Cahaya Dhuha menyepuh atap-atap rumah di sebuah kompleks perumahan elite di selatan Jakarta. Udara pagi masih terasa sejuk, membawa semilir wangi melati dari taman-taman terawat yang mengelilingi perumahan tersebut. Di salah satu rumah paling megah yang didominasi warna putih dan arsitektur Timur Tengah modern, kehidupan seorang wanita yang dianggap sebagai simbol kesempurnaan baru saja dimulai.
Namanya Reina. Bagi warga kompleks dan jamaah kajian, ia dikenal dengan sebutan Ummi Reina.
Di usianya yang telah menginjak tiga puluh delapan tahun, Reina adalah definisi nyata dari mahakarya Tuhan yang dipahat dengan kehati-hatian tingkat tinggi. Wanita berdarah Sunda asli itu memiliki kulit seputih pualam yang tak pernah tersentuh debu jalanan. Wajahnya ayu, teduh, dengan hidung bangir dan sepasang mata cokelat terang yang selalu memancarkan kelembutan.
Pagi itu, Reina mengenakan abaya sutra berwarna dusty pink yang membalut tubuhnya, lengkap dengan khimar senada yang menjuntai menutupi dada. Dari luar, pakaian muslimah itu adalah benteng kesucian yang tak tertembus. Namun, di balik lipatan kain-kain longgar dan terhormat itu, tersembunyi lekuk tubuh yang sangat ramping, padat, dan sempurna—sebuah kemolekan yang seolah menolak menua meski ia telah melahirkan dua orang putri.
Reina dinikahi pada usia dua puluh tahun oleh Ustadz Hambali, seorang dosen Ilmu Agama yang saat itu berstatus PNS muda dan merupakan keturunan pemuka agama tersohor. Terpaut usia sembilan tahun membuat Reina menempatkan suaminya bukan hanya sebagai imam, tetapi juga figur otoritas yang tak pernah ia bantah. Hidupnya lurus, terjamin, dan sangat dihormati. Reina menghabiskan hari-harinya mengurus rumah tangga, mendidik kedua putrinya agar menjadi akhwat sejati, dan berkumpul bersama sahabat-sahabat kajiannya: Ummi Fatima dan Ummi Diana—istri-istri pejabat elite yang kesepian karena sering ditinggal dinas, yang menyalurkan waktu mereka dengan belajar agama dan mengurus anak.
"Ummi, Abi sudah siap berangkat?" suara lembut dari arah tangga memecah keheningan ruang makan.
Hafizah, putri sulung Reina yang baru menginjak usia delapan belas tahun, melangkah turun. Gadis itu adalah cerminan masa muda Reina. Mahasiswi baru Fakultas Kedokteran di universitas tempat ayahnya mengajar itu mengenakan gamis biru muda dan hijab rapi. Wajahnya sangat cantik, ceria, namun dihiasi sifat pemalu yang membuatnya semakin memesona. Di belakangnya menyusul Amira, sang adik yang masih duduk di kelas dua SMA, mengunyah roti lapisnya dengan santai.
"Sudah, Sayang. Abi sedang memanaskan mobil di depan," jawab Reina lembut, merapikan letak piring di atas meja marmer.
Ustadz Hambali, pria berusia empat puluh tujuh tahun yang berwibawa dengan janggut rapi dan kemeja koko formal, masuk ke ruang makan. "Ummi, hari ini Abi mungkin pulang agak malam. Ada seleksi asisten dosen untuk program pascasarjana. Abi harus menyeleksi beberapa kandidat."
"Baik, Bi. Hati-hati di jalan. Ummi akan siapkan makan malam yang istimewa," Reina meraih punggung tangan suaminya, menciumnya dengan penuh takzim.
Ustadz Hambali mengangguk, mengecup kening istrinya, lalu beralih pada kedua putrinya. "Hafizah, nanti pulang kampus jangan mampir ke mana-mana. Jaga pandangan, jaga pergaulan."
"Insyaallah, Abi," jawab Hafizah menunduk patuh.
Keluarga itu tampak begitu sempurna. Sebuah lukisan keluarga agamis yang tak ada celanya. Namun, tak ada satu pun dari mereka yang menyadari, bahwa hari ini, di kampus yang sama, sebuah benih badai tengah dipersiapkan oleh takdir untuk mengobrak-abrik rumah tangga suci ini hingga ke dasar pondasinya.
Di waktu yang sama, di auditorium Fakultas Ilmu Agama Universitas ternama Ibu Kota.
Suasana auditorium itu hening, dipenuhi oleh puluhan mahasiswa dan mahasiswi yang duduk terpisah antara ikhwan (laki-laki) dan akhwat (perempuan). Di atas mimbar, berdiri seorang pemuda yang pesonanya mampu menyita seluruh oksigen di dalam ruangan.
Namanya Hussein. Usianya dua puluh lima tahun, mahasiswa program pascasarjana (Magister) Ilmu Agama, sekaligus Ketua Organisasi Kajian Dakwah Pemuda-Pemudi Islam di kampus tersebut.
Hussein bukanlah pemuda sembarangan. Darah Turki mengalir deras dari pihak ayahnya, mencetak fitur wajah yang luar biasa tampan. Rahangnya tegas, hidungnya mancung sempurna bak pedang, dihiasi oleh brewok tipis yang tertata sangat rapi, menambah kesan maskulin yang religius. Postur tubuhnya menjulang tinggi, tegap, dan di balik kemeja koko putih yang ia kenakan, tercetak dada bidang serta otot lengan yang menunjukkan bahwa ia sangat menjaga fisiknya.
"Menjaga pandangan, atau Ghadhul Basar, bukanlah sekadar menutup mata dari kemaksiatan," suara bariton Hussein mengalun berat, tajam, dan membius seluruh pendengarnya. "Ini adalah tentang menjaga hati. Sekali kita membiarkan mata ini menikmati apa yang tidak halal bagi kita, maka setan akan membangun jembatan langsung menuju syahwat. Dan dari syahwat... runtuhlah seluruh keimanan yang kita bangun bertahun-tahun."
Di barisan para akhwat, beberapa mahasiswi menundukkan pandangan, namun tak sedikit yang mencuri tatap dengan jantung berdebar tak karuan.
Di sudut barisan depan, duduk tiga anggota tetap organisasi: Rani, Manda, dan Raya. Rani, mahasiswi cantik dengan hijab syar'i, meremas buku catatannya. Diam-diam, ia adalah pemuja rahasia Hussein. Karisma, ketampanan, dan kealiman pemuda blasteran itu membuat Rani rela melakukan apa saja demi mendapatkan perhatiannya.
Namun, di balik organisasi yang terlihat suci itu, kemunafikan sebenarnya telah merayap pelan.
Di barisan ikhwan, duduk Fattah dan Ilman dua sahabat karib Hussein sejak awal mendaftar program pascasarjana. Mereka bertiga adalah pionir organisasi dakwah ini. Hussein selalu menekankan penolakan keras terhadap pacaran. Namun di belakang Hussein, tanpa sepengetahuannya (atau mungkin Hussein perlahan menutup mata), Fattah diam-diam menjalin hubungan backstreet dengan Manda, sementara Ilman diam-diam menjadikan Raya sebagai kekasih gelapnya. Batas antara dakwah dan hasrat masa muda di antara mereka sebenarnya setipis tisu.
Kajian pun selesai. Hussein turun dari mimbar, disambut oleh jabat tangan para jamaah laki-laki. Saat kerumunan mulai sepi, sosok Ustadz Hambali melangkah mendekat ke arah mimbar.
Melihat dosen pembimbing utamanya datang, Hussein langsung menunduk hormat. "Assalamualaikum, Ustadz Hambali."
"Waalaikumsalam, Hussein. Kajian yang sangat bagus. Penyampaianmu tegas, argumentasimu berbobot," puji Ustadz Hambali dengan senyum kebapakan.
"Alhamdulillah. Semua berkat bimbingan Ustadz."
Ustadz Hambali menepuk bahu tegap pemuda itu. Pria paruh baya itu sudah lama mengamati Hussein. Mahasiswa ini cerdas, memiliki kemampuan retorika yang luar biasa, dan yang terpenting, ia terlihat memiliki fondasi agama yang sangat kokoh. Hambali membutuhkan tangan kanan yang bisa diandalkan.
"Hussein, saya sudah melihat berkas lamaranmu untuk posisi Asisten Dosen," ucap Ustadz Hambali. "Melihat dedikasimu, saya tidak perlu melakukan wawancara panjang lagi. Saya memilihmu menjadi Asdos saya mulai semester ini."
Mata elang Hussein sedikit melebar. Rasa syukur dan kebanggaan membuncah di dadanya. Ini adalah batu loncatan besar untuk rencana studinya, sekaligus tambahan penghasilan yang sangat ia butuhkan untuk mandiri di Jakarta.
"Alhamdulillah... Jazakallah khairan, Ustadz. Saya tidak akan mengecewakan kepercayaan antum," jawab Hussein mantap.
"Saya tahu kamu tidak akan mengecewakan saya," Ustadz Hambali tersenyum. "Untuk membahas silabus, pembagian jadwal mengajar, dan tugas-tugasmu nanti, datanglah ke rumah saya malam ini. Ba'da Isya. Kita bicarakan sambil makan malam. Saya ingin mengenalkanmu pada keluarga saya juga."
"Insyaallah, Ustadz. Saya akan datang."
Ustadz Hambali berbalik dan pergi, tak menyadari sedikit pun bahwa undangan makan malam itu adalah kesalahan paling fatal yang pernah ia buat seumur hidupnya. Ia baru saja membukakan pintu gerbang rumah sucinya sendiri, mempersilakan seekor serigala muda yang kelaparan untuk masuk ke dalam taman yang dipenuhi oleh bunga-bunga terindah.
Malam harinya, setelah kumandang Isya mereda, sebuah motor sport berwarna hitam berhenti di depan gerbang megah kediaman Ustadz Hambali.
Hussein melepaskan helmnya, merapikan rambutnya yang hitam lebat, dan mengenakan kemeja koko berwarna navy yang sangat pas menempel di tubuh atletisnya. Ia memencet bel. Tak lama, gerbang besi itu terbuka otomatis.
Hussein melangkah masuk menyusuri taman depan yang dihiasi air mancur kecil. Kemewahan rumah ini membuat Hussein sedikit takjub. Ustadz Hambali bukan sekadar dosen, beliau adalah tokoh agama yang mapan.
Pintu utama terbuka. Ustadz Hambali menyambutnya dengan ramah. "Masuklah, Hussein. Silakan duduk."
Ruang tamu itu bernuansa emas dan krem, memancarkan kehangatan sekaligus kemewahan. Hussein duduk dengan adab yang sangat baik, punggungnya tegak, tangannya bertumpu di paha. Mereka mulai berbincang ringan mengenai kampus dan jadwal mengajar.
Sepuluh menit kemudian, suara langkah kaki yang sangat pelan dan halus terdengar dari arah ruang tengah.
"Nah, ini dia. Ummi, perkenalkan, ini Hussein. Asisten Dosen Abi yang baru," ucap Ustadz Hambali.
Hussein berdiri, memutar tubuhnya dengan sopan, dan menundukkan pandangan.
"Assalamualaikum, Nak Hussein," sebuah suara yang sangat lembut, merdu, dan mengalun seperti sutra menyapa pendengaran Hussein.
Hussein mendongak sedikit untuk membalas salam. "Waalaikumsalam... Ummi."
Dan di detik itulah, dunia Hussein seakan berhenti berputar. Waktu membeku.
Di hadapannya, berdiri Ummi Reina. Ia membawa nampan berisi teko teh dan cangkir-cangkir porselen. Reina mengenakan abaya rumah berbahan chiffon tebal berwarna emerald green (hijau zamrud) yang sangat elegan. Kain itu longgar, namun saat Reina bergerak, bahannya jatuh mengikuti setiap lekukan halus dari pinggang dan pinggulnya yang luar biasa ramping untuk ukuran seorang ibu. Wajah Reina yang putih bersih tanpa riasan berlebih itu tampak begitu suci, ayu, dengan senyum ramah yang membuat mata cokelatnya menyipit manis. Wangi parfum yang sangat lembut aroma musk murni yang halal namun entah mengapa terasa begitu memabukkan menguar dari tubuhnya.
Dalam sepersekian detik sebelum Hussein memaksa dirinya untuk menundukkan pandangan kembali, otak pemuda itu telah merekam segalanya. Ghadhul Basar yang tadi pagi ia teriakkan dengan lantang di atas mimbar, tiba-tiba terasa sangat sulit untuk dilakukan.
Ya Allah... batin Hussein menjerit. Istri Ustadz Hambali... mengapa secantik ini?
Hussein adalah laki-laki normal yang sedang berada di puncak masa mudanya. Meskipun ia adalah ketua dakwah, darahnya tetaplah darah muda yang panas. Melihat sesosok wanita matang dengan kecantikan dan aura keibuan yang begitu kuat—dipadukan dengan misteri di balik pakaian syar'i-nya—memberikan sengatan listrik yang langsung menghantam pusat saraf lelakinya.
Di sisi lain, Reina meletakkan nampan di atas meja. Saat ia menuangkan teh, matanya tak sengaja bersirobok dengan mata Hussein.
Tangan Reina sedikit bergetar, hingga cangkir porselen itu berdenting pelan.
Reina terpaku. Pemuda di depannya ini memiliki ketampanan yang tak lazim. Garis wajah khas Timur Tengah, hidung yang mancung, dan sorot mata elang yang sangat tajam, gelap, sekaligus memancarkan gairah yang disembunyikan rapat-rapat. Dada bidang Hussein yang tercetak di balik kemeja navy itu memancarkan aura maskulinitas murni yang sangat kuat.
Sesuatu yang sudah tertidur pulas selama belasan tahun di dalam relung hati Reina naluri liarnya sebagai seorang wanita tiba-tiba berkedut bangun. Ia menikah di usia dua puluh tahun dengan Ustadz Hambali yang kaku, penuh aturan, dan jauh lebih tua. Ia menghormati suaminya, menyayanginya sebagai imam. Namun, menatap Hussein, Reina untuk pertama kalinya merasakan getaran dada yang gila, sebuah hawa panas yang menjalar dari perut hingga ke ujung kakinya.
Astaghfirullahaladzim, Reina! Jaga hatimu! Dia mahasiswa suamimu! batin Reina memarahi dirinya sendiri. Dengan cepat ia menguasai diri, tersenyum elegan, lalu duduk di kursi yang bersebelahan dengan suaminya.
"Silakan diminum tehnya, Nak Hussein. Anggap saja rumah sendiri," ucap Reina lembut, menahan agar suaranya tidak bergetar.
"Jazakillah khair, Ummi," jawab Hussein, suaranya yang berat membuat bulu kuduk Reina meremang. Saat Hussein mengulurkan tangannya untuk mengambil cangkir, ujung jarinya yang kasar tak sengaja menyentuh kulit pergelangan tangan Reina yang putih dan halus saat wanita itu melepaskan pegangannya dari cangkir.
Sentuhan itu hanya terjadi kurang dari satu detik, namun seperti kilatan petir yang menyambar mereka berdua. Keduanya tersentak halus, namun berusaha menutupinya dengan sikap wajar agar Ustadz Hambali tidak menyadarinya.
"Hussein ini keturunan Turki, Mi. Ayahnya asli dari sana, makanya wajahnya beda," Ustadz Hambali membuka percakapan, sama sekali tidak menyadari badai tak kasat mata yang baru saja tercipta di ruang tamunya.
"Pantas saja," sahut Reina dengan senyum tipis, tak berani menatap mata pemuda itu lagi.
"Oh ya, Ummi, mana Hafizah? Panggil dia ke mari, Abi ingin mengenalkan Asdos baru Abi padanya. Siapa tahu Hussein bisa bantu-bantu membimbingnya kalau ada tugas-tugas kampus umum," titah Ustadz Hambali.
"Sebentar, Bi. Ummi panggilkan."
Reina bangkit berdiri. Saat wanita itu membalikkan badannya dan berjalan menjauh menuju tangga, pertahanan Hussein benar-benar diuji. Matanya tak bisa dikendalikan. Di balik kepatuhannya mendengarkan Ustadz Hambali berbicara soal silabus, ekor mata Hussein terus mengikuti langkah Reina. Ia mengamati bagaimana abaya sutra itu berayun, mencetak lekuk pinggul dan bokong Reina yang sangat padat dan proporsional.
Sisi gelap Hussein mengaum. Ustadz Hambali adalah pria yang sangat beruntung... atau mungkin, sangat bodoh karena membiarkan berlian ini tak terjaga di hadapanku.
Tak lama kemudian, langkah kaki kembali terdengar. Reina turun bersama seorang gadis.
Hussein mendongak. Di sana, berjalanlah Hafizah. Gadis berusia delapan belas tahun itu mengenakan gamis berwarna peach dan hijab instan yang menutup dada. Jika Reina adalah bunga mawar merah yang telah mekar sempurna dan menggoda, maka Hafizah adalah kuncup mawar putih yang masih sangat murni, suci, dan polos.
Hafizah memiliki wajah yang menuruni kecantikan ibunya seratus persen, namun dengan aura kepolosan yang memikat. Saat Hafizah melihat siapa tamu ayahnya, langkah gadis itu terhenti sejenak. Pipinya langsung memerah merona seperti kepiting rebus.
Di kampus, wajah Hussein sudah tak asing lagi. Ia adalah idola para mahasiswi baru. Dan kini, ketua organisasi dakwah yang kharismatik itu duduk di ruang tamu rumahnya.
"Sini, Nak. Kenalan dulu. Ini Kak Hussein, Asisten Dosen Abi," panggil Ustadz Hambali.
Hafizah menunduk dalam-dalam, meremas ujung hijabnya. Ia berjalan mendekat, lalu menangkupkan kedua tangannya di depan dada tanpa bersentuhan. "Assalamualaikum... Kak Hussein. Saya Hafizah."
Hussein berdiri, membalas salam dengan cara yang sama. "Waalaikumsalam, Dek Hafizah."
Saat Hafizah mencuri pandang ke atas, mata polosnya bertabrakan langsung dengan mata elang Hussein. Jantung mahasiswi kedokteran itu seakan melompat dari tulang rusuknya. Ia pernah membaca novel-novel romansa islami dari sahabatnya, Nisa dan Diana, tentang cinta pandangan pertama yang halal. Malam ini, melihat ketampanan paripurna Hussein dari jarak sedekat ini, iman Hafizah yang dijaga ketat oleh ayahnya seketika goyah. Ia jatuh cinta pada pandangan pertama.
Hussein, sang serigala berbulu domba, menyadari hal itu dalam seketika. Pemuda itu bisa membaca raut wajah memuja dari Hafizah. Sorot matanya yang polos, napasnya yang tertahan, dan rona merah di pipinya adalah tanda takluk yang sangat jelas.
Hussein duduk kembali ke kursinya. Otaknya bekerja dengan kecepatan gila.
Di sebelah kanannya, duduk sang mentor, Ustadz Hambali, yang percaya penuh pada integritasnya. Di seberangnya, duduk Ummi Reina, istri sang Ustadz yang kecantikan dan kematangan tubuhnya terus memancarkan sinyal-sinyal liar yang mengobrak-abrik syahwat lelakinya. Dan di sudut lain, berdiri Hafizah, putri sang Ustadz, gadis perawan yang suci dan telah menyerahkan hatinya secara diam-diam hanya dengan satu tatapan.
Keluarga ini terlalu sempurna. Terlalu suci.
Percakapan malam itu berlanjut dengan bahasan akademik. Hussein menjawab setiap pertanyaan Ustadz Hambali dengan cerdas, membawa dalil dan argumen yang membuat pria paruh baya itu semakin kagum. Namun, di balik setiap kata yang keluar dari bibir pemuda itu, matanya diam-diam terus bermanuver. Ia mencuri pandang ke arah jari-jari lentik Reina yang mengelus pinggiran cangkir. Ia membalas curi pandang Hafizah dengan senyuman tipis yang membuat gadis itu nyaris pingsan karena salah tingkah.
Batas pikiran antara agama dan nafsu malam ini benar-benar setipis tisu.
Hussein menyadari sebuah kenyataan yang mengerikan tentang dirinya sendiri. Ceramah-ceramahnya tentang bahaya zina dan khalwat, tentang menjaga pandangan... semuanya hanyalah topeng. Di dalam dadanya bersemayam iblis penakluk yang sangat haus. Dan malam ini, iblis itu baru saja menemukan ladang perburuan terbaiknya.
Pukul sepuluh malam, Hussein pamit undur diri.
Ustadz Hambali dan seluruh keluarganya mengantarnya hingga ke teras depan.
"Terima kasih atas jamuannya, Ustadz, Ummi. Makanannya sangat luar biasa," ucap Hussein, tersenyum ramah. Ia menatap Reina sekilas, sebuah tatapan yang sedikit lebih lama dari seharusnya. "Jazakillah khair, Ummi Reina."
Reina menelan ludah, mengangguk kaku. "Sama-sama, Nak Hussein."
"Dan untuk Dek Hafizah, sukses untuk awal kuliah kedokterannya. Jika butuh bantuan soal materi agama atau dasar-dasar kampus, jangan sungkan," tambah Hussein, memberikan pukulan maut terakhir pada hati sang gadis muda.
"I-iya, Kak. Terima kasih," cicit Hafizah, tak berani mendongak saking senangnya.
Hussein menyalakan motor sport-nya. Mesin menderu memecah keheningan kompleks elite itu. Saat ia melaju meninggalkan gerbang, senyum hangat dan alim di wajahnya perlahan luntur, digantikan oleh sebuah seringai gelap yang mengerikan.
Angin malam Jakarta menerpa wajahnya. Di balik helmnya, pikiran Hussein mulai menyusun skenario-skenario liar.
Rumah Ustadz Hambali bukan lagi sekadar tempatnya mengabdi sebagai Asisten Dosen. Rumah itu adalah sebuah kastil yang menyimpan dua permata paling berharga. Reina yang matang dan menggoda, serta Hafizah yang murni dan polos.
Hussein tahu aturannya. Ia tahu dosa besarnya. Memasuki wilayah pribadi sang Ustadz dan mengobrak-abrik kehormatan istri dan putrinya adalah sebuah pengkhianatan paling keji yang bisa dilakukan oleh seorang pemuda yang mengaku beragama. Ini adalah jurang kemaksiatan yang tak berdasar.
Namun, justru karena itu terlarang, justru karena mereka adalah akhwat yang dibungkus oleh kesucian tingkat tinggi, hasrat Hussein untuk menodai dan menaklukkan mereka menjadi jutaan kali lipat lebih membara.
Dalam kegelapan malam Ibu Kota, sang ketua dakwah itu mengambil keputusan. Ia akan memainkan peran sebaik mungkin. Ia akan menjadi pemuda yang paling alim, paling sopan, dan paling diandalkan. Ia akan membuat keluarga itu bergantung padanya. Dan ketika waktu itu tiba, ia akan menuntun mereka berdua sang Ummi dan sang Putri melewati batas-batas syariat, menjatuhkan mereka ke dalam lembah syahwat terdalam, dan membuat mereka menyerahkan seluruh kehormatan yang mereka jaga mati-matian, dengan memohon di bawah kakinya.
Lakon penuh dosa di balik topeng kesucian baru saja dimulai. Dan Ustadz Hambali sendiri yang telah menyerahkan kunci rumahnya kepada sang penghancur.
ns216.73.216.208da2


