu yang kamu inginkan… aku akan coba menjauh.”
3903Please respect copyright.PENANAXrHrgOdiJf
Mereka sampai di gedung kantor Ivana. Sebelum turun, Ivana menoleh sekali lagi.
3903Please respect copyright.PENANAq4YWDM0hVx
“Terima kasih sudah jujur, Mas,” katanya pelan. “Tapi… aku tidak janji bisa menahan perasaanku.”
3903Please respect copyright.PENANANhj9HBpsPD
Ia turun dari mobil tanpa menunggu jawaban.
3903Please respect copyright.PENANAiWyJUQ5pw1
Arkan duduk diam di mobil beberapa menit setelah Ivana masuk ke gedung. Jantungnya berdetak sangat kencang. Ia merasa seperti baru saja kehilangan sesuatu yang belum sempat ia miliki sepenuhnya.
3903Please respect copyright.PENANAzPD1qE5Se6
Sepanjang hari, Arkan mencoba bekerja di rumah. Tapi fokusnya hancur total. Setiap kali ia mencoba membaca laporan, bayangan Ivana muncul — Ivana menangis di kolam, Ivana mengerang saat jarinya masuk ke dalam memeknya, Ivana berkata “aku suka kamu, Mas” dengan suara pecah.
3903Please respect copyright.PENANAtGbf2panDB
Ia berdiri dan pergi ke kamar mandi. Ia membuka celana, memegang kontolnya yang sudah tegang. Ia membayangkan Ivana tadi pagi di mobil — bibirnya yang gemetar, matanya yang basah, payudaranya yang naik turun cepat karena napas yang tidak teratur.
3903Please respect copyright.PENANAp3rIrOl24Z
Arkan menggerakkan tangannya cepat. Ia membayangkan membuka blouse Ivana di mobil, menghisap puttingnya di tempat parkir. Ia membayangkan Ivana berlutut di kursi penumpang, membuka mulut lebar dan menghisap kontolnya dalam-dalam sambil menatapnya dari bawah.
3903Please respect copyright.PENANA7KZrZpEhb5
Sperma menyembur deras ke wastafel untuk ketiga kalinya dalam tiga hari. Arkan berdiri dengan napas tersengal, rasa bersalah dan nafsu bercampur menjadi satu.
3903Please respect copyright.PENANAQ6gwo67mRU
Sore harinya, Arkan menjemput Ivana tepat jam lima. Ivana keluar dengan wajah lelah. Begitu melihat Arkan, ia tersenyum kecil — senyum yang lemah dan penuh keraguan.
3903Please respect copyright.PENANAYob4zFsV4i
Di perjalanan pulang, mereka hampir tidak bicara. Hanya suara radio yang pelan mengisi keheningan.
3903Please respect copyright.PENANAB7s1qmHusE
Sampai di rumah, Ivana langsung naik ke kamar mandi. Arkan pergi ke dapur dan memasak mie goreng sederhana. Ia butuh melakukan sesuatu dengan tangan.
3903Please respect copyright.PENANA7xnCg0wyWF
Ivana turun setelah tiga puluh menit. Ia memakai tank top hitam tipis tanpa bra dan celana pendek katun putih yang sangat pendek. Rambutnya basah, kulitnya masih lembap. Puttingnya terlihat jelas menonjol di balik kain hitam.
3903Please respect copyright.PENANA6ReATD8dEX
Mereka makan di meja dapur dengan diam yang berat. Setiap kali mata mereka bertemu, ada percikan yang tidak bisa mereka pungkiri.
3903Please respect copyright.PENANAsxKvtyrkR2
Setelah makan, Ivana membantu mencuci piring seperti biasa. Mereka berdiri berdampingan di wastafel. Kali ini, Ivana tidak menyentuh Arkan secara tidak sengaja. Ia sengaja menjaga jarak. Tapi Arkan bisa merasakan kehangatan tubuh Ivana di dekatnya. Ia bisa mencium aroma sabun mandi Ivana yang segar.
3903Please respect copyright.PENANATjINOwtKN2
Setelah selesai, Ivana berbalik dan berkata pelan.
3903Please respect copyright.PENANATbee33rCdz
“Mas… boleh kita bicara?”
3903Please respect copyright.PENANA2G2frP0Bvj
Arkan mengangguk. Mereka pindah ke ruang keluarga. Ivana duduk di ujung sofa, Arkan di ujung lain. Jarak satu meter terasa seperti jurang.
3903Please respect copyright.PENANALrVVttjNnt
Ivana menatap tangannya sendiri yang bertautan di pangkuan. “Aku… aku tidak bisa pura-pura seperti tidak terjadi apa-apa semalam. Aku sudah mencoba seharian ini. Tapi setiap kali aku menutup mata, aku merasakan jari kamu di dalam diriku lagi.”
3903Please respect copyright.PENANA0X3v3u3rfg
Arkan menelan ludah. “Ivana…”
3903Please respect copyright.PENANAPus0K9tCv5
“Biar aku selesai dulu,” potong Ivana. Matanya berkaca-kaca. “Aku tahu ini salah. Aku tahu Mbak Livia adalah kakakku dan istri kamu. Aku tahu aku seharusnya tidak merasa seperti ini. Tapi… aku sudah jatuh cinta padamu, Mas. Bukan cuma nafsu. Aku jatuh cinta pada cara kamu menatapku seperti aku adalah sesuatu yang berharga. Aku jatuh cinta pada cara kamu menahan diri meskipun aku tahu kamu juga menginginkanku. Dan semalam… saat kamu menyentuhku… aku merasa lengkap untuk pertama kalinya dalam hidupku.”
3903Please respect copyright.PENANAg7SuCjmbdi
Air mata mengalir di pipi Ivana. Ia tidak menyeka.
3903Please respect copyright.PENANAakup0LgRNs
Arkan merasa dadanya seperti diremas. Ia berdiri, berjalan mendekat, lalu berlutut di depan Ivana. Ia memegang kedua tangan gadis itu.
3903Please respect copyright.PENANAjql7fB1Kjj
“Ivana… aku juga merasakan hal yang sama,” akunya dengan suara serak. “Aku tidak bisa tidur. Aku tidak bisa bekerja. Setiap kali aku melihatmu, aku merasa seperti orang yang berbeda. Aku mencintai Livia. Aku tidak ingin menyakitinya. Tapi… kamu membuatku gila.”
3903Please respect copyright.PENANAzmrriQkHaT
Ivana menatapnya dengan mata basah. “Lalu… apa yang harus kita lakukan?”
3903Please respect copyright.PENANAeMSVukBhmC
Arkan diam lama. Lalu ia berkata pelan. “Kita tidak bisa… melakukan yang terakhir. Itu garis yang tidak bisa aku lewati. Tapi… kalau kamu mau… kita bisa… berhenti di sini. Atau… kita bisa menikmati apa yang bisa kita nikmati tanpa melangkah lebih jauh.”
3903Please respect copyright.PENANAXHcAEILllN
Ivana menatapnya lama. Lalu ia mengangguk pelan. “Aku mau… apa pun yang bisa kita lakukan. Aku tidak bisa menahan diri lagi.”
3903Please respect copyright.PENANABqIG4YBtbw
Arkan berdiri dan menarik Ivana berdiri. Mereka berciuman lagi — kali ini lebih pelan, lebih dalam, penuh dengan pengakuan yang baru saja diucapkan.
3903Please respect copyright.PENANAuWTNAOk0X4
Tangan Arkan naik ke bawah tank top Ivana. Ia meremas payudara montok Ivana dengan kedua tangan. Ivana mengerang ke dalam mulut Arkan. Arkan menarik tank top Ivana ke atas, membebaskan dua payudara yang indah dan berat. Putting kecil berwarna coklat muda sudah mengeras sempurna. Arkan menunduk dan menghisap satu putting ke dalam mulutnya, menggigit pelan.
3903Please respect copyright.PENANA3s3LVaA7Px
“Ahh… Mas…” desah Ivana, tangannya memegang rambut Arkan erat.
3903Please respect copyright.PENANAHdUtCEJLG1
Mereka bergerak ke sofa. Arkan membaringkan Ivana telentang. Ia menarik celana pendek Ivana ke bawah bersama celana dalam putih kecilnya. Memek Ivana yang sudah telanjang terbuka di depan matanya — bibir memek yang bengkak dan pink, klitoris yang menonjol dan berkilau karena sudah basah, cairan bening mengalir deras ke bawah menuju lubang anus yang kecil dan pink.
3903Please respect copyright.PENANAqy7RZwW1FL
Arkan menunduk. Ia mencium paha dalam Ivana terlebih dahulu, lalu lidahnya menyentuh klitoris Ivana pelan.
3903Please respect copyright.PENANAlkKtQlIpgH
Ivana mengerang keras, punggungnya melengkung. “Mas… ahh…”
3903Please respect copyright.PENANAcpMwmM8Kx8
Arkan menjilat klitoris Ivana dengan gerakan lambat dan datar, lalu cepat dan melingkar. Ia menghisap klitoris kecil itu ke dalam mulutnya, menggoyang lidahnya. Ivana gemetar hebat. Cairan Ivana mengalir deras ke lidah Arkan — manis, sedikit asin, dan sangat hangat.
3903Please respect copyright.PENANAMcxlFbX9Je
“Enak… Mas… jilat lebih dalam…” desah Ivana dengan suara parau.
3903Please respect copyright.PENANAitARqVOCt1
Arkan memasukkan lidahnya ke dalam lubang memek Ivana, menjilat dinding dalam yang panas dan berkerut. Ia menambahkan dua jari, memasukkan dan mengeluarkannya perlahan sambil lidahnya terus menjilat klitoris. Ivana mengerang lebih keras, tangannya mencengkeram bantal sofa.
3903Please respect copyright.PENANAz66LHjEmpX
“Mas… aku… aku mau keluar…” erang Ivana.
3903Please respect copyright.PENANAI1VsKhC7Sz
Arkan mempercepat gerakan jarinya dan menghisap klitoris lebih kuat. Ivana mencapai orgasme pertama dengan erangan panjang. Tubuhnya gemetar hebat, cairan bening menyembur sedikit dari memeknya — squirt kecil yang Arkan telan dengan lahap.
3903Please respect copyright.PENANA8z1cLCeemG
Tapi Arkan tidak berhenti. Ia terus menjilat dan menghisap, membawa Ivana ke orgasme kedua hanya beberapa menit kemudian. Ivana menjerit pelan, kakinya menendang-nendang, air mata mengalir di pipinya karena sensasi yang terlalu kuat.
3903Please respect copyright.PENANAZwZAupcrB8
“Mas… cukup… ahh… terlalu sensitif…” desah Ivana dengan napas tersengal.
3903Please respect copyright.PENANAlBr3LLzkLD
Arkan akhirnya mengangkat kepala. Bibir dan dagunya basah oleh cairan Ivana. Ia naik dan mencium Ivana lagi, membiarkan gadis itu mencicipi dirinya sendiri dari bibir Arkan.
3903Please respect copyright.PENANAPz0H0v5Sm9
Ivana mendorong Arkan untuk berbaring telentang. Ia membuka celana Arkan dengan tangan gemetar. Kontol Arkan yang sangat keras dan besar langsung terbebas. Kepala merahnya sudah bocor banyak cairan bening.
3903Please respect copyright.PENANA0zMD91VRmS
Ivana menatap kontol Arkan dengan mata berbinar penuh nafsu. Ia membungkuk dan menjilat kepala kontol itu pelan. Arkan mengerang dalam.
3903Please respect copyright.PENANAAAvV78rqR5
Ivana membuka mulut lebar dan memasukkan kontol Arkan sedalam mungkin. Ia menghisap dalam-dalam, lidahnya bergerak di bawah batang kontol. Arkan merasakan tenggorokan Ivana yang sempit meremas kepala kontolnya.
3903Please respect copyright.PENANAVUy4Op9eWx
“Fuck… Ivana… hisap lebih dalam…” desah Arkan.
3903Please respect copyright.PENANAQLQzFIl8f3
Ivana menghisap lebih cepat, tangannya memegang batang kontol yang tidak masuk ke mulutnya dan menggerakkannya naik turun. Air liur Ivana mengalir deras, membuat suara basah yang sangat erotis terdengar di ruang keluarga.
3903Please respect copyright.PENANA7qKcQSV9Cr
Arkan merasa orgasme mendekat cepat. Ia memegang rambut Ivana. “Ivana… aku mau keluar…”
3903Please respect copyright.PENANAfLYWJHKbkf
Ivana tidak melepaskan. Ia menghisap lebih dalam dan lebih cepat. Arkan mencapai orgasme dengan erangan keras. Sperma panas menyembur deras ke dalam mulut Ivana. Ivana menelan semuanya tanpa ragu, beberapa tetes mengalir dari sudut bibirnya.
3903Please respect copyright.PENANAs74pL5JaHJ
Mereka berdua terengah-engah.
3903Please respect copyright.PENANAKyrRavTzMH
Ivana naik dan berbaring di dada Arkan. Mereka berpelukan telanjang di sofa. Arkan mengelus punggung Ivana pelan. Ivana mencium dada Arkan.
3903Please respect copyright.PENANANf4qBwrzpD
“Mas…” bisik Ivana setelah beberapa menit. “Ini… bukan cuma nafsu kan?”
3903Please respect copyright.PENANA5bR6ZSChI3
Arkan mencium rambut Ivana. “Bukan. Aku juga… jatuh cinta padamu. Meskipun aku benci mengakuinya.”
3903Please respect copyright.PENANATr5a616I5m
Ivana mengangkat kepala dan menatap Arkan. “Lalu… apa yang akan kita lakukan?”
3903Please respect copyright.PENANAVTq9Y7P9Rn
Arkan diam lama. Lalu ia berkata pelan. “Kita akan menikmati apa yang bisa kita nikmati. Tapi… aku tidak akan memasukkan ke dalam kamu. Itu… garis terakhir yang tidak bisa aku lewati. Setidaknya… belum.”
3903Please respect copyright.PENANA0yePAeuKs5
Ivana mengangguk pelan. “Aku mengerti. Tapi… aku mau semua yang lain. Aku mau kamu menyentuhku. Aku mau aku menyentuhmu. Aku mau kita… menjadi satu sebanyak mungkin tanpa melangkah ke sana.”
3903Please respect copyright.PENANAQDmK0XVu0v
Arkan mencium bibir Ivana pelan. “Baik.”
3903Please respect copyright.PENANAUgT9XogSp8
Mereka berbaring diam beberapa saat lagi. Tapi api di antara mereka belum padam. Tangan Arkan kembali menyentuh payudara Ivana. Ivana menggiling pinggulnya di atas paha Arkan. Kontol Arkan yang sudah setengah tegang lagi menekan perut Ivana.
3903Please respect copyright.PENANACtsEhL9aBM
Mereka berciuman lagi. Tangan Arkan turun ke memek Ivana yang masih basah. Jari-jarinya masuk lagi. Ivana mengerang dan meraih kontol Arkan, menggerakkan tangannya naik turun.
3903Please respect copyright.PENANAkbwc5JSxqT
Mereka saling menyentuh sampai Ivana mencapai orgasme ketiga malam itu dan Arkan menyemburkan sperma lagi di perut Ivana.
3903Please respect copyright.PENANANu6hnrcoZH
Setelah itu, mereka berdua kelelahan. Arkan menggendong Ivana yang telanjang ke kamar utama. Mereka berbaring di tempat tidur besar yang biasanya hanya untuk Arkan dan Livia.
3903Please respect copyright.PENANA4u4bJoKvcP
Ivana tidur di pelukan Arkan, kepalanya di dada Arkan. Arkan mengelus rambut Ivana sampai gadis itu tertidur pulas.
3903Please respect copyright.PENANAUj4xyP1M3O
Arkan menatap langit-langit kamar yang gelap. Rasa bersalah masih ada, tapi sudah bercampur dengan sesuatu yang lebih dalam — kasih sayang yang tidak seharusnya ia rasakan untuk adik iparnya.
3903Please respect copyright.PENANAQxlrLPNdZm
Ia tahu besok pagi, ketika mereka bangun, garis yang ia tarik tadi malam akan semakin samar.
3903Please respect copyright.PENANAamr5ahjTdS
Dan ia juga tahu… ia tidak yakin bisa menahan diri untuk tidak melangkah lebih jauh lagi.
3903Please respect copyright.PENANAdewoAVbfDR
Di tengah malam, Ivana terbangun sebentar. Ia melihat Arkan masih terjaga, menatapnya.
3903Please respect copyright.PENANAWLz4A0lJX6
“Mas…” bisiknya dengan suara mengantuk. “Aku cinta kamu.”
3903Please respect copyright.PENANAAcWrWH3iol
Arkan mencium dahi Ivana. “Aku juga cinta kamu. Meskipun ini… salah.”
3903Please respect copyright.PENANAJanRJ5y4mT
Ivana tersenyum kecil di gelap. “Kalau salah… kenapa rasanya begitu benar?”
3903Please respect copyright.PENANA989lwkYcth
Arkan tidak menjawab. Ia hanya memeluk Ivana lebih erat.
3903Please respect copyright.PENANAncdZxU2NKF
Keesokan paginya, mereka bangun dengan tubuh saling bertautan. Ivana membuka mata dan langsung tersenyum melihat Arkan.
3903Please respect copyright.PENANAFyLvtNiSmU
“Pagi, Mas,” bisiknya.
3903Please respect copyright.PENANAFHXZEzpfE0
Arkan mencium bibir Ivana pelan. “Pagi.”
3903Please respect copyright.PENANAZGCo17udd0
Mereka mandi bersama di kamar mandi utama. Air hangat mengalir di tubuh mereka. Arkan mencuci punggung Ivana, lalu tangannya turun ke depan, memegang payudara Ivana dari belakang sambil mencium lehernya. Ivana mengerang pelan dan menggiling bokongnya ke kontol Arkan yang sudah tegang.
3903Please respect copyright.PENANAY6BahBdH9A
Mereka hampir melakukan lebih lagi di dalam shower — Arkan menekan Ivana ke dinding kaca, mengangkat satu kaki Ivana, dan menggesekkan kontolnya di bibir memek Ivana yang basah. Tapi Arkan berhenti lagi di detik terakhir.
3903Please respect copyright.PENANA9JTQi0LFLX
“Belum,” bisiknya di telinga Ivana. “Belum sekarang.”
3903Please respect copyright.PENANAzpTd8ysr3l
Ivana menoleh dan mencium Arkan dengan lapar. “Kapan, Mas? Aku… aku tidak bisa menunggu lama.”
3903Please respect copyright.PENANAZsk9QhJebz
Arkan tidak menjawab. Ia hanya memeluk Ivana dari belakang dan mencium bahunya.
3903Please respect copyright.PENANA4ggPASN2RF
Setelah mandi dan sarapan (dengan banyak sentuhan dan ciuman kecil), Arkan mengantar Ivana ke kantor seperti biasa.
3903Please respect copyright.PENANAXHiUMorvWe
Di depan gedung, sebelum Ivana turun, gadis itu menoleh dan berkata pelan.
3903Please respect copyright.PENANAQJaynx2v4f
“Malam ini… aku mau kamu menyentuhku lagi. Di tempat tidur. Tanpa berhenti di tengah jalan.”
3903Please respect copyright.PENANA226Lsfutk7
Arkan menatapnya. “Ivana…”
3903Please respect copyright.PENANAYwjZKqHNL3
“Janji, Mas,” potong Ivana. “Aku mau merasakan mulutmu lagi. Aku mau menghisap kamu lagi. Aku mau… kita saling memberikan segalanya kecuali yang terakhir.”
3903Please respect copyright.PENANAcAZgsclq71
Arkan mengangguk pelan. “Baik.”
3903Please respect copyright.PENANAbBGKd6Ob3q
Ivana tersenyum puas, lalu turun dari mobil. Sebelum menutup pintu, ia berkata sekali lagi.
3903Please respect copyright.PENANAHGQYb2KE6K
“Dan Mas… aku sudah tidak takut lagi. Aku mau ini. Aku mau kamu.”
3903Please respect copyright.PENANAs1UkxJ5cxb
Arkan memandang Ivana berjalan masuk ke gedung dengan rok pensil hitam yang membalut bokongnya dengan sempurna.
3903Please respect copyright.PENANApGlt7BfDzu
Ia tahu malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang.
3903Please respect copyright.PENANAPbE0KpTyaY
---
3903Please respect copyright.PENANArOLEzw4yuv
Malamnya terasa berbeda sejak awal.
3903Please respect copyright.PENANABLCpEQWS14
Arkan pulang lebih awal dari biasanya setelah menjemput Ivana dari kantor. Sepanjang perjalanan pulang, tangan kanan Ivana terus berada di paha Arkan, jari-jarinya sesekali mengusap naik turun dengan gerakan yang tidak sepenuhnya polos. Ivana tidak banyak bicara, tapi matanya yang besar terus menatap Arkan dengan tatapan yang penuh janji dan keinginan yang sudah tidak bisa disembunyikan lagi.
3903Please respect copyright.PENANAyjbOa6LYyd
Sampai di rumah, Ivana langsung naik ke kamar mandi utama tanpa bertanya. Arkan berdiri di ruang tamu beberapa saat, mencoba menenangkan napas. Ia tahu malam ini akan menjadi malam yang berbeda. Ivana sudah berkata jelas di pagi hari: “Malam ini… aku mau kamu menyentuhku lagi. Di tempat tidur. Tanpa berhenti di tengah jalan.”
3903Please respect copyright.PENANAEBwl1PPHaH
Arkan masuk ke dapur dan mulai menyiapkan makan malam sederhana — salmon panggang dengan sayur kukus. Tangan-tangannya bekerja secara otomatis, tapi pikirannya sudah melayang ke kamar tidur di lantai dua.
3903Please respect copyright.PENANAjmRQZiqJhw
Ivana turun setelah hampir satu jam. Ia memakai dress hitam tipis tanpa bra dan tanpa celana dalam. Gaun itu hanya sampai pertengahan paha, sangat tipis sehingga bentuk putingnya yang kecil dan mengeras terlihat jelas di bawah cahaya lampu dapur. Payudaranya yang montok dan berat bergoyang pelan setiap kali ia melangkah. Bokongnya yang bulat dan kenyal terlihat jelas dari belakang saat ia berbalik untuk mengambil air dari kulkas.
3903Please respect copyright.PENANAdVcOf06AKY
“Wangi sekali, Mas,” kata Ivana sambil mendekat. Ia berdiri persis di belakang Arkan yang sedang mengaduk saus. Payudaranya menempel di punggung Arkan. “Aku lapar… tapi bukan cuma lapar makanan.”
3903Please respect copyright.PENANAw6ubsJi85k
Arkan menelan ludah. Ia berbalik dan mencium Ivana pelan. Ciuman itu langsung menjadi dalam. Lidah mereka bertemu dengan lapar yang sudah tertahan seharian. Tangan Arkan naik dan meremas payudara Ivana melalui gaun tipis itu. Putting Ivana mengeras lebih lagi di telapak tangannya.
3903Please respect copyright.PENANA83OVqCc5Nz
“Makan dulu,” gumam Arkan di antara ciuman. “Nanti… kita punya waktu semalaman.”
3903Please respect copyright.PENANAFlx5zQ5OIb
Ivana menggigit bibir bawah Arkan pelan sebelum melepaskan. “Janji ya, Mas?”
3903Please respect copyright.PENANAcm8R7r34Zj
Mereka makan di meja dapur dengan cahaya lampu kuning yang hangat. Tapi suasana makan malam ini sangat berbeda dari malam-malam sebelumnya. Setiap kali Ivana mengangkat garpu, gaunnya yang tipis bergeser, memperlihatkan lebih banyak belahan payudaranya yang dalam dan putih. Saat ia minum air, beberapa tetes jatuh ke dagu dan mengalir ke leher, lalu hilang ke dalam belahan dadanya.
3903Please respect copyright.PENANA8XTe3KDulD
Arkan tidak bisa berhenti menatap.
3903Please respect copyright.PENANAUkSSVtI7v0
“Mas,” panggil Ivana pelan di tengah makan. “Kamu menatapku seperti mau memakanku.”
3903Please respect copyright.PENANAOdvXwKGqNp
Arkan tersenyum tipis. “Karena memang begitu.”
3903Please respect copyright.PENANAAH2epYZiVf
Ivana tersenyum malu-malu, tapi matanya berbinar penuh nafsu. “Aku juga. Sejak pagi tadi aku tidak bisa berhenti membayangkan mulutmu di… tempat lain.”
3903Please respect copyright.PENANAdANQBG77Ef
Arkan merasa kontolnya langsung mengeras di dalam celana.
3903Please respect copyright.PENANAzAAOI2UlwH
Setelah makan, mereka tidak langsung naik. Mereka duduk di sofa ruang keluarga, saling berhadapan. Ivana menarik kaki ke dada, gaunnya naik tinggi, memperlihatkan paha dalam yang mulus dan sedikit bayangan memeknya yang sudah tidak memakai celana dalam.
3903Please respect copyright.PENANAoXrp8g29Pa
“Mas,” kata Ivana pelan. “Aku mau bicara dulu sebelum… sebelum kita melakukan apa yang akan kita lakukan.”
3903Please respect copyright.PENANAuXTjjFNivp
Arkan mengangguk. “Bicara saja.”
3903Please respect copyright.PENANA2Ql75N4RNn
Ivana menatap tangannya sendiri. “Aku… aku cinta kamu. Bukan cuma karena nafsu. Aku cinta cara kamu memperlakukanku. Aku cinta cara kamu menahan diri meskipun aku tahu kamu sangat menginginkanku. Tapi aku juga takut. Takut menyakiti Mbak Livia. Takut ini akan menghancurkan semuanya.”
3903Please respect copyright.PENANA9XQUcfgeJ9
Arkan menghela napas panjang. “Aku juga merasakan hal yang sama. Aku mencintai Livia. Aku tidak ingin menyakitinya. Tapi… setiap kali aku melihatmu, setiap kali aku menyentuhmu… aku merasa seperti orang yang sudah tidak bisa kembali lagi.”
3903Please respect copyright.PENANApnJQd5CzW2
Ivana mengangkat kepala dan menatap Arkan. “Kalau begitu… malam ini, bisakah kita berpura-pura bahwa dunia luar tidak ada? Hanya kita berdua. Hanya malam ini. Besok… kita akan pikirkan lagi.”
3903Please respect copyright.PENANANExPtPHhdn
Arkan menatap Ivana lama. Lalu ia mengangguk pelan. “Hanya malam ini.”
3903Please respect copyright.PENANA6fJqCYlnCo
Ivana tersenyum. Senyum yang penuh kelegaan dan keinginan sekaligus.
3903Please respect copyright.PENANAq0G4B9BHar
Mereka naik ke kamar utama. Arkan menutup pintu dan mengunci. Cahaya lampu tidur yang redup membuat suasana kamar terasa sangat intim.
3903Please respect copyright.PENANARsZfKcR6jc
Ivana berdiri di tengah kamar. Arkan mendekat dan menciumnya lagi. Kali ini ciuman mereka penuh dengan kelaparan yang sudah tidak bisa ditahan. Tangan Arkan menurunkan resleting gaun Ivana di punggung. Gaun hitam tipis itu jatuh ke lantai dengan suara pelan.
3903Please respect copyright.PENANA6cQkpyjT8v
Ivana berdiri telanjang bulat di depan Arkan.
3903Please respect copyright.PENANAuzYrLYplnP
Payudaranya yang montok dan berat terangkat indah, putting kecil berwarna coklat muda sudah mengeras sempurna. Pinggangnya kecil dan lentur, pinggulnya lebar dengan bokong bulat yang kenyal dan menggoda. Memeknya yang sudah telanjang terlihat jelas — bibir memek yang bengkak dan pink, klitoris yang menonjol, dan cairan bening sudah mengalir deras di sepanjang paha dalamnya.
3903Please respect copyright.PENANA1uwmjxHEB5
Arkan menunduk dan mencium leher Ivana, lalu turun ke dada. Ia menghisap satu putting ke dalam mulutnya sambil tangannya meremas payudara satunya dengan kasar. Ivana mengerang pelan, tangannya memegang rambut Arkan.
3903Please respect copyright.PENANAlAHEOlDHdv
“Mas… hisap lebih kuat…” desah Ivana.
3903Please respect copyright.PENANAT9gK4KGfaa
Arkan menghisap putting Ivana lebih dalam, menggigit pelan dengan gigi. Ivana mengerang lebih keras. Arkan mendorong Ivana ke tempat tidur. Ivana berbaring telentang, kakinya terbuka lebar tanpa malu.
3903Please respect copyright.PENANAHEbhn04zLU
Arkan membuka bajunya dengan cepat, lalu celana. Kontolnya yang besar dan keras langsung terbebas, kepala merahnya sudah bocor banyak cairan bening.
3903Please respect copyright.PENANAMFSmyiWYRd
Ia naik ke tempat tidur dan membenamkan wajah di antara paha Ivana.
3903Please respect copyright.PENANAeZ6QRiRsCq
Lidah Arkan langsung menyentuh klitoris Ivana yang sudah sensitif. Ivana mengerang keras, punggungnya melengkung. Arkan menjilat klitoris dengan gerakan lambat dan datar, lalu cepat dan melingkar. Ia menghisap klitoris kecil itu ke dalam mulutnya sambil memasukkan dua jari ke dalam lubang memek Ivana yang panas dan basah.
3903Please respect copyright.PENANA3pSYjynqHC
“Ahh… Mas Arkan… enak sekali…” erang Ivana dengan suara parau.
3903Please respect copyright.PENANAVrC1LGxpKN
Cairan Ivana mengalir deras ke lidah Arkan — rasanya manis, sedikit asin, dan sangat hangat. Suara basah dari jari Arkan yang keluar masuk memek Ivana terdengar jelas di kamar yang sunyi. Arkan menambahkan jari ketiga. Memek Ivana yang sempit meremas jari-jarinya erat.
3903Please respect copyright.PENANASF3NFffgCV
“Mas… aku mau keluar…” desah Ivana.
3903Please respect copyright.PENANA25DAXL7Oty
Arkan mempercepat gerakan jarinya dan menghisap klitoris lebih kuat. Ivana mencapai orgasme pertama dengan jeritan pelan. Tubuhnya gemetar hebat, cairan bening menyembur dari memeknya — squirt yang Arkan telan dengan lahap.
3903Please respect copyright.PENANAICghjdtrND
Tapi Arkan tidak berhenti. Ia terus menjilat dan menghisap, membawa Ivana ke orgasme kedua hanya beberapa menit kemudian. Ivana menjerit lebih keras, tangannya mencengkeram seprai, air mata mengalir di pipinya karena sensasi yang terlalu kuat.
3903Please respect copyright.PENANAzFa9uHdCCo
“Mas… cukup… ahh… terlalu sensitif…” desah Ivana dengan napas tersengal.
3903Please respect copyright.PENANAooaa4S1Pqt
Arkan akhirnya mengangkat kepala. Bibir dan dagunya basah oleh cairan Ivana. Ia naik dan mencium Ivana lagi, membiarkan gadis itu mencicipi dirinya sendiri.
3903Please respect copyright.PENANA1jlNewJ9YE
Ivana mendorong Arkan untuk berbaring telentang. Ia membungkuk dan memasukkan kontol Arkan ke dalam mulutnya dalam-dalam. Arkan mengerang saat tenggorokan Ivana meremas kepala kontolnya. Ivana menghisap dengan ritme yang cepat dan basah, tangannya menggerakkan batang kontol yang tidak masuk ke mulutnya.
3903Please respect copyright.PENANA0ftdpQO4KI
Setelah beberapa menit, Ivana melepaskan kontol Arkan dari mulutnya. Ia naik dan duduk mengangkang di atas pangkuan Arkan. Memeknya yang basah dan panas menempel di batang kontol Arkan.
3903Please respect copyright.PENANA7m2NIAovGf
“Mas…” bisik Ivana dengan suara gemetar penuh nafsu. “Aku mau kamu di dalam diriku. Sekarang.”
3903Please respect copyright.PENANAcKWtWPSYWf
Arkan menatap mata Ivana yang basah. Ia bisa merasakan bibir memek Ivana yang bengkak dan panas menggesek kontolnya setiap kali Ivana menggiling pinggulnya pelan.
3903Please respect copyright.PENANAUIAdXpAtHx
“Ivana…” gumam Arkan dengan suara serak. “Kita bilang… tidak sampai ke sana.”
3903Please respect copyright.PENANAcgTZXdeQ6V
“Aku tidak peduli lagi,” jawab Ivana. Matanya berkaca-kaca. “Aku mau merasakan kamu di dalam diriku. Aku mau menjadi satu dengan kamu sepenuhnya. Tolong, Mas… jangan tahan lagi.”
3903Please respect copyright.PENANAS9TgavPUlm
Arkan diam beberapa detik yang terasa sangat lama. Rasa bersalah dan keinginan bertarung hebat di dadanya. Tapi saat Ivana menggiling pinggulnya lagi, kepala kontol Arkan tersentuh lubang memek Ivana yang basah dan terbuka, ia merasa seperti kehilangan akal.
3903Please respect copyright.PENANAGTpibvkPhF
Ia memegang pinggul Ivana dengan kedua tangan. “Kalau kita lakukan ini… tidak ada jalan kembali.”
3903Please respect copyright.PENANAVOvlMXjX5l
“Aku tahu,” bisik Ivana. “Aku mau ini.”
3903Please respect copyright.PENANAPT62PW7Szv
Arkan mengangguk pelan. Ia mengangkat pinggul Ivana sedikit, lalu menurunkannya perlahan.
3903Please respect copyright.PENANA26NHWKgwD3
Kepala kontol Arkan yang besar dan panas perlahan masuk ke dalam lubang memek Ivana yang sempit dan basah. Ivana mengerang panjang saat kontol Arkan meregangkan dinding dalamnya. Arkan merasakan kehangatan dan kebasahan yang luar biasa. Memek Ivana meremas kontolnya erat seperti tangan kecil yang hangat.
3903Please respect copyright.PENANALaqiEGBSVo
“Ahh… Mas… besar sekali…” desah Ivana dengan suara pecah.
3903Please respect copyright.PENANAi5VSfRd7HJ
Arkan terus menurunkan pinggul Ivana perlahan sampai kontolnya masuk sepenuhnya. Ia bisa merasakan ujung kontolnya menyentuh leher rahim Ivana. Mereka diam beberapa saat, hanya saling menatap dengan napas tersengal.
3903Please respect copyright.PENANAtpzwBxYD26
Kemudian Arkan mulai bergerak. Ia mengangkat dan menurunkan pinggul Ivana perlahan, membiarkan kontolnya keluar dan masuk dari memek Ivana dengan ritme yang lambat dan dalam. Suara basah dari kontol yang keluar masuk memek yang sangat basah terdengar jelas di kamar.
3903Please respect copyright.PENANAszVAhb8TGa
“Mas… lebih cepat…” pinta Ivana.
3903Please respect copyright.PENANAn8mlq8qpoQ
Arkan mempercepat gerakannya. Ia memegang pinggul Ivana erat dan mengentotnya dengan ritme yang semakin cepat dan dalam. Payudara Ivana yang montok bergoyang hebat di depan mata Arkan. Puttingnya yang mengeras terlihat sangat menggoda. Arkan menarik Ivana ke bawah dan menghisap satu putting ke dalam mulutnya sambil terus mengentot.
3903Please respect copyright.PENANA2usvMTKSkr
Ivana mengerang tanpa henti. “Ahh… Mas Arkan… enak… kontolmu… dalam sekali…”
3903Please respect copyright.PENANA8yMfMTeLxj
Arkan membalikkan posisi. Ia membaringkan Ivana telentang dan mengangkat kedua kaki gadis itu ke bahunya. Posisi ini membuat kontolnya masuk lebih dalam lagi. Arkan mengentot Ivana dengan gerakan keras dan dalam, setiap dorongan membuat tempat tidur berderit pelan.
3903Please respect copyright.PENANAuWYpjCP97x
Ivana mencapai orgasme ketiga malam itu dengan jeritan panjang. Memeknya meremas kontol Arkan sangat erat, cairan bening menyembur lagi di sekitar batang kontol Arkan.
3903Please respect copyright.PENANAo6BltTxlL7
Arkan tidak berhenti. Ia membalikkan Ivana menjadi posisi doggy style. Ia memegang pinggul Ivana yang bulat dan kenyal, lalu memasukkan kontolnya dari belakang dengan satu dorongan keras. Ivana mengerang keras saat kontol Arkan menghantam leher rahimnya dari sudut yang berbeda.
3903Please respect copyright.PENANAoE30TVWyqn
“Mas… ahh… bokongku… pegang bokongku…” desah Ivana.
3903Please respect copyright.PENANAqVMCh4oCAq
Arkan meremas bokong Ivana yang kenyal dengan kedua tangan sambil terus mengentotnya dari belakang. Setiap kali kontolnya masuk penuh, bokong Ivana bergoyang indah. Arkan mengangkat satu tangan dan menampar bokong Ivana pelan. Ivana mengerang lebih keras.
3903Please respect copyright.PENANAB9lCKP0DdF
“Ya… tampar lagi, Mas…” pinta Ivana dengan suara parau.
3903Please respect copyright.PENANALrNaKN0jmA
Arkan menampar bokong Ivana lagi, kali ini sedikit lebih keras. Kulit bokong Ivana memerah pelan. Arkan mempercepat gerakannya, mengentot Ivana dengan ritme yang semakin brutal. Ivana mencapai orgasme keempat dengan erangan yang pecah.
3903Please respect copyright.PENANANjetSvqEfi
Arkan merasa orgasme mendekat. Ia membalikkan Ivana lagi menjadi posisi missionary. Ia menatap mata Ivana yang basah dan penuh nafsu.
3903Please respect copyright.PENANAfriQBX3Qn0
“Aku mau keluar di dalam kamu,” desah Arkan.
3903Please respect copyright.PENANAwjoGAkFqeg
Ivana mengangguk cepat. “Keluar di dalam aku, Mas… isi aku… aku mau merasakan sperma kamu di dalam diriku…”
3903Please respect copyright.PENANACl91zImYqf
Arkan mengentot Ivana dengan gerakan cepat dan dalam. Beberapa detik kemudian, ia mencapai orgasme dengan erangan keras. Sperma panas menyembur deras ke dalam rahim Ivana. Ivana mengerang saat merasakan semburan panas itu memenuhi bagian dalamnya.
3903Please respect copyright.PENANAia3LsiMTfF
Mereka berdua terengah-engah. Arkan jatuh di atas Ivana, kontolnya masih berada di dalam memek gadis itu yang masih meremas pelan.
3903Please respect copyright.PENANAzTk3anSv6N
Beberapa menit kemudian, Arkan menarik kontolnya keluar pelan. Sperma putih kental langsung mengalir keluar dari lubang memek Ivana yang merah dan bengkak. Pemandangan itu sangat erotis.
3903Please respect copyright.PENANASJzkoyZjY1
Arkan berbaring di samping Ivana dan memeluknya erat. Ivana menyandarkan kepala di dada Arkan, napasnya masih tersengal.
3903Please respect copyright.PENANAyZPd2AHVZF
“Mas…” bisik Ivana setelah beberapa menit. “Ini… luar biasa.”
3903Please respect copyright.PENANARbYCbYsKCE
Arkan mencium rambut Ivana. “Iya.”
3903Please respect copyright.PENANAYQdwlgUqWF
Tapi setelah euforia reda, rasa bersalah mulai menghantam Arkan seperti gelombang dingin. Ia baru saja mengentot adik iparnya. Ia baru saja menyemburkan sperma ke dalam rahim adik istrinya. Ia baru saja mengkhianati Livia dengan cara yang paling dalam.
3903Please respect copyright.PENANAqWOaIL562n
Ivana seolah merasakan perubahan suasana hati Arkan. Ia mengangkat kepala dan menatap Arkan.
3903Please respect copyright.PENANAfPHzhk2bkW
“Mas… jangan pikirkan itu sekarang,” bisiknya. “Hanya malam ini, ingat?”
3903Please respect copyright.PENANALBHYwPrWEZ
Arkan mengangguk pelan, tapi hatinya tetap berat.
3903Please respect copyright.PENANA2eSCImvEhd
Mereka mandi bersama setelah itu. Di dalam shower, Arkan mencuci tubuh Ivana dengan lembut. Tangan-tangannya menyentuh setiap lekuk tubuh gadis itu — payudaranya yang montok, pinggangnya yang kecil, bokongnya yang bulat, dan memeknya yang masih basah dan sensitif. Ivana mengerang pelan saat jari Arkan menyentuh klitorisnya lagi.
3903Please respect copyright.PENANAen2nDqHT5G
Mereka kembali ke tempat tidur dalam keadaan telanjang. Ivana tidur di pelukan Arkan, satu kakinya di atas paha Arkan. Arkan mengelus punggung Ivana sampai gadis itu tertidur.
3903Please respect copyright.PENANATAEl9HlbcF
Tapi Arkan sendiri tidak bisa tidur.
3903Please respect copyright.PENANAZ65DxNJpXZ
Ia menatap langit-langit kamar yang gelap. Pikirannya penuh dengan Livia. Wajah istrinya muncul di benaknya — senyumnya, suaranya, cara ia memeluknya. Rasa bersalah menghantamnya lebih keras dari sebelumnya.
3903Please respect copyright.PENANAao3SG5pXCu
Tapi di sampingnya, Ivana tidur dengan damai, bibirnya sedikit terbuka, payudaranya naik turun pelan. Arkan merasa dadanya sesak dengan perasaan yang bertentangan.
3903Please respect copyright.PENANATcgP7kyh2S
Ia mencintai dua wanita sekaligus.
3903Please respect copyright.PENANAeynm3SJgkM
Dan ia baru saja mengkhianati salah satunya dengan cara yang tidak bisa ia kembalikan.
3903Please respect copyright.PENANAfOedqkmcBn
Keesokan paginya, mereka bangun dengan tubuh saling bertautan. Ivana membuka mata dan langsung tersenyum melihat Arkan.
3903Please respect copyright.PENANAgWWHFFF9F0
“Pagi, Mas,” bisiknya sambil mencium dada Arkan.
3903Please respect copyright.PENANAwHlaXqD5En
Arkan mencium dahi Ivana. “Pagi.”
3903Please respect copyright.PENANAg62YTItE95
Mereka mandi lagi bersama. Kali ini Arkan tidak bisa menahan diri. Ia menekan Ivana ke dinding shower, mengangkat satu kaki gadis itu, dan memasukkan kontolnya ke dalam memek Ivana dari depan. Mereka bercinta lagi di dalam shower — cepat, liar, dan penuh nafsu. Ivana mencapai orgasme dua kali sebelum Arkan menyemburkan sperma ke dalam rahimnya lagi.
3903Please respect copyright.PENANA6qjDlMOuZq
Setelah mandi dan sarapan (dengan banyak ciuman dan sentuhan), Arkan mengantar Ivana ke kantor seperti biasa.
3903Please respect copyright.PENANA1iA2TIu6jx
Di depan gedung, sebelum Ivana turun, gadis itu menoleh dan berkata pelan.
3903Please respect copyright.PENANATmJFxS7L6C
“Malam ini… aku mau lagi. Aku mau kamu mengentotku di setiap posisi yang bisa kita lakukan.”
3903Please respect copyright.PENANAydDRhM29aA
Arkan menatapnya. “Ivana…”
3903Please respect copyright.PENANAC1xzVIoP4L
“Janji, Mas,” potong Ivana. “Aku sudah tidak bisa berhenti. Aku sudah menjadi milikmu.”
3903Please respect copyright.PENANA7fHJVeJjtn
Arkan mengangguk pelan. “Baik.”
3903Please respect copyright.PENANAQfoXOzEALb
Ivana tersenyum puas, lalu turun dari mobil.
3903Please respect copyright.PENANABGizg4lZM5
Arkan memandang Ivana berjalan masuk ke gedung. Rok pensil hitamnya membalut bokongnya dengan sempurna. Setiap langkah membuat bokong itu bergoyang pelan.
3903Please respect copyright.PENANAB75FtnudS9
Ia tahu malam ini akan menjadi malam yang lebih liar lagi.
3903Please respect copyright.PENANAsNikeEwv3N
Tapi di balik nafsu yang membakar, ada satu bayangan yang tidak bisa ia usir:
3903Please respect copyright.PENANAjF89QgHlLw
Livia.
3903Please respect copyright.PENANAUd99ywPequ
Dan Arkan tidak tahu berapa lama lagi ia bisa menyembunyikan semua ini dari istrinya.3903Please respect copyright.PENANA4qKut42vBc


