Sebut saja namanya Alana. Ia adalah mahakarya perpaduan dua darah yang mengalir di nadinya. Ayahnya, seorang perwira menengah militer yang tegas dari tanah Minahasa, Manado, mewariskan tatapan mata yang tajam dan kulit putih porselen. Sementara ibunya, seorang pengusaha butik terkemuka dari tatar Pasundan, Bandung, memberinya kelembutan tutur kata dan lengkung senyum yang mampu melumpuhkan logika pria mana pun.
Singkat cerita, takdir mempertemukanku kembali dengan masa laluku di bawah rintik gerimis Kota Bandung. Jalan Braga sore itu cukup ramai, namun mataku langsung terpaku pada sebuah siluet yang sangat kukenal. Bram. Sahabat karibku sewaktu kami masih sama-sama menimba ilmu di sebuah universitas di Yogyakarta. Dulu, di kota pelajar itu, kami ibarat dua sisi koin yang tak terpisahkan. Bram sering menginap di kamar kosku yang sempit, berbagi sebungkus mie instan berdua, dan ia tak pernah pelit mentraktirku saat kiriman uang bulanannya tiba.
“Kenzie! Ya Tuhan, mataku tidak rabun, kan? Ini benar-benar kau, Kenzie!” serunya dengan suara bariton yang menggema, memecah kebisingan Braga. Ia setengah berlari menghampiriku, lalu merangkul tubuhku dengan pelukan persaudaraan yang begitu erat.
“Bram… astaga, sungguh tak bisa kupercaya kita bertemu di sini,” balasku, membalas pelukannya dengan mata yang tiba-tiba terasa memanas. Kehangatan persahabatan lama itu seolah mencairkan bongkahan es keputusasaan yang sejak sebulan lalu membeku di dadaku.
“Ke mana saja kau selama ini, Kawan? Aku sudah mencarimu ke mana-mana! Kita tidak boleh berpisah begitu saja hari ini. Kau harus menginap di rumahku, sehari, dua hari, atau sebulan pun tak masalah!” cecar Bram dengan antusiasme yang meletup-letup. Ia menatapku dari atas ke bawah, seolah menyadari penampilanku yang agak lusuh.
“Kita lihat nanti, Bram. Yang jelas, aku sangat bersyukur semesta mempertemukan kita di sini. Mungkin inilah yang namanya takdir baik di tengah jalan buntu. Aku sama sekali tidak menyangka kau menetap di Bandung,” jawabku, mencoba menyembunyikan getar getir dalam suaraku.
“Ayo, jangan banyak alasan. Kita pulang ke rumahku sekarang. Kita bisa bernostalgia semalaman, dan… oh, tentu saja, aku harus memperkenalkanmu pada bidadari yang kini menjadi istriku,” ajaknya seraya menarik lenganku menuju sebuah mobil SUV mewah keluaran Eropa yang terparkir di tepi jalan.
Sepanjang perjalanan menuju kawasan Dago Pakar, aku hanya bisa terdiam mengagumi pencapaian sahabatku ini. Saat mobil memasuki gerbang sebuah vila berlantai dua yang megah, rasa rendah diriku perlahan merayap naik. Lantai dasar vila itu disulap menjadi kantor dan gudang distribusi perusahaannya yang berkembang pesat, sementara lantai atas adalah singgasana pribadi kediamannya. Aku melangkah di belakangnya, menunduk menatap sepatu kulitku yang solnya sudah mulai menipis, membandingkannya dengan kilau lantai marmer rumahnya.
“Inilah buah dari peluh dan air mata kami selama beberapa tahun merantau di Bandung, Ken,” ujar Bram sambil menunjuk deretan produk dan kesibukan beberapa karyawannya di lantai bawah.
“Luar biasa, Bram. Kau benar-benar telah menaklukkan kota ini. Bisnismu sangat cemerlang. Sangat jauh berbeda denganku… yang bahkan masih meraba-raba di mana letak sumber rezekiku,” kataku, tersenyum kecut menertawakan nasibku sendiri.
Bram menepuk bahuku menguatkan, lalu menuntunku naik ke lantai dua. “Alana! Sayang, kemarilah sebentar! Lihat siapa yang kubawa pulang. Ini Kenzie, sahabat yang sering kuceritakan padamu itu!” teriak Bram dengan nada penuh kebanggaan.
Tak lama, dari balik pintu berukir indah, muncullah sosok itu.
Langkahku seolah terhenti, dan waktu terasa melambat. Di depanku berdiri seorang wanita yang kecantikannya terasa begitu tidak nyata. Usianya kutaksir baru sekitar dua puluh lima tahun. Tubuhnya mungil dan ramping, dengan tinggi tak lebih dari seratus empat puluh lima sentimeter, namun proporsinya begitu sempurna. Rambut lurusnya yang sehitam malam tergerai bebas melewati bahu.
“Alana,” ucapnya dengan suara yang sehalus sutra, menyodorkan tangannya ke arahku. Ia tersenyum, sebuah senyuman manis yang melengkung indah, memancarkan keramahan dan kehangatan yang seolah mampu menembus langsung ke relung kalbuku.
“Kenzie,” balasku dengan nada yang kutahan agar tak terdengar gemetar. Saat telapak tanganku menyentuh jemarinya, ada sengatan kehangatan yang aneh. Kulitnya begitu lembut, sangat terawat. Wangi parfumnya—perpaduan antara bunga melati malam dan sentuhan vanilla—menguar di udara, menyergap indera penciumanku dan meninggalkan jejak yang memabukkan.
Setelah penyambutan yang ramah itu, Alana mempersilakanku duduk di sofa ruang keluarga yang empuk, lalu dengan sigap undur diri ke dapur. Tak lama berselang, di tengah obrolanku dengan Bram tentang masa lalu, Alana kembali dengan nampan berisi dua cangkir kopi susu panas dan aneka camilan premium.
“Silakan dinikmati, Kak Kenzie. Maaf hanya hidangan seadanya,” ucap Alana lembut seraya meletakkan cangkir di hadapanku.
“Terima kasih banyak, Alana. Ini lebih dari cukup,” jawabku. Senyumannya, nada suaranya yang mendayu, dan gerak-geriknya yang begitu anggun membuat hatiku berbisik iri. Betapa beruntungnya Bram. Pria itu tidak hanya sukses dalam karir, tetapi juga berhasil memenangkan hati seorang wanita yang mendekati kesempurnaan. Andaikan saja takdir memberiku istri yang penuh kelembutan seperti Alana, mungkin kakiku tak akan pernah melangkah pergi meninggalkan rumah.
Tiba-tiba, tepukan keras di pundakku membuyarkan lamunanku. “Hei! Kenapa malah melamun, Ken? Apa yang mengganggu pikiranmu? Ada masalah berat?” tanya Bram dengan raut khawatir.
Aku tersentak pelan. “A-ah, tidak, Bram. Tidak ada apa-apa. Aku hanya… merenung sejenak betapa ajaibnya pertemuan kita hari ini,” elakku, menutupi kecamuk di dadaku.
Alana yang sedari tadi berdiri di dekat kami hanya terdiam mendengarkan. Namun, dari sudut mataku, aku bisa menangkap tatapannya yang sesekali mencuri pandang ke arahku, tatapan yang menyiratkan rasa ingin tahu dan sebuah empati tersembunyi.
“Nah, sekarang giliranmu, Kenzie. Ceritakan tentang kehidupanmu di Yogya bersama istrimu. Sejak tadi hanya aku yang memonopoli percakapan. Santai saja, hari ini aku kosongkan jadwalku khusus untuk menyambutmu. Bukankah begitu, Sayang?” kata Bram seraya melingkarkan tangannya di pinggang Alana, mencari persetujuan dari sang istri. Alana hanya mengangguk pelan dengan senyum tipis.
Aku menghela napas panjang. Dudukku kuperbaiki, mencoba menata kepingan harga diriku yang telah lama hancur.
“Baiklah. Tapi maaf jika ceritaku mungkin merusak suasana bahagia ini,” kataku, menunduk menatap kepulan asap dari cangkir kopiku. “Kehidupan rumah tanggaku… sangat bertolak belakang dengan surga yang kalian bangun ini, Bram.”
Suasana tiba-tiba hening. Bram dan Alana menatapku lekat.
“Kedatanganku ke Bandung sebenarnya adalah bentuk pelarian. Aku dan istriku… kami selalu bertengkar hebat. Cekcok tak berkesudahan yang berakar dari ketidakmampuanku. Aku kesulitan mencari pekerjaan tetap yang bisa menghidupi keluarga kami secara layak. Makian, tuntutan, dan rasa rendah diri itu akhirnya memaksaku mengemasi barang dan pergi dari Yogya demi mencari peruntungan di kota ini. Belum sempat aku mendapatkan pekerjaan setelah berhari-hari luntang-lantung, Tuhan menuntunku padamu, Bram. Entahlah, aku hanya berharap perjumpaan kita ini adalah setitik cahaya di ujung terowonganku yang gelap.”
Pecah sudah pertahananku. Sebuah kejujuran yang telanjang di hadapan sahabat yang sukses. Kuangkat wajahku dan kulihat raut simpati yang mendalam di wajah Bram, sementara di mata Alana, kulihat genangan embun keprihatinan yang membuat hatiku bergetar.
Hening yang menyelimuti kami akhirnya dipecahkan oleh Bram. Ia menatap istrinya sejenak, seolah berbicara melalui telepati batin. Alana tersenyum, sebuah anggukan kecil ia berikan pada suaminya.
“Kenzie, dengarkan aku baik-baik,” suara Bram terdengar sangat serius namun penuh ketulusan. “Mungkin Tuhan memang mengirimmu ke rumah ini. Kebetulan sekali, kami sangat membutuhkan kehadiran orang yang bisa kupercaya di sini. Kau tahu… kami belum dikaruniai buah hati. Rumah sebesar ini seringkali terasa sangat sepi dan dingin.”
Bram menggenggam tanganku. “Apalagi jika aku harus dinas ke luar kota, mengurus distribusi ke Jakarta atau Surabaya. Alana seringkali sendirian, dan aku selalu diliputi rasa was-was meninggalkannya. Karena itu, jika kau tidak keberatan, aku memintamu untuk tinggal bersama kami di sini. Anggap saja ini pekerjaan barumu. Kau membantuku menjaga rumah ini, menemani istriku agar tidak kesepian. Segala kebutuhan hidupmu, makan, tempat tinggal, dan uang saku bulanan, biarku yang tanggung sepenuhnya.”
Aku terperangah. “T-tapi Bram, itu berlebihan. Aku tidak ingin menjadi benalu dalam rumah tanggamu. Biarkan aku mencari kos murah dan pekerjaan kasar di luar sana, aku”
“Kenzie, kumohon jangan menolak,” potong Bram cepat. “Kalau kau menolak, berarti kau meragukan persahabatan kita.”
Aku terdiam, masih diselimuti kebimbangan. Namun, tiba-tiba suara lembut Alana menembus pertahananku.
“Benar, Kak Kenzie. Kami sangat membutuhkan teman dan saudara di rumah ini. Sudah lama Mas Bram memikirkan hal ini, tapi ia selalu was-was membawa orang asing. Kalau Kak Kenzie yang tinggal, kami tidak perlu ragu lagi. Bahkan, kalau Kakak mau, Kakak bisa menjemput istri Kakak untuk tinggal di sini bersama kita.” Alana menatapku dengan sorot mata yang begitu memohon, sebuah tatapan yang sanggup meruntuhkan dinding baja sekalipun.
“Kalau begitu… apa boleh buat. Dengan segala kerendahan hati dan rasa syukur yang tak terhingga, aku menerima kebaikan kalian. Meski aku tak punya keterampilan khusus yang bisa kubanggakan untuk membalasnya,” ucapku pasrah, menahan air mata kelegaan.
Bram langsung bangkit dan memelukku erat. Bahkan, dalam luapan kegembiraannya, ia menoleh pada Alana dan mengecup bibir istrinya itu sekilas di depanku, lalu menepuk punggungku. “Terima kasih, Kawan! Kau tak perlu keterampilan apa pun. Cukup jadilah sahabat yang menemani kami berdiskusi, dan pelindung bagi Alana saat aku tak ada di rumah.”
Bulan pertama berlalu bak mimpi indah yang tak masuk akal. Di vila mewah itu, aku diperlakukan layaknya anggota keluarga kerajaan. Makan dan minumku diurus langsung oleh tangan lembut Alana. Pakaian-pakaianku yang lusuh digantikan dengan kemeja dan celana bermerek yang dibelikan Bram. Kamar tidurku berada di sayap kiri, dilengkapi televisi besar dan pemutar DVD.
Rasa sungkan perlahan luntur oleh keakraban yang mereka bangun. Alana tak pernah menunjukkan jarak antara 'tuan rumah' dan 'tamu'. Kami sering bercengkerama, menonton televisi, dan tertawa bersama. Namun, tanpa kusadari, kebebasan tanpa sekat ini mulai menyemai benih-benih perasaan yang terlarang di sudut hatiku yang paling gelap. Terutama karena setiap bulan, Bram selalu diam-diam mentransfer sejumlah uang yang lumayan besar ke rekening istriku di Yogya tanpa kuminta. Utang budi ini mengikatku, namun pesona Alana mulai membutakanku.
Puncak dari ujian batinku tiba ketika Bram harus berangkat ke Surabaya selama lima hari untuk mengurus tender besar.
Malam sebelum kepergiannya, Alana tampak begitu santai. Tak ada gurat kecemasan di wajah cantiknya. "Pergilah dengan tenang, Mas. Kan sekarang ada Kak Kenzie yang menjagaku di rumah," godanya pada Bram, yang ditanggapi dengan tawa ringan sang suami. Mereka berdua begitu percaya padaku. Kepercayaan yang kelak akan dikhianati oleh badai gairah yang lama terpendam.
Malam pertama kepergian Bram, rintik gerimis turun membasahi Kota Bandung, membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Di ruang keluarga yang temaram, aku dan Alana duduk bersisian di atas karpet beludru yang tebal, menonton film di televisi.
Malam itu, penampilan Alana sedikit berbeda. Ia hanya mengenakan nightgown—gaun tidur berbahan sutra tipis selutut berwarna merah marun. Kain yang mengkilap itu memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna. Setiap kali ia bergerak, wangi vanilla dan melati dari tubuhnya menguar kuat, menyergap langsung ke pusat syarafku.
Ia menyodorkan segelas kopi susu hangat dan sepiring pisang keju buatan tangannya. Kami berbincang hingga larut, bertukar cerita tentang masa lalu, tentang asmara, dan tentang alasan-alasan mengapa pernikahan terkadang menjadi penjara yang sunyi.
Alana merebahkan tubuhnya, berbaring di atas karpet dengan bantal sofa menyangga kepalanya. Ia tepat berada di sebelahku. Sesekali ia memiringkan tubuh menghadapku saat bercerita, membuat garis leher dan belahan dadanya yang mengintip dari balik sutra itu terlihat jelas. Aku menelan ludah dengan susah payah, berpura-pura menatap layar televisi, meski jantungku berdetak liar bagai genderang perang.
“Kak Kenzie, kau tidak keberatan kan menemaniku begadang malam ini? Besok hari Minggu, kita bisa tidur seharian penuh,” tanya Alana dengan suara mendayu, seolah rasa kantuk enggan menyapanya.
“T-tentu saja tidak, Alana. Aku malah senang bisa menemani majikanku yang cantik ini,” jawabku, mencoba mencairkan suasana yang kian memanas di benakku dengan sedikit sanjungan.
Alana tiba-tiba mencubit pinggangku pelan. Sentuhannya terasa seperti sengatan listrik.
“Ih, Kak Kenzie! Kenapa memanggilku majikan? Aku benci sebutan itu. Jangan diulangi lagi, ya!” protesnya dengan bibir yang mengerucut manja.
Aku terkekeh kaku. “Haha, maaf, maaf. Habisnya, aku harus panggil apa? Nyonya? Atau Bos?”
“Panggil saja aku Adik, atau namaku langsung. Bukankah kita sudah seperti saudara?” katanya dengan tatapan yang sulit kuartikan maknanya.
“Baiklah, Adik Alana yang keras kepala,” jawabku.
Malam semakin larut, jarum jam menunjuk angka satu dini hari. Keheningan vila itu hanya dipecahkan oleh suara dialog dari layar televisi dan ritme napas kami berdua. Tiba-tiba, Alana bangkit dari pembaringannya, duduk bersila menghadapku.
“Kak, apa kau dan istrimu sering menonton film dari VCD bersama?” tanyanya pelan. Suaranya terdengar lebih berat, seolah menyimpan sebuah rahasia.
“Pernah, sesekali. Biasanya kami meminjam kaset dari tetangga,” jawabku, menyembunyikan keherananku atas arah pembicaraannya.
“Film apa yang biasa kalian tonton?” desaknya lagi.
“Hanya film drama biasa, atau film Rhoma Irama zaman dulu,” dustaku, mencoba bersikap senormal mungkin.
“Kalau begitu… maukah Kakak menemaniku menonton VCD? Aku punya banyak koleksi di lemari. Judulnya macam-macam. Kakak bisa pilih yang mana saja,” tawar Alana. Matanya menatapku dengan intensitas yang membuat tenggorokanku mengering.
Dalam hati, aku mulai mereka-reka. Mengingat jam yang sudah lewat tengah malam dan keintiman yang terbangun di antara kami, naluri lelakiku menangkap sinyal bahaya. Apakah Alana bermaksud memutar film dewasa? Film yang biasa digunakan pasangan untuk memancing gairah terpendam?
Akal sehatku berontak. Memori tentang kebaikan Bram dan wajah istriku di Yogya saling berkelebat, bertarung hebat dengan hasrat kelaki-lakianku yang telah lama mati rasa.
“Sebenarnya… aku sangat ingin, Na. Tapi… mataku sudah sangat mengantuk. Besok malam saja kita tonton, ya? Aku janji akan menemani,” tolakku dengan suara yang bergetar. Aku takut, jika aku mengiyakan, pertahananku akan runtuh sepenuhnya malam itu juga.
Raut kekecewaan melintas di wajah cantik Alana. Pundaknya sedikit merosot, namun ia tetap tersenyum. “Baiklah kalau Kakak sudah lelah. Aku sama sekali tidak memaksa. Lagipula, aku sudah sangat berterima kasih Kakak mau menemaniku hingga jam segini. Ayo, kita istirahat.”
Ia mematikan televisi. Saat aku beranjak menuju kamarku, aku menoleh sekilas. Di bawah remang lampu lorong, kulihat Alana masih berdiri menatapku dengan pandangan yang sarat akan rasa sepi dan hasrat yang tak terucap. Aku segera menutup pintu kamarku, menyandarkan punggungku di sana dengan napas memburu.
Malam itu, di atas ranjangku yang empuk, aku dihantui kegelisahan yang menyiksa. Pikiran liarku terus membayangkan lekuk tubuh Alana dalam balutan sutra merah itu. Terdengar suara pintu kamar utama di sebelah dibuka dan ditutup berulang kali, diikuti suara gemercik air dari kamar mandi. Alana juga sama gelisahnya denganku.
Keesokan malamnya, badai itu benar-benar datang dan menyapu bersih semua akal sehatku.
Setelah makan malam bersama, kami kembali duduk di ruang keluarga. Kali ini, penampilan Alana jauh lebih berani. Ia mengenakan gaun malam yang sangat tipis dan berpotongan rendah. Aroma parfumnya yang memabukkan menyebar memenuhi setiap jengkal udara di ruang tamu. Darahku berdesir hebat, dan keringat dingin mulai mengalir di tengkukku.
“Kak Kenzie, masih ingat janjimu semalam? Atau matamu sudah mengantuk lagi?” Pertanyaan Alana menyergapku tiba-tiba, suaranya terdengar seperti bisikan iblis yang sangat manis.
“A-ah, iya, aku ingat. Kita mau menonton VCD, kan? Tapi… putar film yang biasa saja ya, Alana. Aku tidak suka film horor, nanti malam aku tak bisa tidur,” jawabku, mencoba mengendalikan arah pembicaraan.
Alana tersenyum, sebuah senyuman nakal yang membuat jantungku nyaris copot. “Kita lihat saja nanti, Kak. Aku yakin Kakak akan sangat menyukai film ini, karena ini adalah mahakarya seni,” ucapnya seraya beranjak menuju kabinet di bawah televisi.
Ia menarik laci, mengambil sekeping kaset VCD yang sepertinya sudah ia persiapkan dengan matang, lalu memasukkannya ke dalam pemutar. Ia kembali berjalan mundur dan duduk menempel tepat di sebelahku. Bahu kami bersentuhan, menghantarkan sengatan panas yang membuat sekujur tubuhku merinding.
Gambar pertama yang muncul di layar adalah pemandangan laut yang indah, menampilkan dua orang wanita cantik yang tengah mengendarai speed boat. Aku sempat bernapas lega, mengira itu hanyalah film aksi atau liburan biasa. Namun, tak berselang lama, adegan beralih ke sebuah vila mewah di tepi pantai. Para pemeran di layar mulai menanggalkan pakaian mereka satu per satu, berciuman dengan liar, dan mempertontonkan pergumulan syahwat yang sangat eksplisit.
Suasana di ruang tamu itu seketika berubah pekat dan panas. Lidahku kelu, tak mampu merangkai kata penolakan yang tadi sempat kusiapkan. Mataku terpaku pada adegan demi adegan vulgar di layar, dan entah mengapa, tubuhku merespons dengan gejolak gairah yang meledak-ledak. Kami berdua hanya terdiam, saling bertukar pandang dalam hening yang dipenuhi oleh napas yang mulai tak beraturan.
“Bagaimana, Kak? Menarik, kan? Atau Kakak ingin kuganti dengan film komedi?” pancing Alana, suaranya bergetar menahan sesuatu yang bergemuruh di dadanya.
Aku tak menjawab. Hanya sebuah lenguhan napas panjang yang lolos dari bibirku, seolah mewakili dahaga yang telah membakar kerongkonganku.
“Apa kau sering menonton film seperti ini bersama suamimu, Alana?” tanyaku dengan suara serak, memecah kecanggungan.
Alana menatapku lekat, matanya berkaca-kaca menyiratkan luka yang dalam. Ia mengangguk pelan, lalu menghela napas panjang yang sarat akan kekecewaan.
“Pernahkah kau membayangkan dirimu berada di posisi mereka, Kak?” tanya Alana tiba-tiba, ketika adegan di layar semakin memanas dan liar.
“M-mungkin… entahlah. Istriku jauh di sana,” jawabku terbata-bata.
“Bagaimana jika dengan wanita lain? Bagaimana jika… denganku, Kak?”
Pertanyaan itu meluncur tanpa ragu dari bibirnya. Alana memiringkan tubuhnya, menyandarkan kepalanya di dadaku. Tangannya yang lembut meraih jemariku, meremasnya dengan penuh damba. Kehangatan tubuhnya yang menempel pada sisiku membakar habis sisa-sisa tembok moral dan agamaku.
Otakku meneriakkan nama Bram, namun jiwaku yang kesepian dan tubuhku yang kelaparan akan kasih sayang, menyerah kalah pada pesona istri sahabatku sendiri. Sudah berbulan-bulan aku tak merasakan sentuhan seorang wanita. Dan di sini, di bawah temaram lampu dan desahan dari layar televisi, seorang bidadari tengah memohon untuk direngkuh.
“Alana… kau serius? Ini bukan sekadar ilusi malam, kan?” tanyaku, memberanikan diri melingkarkan lenganku di pinggang rampingnya.
“Akan kubuktikan betapa seriusnya aku padamu, Kak,” bisik Alana.
Dalam sekejap mata, Alana bangkit. Dengan gerakan yang gesit dan penuh dominasi, ia mengangkangi kedua pahaku, mendudukkan tubuh mungilnya di atas pangkuanku. Tangannya merangkul leherku erat, dan sebelum aku sempat menarik napas, bibirnya yang ranum dan manis telah membungkam bibirku.
Ciuman itu begitu menuntut, putus asa, dan sarat akan kerinduan yang lama tak bertuan. Aku menyambutnya dengan sisa kewarasan yang telah hancur lebur. Tangan kasarku memeluk punggungnya yang halus, menariknya semakin rapat hingga tak ada lagi celah udara di antara kami.
“Ayo, Kak. Aku sudah tak tahan lagi. Buktikan bahwa kau adalah pria sejati yang bisa menyelamatkanku dari kebekuan ini,” rintih Alana di sela-sela ciuman kami, tangannya mulai bergerilya mencoba membuka kancing kemejaku.
Aku membawanya turun dari sofa, membaringkan tubuhnya di atas karpet beludru abu-abu yang tebal. Napasku memburu, menatap mahakarya Tuhan yang kini berbaring pasrah di bawah kendaliku.
“Lepaskan semua pelindungmu, Kak. Jangan biarkan aku tersiksa dalam penantian ini,” pintanya dengan mata yang terpejam dan dada yang naik turun dengan cepat.
Dengan tangan yang sedikit bergetar, aku menanggalkan seluruh pakaianku. Saat aku menoleh ke arah Alana, gaun sutra marun itu telah teronggok di lantai. Mataku terbelalak kagum. Di balik gaun itu, ia sama sekali tak mengenakan pelindung apa pun. Kulitnya putih bersih tanpa cela, tubuhnya meliuk indah bagai pahatan dewa-dewi Yunani. Di bawah bias cahaya televisi, ia adalah perwujudan dari dosa yang paling manis dan tak mungkin bisa kutolak.
“Tenang, Sayang. Malam ini adalah milik kita. Aku akan menghapus semua luka dan kesepianmu, tapi biarkan aku memujamu secara perlahan,” bisikku, merayap mendekati tubuhnya.
Malam itu, diiringi suara gemuruh hujan di luar vila, kami melepaskan segala topeng kemunafikan. Sentuhanku di setiap jengkal kulitnya disambut dengan desahan dan lenguhan yang memabukkan. Alana melengkungkan punggungnya, jari-jarinya menancap di pundakku, seolah mencari jangkar di tengah badai kenikmatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Saat puncak penyatuan itu terjadi, Alana menjerit tertahan. Ia memanggil namaku berulang kali, mengunci tubuhku dengan kedua kakinya seolah tak ingin aku pergi. Pergumulan kami berlangsung dalam ritme yang menggebu-gebu, sebuah pelarian dari rasa sakit yang selama ini ia pendam dalam pernikahan mewahnya yang hampa.
Berjam-jam kami terhanyut dalam lautan asmara, tak mempedulikan waktu yang terus berputar hingga jarum jam menunjuk angka tiga dini hari. Ketika raga kami sama-sama mencapai batasnya, kami terkulai lemas di atas karpet, saling memeluk dalam kehangatan napas yang berkejaran. Layar televisi telah berubah menjadi layar biru, menandakan film telah lama usai, sama seperti usainya pertahanan diri kami.
Ketika mentari pagi mulai menyusup dari sela-sela tirai, aku terbangun dengan tubuh yang lelah namun jiwa yang terasa penuh. Di pelukanku, Alana menatapku dengan mata yang berbinar, sebuah senyuman puas terukir di wajah cantiknya.
“Kak Kenzie… kau luar biasa. Demi Tuhan, aku belum pernah merasa sehidup ini. Belum pernah aku mendapatkan surganya dunia seperti yang kau berikan semalam,” bisik Alana, menyembunyikan wajahnya di dadaku.
“Kau tak perlu merayuku, Alana. Aku tahu posisiku,” jawabku, membelai rambut hitamnya dengan perasaan bersalah yang mulai mengetuk nuraniku.
“Aku tidak berbohong, Kak,” suara Alana berubah lirih dan bergetar, menyiratkan kepedihan yang menyayat kalbu. “Suamiku… Mas Bram… dia memang memberiku segalanya, harta dan kemewahan. Tapi di atas ranjang, dia egois dan selalu terburu-buru. Ia tak pernah benar-benar menyentuh hatiku, tak pernah mempedulikan perasaanku. Seringkali ia kelelahan dan meninggalkanku dalam keadaan hampa. Kau… kau memperlakukanku seperti seorang wanita yang sangat berharga. Andaikan saja takdir mengizinkanmu menjadi suamiku, aku akan bersujud syukur pada semesta setiap hari.”
Hancur hatiku mendengar pengakuan jujur dari bibir wanita yang telah mengkhianati suaminya ini. Di balik rumah mewah ini, tersimpan jeritan seorang istri yang kehausan akan kehangatan emosional dan sentuhan cinta yang sejati.
“Takdir telah menuliskan garisnya, Alana. Kita tak bisa melawan takdir yang menyatukanmu dengan Bram. Dan kita pun tak bisa menyangkal takdir yang membawa kita pada dosa yang manis ini. Yang terpenting, kita telah menemukan kebahagiaan kita, meski dalam sembunyi-sembunyi,” kataku menenangkannya, mengecup keningnya dengan penuh kasih sayang.
“Berjanjilah padaku, Kak Kenzie. Berjanjilah kau akan terus memberiku pelukan ini, memberiku cinta ini, setiap kali Mas Bram tak ada di rumah,” pintanya, menuntut sebuah janji yang akan mengikat kami dalam lingkaran perselingkuhan yang panjang.
“Aku berjanji, Sayang. Tapi… bagaimana jika suatu saat hal ini berbuah menjadi janin? Bagaimana jika kebohonganku terbongkar saat istriku benar-benar menyusulku ke Bandung?” tanyaku, mengutarakan ketakutan terbesarku.
Alana tersenyum menenangkan, mengusap rahangku dengan lembut. “Jangan khawatir tentang istri di Yogya, ia tak akan betah hidup di kota besar ini. Dan tentang anak… aku sudah merencanakan semuanya. Aku telah mengonsumsi pil pengaman jauh sebelum malam ini terjadi. Semuanya aman, Kak. Malam ini, dan malam-malam berikutnya, adalah rahasia abadi milik kita berdua.”
Sejak pagi itu, hidup kami di vila megah di Dago Pakar berubah menjadi panggung sandiwara yang sangat sempurna. Di depan Bram yang pulang membawa kesuksesan dari luar kota, kami adalah majikan dan sahabat yang saling menghormati. Namun, ketika punggung Bram menghilang di balik pintu gerbang untuk bekerja, atau ketika malam larut menidurkan seisi rumah, aku dan Alana kembali menjadi sepasang kekasih yang dimabuk asmara. Kami memadu kasih di setiap sudut rumah, dalam diam, dalam debar ketakutan, dan dalam lautan gairah yang seolah tak pernah ada habisnya.
Entah sampai kapan lakon dosa ini akan bertahan sebelum tirainya ditutup paksa oleh karma. Namun untuk saat ini, kami memilih buta dan membiarkan diri kami tenggelam dalam bayang-bayang cinta terlarang di bawah langit Kota Bandung.
ns216.73.217.39da2


