Siang itu cuaca Surabaya terasa panas dan lembab. Galih, pemuda berusia 21 tahun yang ganteng dengan tubuh sixpack dan wajah tampan, berjalan menuju rumah Tante Nella di kompleks perumahan yang cukup mewah. Ia adalah keponakan jauh Tante Nella yang kebetulan tinggal di dekat rumahnya. Beberapa hari lalu, Tante Nella meminta tolong Galih untuk membantu memperbaiki genteng rumah yang bocor karena hujan deras kemarin.
Galih mengetuk pintu rumah dengan sopan. Tak lama kemudian, pintu terbuka. Tante Nella muncul dengan senyum ramah. Usianya 38 tahun, tapi penampilannya masih sangat muda dan cantik. Tubuhnya tinggi semampai dengan kulit putih mulus yang terawat. Payudaranya besar dan montok, terlihat jelas meski ia memakai kaos longgar dan rok rumah yang sederhana. Rambutnya tergerai panjang, bibirnya penuh, dan matanya indah dengan tatapan yang lembut.
“Galih, masuk nak. Terima kasih ya sudah mau membantu Tante,” kata Tante Nella dengan suara lembut dan ramah.
Galih tersenyum. “Iya Tante, tidak apa-apa. Saya senang bisa membantu.”
Tante Nella mengajak Galih ke belakang rumah untuk melihat genteng yang bocor. Saat Tante Nella membungkuk untuk menunjukkan titik kebocoran, kaos longgarnya agak longgar di bagian dada. Galih tak sengaja melihat belahan payudara Tante Nella yang besar dan putih. Kontolnya langsung bereaksi, mengeras di balik celana pendeknya.
Tante Nella sepertinya tidak sadar. Ia terus berbicara dengan nada biasa. “Gentengnya di sini yang bocor, Galih. Tante sudah lama tidak ada yang bantu memperbaiki. Suami Tante sudah meninggal tiga tahun lalu, jadi banyak hal yang Tante kerjakan sendiri.”
Galih berusaha fokus, tapi matanya sesekali melirik payudara Tante Nella. “Iya Tante, nanti saya perbaiki. Tante tunggu di bawah saja, biar saya naik ke atas.”
Galih naik ke atap dengan tangga. Sementara itu, Tante Nella menunggu di bawah sambil sesekali melihat ke atas. Saat Galih membungkuk, celana pendeknya agak ketat, memperlihatkan bentuk kontolnya yang sudah setengah tegang. Tante Nella tak sengaja melihat dan langsung tersipu. Sudah lama sekali ia tidak melihat sesuatu seperti itu. Payudaranya terasa hangat, dan memeknya mulai basah tanpa disadari.
Setelah selesai memperbaiki genteng, Galih turun. Tubuhnya berkeringat. Kaosnya basah menempel di sixpack-nya yang terbentuk sempurna.
Tante Nella tersenyum. “Terima kasih banyak ya Galih. Tante buatkan minum dulu.”
Mereka duduk di ruang tamu. Tante Nella membawa segelas es teh. Saat ia membungkuk untuk meletakkan gelas, payudaranya yang besar hampir keluar dari kaos longgarnya. Galih melihat dengan jelas. Kontolnya semakin keras.
Tante Nella duduk di sebelah Galih. Mereka mengobrol ringan. Tapi suasana mulai terasa panas. Tante Nella sesekali melirik ke arah selangkangan Galih yang sudah menonjol.
“Galih… kamu sudah besar ya sekarang,” kata Tante Nella dengan suara lembut. “Tante ingat dulu kamu masih kecil. Sekarang sudah ganteng dan… kuat.”
Galih tersenyum malu-malu. “Iya Tante. Saya sudah kuliah semester 4.”
Tante Nella menggigit bibir pelan. Sudah tiga tahun ia menjadi janda. Tidak ada yang menyentuhnya. Nafsunya mulai bangkit melihat tubuh Galih yang muda dan kuat.
Tiba-tiba Tante Nella berdiri dan berpura-pura mengambil sesuatu di rak atas. Ia sengaja membungkuk tinggi. Roknya naik, memperlihatkan paha putih mulusnya yang indah.
Galih tidak tahan lagi. Ia berdiri dan mendekat dari belakang. Tangan kanannya menyentuh pinggang Tante Nella pelan.
“Tante… maaf… tapi Tante sangat cantik,” bisik Galih.
Tante Nella berbalik. Wajahnya merah, tapi matanya penuh nafsu. “Galih… Tante sudah lama sekali tidak disentuh. Kamu… mau bantu Tante?”
Galih mengangguk. Ia langsung mencium Tante Nella dengan lembut. Tante Nella membalas ciuman itu dengan rakus. Lidah mereka saling menari. Tangan Galih meraba payudara Tante Nella yang besar dari luar kaos.
“Ahh… Galih… payudara Tante sudah lama tidak dipegang,” desah Tante Nella.
Galih membuka kaos Tante Nella. Payudaranya yang besar dan putih langsung terpampang. Putingnya sudah mengeras. Galih langsung menghisap putingnya dengan rakus.
“Uhh… enak sekali… hisap lebih kuat Galih,” erang Tante Nella sambil memegang kepala Galih.
Galih menghisap bergantian sambil meremas payudara Tante Nella. Tangan kanannya turun dan meraba memek Tante Nella dari luar rok. Memeknya sudah sangat basah.
“Memek Tante sudah basah sekali,” bisik Galih.
Tante Nella membuka roknya. Ia tidak memakai celana dalam. Memeknya yang tebal dan mulus terlihat jelas.
“Sentuh Tante, Galih… Tante sudah lama tidak disentuh,” pintanya dengan suara gemetar.
Galih memasukkan jari ke memek Tante Nella dan memompa pelan. Tante Nella mendesah keras.
“Enak… jari kamu tebal… lebih dalam Galih…”
Galih memompa jarinya lebih cepat. Tante Nella orgasme pertama dengan tubuh gemetar. Cairannya menyembur ke tangan Galih.
Tante Nella berlutut di depan Galih. Ia membuka celana Galih dan mengeluarkan kontolnya yang 19 cm dan tebal.
“Kontolmu besar sekali… Tante belum pernah lihat yang sebesar ini,” kata Tante Nella sambil menggenggamnya dengan kedua tangan.
Ia mulai menjilat kepala kontol Galih, lalu menelan sepertiga batangnya ke dalam mulut. Ia menghisap dengan rakus, kepalanya naik-turun.
“Gluck… gluck… kontol Galih enak sekali… Tante suka,” desah Tante Nella sambil menghisap lebih dalam.
Galih memegang rambut Tante Nella dan menggoyang pinggulnya pelan. Tante Nella deepthroat dengan susah payah, tenggorokannya penuh dengan kontol Galih.
Setelah beberapa menit, Tante Nella berdiri dan membungkuk di meja ruang tamu.
“Masukkan sekarang Galih… Tante mau kontolmu di memek Tante,” pintanya sambil menggoyang pantatnya.
Galih memegang pinggul Tante Nella dan menghunjam kontolnya ke memek Tante Nella yang sangat basah.
“Ahh! Besar sekali… kontolmu mengisi memek Tante penuh!” jerit Tante Nella.
Galih mulai menggenjot dengan ritme yang stabil. Setiap hantaman membuat payudara Tante Nella bergoyang liar.
“Lebih keras Galih… hajar memek Tante!” erang Tante Nella.
Galih menghajar lebih cepat. Bunyi plok-plok basah memenuhi ruang tamu. Tante Nella orgasme kedua dengan tubuh gemetar.
“Uhh… Tante keluar lagi… kontolmu enak sekali!”
Galih terus menghajar sampai ia merasa akan keluar.
“Tante… aku mau keluar…”
“Di dalam Tante! Creampie memek Tante! Isi penuh!” jerit Tante Nella.
Galih menghunjam dengan sangat dalam dan menyemburkan sperma panasnya ke dalam rahim Tante Nella dengan deras. Tante Nella orgasme ketiga dengan tubuh gemetar hebat.
Mereka berpelukan lama di meja ruang tamu. Sperma meluber dari memek Tante Nella dan menetes ke lantai.
Tante Nella mencium bibir Galih lembut.
“Terima kasih Galih… Tante sudah lama sekali tidak merasakan ini. Kamu mau datang lagi besok?”
Galih tersenyum. “Tentu Tante. Saya akan datang setiap hari kalau Tante mau.”
ns216.73.217.54da2


