Namaku Andra, 28 tahun. Kontrakan satu lantai di pojok perumahan kecil pinggiran Sidoarjo. Rumahku menempel langsung dengan rumah Pak Hendra. Suaminya pegawai bank, sering dinas keluar kota. Istrinya… Bu Rina.
Aku sudah tinggal di situ hampir setahun, tapi baru beberapa bulan terakhir aku mulai benar-benar perhatiin dia.
Bu Rina 34 tahun. Tubuhnya masih padat di tempat yang tepat: payudara besar yang selalu terlihat berat, pinggang ramping, pantat bulat yang naik-turun setiap dia jalan. Rambutnya hitam sebahu, sering dikuncir seadanya. Kulit kuning langsat. Matanya sipit, tapi kalau senyum, ada sesuatu yang nakal di situ.
Awalnya cuma basa-basi biasa.
Suatu sore aku lagi nyapu teras. Dia keluar bawa selang, menyiram tanaman di pagar pembatas.
“Andra, hujan kemarin deras banget ya. Tanaman aku hampir mati semua.”
Aku cuma mengangguk. “Iya, Bu.”
Dia jongkok. Celana pendek abu-abunya naik, memperlihatkan separuh paha dalam yang putih. Tank topnya longgar, tapi setiap dia condong ke depan, belahan dadanya kelihatan dalam. Aku pura-pura sibuk nyapu, tapi mataku meliriknya beberapa kali.
Dua hari kemudian.
Aku lagi di depan, lagi cuci motor. Dia keluar pakai daster tipis warna peach. Tanpa bra. Putingnya samar-samar kelihatan karena kainnya basah sedikit di bagian dada.
“Andra, boleh minta tolong?”
“Apa, Bu?”
“Galon di dapur abis. Suami belum pulang, aku susah angkat.”
Aku masuk ke rumahnya. Dapur kecil, rapi. Galon 19 liter di sudut. Aku angkat, taruh di dispenser. Pas aku berbalik, dia sudah berdiri terlalu dekat. Bau sabun mandinya—vanila campur susu—langsung ngena.
“Makasih ya…” katanya pelan. “Anak muda sekarang jarang yang mau bantu tetangga.”
Aku cuma senyum kaku. “Biasa, Bu.”
Tapi dia belum geser. Jarak kita cuma sejengkal. Matanya turun sebentar ke dadaiku yang basah keringat, lalu naik lagi.
“Kamu sering olahraga ya? Badannya bagus.”
Aku tertawa kecil, gugup. “Kadang-kadang aja.”
Dia mengangguk pelan, lalu bilang, “Kalau ada apa-apa, panggil aja. Aku sering sendirian di rumah.”
Malam itu aku susah tidur. Bayangan putingnya di balik daster terus muncul.
Aku berbaring di kasur, AC menyala tapi badan tetap panas. Bayangan Bu Rina di daster peach itu nggak mau hilang. Putingnya yang samar-samar menonjol, belahan dada yang dalam waktu dia condong, bau vanila susu yang nempel di hidungku… semuanya muter-muter di kepala.
Aku coba tidur miring. Gagal. Aku coba fokus ke langit-langit. Gagal lebih parah. Tangan turun sendiri ke celana dalam. Kontolku sudah setengah tegang cuma dari bayangan. Aku usap pelan, bayangin jari-jari Bu Rina yang ramping pegang galon tadi, bayangin bagaimana rasanya kalau jari itu pegang sesuatu yang lebih panas. Aku kocok pelan-pelan sambil menutup mata, bayangin dia jongkok di depan motorku lagi, celana pendeknya naik lebih tinggi, sampai aku bisa lihat celana dalam putihnya. Aku kencengin genggaman. Napas jadi pendek. Enam, tujuh kali tarikan… aku keluar di telapak tangan sendiri, rahang terkunci supaya nggak mengerang keras.
Paginya aku bangun dengan rasa segar campur nafsu.
Hari itu Pak Hendra benar-benar berangkat dinas ke Jakarta. Aku dengar dari teras, dia bilang ke Bu Rina, “Tiga hari, Rin. Jangan keluar malam-malam.” Bu Rina cuma jawab “Iya,” suaranya datar.
Sore harinya aku sengaja cuci motor lagi. Lebih lama dari biasanya. Dia keluar. Kali ini pakai tank top hitam ketat dan celana pendek jeans yang sudah pudar. Rambutnya dikuncir tinggi. Tanpa makeup, tapi bibirnya kelihatan merah alami.
“Andra.”
Aku menoleh. “Iya, Bu?”
“Boleh minta tolong lagi?” Dia tersenyum kecil. “Lampu dapur mati. Aku nggak bisa ganti sendiri. Takut kesetrum.”
Aku matiin keran, usap tangan ke kaos. “Sebentar ya.”
Masuk ke rumahnya lagi. Bau vanila susu langsung nyambut. Dapur masih sama, rapi. Dia tunjuk ke plafon. “Itu. Sudah dua hari mati.”
Aku naik ke kursi. Lampu bohlam biasa. Aku putar, lepas, pasang yang baru yang dia kasih. Pas aku turun, dia lagi berdiri di bawah, tangan memegang pinggiran meja. Tank topnya naik sedikit karena dia mengangkat tangan tadi, memperlihatkan sedikit kulit perut yang mulus.
“Sudah,” kataku.
“Makasih.” Dia nggak geser. “Kamu mau minum?”
“Nggak usah, Bu—”
“Sekalian aja. Aku lagi bikin es teh.”
Aku duduk di kursi dapur. Dia tuang dua gelas. Jari-jarinya nyenggol jariku pas kasih gelas. Dingin. Tapi sentuhannya nggak.
Kami minum dalam diam beberapa detik. Lalu dia bilang pelan, 758Please respect copyright.PENANA5X1pElylNN
“Suami aku jarang di rumah. Kadang seminggu. Kadang lebih.”
Aku mengangguk, nggak tahu harus jawab apa.
“Kesepian.” Dia tertawa kecil, hampir sinis. 758Please respect copyright.PENANAQoOwGqSriF
“Kamu masih muda. Pasti nggak ngerti.”
“Nggerti kok, Bu.”
Dia menatapku lama. Matanya turun ke leherku, ke dada yang masih basah keringat, lalu naik lagi. “Badan kamu beneran bagus. Aku perhatiin dari dulu.”
Udara di dapur tiba-tiba terasa lebih pengap.
Aku taruh gelas. “Bu Rina…”
Dia berdiri. Ambil gelasnya, taruh di wastafel. Belakangnya menghadapku. Pantatnya bulat sempurna di balik jeans pendek itu. Pinggangnya kecil. Lalu dia berbalik.
“Aku tahu kamu liatin aku,” katanya pelan. “Waktu nyiram tanaman. Waktu pakai daster. Waktu aku jongkok.”
Aku terdiam. Nafasnya terdengar.
Dia melangkah mendekat. Satu langkah. Dua. Sampai lututnya nyaris nyentuh lututku yang duduk. “Aku juga liatin kamu,” bisiknya. “Dari jendela kamar. Pas kamu cuci motor tanpa kaos. Pas kamu angkat galon. Otot punggung kamu… enak dilihat.”
Tangan kanannya naik. Jari telunjuknya usap pelan garis rahangku. Dingin karena baru pegang gelas es. “Kamu mau nggak… bantu aku yang lain?”
Aku nggak jawab dengan kata. Aku berdiri. Tinggi badan kami beda tipis. Bau vanila susu sekarang campur bau sabun mandinya yang masih nempel di kulit.
Aku pegang pinggangnya. Tanganku hampir menutupi seluruh sisi pinggangnya yang ramping. Dia mendesah pelan. Lalu aku cium dia.
Bibirnya lembut, sedikit manis karena es teh. Dia buka mulut langsung. Lidahnya panas. Tangannya naik ke tengkukku, menarikku lebih dalam. Aku dorong dia ke meja dapur. Pantatnya nabrak tepi meja. Aku angkat dia sedikit, dudukkan di atas meja. Kakinya langsung melingkar di pinggangku.
Tank top hitamnya kutarik ke atas. Payudaranya keluar, berat, putingnya sudah mengeras. Aku pecundangi satu. Dia mengerang, jari-jarinya mencengkeram rambutku. Aku hisap, gigit pelan, jilat putingnya yang sudah tegang. Tangan kiriku meremas yang satunya, berat di telapak.
“Andra… pelan…” suaranya serak.
Aku nggak pelan. Aku buka kancing jeansnya, tarik resleting, seret celana pendeknya ke bawah bersama celana dalamnya yang sudah basah di bagian tengah. Bulu kemaluannya rapi, sedikit saja. Memeknya sudah mengkilap.
Aku jongkok. Lidahku langsung usap dari bawah ke atas. Dia menyentak. “Ahh—!” Aku hisap klitorisnya, jilat pelan, masukkan satu jari. Basah banget. Panas. Aku tambah jari kedua, gerakkan pelan sambil lidah tetap kerja. Kakinya gemetar di bahuku. Satu tangan dia pegang tepi meja, satu lagi di rambutku, mendorong kepalaku lebih dalam.
“Jangan berhenti… jangan…”
Aku jilat lebih kencang. Jari-jari ku mencari titik di dalam. Dia mulai menggeliat, pinggulnya maju-mundur di meja. Suaranya sudah nggak ditahan. “Andra… aku mau keluar…”
Aku hisap klitorisnya kuat sambil jari menekuk. Tubuhnya menegang. Paha dalamnya menjepit kepalaku. Dia orgasme dengan desahan panjang yang patah-patah, memeknya berdenyut di lidahku.
Aku berdiri. Buka celana sendiri. Kontolku sudah tegang total, ujungnya basah. Dia masih terengah di meja, kaki terbuka, memeknya merah dan mengkilap. Aku usap batangnya di belahan memeknya, basahi. Lalu masukkan pelan.
Panas. Sempit. Basah. Dia mendesah panjang pas aku masuk penuh. “Besar…”
Aku mulai gerak. Pelan dulu, biar dia terbiasa. Tapi dia sendiri yang tarik pinggulku. “Lebih kencang.”
Aku gebrak. Meja berderit. Payudaranya bergoyang setiap kali aku hantam dalam. Aku pegang pinggangnya, tarik dia setiap kali aku majukan pinggul. Bunyi kulit ketemu kulit basah memenuhi dapur kecil itu. Dia mengerang tanpa malu. “Dalam… terus… ahh Andra…”
Aku angkat satu kakinya, taruh di bahuku, biar lebih dalam. Sudutnya berubah. Dia menjerit pelan. Aku rasakan dinding memeknya menjepit. Aku percepat. Meja bergoyang. Gelas es teh di ujung hampir jatuh. Dia orgasme kedua kali sambil mencakar punggungku. Memeknya meremas kontolku kuat. Aku tahan, terus genjot sampai dia selesai, lalu cabut.
Aku balikkan badannya. Suruh dia menunduk di meja. Pantatnya bulat, memeknya terbuka dari belakang. Aku masuk lagi dari belakang. Lebih dalam. Tanganku meremas pantatnya, tarik, hantam. Dia mengerang ke meja. “Entot aku… Entot terus…”
Aku gebrak lebih kencang. Satu tangan melingkar ke depan, usap klitorisnya sambil ngewe. Dia gemetar lagi. Aku rasakan kontolku berdenyut. “Bu… mau keluar…”
“Di dalam,” katanya serak. “Keluarin di dalam.”
Aku hentak beberapa kali terakhir, dalam banget, lalu tumpah. Panas. Denyut demi denyut. Aku isi dia sambil menahan pinggulnya biar nggak geser. Dia mendesah panjang, menerima semuanya.
Beberapa detik kami diam, cuma napas yang kencang. Aku cabut pelan. Sperma mulai menetes dari memeknya, turun ke paha dalamnya yang putih.
Dia berbalik, masih duduk di tepi meja, kaki terbuka. Wajahnya merah, rambut berantakan, senyum kecil yang nakal muncul lagi.
“Besok malam,” bisiknya, “suamiku masih di Jakarta. Datang lagi.”
Aku usap spermanya yang menetes di pahanya dengan jari, lalu masukkan jari itu ke mulutnya. Dia hisap pelan, matanya menatapku.
“Aku pasti datang,” jawabku.
Malam itu aku pulang dengan kaki yang masih lemas dan bau vanila susu yang nempel di kulit.
ns216.73.216.67da2


