Sudah sekitar 5 bulan setelah aku bercerai dengan istriku akibat aku mengungkap perselingkuhannya dengan rekan kerjanya. Rasanya hatiku masih remuk dan belum. Belum lagi anakku yang masih di usia pubertas yang harus ikut dalam per-drama-an ini, aku kasihan dan takut dia menjadi trauma dengan cinta. Sekelibat kisah dan penyesalan selalu masuk ke dalam kepalaku, memikirkan kesalahanku yang terlewatkan dan mempertimbangkan seandainya aku melakukan ini-itu untuk pernikahanku. Walaupun sejatinya aku 'tidak bisa mencintai wanita', aku mungkin akan melakukan demi anakku dan citraku, setidaknya.
Kini aku dan anakku tinggal di rumah orang tuaku, karena sebelumnya aku tinggal di tempat mertua. Ayahku, yang sudah lama ditinggal oleh ibuku, membantu dalam merawat anakku, Abim. Aku bersyukur Ayahku masih sehat dan masih menerimaku walau aku mungkin sangat mengecewakannya. Saudara-saudara ku yang lain pun ikut serta mendukungku walaupun mereka jauh di luar kota sana, mereka tahu tentang ceritaku.
Hari ini masih pagi hari, aku terbangun pukul 04.50 untuk solat subuh dan mandi pagi. Biasanya istriku sudah membuatkanku kopi dan sedang menyiapkan sarapan, namun kali ini aku yang harus melakukan semuanya. Aku masih terbengong dan terduduk sebentar, mengumpulkan nyawa. kulihat anakku dan ayahku, yang tidur di sampingku, masih terlelap nyenyak. Kami memang tidur satu kamar di kamar Ayahku, karena kamar lain sudah menjadi gudang.
Aku tersenyum melihat mereka, kuusap kepala anakku dan kukecup keningnya. Anakku mendusel sebentar dan menggeliat pindah posisi tidur. Kulihat Ayahku sejenak, wajahnya yang teduh dan parau sangat kusayangi. Aku sungguh sayang ayahku. Tatapanku menurun ke bagian celana ayahku. Ayahku seperti biasa tidak pakai apa apa selain sarung, sehingga nampak jelas tonjolan di baliknya. Aku tertegun sejenak.
aku tahu ini gila, tapi jauh di lubuk hati aku sangat bergairah dengan ayahku sendiri. aku menyadari perasaan ini sejak aku duduk di bangku 6 SD. Aku sangat suka melihat tonjolan bapak-bapak, apalagi ayahku. bagiku, ayahku adalah sosok yang gagah san tampan. Dia orang yang lembut dan penyayang, badannya gempal seperti bapak-bapak pada umumnya, dan berisi. Bahkan, pada usia 56 tahun ini, fisiknya masih terjaga rupawan. Aku sangat bernapsu, walaupun aku tidak pernah kesampaian dan tidak berani untuk sekadar melihat lebih dari ini.
Aku menelan ludahku dan mengumpulkan niat untuk bangun dan pergi ke kamar mandi. Saat kuberanjak dari kasur, kulihat ayahku sedikit terbangun akibat gerakan kasur yang bergoyang. Aku menyapanya dengan pelan.
"Pagi, Ayah... Ayah lanjut tidur lagi aja ya," Gumamku pelan. Ayahku sepertinya belum sepenuhnya sadar. Dia lalu memeluk anakku dan menjadikannya seperti guling, dan lanjut tidur. Tampak anakku diam saja dan masih terlelap dalam tidurnya. Sesuatu tergerak dalam hatiku, aku merasa sangat bernapsu melihat ini. tidak sadar kemaluanku berdiri keras.
Ketika aku sadar dari bengongku, aku langsung beranjak ke kamar mandi dan berusaha menghapus pikiran bodoh itu. Aku langsung msndi dan menyiapkan sarapan untuk mereka, yang kusayangi 509Please respect copyright.PENANAE5wSWWoswB


