Pukul 10.00 pagi, aku duduk di atas batu besar di tepi sungai yang sudah aku kenal sejak kecil. Di depan ku ada tiga ember kecil yang masing-masing berisi air sungai yang jernih, dan di sebelah setiap ember ada bunga yang berbeda—melati putih, bunga matahari kuning, dan anggrek merah. Nama aku Rizki, berusia dua puluh enam tahun, dan hari ini aku ingin melakukan sesuatu yang sudah aku rencanakan selama bertahun-tahun: mengucapkan terima kasih dan perpisahan yang sebenarnya kepada tiga perempuan yang telah mengubah hidup ku dengan cara yang berbeda-beda.
Aku mengambil ember berisi air sungai dan bunga melati putih, lalu mulai berbicara dengan suara yang pelan tapi jelas, seolah mereka bisa mendengar ku dari jauh. “Untuk Ibu—perempuan pertama yang pernah mencintai aku dengan sepenuh hati tanpa pamrih apa pun.”
Ibu ku adalah seorang wanita yang kuat dan penuh kasih sayang. Ayah ku meninggal ketika aku masih berusia lima tahun, sehingga dia harus bekerja sendirian untuk menyekolahkan aku dan kakak ku yang perempuan. Dia bekerja sebagai penjual sayuran di pasar pagi setiap hari dari jam empat pagi, lalu pulang untuk memasak makanan untuk kita sebelum pergi bekerja lagi sebagai penjaga toko di malam hari. Meskipun hidupnya penuh dengan kesulitan, dia selalu memberikan yang terbaik untuk kita dan tidak pernah mengeluh tentang apa pun.
“Kamu selalu mengatakan bahwa cinta itu seperti air sungai yang mengalir terus-menerus, Bunda,” ujar aku sambil merendam bunga melati ke dalam ember berisi air. “Kamu mengajarkanku bahwa cinta tidak perlu banyak kata atau hadiah mahal—cinta adalah tentang memberikan yang terbaik untuk orang yang kita cintai, bahkan ketika kita sendiri tidak memiliki banyak hal untuk diberikan. Kamu telah mengorbankan segalanya untukku, dan aku tidak akan pernah bisa membayar semua kebaikan yang kamu berikan padaku.”
Aku menuangkan air dari ember itu ke dalam sungai, bersama dengan bunga melati yang sudah mulai mengapung di permukaan air. Aku melihatnya terbawa arus sungai yang lambat namun pasti, dan merasakan rasa syukur yang mendalam yang tidak bisa kutunjukkan dengan kata-kata. Ibu ku sekarang tinggal di rumah sakit karena sakit parah—dia tidak bisa lagi berbicara atau mengenali orang-orang di sekitarnya, tapi aku tahu bahwa cinta nya untukku akan selalu ada dalam diriku dan akan selalu membimbing langkah ku dalam hidup.
Setelah itu, aku mengambil ember kedua yang berisi air sungai dan bunga matahari kuning yang ceria. Aku menghadapkan wajah ku ke arah sungai dan mulai berbicara lagi. “Untuk Mira—perempuan pertama yang membuatku memahami bahwa cinta bisa membuat hidup lebih cerah dan penuh dengan harapan.”
Mira adalah teman sekelas ku saat SMA yang selalu berada di sisiku ketika aku merasa tersesat dan tidak punya harapan dalam hidup. Saat itu, aku sedang mengalami masa sulit setelah harus berhenti dari ekstrakurikuler sepak bola karena cidera lutut yang parah—sepak bola adalah segalanya bagiku saat itu, dan aku merasa seperti hidup ku tidak memiliki makna lagi setelah tidak bisa bermain lagi.
Mira datang untukku dengan senyumnya yang selalu ceria dan membawa buku-buku cerita tentang orang-orang yang berhasil menghadapi rintangan dalam hidup. Dia mengajarkanku untuk melihat dunia dengan mata yang baru, untuk menemukan minat baru yang bisa membuat hidup ku kembali penuh dengan warna. Dia adalah orang yang pertama kali mengajarkanku untuk menulis cerita—dia bilang bahwa setiap orang memiliki cerita sendiri yang layak untuk diceritakan, dan bahwa menulis bisa menjadi cara untuk mengeluarkan rasa sakit dan kesedihan yang ada di dalam hati.
“Kamu selalu mengatakan bahwa cinta itu seperti bunga matahari yang selalu menghadap ke arah matahari, Mira,” ujar aku sambil merendam bunga matahari ke dalam ember berisi air. “Kamu mengajarkanku bahwa cinta bisa menjadi sumber kekuatan dan harapan dalam hidup, bahwa cinta bisa membantu kita bangkit kembali setelah jatuh dan terus berjalan menuju masa depan yang lebih baik. Kamu telah mengubah hidup ku dengan cara yang paling indah, dan aku akan selalu menyimpan kamu di dalam hatiku.”
Aku menuangkan air dari ember itu ke dalam sungai, bersama dengan bunga matahari yang berwarna kuning cerah seperti matahari. Aku melihatnya terbawa arus sungai bersama dengan bunga melati yang sudah jauh di depan, dan merasakan rasa terima kasih yang mendalam kepada perempuan yang telah menjadi sumber inspirasi bagi diriku untuk menjadi penulis seperti sekarang. Mira kini sudah menikah dan tinggal di kota lain dengan keluarga kecil nya yang bahagia—kita jarang bertemu tapi selalu saling mengirim pesan untuk memberi kabar dan mendukung satu sama lain.
Kemudian aku mengambil ember ketiga yang berisi air sungai dan anggrek merah yang cantik. Aku mengambil napas dalam-dalam dan mulai berbicara dengan suara yang penuh dengan emosi. “Untuk Lila—perempuan pertama yang membuatku memahami bahwa cinta bisa juga berarti memberi kebebasan pada orang yang kita cintai.”
Lila adalah pacarku yang sudah bersamaku selama tiga tahun setelah aku lulus kuliah. Kita bertemu saat mengikuti lokakarya menulis di kota besar, dan langsung merasa memiliki hubungan yang dalam dan kuat satu sama lain. Kita memiliki impian yang sama untuk menjadi penulis sukses dan membangun kehidupan bersama yang penuh dengan cinta dan kreativitas. Kita merencanakan segalanya bersama—membuka kedai buku kecil yang juga menjadi tempat untuk berbagi cerita dan ide, bepergian ke berbagai tempat untuk mencari inspirasi, dan menikah setelah kita berhasil menerbitkan buku pertama kita masing-masing.
Namun, takdir memiliki rencana sendiri untuk kita. Saat kita sedang dalam tahap akhir menyelesaikan buku kita masing-masing, Lila mendapatkan tawaran untuk belajar menulis di universitas terkenal di luar negeri—kesempatan yang hanya datang sekali seumur hidup dan tidak bisa dia lewatkan. Aku ingin mengikuti dia, tapi aku juga tahu bahwa aku belum siap untuk meninggalkan tanah air yang telah menjadi sumber inspirasi bagi tulisan-tulisanku, dan bahwa aku perlu waktu untuk menyelesaikan buku ku dan membangun karir ku sebagai penulis di sini.
“Kamu selalu mengatakan bahwa cinta itu seperti anggrek yang butuh ruang dan waktu untuk tumbuh dan mekar dengan indah, Lila,” ujar aku sambil merendam anggrek merah ke dalam ember berisi air. “Kamu mengajarkanku bahwa cinta tidak selalu tentang berada bersama secara fisik—kadang-kadang cinta adalah tentang memberi kebebasan pada orang yang kita cintai untuk mengejar impian mereka sendiri, bahkan jika itu berarti kita harus berpisah. Kamu telah mengajarkanku bahwa cinta sejati adalah cinta yang bisa memberikan kebahagiaan pada orang yang kita cintai, bahkan jika kebahagiaan itu tidak datang dari kita sendiri.”
Aku menuangkan air dari ember itu ke dalam sungai, bersama dengan anggrek merah yang cantik seperti hati yang penuh dengan cinta. Aku melihatnya terbawa arus sungai bersama dengan dua bunga lain yang sudah jauh di depan, dan merasakan rasa damai yang datang dari dalam hatiku setelah begitu lama merasa sakit karena perpisahan kita. Lila kini sudah berhasil menerbitkan buku nya dan menjadi dosen di universitas di luar negeri—kita masih saling berkomunikasi dan selalu memberikan dukungan satu sama lain dalam setiap langkah karir kita.
Setelah aku selesai menuangkan air dari ketiga ember itu ke dalam sungai, aku duduk kembali di atas batu besar dan melihat ke arah sungai yang mengalir dengan damai. Ketiga bunga yang kubuang sudah tidak terlihat lagi—mereka telah terbawa arus sungai ke tempat yang jauh, membawa dengan mereka semua rasa syukur, cinta, dan perpisahan yang aku sampaikan kepada tiga perempuan yang telah mengubah hidup ku dengan cara yang berbeda-beda.
Aku mengambil buku catatan ku yang selalu aku bawa kemana-mana dan mulai menulis dengan tangan yang tenang dan penuh dengan kebenaran:
“Hidup ku telah terbentuk oleh tiga perempuan yang berbeda—ibu ku yang mencintai aku dengan penuh pengorbanan, Mira yang membawa harapan dan warna dalam hidup ku, dan Lila yang mengajarkanku tentang cinta yang bisa memberi kebebasan. Masing-masing dari mereka telah memberikan sesuatu yang berharga untukku, sesuatu yang tidak bisa aku dapatkan dari orang lain. Hidup ku mungkin tidak sempurna, tapi hidup ku menjadi lebih indah dan bermakna karena mereka telah menjadi bagian darinya.”
Saat matahari mulai semakin tinggi dan udara mulai terasa hangat, aku berdiri dan mengambil ember-ember kosong yang ada di sisiku. Aku berjalan kembali ke arah rumah ku yang kecil namun penuh dengan cinta, dengan hati yang lebih tenang dan pikiran yang lebih jernih. Aku tahu bahwa hidup akan terus memberikan berbagai rintangan dan kejutan di depanku, tapi aku juga tahu bahwa aku memiliki kekuatan dan keberanian untuk menghadapinya—kekuatan dan keberanian yang aku dapatkan dari cinta dan pelajaran yang diberikan oleh tiga perempuan penting dalam hidup ku.
Di halaman depan rumah ku, aku menanam tiga bibit tanaman baru di dalam pot-pot yang sudah aku siapkan—bibit melati untuk ibu ku, bibit bunga matahari untuk Mira, dan bibit anggrek untuk Lila. Aku akan merawat tanaman-tanaman itu dengan penuh cinta dan perhatian, sebagai bentuk penghormatan dan rasa terima kasih yang abadi kepada mereka yang telah membuat hidup ku menjadi seperti sekarang.
“Terima kasih telah menjadi bagian dari hidup ku,” bisikku perlahan sambil menyiram tanaman-tanaman baru itu. Dan aku merasakan bahwa setiap kata yang aku ucapkan adalah kebenaran yang paling dalam yang pernah aku rasakan dalam hidup ku.85Please respect copyright.PENANA0JTqyA9m7L


