Ini adalah sebuah rekam jejak romansa rahasia yang mungkin sulit untuk dilupakan. Berdasarkan pengalaman dari seorang pengirim cerita yang memilih untuk merahasiakan identitasnya, kami menggunakan nama samaran untuk menjaga privasi. Silakan simak kisahnya.
Malam yang Sepi di Desa Karangpandan
Sudah bertahun-tahun kegiatan ronda malam di lingkungan desaku, Karangpandan, berjalan dengan sangat tertib. Setiap malam selalu ada satu regu yang terdiri dari tiga orang. Sebagai pemuda lajang yang sudah bekerja, aku sebut saja Dimas mendapat giliran jaga pada malam Minggu.
Pada suatu malam Minggu, giliranku tiba. Namun hingga pukul 23.00, dua orang rekan jagaku tidak kunjung menampakkan batang hidungnya di gardu ronda. Aku tak terlalu ambil pusing. Aku maklum, tugas ronda di desa adalah pengabdian sukarela, tidak etis jika dipaksa-paksa. Biarlah aku meronda sendirian, toh tidak ada masalah.
Karena mata belum mau terpejam, aku memutuskan untuk berkeliling mengontrol kampung. Biasanya kami mengitari rumah-rumah warga hingga ke pekarangan belakang. Ketika langkahku sampai di samping rumah Kang Tejo, mataku menangkap celah kaca nako yang belum tertutup rapat. Aku mendekat, berniat memastikan apakah kaca itu sekadar lupa ditutup atau ada tangan-tangan jahil yang sengaja membukanya. Dengan kehati-hatian ekstra, aku merapat, tetapi ternyata kain korden di baliknya sudah tertutup rapi.
Pikirku, mungkin kemarin sore pemilik rumah lupa merapatkan nakonya dan langsung menarik korden. Namun, mendadak telingaku menangkap suara yang ganjil. Sebuah desahan.
Kupasang telingaku baik-baik. Benar saja, suara itu mengalun dari dalam kamar. Aku mengendap-endap lebih dekat, dan darahku seketika berdesir hebat ketika menyadari itu adalah rintihan dua insan yang sedang memadu kasih. Ini jelas kamar tidur Kang Tejo dan istrinya, Nyi Sari. Aku menempelkan telinga lebih lekat. Suara dengusan napas yang memburu, gemerisik seprai, dan derit ranjang kayu terdengar semakin jelas.
“Ssshh… hhemm… uughh… ugghh,” terdengar rintihan tertahan. Itu tak salah lagi suara Nyi Sari yang sedang digumuli suaminya. Terdengar pula irama persatuan mereka yang bergelora, menandakan betapa intensnya Kang Tejo memanjakan istrinya malam itu.
Aduuh, darahku serasa naik semua ke ubun-ubun, kejantananku seketika mengeras bagai kayu jati. Aku benar-benar dihinggapi rasa iri yang luar biasa membayangkan Kang Tejo menguasai tubuh istrinya. Alangkah nikmatnya jika aku yang berada di sana, mendekap Nyi Sari yang terkenal cantik jelita dan berlekuk tubuh padat mempesona itu.
“Oohh, sshh Nyi, Kang Tejo mau keluar, sshh…. ssshh..” terdengar suara Kang Tejo tersengal-sengal.
Irama pergulatan itu semakin memburu, memuncak, dan kemudian berhenti dengan tarikan napas panjang. Tampaknya Kang Tejo telah mencapai puncaknya dan membenamkan benih hangatnya dalam-dalam. Selesailah persetubuhan malam itu. Aku pun pelan-pelan menjauh meninggalkan pekarangan dengan kepala pening dan tubuh yang menahan ketegangan.
Tumbuhnya Sebuah Obsesi
Sejak malam bersejarah itu, aku jadi seperti detektif partikelir yang ketagihan mengendap-endap mengintip rutinitas suami-istri itu. Walaupun nako kamar mereka tidak pernah terbuka lagi, namun suara rintihan tertahan itu masih sesekali lolos dari sela-sela kaca yang tak rapat.
Biasanya pukul 21.00 mereka masih menonton TV di ruang tengah, dan setelah itu mereka akan mematikan lampu, beringsut masuk ke peraduan. Aku mulai mahir membaca situasi kapan waktu yang aman untuk berada di samping jendela mereka. Apabila kondisinya mendukung, aku akan menempelkan telinga. Kadang mereka hanya bercengkerama sebentar, terdengar gemerisik selimut ditarik, lalu sepi pertanda mereka langsung tidur.
Namun, jika mereka masuk kamar diiringi tawa-tawa kecil, ditambah jeritan lirih Nyi Sari yang kegelian (mungkin karena Kang Tejo nakal mencubit atau meremas tubuhnya), dapat dipastikan itu adalah prolog dari pergumulan asmara. Dan aku, bagaikan tawanan gairah, pasti akan berdiri di sana, mendengarkan hingga tuntas. Rasanya seperti candu mendengar suara dominan Kang Tejo dan desahan pasrah Nyi Sari yang memabukkan.
Hari-hari di desa berjalan normal. Bila kebetulan berpapasan dengan Nyi Sari saat ia berbelanja sayur, aku bersikap biasa saja. Namun, jauh di lubuk hati tak bisa dipungkiri, aku telah jatuh cinta pada istri tetanggaku sendiri. Nyi Sari memang jelita, perawakannya sintal khas kembang desa, sangat pas dengan seleraku.
Aku sadar betul ini adalah asa yang mustahil. Jika aku nekat menggoda Nyi Sari secara terang-terangan, tamatlah riwayatku di Karangpandan. Bisa-bisa aku diamuk massa atau diusir dari desa. Tetapi, jalan nasib tak ada yang tahu. Roda takdir justru berputar memberiku celah untuk menikmati keindahan terlarang itu.
Peluang di Balik Musibah
Suatu hari, tersiar kabar bahwa Kang Tejo harus dilarikan ke rumah sakit kabupaten untuk operasi usus buntu. Sebagai tetangga yang baik dan kebetulan masih bujangan dengan banyak waktu luang aku rajin membesuknya. Tentu saja, ini adalah taktik halusku untuk membangun jembatan kedekatan dengan Nyi Sari.
Sore itu, aku mampir ke rumah sakit bersamaan dengan kedatangan adik ipar Nyi Sari. Mereka bersepakat bahwa malam itu adiknya yang akan menggantikan giliran jaga, mengingat Nyi Sari sudah beberapa hari tidak pulang ke desa untuk beristirahat. Bagaikan pucuk dicinta ulam tiba, aku menawarkan diri untuk mengantar Nyi Sari pulang dengan mobilku. Mereka setuju tanpa curiga dan malah berterima kasih. Hubunganku dengan keluarga itu memang sudah terjalin sangat akrab.
Sehabis magrib, mobilku membelah jalanan pedesaan yang mulai berkabut. Di dalam kabin, Nyi Sari duduk di sebelahku. Awalnya kami berbincang wajar soal pemulihan Kang Tejo yang kabarnya seminggu lagi sudah boleh pulang. Pelan-pelan, kualihkan kemudi obrolan ke arah yang lebih intim atau bisa dibilang, sedikit lebih berani.
"Nyi, maaf ya, sekadar nanya. Ngomong-ngomong Nyi Sari dan Kang Tejo kan sudah berkeluarga sekitar tiga tahun, kok belum diberi momongan ya?" pancingku hati-hati.
"Ya, begitulah Dimas. Kami kan cuma bisa melakoni. Barangkali Gusti Allah belum mengizinkan," jawab Nyi Sari sambil menatap lurus ke jalan.
"Tapi anu lho, Nyi… anuu… bikinnya kan jalan terus," godaku sambil meliriknya.
"Ooh apa, ooh... kalau itu sih, i-iya Dimas," jawabnya terdengar agak salah tingkah.
Sebenarnya kan aku tahu persis, setiap minggu minimal dua kali ranjang mereka berderit, terbayang kembali desahannya yang memabukkan. Darahku kontan berdesir. Aku makin nekat menekan pedal gas obrolan.
"Tapi, kok belum berhasil juga ya, Nyi?"
"Ya, itulah, kami ikhtiar terus. Tapi ngomong-ngomong, kapan Dimas sendiri mau nikah? Sudah kerja mapan, sudah punya mobil, rupa juga lumayan cakep. Cepetan dong. Nanti keburu tua lho," Nyi Sari membalas, mencoba menangkis seranganku.
"Eeh, benar nih Nyi Sari bilang aku cakep? Ah kebetulan, tolong carikan aku calon dong, Nyi. Tolong carikan yang persis kayak Nyi Sari ini lho," kataku melempar senyum penuh arti.
"Lho, kok cuma kayak saya? Yang lain yang lebih cantik kan banyak di desa sebelah. Saya mah sudah tua, jelek lagi," sahutnya diiringi tawa renyah.
Ini momen emas. Harus. Nyi Sari harus kudapatkan.
"Eeh, Nyi. Kita kan nggak usah buru-buru pulang nih. Di rumah Nyi Sari juga kosong nggak ada siapa-siapa. Kita cari makan dulu ya? Mau ya, Nyi, temani aku," ajakku, nadaku sedikit memaksa, menyembunyikan detak jantung yang berdegup kencang karena takut ditolak.
"Tapi nanti kemalaman lho, Dimas," sanggahnya ragu.
"Aah, baru jam tujuh lewat dikit. Mau ya, Nyi," paksaku lembut.
"Yaa gimana ya… ya sudah deh, terserah Dimas. Tapi jangan malam-malam lho."
Batinku bersorak kegirangan. Kami singgah di sebuah warung bakmi jawa yang cukup terkenal di pertigaan kecamatan. Sambil menyantap hidangan, jerat laba-laba perlahan kupersempit.
"Eeh, aku beneran minta tolong dicarikan istri yang auranya kayak Nyi Sari dong. Beneran nih. Soalnya begini, Nyi... tapi eeh, nanti Nyi Sari malah marah sama saya. Nggak usah aku terusin saja deh," aku sengaja menggantung kalimat.
"Emangnya kenapa sih?" Nyi Sari menghentikan suapannya, menatapku dengan kening berkerut penasaran.
"Tapi janji nggak marah lho?" pancingku lagi. Ia mengangguk kecil.
"Anu, Nyi… tapi janji tidak marah lho ya…" Aku menarik napas dalam. "Nyi Sari, terus terang aku terobsesi punya istri seperti Nyi Sari. Aku benar-benar bingung dan rasanya seperti orang gila kalau memikirkan Nyi. Aku sadar ini salah besar. Nyi Sari kan istri tetanggaku yang harus aku hormati. Aduuh, maaf... maaf sekali, Nyi. Aku sudah kurang ajar sekali berani lancang begini," kataku dengan raut wajah menghiba.
Nyi Sari melongo. Ia menatapku tak percaya. Sendok di tangannya terlepas dan jatuh ke piring dengan bunyi clanting yang nyaring.
Bunyi itu mengagetkannya. Wajahnya merona merah padam. Ia tersipu hebat dan tak berani memandang mataku lagi sampai makanan kami habis. Sisa waktu di warung itu kami habiskan dalam diam yang canggung.
Kami masuk kembali ke mobil untuk pulang. Di balik kemudi, pikiranku berkecamuk. Ini sudah telanjur basah. Laki-laki harus nekat untuk menaklukkan wanita. Dengan keberanian yang dikumpulkan dari seluruh sisa tenaga, tangan kiriku meraih tangan kanannya yang bertumpu di atas pangkuan, sementara tangan kananku tetap mengendalikan setir.
Di luar dugaan, Nyi Sari tidak menarik tangannya. Ia justru membalas meremas jemariku perlahan. Batinku meledak dalam sorak-sorai. Aku tersenyum penuh kemenangan menatap jalanan gelap di depan. Tak ada sepatah kata pun yang keluar, namun batin dan perasaan kami telah terpaut lekat. Pikiranku melayang-layang ke langit ketujuh.
Tiba-tiba, sebuah sepeda motor tanpa lampu menyalip mobilku dari arah berlawanan dengan sembrono. Aku tersentak kaget dan membanting setir.
"Awaas! Hati-hati, Dimas!" Nyi Sari menjerit tertahan, cengkeramannya di tanganku mengerat.
"Aduh, nyalib kok nekat amat sih orang itu," gerutuku menetralkan detak jantung.
"Makanya, kalau nyetir jangan macam-macam pikirannya," tegur Nyi Sari.
Kami berdua terdiam sedetik, lalu serempak tertawa. Kebekuan itu cair sudah. Kami tak lagi membisu; sepanjang sisa perjalanan kami mengobrol lepas seolah tak ada batas norma yang baru saja kami terjang. Sesampainya di halaman rumahnya, aku bersikap sopan, hanya mengantarnya sampai pintu masuk dan langsung pamit pulang ke rumahku yang hanya terhalang satu tembok pembatas.
Nyala Birahi di Penghujung Malam
Di kamarku sendiri, mataku menolak terpejam. Kucoba menonton TV, namun tak ada satu pun siaran yang masuk ke otak. Pikiranku terus berkelana menembus tembok, membayangkan Nyi Sari yang kini sedang sendirian di kamarnya, hanya ditemani seorang asisten rumah tangga tua yang tidur di paviliun belakang.
Ada dorongan liar yang begitu kuat untuk menyusup ke rumahnya. Berani nggak? Berani nggak? Kenapa nggak berani?! Entah setan dari penjuru mana yang merasuki sukmaku, tahu-tahu aku sudah membuka pintu rumahku dan melangkah menembus embun malam.
Dengan dada berdebar kencang, aku mengendap ke samping rumahnya dan mengetuk pelan-pelan kaca nako kamarnya.
"Nyi… Nyi Sari, ini Dimas," bisikku lirih.
Terdengar gemerisik dari ranjang di dalam sana, lalu sepi. Mungkin ia kaget, mengira aku ini maling.
"Ini Dimas, Nyi," ulangku.
Kembali terdengar gemerisik. Kain korden tersingkap sedikit. Nako terbuka separuh.
"Lewat belakang!" bisik Nyi Sari cepat.
Darahku mendidih. Aku segera memutar ke arah dapur. Pintu kayu berderit pelan, aku melangkah masuk, dan pintu langsung dikunci kembali dari dalam.
Dalam keremangan ruang belakang, kami saling berhadapan. Tanpa buang waktu, aku merengkuh tubuh Nyi Sari erat-erat. Kuciumi pipinya, hidungnya, dan bibirnya dengan kelembutan yang sarat akan rindu dan gairah yang telah lama kutahan. Nyi Sari tak menolak; ia melingkarkan lengannya di leherku, menyusupkan wajahnya ke dada bidangku dengan napas memburu.
"Aku nggak bisa tidur," bisikku di telinganya.
"Aku juga," desahnya serak, mempererat pelukannya.
Ia melepaskan rengkuhannya sejenak, lalu menuntun tanganku menyusuri lorong menuju kamar tidurnya. Di dalam peraduan yang selama ini hanya bisa kudengar dari luar jendela, kami kembali berpelukan, berciuman dengan nafsu yang tak lagi bisa dibendung.
"Nyi, aku kangen bangeeet. Sungguh, aku kangen," bisikku sambil terus membelai punggung dan pinggangnya yang berlekuk indah. Gairah kami semakin menggelora membakar dinginnya malam.
Ia menarikku jatuh ke atas ranjangnya. Nyi Sari membaringkan dirinya dengan pasrah yang menantang. Tanganku nakal menyusup membelai keindahan tubuhnya. Daster tipis yang dikenakannya tersingkap, memperlihatkan kemolekan yang selama ini hanya hidup dalam bayanganku. Betapa indahnya bukit kembar yang kini tersaji menantang di depan mataku.
Kecupan demi kecupan mendarat, membuat kami berdua seakan lupa daratan. Ia membantuku meloloskan seluruh pakaian hingga kami berdua kembali pada wujud murni yang diciptakan alam. Di atas ranjang Kang Tejo, aku memposisikan diri di atas tubuh Nyi Sari.
Kewanitaannya yang hangat dan basah menyambut kejantananku dengan begitu sempurna. Penyatuan kami terjadi dengan mulus. Aku mengatur ritme pelan-pelan, menikmati setiap detik pertautan ini.
"Aduuh, Dimas… enaak sekali, yang cepaat.. teruus," rintih Nyi Sari di sela desahannya yang melodi. Aku memenuhi permintaannya. Ritme penyatuan kami memburu, menciptakan irama yang selalu kudengar dari luar nako, namun kini akulah sang konduktornya.
"Dimasss, aku mau muncak… muncak, teruus… teruus!" desahnya semakin keras.
Aku pun merasakan gelombang hebat yang bersiap meledak. Kutarik napas panjang, membenamkan diriku dalam-dalam ke pusat gairahnya. Puncak kenikmatan itu pecah, lahar kehangatanku kutumpahkan sepenuhnya di dalam rahim istri tetanggaku ini. Kami berpelukan sangat kuat, menyerap sisa-sisa getaran dahsyat yang membuat nyawa serasa melayang sejenak.
Lemas namun dipenuhi kepuasan absolut. Aku berbaring di sisinya, mengatur napas kami yang masih bersahutan. Tak ada kata-kata untuk beberapa saat, hanya usapan lembut dan ciuman di kening yang berbicara.
Tiba-tiba Nyi Sari memecah keheningan. "Dimas, aku curiga, sebenarnya salah satu dari kami yang mandul. Kalau ternyata aku yang subur, aku harap aku bisa hamil dari benihmu ini. Nanti kalau benar-benar 'jadi', aku pasti kasih tahu. Toh yang tahu bapak kandungnya anak ini cuma aku sendiri, kan? Dengan siapa aku benar-benar membuatnya," bisiknya nakal sambil mencubit gemas pinggangku.
Rahasia yang Melahirkan Kehidupan
Malam itu adalah kali pertama aku merenggut mahkota kesetiaan Nyi Sari. Sejak saat itu, hubungan terlarang kami terus berlanjut. Kami mencuri-curi waktu hingga akhirnya aku menemukan jodohku sendiri dan menikah dengan seorang wanita bernama Ningsih. Walaupun di awal Nyi Sari sempat menunjukkan kecemburuan, perlahan ia bisa memaklumi kondisiku.
Benar saja perkiraan Nyi Sari malam itu. Keluarga Kang Tejo akhirnya dikaruniai seorang anak perempuan yang sangat cantik, kami memanggilnya Ayu. Apabila kami sedang berkumpul bersama warga di depan rumah, Nyi Sari kerap menciumi Ayu bertubi-tubi, sementara sudut matanya melirik jenaka ke arahku dengan senyum simpul yang penuh arti.
Beberapa tetangga yang gemar berkelakar sering meledek Nyi Sari, "Wah, Nyi, waktu ngidam pasti benci banget ya sama Mas Dimas? Lha wong hidung, mata, sampai cetakan bibirnya Ayu kok persis banget sama Mas Dimas!"
Kami hanya bisa tertawa canggung.
Hubungan gelapku dengan Nyi Sari, si tetangga jelita, terus hidup dalam bayang-bayang, bahkan setelah aku berumah tangga. Namun sayangnya, pernikahanku dengan Ningsih yang sudah berjalan lebih dari dua tahun belum juga membuahkan hasil. Istriku tak kunjung mengandung, padahal sumur gairah kami nyaris tak pernah kering siang dan malam.
Kebetulan, Ningsih memiliki gelora asmara yang luar biasa tinggi. Disentuh sedikit saja, api birahinya langsung menyala. Kami sering memadu kasih di sembarang tempat; di kursi ruang tamu, di meja dapur, bahkan di kamar mandi. Ningsih selalu menerima nafkah batinku dengan antusiasme yang membuat hidupku sebagai suami tak pernah terasa hambar.
Tetapi, seiring berjalannya waktu dan perut Ningsih yang tetap rata, kecemasan mulai menggerogotiku. Kalau bicara soal mandul, jelas bukan aku pelakunya. Bukti nyatanya sedang berlarian di halaman sebelah, tumbuh menjadi gadis kecil kesayangan Kang Tejo.
Lalu, apakah Ningsih yang tidak subur? Jika melihat fisiknya yang sehat dan siklus bulanannya yang sangat teratur, rasanya tidak mungkin.
Terkadang terlintas pikiran konyol: Apakah ini hukuman karma karena aku tak henti berselingkuh dengan Nyi Sari? Ah, masa iya? Apakah karena ini dosa besar? Tentu saja ini dosa besar. Tapi karena candu asmara bersama Nyi Sari itu terlalu nikmat untuk diakhiri, dan ia pun selalu menyambutku dengan rindu yang sama, maka hubungan bawah tanah ini dengan lancangnya kami teruskan, pelihara, dan lestarikan.
KODE RAHASIA KAMI:
Untuk mengatur jadwal perjumpaan tanpa mengundang curiga, kami menyepakati sebuah sandi. Sandinya berpusat pada lampu bohlam kuning 5 watt yang menggantung di dekat sumur belakang rumah Nyi Sari.
Biasanya lampu itu selalu menyala semalaman suntuk. Namun, jika Kang Tejo sedang dinas luar kota atau menginap di tempat lain dan rumah benar-benar aman, tepat pukul 20.00 lampu sumur itu akan dipadamkan.
Berhubung bagian belakang rumahnya bisa terpantau jelas dari sudut pekaranganku, aku bisa dengan mudah membaca sinyal tersebut. Cara ini gratis dan bebas jejak digital.
Kendati demikian, kadang sandi itu tak muncul selama satu, dua, bahkan tiga bulan penuh. Jika sudah begitu, aku sering uring-uringan dan frustrasi menahan kangen, sempat mengira Nyi Sari sudah bosan. Padahal nyatanya, kesempatan yang benar-benar 100% aman bagi kami memang jarang tercipta.
Reuni Ranjang di Malam Minggu
Pada suatu siang yang terik, aku berpapasan dengan Nyi Sari di jalan desa. Seperti warga normal, kami saling melempar sapaan sopan. Namun sebelum ia melangkah pergi, Nyi Sari menahan langkah sejenak dan berbisik pelan.
"Mas Dimas, besok malam Minggu ada acara di luar nggak?"
"Kayaknya sih libur, nggak ke mana-mana. Emangnya ada apa, Nyi?" balasku dengan debar jantung yang mulai memacu, menyadari sudah hampir sebulan kami tak berbagi kehangatan.
"Nanti malam ke rumah ya," bisiknya diiringi senyuman malu-malu yang meruntuhkan iman.
"Lho, emangnya Kang Tejo nggak di rumah?"
Ia tak menjawab dengan kata-kata. Nyi Sari hanya tersenyum manis penuh misteri lalu meneruskan langkahnya. Walau ini bukan yang pertama, darahku tetap saja bergejolak membayangkan perjumpaan kami besok malam.
Seperti biasa, malam Minggu adalah jadwal rondaku. Ningsih sudah sangat hafal rutinitas ini, sehingga ia tak pernah menaruh curiga sedikit pun saat aku pamit keluar malam. Di balik kehangatan jaket rondaku, aku sudah menyiapkan diri untuk "tugas khusus". Aku hanya mengenakan kain sarung dan kaus lengan panjang agar tidak kedinginan ditebak angin malam.
Bagi orang desa, tidur mengenakan sarung tanpa pelapis di dalamnya adalah hal yang lumrah, memberi kebebasan dan kelegaan setelah seharian bekerja keras.
Waktu merangkak menunjuk angka 22.00. Mataku awas mengintai dari kejauhan. Klik. Lampu sumur di belakang rumah Nyi Sari padam!
Aku tak langsung menyerbu masuk. Kubawa langkahku memutar, mengitari gang untuk memastikan kondisi desa benar-benar terlelap dan tak ada mata yang mengawasi. Setelah yakin aman, aku berbelok ke pekarangan samping rumahnya.
Ketukan pelan di kaca nako menjadi salam pembuka. Tanpa menunggu balasan lisan, aku memutar ke pintu dapur. Terdengar bunyi slot kunci dibuka dari dalam. Pintu terbuka sedikit, aku melesat masuk bak bayangan, dan pintu segera ditutup serta dikunci kembali. Dalam diam, aku mengekor di belakang Nyi Sari menuju singgasana rahasia kami: kamar tidurnya.
Begitu pintu kamar tertutup, tak ada lagi sandiwara. Kami langsung berhamburan ke dalam pelukan, melahap kerinduan satu sama lain melalui ciuman yang dalam. Hampir sebulan menahan hasrat membuat ciuman malam itu terasa jauh lebih liar dari biasanya.
Nyi Sari kemudian mendorong dadaku pelan. Kedua tangannya bergelayut manja di pinggangku, sementara tanganku merengkuh pundaknya yang lembut. Kami berpandangan mesra. Nyi Sari melempar senyum nakalnya sebelum kembali membenamkan wajahnya di dadaku, menghirup aromaku lamat-lamat.
"Kang Dimas... sudah lama ya kita nggak begini," desahnya manja. Akhir-akhir ini, Nyi Sari suka memanggilku "Kang" atau kadang "Bapaknya Ayu" jika kami sedang berdua, seolah menegaskan status biologis yang sesungguhnya.
"Kang Tejo ke mana sih, Dek?" tanyaku mengelus rambutnya.
"Sedang ikut rombongan piknik paguyuban desa ke Pantai Pangandaran. Aku sengaja beralasan nggak enak badan, jadi cuma Ayu yang diajak ke sana. Tenang saja, mereka baru pulang besok sore," jawabnya santai.
Aku menuntunnya duduk bersanding di tepi ranjang.
"Dek Sari, aku mau curhat sedikit," kataku menghela napas. Nyi Sari memiringkan kepalanya, menatapku dengan raut penuh tanya.
"Sudah dua tahun lebih aku nikah, tapi Ningsih belum juga ada tanda-tanda isi. Dek Sari tahu sendiri, secara fisik dan 'performa', aku nggak ada masalah. Aku jelas bisa bikin anak, buktinya yang sekarang lagi piknik ke Pangandaran itu, kan? Aku nggak paham kenapa kok sama Ningsih belum dikasih rezeki. Padahal pabriknya jalan terus siang malam." Aku mencoba melucu walau hatiku getir.
Nyi Sari menatapku dengan sorot mata yang sulit diartikan.
"Kang... lalu aku harus bantu apa? Kalau aku sengaja hamil lagi sama Akang, Kang Tejo pasti nggak bakal sudi kalau anak itu nanti kamu adopsi. Toh, kalau pun lahir, itu baru anak kedua buat kami, pasti suamiku bakal sayang banget. Bagiku sih memang enakan bapak kandungnya yang turun tangan merawat, nggak kayak sekarang, suamiku cuma menikmati capeknya momong, padahal bikinnya kan kita," selorohnya setengah merengut, membuatku tersenyum kecut.
"Jangan-jangan ini emang karmaku ya, Dek? Aku dihukum nggak bisa punya anak di rumahku sendiri. Biar tahu rasa," keluhku.
"Hus, nggak boleh ngomong gitu. Sabar dulu, Kang, mungkin belum pas aja waktunya. Barangkali benihmu belum pas nemu jalannya di rahim Rini eh, Ningsih. Siapa tahu bulan depan jadi," hiburnya lembut sambil mengelus lenganku.
"Ya, mudah-mudahan. Tolong doain ya, Dek..."
Nyi Sari tiba-tiba mencubit pinggangku. "Enak aja minta didoain! Mustinya kan aku cemburu buta mikirin Kang Dimas kelonan tiap malam sama istrimu itu. Mustinya Akang itu milikku eksklusif. Kok ini malah istri simpanan disuruh mendoakan istri sah biar cepat hamil. Kebalik atuh, Kang!" rengeksnya dengan nada cemburu yang menggemaskan, mempererat pelukannya di tubuhku.
Memang lucu memikirkan logika kami berdua yang sudah jungkir balik.
"Dek, kalau kita ngobrol serius begini terus, birahiku malah bisa turun lho. Jangan-jangan malam ini kita batal 'kerja' nih?" pancingku dengan senyum menggoda.
"Iiih, dasar laki-laki!" rutuknya sambil mendaratkan cubitan keras di pahaku. "Makanya, mulutnya dijaga. Mending sekarang segera berikan apa yang seharusnya kudapatkan. Cepat, garap lahanmu ini, Kang!" tantangnya dengan tatapan mata yang berkabut gairah.
Seketika, segala beban pikiran menguap dari kepalaku. Kurebahkan tubuhnya perlahan ke atas kasur. Nyi Sari membiarkan dirinya pasrah seutuhnya, layaknya seorang ratu yang menunggu dilayani. Daster kancing depannya kubuka perlahan, satu demi satu, dari atas hingga menyingkapkan seluruh keindahan yang selalu berhasil menyandera akal sehatku.
Pesona wanita matang ini memang tiada duanya. Wajahnya yang ayu khas pedesaan, kulitnya yang terawat, dan tubuhnya yang terbentuk sempurna membuatku tak lagi mampu menahan diri. Kusampirkan sarung dan kausku ke lantai, dan segera menyatukan diri kembali dengannya dalam sebuah ritme yang memabukkan.
Di tengah gumulan peluh dan desahan yang memburu, kami memanjat tangga kenikmatan bersama. Tak ada kecanggungan, hanya dua anak manusia yang saling menagih peluh.
"Teruuus, teruus Kang.. sshh… ssh..." bisiknya merintih, meremas punggungku.
"Dek, aku sudah hampir tiba di ujung..."
"Di dalam, Kang... lepaskan semuanya di dalam... Adduuh Kang, nikmat sekali..." jeritnya tertahan, mengunci tubuhku dengan pelukan yang sangat kuat.
Sekali hentakan panjang, aku menyerahkan seluruh lahar hangatku di dalam pusat gairahnya. Napasku nyaris putus terengah-engah. Sengatan kenikmatan menyebar ke setiap inci pembuluh darah, dan Nyi Sari menggigit pundakku lembut, pertanda ia pun telah sampai di tujuannya.
Selama beberapa saat, kami terdiam dalam posisi saling mengunci, membiarkan detak jantung kami perlahan kembali normal. Setelah dirasa cukup, aku menarik diriku, berguling di sampingnya, masih diselimuti sisa-sisa peluh malam. Nyi Sari memiringkan tubuhnya menghadapku. Tangannya yang ramping menjalar, beristirahat dengan nyaman di atas perutku. Matanya menatapku dalam-dalam sebelum ia berbisik.
"Kang Dimas... Ayu rasanya sudah cukup besar untuk punya adik. Mudah-mudahan 'tanam benih' kita malam ini langsung jadi ya. Aku ingin anak laki-laki. Sebelum suamiku mulai mengeluh kok belum punya anak lagi, aku memang sudah niat bikin adik buat Ayu. Sekalian untuk ngetes... apakah benih Kang Dimas masih sehebat dulu atau tidak. Kalau bulan depan aku telat datang bulan, berarti senjatamu masih joosss. Kalau nanti Akang kangen pengin nimang bayi, ya tinggal datang ke mari, main pura-pura ngemong anak tetangga lagi."
Nyi Sari tersenyum begitu manis.
Aku tak menjawab. Mataku menerawang jauh ke langit-langit kamar yang temaram. Dalam hati kecilku, terbersit rasa pilu sekaligus gairah yang rumit. Entah sampai kapan sandiwara desa ini akan terus berjalan, namun bayangan kelak bisa menggendong anak darah dagingku sendiri meski harus dengan status "anak tetangga" memberikan sensasi manis yang tak tergantikan.
ns216.73.216.208da2


