Cerita ini bukan fiksi belaka. Aku punya seorang kawan karib, namanya Wahyu. Dulu kami bekerja di pabrik pengolahan kayu yang sama di kabupaten, sebelum akhirnya ia pindah ke perusahaan perkebunan daerah yang menawarkan posisi jauh lebih bagus. Meski berbeda kantor, hubungan kami tetap erat karena kami berdua memiliki pekerjaan sampingan sebagai fotografer pre-wedding untuk pasangan di sekitar desa dan kecamatan.
Dari sinilah aku, yang merantau sendirian di kota kecil ini, menjadi sangat akrab dengan keluarganya. Saking dekatnya, aku sudah menganggap mereka seperti keluargaku sendiri. Aku juga mengenal baik istrinya, Mbak Ratih. Mereka sudah menikah selama tiga tahun, namun hingga kini, Sang Pencipta belum juga menitipkan buah hati di tengah-tengah keluarga kecil yang mapan itu.
Ketiadaan anak sering kali memicu pertengkaran kecil di antara mereka, dan Wahyu selalu menjadikan aku tempatnya berkeluh kesah. Hingga suatu sore, sehabis sesi foto pre-wedding di kawasan wisata Bukit Pinus yang sejuk, Wahyu membuka pembicaraan yang mengubah segalanya.
"Nu, kita udah kenal berapa lama sih?" tanyanya sambil mengepulkan asap rokok.
"Ya dari zaman aku baru masuk pabrik dulu. Kamu kan udah jadi mandor di sana. Hmm... lima tahunan mungkin?" jawabku santai.
"Iya. Selama ini aku udah nyaman banget temenan sama kamu, kerja bareng, gila-gilaan juga sama kamu."
Aku menautkan alis. Tumben sekali Wahyu bicara melankolis begini. "Wah, ada apa nih? Tumben omonganmu aneh, Mas?"
Wahyu menghela napas panjang, menatap jauh ke hamparan bukit. "Gini, Nu. Aku ada satu permintaan sama kamu. Kamu tahu kan aku sama Ratih udah tiga tahun nikah tapi belum punya anak. Kami berdua udah cek ke dokter spesialis di kota..."
"Ya udahlah, Mas. Mungkin memang belum dikasih rezeki sama Gusti Allah. Disuruh senang-senang dulu, kan jabatan kalian berdua makin oke," potongku.
Secara finansial, pasangan ini memang sangat sukses. Wahyu kini menjabat sebagai Kepala Proyek Perkebunan. Mbak Ratih pun tak kalah hebat, ia menjadi agen distributor logistik pertanian yang menguasai pasar kabupaten.
"Bukan gitu, Nu. Aku ngerasa hidupku hampa tanpa tangisan bayi. Ratih juga ngerasa begitu. Dan... Ratih udah nyerah."
"Oke... terus permintaan apa yang Mas maksud?"
Wahyu terdiam cukup lama. Wajahnya pias. "Gini, Nu... Aku minta tolong sama kamu... untuk bikin istriku hamil."
"APA?!" mataku nyaris melompat keluar. "Mas, kamu jangan bercanda deh. Gila aja, ini kan sama aja aku mengkhianati sahabatku sendiri! Mas Wahyu udah kuanggap kayak kakak kandungku!"
"Aku serius, Nu. Aku udah diskusi panjang lebar sama Ratih soal ini."
"Nggak bisa, Mas! Gila! Apa nggak ada alternatif lain? Bayi tabung kek?" sergahku panik.
"Bayi tabung kemahalan, Nu. Aku udah hitung semuanya. Peluang suksesnya juga cuma 65 persen. Aku nggak mau ambil risiko keluar uang ratusan juta dengan persentase segitu," jawab Wahyu dengan otak matematisnya yang selalu penuh perhitungan. "Dan kalau adopsi, kita nggak tahu bibit bebet bobot anak itu dari mana."
Wahyu menepuk pundakku. "Dengar, Nu. Aku nggak sembarangan milih orang. Aku udah tahu latar belakangmu, keluargamu di kampung, sampai riwayat kesehatanmu. Kamu orang baik, bandel dikit wajar, tapi nggak macem-macem. Kamu kenal baik sama istriku, sama keluargaku. Intinya, aku dan Ratih berdua sepakat milih kamu."
Hatiku terenyuh, sekaligus dihempas kebingungan yang luar biasa. "Aku... aku nggak bisa mikir sekarang, Mas. Kasih aku waktu."
Fantasi yang Menjadi Nyata
Diam-diam... bagai dirasuki setan, aku sebenarnya sangat mengagumi istri kawanku ini.
Mbak Ratih berusia 32 tahun, lima tahun lebih tua dariku. Penampilannya selalu memancarkan aura kematangan yang elegan. Jika ia menjemput Wahyu sehabis kerja, ia sering mengenakan blazer atau kebaya modern yang justru menonjolkan daya tarik sensualnya tanpa perlu terbuka. Kulitnya kuning langsat bersih, rambutnya dipotong sebahu.
Bentuk tubuhnya tidaklah kurus kerempeng, melainkan berisi, sintal, dan mematikan. Daya tarik utamanya adalah bukit kembarnya yang sangat penuh dan padat. Di balik balutan baju kerjanya yang resmi sekalipun, siluet lekuk tubuhnya bagaikan sihir yang memaksa mata lelaki untuk terus menatap. Makanya, setiap kali mengobrol dengannya, aku selalu memaksakan diri menatap pangkal hidungnya. Aku takut mataku tertangkap basah sedang menggerayangi keindahan tubuhnya.
Dua minggu berlalu, dan pikiranku masih kacau. Secara insting lelaki, membayangkan bisa menguasai tubuh Mbak Ratih dengan restu suaminya adalah fantasi terliar yang jadi kenyataan. Namun, hati nuraniku terus berontak mengingat kebaikan Wahyu yang tak terhitung jumlahnya. Modalku menjadi fotografer saja 90 persen dari pinjaman uangnya.
Sebuah pesan masuk di ponselku. Dari Wahyu.
"Nu, tolong aku. Aku nggak pernah minta tolong sebesar ini sama kamu. Jangan anggap ini utang budi, tapi anggaplah ini permintaan terakhir sahabatmu. Please..."
Membaca pesan itu, pertahananku runtuh.
"Oke, Mas. Aku setuju. Aku harap ini bukan lelucon gilamu."
"GREAT!!! Aku kabarin Ratih sekarang."
Hari Rabu, kami bertiga sepakat bertemu di sebuah kafe sepi di alun-alun kabupaten. Saat aku sedang mengaduk es kopiku dengan tangan berkeringat dingin, seseorang menepuk pundakku.
"Hai, Nu!" sapa Mbak Ratih yang datang bersama Wahyu.
"Eh, hai... Mbak," jawabku salah tingkah.
"Mbak? Sejak kapan kamu manggil aku Mbak kalau lagi di luar?" protes Ratih dengan senyum manisnya.
"Lagi grogi dia," celetuk Wahyu santai, seolah kami hanya sedang membahas proyek pemotretan.
"Nu, rileks aja kenapa sih," ujar Ratih.
Kami duduk bertiga dalam suasana canggung yang kental. Wahyu kemudian mengambil alih pembicaraan.
"Makasih banyak ya, Nu. Nah, soal teknisnya, aku nggak mau tahu. Kalian berdua atur aja kapan dan di mana. Jangan pernah kasih tahu aku. Aku nggak mau dengar detailnya karena bagaimanapun aku manusia biasa, aku pasti cemburu kalau ngebayanginnya."
Itulah yang kutakutkan. Mengkhianati, meski dengan izin, tetaplah melukai.
Ratih menatapku. "Nanti aku hubungi kamu ya, Nu. Ini ada hubungannya sama masa suburku, jadi harus dilakuin di waktu yang bener-bener pas." Aku hanya bisa mengangguk pasrah.
Pertemuan di Rumah Gedong
Lusa harinya, pesan dari Ratih masuk. Wahyu sedang bertugas ke luar kota. Sore itu, sebelum langit gelap, aku memacu motorku menuju rumah besar mereka di pinggiran desa. Jantungku berdegup gila. Aku belum pernah merasa segugup ini, bahkan melebihi pengalaman pertamaku dulu.
Begitu aku menekan bel, pintu kayu jati itu langsung terbuka.
"Hai, Nu... masuk yuk," sapa Ratih. Senyumnya membuat pertahananku meleleh.
Ratih menyuruhku duduk di ruang tengah. Di atas meja kaca, terdapat sebuah kalender besar yang ditandai dengan spidol merah. Itu siklus kesuburannya. Aku sedang berpura-pura mengamati kalender itu ketika Ratih datang dari dapur membawa minuman dingin.
Sore itu, Ratih tampil luar biasa menggoda. Rambut sebahunya diikat asal ke belakang, mengekspos tengkuk putihnya yang jenjang—mengundang hasrat untuk dikecup. Ia mengenakan kaus tanpa lengan berwarna putih yang cukup tipis, hingga siluet pakaian dalam hitam berendanya tercetak jelas membungkus bukit kembarnya yang penuh. Celana pendek yang membalut pinggulnya mencetak sempurna bokongnya yang sintal. Ratih benar-benar mahakarya yang diciptakan untuk meruntuhkan iman laki-laki.
"Ngelamunin apa hayo? Belum apa-apa udah ngayal," goda Ratih membuyarkan tatapan kosongku.
"Nggak kok. Cuma kagum dan iri sama Mas Wahyu bisa punya istri sesempurna ini," balasku jujur.
Ratih duduk di karpet tebal, tepat di sebelah kakiku. Ia menyandarkan kepalanya di lututku.
"Nu... kamu tahu nggak alasan sebenarnya kenapa kami nggak bisa punya anak?" suaranya merendah, seketika berubah sendu. Aku menggeleng pelan.
"Kamu ingat kecelakaan Mas Wahyu di Jalur Tengkorak dua tahun lalu?"
Ingatanku melayang. Mobil Wahyu hancur ditabrak truk rem blong dari arah berlawanan. Separuh tubuh bagian bawahnya remuk hingga harus dioperasi berkali-kali.
"Sejak saat itu, Mas Wahyu kehilangan fungsi seksualnya, Nu. Dia nggak bisa 'bangun' lagi, apalagi ngasih benih. Selama ini, urusan ranjang kami cuma sebatas petting atau dia memuaskanku pakai alat bantu. Aku cinta suamiku, Nu... tapi aku perempuan normal. Aku butuh kehangatan sentuhan yang asli, dan aku pengen banget jadi seorang ibu."
Aku terhenyak mendengarnya. Kasihan Wahyu, dan betapa tersiksanya Ratih.
Setelah jeda emosional itu, wajah Ratih perlahan kembali ceria. Tatapannya berubah menjadi sayu dan penuh gairah saat menatap mataku.
"Jadi, Nu... kamu mau kan muasin aku? Cuma kamu yang kami percaya."
Tanpa ragu lagi, aku menunduk dan mendekatkan wajahku. Ratih menyambut bibirku dengan kehausan yang luar biasa. Ciuman kami meledak penuh nafsu, seolah membalas dendam pada waktu. Sambil duduk di karpet, tangannya melingkar kuat di leherku, sementara tanganku langsung meraup dan meremas payudaranya yang besar nan kenyal itu.
Setelah beberapa menit pergumulan bibir yang memabukkan, Ratih melepaskan tautan kami dengan napas tersengal.
"Udah nunggu di kamar tamu ya," bisiknya nakal sambil bangkit dan berjalan melenggok memasuki kamar.
Aku segera melucuti pakaianku, hanya menyisakan celana boxer, lalu menyusulnya. Di dalam kamar tamu yang temaram, Ratih telah berbaring. Kaus dan celana pendeknya sudah lenyap. Yang tersisa hanya pakaian dalam berenda yang tampak kewalahan menopang keindahan tubuhnya.
Aku merebahkan diri di sampingnya. Ratih memutar tubuh menghadapku. Jemari lentiknya mulai menari di dadaku, turun menyusuri perut, lalu menyelinap masuk ke balik boxer-ku, menggoda kejantananku yang sudah menegang sakit, sebelum menarik jarinya lagi.
Ia mulai menghujani tubuhku dengan ciuman. Kucumbu leher dan pundaknya. Di puncak gairahnya, Ratih melucuti sisa pakaiannya sendiri. Kini kami berdua sepenuhnya menyatu dengan kulit.
Ratih beringsut turun. Matanya menatap kejantananku dengan binar takjub. Tanpa aba-aba, ia memberikan sentuhan bibir yang sangat lembut, melumatku dalam hangatnya mulutnya. Sensasi itu membuatku nyaris gila. Pinggulku bergetar menahan desakan nikmat saat lidahnya bermain dengan lincah.
Tak mau kalah, aku membalas memanjakannya. Kutelusuri setiap inci keindahan tubuhnya dengan bibirku. Saat aku memfokuskan cumbuanku pada pusat gairahnya yang bersih, wangi, dan sudah sangat basah, Ratih merintih liar. Tangannya menjambak rambutku, pinggulnya menggelepar seiring sapuan lidahku.
"Teruuusss... Nuuu... mmmmhhh... teruuuss..." erangnya.
Tiba-tiba, paha Ratih menjepit kepalaku dengan sangat kuat. Tubuhnya mengejang kaku.
"AAAaaaaahhhhhhhhh... ya ampuuuuuuunnnhhhh... Nu, kamu hebat banget!"
Ratih orgasme dengan sangat hebat hingga cairan madunya membanjiri wajahku. Ia bernapas putus-putus, menatapku dengan mata berkaca-kaca karena kepuasan.
"Sekarang menu utamanya, Nu," bisiknya serak.
Ia berbaring telentang, membuka kedua kakinya lebar-lebar. Aku menindih tubuhnya, menyejajarkan kejantananku dengan pintu rahimnya. Ternyata, meskipun ia sudah orgasme, jalan masuk itu terasa sangat sempit bukti bahwa ia sudah sangat lama tidak merasakan penyatuan yang sesungguhnya.
"Sempit banget, Ratih," bisikku tertahan.
"Masukin aja... nggak apa-apa..." desisnya menggigit bibir.
Dengan satu dorongan pelan namun pasti, pusakaku berhasil menembus pertahanannya. Ratih memekik tertahan. Kuku-kukunya menancap di punggungku. Namun, rasa sakit itu dengan cepat berubah menjadi erangan nikmat saat aku mulai mengayunkan pinggul.
Ritme penyatuan kami tercipta sempurna. Sempit, hangat, dan basah. Di tengah pergumulan, Ratih meminta bertukar posisi. Ia menunggangiku, membiarkan bukit kembarnya yang ranum berguncang hebat mengikuti setiap ayunan pinggulnya. Wajahnya menengadah, matanya terpejam meresapi setiap inci kejantananku yang memenuhi rahimnya. Lenguhan dan desahannya memenuhi seisi kamar.
"Nuuu... dalem banget... ahhhh!"
Gerakan Ratih semakin brutal. Tubuhnya kembali ambruk ke dadaku, ia menciumku dengan rakus, dan kembali mengejang. Itu orgasme ketiganya!
Aku membalikkan keadaan. Kini Ratih dalam posisi membelakangiku. Dengan pemandangan lekuk punggung dan bokongnya yang sempurna, aku menghunjamnya dari belakang dengan tempo yang sangat cepat.
"Teeeeeehhhh... aku mau keluarrrr!" erangku tak sanggup lagi menahan.
"Iyaaa Nuuu... keluarin di dalem ajaaa! Penuhin rahimku!" jerit Ratih histeris.
Detik berikutnya, ledakan itu terjadi. Aku membenamkan pusakaku sedalam mungkin, dan menyemburkan seluruh lahar panasku langsung ke dasar rahim istri sahabatku ini. Sensasinya luar biasa melegakan. Aku bisa merasakan dinding rahim Ratih berkedut ritmis menyambut benihku.
Kami ambruk di atas kasur, terengah-engah dalam pelukan erat yang dibanjiri keringat.
"Enak banget, Nu. Aku beruntung banget, setelah puasa sekian lama, langsung dapat perlakuan sedahsyat ini dari kamu," bisik Ratih sambil mengecup pundakku.
Malam itu, kami tertidur pulas. Namun tak lama, Ratih membangunkanku lagi, dan kami kembali bercumbu hingga fajar menyingsing.
Rahasia yang Tak Pernah Usai
Satu setengah bulan berlalu sejak 'uji coba' dan beberapa kali pertemuan rutin kami, baik di rumahnya saat Wahyu tak ada, maupun di hotel di luar kota. Hingga akhirnya, berita gembira itu datang: Ratih positif hamil.
Wahyu, Ratih, dan seluruh keluarga besarnya bersuka cita luar biasa. Aku pun turut bahagia. Benihku berhasil tumbuh menjadi anak yang kelak akan dibesarkan oleh Wahyu, dengan fasilitas dan kasih sayang yang jauh lebih baik daripada yang bisa kuberikan.
Aku dan Wahyu tetap bersahabat erat hingga hari ini.
Namun, ada satu rahasia gelap yang Wahyu tak pernah tahu. Meskipun tiga tahun telah berlalu dan Ratih telah melahirkan anak biologisku, hubungan asmara bawah tanah antara aku dan Ratih tak pernah benar-benar berhenti.
Mungkin Wahyu tahu dan memilih menutup mata demi menjaga keutuhan rumah tangganya, entahlah. Yang aku tahu, aku tak pernah menemukan cara untuk mengakhiri perselingkuhan ini. Mencumbu dan memiliki tubuh Ratih telah menjadi candu terindah yang tak bisa kulepaskan.
ns216.73.216.208da2


